Sabtu, 03 Desember 2016

Sinopsis Weightlifting Fairy Kim Bok Joo Episode 6 Part 2

PS : All images credit and content copyright :MBC

Bok Joo dkk sudah menyisakan tulang ayam dipiring, Nan Hee memuji Ayahnya Bok Joo membuat makanan enak dan memang ahlinya karena dibumbui dengan sempurna. Sun Ok pikir mereka bisa makan sebanyak yang mereka  mau dengan dukungan orang sekitarnya, menurutnya  Mengangkat besi tidak terlalu buruk.
“ Itu benar. Para pesenam itu makan seperti burung setiap hari untuk menurunkan berat badan.” Kata Nan Hee lalu Sun Ok melihat Bok Joo seperti tak nafsu makan. Nan Hee memberikan pizza untuk Bok Joo juga karena tahu sangat menyukainya.
“Kau bilang berharap ayam memiliki empat kaki.” Kata Nan Hee tahu Bok Joo suka ayam bagian paha.
“Aku hanya sudah bosan dengan ayam.Aku sebentar lagi akan menghapus sup ayam bukannya air mata.” Kata Bok Joo.
“Sebenarnya aku sudah kenyang. Kita semua mungkin akan bisa menaikkan kelas berat.” Kata Sun Ok
“Jangan lemah begitu. Kita, orang yang senang makan, selalu memiliki... teman kita, minuman bersoda. Tolong kami, minuman bersoda!” kata Nan Hee seperti sedang berada direstoran, Sun Ok melihat masih memiliki beberapa koin dan akan membelikan untuk mereka semua dari mesin. 


Bok Joo melihat ada pesan baru dari ponselnya, Nan Hee mulai menasehati temanya agar Jangan mencoba terlalu keras karena Berat badanny akan turun. Bok Joo seperti sudah terlihat sangat muak dengan makanan. Nan Hee melihat ponsel Bok Joo akan membantu membacakanya.
“"Nn. Kim Bok Joo, sesi Anda akan dimulai jam 4:30 sore besok. Klinik Berat Badan J." Sesimu dimulai jam 4:30 di Klinik Berat Badan...” ucap Nan Hee lalu binggung karena Bok Joo malah pergi ke klinik berat badan.

Bok Joo langsung menarik temanya pergi ke tempat cuci baju untuk menjelaskanya, Nan Hee ingin tahu alasan Bk Joo pergi ke klinik berat badan padahal harus menaikkan kelas beratnya dan bertanya-tanya  Apa yang sebenarnya di lakukan akhir-akhir ini.
Nan Hee sudah ada dibalik semak-semak, melihat Jae Yi baru pulang berkerja akan masuk mobilnya, lalu bertanya apakah Bok Joo menyukai pria itu dan bukan Joon Hyung. Bok Joo membenarkan dengan wajah ketakutan. Nan Hee menanyakan kalau Jae Yi adalah kakaknya Joon Hyung. Bok Joo membenarkan.
“Kau ingin... melihatnya terus, jadi kau mendaftar di klinik itu dan membayar banyak uang. Kau berbohong pada kami, terus datang kesana, dan mengangkat karung beras untuk Joon Hyung supaya dia menjaga rahasiamu. Apa begitu maksudmu?” ucap Nan Hee sinis, Bok Joo membenarkan.

“Dasar Kau gadis gila!” umpat Nan Hee, Bok Joo tahu dirinya  memang sudah gila.
“Tidak ada orang waras yang akan melakukan ini. Aku mencoba semampuku agar tidak melakukan ini, tapi dia selalu muncul di kepalaku. Aku mulai berhalusinasi. Aku benar-benar tidak bisa menghentikannya. Aku hanya ingin melihat wajahnya dan Hanya itu yang kuinginkan.” Cerita Bok Joo, Nan Hee bisa mengerti.
“Maksudku dia jauh leih baik dari Joon Hyung. Dia sangat keren. “ ungkap Nan Hee yang tak menahan senyuman bahagianya, Bok Joo tersenyum karena Nan Hee juga melihat Jae Yi itu tampan. 

“Dia lucu.. Selain itu, dia juga seorang dokter. Dasar.. Kau sangat licik. Kau bertingkah seakan-akan tidak tertarik pada pria sama sekali. Kau memiliki selera pria yang bagus. Ngomong-ngomong, bagaimana kalian bisa bertemu? Itu tidak seperti di film, kan... ketika dia berbagi payungnya pada saat hujan, kan?” ucap Nan Hee penuh semangat
Bok Joo mengingat saat pertama kali bertemu, Jae Yi datang memberikan payungnya saat membawa meja rias. Lalu mengaku pada Nan Hee kalau Jae Yi melakukan sebelumnya. Nan Hee melonggo tak percaya mendengarnya, kalau Jae Yi benar-benar melakukan itu?
“Dia membuat jantungku berbebar. Dia hebat dan tampan, kan?” kata Bok Joo bangga
“Aku juga ingin punya seseorang seperti dia.” Ungkap Nan Hee. Bok Joo menegaskan Jae Yi itu miliknya. Nan Hee mengaku sangat iri.

Si Ho pergi ke lemari esnya dan melihat sebuah toples bertuliskan   [Si Ho, ini ekstrak jahe. Makanlah kalau kau terkena flu. Ibu.]. Joon Hyung dikamarnya dengan menutupi tubuhnya dengan selimut sambil menonton pertandingan renang, seperti flunya masih berada.  Tae Kwon datang langsung memarahinya agar Joon Hyung istirahat.
“Kau memiliki pertandingan besok, dan masih sakit. Kau harus menghemat tenagamu.” Kata Tae Kwon, Joon Hyung merasa masih  harus menonton ini.
“Menonton itu tidak akan membantumu, Istirahatlah dan Mimpi indah.” Kata Tae Kwon mendorong Joon Hyung ke atas tempat tidurnya. 
“Berhenti mengomeliku, Kau bukan ibuku.” Kata Joon Hyung kesal, Tae Kwon membalas agar Joon Hyung Berhenti protes dan tidur. Saat itu pesan masuk ke dalam ponselnya “Ini aku, Si Ho. Bisakah kau datang tanpa memberitahu Joon Hyung?” 

Tae Kwon datang dengan menemui Si Ho yang sudah menunggu didepan asrama. Si Ho meminta maaf karena tiba-tiba menghubunginya dan pasti sangat terkejut lalu memberikan termos yang dibawanya. Tae Kwon binggung apa yang dibawa Si Ho
“Ini teh jahe. Joon Hyung memiliki pertandingan besok.Jika aku yang memberikannya, maka dia tidak akan meminumnya.” Kata Si Ho 

Tae Kwon menungkan segelas teh untuk Joong Hyung mengaku sebagai ketulusan cinta untuk temanya. Joon Hyung bertanya apakah ini teh jahe. Tae Kwon tak ingin Joon Hyung banyak tanya lebih baik meminumnya saja. Joon Hyung mengaku rasanya enak dan  merasa lebih baik sekarang.
“Benarkah? Senang mendengarnya. Makanya, anak bodoh...Kau seharusnya tidak bertingkah dingin.” Ucap Tae Kwon, Joon Hyung melirik binggung.
“Maksudmu adalah tubuhmu dan hatimu dingin. Mungkin karena itulah kau terkena flu. Itulah yang ingin kukatakan.” Kata Tae Kwon panik langsung keluar kamar karena ingin ke kamar mandi. Joon Hyung heran dengan perkataan temanya yang aneh. 

Bok Joo duduk di dalam toilet berbicara sendiri “Apa kau tahu betapa sexy suaranya? Suaranya tidak terlalu tinggi  ataupun teralu rendah. Itu terdengar sangat manis. Itu pasti sebagus suara pangeran yang didengar Sleeping Beauty ketika dia terbangun dari tidurnya.” Ternyata ada Nan Hee yang sedang ada di toilet mendengarnya lalu keluar.
“Ah, benarkah? Aku melihat wajahnya tapi tidak bisa mendengar suaranya.” Ucap Nan Hee
“Ketika dia tersenyum, ujung matanya mengerut sedikit, dan giginya yang putih terlihat. Itu membuat jantungku berdebar. Itu terasa sangat mempesona. Dia membuat hatiku meleleh.” Cerita Bok Joo, Nan Hee pun ikut tersenyum membayangkanya.
“Biar aku memberitahumu apa alasan terbesarku kenapa aku menyukainya. Ini sangat penting. Itu adalah.... hatinya yang lemah lembut Aku tidak pernah melihat orang yang seperti itu. Dia tidak mengada-ada. Ini adalah kepribadiannya yang normal.”Ketika aku bersamanya, aku merasa kalau aku menjadiwanita yang sangat cantik..” Cerita Bok Joo benar-benar mengangguminya
“Aku tidak pernah diperlakukan seperti itu,jadi aku tidak tahu bagaimana rasanya.” Komentar Nan Hee
“Pokoknya, dia mengagumkan. Dia manis, lemah lembut, dan bisa diandalkan. Aku tidak percaya kalau dia kakaknya Joon Hyung. Dia sangat dewasa.” Ucap Bok Joo
Nan Hee hanya mendengar ceritanya saja membuat  ingin bertemu dengannya. Bok Joo heran memastikan kalau dengan temanya bisa membuat mereka bertengkar hanya gara-gara pria, karena khawatir Nan Hee yang jatuh cinta pada setiap pria. Nan Hee menegaskan walapun dirinya seputus asa itu tidak akan mencoba mencuri milik Bok Joo. Bok Joo tersipu malu mendengar kalau Jae Yi itu miliknya. 


