Senin, 27 Februari 2017

Sinopsis Strong Woman Do Bong Soon Episode 2 Part 1

PS : All images credit and content copyright : JTBC

[Episode 2: Hati Seorang Penjahat]
Ketua Tim Yook menonton Episode Drama spesial yang ke-300 yang sangat legendaris. Salah satu anak buahnya melihat artis Kim Hye Je dan masih terlihat sangat muda. Gook Doo melihat timnya pada nonton bertanya pada detektif Kim acara TV apa yang mereka tonton.
“Ini namanya "KepalaInvestigasi."Acara TV pertama yangpunya genre seperti itu.Ini kutukan nya Ketua Tim Yook.Setiap kali ia menonton episode acaraitu, sesuatu yang besar akan terjadi dan dia selalu berhasilmemecahkan kasus.” Jelas Detektif Kim
“Bukankah itu tugas Tim E?” pikir Kook Doo,Detektif Kim mengatakan  kalau Kepala menyuruhnya untuk bekerja dengan mereka.
“Banyak acara TV yang bagus seperti "CSI,The Mentalist," dan "Criminal Minds"Kenapa dia menonton acara itu? Apa settinganacara itu di saat sebelum perang?” keluh Gook Doo. Ketua Yook memanggilnya.
“Hei.. Apa Kau tahu berapa orangyang nonton acara ini?Sesuatu tentang kejahatanitu sudah jadi trend di antara mereka.Dalam energi yang berputar-putarmengelilingi cosmos” jelas Kepala Yook
“Tapi kau tahu, penyelidikan tidakbisa dilakukan seperti itu.” Pikir Gook Doo
“Belakangan ini, semakin ada banyakkasus yang terjadi tanpa bukti nyata.Lalu, kita harusmulai dari mana? Yaitu Dengan indra ke-6 kita!” tegas Kepala Yook
Gook Do pikir mereka harus melakukannya dengan cara yang kuno. Kepala Yook memberitahu kalau tahu buku yangpaling terlaris sepanjang sejarah adalah Alkitab dan film terlari adalah E.T. dan sejarah adalah  letak jawaban yang benar. Gook Do hanya menatap diam seperti semua ucapan ketua Timnya tak bisa disetujuinya. 


Min Hyuk mengajak untuk sarapan pada sebuah cafe, Bong Soon menolak karena sudah makan. Min Hyuk pikir tetap saja Bong Soon harus makan, Bong Soon mengaku tidak lapar. Min Hyuk pun tak maksa memberitahu kalau hanya datang untuk bekerjapada hari Senin dan Kamis.
“Dan Informasi itu jadi bocor entah bagaimana, makanya, kau dan aku,dan hanya kita berdua yang boleh tahu jadwalku sekarang.” Kata Min Hyuk melihat Bong Soon tetap duduk. Bong Soon pun menurut untuk duduk saat Min Hyuk menyuruhnya duduk.
Min Hyuk menceritakan bahwa  akhir-akhir sedang di ikuti oleh orang dan  diancam tapi ingin tahu, Bong Soon ingin tahu siapa dibalik semua ini.  Min Hyuk pikir  akan menangkap mereka jika tahu siapa. Bong Hee pikir Min Hyuk bisa lapor polisi.
“Aku benci polisi. Dan aku juga tidak mempercayai mereka. Aku yang akan menangkap mereka. Bantu aku melakukan itu.” Kata Min Hyuk,Bong Soon bingung.
“Katamu, kau suka video game, kan? Ayolah, bukankah ini sangat mendebarkan? Kita menangkap mereka! Seperti pada Game. Bukankah itu terdengar menyenangkan? Dan juga Katamu, kau ingin mengembangkan game, kan? Maka, cobalah! Kita pasti akan menjadi pemenang.” Kata Min Hyuk.
Bong Soo pikir Min Hyuk itu sedang bercanda. Sekarang. Min Hyuk menyakinkan bahwa Hidup adalah permainan dan permainan adalah hidup lagi pula bukan sesuatu yang terlalu serius. Bong Soon menanyakan alasan Min Hyuk yang menbenci polisi, Min Hyuk balik bertanya kenapa Bong Soon yang menyukai mereka. Bong Soon mengaku kalau mereka itu keren.
Min Hyuk menyuruh Bong Soon untuk makan, Bong Soon menolak. Min Hyuk memberitah kalau hanya ini porsi makannya dalam satu hari dan Bong Soon tak boleh makan semaunya sebelum diperintahkan,  Bong Soon pikir Min Hyuk harus bilang dari tadi dan mulai makan.


Min Hyuk melihat ponselnya berdering dan dari nomor yang tak dikenal, ketika mengangkatnya suara robot lagi terdengar dengan mengatakan “Jangan meremehkan perkataanku. Lihat aja apa yang akan terjadi dari sekarang.” Bong Soon langsung melotot kaget mendengarnya, bertanya sejak kapan mendapatkan telp seperti itu.
“Sudah sekitar dua bulan jadi Lindungilah aku. Itu tugasmu... Sekretaris Gong punya jadwalku, jadi minta padanya besok.” Kata Min Hyuk, Bong Soon mengerti.
“Aku akan bersenang-senang hari ini dan tidak bisa bekerja karena suasana hatiku sedang buruk.” Kata Min Hyuk, Bong Hee menatap heran. Min Hyuk bertanya kenapa Bong Hee menatapnya seperti tak ingin melakukan perkerjanya.
“Aku sudah mendengar Kalau kau hanya bekerja dua kali seminggu, tapi kau juga tidak bisa dibilang bekerja pada hari-hari itu.” Kata Bong Soon.

“Coba Lihat? Aku memang sangat populer, sampai mendapatkan perhatian ke mana pun aku pergi. Ini masalah yang sebenarnya. Aku ingin pergi ke floodlands, toko buah, dan toko buku hari ini.” Kata Min Hyuk berjalan dengan kendaraan robotnya.
Bong Soon berlari dibelakangnya seperti melonggo dengan semua yang ada di ruangan Min Hyuk serba otomatis, lalu bertanya apakah Ia  harus mengikuti Min Hyuk ke semua tempat-tempat itu, Min Hyuk membenarkan lalu masuk kedalam lift. Bong Soon hanya bisa cemberut mengikutinya., 


Min Hyuk sampai ke parkiran membuka kunci mobilnya, lalu menyuruh Bong Hee agar menyalakan mesin mobilnya.  Bong Soon binggung, Min Hyuk pikir mungkin ada seseorang yang memasang bom dimobilnya, Bong Soon tak percaya itu artinya Min Hyuk ingin dirinya yang mati. Min Hyuk membenarkan karena dirinya tak ingin mati
“Kau pengawalku! Jadi Nyalakan mesin mobil nya.” Kata Min Hyuk lalu berjalan menjauh, Bong Soon dengan wajah cemberut masuk kedalam mobil. Min Hyuk seperti membayangkan ketika menyalakan mobil mesinya itu tiba-tiba meledak.
Bong Soon menyalakan mesinnya dan tak terjadi apapun, Min Hyuk akhirnya berani mendekat lalu Bong Hee pun turun dari kemudi akan pindah ke bangku belakang. 
Min Hyuk berteriak marah kalau mobilnya bukan taksi dan menyuruh duduk di kursi sebelahnya.Bong Soon naik dengan wajah cemberut berpikir seharusnya ia yang menyetir. Min Hyuk pikir tak mungkin membiarkan Bong Soon, gadis yang ceroboh yang mengutamakan hidupnya lebih dari atasannya lalu mengemudikan mobil jika nanti mobil lain yang melaju ke arah kita.Bong Hee tak banyak komentar, mereka pun pergi meninggalkan gedung.

