Rabu, 18 Oktober 2017

Sinopsis Because This My First Life Episode 3 Part 2

PS : All images credit and content copyright : TVN
Dua investor berbicara tentang aplikasi yang dibuat Sang Goo mencari kencan berdasarkan sistem penilaian seperti sistem kasta baru dan ingin tahu Berapa perkiraan taksiran pendapatannya. Sang Goo mengatakan Sejak kami merilis versi pembaruan terakhir minggu lalu, perkiraannya 300% lebih banyak dari biasanya.
“Ini agak memalukan, tapi aku dengan rendah hati mengira pendapatannya sebesar itu.” Kata Sang Goo
“Bukankah itu berarti kau tidak membutuhkan investor seperti kami?” ucap CEO yang lain.
“Investasi Anda adalah apa yang kami butuhkan untuk berkembang. Ini jalur hidup kami untuk melangkah lebih jauh. Sebelum kami membuat penawaran pertama di pasar saham, teruslah mendukung kami.” Kata Sang Goo membungkuk untuk mengoda.
“Aku suka sikapnya.Dia tidak seperti CEO muda lainnya.” Kata CEO kacamata. Temanya pun menyetujui.
“Hei..  Manager Park.” Panggil CEO kacamata mata.  Soo Ji dan Asisten Park pun menyapa para CEO. Sang Goo sempat membungkuk menyapal lalu melotot kaget melihat Soo Ji kembali bertemu.
“Pekerjaanmu sangat mengesankan.” Puji  CEO.  Manager Park pikir bukan apa-apa
“Ya. Saya suka betapa jelas sekali pesannya disampaikan. Apa Kau sudah pernah pakai  aplikasi itu juga? Tingkatmu pasti tingkat berlian. “ kaat Manager Park. Soo Ji mengaku kalau belum  sampai di tingkat itu.
“Mana mungkin. Bukankah itu karena kau hanya  mengunggah foto wajahmu? Kau harusnya mengunggah foto  dari kepala sampai ujung kaki.” Kata Manager Park
CEO lain bertanya Apa fotonya kelihatan bagus sekan kalli, Manager Park mengatakan kalau Soo Ji bukan hanya pintar, tapi penampilannya bagus dan menjadi andalan mereka dengan sengaja menyentuh bahu Soo Ji.
Sang Goo seperti tak suka langsung menyela meminta rokok pada Manager Park karena rokoknya ketinggalan di mobil. CEO pikir mereka bisa keluar bersama saja. Manager Park pun setuju dan mengajak Soo Ji untuk ikut. CEO mengejek Manager Park yang selalu mengoda Soo Ji. Sang Goo sengaja melakukan agar Soo Ji tak disentuh oleh Manager Park. Soo Ji juga seperti tak suka dengan Manager Park. 


Soo Ji pergi ke atap mengeluarkan rokoknya. Sang Goo datang menyalakan korek dan langsung berkomentar kalau Atap memang tempat terbaik untuk merokok. Soo Ji terlihat santai merokok, Sang Goo bertanya apakah Soo Ji tak mengingatnya. Soo Ji hanya terdiam.
“Sepertinya ingat. Bukankah  kita bertemu di pesta pernikahan? Ya, benar. Di situlah kita pertama kali bertemu. Dunia ini memang sempit.” Kata Sang Goo. Soo Ji pikir seperti itu.
“Apa kau tidak ingat di tempat lain juga? Kita bertemu di pesta atap tahun lalu. Kita berbicara seperti ini dan  aku bahkan menyalakan rokokmu. Lalu Kita waktu itu minum bir bersama. Oh, kau minum koktail. Setelah itu, kita...” kata Sang Goo dan melihat tatapan Soo Ji
“Sepertinya kau tidak mau membicarakannya.” Kata sang Goo. Soo Ji pikir tak seperti itu.
“Karena kau mengungkitnya, maka aku akan membicarakannya” kata Soo Ji menatapnya
“Kita tidur bersama, kan? Aku akan berpura-pura itu tidak terjadi.” Ucap Sang Goo.
Soo Ji malah bertanya apakah memang tahu lalu ia tidur dengan Sang Goo. Sang Goo heran karena Soo Ji tidak ingat apa-apa dengan mengingkatkan Waktu itu kamar 303 dan menginap disana menurutnya mereka saat itu  bersenang-senang.
“Maaf... Aku padahal biasanya ingat orang-orang  yang pernah tidur denganku. Tapi aku sama sekali tidak bisa mengingatmu. Kurasa karena kau tidak begitu hebat.” Kata Soo Ji lalu berjalan pergi
“Apa Barusan dia bilang dia tidak ingat aku? Wahh.. Bisa-bisanya dia? Padahal kukira waktu itu, aku sangat tak terlupakan. Dan Bisa-bisanya dia tak ingat kemampuan hebatku itu?” kata Sang Goo tak percaya. 



Penulis Hwang mengajak Ji Ho minum bersama disebuah restoran tertutup, tapi saat Ji Ho masuk dikagetkan dengan Yong Suk dan Sutradara park sudah ada di dalam. Ji Ho pun duduk dengan wajah tertunduk. Penulisk Hwang mengajak mereka untuk mulai bersulang.
“Katanya Yong Suk mencarikan tempat tinggal buat Penulis Yoon. Romantis sekali dan Kalian serasi sekali” ucap Sutradara Park
“Aku suka bagaimana anak-anak muda zaman sekarang bisa berteman dengan lawan jenis. Tidak ada yang seperti itu  saat aku masih muda. Dulu Mana bisa kami d bebas bergaul dengan lawan jenis. Zamanku dulu, kalau ada rumor sepasang anak muda bermalam bersama itu artinya hubungan  mereka sangat serius.” Ungkap Penulis Hwang
“Benar... Kami banyak menderita karena itu.” Ungkap Sutradara Park
“Kalau aku, tidak, tapi kau berbeda. Kau dulu sangat menyukaiku, 'kan.” Goda Penulis Hwang. Sutradara Park mengeluh Penulis Hang membahas masalah itu sekarang lalu ingin menungkan minum untuk Ji Ho.
“Ketika orang muda bekerja sama., ada berbagai macam kejadian. Dimanapun juga, pasti seperti itu.” Kata Penulis Hwang 
Sutradara Park menyuruh Yong Suk agar meminta maaf pada Ji Ho dan mengaku kalau sudah melakukan kesalahan terbesar dan ia memberitahu Ji Ho kalau sudah memarahi semalam jadi Yong Suk ingin minta maaf makanya mengajak untuk bertemu.
“Penulis Yoon... Aku saat itu mabuk sekali sampai  hilang akal sehat. Aku minta maaf.” Ucap Yong Suk. Sutradara Park mengatakan kalau ingin menghajarnya sampai mati dan tidak dilalukan karena melihat sutradara Park.