“Hei... Apa yang kau lakukan disini?” teriak Sun Ok datang dengan wajah kesal, Bok Joo menutupi rasa kagetnye mengaku kalau mereka tentu saja dengan menggunakan toilet,
“Apa kalian berdua... membicarakan aku? Bagaimana bisa kau melakukan itu? Kau menghilang tanpa aku.” Ucap Sun Ok curiga
“Jangan konyol. Kita tidak memiliki hal buruk yang bisa dibicarakan tentangmu.” Ucap Nan Hee. Bok Joo piki temanya tak perlu sebodoh itu,  lalu mengajaknya keluar.

Di kantin
Sun Ok heran melihat Bok Joo yang hanya mengambil satu Hamburg steak, karena harus makan banyak jadi memberikan daging miliknya, Bok Joo hanya terdiam tapi Nan Hee tahu Bok Joo harus menurunkan berat badan demi bertemu Jae Yi.
“Seon Ok. Bisakah kau mengambilkanku minum?Makannya tersangkut di tenggorokanku.” Ucap Nan Hee mencari alasan, Sun Ok pun pergi. Nan Hee buru-buru memakan semua daging dipiring Bok Joo.
Sun Ok kembali datang membawa segelas air dan melihat Nan Hee makan dengan mulut penuh menyuruhnya agar makan perlahan. Bok Joo seperti tak enak hati karena temanya membantunya. Sun Ok melihat Bok Joo makan dengan baik hari ini karena sudah menghabiskan dagingnya, lalu memberikan kembali daging miliknya. Bok Joo hanya bisa meringis karena mau tak mau harus menghabiskanya. 


Bok Joo merapihkan rambutnya didepan cermin, Nan Hee datang bertanya apakah Bok Joo akan pergi sekarang. Bok Joo menganguk karena  ada janji jam 6. Nan Hee bertanya apakah Bok Joo akan mengunakan pakaian yang tak menarik matanya,  Bok Joo mengangguk lalu bertany apakah ia terlihat buruk. Nan Hee membenarkan.
“Kau Janjinya jam 6 ‘kan? Beriwaktu aku 5 menit.” Ucap Nan Hee lalu membuka lemari pakaian Bok Joo
Beberapa saat kemudian, Nan Hee menyemprotkan parfum dan Bok Joo berputar-putar dibawahnya dengan rambut yang dikuncir dua, terlihat penampilan berbeda. Nan Hee mengaku hanya melakukan sebisanya. Bok Joo dengan senyuman bahagia mengucapakan terimakasih. 


Joon Hyung kembali berlatih sendirian di kolam renang, lalu keluar bersama dengan teman sekamarnya. Tae Kwon memastikan kalau Joon Hyung akan benar-benar akan pergi. Joon Hyung menganguk. Tae Kwon melihat penampilan temanya lebih dulu sebelum pergi.
“Karena kau akan pergi, lakukanlah dengan baik.”pesan Tae Kwon memastikan jaket temanya menutupi tubuhnya, Joon Hyung menyuruh temanya masuk saja.
“Aku harusnya pergi denganmu karena kau sakit. Sayang sekali aku ada latihan.” Ucap Tae Kwon kesal
“Kau harus bekerja lebih keras.Kau tidak berenang sebaik aku.” Ejek Joon Hyung, Tae Kwon  mengeluh Joon Hyung itu sangat kejam.
“Kau sebaiknya memenangkan juara satu, oke?” ucap Tae Kwon kesa, Joon Hyung malah memujinya temanya yang terlihat lucu saat marah, Lalu pamit pergi dengan mengayuh sepedanya. 
Bok Joo menerima telp dari ayahnya yang memasak Kerang panggang kali ini padahal sudah makan sup ayam dengan kerang. Tuan Kim memberitahu kalau kemarin hanya kerang biasa yang dibeli di pasar tapi Kali ini itu spesial dari Wando dan hanya untuk anaknya saja.
“Aku menghubungi temanku yang sudahlama tidak ku hubungi selama 10 tahun.Makanya cobalah datang ke restorannya nanti. Jangan membawa temanmu hari ini.Ini masih tidak cukup.Aku hanya bisa mendapatkan 30.” Pesan Tuan Kim, Bok Joo mengerti dan akan menelp ayahnya lagi nanti. 

 

Joon Hyung mengayuh sepedanya melihat Bok Joo membunyikan belnya bertanya apakah ia mau pergi ke klinik. Bok Joo pikir Joon Hyung sudah tahu dan kenapa harus bertanya. Joon Hyung memberitahu  dalam perjalanan ke sebuah kompetisi,jadi meminta agar Bok Joo memberikan sedikit tenaga.
“Kau tahu akan baik-baik saja.Aku tidak berharap kau sukses.Aku harap kau membuat kesalahan.” Ucap Bok Joo kesal lalu pergi meninggalkanya, Joon Hyung tak percaya Bok Joo benar-benar sangat jahat mengatakan itu.
“Aku sangat gugup, tapi dia malah menyumpahiku.Tunggu saja dan lihat.”kata Joon Hyung mengejar Bok Joo seperti ingin balas dendam. 

Jae Yi binggung melihat Berat badan Bok Joo naik lagi. Bok Joo hanya bisa tertunduk karena memang misinya hanya ingin bertemu Jae Yi bukan menurunkan berat badan. Jae Yi bertanya kenapa Bok Joo tidak bisa menatap matanya. Bok Joo meminta maaf karena telah membuat Jae Yi kecewa.
“Kau tidak perlu minta maaf padaku.Ini semua demi dirimu sendiri. Jadi Tidak mudahkan mengikutirencana diet begitu?Orang-orang di sekitarmujuga mungkin tidak akan membantu.” Kata Jae Yi, Bok Joo membenarkan. 
“Saat malamlah yang paling sulit. Dan Sayang sekali, waktu bersosialisasi di Korea terjadi saat malam hari.Beberapa pasien bilang mereka inginpindah ke pulau yang tidak berpenghuni.”cerita Jae Yi


“Aku tahu. Aku tidak bisa memutuskan hubunganku dengan temanku.” Kata Bok Joo
“Ayo kita coba lagi lebih kerasuntuk menurunkan berat badanmu.Silahkan ganti baju.” Ucap Jae Yi, Bok Joo menganguk mengerti.
“Ah yah... Joon Hyung memiliki kompetisi hari ini.Aku mengirim pesan untuknya,mendoakannya semoga berhasil.Dia belum menjawabnya dan pasti sibuk.” Cerita Jae Yi terlihat khawatir, Bok Joo pikir Joon Hyung  akan baik-baik saja karena sangat percaya diri.
“Dia mungkin terlihat begitu,tapi hatinya cukup lembut.Ini adalah pertandingan penting untuknya.”ucap Jae Yi 


Bok Joo berjalan pulang mengingat cerita Jae Yi sebelumnya “Dua tahun lalu, dia membuat kesalahan start dan didiskualifikasi. Catatan waktunya saat latihan sudahcukup bagus untuk masuk tim nasional. Sejak itu, dia terus membuat kesalahanstart dalam setiap pertandingan penting. Menurutku Joon Hyung trauma karenakesalahan pertama yang dilakukannya.”
Wajah Bok Joo terlihat menyesal tak percaya kalau Joon Hyung selalu berpura-pura kuat dan tak mengetahui hal itu, bahkan membuatnya terkena flu dan mendoakan hal buruk untuknya. Ia melihat kolam dan kembali melempar koin sambil berdoa karena Jika Joon Hyung tidak melakukannya dengan baik, makapasti hanya akan menyalahkannya.
“Aku harap dia berhasil. Dan juga, apa itu traumanya? Aku harap dia bisa melewatinya jadi bisa melakukan yang terbaik. Kumohon.” Ucap Bok Joo berdoa dengan sepenuh hati. 


Di dalam arena pertandingan.
Sebuah spanduk besar bertuliskan [Semoga berhasil! Kau pasti bisa, Jung Joon Hyung!] Si Ho masuk dan duduk dibangku penonton menunggu kompetisi yang akan dilakukan Joon Hyung. Sementara Joon Hyung duduk dengan tegang di dalam ruangan loker.
“Ketika kau merasakan gejalanya, tidak berfokus pada gejalanya... adalah cara yang paling efektif untuk melewatinya. Ketika kau mulai merasa gugup, cobalah memikirkan hal yang lain. Contohnya, fokuslah pada pernapasanmu. Menghitung mundur angka juga efektif.”

Joon Hyung mengingat semua pesan dokter agar bisa menghilangkan gejala paniknya dengan mulai menghitung mundur dari angka 10. Semua atlet pun masuk arena kolam renang, Si Ho melihat Joon Hyung sudah ada depan garis start berdoa agar bisa melakukan dengan yang terbaik.
Saat diatas podium garis start, mata Joon Hyung mulai kabur dan juga berdegung di telinganya. Akhirnya ia kembali menghitung ketika peluit dibunyikan, Joon Hyung telat melakuan start dan akhirnya masuk ke urutan ke empat pada finish. Wajah Joon Hyung terlihat kesal dengan hasilnya. Si Ho menunggu di depan gedung arena dengan sebuah termos tapi Joon Hyung melewati pintu lain dan berjalan kembali ke kampusnya. 


