PS; yang udah baca blog / tulisan aku.. Tolong minta follow account IG aku yah dyahdeedee09 & Twitter @dyahdeedee09 jadi biar makin semangat nulisnya. Kamsahamnida.

Sabtu, 16 Desember 2017

Sinopsis Black Knight Episode 4 Part 2

PS : All images credit and content copyright : KBS

Baek Hee menceritakan Ada dua wanita yang jatuh cinta dengan pria yang sama. Di zaman sekarang, Di ceritakan seperti Hae Ra yang berkerja sebagai pemandu wisata sampai ke bandara dan Sharon sebagai penjahit baju selama lebih dari 200 tahun.
“Mereka berdua cantik dan penuh gairah. Pria itu hanya mencintai satu wanita dari awal sampai akhir. Tapi dia tidak bisa menunjukkan cintanya. Kedua wanita itu putri satu-satunya keluarga terhormat dan seorang gadis pelayan yang tinggal di rumahnya.” Cerita Baek Hee. 

Flash Back
Seorang pria berlari memasuki sebuah rumah, yaitu Jeom Bok membawa sesuatu ditanganya.
“Wanita muda itu hendak menikah dengan putra seorang menteri. Dia penasaran ingin tahu seperti apa wajahnya.”
Tuan Putri melihat wajah yang diberikan Jeom Bok padanya, seperti tak percaya kalau terlihat seperti itu. Jeom Bok mengaku tidak menggambar dengan baik, karena jauh lebih tampan dari itu. Tuan Putri berteriak memanggil Boon Yi agar bisa melihatnya juga.
“Hatiku seketika berdegup kencang. Ini calon suamiku. Aku akan melarikan diri jika ternyata jelek, Jadi aku menyuruh Jeom Bok untuk menggambar wajahnya, dia hanya menjalankan tugas di sana.” Cerita Tuan Putri

“Dia sangat tampan.” Komentar Boon Yi melihat wajah pria yan digambarkan Jeom Bok.
“Jeom Bok mengatakan dia jauh lebih tampan dari gambar ini” ungkap Tuan Putri
“Akan sangat bagus jika Jeom Bok bisa belajar. di Kantor Kesenian.” Kata Boon Yi. Tuan Putri bertanya Apa itu Kantor Kesenian?
“Ini adalah tempat seni di istana. Mereka menggambar gambar upacara kerajaan...” kata Boon Yi dan langsung didorong oleh Tuan Putri. Boon Yi bingung tiba-tiba didorong begitu saja dan terlihat sebuah buku
“Berani-beraninya seorang gadis pelayan membawa sebuah buku dan memamerkannya? Jeom Bok, kau bisa menggunakannya untuk ditoilet.” Kata Tuan Putri membuang buku pada Jeom Bok.
“ Aku sedang berbicara tentang suami masa depanku. Kenapa kau mulai membicarakan kantor kesenian? Enyah kau” kata Tuan Putri. Boon Yi pun pergi dengan Jeom Bok yang terlihat ketakutan.
“Mungkin wanita muda, yang baru saja memuja, Cemburu pada gadis pelayan itu. Gadis yang mungkin bersinar lebih terang dari dia... Jika saja dia tidak dilahirkan sebagai anak perempuan seorang pelayan.” 
Boon Yi duduk sendirian dalam ruangan, dengan bara api disampingnya dan menjahit baju dengan terkantuk-kantuk.
“Dia bahkan tahu cara membaca dan menulis. Gadis pelayan itu menghabiskan waktu berhari-hari... membuat pakaian pernikahan wanita itu. Dia pasti sudah mabuk dengan sinar bulan.”
Anak Raja dan pelayanya berjalan keluar dari istana, Pelayan merasa kalau akan merasa buruk kalau mengetahuinya. Tapi Anak raja itu pikir kalau wanita itu akan menjadi istrinya seumur hidup dan Hari pernikahan mereka tidak bisa menjadi hari pertama melihatnya.
Saat itu Boon Yi bahagia dengan baju yang sudah dijahitnya. Anak raja pun melihat kalau itu rumah calon istrinya dengan dibantu oleh pelayan agar bisa memanjat.
Boon Yi dengan bajunya berjalan menutupi kepalanya ingin melihat bulan purnama. Si anak raja pun bisa melihat wajah Boon Yi seperti langsung terkesima dan akhirnya jatuh begitu saja. Pelayan pun bertanya apakah Si anak raja melihat wajahnya.
“Aku akan menghabiskan sisa hidupku untuk dia.” Ucap Anak raja yang sudah jatuh cinta dengan Boon Yi yang dianggap sebagai istrinya.
“Astaga, apa yang salah dengannya? Baiklah kalau begitu. Ayo kita pergi. Ayahmu akan membunuhku” kata si pelayan. 


Boon Yi pulang melihat Tuan Putri sudah ada didepan kamar dan terlihat sangat marah. Tuan Putri langsung memarahi Boon Yi yang berani memakai bajunya. Boon Yi berlutut meminta maaf. Tuan Putri langsung meminta pelayan agar membawakan tongkat, si pelayan tak mau melakukanya.
“Cepat... lakukan seperti yang aku katakan” ucap Tuan Putri
“Aku akan membuatnya lagi. Tolong lepaskan aku, nona muda” kata Boon Yi memohon.
“Berani-beraninya kau menaruh nasib buruk pada baju pernikahanku?” kata Tuan Putri mendorong Boon Yi dengan kakinya lalu mengambil bara api dan memberikanya. 

Perayaan pun dimulai, pengantin wanita dipanggil untuk dipertemukan pada suaminya. Semua orang memuji kalau wanita itu sangat cantik dan terlihat hebat. Anak raja pun terlihat tak sabar melihat calon istri yang sudah dilihatnya semalam.
“Mempelai pria, menghadap kedepan... Mempelai perempuan dan laki-laki, berlutut.” Ucap Pegawai.
Si wanita pun berusaha untuk membungkuk memberikan hormat lalu duduk, tapi malah terjatuh. Si anak raja kaget ternyata itu wanita yang berbeda dengan yang dilihatnya semalam, lalu melihat sosok wanita yang memiliki bekas luka bakar didepanya.
“Wanita itu membawa gadis itu bersamanya setelah menikah. Tidak ada pelayan lain sepandai dan rajin seperti dia, dan dia tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan mempelai prianya.”
“Apa rumah pengantin pria hotel?” tanya Soo Ho.
“Rumah mempelai pria di dalam empat gerbang kota Hanyang. Tanah itu tempat pengasingannya.
Si pria sudah menunggu didepan gubuk dan Boon Yi pulang dengan wajah kelelahan. Si pria yang sudah dewasa pun melihat Boon Yi yang jatuh pingsan sambil memeluknya. 

“Sisa ceritanya akan dilanjutkan lain kali.” Kata Baek Hee. Soo Ho merasa Baek Hee membuatnya penasaran.

“Sekarang, biarkan aku mendengar apa ceritamu Bagaimana kau menyingkirkan bekas luka di wajahmu. Apa kau menyukai seseorang?” taya Baek Hee. 