“Sekarang ini... apa yang kalian lakukan? Kenapa... Kenapa Bapak memarahinya? Dan Kenapa Ibu bilang begitu? Padahal korbannya... adalah aku.” Ucap Ji Ho menahan tangisnya. Penulis Hwang binggung, Ji Ho pikir perkataan itu  kurang tepat.
“Aku dilecehkan secara seksual.. Ahhh.. Tidak, aku malah hampir diperkosa. Jadi wajar lah kalau aku  ini korban.” Kata Ji Ho. Yong Suk mencoba mengelak.
“Tutup saja mulutmu itu sebelum kujebloskan kau ke penjara.” Kata Ji Ho marah pada Yong Suk. Sutradara Park melihatnya merasa kalau Ji Ho  sudah kelewatan.
“Kita sudah seperti keluarga, jadi sebaiknya jangan bersikap seperti ini. Kami berkumpul di sini karena kau,  dan dia sudah minta maaf.” Kata Sutradara Park.
“Maka dari  itu. Kenapa pula kalian harus merencanakan kumpul-kumpul seperti ini? Aku tak mengerti kenapa aku  harus dengar dia minta maaf seperti ini.” Ucap Ji Ho marah.
“Penulis Yoon. Kita ini sudah seperti keluarga, saling menghargai. Jadi kami berusaha untuk tidak  menghancurkan kerja sama tim kita.” Jelas Penulis Hwang 


Ji Ho melihat kalau Penulis Hwang itu belum berusaha kalau seperti ini, menurutnya ia malah seperti telah diserang oleh  batu dan berdarah sekarang bahkan seharusnya Membawanya ke rumah sakit harusnya dipertimbangkan dalam situasi ini. Tapi mereka sekarang malah memaksa untuk membiarkannya dan seakan berkata kalau dirinya baik-baik dan berpikir kalau tidak berdarah sebanyak itu.
“Kalian seakan memaksa menyeretku dan Ini namanya bukan berusaha. Aku sudah sangat berdarah dan  terluka sampai mati.” Kata Ji Ho menahan tangis.
“Penulis Yoon. Apa Pikirmu kau ini lagi di organisasi kemahasiswaan?  Jika kau merengek seperti ini  karena hal sepele...,kau tidak akan bisa  menulis drama apapun. Drama itu soal kerja sama tim Hal ini terkait dengan masa lalu dan  masa depanmu juga. Tanpa kami, maka tidak mungkin  naskahmu terpilih.” Ucap Sutradara Park seperti sedikit mengancam.
“Ya..., aku mengerti. Untuk itu, aku...tidak akan menulis  naskah lagi. Aku takkan menulis drama lagi. Jadi jangan hubungi aku lagi.” Kata Ji Ho lalu keluar dari restoran. Penulis Hwang sempat memanggilnya.
Ji Ho berlari dan bersandar di dinding yang bertuliskan  ["A Lucky Day" oleh Hyun Jin Geon] lalu memuji dengan keputusan yang sudah bagus bahkan tidak menangis, jadi Keputusan tepat.


Soo Ji membuat campuran Bir dan Soju menyuruh Ji Ho minum, Ji Ho menghabiskan satu gelas. Soo Ji kembali memberikan gelas lain, Ji Ho pikirsudah minum 5 gelas. Soo Ji merengek kalau gelas yang dibuatnya belum habis, karena temanya harus minum semalaman di hari mengundurkan diri dari pekerjaan.
“Benar, kau hanya perlu  minum-minum dan muntah-muntah malam ini dan Sisanya, kami yang urus” kata Ho Rang
“Menakutkan sekali kalian, Padahal kalian bilang mau menghiburku.” Ucap Ji Ho.
“Maka dari itu... Inilah minuman hiburan, jadi Bersulang.” Kata Ho Rang. Ji Ho pikir tidak kuat minum lagi Atau perutnya bakal meledak.
“Jadi apa kita harus berangkat sekarang karena kau lagi mabuk?” kata Soo Ji. Ji Ho bertanya kemana mereka akan pergi. Ho Rang dengan semangat kalau mereka akan karaoke. Ji Ho menolak karena pasti bisa muntah. Tapi keduanya sudah menarik dari atap rumah Ho Rang. 

Ketiganya menari dan menyanyi bersama, melampiaskan semua rasa frustasi dalam sehari. Ji Ho juga terlihat bisa bahagia bertemu dengan teman-temanya walaupun harus berhenti berkerja
“Soo Ji dan Ho Rang selalu seperti ini. Waktu aku sedang kesusahan..., maka mereka tidak pernah bertanya padaku ada  masalah apa atau bagaimana kronologisnya, seperti yang dilakukan orang lain. Mereka hanya mengobrol dan  tertawa seperti biasa. Sebenarnya, itulah kenyamanan terbaik yang bisa kudapatkan.” Gumam Ji Ho. 

Di luar ruangan.
Soo Ji menerima telp dan mengetahui kalau mereka harus bertemu besok, lalu mengeluh anak buahnya yang tak pandai  menangani masalah ini dan akhirnya memutuskan untuk mengeceknya. Ji Ho baru saja dari kamar mandi mendengarnya bertanya apakah temanya harus pergi.
“Ini soal klien penting kami, pokoknya Kacau. Makanya aku ingin mematikan ponselku.” Kata Soo Ji. Ji Ho menyuruh Soo Ji pergi saja karena masalah perkerjaan. Soo Ji pun meminta maaf sambil menelp kepala manager.
Ji Ho masuk ruangan melihat Ho Rang sudah tertidur pulas, dengan mengejek aklau mengira temanya yang ingin minum semalaman. Ponsel Ho Rang berbunyi,  Won Seok menelp.  Ji Ho pun mengangkatnya. 

Won Seok mengendong Ho Rang pulang walaupun terasa Berat, lalu mengeluh pada pacarnya yang semangat sekali Padahal Ji Ho yang  mengundurkan diri. Ji Ho juga tahu karena Ho Rang itu tidak jago minum. Won Seok pun menanyakan Ji Ho pulang karena sudah larut malam dan mengajak untuk tidur dirumah mereka saja.
“Heol.... Jangan lupa kita ini  sudah umur 30, bukan 20 tahun” kata Ji Ho lalu melhat taksi yang lewat.  Wan Seok pun memasukan Ho Rang lebih dulu lalu membiarkan tidur dipangkuanya. Ji Ho pun melambaikan pada Won Seok 
“Tapi mereka semua punya tempat tujuan.. Kecuali aku..” Gumam Ji Ho sedih dan berjalan ke halte bus, terlihat dilayar kalau Semua bus berhenti beroperasi.
“Kenapa aku selalu berkeliaran di jalanan?” keluh Ji Ho yang tak punya tujuan bahkan tempat tinggal.