Bok Joo duduk sendirian dikamarnya, wajahnya terlihat masih menyesal mengatakan kata-kata yang kasar pada Joon Hyung sebelumnya. Lalu melihat di web[Hasil dari Kompetisi Renang Bank Joongang] tak percaya ternyata Joon Hyung tidak berhasil masuk tiga besar.
“Kenapa dia tidak melakukannya lebih baik? Apa dia didiskualifikasi lagi? Dasar Anak sialan itu.” Ucap Bok Joo lalu mencoba mengirikan pesan  [Joon Hyung, kau baik-baik saja? Kuatlah] tapi dihapus dengan menuliskan  [Joon Hyung, kau pantas mendapatkannya.]
“Ah, bagaimana aku harus menulisnya? Aku tidak bisa mengirim pesan yang terlalu manis.” Ucap Bok Joo benar-benar binggung lalu melihat sebuah kertas lipat didekatnya. 

Ibu Jae Yi memberikan sebuah tonik menyuruh Joon Hyung agar  Minumlah tanpa menyisakannya setetespun. Joon Hyung meminum dengan menahan rasa pahit dimulutnya, lalu mengeluhKalau tidak kena flu, mungkin pasti bisa jadi juara pertama.
“Kau harusnya mengunjungi kami sebelum pertandingan. Ibumu membuatkannya untukmu dengan bahan-bahan spesial yang akan bisa membantumu.” Kata ayah Jae Yi, Joon Hyung pikir benar juga. 
“Aku harus dihukum karena memandang sebelah mata pertandingan ini.” Kata Joon Hyung, Ibu Jae Yi pikir tak perlu dipermasalahkan lagi.
“Kau bilang ini bukan pertandingan penting. Jadi Lupakan saja. Apa kau sudah bicara dengan kakakmu?” tanya Ibu Jae Yi, Joon Hyung mengatakan sudah
“Ceramahnya benar-benar membuatku gila. Dia bersikap sama seperti ibu. Yang dia lakukan hanyalah mengkhawatirkanmu.” Kata Joon Hyung dengan gaya bercandanya. 

Ponselnya berbunyi, “Dimana kau?” Joon Hyung tak percaya pesan dari si gendut. Kedua bibi dan paman binggung siapa yang dimaksud gendut.   Joon Hyung mengaku itu Temannya yang sangat lucu. Pamanya pikir si Gendut terdengar seperti nama anjing.
“Ada apa Gendut? Kau tidak pernah mengirim pesan padaku.” Balas Jooon Hyung, Bok Joo baru keluar membaca pesan dari Joon Hyung. 
“Aku bertanya kau dimana.” Tulis Bok Joo
“Aku dirumah. Aku akan kembali ke sekolah sekarang.”  Balas Joon Hyung, Bok Joo pikir harus segera bergegas kembali. 

Joon Hyung binggung dengan Bok Joo karnea memintanya agar  datang ke air mancur. Bok Joo akhirnya datang. Joon Hyung bertanya ada apa.  Bok Joo memberikan sesuatu ditanganya, Joon Hyung binggung apa yang diberikanya. Bok Joo mengatakan itu adalah katak yang dibuat dari garis origami.
“Aku tidak membuatnya karena kau  membicarakannya waktu itu. Aku bosan, dan aku kebetulan memiliki beberapa lembar kertas. Siapa yang tahu? Mungkin ini akan jadi jimat keberuntunganmu.” Kata Bok Joo
“Kau terlihat sangat tidak kreatif. Coba Lihat ini kusut dimana-mana. Berapa kali kau mengulang-ulang ini?”ejek Joon Hyung, Bok Joo meminta agar Joon Hyung mengembalikan saja kalau begitu.


“Kau tidak bisa mengambilnya lagi. Ini milikku sekarang. Kita akan lihat apakah ini akan membawa keberuntungan untukku atau tidak.” Ucap Joon Hyung mengikuti cara bicara Bok Joo dkk “Katak keren.” Bok Joo mengejek Joon Hyung itu peniru.
“Apa salahnya dengan itu? Kau dan teman-temanmu mengatakannya sepanjang waktu. "Keren."Itu terdengar berbeda ketika aku yang mengatakannya, kan?Tapi ini mungkin terdengar lebih keren. ” Kata Joon Hyung mengikuti cara bicara ketiganya.
“Apa? Kau sudah bisa bercanda,  Lalu kau pasti merasa lebih baik sekarang. Apa flumu sudah sembuh?” tanya Bok Joo

Joon Hyung mengaku kalau sudah lebih baik karena yakin itu akan segera sembuh dan sudah minum obat di rumah. Bok Joo meminta maaf karena berkata jahat padanya waktu itu dan sedang sangat sensitif waktu itu. Tapi menurutnya Joon Hyung  harusnya bisa melakukannya lebih baik lagi. Joon Hyung tahu. 
“Sepertinya aku terlalu percaya diri. Tapi, jangan khawatir. Aku akan  mengejutkan semua orang sebentar lagi. Kau sebaiknya tidak meminta 100 tanda tangan ketika itu terjadi. Aku akan berada di Olimpiade saat itu.” Kata Joon Hyung percaya diri berlebihan, Bok Joo tak peduli.
“Kita masih punya waktu sampai pengabsenan. Aku akan mentraktirmu sesuatu yang enak.” Kata Bok Joo, Joon Hyung tak percaya mendengarnya bertanya apa yang ingin ditraktirnya
“Sesuatu yang akan memberimu semangat. Tutup saja mulutmu dan ikuti aku.” Kata Bok Joo, Joon Hyung binggung karena Bok Joo malah  menuju ke arah sekolah. Bok Joo pun berbalik arah menuju keluar dari kampus. 


Si Ho akan kembali ke kampus melihat dari kejauhan, Joon Hyung sedang menuntun sepeda bertanya apakah Bok Joo ingin menaikinya. Bok Joo dengan penuh semangat akan naik ke bagian belakang. Joon Hyung menolaknya karena sebelumnya membonceng Bok Joo membuat  harus tiduran selamatiga hari karena sakit punggung.
Bok Joo tak percaya dengan tetap ingin menaiki sepeda. Si  Ho mencoba menelp Joon Hyung dan melihat dari kejauhan. Joon Hyung sedikit menghindar dengan menyuruh Bok Joo membawa sepedanya saja dan melihat ponselnya lalu membiarkanya. Si Ho terlihat benar-benar marah karena ternyata Joon Hyung tak mengangkat telpnya karena sedang bersama Bok Joo. Keduanya sudah pergi bersama dan Si Ho membuang termosnya ke dalam tempat sampah. 

Tuan Kim dan Dae Hoo binggung melihat Bok Joo yang datang membawa Joon Hyung. Suasana canggung terasa. Bok  Joo memperkenalkan Joon Hyung pada ayahnya. Joon Hyung menyapa lebih dulu. Tuan Kim teringat dengan Joon Hyung yang waktu itu. Joon Hyung membenarkan.
“Apa Kau mengenalnya, Ayah?” ucap Bok Joo binggung, Tuan Kim ingin memberitahu tapi Joon Hyung lebih dulu menyelanya. 
“Aku pernah datang kesini sekali sebelumnya dengan teman-temanku. Aku tidak tahu kalau tempat ini milik ayahmu.” Kata Joon Hyung
“Apa hubungan kalian, sebenarnya? Bok Joo tidak pernah membawa seorang pria kesini sebelumnya. Ini sangat menarik.” Kata Dae Ho
“ Kami satu sekolah dasar. Dia adalah siswa tim renang, Aku berhutang banyak padanya, jadi ingin melakukan sesuatu untuknya. Kita punya banyak makanan, kan?” kata Bok Joo
Tuan Kim binggung, Bok Joo mengatakan tentang kerang. Tuan Kim pura-pura tak mengerti. Bok Joo mengingat perkataan ayahnyatenga Kerang liar. dari Wondo dan punya banyak. 

Tuan Kim menaruh sepiring kerang yang besar diatas meja, dengan nada sinis merasa tidak tahu kalau Joon Hyung danBok Joo satu sekolah dasar.Bok Joo menyuruh Joon Hyung agar makan, Joon Hyung mengucapkan terimakasih tapi Tuan Kim tak rela mendekatkan piring pada Bok Joo. 
“Kerang ini sangat jarang, makanlah.” Ucap Bok Joo mendorong piringnya.
“Tidak, kau saja yang makan. Aku tidak punya selera makan.” Kata Joon Hyung ketakutan melihat lirikan mata Tuan Kim.
“Kau makan saja, Aku tidak tahan rasanya kalau masih memiliki hutang. Makanlah jadi kau bisa melawan flumu.” Kata Bok Joo lalu tersadar ayahnya terus melirik sinis pada Joon Hyung.  