Ketua Tim melihat semua anggotanya sudah berkumpul termasuk Hae Ra, mengatakan kalau sesuatu dari rapat dewan. Ia memberitahu Di antara semuanya yang memiliki 150.000 dolar dalam penjualan tiket, satu dengan review klien terbaik akan dikirim pada pelatihan ke Eropa selama sebulan. Semua menjerit bahagia mendengarkanya.
“Baiklah, tenanglah... Lalu apa yang penting? Penjualanmu..Pastikan pemesanan tidak dibatalkan. Keputusan akan dibuat oleh direktur utama. Kau tidak menyukainya, tapi kau tidak bisa menahannya. Tahan wajah lurus.” Kata ketua Tim.
“Semuanya bekerja sangat keras.” Ucap Direktur datang. Ketua Tim yang lainya baru sadar kalau ketua Tim sudah datang.
“Lakukan yang terbaik. Aku harap tim ini mendapatkannya.” Ucap Direktur. Ketua Tim mengatakan akan menjadi yang pertama.
“Jung Hae Ra... Akhir-akhir ini kau berpakaian cukup bagus. Apa kau mencoba untuk mendapatkan perhatian dari pria?” kata Direktur. Hae Ra mengaku kalau itu Tidak mungkin.
“Kau bilang pacarmu seorang jaksa penuntut.” Ucap Direktur
“Aku mencampakkan dia. Ternyata, jaksa tidak begitu baik. Apa Tidak ada yang buruk denganku? Seorang konsultan perjalanan sebagai pelaksana  profesional. Kami merencanakan kenangan berharga klien kami.” Kata Hae Ra.
“Dia benar. Ini bukan untuk semua orang.” Kata Joon Hee.
“Itulah yang membuatmu benar-benar menakjubkan. Kau membuat rute perjalanan baru, datang dengan produk baru, kemudian pergi keluar untuk memenangkan semua tawaran yang sulit. Dan kau adalah lemari pakaian terbaik di sini. Tidak semua orang bisa memakai dasi seperti itu.” Ucap Hae Ra berusaha memuji
“Nah, berusahalah yang keras, Aku akan menemuimu saat makan malam.” Kata Direktur lalu pergi. Ketua tim senang dengan Hae Ra yang bisa memuji Direktur mereka. Hae Ra mengaku sangat malu


Direktur membuka wine mengaku tidak mengharapkan steak, Joo Hee merasa Direktur pasti tahu bagaimana cara mengadakan pesta. Direktur tahu Manajer Park dari Tim MICE membawa anggur yang bagus dari perjalanan bisnisnya jadi Wine-lah yang terbaik untuk steak.
“Itu terlihat sangat mahal. Kami hanya akan minum soju” ucap Ketua Tim. Direktur menawarkan wine.
“Kau setidaknya harus memiliki selera.” Kata Direktur. Akhirnya Mereka pun minum wine bersama. 

Para pekerja berkumpul lagi di warung tenda, Joo Hee berkomentar  Anggur di gelas bekas terlalu kekanak-kanakan, Hae Ra pikir Ini konyol. Ketua Tim juga merasa kalau itu bodoh dan Sangat memalukan.
“Kau tidak dapat menggunakan kartu perusahaan jika tagihannya lebih dari 300 dolar, Kau bisa kan?” ucap Hae Ra
“Dia menggunakan kartu pribadinya, bukan kartu perusahaannya. Aku kira dia benar-benar ingin makan steak karena wine” kata Ketua Tim mengejek.
Tiba-tiba semua ponsel berbunyi tanda ada sebuah pesan yang masuk,  Direktur mengirimkan pesan “Ini 70 dolar dan 50 sen per orang. Kirimkan saja aku 70 dolar ke rekening bankku. Seoul Bank...” Semua langsung mengeluh mendengarnya.
“Apakah kita semua mendapatkan pesan yang sama?” ucap Ketua Tim tak percaya melihat semua yang memegang ponsel. 

Baek Hee mengemudikan mobilnya, mengingat saat bertemu dengan Soo Ho.
Flash Back
Soo Ho memperlihatkan foto Hae Ra yang memegang es krim, sambil bercerita Saat ini masih menyukainya sendiri dan sudah mencintainya sebelumnya lalu membencinya.
“Yang Maha Kuasa tidak melupakannya, Kau harus bahagia dalam kehidupan ini. Dengan begitu hukuman kami akan berakhir” Gumam Baek Hee seperti ingin mengakhiri hidupnya di dunia. 

Sharon terus menjahit tanpa henti, Cheol Mi dan pegawai lainya yang sudah lansia melihat dari jendel. Seorang nenek khawatir karena Sharon terus menjahit selama lima jam setelah menyuruhkunya keluar. Cheol Mi tahu kalau Sharon pingsan kemarin.
“Tapi hari ini, dia sudah sadar.” Pikir Cheol Mi
“Nenek buyutku mati setelah bertingkah seperti itu.” Kata si kakek. Si nenek pun berpikir yang sama.
“Orang mati saat mereka melakukan sesuatu yang tidak biasa.” Kata si nenek.
Cheol Mi mengetuk jendela meminta Sharon agar bisa berhenti, saat itu Baek Hee masuk ruangan. Sharon menatap sinis dan saat itu juga Baek Hee dengan telunjuknya mengajak untuk bicara. 

Sharon kesal dengan Baek Hee ingin tahu kemana saja karena tidak mengangkat teleponnya. Baek Hee bertanya Apa ada yang terjadi. Sharon menceritakan kalau ia terus mengalami mimpi buruk dan sangat mengerikan. Baek Hee bertanya Apa tentang mereka?
“Aku melihat hal-hal dari masa lalu dalam mimpiku” ucap Sharon.
“Apa Sebuah mimpi di mana kau membakarnya dan membunuh mereka berdua?”kata Baek Hee menyindir
“Jangan katakan seperti itu.” Tegas Sharon marah
“Itu memberitahumu untuk melakukan penebusan dosa.” Tegas Baek Hee seperti ingin menyadarkan Sharon.
“Aku..Aku membuat pakaiannya seperti gadis pelayan.” Kata Sharon
“Apa kau berasal dari Joseon? Caramu berbicara sangat kuno.” Ejek Baek Hee.
“Hatiku berdegup kencang. Aku berlari karena tidak tahan.” Ungkap Sharon.
Baek Hee mengajak agar Sharon mengemasi barangnya dan mengajak untuk pergi ke Beijing besok. Sharon bertanya kenapa harus pergi kesana.  Baek Hee pikir mereka pergi untuk mendapatkan pangsit dan melihat kembali ke masa lalu, Sampai mimpi buruknya hilang jadi mereka bisa bersenang-senang. Sharon seperti ragu akan pergi. 


Saat itu Cheol Mi mengangkat telp yang berdering, Soo Ho menelp memberitahu kalau bersama Hae Ra akhir pekan lalu. Cheol Mi terlihat bahagia karena bisa mendengar suara Soo Ho yang tampan dengan menyapanya.
“Bisakah aku memesan beberapa pakaian dari katalogmu? Aku ingin memberikannya sebagai hadiah.” Ucap Soo Ho
“Tentu saja.” Kata Cheol Mi. Soo Ho pikir bisa datang sekarang. Cheol Mi melihat Sharon bertemu dengan Baek Hee berpikir kalau Besok lebih baik.
“Lalu aku akan ke sana besok jam 2 siang.” Kata Soo Ho terlihat wajahnya yang penuh gairah.
Soo Ho keluar dari tempat Pandai besi dan masuk ke dalam mobilnya. Tuan Park  menurunkan kaca mobil yang terparkir di belakang mobil Soo Ho mengetahui kalau itu adalah akan dari Tuan Moon.
“Dia menaruh beberapa pemikirannya ke dalam gedung ini.” Ungkap Tuan Park curiga dengan yang dilakukan Soo Ho. 