Ibu Ji Ho menelp,  menanyakan keberadannya apakah tidak tidur. Ji Ho mengaku masih ada diluar karena Ada yang harus dikerjakan. Ibu Ji Ho meminta anaknya Jangan kerja lembur sampai malam karena Nanti teman serumahnya berprasangka buruk. Ji Ho mengatakan kalau akan pulang sekarang.
“Jaga kebersihan kamarmu, Setelah minum kopi, langsung cuci cangkirnya. Jangan langsung keluar setelah  mengeringkan rambutmu. Kau harus Pel lantainya tiap pagi dan malam  biar lantainya tak ada rambut rontokmu.” Ucap Ibu Ji Ho
“Sudahlah. Sudah kubilang, iya, iya.” Kata Ji Ho kesal pada ibunya.
“Kenapa kau... Kenapa kau mengamuk? Ibu cuma mengatakan karena khawatir.” Kata Ibu Ji Ho
“Lalu aku harus bagaimana biar bisa lebih baik lagi? Jika aku melakukan semuanya dengan baik, apa semuanya akan berhasil? Ibu itu tidak tahu apa-apa.”kata Ji Ho merasa frustasi karena tak ada yang bisa mengerti keadaanya sekarang.
Ibunya pun mengerti tak banyak bicara hanya meminta agar Ji Ho bisa segera pulang dan jangan lupa makan, lalu menutup telpnya. Tapi sebelum menutup ibunya berpesan Kalau cuaca Seoul terlalu dingin, maka datangnya kerumahnya karena kamarnya masih ada dan bisa datang kapan saja, Ji Ho hanya bisa terdiam mendengar ibunya. 

Pagi Hari
Se Hee berlari ditaman, petugas menghentikanya memberikan sebuah koper. Se He binggung bertanya apakah itu punyanya. Petugas membenarkan karena Ada orang yang menitipkan untuk unit 401. Se Hee mengerti dan melihat note yang ditempel [Kutaruh kopernya di sini karena kau menyuruhku tak usah menghubungimu. -Yong Suk.]
Ji Ho membuat telur mata sapi dan menerima gambar kopernya dari ponselnya. Se Hee mengirimkan pesan “Aku mengambil barang-barangmu dari pos satpam. Kurasa mantan rekan kerjaku yang mengirimnya ke alamat itu.” Ji Ho meminta maaf dan meminta izin untuk bisa mengambil barangnya hari ini.  Se Hee pun membalas kalau Se Hee bisa Datang kapan saja.

Soo Ji keluar dari kemar mandi kaget melihat meja makan karena Sudah lama tak pernah sarapan. Ji Ho menyuruh temanya sarapan bahkan tega karena tak makan makanan yang dikirim ibunya. Soo Ji pikir temanya tahu ibunya selalu membuat banyak makanan setiap saat lalu bertanya akhir pekan ini akan pergi jalan-jalan kemana.
“Soo Ji... Hari ini, aku mau ke Namhae.” Kata Ji Ho. Soo Ji setuju karena temanya harus beristirahat di sana.
“Tidak, maksudku, aku mau  pulang kesana untuk selamanya. Aku akan pergi dari Seoul. Naskahku gagal, dan aku tak bisa apa-apa lagi.” Kata Ji Ho dengan tatapan sedih. Soo Ji pun kaget.
“Jika ini soal tempat tinggal,  kau bisa tinggal di sini. Aku sungguh tak keberatan.” Ucap Soo Ji ikut sedih.
“Bukan soal itu... Tapi Hanya saja... Seoul...terlalu dingin, jadi aku bosan. Aku akan pergi ke Namhae.” Kata Ji Ho. Soo Ji seperti tak bisa menahan temanya pergi. 

Ji Ho menekan bel rumah Se Hee beberapa kali tapi tak ada yang membukanya dan berpikir kalau Se Hee tidak di dalam, lalu masuk dengan password yang belum berubah. Ia lebih dulu menyapa Kitty dengan menanyakan kabarnya dan apakah sudah makan lalu masuk ke daam kamar.
Ji Ho melihat note yang ditulis oleh Yong Suk dan membuangknya begitu saja setelah itu melihat berkas [Turtle Student Residence] merasa tak tega jadi memilih untuk meninggalkan saja diatas meja jadi bisa dida ulang. Saat itu terdengar suara pintu terbuka, Ji Ho akan menyapa Se Hee tapi terdengar lebih dulu suara ibu Se Hee yang membuatnya kembali ke kamar. 

Ibu Se Hee ingin tahu apa yang anaknya katakan sampai orang tuanya sangat marah. Se He mengatakan kalau memintanya membayar sewa bulanan. Ibu Se Hee merasa ankanya sudah gila bahkan minta uang sewa bulanan dari calon istrinya. Se Hee dengan santai mengatakan kalau ia butuh sewa.
“Dia bilang ingin berhenti kerja,  punya anak dan jalan-jalan kalau sudah menikah. Jadi kubilang padanya, bahwa aku ingin  teman serumah yang membayar sewa...,menyortir sampah, dan membersihkan kotoran kucingku. Itulah yang kukatakan padanya. Kenapa memang?” kata Se Hee merasa tak ada yang salah. Ji Ho mendengarkan dari celah pintu.
“Kau bilang Kenapa apanya?!!! Walau kau tidak menyukainya, apa normal bicara seperti itu pada saat kencan buta?” kata Ibu Se Hee tak habis pikir. Se Hee tahu kalau Itu memang tak normal.
“Tapi Memang normal itu apa artinya? Memberikan dan menerima cinta  seperti kebanyakan pria. Punya anak dan hidup seperti orang lain. Dan Normal darimananya itu?”keluh Se Hee
“Yah.. Normal seperti itu. Semua orang hidup seperti itu.  Apa sesulit itu?” ucap Ibu Se Hee.
“Apa Ibu tahu biaya rata-rata buat menikah di Korea?” kata Se Hee. Ibunya menjawab sekitar 50 sampai 60 juta won.
“Yang benar 2,7 M won dengan Membesarkan anak, 3M won. Jadi Buat apa aku menikah dengan seorang wanita yang bahkan tidak tahu perbedaan antara plastik dan styrofoam dan yang suka buang-buang uang?” kata Se Hee.
Ibunya pikir mereka seperti sedang wawancara kerja? Dan melihat kalau calonya itu cantik sekali bahkan Setiap pria pasti jatuh cinta padanya. Se Hee mengaku kalau sudah cukup puas dengan  kucing muda nan cantik ditanganya. Ibu Se Hee menduga anaknya ada masalah yaitu terpengaruh  oleh hormon lingkungan hingga kemampuan seksualnya... Se Hee mengeluh pada ibunya yang berpikiran aneh.
“Terserahlah,  pegawai biro jodoh sampai heran padamu. Dan Tidak akan ada kencan buta lagi, jadi minta maaflah ke Nn. Hwang. Ibu rasa dia masih menyukaimu.” Ucap Ibu Se Hee. Se Hee bertanya kenapa ia harus melakukanya.
“Jika ayahmu menceraikan Ibu maka Karena kau, Ibu akan pindah kesini. Kau tahu betul sifat ayahmu, jadi Ibu tak bisa menentang dia. Maka kau bisa  Pilih apakah lebih baik tinggal dengan  ibumu yang tua ini atau dengan istri mudamu nan cantik itu. Terserah kau.” Kata Ibunya. Se Hee hanya diam saja. 