Akhinya Tuan Kim masuk ke dapur, Joon Hyung pun bisa makan tanpa rasa takut dan terlihat sangat menikmatinya. Sementara didapur, Dae Ho mengintip merasa tidak percaya kalau bisa melihat Bok Joo bersama seorang pria saat ini menurutnya itu terasa aneh. Tuan Kim malah berkomentar sedih karena mendapatkan kerang liar itu sangat sulit.
“Aku tidak percaya musang itu memakan semuanya.” Ucap Tuan Kim kesal
“Kenapa kau menyebutnya musang? Aku harus mengatakan kalau dia sangat tampan. Sejujurnya, Bok Joo tidak terlalu bagus untuknya dalam segi penampilan.” Kata Dae Ho, Tuan Kim sinis mendengarnya.
“Coba kau lihat... Bok Joo lebih menyukainya. Apa kau buta ?”ejek Dae Ho, Tuan Kim pikir tak ada yang salah dengan Bok Joo dan Pengelihatannya benar-benar baik-baik saja.

“Pokoknya, aku tidak menyukai pria itu. Aku melihatnya memberikan Bok Joo tatapan nakal.” Kata Tuan Kim.
“Menurutku, dia yang lebih dalam bahaya. Dalam sekali lirik, aku bisa tahu kalau Bok Joo lebih menyukainya.” Ucap Dae Ho yakin, Tapi Tuan Kim tak percaya mendengarnya karena mereka hanya teman.
“Lalu kenapa dia memberikannya semua kerang itu?Maksudku, dia bukan tipe orang yang  akan membagi makanannya dengan orang lain. Itu menunjukkan kalau dia tergila-gila padanya.” Jelas Dae Ho, Tuan Kim pun hanya diam. 

Joon Hyung binggung kemana Bok Joo akan membawanya, Bok Joo menyuruh Joon Hyung mengikutinya dan sampai diatas terlihat pemandangan malam kota seoul yang sangat indah.  Ia merasa lingkungan tempat tinggalnya sangat indah saat malam dan Semuanya berkilau.
“Ya.... Ini indah.” Ucap Joon Hyung mengarahkan pandanganya pada Bok Joo yang berdiri disampingnya.
“Ngomong-ngomong, traumamu. Itu disebabkan karena apa?” tanya Bok Joo, Joon Hyung kaget Bok Joo bisa mengetahuinya. 
“Aku dengar dari Dokter Jung. Apa ini karena kecemasan sebelum pertandingan?” ucap Bok Joo, Joon Hyung juga tak tahu.
“Bagaimana awalnya kau suka berenang? Apa orangtuamu yang menyuruhnya?” tanya Bok Joo, Joon Hyung menjawab tidak karena  hanya suka air.

“Aku pertama kali belajar renang ketika  mengikuti Hyung ke kolam renang saat masih kecil. Air bisa membuatku nyaman. Rasanya hangat... seperti ada yang memelukku.” Cerita Joon Hyung
Bok Joo merasa Joon Hyung itu  memiliki sensibilitas yang tinggi lalu bertanya apakah kepribadiannya berubah setelah mulai berenang. Joon Hyung pikir mungkin. Bok Joo rasa sepertinya begitu. Joon Hyung pikir benar juga dan itu saat pertama kali mulai berenang, tapi sekarang karena mempelajarinya, maka membuatnya sedikit stress.
“Aku tidak bisa menahan dirikuuntuk tidak terobsesi dengan catatan rekorku. Aku merasa seperti seekor banteng dalam pertandingan” kata Joon Hyung, Bok Joo bisa tahu.
“Kau bisa bilang "Jangan khawatirkan tentang rankingnya dan angkat saja besinya." Aku akan  bersenang-senang kalau memang seperti itu kejadiannya.” Ucap Bok Joo
Ia lalu berteriak “aku benci karena harus di tingkat-tingkat seperti itu!” Joon Hyung pun mengikutinya, Tapi Bok Joo pikir Sebenarnya, itulah takdir mereka sebagai atlet jadi harus menerimanya. Joon Hyung hanya terdiam, Bok Joo menepuk Joon Hyung meminta agar bisa bersemangat.
“Aku seorang penilai karakter yang hebat, dan tahu kau akan mencapai tujuanmu. Aku melihat sesuatu yang sangat intens di matamu.” Kata Bok Joo
“Apa kau jatuh cinta pada mataku?” goda Joon Hyung mendekatkan wajahnya, Bok Joo mengaku kalau benar-benar jatuh cinta. Keduanya pun tertawa bersama dengan melihat pemandangan indah seoul.


Nan Hee merasa mereka tidak bisa datang ke ruang santai  kalau cuacanya semakin dingin. Suk Ok yakin Bok Joo pasti sangat kenyang sekarang. Nan Hee tahu karena ayah Bok Joo   menghubunginya, jadi pasti diberi makan sup ayam.
“Aku sudah memperhatikan Bok Joo dan sadar... menaikkan berat badan itu sulit.” Kata Sun Ok
“Tentu saja. Meningkatkan kelas berat jauh lebih sulit. Bok Joo sedang bekerja keras untuk menaikkan berat badannya.” Ucap Nan Hee
Saat itu Si Ho lewat medengarnya lalu berjalan masuk ke dalam kamar dan melihat tas Bok Joo, dengan penuh keberanian membukanya dan melihat sebuah buku “Diet Diary” dengan nama Kim Bok Joo. 

Joon Hyung kembali pulang dengan penuh semangat karena  merasa  tidak akan terkena sakit untuk satu tahun ini. Jadi tahu alasan orang-orang... sangat bersemangat untuk makan kerang liar.
“Apa itu memberikanmu energi?” tanya Bok Joo
“ Ya... Aku bisa merasakan energiku meningkat. Makanan ayahmulah yang membuatmu sekuat sekarang. Sekarang karena kita memakannya bersama, ayo kita bekerja keras.” Kata Joon Hyung penuh semangat.
“Ini tidak seperti atlet.... bisa jadi lebih baik hanya dalam semalam. Kau membutuhkan fisik yang kuat untuk memenangkan perang dengan rasa gugupmu.” Ucap Bok Joo
“Lalu Sampai kapan kau akan menjalani kehidupan gandamu?” tanya Joon Hyung
“Aku sadar harus segera mengakhirinya.” Kata Bok Joo. Joon Hyung tiba-tiba berteriak karena melihat seekor katak.
Bok Joo merasa Joon Hyung ingin dipukulnya karena bercanda, Joon Hyung menyakinkan kalau memang ada katak besar. Bok Joo tahu Joong Hyung hanya senang menggodanya dan memperingatinya kalau memang masih ingin  hidup. Joon Hyung kesan Bok Joo tak percaya padanya. Saat itu terlihat seekor katak besar diatas kolam. 

Joon Hyung kembali ke kamar, Tae Kwon menyambutnya dengan selesai membersihkan meja Joon Hyung karena tahu  pasti lelah jadi sudah membereskan meja dan tempat tidurnya. Joon Hyung mengucapkan terimakasih dan duduk di meja belajarnya.
“Joon Hyung... Kau baik-baik saja, kan? Ini bukan pertandingan besar. Kau akan melakukannya lebih baik lain kali.” Kata  Tae Kwon memberikan semangat.  
“Aku tidak mengatakan apapun. Aku baik-baik saja. Yang jelas Aku tidak didiskualifikasi hari ini.” Kata Joon Hyung bisa merasa bangga
“Itu benar. Aku tahu kau adalah orang yang lapang dada.” Ucap Tae Kwon membersihkan meja belajarnya.
“Dia ternyata sangat lucu.” Ungkap Joon Hyung melihat origami yang diberikan Bok Joo padanya. 

Joon Hyung sedang berlari pagi lalu melihat sosok Si Ho yang masuk ke bagian gedung tim angkat besi, tanpa rasa penasaran tak peduli dan kembali berlari.
Bok Joo sedang sarapan dengan penuh semangat karena merka harus menambah lebih banyak bakso di sumpitnya bahkan Dua tidak cukup. Sun Ok menawarkan miliknya karena sudah  mengambil banyak. Bok Joo pikir tak perlu karena akan memakannya nanti.
“Hei. Kenapa Pelatih Choi tidak ada disini hari ini?” tanya Sun Ok bingung
“Dia akan ada di sebelah Bok Joo ketika sarapan dan makan siang, lalu berteriak, "Satu porsi lagi!" Mungkin dia ketiduran.” Kata Nan Hee, mereka pun harus cepat makan karena bisa terlambat.
Bok Joo melihat ponselnya berdering dan itu telp dari ayahnya, bertanya ada apa, berpikir kalau membuatkan sup tulang kali ini. Tuan Kim terdengar nama marah menyuruh anaknya untuk  datang ke rumah sekarang.

