PS; yang udah baca blog / tulisan aku.. Tolong minta follow account IG aku yah dyahdeedee09 & Twitter @dyahdeedee09 jadi biar makin semangat nulisnya. Kamsahamnida.

Jumat, 09 Oktober 2015

Sinopsis She Was Pretty Episode 7 Part 1

Dalam perjalanan, Sung Joon terdiam dengan wajah dingin, Hye Jin melirik binggung karena suasananya sangat canggung sekali. Akhirnya ia membuka jendela dengan berteriak bahwa cuaca duluan sangat bagus. Sung Joon langsung menyuruh menutup jendela karena berisik. Hye Jin mengerti dengan jendela tertutup lebih tenang.
Setelah itu Hye Jin melihat kacamata diatas dashbord dengan penuh semangat, Sung Joon sinis melarang untuk memegangnya, karena  bekas jarinya nanti menempel. Hye Jin pun dengan lesu menaruhnya kembali lalu meminta untuk bergantian menyetir di rest area. Sung Joon menegaskan kalau akan langsung tak akan berhenti, Hye Jin dengan nada kesal memang lebih cepat sampai apabila tak berhenti.
Akhirnya Hye Jin menghilangkan kebosanan dengan menyanyi, Sung Joon menyindir apakah mereka sedang berlibur. Hye Jin mengeleng, Sung Joon menegaskan bahwa banyak yang ada dipikirnya jadi memintanya untuk tak ribut. Hye Jin mengerti tapi tiba-tiba suara perutnya yang lapar berbunyi. Sung Joon melirik sinis, Hye Jin menjelaskan untuk mencoba tenang tapi perutnya bunyi sendiri.
“Apa-apaan dia?  Kenapa dingin lagi?  alu kenapa memberi bawang segala padaku?” gumam Hye Jin binggung dan perutnya terus saja berbunyi, Sung Joon makin cemberut, Hye Jin akhirnya terbatuk-batuk.

Di kantor
Shin Hyuk sengaja menakut-nakuti Joo Young dengan laba-laba, tapi Joo Youn malah melirik heran menanyakan apa yang diinginkanya. Shin Hyuk menghela nafas karena rasa jahilanya tak bisa terlampiaskan, lalu mengelengkan kepal dn menyuruh Joo Young kembali berkerja.
Poong Ho datang ke meja Joo Young, Shin Hyuk mencoba mengagetkanya, tapi kepala Shin Hyuk malah kena tongkat pengaruk dan menyuruh untuk menyingkir karena ingin memberikan berkas. Joo Young bertanya-tanya kapan Shin Hyuk akan sikap dewasa, Poong Ho pikir tak akan pernah.
“Ah... reaksi Jackson pasti heboh sekali.... Jackson...” keluh Shin Hyuk melihat kursi Hye Jin yang kosong. 

Hye Jin turun dari mobil sambil membentangkan tangan menarik nafas panjang, sambil berteriak udaranya segar sekali. Sung Joon menyindir udara tak membantunya kenyang dan mengajaknya masuk ke dalam restoran. Hye Jin pun menurut untuk dengan cepat masuk ke dalam.
Bibi Pelayan datang ingin mencatat pesanan, Hye Jin ingin memesan bimbimbap, Sung Joon menolak karena akan memesan Dua porsi daging spesial. Hye Jin menjerit melihat harganya yang menurutnya mahal. Sung Joon menyindir Hye Jin yang ribut karena ia yang membayarnya.
“Tapi ditempat kami, anda harus pesan yokhae (sajian daging khas Korea.) Karena kami punya peternakan sendiri.” jelas si bibi pelayan
“Kalau begitu yokhae sekalian.” ucap Sung Joon, Bibi pelayan tersenyum berteriak memberitahu pesanan adalah 2 porsi Daging spesial dan 1 Yokhae.
“Wah.. ini Mahal sekali. Apa ini tidak kebanyakan?” ucap Hye Jin khawatir
“Aku tak menyuruh bayar, makan saja. Aku yang bayar.” tegas Sung Joon sombong, Hye Jin mengangguk paham. 

Poong Ho membawakan berkas ke dalam ruangan Sung Joon, mengejek atasanya itu ceroboh karena meninggalkan dompet diatas meja, jadi mungkin anak buahnya yang akan membayari. Tapi menurutnya Sung Joon sengaja dan memuji caranya sangat cerdik.
Bibi Pelayan membantu mengunting daging sapi diatas panggangan, dengan menceritakan sapi mereka sangat dirawat dengan baik dan sering di pijat. Lalu untuk mengetahui daging itu sudah matang mencob sendiri, tanpa sengaja capitanya terkena minyak yang keluar daging sapi. Bibi pelayan mengelap wajahnya, lalu menyarankan agar supaya mengunakan celemek. 