Ji Ho keluar kamar untuk menyapa, tapi Se Hee kaget setengah mati sampai terjungkal. Ji Ho langsung meminta maaf dan keduanya duduk diruang tengah. Ji Ho kembali meminta maaf karena tidak ingin ketahuan ibunya. Se Hee pikir tak masalah bahkan berterimakasih karena sudah bersembunyi.
“Tapi kenapa kau bawa semua barang bawaanmu? Apa Kau diusir?” ucap Se Hee.
“Ya.. Aku sebenarnya mau pulang  kampung di Namhae.” Kata Ji Ho. Se Hee pun menanyakan dengan pekerjannya.
“Aku berhenti. Aku ingin mengucapkan terima kasih telah  menyewakanku kamar yang bagus. Berkat kau, aku bisa menulis naskah pertamaku di sini, meski tidak berjalan lancar.” Kata Ji Ho
“Nanti juga kau akan  hebat sendirinya, Karena kau orang yang sangat  bertanggung jawab. Kau dapat nilai tertinggi di antara  semua penyewaku yang tinggal di sini.” Ungkap Se Hee.
“Ya, kau juga pasti berhasil dan Kau akan segera menikahi wanita yang baik.” Balas Ji Ho.
Se Hee juga tak tahu, apakah ia bisa menikah. Ji Ho pikir kenapa tak bisa karena sebelumnya Se Hee bisa mengajaknya menikah. Se Hee mengaku kalau itu karena orangnya adalah Ji Ho makanya ia mengajaknya menikah.
“Kau dapat nilai tertinggi  sebagai penyewaku. Bukan pernikahan yang kubutuhkan, tapi kau. Karena itu, aku melamarmu.” Ungkap Se Hee. Ji Ho terdiam mendengarnya.
“Aku tahu ini bukan saat yang tepat jatuh hati padanya.” Gumam Ji Ho
“Aku butuh teman serumah yang bisa menjamin membayar sewa bulanan bukan pernikahan.” Kata Se Hee. 

Ji Ho berjalan keluar dari rumah merasa kalau tetap saja ini pertama kalinya mendengar ada seseorang yang membutuhkannya. Lalu sampai ke halte bus memesan bus ke Namhae.
“Seumur hidupku di usia 20an..., aku bekerja keras untuk menjadi  orang yang dibutuhkan. Tiap kali aku kesusahan, aku  menyeberangi Jembatan Sungai Han. Ketika melihat-lihat Sungai Han..., maka kukira mungkin ada setidaknya satu tempat yang membutuhkanku di kota besar ini Begitulah yang kukira.” Gumam Ji Ho akhirnya memasukan kopernya ke dalam bagasi.
“Selama 10 tahun..., koper ini banyak tergores  layaknya diriku. Padahal koper ini awalnya  masih mengkilap saat pertama kali ke Seoul.”
Ia pun naik ke dalam bus yang akan membawanya ke Namhae sammbil menyadarkan kepala di jendela kembali bergumam.
“Apapun yang kulakukan begitu keras dalam hidup ini..., kapankah aku akan kembali ke  Namhae dengan hal yang bisa dibanggakan? Lagipula, dari awal memang tak ada tempat  tujuan bagiku.” Gumam Ji Ho lalu kaget melihat sosok pria yang pernah melamarnya. 

Se Hee menaiki bus, Ji Ho pun berdiri bertanya kenapa datang menemuinya. Se Hee bertanya kenapa Ji Ho yang tak mengangkat telpnya. Ji Ho mengatakan kalau Baterainya habis. Se Hee memberikan berkas naskah yang tertinggal dikamarnya serta sebuah poster. Ji Ho tak percaya Se Hee datang hanya ingin memberikan itu.
“Aku tadinya rencana mau keluar dan kebetulan aku ingat kau bilang busmu berangkat jam 7 malam. Sepertinya kau butuh ini.” Kata Se Hee. Ji Ho mengaku kalau memang membutuhkanya.
Sopir bus memberitahu kalau bus mereka Sebentar lagi berangkat. Ji Ho pun hanya bisa menatap Se Hee yang berjalan meninggalkan halte bus dan tak sengaja menjatuhkan beberapa jeruk lalu membantunya dan mengingat ucapannya kalau semua karena dirinya.
“Aku mengajakmu menikah karena kau, Ji Ho” Ucap Se Hee memberikan alasan sebelumnya.
“Dialah orang pertama yang berkata dia membutuhkanku” gumam Ji Ho 


Ji Ho tiba-tiba turun dari bus memanggil Se Hee,  membeirtahu kalau Pak supirnya tak mau  menunggu lama karena marah jadi meminta agar Se He menjawab dengan cepat. Se Hee mengangguk mengerti.
“Maukah kau... menikah denganku? Ayo.... Cepat. Dia tak mau menunggu.” Kata Ji Ho. Se Hee langsung menjawab Ya
“Kalau begitu, sekarang aku  mau ambil koperku. Ahjussi pasti kesal sekali sekarang.” Kata Ji Ho segera berlari ke bus.
“Tapi Ada yang harus kutanyakan sebelumnya. Apa kebetulan, kau... menyukaiku?” tanya Se Hee dengan menaruh tanganya di kedua mulutnya agar nyaring.  Ji Ho dengan mudah langsung menjawab Tidak.
“Demikianlah, lamaran kami...dimulai.” gumam Ji Ho dengan berada di halte bus dan berdiri berjauhan.
Bersambung ke episode 4

FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09 

Sinopsis Because This My First Life Episode 3 Part 1

PS : All images credit and content copyright : TVN
Se Hee mengatakan kaalu memang Ji Ho memilki waktu meminta agar bisa menikah denganya. Ji Ho terdiam sempat sempat mengatakan Ya, lalu berteriak kaget tak percaya dengan yang dikatakan Se Hee. Ia dengan terbata-bata ingin tahu harus menikah dengan Se Hee.
“Pernikahan... Kenapa aku... menikah? Kenapa kita harus menikah? Kenapa kau dan aku harus seperti itu?” ucap Ji Ho binggung.
“Sudahlah. Pura-pura saja aku tadi tak bilang begitu... Aku tadi tidak  sungguh-sungguh. Lupakan saja. Jadi Aku tidur dulu.” Ucap Se Hee lalu berdiri dari tempat duduknya.
“Seprainya masih ada di  kamar lamamu. Aku mencuci sarung bantal...” kata Se Hee. Ji Ho pikir tak perlu
“Kalau tak pakai sarung bantal, nanti kotor.” Ucap Se Hee.
“Tidak, maksudku aku  sekarang mau pamit pulang lagi.. Tadi 'kan aku sudah bilang.  Aku tadi keluar jalan-jalan. Sekarang aku harus pulang.. jadi Terima kasih birnya.” Kata Ji Ho bergegas pergi. Se Hee binggung kare melihat jam sudah pukul 3 dini hari. 