Tiga ibu datang membahas tentang sesuatu dan merasa sangat kasihan pada Ibu nya. Nyonya Hwang mengaku mengirim banyak sekali surat ke Kantor Distrik dan meminta mereka melakukan sesuatu untuk daerah itu dan Tahun lalu ada kecelakaan di sana, lalu meminta Ho Soon agar membawakan mereka minum,
“Tapi tetap saja, pembangunan ulang itu bukanlah jawaban nya! Jika gedung tinggi itu dibangun , kita tidak akan pernah bisa melihat terik matahari lagi! Dan kehidupan kita sehari-hari akan berubah selamanya!” ucap Ibu bertubuh tambun.
“Jadi menurutmu, Tidak dapat terik mataharilebih baik daripada mati!” kata Ibu Bong Soo
“Siapa... Siapa yang akan mati, sekarang?” kata Si ibu tambun, mereka langsung berbisik saat melihat ibu Gook Doo datang. 

Nyonya Jung datang untuk mengambil pesanannya dan memberikan senyuman pada Tuan Do. Nyonya Hwang melihat Nyonya Jung itu tersenyum seperti Miss Korea padahal ada sesuatu yang mengerikan terjadi di lingkungan. Akhirnya ibu Bong Soo pun memanggil Nyonya Jung untuk mengobrol sebentar.
“Kita bertiga mengumpulkan tanda tangan yang ingin supaya gedung sebelah resapan kering diperbaiki ulang. dan kita sudah dapat tanda tangan dari berbagai orang jadi jika seorang tokoh berpengaruh sepertimu bisa membantu kami maka Kantor Distrik akan mendengarkan kita, bukankah begitu?” kata Nyonya Hwang
“Yah, Entahlah... Aku setuju saja tapi juga memahami perasaan mereka yang menentangnya. Jadi aku masih memikirkan hal itu.” Kata Ibu Gook Doo
“Mereka bisa saja membangun pusat perbelanjaan berlantai 4 di sana! Tapi mereka membangun bangunan besar dengan apartemen dan kantor di dalamnya! Itu yang tidak kita setuju.” Tegas si ibu tambun marah

“Semua orang yang berada di balik petisi ini tinggal di dekat sini jadi aku yakin bahwa ada masalah yang mendasar dengan petisi ini. Kurasa, petisi nya harus diformat ulang untuk memasukkan orang-orang yang tidak berinvestasi secara pribadi di area ini.” Kata ibu Gook Doo lalu pamit pergi.
Ayah Bong Soon membawakan kue pesanan Nyonya Jung dengan senyuman lebar. Nyonya Hwang yang melihatnya kesal karena suaminya genit pada wanita lain. Ia menegaskan tidak bisa bergaul dengan Nyonya Jung yang merasa bangga hanya karena seorang penulis.Saat itu seorang wanita muda datang, Ibu Bong Soon terlihat senag melihat Kyung Shim yang datang. 

Bong Soon dan Min Hyuk masuk ke sebuah mall. Min Hyuk menyuruh Bong Soon agar Bersikaplah natural karena yakin ada yang mengawasi mereka dari suatu tempat. Bong Soon melihat sekeliling, Min Hyuk dengan mengandeng tangan Bong Soon menyuruh agar Jangan bersikap seperti pengawalnya. Bong Soon pikir dengan berpengangan tangan malah  kelihatan lebih aneh. Min Hyuk menyuruh diam saja dan mengikuti saja. 

Min Hyuk memilih beberapa baju dalam sebuah toko, Bong Soon membawa semua barang yang dibeli Min Hyuk tak percaya kalau atasanya itu  menghabiskan uang yang bisa digunakan untuk main warnet dalam satu tahun seperti uang tak ada artinya.
Bong Soon membawa semua barang dan Min Hyuk masih pergi ke toko kacamata dengan memilih satu kacamata hitam meminta pendapat pengawalnya., Bong Soon dengan sangat terpaksa  memujinya terlihat keren.
Keduanya keluar dari toko, Min Hyuk pikir dari tadi hanya beli barang untuk dirinya jadi ingin membelikan juga untuk Bong Soon. Bong Soon ingin menolaknya seperti tak enak hati. Min Hyuk memberikan es krim cone, Bong Soon cemberut ternyata bukan baju dsb yang dbelikan, akhirnya dengan tangan yang penuh barang belanjaan menerima es krim dari atasanya. 

Min Hyuk pergi ke lapangan dengan menerbangkan Drone, Bong Soon terlihat kesima melihat benda yang baru pertama kali dilihatnya. Min Hyuk lalu berisik agar melihat ke arah jam dua belas dan jangan bersikap terlalu jelas. Bong Soon melihat seorang pria berbaju hitam seperti menatap kearah mereka seperti sedang mengintai.
“Kita tangkap dia, Kau Bersikaplah natural, seolah-olah kita tidak melihat dia.” Kata Min Hyuk, Si pria sadar kalau sudah ketahuan mengikuti Min Hyuk.
“Dia sedang berjalan dan melarikan diri!” kata Bong Soon berpikir untuk  harus menangkapnya, karena si pria misterius sudah pergi menaiki motornya.
Saat itu Drone Min Hyuk pun bisa mengejarnya dan Min Hyuk berhasil mendapatkan nomor polisi motor yang kendarai oleh si pelaku. 

Keduanya naik mobil kembali, Min Hyuk pikir Bong Soon pasti lapar. Bong Soon tersenyum berpikir Min Hyuk akan mengajaknya makan. Min Hyuk menyuruh Bong Soon untuk makan dirumah dan menyuruhnya agar tak diet dan makan apapun. Bong Soon kembali cemberut menahan rasa kesalnya.
“Apa Aku dibolehkan pulang, meskipun jam kerjaku hari ini belum berakhir?” tanya Bong Soon.
“Ya, karena bajingan itu juga sudah selesai bekerja nya, Karena dia tertangkap olehku.” Ucap Min Hyuk bangga.
“Bagaimana keadaan bokong Sekretaris Gong?” tanya Bong Soon khawatir
“Bagian tulang ekor patah, jadi dia tidak akan bisa pulih dalam waktu dekat.”kata Min Hyuk
“Kurasa, aku ingin mengunjunginya di rumah sakit dan harus harus minta jadwalmu” ucap Bong Soon

“Aku yakin dia akan merasa sangat malu jika kau mengunjunginya.” Komentar Min Hyuk
Bong Soon heran dengan Min Hyuk karena sebelumnya menyuruhnya pergi. Min Hyuk pun mempersilahkan Bong Soon untuk melakukan apapun. Mobil pun berhenti, Min Hyuk melihat Bong Soon yang tinggal di dekat tempat dimana pembunuhan itu terjadi, dan merasa heran mengapa seseorang yang tinggal di lingkungan yang tenang seperti ini, melakukan sesuatu yang sangat kejam.
Bong Soon hanya diam saja, Min Hyuk merasa lapar dan ingin tahu apakah ada toko roti dekat rumahnya. Bong Soon menunjuk Di sudut jalan ada pie kenari yang enak. Min Hyuk pun mengemudikan mobilnya kembali. 