Bok Joo pulang kerumah berteriak pada ayahnya karena masih pagi sudah memanggilnya.  Lalu dikagetkan dengan pelatih Choi dan Yoon sudah ada di dalam restoranya juga. Suasana terasa dingin. Tuan Kim tiba-tiba mengeluakran bukan Diet diary diatas meja. Bok Joo kaget ayahnya bisa mendapatkan itu.
“Katakan padaku apa ini, anak nakal!” teriak Tuan Kim marah, Bok Joo terlihat benar-benar ketakutan mendengar teriakan ayahnya.
bersambung ke episode 6

FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09 

Jumat, 02 Desember 2016

Sinopsis Weightlifting Fairy Kim Bok Joo Episode 6 Part 1

PS : All images credit and content copyright :MBC

Bok Joo masih ada didalam mobil, telp Jae Yi berdering. Ibu Jae Yi menelp bertanya apakah akan pulang terlambat. Jae Yi mengatakan tidak, Lalu ibunya bertanya tentang mandu yang pernah mereka makan. Jae Yi pikir yang dimaksud itu Dim Sum dan berkata akan membelinya dalam perjalanan pulang.Bok Joo makin tersenyum bahagia mendengar Jae Yi seperti seorang anak yang sangat baik juga pada orang tuanya.
“Kau pasti bosan. Apa Kau mau permen karet? Ini bebas gula, jadi jangan khawatir.” Ucap Jae Yi memberikan permen karet ke tangan Bok Joo. Tangan Bok Joo sedikit bersentuhan, Tiba-tiba bunyi cekukan terdengar.
Bok Joo seperti punya kelemahan ketika bersentuhan dengan pria yang disukainya langsung cegukan. Jae Yi panik karena tidak punya air di mobilnya. Bok Joo pikir tak perlu karena  hanya akan menahan napasnya saja. 

Bok Joo akhirnya duduk ditaman sambil mengumpat dirinya yang bodoh, karena Segalanya berjalan lancar, tapi ia sendiri yang merusaknya. Jae Yi datang meminta maaf karena membuatnya menunggu, karena tidak bisa menemukan minimarket jadi mendapatkan minuman hangat dari mesin penjual otomatis. Bok Joo mengucapkan terimakasih lalu meminumnya.
“Bagaimana? Kau sudah baikan sekarang?” tanya Jae Yi, Bok Joo pikir seperti itu. Tiba-tiba Jae Yi melepaskan jaketnya dan memakainya untuk Bok Joo.
“Anginnya sangat dingin saat pagi dan malam hari. Kau menggunakan baju yang tipis.” Ucap Jae Yi, Bok Joo kembali cegukan. Jae Yi tersenyum mendengarnya menyuruh Bok Joo agar minum lagi supaya cegukan hilang.
 [Episode 6, Ekor yang Panjang,  Maka Entah Ketahuan Atau Terinjak]

Joon Hyung kecil sudah berani masuk ke dalam kolam renang arena untuk pertandingan renang.
“Aku mulai belajar berenang saat aku berusia 11 tahun.  Aku adalh anak yang kesepian, canggung, dan gugup.”
Joon Hyung didepan dokter psikiaternya untuk menceritakan semuanya yang dipendam selama ini.
“Bagiku, air terasa seperti satu-satunya tempat yang aman. Rasanya seperti.... berada di pelukan ibuku.” Cerita Joon Hyung
Joon Hyung yang masih kecil menangis dengan mainan disampingnya, Ibunya memeluk dan menghapus dengan sapu tanganya.
“Sebenarnya, aku ditinggalkan pada keluarga pamanku ketika aku berusia 10 tahun... karena ibuku menikah lagi dan pergi ke Kanada.”
“Jadi orangtua yang kau miliki sekarang...” kata Dokter pada saat itu Ibu dan Ayah Jae Yi menatap sedih karena Joon Hyung akan ditinggalkan oleh ibunya.
“Mereka adalah paman dan bibiku. Jae Yi Hyung adalah sepupuku. Tapi itu semua tidak masalah. Ibuku mengirimiku hadiah dan kartu pos setiap hari natal. Aku tidak merasa aku ditinggalkan. Aku percaya kami akan bertemu suatu hari. Tapi...”

Flash Back
Joon Hyung sedang ada dikamar, Bibinya yang sudah dianggap ibunya masuk ke kamar karena mendapatkan hadiah Natal dari Kanada. Ia pikir Hadiahnya datang terlalu cepat tahun ini tapi mungkin ibunya itu ingin memberi semangat untuk pertandingan besok. Joon Hyung bersemangat ingin membuka hadiahnya, tapi membuat tanganya tergores dan berdarah.
“Ibu. Apa kita punya plester yang anti air?” ucap Joon Hyung karena hari ini ada pertandingan, Bibinya memberitahu ada di laci dekat pintu di kamarnya.
Joon Hyung membuka laci dan melihat ada kotak P3K tapi melihat juga beberapa kartu post dengan gambar negara Kanada sama dengan yang ada diterimanya. Lalu ia kembali ke kamar dengan melihat tulisan dari setiap post card yang diterimanya. 

“Bintang yang sedang bersinar...Aku sadar kalau... tulisan tangan yang ada  di kartu pos jadi berbeda... setelah tiga surat pertama. Itu terlihat seperti seseorang mencoba meniru tulisan tangan ibuku.” Cerita Joon Hyung.
“Ternyata itu dari bibimu.” Kata Dokter. Joon Hyung membenarkan.  Dokter bertanya apakah pada hari itu..
“Ya. Itu adalah hari pertandingan dimana  aku mendapatkan gejala itu untuk pertama kalinya.” Kata Joon Hyung
“Aku ucapkan Terima kasih. Karena Aku yakin tidak mudah bagimu untuk memberitahu itu padaku.” Ucap Dokter

Joon Hyung bertanya apakah ini  ada hubungannya dengan gejala yang dialaminya. Dokter pikiri itu mungkin., Seperti yang dikatakan sebelumnya bahwa "Gangguan kepanikan dan gangguan konversi adalah penyakit hati. Dan itu juga bisa menyebabkan gangguan pendengaran.
“Sepertinya kau cukup terkejut hari itu. Kau merasa kalau kehilangan... satu-satunya hubungan yang kau miliki dengan ibumu. Tapi ini Bagus. Kita sekarang tahu apa yang mungkin jadi penyebab dari masalahmu. Mari kita pelan-pelan menyelesaikannya. Menceritakannya padaku mungkin sudah menyembuhkan separuhnya.” Jelas Dokter
“Sekarang Mari kita lihat. Metode apa... yang paling efektif untukmu?Sepertinya kita harus melakukan eksperimen. Kapan pertandinganmu selanjutnya?” ucap Bok Joo 


Si Ho berlatih sendirian dengan bola ditanganya, dengan memainkan seperti yang ada disirkus. Lalu ia mencoba melempar dan menangkapnya dengan kakinya tapi beberapa kali gagal melakukannya. Ia terlihat sangat frustasi dan langsung mengambil bakpao dalam tasnya, langsung memasukan semua ke dalam mulutnya seperti melampiaskan semua amarahnya.
Joon Hyung sedang duduk di minimarket setelah konsultasi dengan dokternya, lalu tiba-tiba dibuat tersedak melihat sosok Bok Joo yang diantar pulang oleh kakak sepupunya. Bok Joo dengan ramah mengucapkan terimakasih sudah memberikan tumpangan di depan pintu subway.
“Ada apa dengannya? Apa yang dia pakai? Aku memberikannya kesempatan bagus. Dia seharusnya menggunakan baju yang cantik dan menunjukkan pesonanya. Dengan begitu, Hyung akan bilang, "Kau terlihat  sangat mempesona hari ini, Bok Joo." Tapi dengan baju itu, semuanya jadi sia-sia.” Keluh Joon Hyung kesal

Jae Yi pikir bisa mengantarnya sampai ke rumah,   karena  Tidak sopan membiarkan seorang wanita pulang ke rumahnya sendirian malam-malam. Bok Joo menolak dengan gaya berlebihan kalau  bisa pulang  dari sini bahkan dengan mata tertutup selain itu juga harus mampir dulu ke supermarket untuk membeli sesuatu. Jae Yi bisa mengerti dan akan bertemu lagi nanti di klinik.
“Jangan lupa melakukan beberapa peregangan sebelum tidur.” Pesan Jae Yi, Bok Joo mengerti dan mengucapkan Selamat tinggal.
“Aigoo, kau akan mematahkan tulang punggungmu, Bok Joo. Ah, aku tidak bisa melihat ini. Apa yang harus kulakukan padamu, Bok Joo? Apa kau senang, Bok Joo?” kata Joon Hyung melihat dari kejauhan karena melihat pakaian Bok Joo seperti nenek.
Bok Joo tersenyum bahagia melihat mobil Jae Yi pergi dan langsung berlari menuruni tangga. Joon Hyung binggung mau kemana Bok Joo karena tidak pernah naik subway. Bok Joo pergi ke bagian loker mengambil tasnya dan masuk ke dalam toilet. Beberapa saat kemudian Bok Joo sudah mengunakan kembali bajunya yang biasa dipakai. 

Joon Hyung masih menunggu sambil berhitung, tepat dihitungan ke tiga Bok Joo keluar dari subway. Bok Joo berjalan pulang untuk kembali kampus lalu tiba-tiba bersin saat menunggu lampu hijau, ia merasa kalau terkena flu. Joon Hyung sudah ada didekatnya, berkomentar kalau itu karena baju yang digunakan Bok Joo.
“Hei, siapa ini? Ini adalah peri angkat besi Kim Bok Joo.” Ejek Joon Hyung
“Apa kau mengawasiku 24 jam sehari? Kenapa kita bertemu setiap hari?” keluh Bok Joo, Joon Hyung juga merasa kaget.
“Kenapa aku selalu bertemu denganmu?” ucap Joon Hyung lalu ingin melihat tas yang dibawa Bok Joo, Bok Joo dengan ketus mengatakan kalau itu bukan urusanya.
“Sepertinya kau baru kembali dari sebuah konser. Kau tidak pergi kesana.... dengan menggunakan gaun dan sepatu berhak kuno itu, kan?” kata Joon Hyung sengaja menyinggungnya.