Ji Ho keluar dari apartement mencari dari ponselnya untuk memesan taksi, mencari ke arah “Gayang-dong, Gangseo-gu tapi sepertinya ragu. Lalu ia mencari ke “Mangwon-dong”, kembali ragu. Ia akhirnya mengeluh pada dirinya sendiri yang tak punya tempat tujuan satu pun.
Pesan dari Se hee masuk  dan Ji Ho pun membacanya. “Aku kirim sms karena kau tidak  akan dapat taksi jam segini. Kata sandi rumahku sama seperti dulu.”
Ji Ho akhirnya kembali masuk kamar setelah membaca pesan dari Se Hee. Dalam kamarnya  Ia kembali mengingat saat Se Hee mengatakan “Kalau kau ada waktu...Maukah kau menikah denganku?”

“Padahal dia benar-benar mengajakku menikah dengannya.” Kata Ji Ho lalu mendengar suara pintu kamar Se Hee yang terkunci, mulutnya kembali melonggo dengan wajah kesal.
“Kenapa dia selalu...Akulah yang harusnya mengunci pintu.  Apa dia ini lagi main-main atau apa?  Kau bilang Menikah? Kita saja  baru bertemu pertama kali. Dan Bisa-bisanya dia mengunci pintu setelah  menanyakan pertanyaan seperti itu padaku?” ucap Ji Ho kesal, lalu memasang alarm kalau akan berangkat besok naik kereta pertama.


Se Hee keluar dari kamar langsung menelp bagian keamanan, untuk melaporkan tetangga yang sedang  renovasi tanpa memberitahu, karena suaranya sangat menganggu. Tapi Se Hee sadar kalau itu bukan suara  dari konstruksi, lalu melihat dari pintu kamar Ji Ho sedang tertidur pulas sambil mendengkur dan menutup pintu.
“Aku cuma menumpang tidur disini sampai  kereta bawah tanah besok mulai beroperasi. Aku pasti sudah tak ada disini waktu  kau bangun nanti, jadi selamat tinggal.”
Se Hee seperti membaca pesan yang dikirimkan Ji Ho, lalu berusaha untuk menganggap tak mendengar dengkuran Ji Ho. 

Soo Jin menelp Ho Rang karena Ji Ho tak mengangkat telp bahkan tak balas pesan sambil merokok diatap gedung. Ia pikir kalau Ji Ho sedang rapat, saat itu beberapa pria datang dan Soo Jin buru-buru menutup telpnya.
“Asisten Woo.  Apa Kau keluar cari angin?” sapa manager Park. Soo Jin membenarkan.
“Kau harus merokok sama kami.” Ajak manager Park. Teman yang lain merasa tak perlu bercanda seperti itu. Soo Ji  memilih untuk kembali ke ruangan, Manager Park pikir tak masalah mengejek Soo Jin karena jabatannya sebagai Asisten. 

Ho Rang seperti mencoba menelp Ji Ho tapi tak diangkat, lalu duduk disoaf berwarna pink. Si Pegawai mengaku penasaran karena Ho Rang yang  tidak datang hari ini, lalu memebritahu Sofa yang didudukinya itu tinggal beberapa lagi jadi harus segera membelinya.
“Apa kau Serius? Jangan sampai terjual. Aku 'kan ingin membelinya buat rumahku kalau sudah menikah. Apa Tahun depan masih ada lagi tidak sofanya?” ucap Ho Rang. Si pegawai sedikit berpikir.
“Bilang saja ke pacarmu kau  harus segera menikah. Lagipula, kau sebaiknya menikah saat kau masih cantik begini.” Kata si pegawai. Ho Rang tahu pacarnya itu orang sibuk.
“Dia lulusan Universitas Nasional Seoul.”kata Ho Rang bangga. Pegawai terkesima dan ingin tahu pekerjaanya.  Ho Rang pikir kalau menjelaskan pasti takkan mengerti. Si pegawai mengejek Ho Rang seperti terlalu berlebihan lalu bergegas pergi. 

Ji Ho terbangun dari tidurnya setelah bunyi alarm jam lima sore, seperti tak sadarkan diri kalau memasang alarm jam 5 sore bukan jam 5 pagi. Akhirnya ia menarik tanganya keatas, merasa kalau Badannya segar sekali padahal cuma tidur dua jam. Kitty sudah menunggu dan meminta makan dengan berdiri didepan mangkuk makanya.
“Kenapa kau makan jam lima pagi?” ucap Ji Ho memberikan satu gelas makanan. Kitty mulai makan. Ji Ho meminta agar Jangan berisik karena Se Hee akan terbangun nanti.  Tapi saat itu Se Hee masuk rumah. 

Ji Hoo kaget melihat Se Hee masuk dan bertanya darimana. Se Hee dengan wajah datarnya mengatakan kalau baru pulang kerja. Ji Hoo kaget Se Hee yang baru pulang pagi hari. Se Hee membenarkan.
“Apa kebetulan kau baru bangun?” tanya Se Hee. Ji Ho membenarkan. Kali ini Se Hee yang kaget karean Se Hee bangun jam 5 sore.
“Aku padahal sudah kirim SMS ke kau kemarin kalau aku bakal pulang naik kereta pertama.” Ucap Ji Ho. Se Hee pikir yang dimaksud itu adalah kereta terakhir.
“Kau bilang Kereta terakhir? Bukankah ucapanmu ini tak sopan sekali?Apa maksudmu kereta terakhir? Lalu Kau anggap aku ini apa? Dari semalam, kau selalu bersikap kasar padaku. Aku ini banyak pikiran, jadi cuma tidur dua jam. Aku saja bangun pagi-pagi buta biar bisa naik kereta pertama. Tak kusangka kau tak sopan begini.” Ucap Ji Ho marah
“Aku cuma bilang  apa adanya. Kereta pertama tidak lagi akan beroperasi sekarang.” Kata Se Hee.
Ji Ho binggung, Se Hee memberitahu kalau Sekarang jam lima sore, jadi tidak bisa naik kereta api pertama dan munkin bisa naik kereta terakhir. Ji Ho baru sadar kaalu sekarang jam 5 sore bukan jam 5 pagi dan tidak tidur selama dua jam. Se Hee menegaskan kalau Tepatnya tidur 14 jam.
“Apa sekarang ini seriusan?” ucap Ji Ho seperti tak percaya. Se Hee membenarkan.
“Aku salah pasang salah. Aku padahal sungguh berencana  berangkat naik kereta pertama.” Kata Ji Ho bingung.
“Ya. Kau tadi tidur nyenyak sekali,  jadi aku tak enak mau membangunkanmu. Sepertinya selama ini, kau tak bisa tidur nyenyak beberapa hari terakhir ini. Pasti di tempat tinggalmu, maka kau tak merasa nyaman.” Ucap Se Hee. Ji Ho tiba-tiba mengeluarkan suara dari perutnya kalau terasa lapar. 