Nyonya Hwang datang meminta uang hasil tokonya. Tuan Do sempat tersedak saat melihat istrinya datang memberitahu kalau  Hampir tidak ada yang datang karena insiden kemarin. Nyonya Hwang pikir mereka bisa menjual dengan harga diskon pada kacang kenari kupas.
“Ho Soon... Pasang tanda "Sale hari ini : Kacang Kenari Kupas" di depan.” Perintah Nyonya Hwang. Tuan Do pun tak bisa melawan hanya bisa menurut. 

Dua bibi sudah menunggu, menanyakan apakah sudah ada yang tanda tangan. Nyonya Hwang mengatakan Tidak ada yang mau memberikanya. Si ibu tambun pun membahas kalau Bong Soon yang sudah mendapatkan perkerjaan. Nyonya Hwang pikir hanya harus menunggu dan melihat, karena Bong Soon itu tidak memiliki keberuntungan untuk bertahan dengan pekerjaannya.
“Tapi tetap saja, kau mendidik putramu dengan baik, Dia masuk ke sekolah kedokteran di Universitas Hansae dan juga sangat tampan!” komentar Ibu Jae Soon..
“Dan itulah sebabnya Gook Du dan Bong Ki musuhan sejak mereka masih kecil, kan?” komentar si ibu tambun.
“Karena dia begitu tampan,dan juga pintar!Aku hanya khawatirtentang Bong Soon.Apa disekitar sini ada oranggila yang banyak uang nya?” ucap Nyonya Hwang ingin gila uang. 

Saat itu dua ibu melihat Bong Soon yang datang,  Bong Soon datang dengan Min Hyuk memberikan kode pada ayahnya lalu memesan Dua Tart telur dan satu pie kenari. Tuan Do pun berpura-pura melayani pelanggan biasa. Min Hyuk pikir mereka juga harus memakanya juga, Bong Soon pun memesan dua potong pie kenarinya.
Ibu Bong Soon dan temanya hanya bisa melonggo melihat pria tampan yang dibawa Bong Soon. Bong Soon memberikan kode agar ibunya pura-pura tak mengenalinya. Min Hyuk melihat para ibu-ibu yang menatapnya dan menyapanya dengan ramah walaupun terasa aneh, keduanya akhirnya keluar dari toko bersama-sama. 

Dua ibu langsung bertanya Apa itu pacarnya Bong Soon. Nyonya Hwang berharap seperti itu karena melihat sangat menakjubkan dengan melihat tubuhnya yang menjulang tinggi layaknya model.
Mereka pun langsung berlari depan kaca, melihat keduanya masuk mobil. Para ibu-ibu terpesona karena Min Hyuk mengunakan  mobil impor. Nyonya Hwang langsung sangat menyukai karena meninginkan anaknya yang menikah dengan orang kaya. 

Bong Soo kembali pulang ke rumah dan menjerit bahagia melihat Kyung Shim karena sangat merindukan temanya itu, Keduanya pun memakai masker bersama-sama, Kyung Shim membahas Bong Soon bekerja sebagai pengawal untuk Presdir Ainsoft.
“Wah, jadi kau memutuskan untuk menjalani kehidupan dengan benar sekarang? Dia pastinya sangat tampan.” Komentar Kyung Shim.
“Tujuanku adalah untuk mengembangkan ide game-ku "Super Girl Bong Soon" ke Game sungguhan Dan menjadi anggota Tim Pembangunan dan Perencanaan.” Ucap Bong Soon penuh semangat.
“Hei, apa Presdir perusahaanmu baik-baik saja? Katanya, dia suka sekali dengan pakaian, terobsesi dengan video game, tidak tertarik pada wanita. Padahal dia sangat tampan.” Ucap Kyung Shim melihat profile Min Hyuk dari ponselnya. Bong Soon tak ingin membahas karena Bosnya itu  super brengsek.
“Katanya, itulah sebabnya dia mempekerjakan pengawal perempuan. Dia tidak ingin rumor gay itu menyebar.” Kata Kyung Shim
Saat itu Bong Ki masuk melihat Kyung Shim datang, lalu bertanya apakah sudah membelikanya. Kyung Shim mengakus sudah membelikanya. Bong Ki pun senang lalu keluar dari kamar. 

“Ada seorang pria dengan kepribadian yang sangat baik di tim kami. Apa Ingin kencan buta dengan dia?” tanya Kyung Shin, Bong Soon langsung menolaknya.
“Ah, padahal aku sering cerita tentangmu padanya.” Kata Kyun Shim, Bong Soon pikir tak ada yang dimilikinya, seperti rendah diri.
“Hei, Do Bong Soon... Kau sangat cantik jadi harus memiliki kepercayaan diri.” Ucap Kyung Shim menyemangati temanya.
“Siapa peduli jika aku cantik, saat Gook Doo tidak tertarik padaku?” keluh Bong Soon
Kyung Shim tak percaya Bong Soon  masih menyukainya. Bong Soon juga binggung kenapa masih belum bisa melupakannya. Kyung Shin pikir itu karena Bong Soon tidak mencoba untuk melupakannya. Nyonya Hwang tiba-tiba masuk kamar bertanya apakah Bong Soon sudah membuat nasi.
Bong Soon mengeluh karena masih sore. Nyonya Hwan merasa lapar dan menyuruh Bong Soon membuat makan malam. Kyung Shim membantu Bong Soon karena membawa banyak odeng dari Busan yang disukai oleh Bong Ki, Nyonya Hwang langsung muji Kyung Shim. 


Kyung Shim membuat sup odeng untuk keluarga Do dan makan di halaman, semua terlihat tak bisa menahan air liur mereka. Mereka pun makan bersama, Nyonya Hwang mulai membahas kalau pria yang dibawa Bong Soon itu Presdir di perusahaan.  Bong Soon membenarkan,
“Berapa umurnya?” tanya Nyonya Hwang, Bong Soon menjawab tak tahu menurutnya masih muda.
“Tapi apa  ia mengantarmu pulang pada hari pertama bekerja?” ucap Nyonya Hwang, Bong Soon membenarkan.
“Menikahlah dengan orang itu. Ini adalah berkat dari surga.”ucap Nyonya Hwang
“Ibu.. Berhentilah nonton drama Korea! Selain itu juga tampaknya dia gay.”kata Bong Soon.
Semua melonggo kaget mendengarnya,  Nyonya Hwang lalu berkomentar kalau itu tak masalah menurutnya di zaman sekarang  tidak ada pria yang selemah itu. Ayah dan Bong Ki tak percaya Nyonya Hwang bersikap seperti itu, Bong Soon pun sampai menjatuhkan odeng yang masih panas ke pangkuanya. 

Gook Do yang penasarah melihat kembali TKP dengan jejak darah dan yang lainya, karena mungkin akan menjadi petunjuk. Tapi sepertinya tak menemukan apapun lalu meninggalkan TKP. Tanpa disadari Si pembunuh berdiri diatap rumah melihat Gook Doo.

