Rabu, 23 Agustus 2017

Hati – hati Penipuan berkedok Google

Teman-teman sekalian, sekarang semakin banyak orang yang mengunakan android, pasti banyak juga yang pake aplikasi dari play store dari google atau yang di komputer juga pasti lebih banyak buka situs dari google Chrome.


Kemarin gw tiba-tiba dapat pemberitahuan kalau menang undian dari google dapet iphone... “hari gini gratisan mana ada yah tanpa melakukan apapun”.. Klo orang yang ga tau mungkin akan di klik dan dijawab pertanyaan, ada juga komentar yang menyakinan mereka baru dapat Iphone dari google.

Dan gw memilih untuk klik close layar, ngerasa ga mungkin google langsung dengan mudahnya ngasih hadiah. Gw mah mending minta hadiah biar nambah bayaran di google adsence aja aja. Tapi ternyata itu  ga bisa karena seperti di program, agar kita harus isi itu jawaban kuisnya. Bahkan pindah ke halaman lainya pun ga bisa, tetap harus isi kuis dengan waktu sekitar 2 menit.
Salah satunya cara adalah matikan saluran wifi lebih dulu, klo yang di handphone data selulernya lebih baik dimatikan lebih dulu. Baru deh mousenya bisa pindah ke halaman lainya, kembali menyalakan wifi dan gue langsung search di google “dapet hadiah iphone dari google” keluarlah forum google, ternyata hasilnya adalah PENIPUAN cara baru.
Jadi katanya akan diminta nomor KTP dsb.. tips buat teman-teman jangan pernah untuk masukin nomor KTP atau yang bersifat informasi, diwebsite manapun. Kecuali ngalamar kerja dari website resmi.  Sekarang orang saking kreatif sampe ngambil uang orang dianggap pekerjaan halal. Jadi lebih berhati-hati lagi yah kawan.




Selain itu klo ada sms yang ga dikenal bilang klo kita menang undian dari bla.. bla.. bla... dengan mengunjungi website dengan belakangnya .blogspot.co.id/com atau tk. Jangan percaya karena kalau menang undian harus dari website official langsung kaya .com.. .co.id.. net.. itu website berbayar. Sementara Blogspot & tk itu gratis jadi semua orang bisa bikin untuk tujuan kejahatan.
Sekian informasinya mudah-mudah berguna dan juga mendoakan agar si penipu bisa sadar kalau semua yang dilakukan akan dipertanggung jawabnya di akhirat nanti.

salam 

Dyah deedee

FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09 

INSTAGRAM dyahdeedee09  FANPAGE Misstraveling 

Sinopsis School 2017 Episode 11 Part 2

PS : All images credit and content copyright : KBS
Keduanya duduk ditaman, Eun Ho berkomentar Tae Woon itu  ternyata ahli dalam urusan sepeda motor, Tae Woon mengaku dulu sangat tertarik pada motor. Eun Ho menganguk mengerti lalu mengaku penasaran, karena Sejujurnya, dirinya tidak bisa naik bus lagi sejak kecelakaan itu.
“Sepertinya aku sudah tidak trauma tapi aku hanya mencari-cari alasan agar tidak teringat dengan luka itu lagi. Aku terlalu takut menghadapinya. Aku penasaran bagaimana kau bisa naik motor lagi setelah kejadian itu.” Kata Eun Ho
“Itu.. karena aku menganggap motor itu seperti Joong Gi. Dia adalah alasanku belajar naik motor dan dia adalah alasanku mulai bermimpi bisa merancang sepeda motor sendiri suatu saat nanti.” Cerita Tae Woon. Eun Ho bisa mengerti.
“Setelah apa yang terjadi padanya, aku sempat takut beberapa saat Aku sempattidak bisa menaikinya lagi. Tapi aku juga merasa seperti sedang berusaha membuang Joong Gi dari hidupku. Waktu-waktu yang kami lalui bersama. Kenangan-kenangan itu Semuanya. Makanya aku memaksakan diriuntuk bisa naik motor lagi. Saat aku mengendarainya aku merasa seperti sedang bersama Joong Gi..” Cerita Tae Woon
“Lalu Kenapa kau menyerah pada impianmu? Kau bisa saja meneruskan.. mimpimu merancang sepeda motor.” Kata Eun Ho 


Tae Woon memikirkan tentang impianya, lalu mengaku kalau sempat tidak tahu apa itu bermimpi dan Kalau impiannya jadi nyata, apakah ia akan  memahaminya atau apakah hidupnya akan berubah. Eun Ho juga tak tahu soal itu tapi berharap kalau Tae Woon bisa melakukan sesuatu.. yang membuat jantungnya berdebar.
“Sesuatu yang membuatmu Senang dan menikmatinya. Itulah yang kuinginkan.” Ucap Eun Ho.
“Aku sudah melakukannya.” Kata Tae Woon. Eun Ho binggung dan berpikir kalau Tae Woon baru saja memiliki mimpi yang lain.
“Sudah kubilang, kaulah yang membuat jantungku berdebar. Melihatmu membuatku merasa senang dan aku menikmatinya. Apa itu artinya kau adalah impianku?” kata Tae Woon. Eun Ho hanya diam dan keduanya menikmati malam dengan bintang yang bertebaran. 


Diatas meja banyak makanan dan juga sangat lengkap, Ayah Eun Ho mengajak mereka makan bersama. Ibu  Eun Ho binggung melihat menu makanan mereka, Daging sapi. Kerang, padahal tidak bisa membeli makanan mahal. Tae Sik pikir mereka seharusnya membuat keadaan keluarga mereka ditingkatkan.
“Mungkin aku akan segera dipekerjakan oleh sebuah perusahaan besar atau apalah.” Kata Tae Sik. Eun Ho mengejek kakaknya untuk mimpi saja.
“Ibu tidak perlu perusahaan besar, tapi harap taman dekat sini akan mempekerjakanmu.” Kata Ibu Eun Ho. Tae Sik meminta agar menunggu saja.
“Mungkin kami berdua bisa dapat pekerjaan bersamaan.” Kata Ayah Eun Ho. Ibu Eon Ho merasa itu hanya Omong kosong karena keduanya tak mungkin dipekerjakan bersamaan
“Jangan mencemaskan apapun. Makanlah kerang yang mahal ini.” Kata Ayah Eun Ho menyuapi suaminya begitu juga Eun Ho yang disuapi oleh kakaknya. 

Tae Woon masuk ke ruangan melihat sebuah majalan dengan note yang dituliskan Eun Ho “ Kuharap kau tidak melupakan impianmu juga. seperti kau tidak melupakan Joong Gi.” Lalu dibawahnya ada tambahan.
“Ini sangat mahal. Jadi sebaiknya, kau bekerja keraslah. Lakukan yang terbaik dan berjuanglah demi impianmu.”
Tae Woon merasa kalau Eun Ho selalu saja membuatnya gila, lalu melihat majalah yang dibelikan Eun Ho adalah tentang design motor. Seperti satu-satunya orang yang mendukung impianya. 