Sharon sibuk merapihkan baju-bajunya dalam koper. Cheol Mi bertanya Kapan Baek Hee datang karena Seorang klien akan datang, yaitu   pria yang bersama Hae Ra. Sharon terdiam mendengarnya.
“Apa Yang bertubuh bagus?” tanya Sharon. Cheol Mi membenarkan kalau itu Sekitar satu jam dari sekarang
“Beritahu dia untuk datang nanti.” Ucap Sharon. Cheol Mi mengeluh Sharon yang melakukan perjalanan begitu tiba-tiba
“Bawakan aku beberapa obat pencernaan dan pembalut luka.” Perintah Sharon.
“Terserahlah. Kau menyebalkan” kata Cheol Mi kesal tapi karena tatapan Sharon pun menanyakan apakah perlu obat pencahar. Sharon menganguk. 

Saat itu suasana tiba-tiba berubah. Soo Ho masuk ruangan mengaku lebih awal karena akan ada seseorang yang datang kerumahnya, menyapa Sharon mengetahui kalau perancang bajunya. Sharon terdiam, sambil bergumam saat mendengar Suara Soo Ho berbicara
“Suara itu tetap sama meski kau dilahirkan kembali.” Gumam Sharon
“Aku minta maaf. Aku akan menunggu jika kau sibuk. “ kata Soo Ho melihat sikap Sharon
“Akulah satu-satunya yang sudah menunggu” ucap Sharon dengan mata berkaca-kaca. Soo Ho pun mengucapkan Terima kasih. Sharon pun menyuruh duduk.
“Tidak, aku tidak bisa tinggal lama karena pekerjaan. Aku pikir ... buku ini. Aku ingin memberikan beberapa hadiah baju.” Ucap Soo Ho menunjuk model pakaian yang ada dibuku.
“Pakaian rak tidak...” kata Sharon yang terus menatap Soo Ho. Soo Ho mengaku sudah tahu.
“Ini telah dipesan toko kelas atas lebih dahulu.” Kata Soo Ho seperti tak peduli. Sharon mengaku butuh ukuran pemakainya.
“Kau tahu ukuran Jang Hae Ra ,  kan? Tolong buatkan baju Hae Ra dengan kain terbaik.  Aku yang akan membayar pakaian hari ini.” Kata Soo Ho
“Tidak perlu, Mohon membayarnya jika sudah siap Begitulah caraku menjalankan tokoku.” Kata Sharon 
“Tolong lakukan pekerjaan yang bagus. Jika kau perlu menghubungiku maka hubungi nomor ini” ucap Soo Ho mempelihatkan kartu nama. Sharon melihat kartu nama “Pandai besi”
“Lain kali, Aku akan membuatkan kaos untukmu.” Ucap Sharon. Soo Ho pikir tak perlu.
“Aku akan membuat baju ini, Jika kau membiarkanku membuat bajumu,” kata Sharon.
Soo Ho pun setuju akan mengambilnya. Sharon mengucapkan Terima kasih dan akan menghubunginya. Soo Ho pikir akan pergi sekarang karena melihat Sharon yang sibuk
“Kau tidak.... ingat aku... Sayang” gumam Sharon melihat suaminya yang sudah meninggal.
“Tolong rahasiakan ini dari Hae Ra.” Kata Soo Ho sebelum pergi. 



Soo Ho membawakan bunga yang ditaru dalam vas, Bibi Lee heran karena yang makan hanya mereka berlima tapi malah menyewa staf kuliner hotel. Soo Ho pikir Mereka teman Hae Ra jadi ingin memberikan yang terbaik, lalu Bibi Lee berpikir untuk menyapa mereka di pintu masuk.
“Mereka belum sampai ‘kan.” Kata. Hae Ra datang terburu-buru dengan sebuah tas yaitu sekotak lilin.
“Aku tidak menyiapkan lilin.” Ucap Soo Ho. Hae Ra tahu karena idenya dan lilin harganya 200 dolar.
“Sekarang hanya ada 600 dolar sewa yang tersisa.” Kata Hae Ra memasang lilin pada temanya.
“Menyewa tempat lilin berharga 300 dollar.” Balas Soo Ho. Hae Ra kaget mendengarnya.
“Aku tidak akan menggunakan tempat lilin itu.” Ucap Hae Ra akan melepaskan lilinya. Soo Ho tersenyum melihatnya.
“Itu akan menjadi 150 dolar untuk lilinnya.” Kata Soo Ho. Hae Ra hanya bisa melonggo. 

Bibi Lee datang mengajak Gon dan Young Mi masuk dengan memperlihatkan kalau mereka yang membawakan makanan juga untuk mereka.  Mereka pun saling menyapa satu sama lain.  Soo Ho pun memperkenalkan dirinya, denga nama Moon Soo Ho. Begitu juga Gon, seperti tak ada kaget bertemu dengan Soo Ho.  Young Mi pun mengaku sebagai tunangan Gon.
“Kami semua teman sejak kecil karena orang tua kita saling mengenal. “ ucap Young Mi
“Bagaimana kau bisa mengenal Hae Ra? Apa kau pertama kali menemuinya, kapan kau membeli hanok itu?” tanya Gon
“Tidak... Aku bertemu dengannya di Slovenia sebagai heug gisa-nya” kata Soo Ho. Semua melotot kaget mendengarnya. 


Akhirnya mereka makan malam bersama sambil minum wine, Young Mi terlihat bahagia. Bibi Lee sudah mendengar mengalami semua jenis insiden saat Soo Ho menjalankan bisnis Tapi menurutnya cerita tentang pria Slovenia itu sangat lucu.
“Sangat menarik bagaimana kau lulus dari sekolah kedokteran dan menjadi pengusaha.” Kata Young Mi
“Aku datang dengan ide sederhana, tapi aku tidak tahu akan berhasil. Presiden bisnis peralatan medis, Masih mengirimiku hadiah setiap Natal. Dia pikir harus terus mengekspresikan ucapan terima kasihnya untuk keberuntungannya selanjutnya. Jadi aku katakan padanya untuk terus melakukannya lebih sering.” Cerita Soo Ho. Semua tertawa kecuali Gon.
“Apa kau pindah ke AS... kapan kau SMA?” tanya Gon penasaran. Soo Ho mengaku Sekolah berafiliasi
“Tiba-tiba terpilih sebagai siswa beasiswa. Aku merasa beruntung juga.” Cerita Soo Ho
“Kau pergi ke sana saat masih mud dan menjadi sukses ini. Jadi kau pasti pernah diwawancarai beberapa kali.” Ucap Gon
“Aku sebenarnya terkenal, Aku masuk di surat kabar sejak di SMA.” Kata Soo Hoo. Young Mi ingin tahu Untuk apa.
“Ketika aku masih muda, Aku memiliki bekas luka bakar yang sangat besar di pipi kiriku. Ayah dari teman sekolahku adalah seorang profesor sebuah sekolah kedokteran. Dia membantuku menjalani operasi. Setelah tiga kali operasi, bekas luka itu benar-benar hilang.” Cerita Soo Ho
“Mereka bilang "Anak yatim pintar Bertemu keajaiban cinta." Semua surat kabar membicarakannya. Dan Aku bisa pergi ke sekolah kedokteran karena itu. “ cerita Soo Ho yang membuat Hae Ra sedikit terkejut.
“Mereka tidak memiliki sekolah kedokteran sebagai sarjana-kan di AS?” pikir Gon berpikir Soo Ho berbohong.
“Aku mengambil sarjana sebagai mahasiswa jurusan kimia. Ayahku juga mendapat gelar PhD di bidang kimia. Suatu hari, dia meninggal dalam kebakaran misterius. Aku mendapatkan luka bakarku.” Kata Soo Hoo
“Kenapa kau datang ke Korea? Kau bisa menjalankan bisnismu di sana.” Ucap Gon memancing
“Ini untuk melihat Jung Hae Ra. Setelah ayahku meninggal, Ayah Hae Ra lah... yang menjaga anak yatim ini dengan bekas luka di wajahnya. Aku datang untuk membalas kebaikannya.” Kata Soo Ho
Hae Ra benar-benar kaget, Gon bertanya apakah Hae Ra tahu akan hal itu. Hae Ra mengelengkan kepala.  Soo Ho pikir Hae Ra itu menggunakannya sebagai alat yang berguna, kalau ayah Hae Ra ingin dilihat sebagai pengusaha yang murah hati.
“Dia menggunakanku sebagai alat agar putrinya bisa merasakan kebahagiaan.” Ungkap Soo Ho sengaja menyindir. Hae Ra memilih untuk pergi. Gon akan mengejarnya, tapi Soo Ho menahanya.
“Park Gon... Kau di sini sebagai tamuku hari ini... Jadi Silahkan duduk.” Ucap Soo Ho. Gon menatap sinis pada Soo Ho. 