Seorang wanita pulang berjalan di gang yang sepi dan gelap, ia merasakan ada orang yang mengikuti tapi saat memilih jalan lain pria itu berbeda arah denganya. Tapi pria berbaju hitam mengikutinya dan langsung mengejar si wanita seperti ingin membunuhny.
Detektif Kim datang seperti baru mendapatkan laporan kejahatan ditempat kejadian yang sama, Ketua Yook memberitahu kalau Pasien dibawa ke Rumah Sakit Universitas Hansae dan mulai membagi tugas. Kook Doo pun pergi dengan timnya.
Sementara Bong Soon dan Kyung Shin asik bermain games dalam warnet, Keduanya lalu tersadar kalau hanya ada mereka berdua di ruangan, Bong Soon bertanya-tanya kemana semua orang. Ibu tambun masuk ruangan dengan wajah panik memberitahu kalau ada Wanita yang lain diserang.

Detektif Kim mendorong semua warga agar tak mendekati TKP yang sduah diberi garis polisi sebelumnya. Beberapa bibi saling berbisik kalau ada  saksi memergoki secara tak sengaja, dan menyelamatkan hidup si wanita itu. Bong Soon melihat dari kejauhan Gook Doo yang terlihat kesal tak bisa menangkap si pembunuh.
Min Hyuk sedang berlatih tinju, menonton berita kalau terjadi lagi serangan serupa malam ini, di lingkungan yang sama, pada pukul 11:0 dan insiden ini terjadi di lokasi yang sama dengan pembunuhan kemarin. Korbanya kali ini adalah Nona Nn. Kim, seorang guru SMA dan hidupnya masih terselamatkan, karena ada saksi yang lewat.
Kepala Yook melihat kondisi pasien dengan penuh luka dan alat bantu oksigen, merasa pasien pasti sudah mati jika dia terlambat dibawa ke rumah sakit  jadi  harus mengawasinya selama beberapa hari lagi, karena Rusuk nya rusak, jadi dia mengalami kesulitan bernapas.


Kook Do mengambil jejak kaki di bagian TKP, Detektif Kim memberitahu Tim forensik sudah mengambil foto dari jejak kakinya. Kook Doo tahu kalau Bajingan itu datang selang beberapa menit setelah meninggalkan tempat kejadian. Detektif Kim pikir Kook Doo sudah gila karena datang sendirian ke TKP.
“Ini adalah lingkungan tempat tinggalku, jadi aku sedang pulang ke rumah untuk ganti baju. Bahkan Tidak ada CCTV, dan kita juga tidak memiliki rekaman dashcam. Orang itu tahu betul daerah lingkungan ini” kata Kook Do
“Aku yakin itu... Tapi berkat ada saksi yang muncul, hidupnya terselamatkan. Ia lari karena ada saksi yang datang.” Cerita Detektif Kim 

Seorang pria sudah ada di ruang interogasi, Kepala Yook tahu pasti saksi itu pasti kaget dan meminta agar menceritakan saat kejadian. Si Pria menceritakan sedang dalam perjalanan pulang lalu mendengar seseorang berkata, "Tolong selamatkan aku" dari tembok di sebelah kirinya, jadi pergi ke suara berasal.
Si Wanita sudah terluka meminta agar diselamatkan, Si pria sempat melihat si pelau menendangnya saat akan mendekati setelah itu langsung lari. Kepala Yook ingin tahu apa yang kenakan oleh si pelaku.  Si pria pikir kalau mengunakan Jaket Hoodie berwarna Hitam dan juga mengenakan celana hitam dengan tinggi sekitar 180cm.
Gook Doo mendengarnya dengan mata yang tajam, Kepala Yook ingin tahu wajahnya. Si pria kalau tidak terlalu jelas melihat wajahnya tapi merasa kalau si pelaku memiliki kaki yang besar.

Bong Soon dan Kyung Shim berjalan bersama sambil makan sosis, Kyung Shim yakin si wanita itu pasti sangat ketakutan. Bong Soon juga pikir seperti itu dan membenci orang yang menindas orang lemah hanya karena mereka lebih kuat, menurutnya mereka iytu jenis orang-orang yang paling buruk. Kyung Shim setuju.
“Wah, brengsek sekali! Bagaimana dia bisa melakukan itu untuk seorang wanita? Yang seperti itu layak untuk menerima hukuman terberat!” ucap Bong Soon murka
“Bong Soon.. Kau harus mengajarkan orang-orang seperti itu pelajaran! Pasti akan berhasil.” Kata Kyung Shin
“Tapi jika aku melakukan itu, aku akan berada dalam masalah besar. kata Kyung Shim lalu mereka melihat beberapa anak remaja yang sedang meminta uang secara paksa pada juniornya. 

Bong Soon akhirnya mendekat lalu memberitahu kalau  Ada banyak polisi yang patroli di sekitar lingkungan ini karena insiden jadi menyuruhnya agar pulang saja. Si anak remaja menyuruh Bong Hee saja pulang dan jangan ikut campur.
“Hei, siapa yang paling kuat diantara kalian?” ucap Bong Soon, si anak kecil pikir Bong Soon sudah gila dan menyuruhnya pergi dengan nada meremehkan.
“Hei, anak-anak... Minta maaflah pada Nuna ini, lalu pulang.” Perintah Kyung Shim seperti tak ingin mereka dapat masalah.
Anak-anak itu makin mengejek, Bong Soon melihat tali sepatu satu anak lepas dan menbantu mengikatnya. Si anak langsung menjerit kesakitan dan Bong Soon dengan mudah menarik semua kulit sepatu dengan lepas. Semua anak remaja langsung ketakutan. Bong Soon pun memberikan nomor pada si anak yang ditindas agar bisa menelpnya kalau terjadi seperti ini lagi dan mengajaknya pulang bersama.

Berita di TV memberitahu karena insiden yang telah mengganggu Dobong-dong akhir-akhir ini maka polisi menambahkan kamera CCTV dan secara sukarela mempatroli wilayah. Beberapa polisi memasang CCTV agar bisa menambah bukti penangkapan pelaku.
Sementara Min Hyuk melihat kembali foto yang berhasil diambil dari Drone, lalu menelp seseorang agar bisa mencarikan informasi dari plat nomor yang dimilikinya. 


Detektif lain masuk ruangan memberitahu Kepala Yook kalau  Laporan otopsi Pembunuhan korban telah dirilis. Kepala Yook melihata tingginya 172cm, dan 48 kilogram.Detektif lain melihat foto luka kalau korban memiliki enam luka di tangannya, menurutnya pelakumelawan penjahat nya sampai akhir.
“Pertama, dia menikam perutnya. Yang menyebabkan ususnya pecah, dan mencekiknya.” Jelas Detektif lainya.
“Tapi korban yang terlalu banyak melawan penjahatnya, itulah sebabnya ia memukul wajahnya. Lalu dia mungkin menjatuhkan pisau yang dipegangnya. Itulah sebabnya ia memegang pisaunya salah.”ucap Kepala Yook
“Lalu, ia menikam perutnya, selagi memegang pisau yang menghadap ke atas seperti itu. Dia sudah memutuskan harus membunuhnya.” Kata Detektif lainya.