“Tidak mungkin. Aku tidak akan menggunakan baju seperti itu untuk datang ke konser.” Ucap Bok Joo menyangkalnya. 
“Aku hanya memastikan,  siapa tahu kau memang melakukannya. Kakakku membenci gaya fashion yang terlalu feminin.” Kata Joon Hyung, Bok Joo melotot kaget mendengarnya. 
“Tidak, aku bercanda. Semua pria suka gaya yang feminin.”kata Joon Hyung mengodanya.
“Hei... Apa kau menggodaku karena kau melihatku? Kau sangat jahat.” Umpat Bok Joo
“Jangan menyebutku jahat ketika aku  yang memberikan tiket itu padamu.” Kata Joon Hyung
Bok Joo menanyakan alasan Joon Hyung  yang menggodanya. Joon Hyung memberitahu kalau  menghabiskan uang bulanannya untuk membeli tiket itu. Bok Joo akhirnya mengucapkan terimakasih untuk tiketnya. Jong Hyung pikir Bok Joo  memang harus berterima kasih padanya lalu bertanya apakah bersenang-senang dengan kakaknya. Bok Joo merasa kalau  itu Tidak terlalu buruk karena mengantarnya pulang. 
“Apa Kau diantar pulang olehnya? Kau melakukan semuanya, kan?” kata Joon Hyung mengodanya, Bok Joo tersenyum bahagia.
“Bok Joo, aku minta maaf!”teriak Joon Hyung menariknya dengan berlindung dibalik tubuh Bok Joo, Saat itu mobil lewat dan menyiram tubuh Bok Joo karena ada genangan.
“Ah, hampir saja. Terima kasih pada gerak refleksku yang cepat. Wah.. Ada apa dengan pengemudi itu?” keluh Joon Hyung, Bok Joo berteriak marah karena tubuhnya yang basah. 


Si Ho terbaring di ruang kesehatan, lalu duduk diatas ranjang. Ah Young melihatnya lalu bertanya apakah Si Ho akan pergi, mennyarankan agar bisa istirahat dulu. Si Ho pikir tak perlu karena sudah merasa  baik-baik saja sekarang.
“Perutmu kram sementara, jadi aku  memberimu suntikan penghilang rasa sakit. Ini, obat antasida.” Ucap Ah Young memberikannya.
“Tapi Ingatlah untuk meminumnya setelah makan.” Pesan Ah Young sebelum Si Ho mengambilnya. Si Ho mengucapkan  Terima kasih.
“Kram perut biasanya terjadi karena kelebihan zat asam karena terlalu stress. Apa kau merasa stress akhir-akhir ini?” kata Ah Young, Si Ho mengaku sedikit stress.
“Apa ini karena masalah pria? Siapa dia? Siapa pria ini sampai membuat gadis secantikmu sedih?” ucap Ah Young penasaran

Joon Hyung melirik Bok Joo yang sedang mengeringkan rambutnya, lalu mendekatinya menyuruh agar mengeringkan rambutnya dulu karena basah semua. Bok Joo kesal menyuruh Joon Hyung menutup mulutnya karena semua itu salahnya.
“Berikan padaku. Akan membutuhkan waktu  lama untuk mengeringkat rambutmu seperti itu.” Ucap Joon Hyung mengambil handuk lalu mengeringkan rambut dengan mengalungkan dileher Bok Joo lalu mengosoknya sampai menutup wajah Bok Joo.
“Astaga, maafkan aku.” Kata Joon Hyung melihat rambut Bok Joo yang berantakan lalu merapihkan. Tiba-tiba ia merasakan sesuatu saat menatap wajah Bok Joo didepanya.
“Ambil handumu, lakukanlah apapun yang kau mau dengan itu.”kata Joon Hyung melempar handuk Bok Joo, seperti ingin menghilangkan rasa gugupnya.
“Aku tidak pernah memintamu untuk mengeringkan rambutku, dasar orang gila.” Umpat Bok Joo kesal 

Joon Hyung akhirnya duduk disebelah Bok Joo, bertanya apakah kakaknya itu sadar kalau Bok Joo menyukainya. Bok Joo pikir tidak dan tak ingin Jae Yi mengetahuinya, karena Pria tidak suka pada wanita yang suka mengangkat besi. Lalu memperlihatkan tanganya,  yang penuh dengan kapalan.
“Siapa yang akan menyukai tangan yang seperti ini?” kata Bok Joo rendah diri
“Apa masalahnya dengan itu? Itu karena kau mengangkat besi.Kau bisa merasa aman ketika berjalan saat malam. Aku akan senang jika aku jadi  dia.” Kata Joon Hyung memuji
“Kau hanya bisa berkata manis. Tapi Pokoknya, aku bersenang-senang hari ini. Aku ucapan Terima kasih padamu, aku bisa menyebutnya aku pergi kencan. Ketika Dr. Jung mengantarku, aku merasa seperti Cinderella yang sedang naik kereta labu. ketika jam 12 tepat, maka dia kembali ke kenyataan.” Kata Bok Joo bahagia, 
“Setidaknya, pada akhirnya dia menikahi pangeran.” Komentar Joon Hyung mengingatkan.
“Kau benar... Aku tidak suka menonton film yang akhirnya tidak bahagia.” Ucap Bok Joo sedih
“Apa kau tahu... di air mancur itu... hidup seorang katak yang mengabulkan semua permintaanmu?” kata Joon Hyung, Bok Joo binggung

Joon Hyung merasa kalau Bok Joo itu tak tahu, lalu mengejek Bok Joo itu bukan sekolah di UniversitasOlahraga Haneol karena itu Itu legenda yang terkenal bahkan semua atlet senior yang mendapatkan medali emas bisa menang karena katak itu. Bok Joo mengejek kalau tingkat kreativitasnya sangat hebat dalam hal membual. Joon Hyung menegaskan kalau ia serius.
“Kau mungkin tidak tahu, tapi jika kau berdoa dengan sungguh-sungguh, dia akan mengabulkan permintaanmu, apapun itu.Kenapa kau tidak berdoa padanya...supaya segalanya berjalan lancardiantara kau dan Hyung?” kata Joon Hyung
“Kau penuh dengan kebohongan.” Ucap Bok Joo lalu bersin. Joon Hyung menjauh karena mengetahui Bok Joo yang terkena flu, Bok Joo merasa hidungnya dari tadi terasa gatal. 
“Maafkan aku, tapi aku punya rencana penting, jadi tidak boleh kena flu.” Kata Joon Hyung akan pamit pergi tapi Bok Joo kembali menariknya dengan sengaja mendekatkan wajahnya.
Joon Hyung panik berpikir Bok Joo akan menciumanya lalu memejamkan matanya, tapi Bok Joo langsung bersin di wajah Joon Hyung.  Bok Joo senang mengatakan kalau flu akan bertahan lamakarena Kumannya sangat kuat seperti dirinya dan virus itu yang sangat hebat. Joon Hyung kesal mengancam kalau  aku benar-benar kena flu, maka akan  mengembalikan virusnya dengan menciumnya jika perlu lalu pergi meninggalkanya. 


Bok Joo masuk kamar kembali bersin merasa benar-benar terkena flu. Si Ho masuk kedalam kamar dengan wajah pucat. Bok Joo bertanya apakah Si Ho sakit karena terlihat pucat.  Si Ho mengaku baik-baik saja dengan membuka botol air minumnya. Bok Joo merasa terkena flu menurutnya tidak beruntung hari ini.
“Kenapa ini tidak terbuka?” kata Si Ho yang tak bisa membuka botol air minumnya, Bok Joo ingin membantunya. Tapi Si Ho menolak dan Bok Joo tetap ingin membantu.
“Aku bilang akan...” teriak Si Ho marah, Bok Joo binggung tiba-tiba Si Ho berteriak padanya. 
“Maafkan aku karena terlalu sensitif.” Ucap Si Ho seperti cemburu dengan kedekataan Joon Hyung dan Bok Joo. 

Tuan Kim mengoreng ayam didapur, sambil melamun teringat kembali kata-kata Pelatih Yoon “Bahkan jika Bok Joo menaikkan kelas beratnya, dia tetap akan sukses.”Dae Ho masuk ke dapur memberitahu pelangan mereka  ingin lebih banyak lobak. Tuan Kim hanya diam saja.
“Hyung... Apa yang kau lakukan? Ayamnya akan gosong.”teriak Dae Ho, Tuan Kim tersadar lalu melihat ayamnya sudah gosong, 
“Apa kau ketiduran?” keluh Dae Ho, Tuan Kim mengaku  hanya melamun.