Hae Ra keluar dari rumah dengan wajah menahan kesal, Soo Ho menarik tangan Hae Ra untuk masuk. Hae Ra menhempaskan tanganya,  telihat kesal karena Soo Ho yang tidak memberitahunya. Soo Ho mengaku kalau ingin Hae Ra yang mengenalinya.
“Apa kau mendengar apa yang dikatakan ayahku hari itu? Apa karena itu kau  menghilang tanpa mengatakan apapun?” ucap Hae Ra dengan nada marah
“Benar. Aku mengutukmu” kata Soo Ho 

Flash Back
Hae Ra dalam kamar melihat sebuah mainan, menceritakan ayahnya mengatakan ada pasar Natal, Di sebelah hotelnya saat menginap selama perjalanan bisnis dan disana mereka menjual hiasan Natal, yang luar biasa. Soo Ho hanya menganguk.
“Dia juga pergi ke tempat ini.,, Oppa, Ayo kita kunjungi tempat ini nanti, Jika perang pecah dan kita berpisah, mari bertemu disini saat natal” kata Hae Ra memperlihatkan post card dengan gambar kastil.

“Kenapa perang pecah?.. Tapi Sudah duduklah disini, jadi kita bisa mulai belajar.” Ucap Soo Ho mulai memainkan wayang putri dan seorang ksatria.
“Jadi dia menyelinap pergi dan menemukan pasangan di kandang kuda istana.” Kata Soo Ho
“ Oh, ksatria-ku.. Aku tidak bisa melihat bekas luka di bayanganmu... Ksatria-ku, aku akan menikah denganmu.” Ungkap Hae Ra.
“Hei, baca dialognya dengan benar... Kau belajar bahasa Inggris-kan, jangan bercanda.” kata Soo Ho marah. Hae Ra seperti tak peduli memilih untuk memainkan bayangan seperti sedang berciuman. 


Soo Ho berjalan pulang dengan membawa buket bunga yang diambil dari ilalang, tapi saat itu mendengar suara Tuan Jung yang memarahi Hae Ra  didepan rumah.
“Aku membawanya masuk bukan untuk bermain denganmu di rumah. Apa Kau pikir aku membawanya masuk... untuk bermain-main bersamamu dengan mematikan lampu?” kata Tuan Jung marah
“Lihatlah anak yatim itu dengan bekas luka di wajahnya dan menyadari betapa bahagianya kau. Bila kau tidak ingin belajar dan saat kau terganggu oleh omelan orang tua mu, lihatlah si brengsek yang telah ditinggalkan, Apa Kau mengerti?” kata Tuan Jung. Soo Ho yang sedih pun memilih untuk pergi dengan wajah sedih. 

“Kau berdiri di sana tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Aku ingin kau menjadi seperti aku. Aku berharap kau akan menjadi sepertiku... dan kau akan kehilangan segalanya” akui Soo Ho
Soo Ho menangis dan marah di padang ilalang, Baek Hee mengenai Soo Ho sebagai Jenius matematika yang tinggal di rumah berlantai dua. Soo Ho  yang menangis mengaku tidak tinggal di sana. Baek Hee tahu datang ke sini pada akhir pekan dan liburan.
“Aku mengantar jus hijau, jadi tahu itu... Jangan menangis.. Kau pasti akan berhasil. Aku bisa memprediksi masa depan. Tidak ada yang menghalangimu. Kau akan mendapatkan semua yang kau inginkan.” Ucap Baek Hee. 

Hae Ra bertanya Apa Soo Ho sekarang senang dan puas untuk melihat dirinya yang miskin dan tidak berharga. Soo Ho mengaku kalau patah hati. Hae Ra yang marah mengumpat menyuruh Soo Ho diam saja.
“Aku mengkhawatirkanmu... Aku merindukanmu... Aku menunggumu di sana setiap tahun... Dari bulan November sampai Natal... Di kastil itu selama lebih dari 10 tahun.” Ucap Soo Ho.
“Baiklah... Selamat atas kesuksesanmu... Selamat juga bahwa kutukanmu menjadi kenyataan.” Kata Hae Ra sinis
“Aku di sini untuk memberi mu tiga hadiah. Salah satunya adalah rumah lamamu... Aku akan mencari dan mengembalikannya kepadamu. Dikehidupan lain di mana kau bisa percaya diri dan melakukan semua yang kau mau. Aku akan memberimu itu” Akui Soo Ho
“Aku memiliki seseorang yang dicintai. Seseorang yang masih belum aku selesaikan.” Ungkap Hae Ra
“Kau masih saja terlihat jelas saat kau berbohong.” Komentar Soo Ho
“Jangan bicara tentang masa lalu.. Aku bukan Hae Ra yang dulu. Aku akan mencari tempat tinggal dan pindah dalam sebulan.Aku harap tidak melihatmu sampai saat itu. Kau itu kaya, jadi tinggallah di hotel.” Kata Hae Ra marah
Soo Ho mengeluh Hae Ra yang mengatakan hal itu.  Hae Ra sadar Soo Ho membawa orang yang sangat miskin di rumah besarnya jadi pasti merasa sangat baik dan bangga. Soo Ho membenarkan karena Itu akan menjadi kebohongan jika bilang  kalautidak merasa bangga.
“Si anak malang menjadi sangat sukses. Ayo dan banggakan lagi. Rumah, kehidupan yang kaya, dan apapun yang lainnya?” kata Hae Ra
“Apa aku berutang padamu hari itu?” kata Soo Ho lalu mendekat mencium Hae Ra. Hae Ra sempat kaget tapi akhirnya memejamkan matanya.
Bersambung ke episode 5

 PS; yang udah baca blog / tulisan aku.. Tolong minta follow account IG aku yah dyahdeedee09  & Twitter @dyahdeedee09  jadi biar makin semangat nulisnya. Kamsahamnida.

FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09 


Sinopsis Black Knight Episode 4 Part 1

PS : All images credit and content copyright : KBS
Hae Ra masuk bersama Soo Ho menyapa Cheol Mi sambil bertanya diaman Sharon. Cheol Mi menatap Soo Ho lalu bergegas masuk meminta mereka menunggu. Soo Ho menatap pakaian Cheol Mi yang terlihat norak.
“Apa itu desain pakaian pria mereka? “ tanya Soo Ho heran
“Kau harus mencobanya. Aku yakin akan terlihat bagus.” Ejek Hae Ra 

Cheol Mi masuk ruangan memberitahu Sharon kalau ada tamu, tapi Sharon terlihat tertidur. Hae Ra akhirnya masuk ke dalam ruangan melihat Sharon yang tertidur.
“Dia bilang agak dingin di sini dan hampir pingsan.” Ucap Cheol Min  menyuruh Sharon agar bangun.
“Jangan membangunkannya. Aku datang untuk memberikan Amplop ini padanya.” Kata Hae Ra menaruh amplop diatas meja.
Cheol Mi mengajak Hae Ra agar minum teh dulu.  Hae Ra menolak , Cheol Mi yakin kalau Sharon akan bangun saat mereka minum teh. Hae Ra pun didorong keluar dari ruangan. 

Hae  Ra melihat baju-baju hasil design Sharon di buku kalau menurutnya terlihat hebat  dengan Pakaian wanitanya terlihat bagus. Soo Ho merasa heran dengan pakaian prianya. Hae Ra menyuruh Soo Ho menjaga bicara karena akan mendengarnya.
“Lalu aku harus bicara seperti ini?” ucap Soo Ho tiba-tiba mendekat seperti ingin mencium Hae Ra. Wajah mereka sangat berdekatan.
“Kau sepertinya tidak memiliki pori-pori yang besar.” Ucap Hae Ra seperti menutupi rasa canggungnya.
“Menutup matamu, biasanya itulah jawaban yang benar.” Ejek Soo Ho lalu menjauh.
“Aku sangat menyukai gaya ini dan juga menyukai warna ini. Bagaimana dia tampil dengan desain seperti ini? Ini juga sangat cantik Dan warnanya sangat bagus.” Ucap Hae Ra terus mengoceh melihat buku design milik Sharon.
Soo Ho tak bisa menahan diri terus menatap Hae Ra yang duduk disampingnya. Cheol Mi pun sedari tadi hanya melihat keduanya yang tampak serasi. 


Flash Back
Sebuah bara api dengan besi dibawa oleh Sharon keluar dari ruangan. Boon Yi di dorong begitu saja dan langsung terjatuh. Di tangan Sharon sudah ada besi panas dan siap diberikanya. Boon Yi memohon agar tak melakukanya. Beberapa orang yang datang pun memohon agar Sharon tak melakukanya.
Sharon seperti bermimpi buruk dan terlihat ketakutan, kuku jarinya memegang kursi seperti membuat goresan. Di ruangan tengah,  Hae Ra dan Soo Ho sedang melihat design yang dibuat oleh Sharon.
Flash Back
Boon Yi dibawa masuk ke ruangan Sharon, dan langsung di buka bajunya begitu saja. Boon Yi binggung sambil menolak kalau tidak bisa melakukannya. Tapi setelah itu Boon Yi mengunakan pakaian yang terlihat sangat bagus dibanding bajunya yang dulu.
“Kau selalu ingin memakainya kan... Kau bisa memakainya... dan mati menggantikanku.” Ucap Sharon memegang wajah Boon Yi dengan tatapan sinis.
Sharon terbangun dengan wajah kaget, seperti setelah bermimpi buruk, lalu berusaha berdiri dengan menahan tanganya di depan jendela sambil mengatur nafasnya. 


Tuan Park memainkan olahraga panah, tapi hasilnya meleset. Gon menemui ayahnya bertanya Kapan akan selesai. Tuan Park balik bertanya kenapa anaknya datang pada jam segini. Gon memberitahu Banyak orang telah mengajukan keluhan.
“Orang akan mengatakan bahwa kau itu tuan tanah yang jahat.” Keluh Gon merasa tak suka dengan cara hidup ayahnya.
“Aku bukan sedang melakukan amal.” Tegas Tuan Park tak peduli.
“Nilai bangunan kita meningkat karena kafe dan toko roti itu sangat bagus. Kau tidak bisa menaikkan uang sewa mereka 3 sampai 4 kali lipat. Dengan begitu Kau praktis menendang mereka keluar.” Kata Gon menasehati ayahnya.
“Aku lebih suka memiliki bisnis waralaba berafiliasi asing di sana. “ tegas Tuan Park
“Aku tidak berpikir kau menyadari bahwa waktu akan berubah. Di antara peserta proyek yang dipegang oleh kota Seoul, ada perusahaan yang sepertinya menantang kita.” Jelas Gon
Tuan Park bertanya apakah ini yang dimiliki orang asing itu. Gon membenarkan dengan memberitahu pria ini sedang membangun dan hanya membeli bangunan di lingkungan mereka bahkan mengatakan bahwa tidak akan menaikkan uang sewa tersebut selama 5 tahun, dan menjamin dengan lima tahun masa sewa.
“Apa Kau tidak mengenal pengemis ini?” ucap Tuan Park melihat foto Soo Ho yang sudah dikenalnya. Gon terlihat bingung.
“Dia anak yang dibawa keluarga Hae Ra... Moon Soo Ho.” Kata Tuan Park
“Apa maksudmu Putra Dr. Moon? Aku meragukan itu.” Pikir Gon
“Aku bisa tahu hanya dengan melihatnya.” Kata Tuan Park yakin
“Aku tidak melihat bekas luka bakar di wajahnya.” Kata Gon heran.
“Suatu hari kudengar dia tiba-tiba menghilang. Lalu Bagaimana dia bisa menghasilkan banyak uang?” kata Tuan Park seperti meremehkan.
“Menurutku, dia terlihat sangat berbeda. Dia hanya memiliki nama yang sama.” Pikir Gon
“Kau harus membicarakannya setelah melakukan penyelidikan.” Kata Tuan Park dengan tatapan menerawang. Gon pun meninggalkan ayahnya. 



Flash Back
Soo Ho berbaring dengan balutan perban dan juga salep kuning untuk mendingikan luka bakar. Tuan Jung ikut menemaninya bersama dengan Tuan Park. Dokter bisa bisa ngucap syukur karena Soo Ho masih hidup Tapi akan memiliki bekas luka yang sangat besar.
“Saluran napasnya rusak karena menghirup asap.” Jelas Dokter
“Tolong selamatkan dia, sembuhkan secara total... Tolong selamatkan dia” pinta Tuan Jung khawatir.
“Aku tidak percaya tragedi mendadak seperti ini. Aku merasa sangat buruk padanya. Berapa lama dia akan sembuh?” tanya Tuan Park berpura-pura panik
“Sekitar satu atau dua bulan.” Ucap Dokter. Soo Ho membuka mata menatap sinis pada Tuan Park. Tuan Park seperti ketakutan memilih mengalihkan pandanganya.
Tuan Park kembali melepaskan anak panahnya, jatuh begitu saja di tanah.
“Moon Soo Ho.... Anak itu masih hidup.” Ucap Tuan Park terlihat tak percaya. 