“Tapi pisau nya tidak mau keluar, karena ia memegangnya dengan cara yang salah. Dan jadi dia memutar pisaunya saat masih berada di dalam perut nya untuk menarik pisaunya keluar dan itulah sebabnya dia punya banyak luka pisau di perutnya seperti itu.” Kata Detektif Kim melihat bekas luka korban menurutnya si pelaku tak ahli.
Detektif lain menduga kalau ini pelaku yang sama tapi Pelaku yang ini tidak menggunakan pisau. Gook Do pikir tidak boleh percaya itu, karena Pelaku kasus pertama juga tidak memulai serangannya dengan pisau tapi mungkin kehilangan kesempatan,karena saksi lewat sana.
Tapi Detektif Kim yakin kalau sipelaku bingung apakah  harus menggunakan tangannya saja karena tidak terlalu ahli menggunakan pisau. Kepala Yook menurunkan rasa tegang dalam timnya mengajaknya untuk duduk lalu memerintahkan Gook Do agar ke rumah sakit. Gook Doo mengerti. 


Gook Do pergi ke ruangan Nona Kim yang tak sadarkan diri dan masih mengunakan alat bantu nafas, lalu melihat tangan dan juga foto yang dimilikinya. Ia merasa si pelaku mencoba untuk membuat korban pingsan dan tidak berusaha untuk membunuhnya.


Bong Hee pergi ke rumah sakit dan sempat bertabrakan dengan seorang dokter yang mengunakan masker. Lalu masuk ke dalam ruangan rawat sek Kong yang menelungkupkan badanya seperti tak bisa bergerak. Sek Gong mendengar suara pintu terbuka bertanya siapa yang datang.
“Aku Do Bong Soon.” Ucap Bong Soon merasa tak enak hati melihat Sek Gong. Sek Gong panik melihat Bong Soon yang datang.
“Aku harus minta jadwal Presdir darimu.” Kata Bong Soon, Sek Gong menyuruh agar Bong Soon menemui Tuan Kim  di Department PR.
“Aku membawa bunga dan sesuatu yang lain untukmu, tapi... Kau pasti sangat kesakitan. Kau tidak bisa menempatkan gips pada tulang ekor, sehingga perlu waktu untuk sembuh. Tapi Ada sesuatu yang bisa membuat agar tulang ekor seseorang jadi lebih cepat sembuh. Namanya, "Wine tinja" atau "Wine kotoran".” Ucap Bong Soon.
“omong kosong apa yang kau bicarakan...” kata Sek Bong kesal lalu mengaduh kesakitan karena mengerakan tubuhnya menyuruh Bong Soon segera keluar. Bong Soon pun meminta maaf dan kalau memang Sek Bong memerlukan Wine Tinja maka bisa membawakanya. Sek Bong  tak peduli menyuruh Bong Soon segera keluar saja.

Bersambung ke part 2

FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09 

Minggu, 26 Februari 2017

Sinopsis Tomorrow With You.Episode 7 Part 2

PS : All images credit and content copyright : TVN
Ma Rin seolah tak peduli memilih untuk pergi menemui pasangan kakek dan nenek untuk memberikan kue beras. So Joon pun mengikutinya merasa yakin kalau Ma Rin pasin tersentuh dengan kedatangan, Ma Rin mengelak seperti masih dongkol. So Joon meminta agar Ma Rin memikirkanya. Ma Rin bergegas memberikan kue beras pada nenek dan kakek. So Joon pun dengan bangga memperkenalkan Ma Rin sebagai istrinya.
Se Young membahas mengetahui dari Manager Chang kalau  So Joon datang.  Manager Chang membenarkan dan menyadari kalau mereka kenal dengan So Joon.  Se Young heran kenapa So Joon datang, Manager Chang pikir karena keduanya adalah pengantin baru  Meskipun tinggal bersama,  pasti tidak ingin terpisah sedetikpun.

So Joon dan Ma Rin datang bersamaan, So Joon seperti ingin memperlihatkan kemesraanya dengan memeluk Ma Rin.  Ki Doong pikir So Joon harusnya bilang kalau ingin datang. So Joon mengaku hanya  Kebetulan saja. Manager Chang pikir itu pasti karena merindukan isterinya, So Joon membenarkan dengan bersikap mesra pada Ma Rin.
“Kami sudah selesai dengan acaranya dan Ma Rin, pekerjaanmu juga sudah selesai, Sebaiknya kau pulang. Dia kemari menjemputmu.” Ucap Se Young sinis. So Joon pikir  datang tepat waktu.
“Aku belum selesai dan Kau bilang mau membantu jadi bantulah turunkan barangnya.” Ucap Ma Rin melihat truk barang datang, Manager Chang pun senang karena mereka  punya tenaga tambahan dan So Joon kelihatan punya tenaga besar.

So Joon menarik Ma Rin sedikit menjauh, mengaku kalau  tidak suka pekerjaan fisik dan Tidak cocok dengan karakternya. Ma Rin pun menyuruh So Joon pergi ke warnet atau pergi menjelajah waktu lalu bergegas pergi. So Joon pun mau tak mau mengikuti Ma Rin.

“Dia dikontrol oleh isterinya.” Komentar Se Young sini
“Kau kelihatan terlalu jelas sekarang.”balas Ki Doong, Se Young tak mengerti maksudnya
“Itu Jelas sekali kalau kau cemburu, Sekarang Ma Rin ada di sini dan Cobalah untuk tidak menampakkannya.” Pesan Ki Doong
So Joon membawa barang-barang nenek ke dalam rumah, Ma Rin menambahkan kotak lain dan senyuman lebar bisa membuat suaminya berkerja. So Joon pun terlihat kelelahan membawa semua barang.  Semua barang besar, secara bergotong royong dibawa masuk.


So Joon terlihat kelelahan, Se Young ingin memberikan minuman, Ki Doong yang melihatnya menarik temanya agar tak memberikan perhatian pada temanya yang sudah menikah. So Joon akhirnya mendekati Ma Rin ingin membantu istrinya, Ma Rin sedang menyiapkan kopi untuk orang-orang yang membantu. Tapi saat itu So Joon di panggil oleh pegawai lainya untuk membantu mengangkat lemari. Ma Rin pun tersenyum melihat suaminya yang mau membantu. 

Sek Hwang datang menemuia atasanya, Yong Jin pikir Sek Hwang itu memliki dataKota Jangho. Sek Hwang mengangguk dan menyayangkan kalau  proyek itu dibatalkan. Yong Jin terlihat marah karean tak ada yang dibatalkan, lalu meminta agar membawa data itu padanya.
“Siapkan pendaftaran lahan dan informasi lengkapnya.” Perintah Yong Jin
“ Tapi Presdir berkeras membatalkan proyek itu.” Ucap Sek Hwang
“Siapa yang berhak memutuskan proyek itu dibatalkan? Aku yang berhak! Cepat Bawa kemari !” ucap Yong Jin dengan nada tinggi. Sek Hwang pun tak bisa membantah. 

Doo Sik melihat sketsa atas rencana Yong Jin dan mengaku hanya dengar Jangho bisa menghasilkan banyak uang. Yong Jin memberitahu bahwa Perusahaan induk Grup LE dibangun di Jangho, hal itu tentu menimbulkan asumsi menguntungkan tapi So Joon  bersikukuh menolaknya dan tidak tahu alasannya.
“Kalau tidak berinvestasi, jelas kebodohan. Jadi, Presdir...” ucap Yong Jin disela oleh Doo Sik. Doo Sik pikir dirinya bukan presdir jadi lebih baik memanggilnya “Guru” saja.
“Baiklah, Guru... Jika kau ingin menghasilkan banyak uang, aku bahkan bersedia mempertaruhan nama mendiang ibuku atas proyek ini.” Ucap Yong Jin yang bersedia mempertaruhkan lehernya juga.