Nam Joo berjalan tak sengaja melihat Dae Hwi yang baru keluar kelas, Keduanya seperti tak saling kenal, dengan wajah acuh memilih untuk tak bertegur sapa. Diam-diam Tae Woon melihat dari kejauhan, lalu berjalan mendekati Dae Hwi.
“Apa kau bertengkar dengan Nam Joo?” ucap Tae Woon. Dae Hwi pikir Tae Woon Tidak usah ikut campur urusannya.
“Aku sedang mencobanya, tapi aku tetap merasa ada yang aneh. Aku ini terlalu pintar.” Kata Tae Woon
“Bagaimana denganmu? Kapan kau akan mengakui  kalau kau adalah X? Kau tidak berani, 'kan? Eun Ho juga akan tahu segera tentang seberapa egoisnya kau ini.” Kata Dae Hwi
“Egois masih jauh lebih baik daripada jadi sampah.” Kata Tae Woon. Dae Hwi tak mau membahasnya menyuruh Tae Woon minggir, dengan sengaja menyenggol pundak Tae Woon.
Tae Woon tak terima membalasnya, Dae Hwi tak bisa menahan amarah mendorong Tae Woon. Keduanya saling mencengkram dan sudah siap berkelahi. Terdengar suara menyuruh keduanya untuk berhenti, Guru Koo keluar dari balik pohon dengan kayunya. 


Keduanya sudah ada diruangan yang berantakan. Guru Goo dengan sengaja bersandar pada pundak dua anak muridnya. Dae Hwi tak percaya merkea harus membersihkan semuanya. Guru Goo menatap Dae Hwi yaitu Ketua Osis yang mencuri soal ujian. Sementara Tae Woon adalah anak direktur sekolah yaitu sudah melakukan kesalahan besar.
“lalu belum cukup dengan itu saja, apa sekarang kalian malah berkelahi? Bapak akan memberikan kalian kesempatan untuk menurunkan pengurangan poin kalian.” Ucap Guru Goo.
“Aku akan menyelesaikannya perlahan-lahan, Pak.” Kata Tae Woon.
“Jantanlah, lakukan semua sekaligus. Mulai dari ruang seni ini kemudian. ke ruang sains, kafetaria kemudian ruang UKS. Bersihkan semua dengan baik.” Perintah Guru Goo
“Pak... Haruskah aku melakukan ini bersamanya?” kata Dae Hwi tak ingin bersama Tae Woon.
Guru Goo memberitahu kalau Ini butuh kerja sama tim dan keduanya memang sama bersalahnya. Dae Hwi merasa kalau Tae Woon  tidak akan berguna sama sekali. Tae Woon mengumpat marah. Guru Goo menyuruh keduanya untuk diam saja dan mulai berkerja.
“Kalau kalian mau bersih-bersih sambil berbaikan akan lebih bagus lagi.” Ucap Guru Goo sebelum keluar dari ruangan. 


Dae Hwi mengambil sapu, Tae Woon yang kesal tak suka Dae Hwi yang menatapnya dan mulai membereskan papan untuk melukis dan dengan sengaja menyenggol papan dan mengenai kepala Dae Hwi. Dae Hwi terlihat marah, Tae Woon pun berpura-pura kalau itu tak sengaja.
Keduanya mulai mengepel, Dae Hwi membalas dengan sengaja menabrak kain pel ke kaki Tae Woo, lalu meminta maaf kalau yang dilakukan tak sengaja. Tae Woon hanya bisa menahan amarahnya saja.
Keduanya mengangkat meja, Tae Woon menyuruh Dae Hwi agar bergerak ke kiri, Dae Hwi bergeser ke kiri. Tae Woon kesal kalau yang dimaksud, kiri dari dirinya dan mengumpat Dae Hwi itu bodoh.
“Hei. Apa dunia ini berputar mengelilingimu? Kenapa aku harus mengikuti kirimu dan kananmu?” ucap Dae Hwi kesal. Tae Woon menyuruh Dae Hwi tak banyak bicara dan bergeser.
Akhirnya ruangan kembali rapih dengan maja yang berjejer, Tae Woon keluar dari ruangan. Dae Hwi melihat tumpukan buku gambar dengan tulisan pada label “Ruang Seni, Kelas 10-3, Hyun Tae Woon” lalu membuka seperti takjub melihat gambar yang sangat bagus.
“Hei... Apa yang kau lakukan? Panggil Pak Guru.” Ucap Tae Woon tiba-tiba masuk. Dae Hwi yang gugup bergegas keluar untuk memanggil Guru Goo. 


Keduanya duduk sambil minum soda, Dae Hwi bertanya apakah Tae oon  sangat mencemaskan Eun Ho. Tae Woon mengaku kalau sangat Menyebalkan sekal melihat Eun Ho terluka dan Tidak masalah kalau hanya aku yang terluka asal jangan Eun Ho. Saat itu ponsel Dae Hwi bergetar, keduanya melihat nama Hee Chan yang muncul. Dae Hwi memilih untuk tak mengangkatnya.
“Apa Kau sudah menyelesaikan semua dengan dia? Apa Kau tidak akan menyesal?” ucap Tae Woon.
“Ya.. Aku sudah menghabiskan banyak waktu Dengannya jadi aku tahu beberapa kelemahannya.” Kata Dae Hwi
“Hee Chan, si gila itu. Dia terlalu pendiam. Ini saatnya dia membuat masalah.” Kata Tae Woon 

Kepsek Yang sibuk melihat semua petunjuk dan merasa yakin salah satu anak adalah yang paling mungkin menjadi X, dengan bangga kalau Titik terangnya mulai terlihat. Saat itu Hee Chan menemui mantan kepseknya. Kepsek yang bertanya ada ada datang menemuinya.
“Aku punya petunjuk besar tentang X yang sebenarnya.” Ucap Hee Chan. Kepsek Yang kaget kalau Hee Chan mengetahui Petunjuk besar tentang X. 

Kepsek Yang bertemu dengan Tuan Hyun memberitahu kalau  Eun Ho menggambar webtoon dengan Judulnya, "Murid X" menurutanya Itu tidak akan mungkin kalau Eun Ho itu tidak mengenal X secara pribadi.
“Kalau kau mengembalikan posisiku sebagai kepala sekolah, maka aku akan menangkap X dalam seminggu.” Ucap Guru Goo menyakinkan.
“Maksudmu kau akan segera menangkapnya, 'kan?” kata Tuan Hyun. Guru Goo mengangguk dengan sangat yakin. 

Dae Hwi baru saja keluar dari sekolah, Ibu Hee Chan melihat Dae Hwi yang mau pulang dengan nada angkuhnya mengajak masuk karena akan mengantarnya pulang. Hee Chan membuka pintu agar Dae Hwi bisa masuk. Dae Hwi dengan segenap hatinya langsung menolak karena ingin pulang jalan kaki saja. Tae Woon melihat dari kejauhan kalau Dae Hwi berusah menjauh dari Hee Chan. 

Dae Hwi heran melihat Tae Woon yang berjalan mengikutinya. Tae Woon pikir dirinya itu gila kalau mengikuti Dae Hwi tapi memang ingin pulang. Dae Hwi tahu kalau rumah Tae Woon ke arah yang berlawana. Tae Woon tahu tapi tetap ingin melewati jalan yang dilalui Dae Hwi.
“Apa yang terjadi dengan sepeda motormu?” tanya Dae Hwi
“Aku terlalu sering mengendarainya. Jadi dia sakit dan Sebelum semuanya jadi semakin parah tentu harus segera diperbaiki.” Ucap Tae Woon berjalan lebih dulu.
Dae Hwi tak habis pikir dengan Tae Woon mau kemana sebenarnya, Tae Woon menegaskan bahwa ingin pulang, Dae Hwi menujuk rumah Tae Woon yang berlawanan arah, Tae Woon pikir terserah dirinya kalau memang  ingin berjalan memutar pulang ke rumahnya. 