Bibi Lee mengajak Young Mi masuk dengan wajah bangga memperlihatkan dapur dan juga indoor garden. Young Mi melihat melihat rumah yang ditemi oleh Hae Ra sekarang seperti ini. Bibi Lee duduk di sofa ingin tahu pendapat Young Mi kalau tempat ini mengagumkan, dengan rasa bangga, memberitahu kalau Sofanya dari Italia.
“Apa yang dia lakukan? Siapa ayahnya?” tanya Young Mi penasaran.
“Dia pria mandiri. Dia tidak mempunyai orang tua kayaseperti anak yang tidak kompeten sepertimu.” Kata Bii Lee banga.
“Astaga, Bibi Lee.. Aku tidak kompeten. Aku adalah seorang merchandiser di sebuah perusahaan besar, dan tokoku adalah yang ter-hots di Cheongdam.” Kata Young Mi bangga
“Baiklah. Lupakan saja.. Kau bisa lihat-lihat dapurnya. Dapurnya terlihat sangat bagus juga.”ucap Bibi Lee mengajak Young Mi pergi.  Young Mi pikir memang cukup besar.

Saat itu Hae Ra baru datang mengeluh dengan Young Mi yang datang kerumah Soo Ho.  Young Mi mengaku kalau bertanya-tanya ke mana Hae Ra pindah. Bibi Lee menceritakan Young Mi yang mengira mereka menjadi tunawisma jadi menyuruhnya untuk datang.
“Kami berada di sini untuk sementara. Kau tidak bisa mengunjungi kami seperti ini... Ayo pergi. “ kata Hae Ra menarik Young Mi pergi
“Itu tidak perlu, Kau dapat berkunjung kapan pun kau mau.” Kata Soo Ho yang berdiri sedari tadi belakang Hae Ra.
“Apa kau pemiliknya?” tanya Hae Ra menyapanya. Soo Ho pun balik bertanya apakah Soo Ho temannya Hae Ra.  Young Mi membenarkan dengan memuji Soo Ho  terlihat tampan.
“Terima kasih karena bersikap murah hati kepada Hae Ra dan bibinya.” Ucap Young Mi membungkuk. Hae Ra tak suka dengan siap Young Mi mengajak pergi saja.
“Omong-omong, kenapa kalian berdua pulang bersama?” tanya Young Mi curiga.
“Dia harus menjalankan tugas, dan aku pergi bersamanya.” Ucap Soo Ho. Young Mi makin ingin tahu alasanya.
“Dia tidak mengenal Seoul dengan baik dan sudah lama tinggal di luar negeri. Apa Kau senang sekarang?” kata Hae Ra kesal.
Young Mi mengaku sudah mengetahuinya dan ingin tahu luar negerinya dimana dan akhirnya mengajak bergabung di pertemuan yaitu Pertemuan pasangan yang menghancurkan Hae Ra dan akan mulai lagi hari Kamis ini. Soo Ho setuju kalau akan pergi sama-sama Hae Ra langsung menolak.
“Haruskah aku membawanya ke pertemuan itu?” kata Bibi Lee. Young Mi mengeluh dengan ucapan Bibi Lee.  Bibi Lee mengaku hanya bercanda.
“Kau sebaiknya pergi, karena lebih baik membuat beberapa koneksi” kata Bibi Lee
“Jangan membuat janji pada hari Kamis. Sampai jumpa” kata Soo Ho berjalan pergi. Hae Ra yang kesal mengeluh Young Mi yang datang mengikuti Soo Ho 

Soo Ho melihat Hae Ra yang mengikutinya ke ruangan dress room mengeluh kalau  memakai jas untuk terlihat menarik, tapi tidak nyaman. Hae Ra heran dengan Soo Ho yang mengabaikan apa yang dikatakan tidak mau pergi.
“Ayolah pergi bersama. Aku tidak akan membuatmu berkecil hati.” Ucap Soo Ho
“Apa aku terlihat berkecil hati?” tanya Hae Ra. Soo Ho membenarkan. Hae Ra mengeluh kalau itu sangat menyakitkan lalu mendorong Soo Ho dengan kesal.

“Kau melihat rendah padaku karena aku seorang penyewa. Aku akan membayar sewanya. Berapa sewanya?” tanya Hae Ra tak mau direndahkan.
“2 kamar, 2 kamar mandi, dapur bersama, dan ruang pakaian. Termasuk biaya perawatannya, itu 3.000 per bulan dan Itu dengan diskon 50 persen.” Ucap Soo Hoo yang membuat Hae Ra terkejut.
“Biaya untuk Namsan Tour... 1.000 dolar” kata Hae Ra. Soo Ho mengeluh kalauItu terlalu mahal.
“Tidak, bukan itu... Kau tidak akan pernah melihat toko penjahit itu tanpaku” ucap Soo Ho
“Aku juga memberikan diskon 50 persen.” Ucap Hae Ra membela diri
“Berapa banyak yang diperlukan untuk pergi  ke pertemuan denganmu?” tanya Soo Ho
“Aku bilang tidak akan pergi.” Tegas Hae Ra 

Young Mi dan Bibi Lee mengumping didepan pintu. Mereka ingin tahu apa yang dilakukan keduanya dalam dress room. Young Mi mengaku berharap  mereka akan saling memukul. Saat itu pintu terbuka dan Soo Ho akan keluar ruangan. Bibi Lee berpura-pura sedang membawa Young Mi berjalan-jalan memberitahu ruang pakaian.
“Hae Ra tidak mau menghadiri pertemuan tersebut. Bagaimana dengan mengundang temanmu ke tempatku?” ucap Soo Ho
“Itu ide yang bagus.” Kata Young Mi bahagia. Hae Ra keluar ruangan dengan mata melotot kaget.
“Kau tidak harus pergi. Tapi Aku mengundang mereka” kata Soo Ho
“Aku akan kerja lembur hari itu. Selamat bersenang-senang.” Ucap Hae Ra Ra lalu pergi. Young Mi menahanya kalau Hae Ra harus tetap ada dirumah.
“Karena hanya kau dan pacarmu yang harus datang. Kau tidak akan terlalu mengganggunya.” Ucap Bibi Lee
“Itu akan menyenangkan juga. Hanya Gon dan aku yang akan datang. Tidak apa-apa, kan?” kata Young Mi
“1.200 dolar untuk memberikan persetujuan.” Ucap Hae Ra. Soo Ho mengeluh kalau ini pemerasan.
“Kau mengundang orang ke rumah bersama.” Tegas Hae Ra. Soo Ho pikir Itu permainan kotor
“Baik. 1.200 dolar” ucap Soo Ho. Hae Ra berkata kalau tersisa 800 dolar lagi.
“Aku akan menemuimu hari Kamis. Sampai jumpa” ucap Soo Ho berjalan pergi. Bibi Lee bertanya apa maksud keponakanya. Hae Ra pikir bibinya tidak perlu tahu. Bibi Lee dan Young Mi penasaran ingin tahu. 