Sung Joon memakai celemek sebelum makan, sementara Hye Jin merasa tak perlu mengunakanya, tapi yang paling penting baginya adalah ID Cardnya agar tak terciprat sambil menaruhny kebelakang. Sung Joon mengejek Hye Jin yang tetap mengunakan itu saat perjalanan bisnis seperti sekarang.
Hye Jin dengan senyum bahagia memberitahu bahwa itu adalah harta yang paling penting dan jadi lebih bertenaga saat memakainya. Sung Joon selesai memakai celemeknya, Hye Jin tiba-tiba tertawa, Sung Joon kembali dingin melihat reaksi Hye Jin tiba-tiba tertawa.
“Emm... anda sangat seksi.” ucap Hye Jin menahan tawanya, Sung Joon melihat gambar celemeknya dengan pakaian bikini dan berusaha melepaskanya.
“Kalau dilepas baju anda bisa kecipratan.” kata Hye Jin, Sung Joon pun mau tak mau memakainya dan mengajak Hye Jin mulai makan.
Hye Jin tersenyum melihat celemek yang dipakai oleh atasanya, Sung Joon menutup dadanya supaya Hye Jin tak melihat ke bagian itu. Hye Jin mencoba menahan tawanya sambil makan daging sapi panggang, Sung Joon menutup dengan tangan kanan dan memakan dagingnya juga, Hye Jin akhirnya tak bisa lagi menahan tawa melihat gambar bikini. 

Bibi pelayan menghitung tagihan yang harus dibayar oleh Sung Joon dengan kalkulatornya, dan Totalnya 185.000 Won (Rp. 1.850.000). Sun Joon ingin mengeluarkan dompet dari saku jaketnya, wajahnya panik karena tak menemukanya, Bibi Pelayan kembali memberitahu total tagihan yang harus dibayarnya, Sung Joon kembali mencari dompet diseluruh saku, jaket, celana dan kantung kemejanya.
“Aku bilang totalnya 185.000 Won!” teriak Bibi Pelayan yang tak sabar menunggu, Sung Joon menatapnya dengan wajah tegang. 

Sung Joon menemui Hye Jin yang menunggu didepan pintu, teringat sebelumnya dengan sombong mengatakan ia yang akan membayarnya. Hye Jin melihat Sung Joon datang langsung mengucapkan terimakasih, dengan mengangkat dua jempol kalau rasa dagingnya luar biasa.
“Emmm.... Aku pinjam uang.” ucap Sung Joon saat itu juga motor pengantar lewat 
“Barusan bilang apa? Ada motor lewat jadi tak dengar.” kata Hye Jin
“Dompetku... ketinggalan. Pakai kartumu dulu, sampai yang lain datang.” ucap Sung Joon memberanikan dirinya. Wajah Hye Jin yang tadinya sumringah berubah jadi melonggo. 

Hye Jin akhirnya membayar dengan kartunya, Bibi pelayan mengesek beberapa kali kartu menduga bahwa mesinnya rusak, lalu bertanya apakah memiliki uang tunai karena masih kurang 40ribu won lagi. Hye Jin binggung dengan nada panik memberitahu bahwa teman mereka yang lain akan datang.
“Apa? Banyak orang kabur sepertimu.” teriak Bibi Pelayan
“Kami tidak seperti mereka. Kalau begitu aku tinggal KTP.” kata Hye Jin, Sung Joon datang membuka scaftnya
“Aku tinggal scaft ini sebagai jaminan, dan akan bayar setelah teman kami datang.” ucap Sung Joon menaruh scaft diatas meja.
“Hei...Kau pikir aku bodoh? Aku punya banyak yang begini! Siapa yang mau barang bagini?  Cepat bayar 40.000 Won.” teriak bibi Pelayan melepaskan scaft dari lehernya
“Ini bukan barang biasa, ini “After Blue 2015 Paris Collection” jelas Sung Joon
Bibi pemilik tak peduli memanggil suaminya untuk seger menelp polisi. Sung Joon mencoba menelp dari ponselnya, sementar bibi Pemilik menelp polisi untuk memberitahu sedang terjadi keributan. 