Guru Shim memberikan segelas teh pada Young Gun ingin tahu alasan  sering bolos, karena nanti bisa dikeluarkan. Young Gun pikir Keluarkan saja dari sekolah. Guru Shim kaget Young Gun malah memang sengaja ingin dikeluarkan.
“Datang ke sekolah juga tidak dapat apa-apa. Biar aku yang urus hidupku sendiri.” Ucap Young Gun. Guru Shim pikir bukan seperti maksudnya.
“Kalau kau sehebat itu, lakukanlah sesuatu. Kau merasa cemas. Makanya kau ke sekolah hanya dengan setengah hati. Karena kau ingin bersungguh-sungguh di sekolah.” Ucap Petugas Han. Guru Shim panik karena Petugas Han membuat anaknya seperti makin melawan.
“Kau ini pengecut. Kalau kau memang mau sekolah, maka lakukan dengan sepenuh hati Kalau tidak, bermainlah dan lakukan pemberontakanmu dengan benar.” Kata Petugas Han. Young Gun menyetujuinya lalu keluar dari ruangan dengan wajah marah kalau akan memberontak kalau begitu. Guru Shim panik memanggil Young Gun yang pergi.
“Tapi.. haruskah kau.. bicara sekejam itu padanya?” ucap Guru Shim heran
“Bagaimana dia bisa dewasa kalau tidak terluka? Kau sudah setuju.. untuk menggenggam tangan mereka saat sedang terluka. Bukan begitu?” jelas petugas Han. Guru Shim sempat binggung lalu menangguk setuju.
“Sepertinya kau sudah melakukannya.” Kata Petugas Han. Guru Shim merasa seperti itu tapi masih dibuat binggung.
Petugas Han berjalan di lorong melihat Young Gun dkk akan pergi lalu bertanya mau kemana mereka. Young Gun dengan sinis merasa kalau tak ada urusanya dengan petugas Han. Petugas Han pikir ada urusanya karena setelah ini kelasnya. Young Gun tahu kalau kelas mereka  selanjutnya adalah olah raga. Petugas Han membenarkan. 


Petugas Han membuat kelas gabungan dengan Guru Jung, memebritahu kalau Melakukan perlawanan untuk membela diri memang dianjurkan tapi lari lebih disarankan lagi dan tidak ada salahnya juga belajar bagaimana caranya an mengajak mereka untuk memulai
Ia meminta agar Guru Jung memeluk dari belakang, semua akan memberikan sahutan karena seperti keduanya sangat dekat. Guru Jung memberikan pelukan walaupun terlihat kaku. Petugas Han meminta aga Guru Jung memeluknya lebih erat. Guru Jung pun dengan senang hati melakukanya, tapi setelah itu Guru Jung langsung kena banting oleh Petugas Han.
“Selanjutnya adalah saat penjahatnya datang padamu dari depan.” Ucap Petugas Han menyuruh Guru Jung seperti mencengkram bajunya, dan kembali memberikan jurus untuk melawanya.
Eun Ho dkk hanya bisa bergidik karena pasti Guru Jung merasakan sakit karena dibanting beberapa kali. Petugas Han akhirnya menyuruh Young Gun akan mencobanya dengan melawan guru Jang. Guru Jang mulai bersiap dan Young Gun bisa membuat gurunya itu jatuh lemas. Petugas Han memuji Young Gun pintar dan  bisa jadi polisi.

Eun Ho baru pulang, Ibunya terlihat sangat marah pada ayah dan juga kakaknya. Tuan Ra dan Tae Sik hanya bisa tertunduk.  Ibu Eun Ho tak percaya keduanya yang menggunakan semua dana darurat. Tuan Ra mencoba menjelaskan maksudnya.
“Ibu, kami sudah memastikan semuanya. Kami sudah memeriksanya tanda pengenalnya Bagaimana bisa kami tidak percaya padanya?” Kata Tae Sik
“Apa kau kira penipu tidak akan mempersiapkan tanda pengenal? Dasar bodoh kalian. Kalian ini tolol sekali! Cepat tangkap dia!” ucap Ibu Eun Ho marah
“Apa Kakak kena tipu dan Ayah juga?” kata Eun Ho. Ibu Eun Ho langsung duduk menangis merasa hidupnya sangat busuk dan lebih memilih kalau mereka seharusnya menghabiskan uang untuk makan dan minum.
“Setidaknya uang itu tidak akan sia-sia karena dihabiskan untuk keluarga.” Ucap Ibu Eun Ho. Semuanya merasa kasihan pada ibu mereka karean mengecewakan kembali. 

Ibu Eun Ho menelp seseorang seperti ingin meminjam uang karean situasinya sangat kepepet, tapi malah di tutup begitu saja telpnya. Eun Ho pun menatap ibunya di luar restoran dan menghampirinya
“Ibu pasti kesal,  Kita harus membayar pinjaman bulanan mulai sekarang.” Ucap Eun Ho
“Astaga. Apa yang kau tahu soal urusan orang dewasa? Jangan cemas. Ibu yang akan mengurusnya.” Kata Ibu Eun Ho menenangkan anaknya.
“Dan bagaimana kalau malah Ibu yang hancur?” kata Eun Ho khawatir
“Kenapa juga Ibu harus hancur? Ibu 'kan masih punya keluarga kita. Pergilah belajar sana.” Kata Ibu Eun Ho.
Eun Ho pun berjalan masuk dan bisa mendengar ibunya berusaha mencari pekerjaan dengan bisa mulai bekerja pagi sekali, bahkan bisa mengupas bawang atau apa saja yang dibutuhkan oleh restoran. 

Eun Ho melihat daftar yang lulus les komik, Si pengajar melihat Eun Ho yang sudah berusaha sekeras jadi kenapa harus berhenti. Eun Ho menaku kalau tidak berhenti selamanya dan akan mendaftar lagi dalam beberapa bulan. Gurunya memberitahu kalau Berlatih itu penting.
“Tanganmu akan jadi kaku meski kau hanya berhenti selama 3 hari. Kalau kau ke sini setelah beberapa bulan, maka semua bakatmu akan hilang. Kalau kau berhenti sekarang, maka semuanya akan berakhir.” Ucap gurunya. Eun Ho hanya bisa diam saja. 

Eun Ho keluar dari kamar melihat kakaknya yang akan pergi, lalu menanyakanya. Tae Sik mengaku seperti tak punya tujuan tapi  harus melakukan sesuatu dan akan mencobanya hari ini, lalu apabila tak sanggup maka berhenti saja. Eun Ho menatap kakaknya berpikir kalau mau kerja jadi buruh.
Eun Ho pergi ke tempat paruh waktu mengambil brosur tapi meminta dua kali lipatnya. Si pegawai merasa khawatir karean Eun Ho juga harus belajar. Eun Ho pikir Tidak masalah karena akan melakukannya dengan cepat dan belajar.
Ia membawa kardus berisi selembaran untuk les, saat berjalan di ruang pendaftaran ada anak yang merengek pada ibunya kalau tak ingin les tapi selalu dipaksa untuk mendaftar. Eun Ho terlihat sedih karena ada anak yang menolak les, padahal orang tuanya mampu, sementara ia harus berkerja keras agar bisa les. Eun Ho hanya bisa menangis sendirian ditaman malam hari.  

Eun Ho membereskan semua barang di ruang kontainer. Tae Woon heran melihat Eun Ho yang  membawa banyak sekali barang seolah tidak akan kembali ke sini lagi. Eun Ho pikir Sementara waktu  akan sangat sibuk jadi tak mungkin datang. Tae Woon menaruh kembali kotak pensil ingin tahu ada apa memangnya.
“Komputerku di rumah rusak,  jadi sementara aku tidak akan menggambar webtoon. Aku akan belajar hidup dengan baik untuk sementara. Hidup macam apa yang bisa kupelajari dari ruangan sempit ini? Kalau aku mau jadi seniman webtoon yang baik, aku butuh pengalaman hidup.” Kata Eun Ho
“Hei. Apaan ini? Apa Jadi kau tidak akan kembali ke sini lagi?” ucap Tae Woon dengan nada tinggi
“Aku akan kembali, tapi tidak dalam waktu dekat. Begitulah. Aku akan sangat sibuk dan juga harus melakukan beberapa pekerjaan.” Kata Eun Ho dan Tae Woon melihat ada lembaran gambar komik yang dibuang. 