Sharon kembali duduk di meja kerjanya melihat sebuah amplop, lalu isinya lembaran uang dan foto Hae Ra depan Sharon dengan ia yang menatap dar jendela. Ia lalu membaca surat yang ditulis Hae Ra.
“Ini  uangnya tidak banyak, tapi untuk pakaiannya. Aku tahu itu hampir tidak menutupi biayanya, Aku tanpa malu-malu mengambil pakaian, bukannya menolaknya karena kekuatan aneh yang mereka berikan padaku.”
Hae Ra sangat berhati-hati dengan pakaian yang diberikan Sharon menyentrikanya, mengunakan setiap ada pekerjaanya. Disaat itu juga semua orang seperti terpesona dengan presentasinya, ketika pergi ke menghadari pesan dengan pakaian Sharon, Hae Ra menjadi pusat perhatian.
“Mereka menarikku masuk dan mengatakan bahwa mereka adalah milikku sejak awal. Mereka menghibur ku dan dan memberi ku kepercayaan diri. Aku bersinar di dunia yang tidak bisa kuakui. Hidup yang bisa aku nantikan alih-alih hanya memilah-milahnya.Aku ingin menjadi orang yang serasi dengan pakaiannya. Aku sangat berharap untuk menjadi orang yang sesuai dengan pakaian ini.”
“Betapa gadis yang malang.” Ungkap Sharon membaca surat Hae Ra.
“Foto di amplop itu diambil pada hari mantel itu dibuat. Kau belum berumur sama sekali. Apa rahasiamu?”
“Bahkan jika ku katakan, kau tidak akan mempercayainya.” Jawab Sharon.
Cheol Mi masuk memberitahu akan pulang  dan bertemu lagi besok. Sharon bertanya kapan Hae Ra datang ke ruangan.  Cheol Mi mengatakan Saat Sharon sedang tidur Dengan pria yang baik. Mata Sharon langsung melotot tak percaya
“Dia benar-benar tampan Dan juga bergaya.” Ucap Cheol Mi yang juga terkesima.
“Apa Fisiknya bagus?” tanya Sharon. Cheol Mi membenarkan.
“Apa dia membawanya untuk mengenalkannya padaku?” ucap Sharon percaya dirin. Cheol Mi binggung. 


Ji Hoon melihat posternya dengan bertuliskan (Pelatih Pribadi Tommy) lalu pelatihnya datang menyapa Ji Hoon yang masih melonggo. Ji Hoon bertanya apakah itu gambarnya dan Bagaimana bisa begitu. Pelatih mengatakan tidak bisa menggantungkan foto Ji Hoon begitu saja jadi mengedit itu sedikit.
“Apa yang kau pikirkan? Sebaiknya kau mulai bekerja dengan tekun. Mengerti?” ucap pelatih
“Terima kasih telah melakukannya” kata Ji Hoon lalu mengangkat lenganya seperti sangat berbeda dengan aslinya. 

Ji Hoon menyapa semua orang yang sedang berolahraga dengan memperkenalkan diri pelatih baru, Tommy dan menyarankan seoran pria agar bisa menambah berat badan. Disisi lain, Young Mi dan Gon sedang berlatih bersama
“Aku mengatakan yang sebenarnya. Pemiliknya hebat.”ucap Young Mi bangga
“Aku tahu dia seorang penipu. Apa yang salah dengan Hae Ra?” kata Gon heran.
“Aku tidak berpikir dia penipu.” Kata Young Mi yakin. Gon heran dengan Hae Ra yang bisa tinggal dengan orang asing
“Orang itu berbeda. Kau harus memeriksanya pada hari Kamis ini.” Ucap Young Mi
“Dari mana dia lulus? Lalu Di negara mana dia tinggal?” kata Gon. Young Mi melihat sikap Gon berpikir kalau pasti sangat gelisah.
“Apa kau takut Hae Ra akan tertipu lagi Atau apa kau khawatir dia akan jatuh cinta? “ ucap Young Mi. Gon mengeluh dengan nada kesal agar Young Mi tak memulai pertengkaran lagi.
Ji Hoon ingin menyapa keduanya, tapi Gon lebih dulu pergi dan Young Mi mengikutinya. Ji Hoon pun hanya bisa tertawa berpikir tidak suka dengan namanya Tommy, lalu tertawa mengumpat. 


Ji Hoon akhirnya melakukan sit up sambil mengeluh dua anak tahi kasar... hanya karena mereka kaya dan Tidak ada yang seperti Hae Ra. Saat itu tiba-tiba Sharon datang dan langsung berdiri di depan Ji Hoon, Ji Hoon yang kaget langsung menyapanya.  Sharon langsung mendekatkan wajahnya membuat Ji Hoon sedikit takut.
Keduanya duduk bersama. Ji Hoon memberikan minuman memberitahu Manager sedang melakukan konsultasi dan akan segera datang, jadi meminta agar tunggu sebentar, lalu memperkenalkan diri sebagai Pelatih Tommy.

“Aku spesialis dalam pembentukan otot yang kecil. Jika kau memilihku sebagai pelatihmu, Kau akan memiliki bisep yang bagus dan inti dalam tiga minggu.” Ucap Ji Hoon mempromosikan dirinya.
“Hanya di film yang kau lihat... Seseorang dilahirkan kembali dengan penampilan yang sama.” Kata Sharon. Ji Hoon terlihat binggung.
“Kau tidak mengingatku,kan?” kata Sharon. Ji Hoon mengaku tidak mengerti apa yang dikatakan Sharon.
“Aku Jaksa Choi Ji Hoon... Aku minta maaf. Aku tidak bisa berbicara tentang penyelidikan. Aku sama sekali tidak ingat.” Ungkap Ji Hoon binggung merasa Sharon sangat menakutkan. 
“Kau tahu Sharon Tailor, kan? Jadi Mampirlah... Jika kau berada di daerah Myeong-dong atau Namsan. Aku akan menjamu-mu untuk minum teh.” Kata Sharon lalu beranjak pergi. Ji Hoon binggung apa maksudnya. Penjahit Sharon. 


Hae Ra mencuci rambutnya bagian atas sambil mengelu kalau Seharusnya bangun saat alarm berbunyi, lalu pesan dari Soo Ho masuk “Aku perlu bicara denganmu sekarang.” Hae Ra pun makin mengeluh karena harus sekarang. Soo Ho sudah menunggu didepan rumah melihat Hae Ra yan bergegas keluar dari  rumah.
“Apa yang kau inginkan?” tanya Hae Ra terburu-buru
“Mengapa hanya kepala bagian atas yang basah?” ucap Soo Ho. Hae Ra mengaku sangat sibuk jadi ingin tahu apa yang ingin dikatakan Soo Ho.
“Aku akan sangat terlambat hari ini. karena harus pergi memeriksa situs hotel dan mewawancarai pelamar sewa.” Kata Soo Ho. Hae Ra bertanya lalu kenapa .
“Jadi.... Aku hanya berpikir kau akan penasaran.” Ucap Soo Ho seperti hanya ingin memberikan kabar.
“Aku sudah bilang. Aku tidak cukup naif. untuk jadi bersemangat hanya karena Orang kaya dan keren baik bagiku.” Tegas Hae Ra
“Kau tidak mengatakan keren waktu terakhir kali. Mungkin kau berpikir aku keren.” Kata Soo Ho. Hae Ra tak mengubrisnya memilih untuk pamit pergi.
“Kau tidak perlu bersembunyi.” Ungkap Soo Ho. Hae Ra pikir tidak menyembunyikan apapun.
“Aku tahu kau tidak membenciku.” Kata Soo Ho yakin
“Apa kepercayaan dirimu berasal dari kekayaanmu? Itu mengganggu.” Tegas Hae Ra. Soo Ho tiba-tiba mendekatkan wajahnya yang membuat Hae Ra sedikit gugup.
“Ini dari ketulusanku. Jadi.. Sampai jumpa” kata Soo Ho seperti ingin Hae Ra bisa melihat dari sorot matanya. Hae Ra berteriak marah merlihat Soo Ho yang akan masuk rumah.
“Jangan lupa bahwa aku lebih tua darimu.” Tegas Soo Ho yang mengingatkan kenanganya denga Hae Ra.
Flash Back
Hae Ra terlihat sangat marah berteriak memanggil Soo Ho, lalu Soo Ho membalikan badan dengan mengatakan “Jangan lupa bahwa aku lebih tua darimu.” 