“Kenapa mempertaruhkan lehermu segala? Kau lebih baik santai saja” komentar Doo Sik. Yong Jin menawarkan Doo Sik minum.
“Saat ini diumumkan, maka aku jamin bisa menghasilkan keuntungan dua kali lipat. Jelas aku tahu kemampuan Presdir Yoo dalam bidang ini. Namun, kali ini Yoo So Joon 100% salah” kata Yong Jin
“Yoo So Joon sudah kehilangan kemampuan.Dia tidak mau berinvestasi di Jangho.Itu aneh sekali.” Ungkap Doo Sik, Yong Jin pun mengumpat So Joon memang bodoh.
“Baiklah, kalau begitu bagaimana kita mulai? Jika aku berinvestasi maka kau harus meninggalkan Myreits. Apa Kau siap memulai bisnismu sendiri?” tanya Doo Sik

“Tidak, aku berencana tetap di sana.” Ucap Yong Jin
“Jadi, apa kau berencana melakukan ini di belakangnya? Kalau uang yang jadi masalah, aku bisa mencukupinya” kata Doo Sik
“Bukan itu, tapi Ada beberapa hal yang membuatku harus tetap di perusahaan” jelas Yong Jin
Doo Sik pikir lebih berbahaya melakukannya diam-diam. Yong Jin pikir Tidak bahaya, karena ingin membuat semua investor mengucurkan dana ke Kota Jangho Setelah itu baru akan mulai membangun perusahaannya sendiri, ketika sudah mendapatkan kontrak tanahnya. Doo Sik pikir Yong Jin ingin mengambil alih semua klien Meyrits.  Yong Jin meminta agar DO Sik bisa mempercayai dan mempertimbankanya. Doo Sik mengaku akan memikirkanya.

So Joon dkk makan daging panggang bersama. So Joon yang terlalu lelah merasa sampai tidak bisa memakai sumpit. Ma Rin terlihat khawatir bertanya apakah So Joon merasa sakit. So Joon hanya berkata kalau semua Berkat seseorang. Ki Dong mengatakan akan menyetir dengan So Joon jadi keduanya bisa minum sepuasnya.
“Tidak boleh..” kata So Joon, Ma Rin dan Se Young berbarengan bertanya kenapa tidak boleh
“Apa Kalian tidak ingat kekacauan setelah kalian minum anggur waktu itu?” ucap So Joon
“Apa So Joon cukup baik untukmu? Dia sangat kekanakan, Pasti berat hidup bersama dia.” Ucap Ki Doong, Ma Rin tak ingin membahasnya memilih untuk mengambil air minum saja. 

Ma Rin mengambil air mengambilkan sebotol air lalu bertanya pada bibi apakah menjual plester pereda nyeri otot. Si Bibi pikir masih memiliki bekas dipakai oleh suaminya.
Sementara di meja, Se Young membahas kalau Ma Rin tidak tahu apa pun soal kau dan Happiness yang ia dengar dari ayahnya. So Joon mengatakan kalau Ma Rin sudah mengetahui itu dari ayah Se Young jadi tak perlu merasa khawatir.
“Tapi, Ma Rin mengira hanya dia dan ayahku yang tahu soal itu.. Dia tidak tahu kalau Ki Doong dan aku juga tahu, jadi kita harus hati-hati bicara” kata Se Young, So Joon seperti baru mengetahuinya.
“Astaga, kenapa wanita rumit sekali? Kenapa begitu penting siapa yang tahu apa atau tidak? Apa mereka baru puas kalau sudah tahu segalanya satu sama lain?” keluh So Joon kesal, Saat itu Ma Rin baru datang mendengar pembicaraan ketiganya.

“Hei, kalian itu sudah menikah!” tegas Ki Doong mengingatkan temanya.
“Aku bukannya memihak Ma Rin. Tapi aku juga benci kalau kalian berdua mulai berbisik-bisik. Seolah menyimpan rahasia sepertiku. Dan bagaimana bisa kami lebih tahu soal kau daripada isterimu?” ucap Se Young
“Bukankahitu wajar? Aku juga belum terlalu lama mengenal dia.” Kata So Joon
“Lalu bagaimana bisa kalian memutuskan menikah? Apa kau mencintai dia?”kata Se Young mengujinya. So Joon terlihat tak ingin membahasnya. 

Ma Rin datang langsung berkomentar kaalu Kelihatannya mereka sedang membicarakannya. So Joon menyangkalnya,  Ma Ri menaruh botol air lalu memberikan plester pereda nyeri agar di gunakan pada bahu So Joo dan pamit pergi.
“Bagaimana kau akan ke Seoul sendirian? Ayo kita pergi bersama.” Ucap So Joon menahan Ma Rin pergi
“Aku akan pergi sendirian.” Kata Ma Rin lalu bergegas pergi, So Joon hanya diam. Ki Doong langsung menyuruh So Joon agar mengejarnya. So Joon pun meminta maaf pada dua temanya lalu mengejar Ma Rin. 
So Joon mengejar Ma Rin ke depan parkiran, dengan menahan tanganya. Ma Ri meminta So Joon melepaskan tanganya karena hanya ingin pulang. So Joon binggung meminta Ma Rin mengatakan alasan karena bersikap terlihat sangat marah.
“Seperti yang Se Young katakan, Apakah kecewa karena teman-temanku lebih tahu banyak tentangku? Sudah kujelaskan semua, kau tahu segalanya.” Ucap Se Joon .
“Aku sendiri tidak tahu mengapa aku begitu marah dan terlukaAku hanya ingin pulang ke rumah,  jadi biarkan aku sendirian.”ungkap Ma Rin
“Sejujurnya, apa kau sungguh merasa terluka? Berapa lama kita saling mengenal? Bukankah memang perlu waktu untuk saling tahu lebih jauh? Harus seberapa keras aku mencoba untuk menyeimbangimu? Aku sudah jauh-jauh kemari untuk membuatmu merasa lebih baik.” Kata So Joon akhirnya ikut marah.

“Terima kasih sudah mencoba dan Kau tidak perlu memaksakan diri.” Kata Ma Rin sinis, So Joon menahan Ma Rin agar bisa mendengarkan ucapan sampai selesai.
“Aku bahkan tidak pernah terlibat langsung dalam Happiness,  Apa Tahu seberapa sulit buatku datang kemari?” kata So Joon, Ma Rin pikir karena So Joon tak mengatakan jadi mengetahuinya.
“Aku sangat penasaran, tapi kau tidak ingin membicarakannya.” Kata Ma Rin kesal. So Joon heran dengan yang dilakukan selain marah-marah
“Kau bahkan tidak menghargai upayaku dan  hanya mencoba mengubahku seperti yang kau inginkan. Apa Kau tidak melihat sisi baik dariku? Katakan, memang pernikahan ini membuatmu merasa rugi?” kata So Joon

“Aku tidak pernah menghitung untung rugi.” Ucap Ma Rin tak percaya So Joon mengatakan hal itu.
So Joon melihat tatapan Ma Rin meminta agar Jangan salah paham. Ma Rin merasa kalau So Joon beranggapan dirinya merasa untung dan suaminya itu dirugikan, terlihat binggung.
“Aku hanya ingin menjadi orang terdekat buatmu. Aku tidak menginginkan hal lain dan Hanya kau. Kalau itu saja terlalu serakah,  lalu cinta itu artinya apa?” kata Ma Rin, So Joon menahan Ma Rin agar tak pergi. Tapi Ma Rin tetap ingin pergi sendiri. 
Ma Rin naik bus sendirian mengingat kembali ucapan So Joon saat bertemu dengan Doo Sik “Kau bilang, takdirku akan berubah setelah menikah dan masa depanku akan berubah, tapi Aku rasa, hidupku jadi lebih tidak terduga dan rumit dibanding sebelumnya.” So Joon pun mengendari mobilnya terlihat benar-benar kebingungan dengan keadaanya sekarang malah semakin rumit. 