Eun Ho sibuk menghitung belanjaan di minimarket, tapi karena belum terbiasa membuatnya gugup dan membuat banyak antrian. Setelah itu seorang ibu yang ingin membeli rokok dibuat jengkel karena Eun Ho tak bisa mengambil rokok yang dirak.
Akhirnya Eun Ho keluar dari minimarket dengan punggung yang lelah, lalu dikejutkan dengan Tae Woon sudah ada didepan minimarket. Tae Woon mengaku sudah memeriksa semua swalayan di kota ini. Eun Ho hanya bisa diam saja. 

Tae Woon memberikan minuman di cafe, lalu bertanya alasan Eun Ho yang mendadak kerja sambilan dan Kerja di swalayan itu melelahkan. Eun Ho pikir sudah mengatakan bahwa butuh pengalaman hidup. Tae Woon ingin tahu alasan seorang anak SMA mempelajari kehidupan dengan cara sekejam itu.
“Anak SMA 'kan biasanya memang bekerja sambilan. Kau pasti tidak pernah membayangkan akan melakukannya.” Kata Eun Ho
“Jangan lakukan itu. Itu melelahkan dan kau harus melanjutkan webtoon-mu. Waktumu akan banyak terbuang. Dan Kau juga tidak akan punya waktu untuk belajar.” Kata Tae Woon. Eun Ho tahu 
“Makanya jangan lakukan.” Ucap Tae Woon. Eun Ho  merasa juga tidak mau melakukannya Tapi tidak punya pilihan.
“Hidupku tidak mudah seperti hidupmu.” Ucap Eun Ho
Tae Woon binggung sebenarnya ada apa dan apakah Eun Ho  tidak mau menggambar lagi padahal Itu impiannya dan kenapa malah  buang-buang waktu seperti ini. Eun Ho meminta maaf kalau keluarganya sedang ada masalah Jadi tidak bisa buang-buang waktu dan Komputernya rusak. Makanya tidak bisa menggambar lagi, dan.... Tae Woon hanya bisa menatap Eun Ho seperti menahan sesuatu. Eun Ho meminta agar meninggalkan sendiri dan pamit pergi. 


Dae Hwi pulang dengan bus, mengingat kembali ucapan Nam Joo yang menyukai sesuatu yang jujur dan Makanya tidak peduli meski harga diri mantan pacarnya diinjak-injak orang.
Flash Back
Nam Joo dudk sendirian di cafe, seorang pria datang memberikan minuman dan meminta nomor telpnya. Nam Joo terlihat binggung dan saat itu Dae Hwi datang dengan tatapan marah memberitahu kalau Nam Joo adalah pacarnya. Si pria meminta maaf mengambil kembali minuman dan bergegas pergi.
“Duduklah di depanku... Tidak nyaman belajarnya kalau begitu.” Ucap Nam Joo melihat Dae Hwi yang langsung duduk disampingnya
“Tidak... Mulai sekarang aku akan duduk di sebelahmu.” Kata Dae Hwi
“Astaga. Pacarku benar-benar membuatku merasa aman.”ejek Nam Joo. Dae Hwi mengaku kalau itu karena Nam Joo terlalu cantik.
“Aku jadi terganggu...Mulai sekarang pakailah kacamata masker dan topi. Mengerti?” ucap Dae Hwi. Nam Joo hanya bisa tersenyum melihat Dae Hwi yang cemburu.
Dae Hwi mengingat kenangan seperti merasakan sesuatu yang berbeda. 


Eun Ho berjalan ke taman mengingat saat duduk bersama Tae Woon, berpikir kalau Tae Woon yang punya impian baru. Tae Woon mengaku kalau Eun Ho yang membuat jantungnya berdebar.
“Melihatmu membuatku senang dan aku menikmatinya. Apa itu artinya kau  adalah impianku?” ucap Tae Woon
Tae Woon duduk di meja melihat note yang ditempal pada foto bersama Joong Gi dan Dae Hwi “Aku harap kau tidak lupa juga pada impianmu.” Lalu merasa kalau Eun Ho yang memintanya agar jangan menyerah lalu bergegas pergi dengan membawa sebuah kantung belanja. 

Eun Ho berjalan pulang melihat Tae Woon yang sudah menunggunya. Tae Woon mengatakan Tidak akan ada yang mati besok, dan langit juga belum runtuh jadi tak ada yang sulit. Ia tahu kalau komputer Eun Ho yang rusak,  jadi tidak bisa menggambar.
“Kalau begitu, menggambarlah dengan ini. Kalau begitu kau tidak perlu.. bekerja sekeras itu 'kan?” ucap Tae Woon memberikan laptopnya.
“Kenapa segalanya sangat mudah bagimu? Apa Kau kira luka orang lain, harga diri dan kerja keras adalah hal yang mudah? Siapa kau yang dengan seenaknya menganggap impian dan harga diriku sebagai hal yang mudah?” ucap Eun Ho marah
“Aku tidak bermaksud begitu. Aku hanya ingin membantumu. Tidak mudah bagi orang lain melindungi impiannya sepertimu.” Kata Tae Woon.
“Yang kubutuhkan sekarang bukan kebaikanmu. Jadi Tae Woon, jangan datang lagi... Menjauhlah... Jangan berpikir untuk terlibat dalam masalah hidupku lagi dan Ini.. adalah jawabanku.” Kata Eun Ho lalu berjalan pergi. Tae Woon hanya diam saja seperti tak percaya Eun Ho tak mau menerima perasaanya.
Bersambung ke episode 12

 FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09 


Sinopsis School 2017 Episode 11 Part 1

PS : All images credit and content copyright : KBS
Dae Hwi yang mengirimkan pesan pada Tae Woon “Lokasi pertemuannya berubah. Bukan di aula, tapi di ruang musik.” Akhirnya Tae Woon berjalan pergi dan saat itu juga bertemu dengan sosok yang sama mengunakan jaket yang sama. Dae Hwi lebih dulu membuka penutup kepalanya lalu Tae Woon.
Keduanya saling menatap dingin, Saat itu juga Dae Hwi terkena lampu senter dari petugas keamanan sekolah lalu memberitahu kalau ada yang datang, Mereka pun bergegas pergi dan bersembunyi didalam ruang kelas. Keduanya mencoba untuk tak bersuara saat Petugas berjalan melewati ruangan. 