Ji Ho duduk dimeja makan dengan mie instant,  keduanya hanya diam lalu Ji Ho lebih dulu membuka mie dan memutuskan untuk menutupnya kembali mengajak Se Hee bicara. Ia ingin tahu alasan Se Hee melakukan ini dan bersikap baik padanya. Se Hee binggung karena seperti tak merasakan itu.
“Kau kasih ramyeon ke  aku yang ukuran besar. Kau memberiku sarung bantal baru. Kau bahkan mengajakku  menikah denganmu.” Ucap Ji Ho
“Sudah kubilang, anggap saja perkataanku itu tak pernah kukatakan.” Kata Se Hee.
“Tapi aku mendengarmu.” Kata Ji Hoo. Se Hee meminta agar Ji Ho tidak perlu memikirkannya.
“Tapi aku memikirkannya.” Kata Ji Ho. Se Hee mengalihkan dengan mengajak makan karena nanti ramyunya jadi lembek.
“Apa mungkin kau... menyukaiku?” kata Ji Ho. Se Hee sedang makan ramyun terhenti dimulutnya karena tak menyangka Ji Ho menanyakan hal itu. 


[Episode 3: Karena ini Lamaran Pertamaku]
Ji Ho bertanya apakah mungkin Se Hee menyukainya,  Se Hee dengan tegas menjawab tidak karena alasan memberikan ramyun ukuran besara adalah ia kurang suka makanan pedas, lalu ia juga memberikan sarung bantal...karena tidak bersih, apabil tidur tanpa sarung bantal.
“Dan soal ajakan menikah... Aku menanyakannya  karena aku membutuhkanya” kata Se Hee. Ji Hoo binggung Se Hee yang membutuhkan dirinya.
“Ya... Jika aku harus menikah..., kurasa kau sangat cocok jadi pilihanku.” Ucap Se Hee. Ji Ho ingin tahu apa yang membuat Se Hee membuat kesimpulan itu.
“Aku butuh orang buat bersih-bersih rumah, dan kau butuh rumah. Aku butuh orang buat bayar  sewa secara rutin dan kau butuh kamar tanpa  bayar deposit. Bukankah kita berdua pasangan yang paling cocok untuk hidup bersama? Jadi Makanya aku bertanya begitu dan Tak ada maksud lain.” Jelas Se Hee.
“Tapi tetap saja, kenapa kau  mengajakku menikah? Meski begitu, kenapa kau harus menikah karena rumah?” kata Ji Ho bingung.
“Lalu kenapa menurutmu orang menikah?” tanya Se Hee. Ji Hoo pikir itu karena Cinta, kasih sayang dan Karena itulah orang menikah.
“Benar juga... Kebanyakan orang berpikir begitu. Namun, apa kau butuh cinta dan kasih sayang sekarang juga? Apa Lebih membutuhkan itu dari sekedar tempat tinggal?” kata Se Hee
Ji Ho mengatakan kalau sekarang tidak Tapi suatu hari nanti pasti membutuh itu. Se Hee mengerti terlihat wajah kecewa karena berpikir JI Ho tipe orang yang sama seperti dirinya dan sudah salah menilainya.
“Anggaplah pembicaraan ini tidak pernah terjadi dan Makanlah ramyeon-mu sebelum kau pergi.” Kata Se Hee meninggalkan ramyun begitu saja dan langsung masuk ke kamar. 


Manager Park melihat Soo Ji yang didepan mesin foto kopi bertanya apakah belum pulang. Soo Ji mengatakan ada yang harus diselesaikan. Manager Park tahu kalau besok adalah tenggat waktunya dan berpikir kalu Soo Ji bisa menyuruh bawahannya saja.
“Kau terlalu berpengalaman buat mengerjakan tugas ini. Jangan terlalu baik sama mereka karena kau seorang wanita dan Kau harus tegas kasih perintah.” Ucap Manager Park seperti mengejek.  Soo Ji mencoba mengalihkan kalau Manager Park akan pulang.
“Aku juga ada yang harus kuselesaikan. Tapi Karena kau sudah terlanjur disini, kuserahkan kerjaanku, aku pulang duluan” kata Manager Park
“Apa?!! Apa hubungannya dengan  kau pulang duluan?” ucap Soo Ji heran.
“Tidak ada hubungannya dengan pekerjaanmu, tapi apa kata orang. General manajer bilang  begini beberapa hari lalu. Dia bilang, jangan kerja lembur dengan wanita lajang sepertimu. Kau tahu pasti tahu maksudnya” ucap Manager Park
“Aku tahu kau tidak mengerti karena kau melajang tapi bagi pria yang beristri seperti aku,  maka aku harus hati-hati dengan rumor. Jika rumor mulai menyebar...” kata Manager Park dan Soo Ji langsung menyela kalau akan pulang lebih lalu mengumpat marah sambil berjalan pulang.


Ho Rang dengan semua temanya, menyapa semua pelanggan keluar dari restoran sampai akhirnya. Setelah itu denga penuh semangat mengaak mereka untuk membersihkan semua setelah itu bisa pulang. Mereka sudah berganti pakaian ingin memutuksan makan malam bersama. Tiba-tiba mereka berhenti melihat sosok pria itu sangat manis yang sedang menunggu seseorang.
“Dia tipeku sekali dan Tampan sekali.” Puji salah satu pegawai. Ho Rang melihat kalau pria yang mereka kagumi adalah Won Seok, merasa bangga.
“Bukankah dia pacar manajer kita?” kata Pegawai lainya. Pegawai itu pun meminta maaf pada Hong.
“Dia super tampan, 'kan? Aku duluan dan Sampai jumpa besok.” Kata Ho Rang berlari menghampiri Won Seok.

Won Seok melihat Ho Rang yang datang langsung memeluknya, keduanya berjalan pulang sambil berpelukan. Mereka mulai membahas Ho Rang pernah bercerita kalau  sudah lama pacaran selama tujuh tahun.
“Tapi walau begitu, pacarnya tetap menjemputnya walau dia lembur.” Komentar seorang pegawai merasa iri melihat Won Seok masih perhatian. 