Se Young duduk bersama Ki Doong berkomentar  So Joon benar-benar aneh. Ki Doong mengeluh Se Young yang ikut sedih dengan melihat sekeliling mereka itu suasananya terlihat indah dan juga seger.
“Tapi, dia jauh-jauh datang, Itu pasti karena dia sangat menyukai Ma Rin. Saat aku menyinggung soal donasinya, dia tidak acuh dan berkata 'ya' saja. Dia bahkan tidak mendengar kata 'H' dari 'Happiness'.. Dia pasti begitu menyukai Ma Rin.” Ungkap Se Young, Ki Doong hanya diam saja. 

Ma Rin tertidur saat bus sudah sampai halte, sampai dibangunkan oleh sopir bus. Ketika akan berjalan keluar, tubuhnya langsung jatuh tak sadarkan diri.  So Joon kembali ke rumah melihat masih gelap, lalu melihat ke kamar Ma Rin yang belum sampai, wajahnya pun mulai khawatir.
So Ri datang dengan wajah panik ke rumah sakit mengingat pesan Ma Rin agar jangan memberitahu So Joon dan datang saja. Perawat memberitahu Ma rin terkena infeksi limpa, Ma Rin terlihat tertidur pulas.
“Kebanyakan pasien boleh pulang setelah 2-3 hari. Sebelumnya, suhu badannya sampai 40 derajat dan Bisa tinggi lagi saat dia tidur.  Jadi Tolong awasi dia.” Pesan Perawat, So Rin mengangguk mengerti.
“Jangan menelepon dia, So Joon, maupun ibuku.” Ucap Ma Rin saat perawat pergi.

So Rin pun melihat temanya yang tak tidur lalu ingin tahu apa yang terjadi sebenarnya. Ma Rin hanya meminta maaf, So Ri binggung kenapa dirinya tidak boleh menelepon So Joon dan akan meneleponnya sekarang. Ma Rin hanya meminta agar jangan menelp suaminya lalu menarik selimutnya untu tidur dengan perasaan sedih. 
So Joon terlihat gelisah menunggu didepan rumah, lalu akhirnya masuk dengan mengingat perkataan Doo Sik “Segala sesuatu tidak berjalan baiksejak kalian menikah. Maaf karena mengatakan ini padamu. Kau harus kembali sekarang dan berpisah dengan Ma Rin. Ini demi kebaikanmu maupun Ma Rin Hanya ini yang bisa kukatakan padamu.”


Nyonya Cha sedang disalon melihat seorang anak kecil dengan tatapan sinis, menyuruhnya agar mengatakan "Beri aku nasi." Seolah-olah akan kabur dari rumah kalau tidak diberi nasi. Si anak pun mengikuti kata Nyonya Cha “Beri aku nasi.” Dengan wajah ketus.
“Dia cukup potensial.” Komentar Nyonya Cha. Si ibu terlihat tak percaya mendengarnya.
“Ada dua tipe anak. Pertama, yang melakukan karena disuruh. Kedua, atas keinginan sendiri. Dan Dia bukan keduanya. Aku belum pernah lihat seorang anak yang  menunjukkannya dengan jelas kalau tidak ingin melakukannya.” Ucap Nyonya Cha yang merasa melihat bakat Bap Soon dari kecil.
Soo Jon berada di kantor menelp Ibu mertuanya, Nyonya Cha merasa tersentuh karena Soo Joon itu pasti sibuk sebagai Presdir, tapi masih meneleponnya, dengan percaya diri kalau merindukan ibu mertuanya.
“Ahh... Iya. Tidak ada sesuatu yang terjadi, kan?” kata So Joon berusaha bersikap ramah, Nyonya Cha mengaku kalau baik-baik saja.
“Ibu sedang apa sekarang?  Apakah Sendirian?” tanya So Joon seperti igin mengetahui keberadan Ma Rin, Nyonya Cha mengatakan  sedang di salon dengan teman-temannya. So Joon pun mengakhiri telp dengan ibunya.
So Joon binggung karena Ma Rin tidak ke rumah ibunya, lalu berpikir kalau ia juga tidak ingin mencarinya dan memperbolehkan Ma Rin  pergi sesuka hatinya serta tidak akan mencemaskan, Ki Doong datang memberitahu kalau harus menghadiri rapat. 


Direktur Wang memberikan presentasi  membangun perumahan di di Annam-dong dan Bansan-dong karena sudah resmi dijadikan distrik khusus. Sementara So Joon sibuk dengan melacak lokasi dengan ponselnya.Yong Jin yang mendengar presentasi Direktur Wang langsung protes.
“Direktur Wang, kau coba memprediksikan masa depan di Annam-dong dan Bansan-dong. Pertaruhannya sudah sangat besar.  Kenapa berusaha menyeret kami ke dalamnya?” keluh Yong Jin
So Joon seperti tak peduli mencari Keyword istri yang kabur, pesan dari So Ri masuk “Ini teman Ma Rin, Oh So Ri. Ma Rin di rumah sakit sekarang.” Saat itu juga So Joon langsung berlari keluar dari ruangan, semua binggung melihat So Joon pergi dari rapat. 

So Joon pergi ke ruangan rawat melihat Ma Rin sudah mengunakan infusnya, So Ri melihat So Joon yang sudah datang meninggalkan keduanya. So Joon tak percaya melihat Ma Rin yang ada dirumah sakit dan bertanya apa sebenarnya yang terjadi dan seberapa parah kondisinya.,
“Mereka bilang aku boleh pulang setelah 2-3 hari dan Tidak terlalu parah rupanya.” Kata Ma Rin
“Kenapa kau membuatku sangat khawatir? Kau mestinya menelepon kalau sakit.” Ucap So Joon
“Kau juga biasa menginap di luar. Kenapa kau boleh sedangkan aku tidak boleh melakukanya?” kata Ma Rin sinis, So Joon menegaskan kalau ini berbeda.

“Aku...tidak merasa kau keluargaku. Aku merasa seolah harus menyembunyikan hal berat darimu, Karena kau pun seperti itu. Setiap waktu, kau terlihat seperti orang yang berbeda. Kupikir aku tahu segalanya tentangmu. Rupanya, tidak sama sekali. Rasanya, kau bukan milikku.” Ungkap Ma Rin
“Jadi, kau...tidak merasa dapat mengandalkan aku.Itu maksudmu.” Kata So Joon yang terlihat ikut menangis.
“Aku tidak tahu kesalahan apa yang sudah kulakukan Mungkin kita terlalu buru-buru menikah.Aku mempercayakan seluruh hidupku padaku. Apakah itu sebuah kesalahan? Aku selalu ketakutan dan cemas.” Ungkap Ma Rin
“Mungkin bukan kau yang salah. Aku yang bersikap tidak wajar. Aku yang salah.” Kata So Joon
“ Maafkan aku. Hari ini, aku ingin sendirian jadi Pergilah.” Kata Ma Rin,  So Joon pun memilih untuk keluar dari ruangan. 