Tae Woon mengintip dari celah pintu memastikan si petugas sudah pergi, setelah itu keduanya bisa bernafas lega. Tae Woon langsung mencengkram baju Dae Hwi bertanya apa yang sedang dilakukanya. Dae Hwi meminta agar Tae Woon melepaskan tanganya.
“Apa yang kau lakukan sebenarnya?” ucap Tae Woon marah. Dae Hwi meminta Tae Woon agar bisa melepaskanya.  Akhirnya Tae Woon melepaskan tanganya.
“Hee Chan sudah tahu.” Ucap Dae Hwi duduk dibangku. Tae Woon tak percaya kalau Hee Chan yang mengirim pesan.
“Lantas apa kau kira tidak akan ada yang tahu siapa orang di balik aksi bodohmu selama ini?” kata Dae Hwi. Tae Woon pun ingin tahu yang dilakukan Dae Hwi sekarang.
“Kenapa kau pakai jaket ini? Jangan bilang..” ucap Tae Woon berpikir Dae Hwi menyelamataknya.
“Jangan salah paham kau. Aku hanya tidak mau berhutang budi padamu. Aku takut kau akan membuat perjanjian besar karena apa yang terjadi di kompetisi Matematika waktu itu. Eun Ho mungkin saja akan berada dalam bahaya karena kau.” Kata Dae Hwi
“Apa lagi yang diketahui Kim Hee Chan? Apa dia sudah yakin, atau hanya ingin mengujiku?” kata Tae Woon khawatir.
“Dia hampir yakin kalau X memang kau. Sepertinya dia ingin mengujimu karena dia tidak punya bukti. Dia langsung kaget waktu aku yang muncul. Tapi dia itu pintar, jadi dia tak akan percaya dengan mudah. Dan jangan beritahukan apapun pada Eun Ho dan Jangan buat dia cemas.” Ucap Dae Hwi. Tae Woon ingin tahu Sejak kapan Dae Hwi  tahu. Dae Hwi pikir itu bukan urusan Tae Woon.  Akhirnya Tae Woon pergi lebih dulu meninggalkan ruangan. 



Dae Hwi keluar dari ruangan dengan jaket hitam ditanganya, menatap ke arah kontainer tempat Tae Woon bersembunyi.
Flash Back
Eun Ho, Bo Ra dan Tae Woon keluar dari kontainer. Bo Ra seperti khawatir dengan Tae Woon karena Sekolah sedang menggila untuk mencari X. Tae Woon tahu dan menurutnya  Alangkah bagusnya kalau seseorang ya ng tidak ada yang membuat masalah dengan mengejek Eun Ho
“Benar-benar tidak masuk akal kau ini. Siapa yang duluan main-main seperti ini memangnya?” ejek Eun Ho.
Saat itu Dae Hwi bersembunyi dibalik containter tahu kalau Tae Woon adalah X yang selama ini dicari oleh Kepala sekolah. 

Dae Hwi berdiri di depan kontainer seperti terlihat gugup, saat itu pintu sudah terbuka. Tae Woon mengaku sudah tahu kalau Dae Hwi selalu mengawasi tempat ini dan menyuruhnya masuk saja.  Dae Hwi mengejek Tae Woon yang berani membuka pintu untuknya.
“Memangnya aku selama ini kelihatan pemalu di matamu?” ucap Tae Woon membuka pintu lebar-lebar.
“Apa yang sedang kau lakukan sebenarnya? Apa yang ada..” kata Dae Hwi melihat semua barang yang X gunakan dan melihat foto mereka bertiga diatas meja. Tae Woon pikir itu bukan urusan Dae Hwi.
“Jangan bilang.. ini karena Joong Gi.” Kata Dae Hwi. Tae Woon yang mendengarnya meminta Dae Hwi agar diam saja.
“Apa kau melakukan ini untuk menebus kejahatan yang sudah dilakukan oleh kau dan sekolah ayahmu ini?” kata Dae Hwi. Tae Woon makin marah mendengarnya sambil mengummpat.
“Apa aku salah? Ini supaya kau bisa merasa tenang, benar'kan pengecut?” kata Dae Hwi.
Tae Woon tak bisa menahan amarah ingin memukul Dae Hwi dengan kepalan tanganya, tapi mencoba ditahan. Dae Hwi pikir Tae Woon belum paham kalau Dulu dan sekarang kepengecutan temanya  selalu membuat orang lain tersudut. Tae Woon menyuruh Dae Hwi agar tak banyak bicara lagi. “Memang benar... Eun Ho jadi tersudut karena kau. kalau kali ini Ra Eun Ho terluka lagi, maka kau bisa menyelamatkan dirimu sendiri lagi.” Ucap Dae Hwi
“Urus saja urusanmu sendiri. Lalu Siapa yang lebih dulu membuat Ra Eun Ho dalam bahaya? Dia adalah Hee Chan, orang yang sama busuknya denganmu. Berani sekali.. Bagaimana bisa orang yang brengsek Sepertimu mencemaskan Eun Ho?” ejek Tae Woon.
“Lantas kenapa kau tidak mengaku saja kalau kaulah X-nya? Orang-orang sudah menganggap Eun Ho sebagai kaki tangan. Pengakuanmu akan membuat hidupnya lebih tenang.” Kata Dae Hwi lalu keluar dari ruangan.

Saat keluar ruangan, Dae Hwi melihat ponselnya yang berdering dan itu telp dari Kim Hee Chan, dengan wajah kesal memilih untuk tak mengangkat telpnya. Sementara Tae Woon terdiam memikirkan ucapan Dae Hwi “Lantas kenapa kau tidak mengaku saja kalau kaulah X-nya? Pengakuanmu..  akan membuat hidupnya lebih tenang.” Lalu melihat pesan yang diterimanya dari Hee Chan “Aku tahu kaulah X. Datanglah ke aula jam 10. Atau Ra Eun Ho yang akan terluka.” 


Esok pagi
Tae Woon datang menemui Jung Il dengan tatapan dingin menanyakan keberadaan Hee Chan. Jung Il dengan wajah ketakutan memberitahu kalau Hee Chan pergi dengan Dae Hwi akhirnya Tae Woon pun memilih untuk keluar dari kelas.
Dae Hwi bertemu Hee Chan di belakang sekolah,  Hee Chan mengejek mengetahui bahwa Dae Hwi benar-benar X. Dae Hwi pikir Hee Chan sudah melihat sendiri. Hee Chan menegaskan tidak akan percaya itu, karena Dae Hwi ada bersamanya sampai sore di hari saat hasil evaluasi mereka dibongkar. Tae Woon diam-diam mendengar pembicaran keduanya
“Apa hanya itu alasannya..” kata Dae Hwi. Hee Chan menegaskan Tentu saja tidak.
“Kau kira aku siapa? Kau menjilatku supaya kau bisa.. membebaskan diri dari tempatmu yang rendah itu. Kau adalah orang yang sangat memalukan. Bagaimana bisa kau yang jadi X? Ini Sama sekali tidak masuk akal.” Ucap Hee Chan dengan sengaja mendekat menarik dasi Dae Hwi
“Mungkin aku melakukannya.. demi bisa menikammu dari belakang seperti ini.” Kata Dae Hwi
“Apa menurutmu aku bisa percaya itu? Kenapa kau melakukannya? Kenapa kau membodohiku?” ucap Hee Chan marah
“Karena kau tidak bisa merendahkanku setiap saat. Seperti yang kau bilang, aku harus melindungi apa yang kumiliki. Aku setidaknya harus tahu satu saja kelemahanmu.” Kata Dae Hwi 


Hee Chan tak percaya Dae Hwi yang Berani sekali sekarang. Dae Hi bertanya Kenapa harus Ra Eun Ho dan apa yang akan didapatkan dengan mengganggu gadis lemah. Hee Chan menegaskan karena iytu maka ingin menyiksanya dan Untuk mengajari Eun Ho apa artinya kekuasaan itu.
“Berani sekali dia bikin masalah denganku? Dia bukan apa-apa.” Kata Hee Chan.
“Apa kau masih gugup dan ketakutan setengah mati saat menerima telepon dari ayahmu? Coba saja kau ungkapkan semuanya. Aku akan menemui ayahmu dan membongkar semua rahasiamu.” Tegas Dae Hwi. Hee Chan pun hanya diam saja mendengar ancaman Dae Hwi.
Saat itu Tae Woon agar beranjak pergi dan berpapasan dengan Dea Hwi. Dae Hwi seperti kaget dan berpikir kalau Tae Woon pasti mendengar pembicaraan dengan HEe Chan. Sementara Hee Chan seperti tak curiga. 