Ho Rang keluar dari kamar mandi bertanya apa yang dikerjakan Won Seok hari ini. Won Seok mengatakan kalaumelakukan hal keren. Ho Rang bertanya apakah Won Seok  sudah dapat investor yang mau berinvestasi, Won Seok memperlihatkan laptopnya.
“Coba Lihat ini. Inilah grafik yang  kuselesaikan kemarin. Ini Cantik, kan?” ucap Won Seok seperti hanya ia yang tahu arti gambar yang dibuatnya.
“Sayang, bukannya ini mirip  rasi bintang?  Kurasa kata bijak dari “Carl Sagan” memang benar. Pada akhirnya, manusia dan alam  semesta semuanya saling terhubung. Ini Sangat cantik, kan?” kata Won Seok.
“Ya. Tapi ini mirip gorengan yang ada di restoran.” Ungkap Ho Rang tak terarik dan mulai memakai cream wajah.
Ho Rang membahas tentang sofa yang dikatakan sebelumnya.  Won Seok seperti lupa tapi mengingat kalau maksudnya sofa yang baru datang. Ho Rang membenarkan, dan memberitahu kalau stoknya tinggal sedikit. Won Seok tahu kalau Hanya orang yang sungguh menginginkannya yang akan membelinya.
“Meski mengalami kemunduran ekonomi,  orang kaya membeli apapun yang mereka mau.” Kata Won Seok santai
“Katanya banyak pengantin baru  beli sofa itu dan sofa itu sangat cocok  buat rumah pengantin baru.” Ucap Ho Rang seperti sangat mengingikan sofa itu
“Makanya tadi kubilang, hanya orang kaya yang beli seperti itu , mereka adalah orang kaya. Orang kaya beli apapun yang  mereka mau meski krisis ekonomi. Korea sangat jauh ketinggalan.” Kata Won Seok.
Ho Rang yang kesal memilih untuk mempercepat mengusap wajahnya. Won Seok binggung  bertanya-tanya apakah ada masalah karena seperti melampiaskan amarah pada wajahnya. Ho Rang mengatakan tak ada bahkan lancar-lancar saja dan langsung masuk kamar mandi.
“Terus kenapa dia marah? Aku 'kan tak salah apa-apa Apa aku ada salah ?” ucap Won Seok binggung
“Hei, alamat tempat  tinggal Ji Ho sekarang dimana? Soo Ji ingin tahu karena Ji Ho tidak angkat teleponnya.” Kata Ho Rang membuka pintu kamar mandi.
“Kau bilang Ji Ho? Dia sudah keluar dari  rumah itu minggu lalu.” Kata Won Seok. Ho Rang kaget mendengarnya. Won Seok heran Ho Rang tak tahu tentang temanya. Ho Rang pun bertanya-tanya selama ini temanya itu tidur dimana. 



Ji Ho berjalan ke halte bus dengan celana tidurnya mengingat kembali ucapan Se Hee “Kukira kau tipe orang yang sama seperti aku.” Lalu bertanya-tanya apa maksudnya kalau sama seperti Se Hee. Tanpa sadar kalau banyak orang yang melihat Ji Ho karena mengunakan baju tidur keluar dari rumah. Ji Ho pikir Se Hee aneh sekali, lalu duduk di halte dan baru sadar kalau sedari tadi banyak orang yang menatapnya.
“Hei... Soo Ji, ini aku.” Ucap Ji Ho mengangkat telp dari temanya. Soo Ji ingin tahu keberadaan Ji Ho sekarang karenaTelepon, tak diangkat dan SMS juga, tak dibalas.
“Nanti aku cerita kan dan aku lagi di dekat tempat tinggal pemilik baru itu.” Kata Ji Ho. Soo Ji mengatakan sedang ada didekat situ, dan ingin tahu posisi Ji Ho sekarang.
“Aku di halte bus.” Kata Ji Ho. Soo Ji bisa melihat kalau di halte bus ada waktu gila yang pakai piyama dan ingin tahu tepatnya dimana. Ji Ho dengan malu memberitahu kalau itu adalah dirinya. Saat itu juga mobil Ji Ho datang.
“Hei... Ji Ho, Apa kau tidur di jalanan?” teriak Ho Rang dari dalam mobil. Ji Ho terlihat malu dan buru-buru masuk ke dalam mobil dan pergi meninggalkan halte. 

Ho Rang tak percaya Soo Ji keluar  dan jalan pakai piyama. Soo Jin mulai mengumpat kalau akan membunuh Yong Suk tengah malam sekarang ini. Ho Rang ingin tahu Apa sutradara utama dan penulis Hwang tahu soal ini. Soo Ji terus mengumpat tak bisa menahan amarahnya.
“Hei! Berapa nomor teleponnya?” kata Soo Ji tak ingin temanya dilecehkan begtu saja. Ho Rang meminta Soo Ji membiarkan temanya bicara lebih dulu.
“Ini Tidak ada yang tahu. Aku langsung keluar tempat itu tanpa banyak berpikir.” Kata Ji Ho
“Kenapa kau tidak kabari kami?” kata Soo Ji marah. Ji Ho  tidak tahu apakah Soo Ji makan dan tidur di kantor.
“Makanya. Kau harusnya telepon aku. Lalu kenapa kau pergi ke rumah apartemen  itu kalau kau tidak tinggal disana lagi?” kata Soo Ji. Ji Ho mengaku kalau hanya terus berjalan saja.
“Apa maksudnya? Kantormu itu 'kan  jauh sekali dari apartemen itu.” Kata Soo Ji heran .
“Ji Ho, apa ada yang terjadi antara kau dan pria itu? Apa kau akan jatuh cinta padanya?” kata Ho Rang mengoda.
Ji Ho mengelak karena tak merasakan apapun pada Se Hee.  Ho Rang melihat kalau ada yang mencurigakan. Ji Ho menyakinkan kalau tak ada apa-apa. Ho Rang bisa melihat Ji Ho yang terlihat gugup. Ji Ho berteriak kalau tak ada apa-apa. Soo Ji heran melihat temanya terlihat marah dan menyuruh agar menginap dirumahnya saja.



Se Hee melihat mie cup ukuran besar yang sebelumnya diberikan pada Ji Ho, terlihat sudah rapih lalu menerima pesan dari ponselnya “Halo.,, Namaku Hwang Jae Hyun, dan aku tahu nomormu dari Tn. Nam.” Ia pun membalas kalau senang bertemu dengan wanita yang akan berkencan buta denganya.
Lalu melihat foto wanita pada account picturenya yang bertuliskan “Aku percaya pada takdir.” Si wanita bertanya apakah Se Hee punya waktu besok., Se Hee hanya bisa mengumpat karena benar-benar tak tertarik untuk menjalin hubungan. 

Ji Ho baru saja selesai mandi dan melihat temanya duduk dibawah bukan di tempat tidur. Soo Ji mengatakan kalau Tamu tidak boleh tidur di lantai dan ia suka tidur di lantai. Ji Ho pun hanya bisa tersenyum. Soo Ji meminta izin dulu agar bisa berkerja pada temanya karena Ada permintaan klien. Ji Ho bertanya apakah ada hari untuk melakukan demo.
“Ya... Itu acara dimana CEO dan investor  pemula saling bertemu dan mengobrol, Seperti kencan buta” kata  Soo Ji. Ji Ho melihat Nama perusahaannya unik.
“Ini aplikasi kencan online.  Apa Kau belum pernah coba? Jadi jika kau memposting fotomu di situs itu maka orang akan memberikan nilai.” Jelas Soo Ji sudah mulai memposting fotonya. Ji Ho melihatnya.
“Menurut skor, orang akan  ditempatkan di tingkat yang berbeda. Kemudian aplikasi tersebut mengenalkanmu pada pria dengan tingkat yang sama.” Kata Soo Ji
“Berart aku tak bisa bertemu pria yang tingkatannya lebih tinggi?” kata Ji Ho. Soo Ji menjawab bisa tapi Ji Ho harus membayarnya jika ingin bertemu  pria seperti itu.
“Apaan ini? Padahal 'kan itu bukan sistem kasta atau semacamnya? Menurutku aplikasi ini malah  membuat beberapa orang merasa rendah diri.” Komentar Ji Ho.
Soo Ji memberitahu ada banyak orang yang  pakai aplikasi ini bahkan Perusahaan ini perusahaan paling menonjol buat acara besok dan Setiap investor ingin berinvestasi bersama perusahaan itu. Ji Ho pikir Belakangan ini, memang banyak  orang punya masalah mental. Soo Ji tahu kalau sekarang Mentalnya harus kuat kalau mau pacaran dan kalau tak kuat maka tidak akan bisa.
“Belakangan ini, berkencan itu sudah seperti pertandingan. You know what I'm saying, baby?” kata  Soo Ji. Ji Ho mengatakan sudah mengetahuinya.
“Hei.. Apa ada lubang di rahangmu?  Kenapa makannya tumpah-tumpah terus dari mulutmu?” keluh Ji Ho yang sedari tadi membereskan makanan yang jatuh dibadan dan laptop temanya. 