Ki Doong menerima telp dai So Joon mengeluh yang dilakuan temanya tadi meninggalkan rapat seperti itu. So Joon mengatakan di Stasiun Namyeong sekarang. Ki Doong berpikir kalau So Joon akan pergi ke dunia lain.
So Joon mengatakan harus mencari tahu sesuatu. Ki Doong bertanya apa itu. So Joon juga tidak tahu dan Entah kapan bisa menyelesaikan masalah dengan Ma Rin, lalu merasa kalau pasti Ki Doong melihatnya sangat menyedihkan. Ki Doong pikir So Joon juga tahu jawabannya.

So Ri menceritakan So Joon seperti kehilangan semangat hidup karena sebelum pergi mengatakan "Aku penyebab Ma Rin stres" dan membuatnya merasa sangat sedih. Ma Rin yang sedang makan berpikir kalau So Joon itu hanya mencoba menjadi korban.  So Ri heran dengan temanya yang keras kepala.
“Kau harus katakan sebabnya padaku, agar aku bisa memberi solusi.” Ucap So Rin
“Tidak perlu. Aku hanya mau makan dan mengumpulkan energi. Aku tidak ingin jadi lemah dan depresi.” Ungkap Ma Rin
Saat itu So Joon masuk dikejutkan dengan Ma Rin sedang makandengan lahap, Ma Rin langsung terbatuk-batuk. So Joon pikir akan akan menunggu di luar. So Ri yang ikut kaget memberikan minum untuk teman yang tersedak. Ma Rin heran dengan So Joon yang datang disaat sedang makan dengan lahap. 

Ma Rin akhirnya keluar dari kamarnya, mengaku kalau tadi  adalah makanan pertamanya dan mengeluh So Joon yang  masuk tepat saat seperti itu. SO Joon berkomentar Wajah Ma Rin  kelihatan sangat kurus. Ma Rin mengaku kalau makan agar tetap hidup dan sebelumnya merasa sekarat.
“Jangan datang kemari lagi.” Ucap Ma Rin ketus.
“Apa Ada yang ingin kau makan lagi?” tanya So Joon seperti ingin mengajak berdamai
“Aku tidak berselera.” Kata Ma Rin, So Joon pikir pasti ada sesuatu yang ingin di makan dan akan membelikanya.
“Bawakan buah beri gunung.” Kata Ma Rin, So Joon akan pergi, Ma Rin merasa So Joon tidak tahu apa-apa soal tanaman karenan tak akan mendapatkan di musim gugur.
“Situasi ini tidak bisa membaik hanya dengan makanan. Jangan coba menyelesaikan dengan makanan. Lebih baik pulang saja” kata Ma Rin ketus.
“Aku bisa membelikannya untukmu dan Akan kubelikan.” Tegas So Joon menatap Ma Rin penuh keyakinan. 

So Joon datang dengan sekeranjang buah beri, Ma Rin melonggo So Joon bisa mendapatkanya. So Joon mengaku baru pergi dari tempat yang sangat jauh lalu bertanya apa lagi yang ingin dimakan.
“Sup mugwort... Dengan ikan segar, baru ditangkap.” Kata Ma Rin, So Joon akan segera keluar.
“Kau tidak akan bisa mendapatkannya, itu Hanya ada di musim semi. Ikan segar yang baru ditangkap.” Kata Ma Rin. So Joon meminta Ma Rin menunggu saja.

Ma Rin melonggo melihat So Joon membawa semangkuk Sup mugwort, So Joon memberitahu kalau Ikannya benar-benar baru ditangkap. Sebuket bunga ada di depan jendela, Ma Rin melihat itu bunga Freesia yaitu bunga musim semi, So Joon tahu itu bunga kesukaan Ma Rin.  Ma Rin menaruh dalam vas  bunga tulip, So Joon menegaskan kalau Tidak ada yang tak bisa didapatkan untuk Ma Rin. 


So Joon berdiri didepan monumen kecelakaan kereta, menelp Ma Ri kalau sup yang diminta berlebihan. Ma Rin juga tak tahu karena hanya mendapatkannya di dunia maya. So Joon mengodanya kalau Ma Rin meminta saja untuk diambilkan bintang padanya. Ma Rin mengaku sempat memikirkan hal iytu.
“Apa Kau ingat di subway saat kita pertama kali bertemu? Insiden Stasiun Namyeong.” Ucap Soo Joon, Ma Rin mengatakan mengetahuinya.
“Aku sedang ikut orang tuaku saat itu. Mereka memaksaku ikut ke suatu tempat, yaitu Amal makanan.” Cerita So Joon
“Kudengar, mereka mengelola Happiness saat masih hidup.” Kata Ma Rin, So Joon pikir bukan mengelola karena anggotanya hanya segelintir orang.
“Bagaimanapun, aku dipaksa ikut sekali-dua kali sebulan. Hari itu, Ayahku memintaku membantu bersih-bersih setelah acara. Lalu, secara tidak sengaja bertemu denganmu. Aku mengikutimu karena tidak ingin membantu.” Cerita So Joon 

Flash Back
Ma Rin yang ingin memastikan fotonya tak diambil mengajak keluar dari kereta. So Joon pun dengan senyuman setuju untuk keluar dari kereta untuk membuktinya. Kedua orang tua So Joon yang melihat anaknya keluar memanggilnya.
“Mereka memanggilku, tapi aku tidak peduli.” Cerita So Joon mengingat saat itulah terjadi kecelakaan yang menewaskan orang tuanya.
“Itu bukan kesalahanmu.” Ucap Ma Rin terlihat shock mendengarnya.
“Tentu saja, tapi dari sudut pandang orang tuaku...” ucap So Joon sambil menangis, Ma Rin ikut sedih meminta agar So Joon, jangan teruskan.
“Dari sudut pandang orang tuaku, saat terakhir mereka melihatku. Aku melarikan diri seperti anak kecil. Mereka meninggal dengan rasa kecewa terhadapku. Aku masih tidak suka harus memikirkan tentang hari itu dan tidak suka membicarakannya. Setelah hari itu... banyak hal terjadi padaku.” Cerita So Joon
Ma Rin ikut menangis mengetahui dibalik cerita itu, So Joon lalu bertanya apakah mereka bisa bertemu sekarang dan meminta izin untuk menemuinya. Ma Rin pun meminta agar So Joon segera datang.  So Joon mengaku mungkin tidak bisa mengucapkannya langsung di depan Ma Rin jadi akan mengatakan di telp saja.
“Saat itu... ketika kau mengatakan bahwa kau bahagia selamat bersamaku. Kau berterima kasih padaku karena selamat bersamamu. Aku bersyukur mendengarnya.” Ucap So Joon. Keduanya sama-sama menangis mengetahui kisah yang orang tua So Joon.


Ma Rin mencuci wajahnya setelah menangis, terlihat matanya yang sedikit bengkak. Lalu keluar dari ruangan seperti menungggu So Joon datang. So Joon tiba-tiba memanggil Ma Rin saat akan naik lift. Keduanya saling menatap dengan mata berkaca-kaca. So Joon memeluk Ma Rin dengan erat seperti bahagia bisa membagi cerita yang selama ini disimpannya sendiri.
Bersambung ke episode 8

FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09