Pelatih Yoon meminta agar pelatih Choi untuk Fokuslah memperkuat torsonya sembari menjaga berat badannya, setelah itu naikkan angkanya. Pelatih Choi mengerti lalu bertanya  Haruskah meningkatkan jumlah konsumsi proteinnya juga. Pelatih Yoon pikir  Biarkan Woon Gi yang memutuskan karena anak didik mereka bisa menyesuaikannya sendiri.
“Aku lega Woon Gi memutuskan untuk menaikkan kelas beratnya. Bok Joo sepertinya tidak mungkin, ya?” kata Pelatih Choi
“Aku tidak bisa memaksanya tanpa izin dari Tn. Kim dan Akan sulit juga bagi Bok Joo untuk memutuskan.” Kata Pelatih Yoon, Tiba-tiba Ayah Bok Joo datang menemui kedua pelatih anaknya.
“Kenapa kau tidak menghubungi kami? Kami harusnya datang padamu.” Ucap pelatih Yoon tak enak hati. 
“Aku yakin kau tahu kenapa aku disini. Mari kita langsung ke intinya karena kita berdua pasti sibuk. Ini tentang apa yang kau katakan terakhir kali. Kelas beratnya Bok Joo.” Ucap Tuan Kim. 

Nan Hee duduk didepan gedung kampus terlihat gelisah bertanya pada Sun Ok,  apa yang terjadi. Suk Ok juga tidak tahu. Nan Hee punya perasaan tidak enak tentang ini. Sun Ok juga ingin tahu.
“Aku benar-benar ingin tahu. Ini membuatku gila.” Kata Nan Hee ingin masuk, Sun Ok langsung memeluk temanya.
“Hentikan. Kau membuatnya semakin buruk.” Ucap Sun Ok, Nan Hee meminta agar Bok Joo cepat keluar saja. 

Bok Joo melonggo kaget mendengar dua pelatihnya yang membahas tentang Kelas beratnya. Pelatih Yoon membenarkan, dan yakin pasti terkejut dan pasti akan terkejut kalau jadi Bok Joo. Pelatih Choi menjelaskan bahwa merka berdua percaya kalau Bok Joo memiliki potensial.
“Menaikkan berat badanmu beberapa bulan sebelum kompetisinya tidak normal, tapi kau kuat. Selama latihan, kau terus memegang rekor terbaik dari kelas 63kg.” Kata pelatih Choi 
“Itu ketika aku sedang dalam kondisi terbaik.” Pikir Bok Joo
“Kau harus membuatnya berhasil.Kami akan memastikan untuk membantumu.” Ucap pelatih Choi menyakinkan.
“Seperti yang kau tahu, kompetisi untuk kelas berat 58kg sangat sengit. Dalam kelas beratmu, hasil dari kompetisinya berubah drastis tergantung kondisimu. Bagaimana dengan 63kg? Sejak Jang Ran Ran pensiun, tidak ada satupun yang menonjol.” Jelas pelatih Yoon

“Aku tidak mengatakan ini supaya kau merasa tertekan, tapi jika kau masuk ke kelas berat 63kg, lalu gadis lain... bisa mencoba mendapatkan medali dalam kelas berat 58kg.” Ucap Pelatih Choi
Pelatih Yoon membenarkan,  karena Ini akan jadi  situasi yang menguntungkan bagi semuanya dan akan memberikan  keuntungan serta menciptakan kesempatan untuk anggota tim, menurutnya Bok Joo bisa menaikkan beratnya 3 sampai 4kg, jadi semua sangat mungkin.Woon Gi juga melakukan hal yang sama jadi mereka sedang menjalankan program untuknya.
“Jika kau bisa memutuskannya, maka kami bisa memberikan semua dukungan yang kau butuhkan.” Ucap Pelatih Yoon
“Tapi aku harus bicara dengan ayahku dulu...” kata Bok Joo binggung
“Kami sudah bicara padanya dan Dia memberikan izinnya hari ini.” Ucap Pelatih Yoon, Bok Joo kaget ayahnya sudah menyetujuinya. 


Bok Joo keluar dari kampus berteriak marah pada ayahnya di telp, karena melakukannya tanpa membicarakannya dengannya. Tuan Kim menegaskan kalau ini  juga bukan keputusan yang mudah untuknya dan  berubah-ubah pikiran sepanjang malam  memikirkan tentang apa yang harus dilakukan.
“Bagaimana ayah bisa membuat  keputusan sepenting itu sendirian? Apa ayah pikir menaikkan kelas berat semudah meniup balon? Menaikkan berat badan jauh lebih sulit daripada menurunkannya. Ayah juga pasti tahu itu!” teriak Bok Joo kesal
“Aku tahu. Aku benar-benar sadar itu, tapi hidup adalah sebuah tantangan. Sebagai seorang atlet angkat besi, kau harus terus menantang dirimu sendiri.< Profesor Yoon benar. Ini akan memberimu keuntungan. Ini adalah strategi yang cukup bagus.” Jelas Tuan Kim. Bok Joo berteriak marah, Tuan Kim menutup telpnya karena harus mengoreng ayam.

“Ayah selalu melakukan yang ayah mau! Ayah bahkan menutup teleponku!” teriak Bok Joo kesal.
Nan Hee meminta agar temanya tenang, karena tahu kalau ini akan sulit, tapi ini semua mungkin. Sun Ok setuju karena Menambah 3 sampai 4kg... tidak terlalu sulit untuk temanya. Bok Joo pikir itu karena sedang melakukan diet penurunan berat badan, lalu mengeluh keadaaan seperti ini membuatnya gila.
“Kenapa kau jadi gila hanya karena ini? Kami akan membantumu.” Ucap Nan Hee heran
“Ya. Sebagai teman yang baik, kami akan makan seperti babi bersamamu.” Ucap Sun Ok, Bok Joo mengaku  Bukan karena itu merasa kesal lalu berlari
“Jangan lari!  Itu akan membuat berat badanmu turun.” Teriak Nan Hee mengejarnya, Bok Joo kesal Ayah selalu melakukan semaunya.


Joon Hyung bertemu dengan pelatihnya. Pelatihnya kaget mendengar Joon Hyung yang  mau pergi ke pertandingan yang diselenggarakan oleh Bank Joongang, menurutnya Ini adalah pertandingan kecil jadi tidak akan terlalu membantunya.
“Anggap saja seperti latihan.” Kata Joon Hyung, pelatihnya bisa mengerti.
“Mendapatkan latihan sebanyak mungkin bisa membantumu melewati kecemasanmu. Aku pikir ini ide bagus. Kau harus Gunakan nyalimu yang kau gunakan untuk menolak menjadi partner Tae Hoon untuk memenangkan medali.” Pesan pelatihnya.
“Semua orang akan membicarakan Ronaldo jika dia mencetak gol di pertandingan kecil.” Kata Joon Hyung sombong, Pelatihnya tertawa mendengar anak didiknya yang kembali sombong, lalu memperbolehkan untuk mengambil pertandingan. 

Joon Hyung berjalan dengan terbatuk-batuk, mengeluh  Kim Bok Joo, yang membuatnya terkena flu dan kenapa  harus menularkan flunya di saat seperti ini, Lalu melihat sosok Bok Joo yang berjalan di bawahnya lalu kembali memanggilnya “Gendut” Bok Joo hanya melirik sinis, Joon Hyung pun menghampirinya.
“Hei, bagaimana kau akan bertanggung jawab dengan ini? Aku terkena flu karena kau! Aku ada pertandingan minggu depan. Bagaimana kau akan bertanggung jawab?” kata Joon Hyung kesal
“Diamlah. Kepalaku rasanya mau pecah.” Ucap Bok Joo terlihat lesu, Joon Hyung bertanya apakah terjadi sesuatu. 
“Aku tidak tahu, tapi Tidak ada yang berjalan sesuai rencanaku.” Kata Bok Joo,Joon Hyung bingung karena Bok Joo terlihat senang kemarin dan bertanya apa apa sebenarnya.
“Aku harus menaikkan kelas beratku.” Ucap Bok Joo. Joon Hyung tertawa bahagia mendengarka karena Bok Joo akhirnya menaikkan kelas beratnya.

Ia bertanya lalu apa masalahnya, Bok Joo mengatakan kalau sekarang tak bisa melakukan itu,   dan Joon Hyung tahu kalau sedang terikat sekarang dan juga sudah mendaftar ke klinik. Jong Hyung pikir itu bukan masalah. Bok Joo melirik sinis. Joon Hyung menjelaskan maksudnya adalah Bok Joo datang ke klinik untuk bertemu kakaknya jadi Menurunkan berat badan bukan tujuannya. 
“Kau harus melakukan apa yang perlu kau  lakukan kecuali kau ingin berhenti dari angkat besi.” Kata Joon Hyung
“Itu benar, tapi... Hei, kau bicara semudah itu karena ini bukan masalahmu. Apa kau pikir semua yang ada dalam hidup ini sesederhana itu? Yah.. Benar, kau pasti tidak tahu bagaimana cara kerjanya hidup ini. Kau berasal dari keluarga yang bagus, kau sejak dulu perenang handal, kau tampan, dan semua wanita menyukaimu. Aku sangat bodoh mengharapkan nasihat darimu.” Teriak Bok Joo marah dan langsung pergi.
“Harusnya aku yang marah padamu! Kenapa kau berteriak padaku setelah membuatku terkena flu?” teriak Joon Hyung kesal. 