“Manusia lebih sederhana dari yang  Anda kira. Kami fokus pada pemikiran itu. Kenapa begitu banyak orang  gagal dalam kencan buta? Percakapan yang baik dan perasaan baik terhadap satu sama lain terlalu bersifat subjektif. Kami memutuskan untuk lebih jujur.” Ucap Se Hee berdiri diatas panggung
“Menurut kami, manusia memiliki naluri dasar, untuk itu kami meluncurkan aplikasi. Pria cenderung fokus pada penampilan wanita dan Di sisi lain, wanita fokus pada kemampuan pria. Hal itu pun mempertimbangkan  jarak fisik antar manusia. Hal itu pun menentukan Anda dengan orang terdekat dengan Anda Akibatnya, 350.000 orang telah mendaftar dalam 5 bulan. Penjualan kami mencapai 380 juta won per bulan..” Jelas Se Hee. Soo Ji melihat dari belakang panggung. 
“Tapi..., Kenapa nama aplikasinya  "Berkencan, Bukan Pernikahan"? Bukankah lebih baik menekankan  pada hasil cinta, yakni pernikahan?” kata salah seorang investor.
“Kenapa menurut Anda  pernikahan bisa menjadi hasil cinta? Bukankah kita berkencan dengan  seseorang buat menikah?” kata Se Hee yang memiliki pemikiran dengan logika.
“Jadi bagaimana pernikahan itu bukan hasil cinta?” tanya si investor
“Pernikahan membatasi kebebasanmu. Dalam masyarakat modern, pernikahan hanyalah suatu sistem untuk melestarikan keturunan Anda dan Tidak lebih dari itu. Dan  menurut anda adalah Hasil cinta ? Itu harapan palsu dari  orang-orang yang jauh tertinggal. Mereka hanya ingin meneruskan sistem  kelestarian keturunan atas nama cinta.” Kata Se Hee dingin.
Sang Goo di pinggir panggung kebingungan melihat sikap Se Hee. Investor ingin tahu Apanya yang jauh tertinggal dan mengartikan kalau maksud Se Hee bahwa generasi mereka masih kolot. Sang Goo akhirnya naik panggung sebelum terjadi ketengangan mengatakan kalau bukan seperti itu.
“Aplikasi kami bertujuan untuk berkencan, bukan pernikahan. Setiap orang punya nilai  berbeda, dan ini memengaruhi fokus mereka dan bagaimana hal itu  terjadi ketika menyangkut pernikahan. Namun, Anda hanya berbagi satu prinsip dengan orang yang Anda kencani. Itulah cinta.” Kata Sang Goo menjelaskan
Lalu terlihat dilayar  [Cinta itu sains. Gunakan datamu untuk ber"Kencan, Bukan Pernikahan".] Soo Ji yang melihatnya melihat Sang Goo memang ahli juga menjual barang.

Sang Goo mengeluh pada Se Hee karena sudah memperingatkan agar jangan memancing pertanyaan, karena itu tugasnya dan Se HEe hanya perlu menunjukkan wajah tampannya pada para investor jadi tak akan sulit.
“Apa Sesulit itukah bertindak normal sedikit? Apa terlalu banyak mauku ini?” keluh Sang Goo. Se Hee berhenti dan hanya menatap dingin.
“Nam Se Hee, presentasimu sangat fantastis. Terbaik.” Puji Sang Goo lalu melihat temanya pergi dan bertanya mau kemana karena baru mulai acara dan harus pergi lagi ke acara networking.
“Aku tak mau tahu. Kau 'kan yang normal, jadi Jadi urus saja sendiri. CEO Ma” kata Se Hee memberikan berkasnya.
“Dia sering sekali dendam sama aku. Tapi Itulah salah satu poin menawannya. Aku akan membuatnya menjadi  pribadi yang lebih baik.” Kata Sang Goo melihat Se Hee pergi. 


Ji Ho pergi ke tempat tinggal sebelumnya, tapi pintunya terkunci dan dengan berat hati mencoba menghubungi Yong Suk “ Pintunya terkunci. Aku datang ke sini mau ambil barang-barangku.” Tapi kembali menghapusnya “Pintunya terkunci. Boleh aku ambil barangku sekarang?”
Ia menulis lebih sopan dari sebelumnya, tapi akhirnya dengan penuh amarah menuliskan “Kembalikan barangku, bajingan.” Saat itu juga penulis Hwang menelp.
Penulis Hwang membuatkan secangkir kopi untuk Ji Ho, sikapnya lebih manis dari pada sebelumnya. Ji Ho pun mengucapkan Terima kasi dan sudah duduk di rumah penulis Hwang. Penulis Hwang bertanya apakah Ji Ho masih kesal denganya. Ji Ho mengaku tidak dan ingin menjelaskan tapi penulis Hwang lebih dulu berbicara. 

“Aku tahu... Aku minta maaf. Aku sudah memikirkan apa katamu dan Kau memang benar. Aku selalu bilang kalau ingin melakukan terobosan baru dan kreatif. Tapi akhirnya kita hanya bisa melakukan apa yang biasa kita lakukan dan Selalu begitu. Semuanya jadi revisi dari apa yang  telah kita lakukan sebelumnya.” Ungkap Penulis Hwang
“Aku tidak seperti itu saat baru memulai debutku. Tapi aku harus bertahan. Kau tahu sendiri sudah berapa lama kita bekerja sama. Ini Sudah lima tahun. Kau juga paling tahu aku  selalu ingin kau sukses.” Kata Penulis Hwang
“Aku tahu... Aku selalu mengingatnya dan bersyukur.” Ucap Ji Ho. Penulis Hwang heran melihat Ji Ho bersikap seperti itu.
Ji Ho bisa tersenyum merasa kalau Penulis Hwang bisa mengerti dengan perasanya. Penulis Hwang senang melihatnya dan mengajak Ji Ho untuk minum bersama hari ini. Ji Ho binggung apakah Hanya mereka berdua, karena tahu Penulis Hwang yang tak suka banyak minum, Penulis Hwang pikir tak masalah karena bisa minum banyak hari ini.
Bersambung ke Part 2
FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09