Tae Woon bertemu dengan Eun Ho meminta agar harus berhati-hati. Eun Ho bertanya apakah itu Karena Hee Chan. Tae Woon menegaskan bahwa tidak ada salahnya berhati-hati. Saat itu pria yang sebelumnya datang kembali menemui Eun Ho, Tae Woon mengibaskan tanganya ingin Eun Ho tak menemuinya, tapi tak bisa melakukanya.
“Aku sudah lihat hasil sidang Komite Kekerasan Sekolah. Aku senang kau menang.” Ucap Si pria. Eun Ho tersenyum bahagia mendengarnya.  Si pria memberikan sekotak coklat pada Eun Ho.
“Terima kasih... Ini ada suratnya juga. Apa Kau yang menulisnya? Aku sangat tersentuh.” Ucap Eun Ho tersipu malu sambil mendoron si pria. Tae Woon terkabar api cemburu mengeluh Eun Ho agar tak berlebihan.
“Siapa kau ini? Kenapa kau mengekorinya ke mana-mana? Omong-omong. memangnya Eun Ho sudah menerima cintamu ?” ejek Si pria. Tae Woon terdiam. Eun Ho mengaku belum menerimanya.
“Jadi kenapa kau berlebihan sekali?” ejek Si pria.
“Apa Kau kira aku dan kau sama? Jangan muncul lagi di depannya.” Kata Tae Woon.
Si Pria seperti tak peduli mengajak Eun Ho untuk  mau nonton film. Tae Woon seperti uring-uringan seperti mondar-mandir. Sementara Eun Ho terlihat bahagia mendengarnya. Si pria mengetahui Ada banyak film bagus yang sedang tayang, jadi akan beli tiketnya dan menghubunginya lagi segera. Eun Ho mengangguk setuju dan terus menatap si pria yang pergi meninggalnya lebih dulu. Tae Woon langsung menarik dagu Eun Ho agar bisa menatapnya. 


“Sudah sejak lama aku tidak pernah nonton film lagi.” Kata Eun Ho senang
“Apa Kalian akan menempel berdua di tempat gelap dan menonton film bersama?” ucap Tae Woon panik
“Sepertinya ini bukan urusanmu.” Kata Eun Ho lalu membuka coklat dan ingin memakanya tapi Tae Woon langsung memakan semuanya.
“Hei.. Kenapa kau makan makanan milik orang lain?” kata Eun Ho kesal. Tae Woon beralasan agar Jangan dimakan, karena Giginya bisa sakit.
“Jangan berani kau pergi dengannya.” Kata Tae Woon lalu beranjak pergi tapi akhirnya kembali lagi.
Tae Woon ingin tahu kenapa tidak menjawab, Eun Ho bertanya menjawab apa maksudnya. Tae Woon mengingatkan kalau ia yang lebih dulu  mengungkapkan perasaannya dari pada pria tadi dan kenapa Eun Ho  tidak menjawab. Eun Ho terlihat gugup dan bertanya balik Apa harus menjawab, Tae Woon menegaskan kalau memang harus.  Eun Ho mengatak akan menjawab kalau jawabannya sudah ketemu lalu bergegas pergi.


Semua anak berkumpul melihat pengumuman, Eun Ho dkk melihat  Pengumuman dari Komite Kekerasan Sekolah. Mereka memuji Eun Ho yang keren karena dan juga Keputusan dalam kasusnya Bit Na juga berubah. Bo Ra ikut tersenyum melihatnya. Jung Il dan Ho Young seperti tak suka karena Bit Na terkena hukuman.
“Tidak salah lagi, Keadilanlah yang akan menang. Melegakan sekali.” Ucap Dal Soo. Sa Rang pikir ini namanya kesetaraan
Bit Na datang melihat pengumuman,  kalau ia harus ikut Pelatihan kepekaan dan bantuan psikiater. Tatapan masih sinis pada Bo Ra, lalu berjalan pergi dengan sengaja menyenggol Bo Ra, Jung Il dkk pun mengikutinya pergi. 

Eun Ho dkk berjalan bersama, sampai akhirnya melihat Hee Chan yang sengaja berjalan didepannya. Eun Ho memberitahu Hasil sidangnya sudah keluar lalu menyarankan agar Hee Chan minta maaf. Hee Chan malah mengumpat Eun Ho yang bodoh, karena akan melakukan pengaduan.
“Kita masih belum dapat hasil yang benar. Jadi mau Minta maaf apa?” ucap Hee Chan angkuh.
“Kau benar-benar tak punya malu. Apa sebegitu susahnya bagimu untuk minta maaf?” kata Eun Ho sinis
“Aku tidak melakukan kesalahan.” Kata Hee Chan merasa selalu benar.
“Kau terus saja membantah, tapi kesalahan yang kau lakukan tidak akan berubah jadi benar, dan tidak akan bisa dilupakan begitu saja. Bagaimana bisa kau tidak tahu caranya meminta maaf?” ucap Eun Ho marah
“Kalian sungguh tahu.. bagaimana caranya membuat orang lain melakukan hal buruk.” Kata Hee Chan lalu berjalan pergi. Sa Rang yang melihatnya mulai mengumpat dan berharap  mendapatkan semua balasannya. Eun Ho pun mengajak dua temanya untuk tak  memperdulikan lagi. 

Hee Chan hanya tertunduk di rumah. Ibunya menyuruh aga melupakan semua dan fokus saja pada belajarnya saja, dan apabila Hee Chan terus ada di peringkat kedua, itua tidak berusaha cukup keras. Hee Chan mengerti dan berjalan pergi. Ibunya mengeluh kalau semua seperti kurang dan membuatnya capek sekali.
“Aku juga capek... Jadi Kumohon.. Kumohon berhentilah. Kenapa Ibu selalu meneriakiku? Aku juga lelah. Aku sudah bertahan semampuku, kenapa?” ucap Hee Chan meluapkan perasaan tertekannya.
“Aku mencoba menyiapkan hidup yang sempurna untukmu.” Teriak Ibu Hee Chan dengan nada tinggi
“Bagaimana bisa sampah ini, Ibu sebut sempurna?Aku juga ingin hidup. Aku juga perlu bernapas. Kenapa Ibu tidak mengizinkanku bernapas sedikit saja? Kenapa terus mencekikku?” ucap Hee Chan sambil menangis. Ibu Hee Chan tak percaya anaknya bisa berteriak marah sambil menangis.
“Aku juga mau gila rasanya. Aku juga hampir kehilangan akalku!” kata Hee Chan. 


Rapat Guru
Guru Park menegaskan Pokoknya anggap saja perubahan ini sebagai permulaan dari proses untuk menegakkan keadilan di sekolah. Guru Jang seperti sudah tertunduk malu, dengan nadan sinis pada Guru Shim mengucapkan Terima kasih banyak karena dapat pemotongan 6 bulan gaji dan hukuman.
“Kau sudah meninggalkan sesuatu di catatanku yang bersih ini.” Kata Guru Jang sinis
“Aku menyesal, tapi tidak begitu menyesal.” Kata Guru Shim
“Jangan hanya anak-anak yang dievaluasi. Guru-guru juga perlu dievaluasi. Untuk melihat apa mereka sudah melakukan tugasnya dengan baik atau tidak.” Sindir Guru Jung. Guru Jang terlihat kesal
“Dia benar... Orangtua juga harusnya dievaluasi. Kantin sekolah juga harus dievaluasi.” Kata Guru Koo dan saat itu seseorang masuk seperti ingin menemui Guru Shim. 