Bok  Joo kembali ke ruangan latihan,  dengan mengulang perkataan Joon Hyung "Kau harus melakukan hal yang harus kau lakukan." Menurutnya Joon Hyung bisa mengatakan semaunya karena ini bukan masalahnya lalu mengumpat temanya memang benar-benar licik.
“Bok Joo... Ada apa? Apa yang membawamu kemari?” tanya Pelatih Choi melihat Bok Joo yang datang.
“Aku meninggalkan jurnal latihanku disini.” Kata Bok Joo
“Apa kau sudah memikirkannya lagi? Kau harus memulai latihan spesialmu sekarang jika kau mau menaikkan berat badanmu. Kami sudah membuat rencananya.” Ucap Pelatih Choi
“Kalau begitu... Aku akan... aku akan mencobanya.” Kata Bok Joo merasa ta enak hati. Pelatih Choi tak percaya mendengarnya lalu berteriak pada Pelatih Yoon karena  Bok Joo ingin mencobanya dan sudah memutuskannya.

Pelatih Yoon keluar ruangan tak percaya merasa Bok Joo sedang bercanda padanya, Pelatih Choi memegang tangan Bok memuji kalau membuat keputusan yang benar.Seperti yang mereka katakan waktu itu, Bok Joo pasti bisa melakukannya.
“Tentu saja. Siapa yang akan bisa melakukannya kalau Bok Joo tidak bisa? Ayahmu pasti akan senang mendengar ini. Kalau begitu ayo kita mulai hari ini.” Ucap Pelatih Yoon, Bok Joo mengerti
“Aku akan melatih Woon Gi. Kau harus melatih Bok Joo, Pelatih Choi.. Ah, aku harus bilang kalau ini juga akan jadi kompetisi di antara kita. Pelatih Choi, apa kau percaya diri?” kata Pelatih Yoon membagi tugas
“Tentu saja. Kau tahu seberapa  menyeramkannya aku sebagai pelatih.” Ucap Pelatih Choi penuh semangat, Pelatih Yoon mengaku kalau juniornya itu memang menyeramkan.
“Bok Joo, kau sebaiknya berhat-hati.Dia mungkin akan menggigitmu.” Ejek Pelatih Yoon, Bok Joo hanya diam dengan keputusanya. 


Bok Joo dan Pelatih Choi makan bersama, terlihat Bok Joo yang makan dengan lahap dengan menu daging. Pelatih Choi melihat piring Bok Joo sudah habis dan menyuruhnya agar makan satu ronde lagi. Bok Joo pun mengambil piring berikutnya terlihat sangat lahap menyendok nasinya.
Piring kedua pun sudah habis,  Pelatih Choi menyurun untuk makan satu lagi. Bok Joo mengeluh karena benar-benar tidak bisa makan lagi. Pelatih Choi tahu kalau Bok Joo  biasanya makan sebanyak itu jadi harus makan satu porsi lagi. Bok Joo pun makan piring ke tiganya. 

Jae Yi melihat timbangan Bok Joo binggung karena  Semuanya berjalan lancar sebelumnya tapi Kenapa berat badannya tiba-tiba naik. Bok Joo beralasan kalau tidak mengikuti dietnya. Jae Yi penasaran mencoba naik ke timbangan memastikan kalau tidak rusak, lalu menenangkan kalau berat badanya biasa naik turun diawal Tapi akan memberikan perawatan berbeda hari ini.
“Ini aneh.... Berat badanmu naik 1kg kemarin. Kenapa kau turun 0,5kg?” kata pelatih Choi melihat di timbangan, Bok Joo tak bisa berkata-kata
“Hei, Bok Joo.. Apa kau pergi... ke kamar mandi beberapa kali hari ini?”kata Pelatih Cho, Bok Joo sempat panik membenarkan.
“Kita harus memperbaiki ini. Ayo kita menaikkan beratmu lagi. Kita akan makan bossam ukuran  super besar untuk makanan ringan!” kata Pelatih Choi 

Bok Joo, Woon Gi dan dua pelatih makan bersama untuk menambah berat badan mereka. Pelatih Yoon meminta agar Bok Joo harus mencoba lebih keras karena Woon Gi sudah menaikkan 1,6kg. Woon Gi pikir  masih punya waktu panjang jadi harus menaikkan massa ototnya.
“Bok Joo juga akan segera begitu.” Kata Woon Gi memberi semangat, Pelatih Choi memberikan daging untuk anak didiknya, Bok Joo pun mau tak mau melahapnya walaupun ingin menolaknya demi dietnya. 
Joon Hyung makan bersama dengan timnya dengan terbatuk-batuk. Tae Kwon melihat flu Joon Hyung ternyat benar-benar bertahan lama, berpikir karean Joon Hyun pada dasarnya hidup di  kolam renang untuk mempersiapkan pertandingannya Tentu saja flunya tidak akan sembuh bahkan tidak bisa minum obat.
“Ngomong-ngomong, kenapa kau mau ikut pertandingan itu? Bukankah itu pertandingan untuk pemula?” ucap temanya heran, Joon Hyung terlihat gelisah mendengarnya.
“Kau bodoh... Hanya orang yang tidak kompeten yang membesar-besarkan persoalan seperti ini. Belajarlah dari kami, bodoh. Ketika aku masih baru, aku tidak seperti kalian...” kata Tae Kwon, Joon Hyung langsung menyuapi Tae Kwon agar diam 

Si Ho tiba-tiba datang dan duduk disamping Joon Hyung, Tae Kwon dan yang lainya merasa sudah selesai makan jadi memilih untuk pergi meninggalkan mereka berdua. Si Ho bertanya Apa Joon Hyung ada pertandingan beberapa waktu dekat ini.
“Sepertinya kau terkena flu. Apa kau akan baik-baik saja? Batuknya akan bertahan lama ketika kau terkena flu.” Kata Si Ho memberikan perhatiannya.
“Kau benar-benar tidak bisa dipercaya. Kau bertingkah seperti penguntit. Apa ini menyenangkan untukmu?” sindir Joon Hyung sinis
“Bagaimana ini bisa menyenangkan?Aku kelelahan dan malu. Harga diriku sudah dihancurkan. Tapi aku benar-benar putus asa sekarang dan Hanya kau orang yang bisa kujadikan sandaran.” Akui Si Ho
“Itu hanya ada dalam kepalamu. Aku bukan orang seperti itu untukmu. Aku hanyalah diriku sendiri.” Tegas Joon Hyung akan pergi, tapi Si Ho menahanya.
“Baiklah... Aku akan meninggalkanmu sendirian, jadi selesaikan makananmu. Kau bahkan tidak bisa minum obat, jadi harus makan dengan baik.” Ucap Si Ho lalu pergi meninggalkan mejanya.

Si Ho keluar dari kantor dan Ki Suk seperti sudah menunggunya, lalu menyindir kalau Joon Hyung terus menolaknya, menurutnya ini sudah keterlaluan karena Si Ho adalah gadis paling cantik di sekolah mereka.
“Apa karena itu kau terus menolakku? Kau bisa kembali padaku, Aku akan memperlakukanmu lebih baik dari Joon Hyung.” Ucap Ki Suk, Si Ho membalikan badanya.
“Enyahlah, brengsek.” Ucap Si Ho dengan wajah sinisnya, Ki Suk terlihat benar-benar kesal karena Si Ho menolaknya juga. 

Bok Joo melarang ayahnya masuk ke dalam kampusnya, Dae Ho terlihat keberatan membawa sebuah panci yang sangat besar. Tuan Kim pikir kenapa Bok Joo tidak bisa memakannya dan menyuruhnya agar Makan saja pahanya dan minum kuah supnya karena membuatnya tidak terlalu banyak. 
“Sepertinya kau sudah muak dengan ayam goreng. Itulah kenapa aku merebus ayamnya dengan ginseng dan kerang.” Kata Tuan Kim
“Aku bahkan memakan tiga piring makanan untuk makan siangku hari ini. Dan hanya itu  yang bisa kumakan.Aku tidak bisa terus-menerusmemaksa makanan masuk ke tenggorokanku.” Ucap Bok Joo, Dae Ho kesal mendengar keduanya malah berdebat menurunkan pancinya, Tuan Kim memerintahkan agar tetap mengangkatnya.
“Bok Joo. Aku tahu ini sulit, tapi kau harus mencoba sebisamu. Aku pikir kau benar-benar punya kesempatan untuk menang. Aku bisa merasakannya..” Kata Tuan Kim menyakinkan.

“Itu tidak masalahAku bilang aku tidak percaya diri!” teriak Bok Joo, Dae Hoo meminta Bok Joo agar memakanya saja karena Tangannya rasanya mau copot dengan melepaskan pancinya.
“Kalau begitu taruh itu di kepalamu Atau di punggungmu!” teriak Tuan Kim menyuruh Dae Hoo kembali memegangnya.
Pelatih Choi datang menyapanya, mengambil panci hanya dengan satu tangan memegangnya. Dae Ho melonggo melihat Pelatih Choi yang bisa mengangkat panci hanya dengan satu tangan. Pelatih Choi pikir Tuan Kim tak perlu melakukan ini karena sudah membelikan beberapa pizza untuk Bok Joo juga.
Tuan Kim terlihat senang mengajak mereka segera ke dalam,  Pelatih Choi mengangkat panci masuk ke dalam. Dae Ho masih melonggo tak pecaya. Bok Joo pun ngedumel sendiri karena ayahnya itu akan membuat tubuhnya naik kembali.
Bersambung ke part 2

FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09