Soo Ho sudah ada disebuah tempat yang ditutupi salju, berbicara pada Tuan Han kalau mengetahui pemilik tanah itu wanita. Tuan Han membenarkan kalau wanita yang sangat unik dan menarik, karena akan menjual tanahnya jika memiliki perasaan yang baik.
“Jika tidak, maka dia tidak akan menjual tanahnya.” Kata Tuan Han. Soo Ho mengaku kalau itu makin membuatnya gugup.
Saat itu Baek Hee datang dengan baju hijaunya, keduanya pun bertemudan saling menyapa. Baek Hee pikir datang terlambat, tapi Soo Ho mengaku kalau ia  yang datang lebih awal.
“Aku pemilik tanahnya, Jang Baek Hee.” Ucap Bae Hee.
“Senang bertemu denganmu. Aku Moon Soo Ho.” Kata Soo Ho dengan saling berjabat tangan
“Tuan melakukan segala hal dengan cermat, jadi kita sebenarnya tidak harus bertemu. Tapi, Aku ingin bertemu denganmu sebelum menandatangani kontrak.”jelas Baek Hee
“Kita belum pernah bertemu sebelumnya kan?” kata Soo Ho. Baek Hee mengaku tak tahu.
“Kau juga menggunakan warna hijau pada saat itu.” Ungkap Soo Ho yang masih mengingatnya.
“Kau telah tumbuh sangat tinggi.” Kata Baek Hee melihat Soo Ho. 


Flash Back
Soo Ho membawa buket bunganya terlihat sangat marah sambil menginjak-nginjak di padang ilalng, lalu menangis. Baek Hee datang menenangkanya meminta Soo Ho agar jangan menangis karena menyakinkan diri kalau Soo Ho  pasti akan berhasil.
“Aku bisa memprediksi masa depan. Tidak ada yang menghalangimu. Kau akan mencapai semua yang kau inginkan. Dari sekarang, semua keberuntungan di dunia ini akan datang kepadamu. Mari bertemu lagi... Setelah kau menjadi orang yang layak dan sukses.” Ucap Baek Hee. 


Soo Ho tahu kalau itu adalah Baek Hee yang menemaninya saat sedih. Baek Hee pun tak menyangkalnya kalau ia adalah wanita jus hijau. Soo Ho meminta izin agar bisa memeluknya dengan mata berkaca-kaca. Baek Hee pun memperbolehkanya. Soo Ho memeluk Baek Hee sepeti memeluk ibunya.
“Aku benar-benar ingin bertemu denganmu” ungkap Soo Ho dengan mata harunya.
“Sudah kubilang kita akan bertemu lagi. Kapan pun hal itu sulit, Aku memikirkan apa yang kau katakan kepadaku Kau telah menjadi pria yang baik. Jadi Mari kita minum hari ini.” Kata Baek Hee. Soo Ho pun langsung menyetujuinya. 

Soo Ho melihat barang-barang  Baek Hee yang Tampaknya berusia lebih dari 100 tahun. Baek Hee mengaku membeli dengan harga murah, 107 tahun yang lalu dan membeli tanah itu, 253 tahun yang lalu. Soo Ho seperti agar takjub tapi tak mengubrisnya. Baek Hee pun mengajak untuk bisa mengunkan bahasa banmal. Soo Ho pun merasa tak masalah.
“Ini Karena dosaku, Aku menjadi abadi dan aku tinggal lebih dari 200 tahun sekarang. Terima kasih atas doaku yang tulus untukmu, maka Aku sudah mulai bertambah tua akhir-akhir ini.” Ucap Baek Hee.
“Itu benar, tapi kau terus tertawa. Lalu Dosa apa yang kau lakukan?” kata Soo Ho
“Aku akan memberitahumu nanti.” Kata Baek Hee misterius.
“Apa Kau benar-benar bisa memprediksi masa depan?” tanya Soo Ho penasaran. Baek Hee mengaku kalau itu pasti tidak mungkin.
“Aku mengatakan semua yang aku bisa untuk menghiburmu saat itu.” Akui Baek Hee
“Hal-hal aneh terus terjadi padaku. Keberuntungan itu selalu ada di sampingku, jadi aku takut. Semuanya berjalan dengan baik.” Cerita Soo Ho. Baek Hee bertanya apakah Bahkan tanpa usaha
“Aku berusaha keras seperti orang gila. Tapi Sesuatu terjadi... seperti yang aku coba dan inginkan, jadi itu luar biasa dan menakutkan. Mungkin aku berdoa terlalu keras.” Cerita Soo Ho
“Pasti kebetulan. Jangan pedulikan itu.” Ucap Baek Hee menenangkan.
“Aku pikir, aku mungkin akan mati di usia muda sebagai ganti semua keberuntungan ini.” Ungkap Soo Ho
“Itu seharusnya tidak terjadi. Dalam kehidupan ini, Kau harus hidup bahagia dengan seseorang yang kau cintai. Apa ada seseorang yang kau sukai?” tanya Baek Hee.



Saat itu ada seseorang berteriak mengedor pintu memanggil nama Baek Hee. Soo Ho pikir ada ada seseorang yang datang. Baek Hee menyuruh Soo Ho agar tak mengeluarkan suara. Sharon terus mengedor pintu sambil berteriak memanggil Baek Hee.
“Apa Kau tidak di sana? Aku tahu kau ada disana Buka pintunya.” Teriak Sharon terus mengedor pintu.
Saat itu juga Sharon seperti sangat marah membuat getaran dirumah Baek Hee. Soo Ho terlihat binggung seperti ada gempa. Baek Hee hanya duduk tenang. Sharon yang kesal akhirnya memilih untuk pergi.
Soo Ho langsung bertanya apa yang terjadi tadi. Baek Hee mengaku kalau  Ada Seorang wanita menjengkelkan yang sering mengunjunginya dan Saat sebuah kereta lewat, maka piring goyang bahkan terlalu berangin lalu memberikan wine untuk Soo Ho agar meminumnya. Soo Ho yakin Baek Hee itu sangat special
“Ayo lebih sering bertemu.Kau sudah seperti keluargaku. “ ungkap Baek Hee
“Ada banyak hal yang harus kukatakan juga. Ketika aku menerima telepon mu, katakanlah kau ingin membangun sebuah hotel hanok yang indah, Aku merinding.” Ucap Soo Ho
“Apakah kau ingin mendengar cerita lama tentang tanah?” kata Baek He.


Bersambung ke part 2

PS; yang udah baca blog / tulisan aku.. Tolong minta follow account IG aku yah dyahdeedee09  & Twitter @dyahdeedee09  jadi biar makin semangat nulisnya. Kamsahamnida.

FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09