Pria itu masuk ke kelas dengan tulisan di papan tulis “Percakapan tentang Impian”. Ia mengatakan kalau yang terakhir ingin disampaikan yaitu berharap mereka lebih fokus dalam mengejar impian daripada hanya fokus untuk mendapatkan pekerjaan yang stabil. Eun Ho dan yang lainya pun mencoba untuk mendengarkan dengan wajah serius.
“Kita akan mendiskusikan tentang kampus mana yang ingin kalian masuki jadi pikirkan juga tentang impian kalian.” Ucap Guru Shim setelah si bapak itu keluar dari ruang kelas. 

(Episode 11 - Impian, Bersinar namun Melemahkan)
Eun Ho melihat webtoonya dengan wajah bahagia kalau  Jumlah pembacanya naik dan berpikir kalau dirinya nanti akan terkenal. Tae Woo mengejek kalau pembacanya hanya 13 orang. Eun Ho melihat Responnya bagus, dengan membaca semua komentar yang masuk  "Seru gila Kece banget."  Tae Woon tersenyum mendengarnya.
“kira-kira Siapa yang menulis ini ? Dia pasti adalah penggemar berat webtoon kita.” Ucap Eun Ho
“Kau bilang Penggemar.. Terserahlah, tapi Murahan sekali... yang bagus itu Pembaca setia.” Kata Tae Woon dengan nada sinis.
“Hei, Nice Guy...”kata Eun Ho, Tae Woon tiba-tiba menyahut. Eun Ho tertawa karena Tae Woon menyahut. Tae Woon mencoba untuk tak terlihat gugup.

“Apa kau kaget karena aku menangkap basah dirimu?” ejek Eun Ho. Teae Woon dengan gugup mencoba menyangkal kalau itu bukan tertangkap. “Ayolah, Tuan Nice Guy.... Yang benar saja.” Ejek Eun Ho. Tae Woo mengaku tak tahu akan mengatakan apa.
“Apa kau tidak tahu harus bilang apa, Tuan Nice Guy?” ejek Eun Ho. Tae Woo menyuruh Eun ho menghentikan dan merasak tak pernah menuliskanya.
“Pokoknya, terima kasih... Penggemarku yang pertama.” Kata Eun Ho bahagia.
“Aku sedang tidak ada kerjaan makanya menulis komentar.” Akui Tae Woon. Eun Ho merasa tak peduli dengan semua alasan Tae Woon.
Eun Ho pun bertanya apakah Tae Woon tidak punya impian. Tae Woon pikir  kalau Impian itu hal yang kampungan. Eun Ho melihat Tae Woon yang jago menggambar. Tae Woon sudah mengatakan sebelumnya bahwa  Di saat punya impian, maka itu artinya kau kalah.
“Sepertinya kau benar.” Kata Eun Ho dengan tatapan sedih. Tae Woon binggung Eun Ho seperti pasrah dan ingin tahu alasanya.

Keduanya keluar dari kontainer dan Tae Woon memberikan minuman. Eun Ho meneriman dan membahas kalau  Pembaca Webtoonya hanya 13, itulah kenyataannya dan Situs tempat mengunggah webtoon menerbitkan ratusan cerita setiap harinya.
“Aku harus bersaing dengan ratusan orang itu. Tapi sekarang.. aku ragu apakah aku ini berbakat atau tidak.” Kata Eun Ho
“Begitulah orang-orang meraih impian mereka Dengan kompetisi yang berat.” Ucap Tae Woon mencoba memberikan semangat
“Aku penasaran apa aku bisa bertahan? Apa yang kukuasai.. dengan apa yang kusukai, mungkin adalah 2 hal berbeda. Bagaimana kalau aku hanya jadi pengikut dan kemudian menghilang suatu saat? Ini benar-benar membuatku cemas.” Kata Eun Ho. Tae Woon pun tak banyak berkata-kata. 


Eun Ho duduk di meja belajar dengan wajah gelisah, lalu melihat ada satu komentar dibawa webtoonya.
“Keren sekali. Penulisnya pasti sangat jenius. Ada satu kritik, karakter utama ceweknya sepertinya tidak tahu, siapa orang yang dia sukai. Sepertinya karakternya akan jadi lebih hidup. kalau kau mencoba berkencan dengan seseorang. -Nice Guy.-“ 
Eun Ho bisa tersenyum membacanya karena tahu itu komentar yang dituliskan Tae Woon untuknya. 

Jung Il memberikan sekotak hadiah pada Bit Na dan mengucapkan selamat ulang tahun dengan Hak Joong. Nam Joo yang duduk dibelakang terlihat gugup. Bit Na membuka kotak hadiah, dengan megejeknya kalau tak membawa hadiah maka habislah temanya itu.
“Wah... ini Cantik sekali... Terima kasih.” Ucap Bit Na melihat isi barang dari merek yang mahal
“Apa pestanya akan ditunda sampai ujian akhir?” tanya Jung Il. Bit Na menganguk. Jung Il ingin tahu kali ini akan diadakan dimana. Bit Na dengan bangga kalau akan diadakan di Hotel. Jung Il dan Hak Joong bahagai mendengarnya karena bisa makan enak dan mahal.
Nam Joo akhirnya memberiakn hadiah Bit Na. Bit Na memuji temanayang baik lalu membukanya dan merasa heran karena isinya hanya Lilin aroma terapi bahkantidak pernah lihat merek itu sebelumnya, lalu berpikir kalau itu dari Perancis. Nam Joo terlihat binggung.
Hak Joong yang langsung mencari di internet mengatakan kalau lilin itu banyak dijual dan Hanya lilin murahan yang tidak bermerek dan berpikir Mungkin Nam Joo sedang mencoba menghina Bit Na seperti Mengikuti jejaknya Bo Ra. Nam Joo mengaku Bukan begitu.
“Kudengar aromanya enak dan sangat terkenal.” Ucap Nam Joo membela diri
“Apa keluargamu benar pemilik Shingang?” ucap Jung Il masih penasaran. Dae Hwi yang duduk disamping ikut mendengarnya. Nam Joo pikir kenapa menanyakan hal itu lagi.
“Kudengar bosnya benar belum menikah. Aku penasaran apa mereka punya CEO baru.” Kata Jung Il
“Mungkin saja itu hanya gosip.Hei. Omong-omong, apa kau benar putus dengan Dae Hwi?” kata Hak Joong
Bit Na tak percaya dan langsung menanyakan pada Dae Hwi apakah emang putus dengan Nam Joo dan ingin tahu alasanya. Dae Hwi pikir tak ada urusanya dengan mereka. Nam Joo ingin tahu apakah mereka berdua sudah putus.  Dae Hwi mengaku kalau Sudah putus jadi meminta mereka agar jangan ikut campur.
Nam Joo yang mendengarnya terlihat sangat sakit hati,  Bit Na tak percaya mendengarnya dan langsung berpikir kalau Nam Joo dicampakkan, padahal banyak pria yang mengejar-ngejarnya. Dua pria seperti tak yakin kalau Nam Joo dicampakan, tapi Bit Na melihat wajah Nam Joo yakin kaalu pasti dicampakkan oleh Dae Hwi. 


Nam Joo menuruni tangga melihat Dae Hwi langsung berteriak memanggilnya dan mengomel karena menurutnya tak perlu Dae Hwi  mengatakannya pada semua orang. Dae Hwi mengaku kalau dirinya  hanya berusaha jujur. Nam Joo dengan nada mengejek membernakan ucapan Dae Hwi.
“Kau 'kan suka kejujuran. Makanya kau tidak peduli kalau harga diri mantan pacarmu sedang diinjak-injak.” Ucap Nam Joo marah
“Maaf... Aku tidak bermaksud begitu.” Kata Dae Hwi merasa bersalah.
“Terima kasih... Setidaknya kau tidak bermaksud begitu.” Kata Nam Joo lalu bergegas pergi. Dae Hwi seperti merasa tak enak hati dengan mantan pacarnya. 

Eun Ho menahan Tae Woon yang akan keluar sekolah memastikan lebih dulu kalau Ayah Tae Woon yang suka ayam dari toko oran tuanya. Tae Woon membenarkan. Eun Ho kembali mengatakan, karena itu Tae Woon mau datang untuk belajar menggoreng ayam Sekarang. Tae Woon membenarkan. Eun Ho menyuruh Tae Woon agar Pesan sajalah dari rumah..
“Begitukah? Haruskah aku pulang dan memesan ayam? Mungkin 5 ekor? Ahh.. Tidak. Aku punya kupon, jadi mungkin 6 ekor.” Kata Tae Woon mengoda.
“Kau akan memesan 6 ekor secara terpisah, 'kan?” ucap Eun Ho tahu sikap licik Tae Woon.
“Tentu saja!... Sudah kubilang. Hobiku adalah memesan ayam.” Kata Tae Woon.
“Baiklah. Satu ayam. Kau gorenglah satu ekor ayam kemudian pergilah dan  dilarang melakukan pesan antar.” Tegas Eun Ho, Tae Woon pun setuju. 


Eun Ho menerima pesanan ayam dari ibu yang harus diantar dan merengek agar bisa menaikan uang jajanya. Ibunya mengeluh pada anaknya tapi berjanji akan menaikanya. Lalu memberitahu Milik teman Eun Ho  mungkin akan sedikit lama. Tae Woon menunggu di depan restoran dengan senyuman bahagia.
“Aku akan berikan miliknya saat kembali nanti.” Ucap Eun Ho lalu berjalan pergi dan berkata pada Tae Woon kalau akan segera kembali. Tae Woon bergegas menaiki motornya.
“Ini bukan punyamu. Apa kau mau pergi?” ucap Eun Ho binggung. Tae Woon mengaku kalau mau mengantar ayam.
“Kenapa kau melakukannya?” tanya Eun Ho. Tae Woon menegaskan Eun Ho yang tidak boleh pergi sendirian karena Ada banyak orang aneh di luar sana.
“Seperti cowok yang terus-terusan memesan ayam, mengerjaimu, meminta kupon.. Bagaimana kalau kau bertemu pria seperti itu? Ini terlalu berbahaya, jadi Biar aku pergi denganmu.” Ucap Tae Woon.
“Sepertinya aku sudah ketemu dengan cowok seperti itudan aku kenal juga dengannya.” Ejek Eun Ho. Tae Woon dengan bangga kalau pria itu ganteng. Keduanya hanya tertawa dan akhirnya pergi mengantar ayam. 


Sesampai disebuah apartement, tiga orang remaja langsung terpana melihat Tae Woon yang sangat keren, seperti tak percaya kalau u ada tukang antar seganteng Tae Woon dan  Mulai sekarang  akan pesan ayam dari restoran Eun Ho saja.
Eun Ho terlihat kesal melihat tiga wanita yang terkesima dengan ketampanan Tae Woon. Tae Woon hanya bisa tersenyum puas melihat Eun Ho yang cemburu. Mereka pun melihat sekolah Tae Woon di  Geumdo, Eun Ho langsung menutupi name tag nama Tae Woon.
Ketiganya masih memuji Tae Woon keren sekali. Tae Woon yang percaya diri mengaku sudah sering mendengarnya dan memohon agar pesanlah ayam yang banyak, lalu pamit pergi. Eun Ho langsung menarik Tae Woon agar pergi. 

Ketiga remaja tak mau melepaskan Tae Woon begitu saja sampai mengantar ke depan apartement. Eun Ho terlihat kesal melihatnya dan mengejak Tae Woon pasti senang ada yang memujinya. Tae Woon membalas kalau Eun Ho cemburu melihatnya.  Eun Ho menyangkalnya.
“Kau cemburu. Kenapa? Melihat cewek-cewek cantik dan lucu itu terpesona padaku apa kau jadi marah? Apa Kau kesal?” goda Tae Woon.
“Aku tidak peduli kalau mereka imut. Kau Kencani saja mereka.. Silahkan.. Kencani cewek yang mungil-mungil itu... Pergilah.” Ucap Eun Ho tak peduli.
“Bagaimana bisa kau mengatakan itu? Kau pikir Kenapa aku mau mengantar ayam jam segini? Karena aku ingin bertemu denganmu. Karena aku ingin kau selalu di sampingku dan selalu melihatmu.” Ucap Tae Woon dan langsung mengajak Selfie Eun Ho yang sedang cemberut.
Setelah itu ia dengan bangga kalau akan akan menyimpannya sendiri. Eun Ho berteriak mengejarnya agar bisa melihat foto yang diambilnya. Tae Woon enggan memberikanya karena lebih ingin menyimpanya sendiri. 

Keduanya menaiki motor untuk kembali pulang, tapi tiba-tiba motor Tae Woon seperti tak berjalan semestinya. Eun Ho bertanya ada apa dengan motornya. Tae Woon pun menyuruh Eun Ho untuk turun lebih dulu. Tae Woon binggung karena Motor sekarang tidak mau menyala.
Keduanya akhirnya sampai bengkel, Si montir memberitahu kalau  Karena ini suku cadangnya impor jadi sepertinya butuh waktu lama untuk memperbaikinya. Tae Woon memohon agar bisa memperbaiki secepatnya. Si montir pikir Setidaknya butuh waktu 3 hari dan menyuruh Tae Woon melihat bengkel saja karena akan menghubungi pabrik. 

Eun Ho sudah melihat motor gede dan duduk diatasnya, Tae Woon merasa kalau Sudah lama sekali tidak ke bengkel itu.  Eun Ho merasa motor didalam itu keren Semuanya kelihatan beda. Tae Woon mengaku kalau itu Tentu saja karena Semuanya punya model yang berbeda.
“Inilah motor pria sejati. Ini dibuat.. saat mesin pertama kali dikembangkan tahun 1909. Silindernya miring 45 derajat. Dan Kau pasti pernah melihat ini.” Ucap Tae Woon. Eun Ho binggung.
“Di musim panas orang-orang tua yang berjaket kulit.. menyetir seperti stang motor yang lebih tinggi” cerita Tae Won. Eun Ho mulai mengerti.
“Aku tahu ada tulisan Meme "Min Shik, apa itu kau?"” kata Eun Ho. Tae Woon malah bingung siapa Min Shik berpikir kalau itu Teman satu sekolah mereka
“Ya, sebenarnya tapi Yang ini keren. Setiap komponennya dibuat dengan tangan. Satu hal yang tidak begitu kusukai. Kalau aku yang membuatnya, maka aku akan menaikkan dudukannya dan membuatnya kelihatan seksi. Dan Juga menurunkan sedikit pegangannya, dan membuat seolah-olah kau sedang memeluk motornya. Tapi, keseimbangannya jadi akan sedikit hilang.” Ucap Tae Woon terus mengoceh tentang motor. Eun Ho melihat Tae Woon tersenyum bahagia melihatnya.
Bersambung ke part 2

FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09