Sung Joon menelp Han Sul menanyakan keberadannya, Han Sul sedang menyetir memberitahu sudah sampai Daejeon. Sung Joon binggung karena seharusnya mereka pergi ke Gangwondo bukan ke Daejon yang berlawanan arh. Han Sul terlihat pura-pura panik, berpikir mereka pergi ke Kyeongsangdo
“Bagaimana ini? Aku akan segera putar balik.” ucap Han Sul. Joon Woo yang tertidur akhirnya terbangun menanyakan apakah ada masalah.
“Kita harusnya ke Gangwondo, bukan Kyeongsangdong dan Aku tak tahu.” cerita Han Sul santai
“Apa? Kenapa bisa salah begitu? Kapan kita akan sampai?” ucap Joon Woo binggung. Han Sul tersenyum bahagia karena sampai sekarang rencananya berhasil.

Bibi pelayan mencoba kembali menelp polisi, Hye Jin menahanya akan berusaha menelp temanya agar bisa meminta uang. Ponsel Ha Ri berdering tapi orangnya ga ada diruangan. Bibi Pelayan sudah siap mengasah pisaunya.
Hye Jin makin panik dan ketakutan karena tak ada yang mengangkatnya, Bibi Pelayan berpikir Hye Jin itu sengaja berbohong, jadi apabila telpnya itu diangkat untuk memberikan telpnya padanya. Hye Jin lalu meminta Sung Joon menelp temanya dan meminta untuk mengirimi uang.
Sung Joon mengatakan tak memiliki siapapun untuk ditelp, Hye Jin makin panik  karena tak ada yang bisa dihubungi si cinta pertamanya itu, lalu terdiam seperti mengerti temanya itu tak memiliki banyak teman. 

Akhirnya ia mencoba menelp Shin Hyuk, sayangnya si pria jahil juga tak ada dimejanya karena sedang rapat dengan Reporter Kang dan akhirnya Joo Young dengan kesal harus mengangkatnya melihat nama “Jackson” dan tahu itu adalah Hye Jin.
“Halo... selamat siang... Anda kenal Kim Hye Jin?” ucap Bibi pelayan, Joo Young bertanya siapa itu yang menelpnya.
“Kim Hye Jin harus membayar sesuatu tapi uangnya kurang. Jadi Anda harus segera kirim uang ke rekeningku” ucap Bibi pelayan dengan nada lembut.
“Maaf...Ahjummeonni. Anda ceroboh sekali, Anda pikir bisa dapat uang? Lain kali, setelah lebih pintar, coba lagi.” ucap Joo Young langsung menutup telp karena berpikir itu tukang tipu.
Lalu ia kembali ke meja, memperingatan untuk tak mengangkat telp dari Hye Jin karena beredar kabar ada penipuan pakai nomor orang dan orang yng barusan mengunakan nomor Hye Jin pasti kasus yang sama. Semua langsung menjerit ketakutan, Ah Reum panik melihat Hye Jin juga menelpnya dan langsung merejectnya. 

Hye Jin binggung karena semua teman-temanya yang ada dikantor tak ada yang mau mengangkat telpnya. Bibi Pelayan makin cepat mengasah pisaunya, Hye Jin panik bertanya apa yang harus dilakukanya sekarang pada Sung Joon.
“Apa maksudmu ‘bagaimana sekarang’? Bayar pakai tubuh kalian.” tegas Bibi Pelayan dengan menancapkan pisaunya, Hye Jin ketakutan bersembunyi dibalik tubuh Sung Joon. Sementara Sung Joon seperti menyembunyikan rasa takutnya sebagai seorang pria. 

Bibi Pelayan memberikan pakaian agar keduanya memakai pakaian untuk berkerja. Sung Joon menolak dengan mengembalikan pakaian itu,Bibi pelayan melempar baju ke wajah kedunya untuk menganti pakaian mereka.
Akhirnya keduanya sudah mengunakan pakaian untuk berkerja, Bibi Pemilik memperlihatkan perternakan Ji Kyeong miliknya, lalu menyuruh keduanya untuk membersihkan kotoran sapi. Hye Jin kaget mengetahui mereka harus berkerja memberishkan kotoran sapi.
“Kenapa harus membersihkan kotoran sapi?” keluh Sung Joon menolk
“Aku telpon polisi saja...” ucap Bibi pelayan langsung mengangkat telp untuk melaporkan keduanya melakukan keributan. Hye Jin berteriak setuju untuk membersihkan kotoran sapi
“Kalau tidak mau melakuannya maka kita bisa ditangkap! Lakukan saja!” bisik Hye Jin pada Sung Joon
“Tapi Aku punya perut yang lemah!” keluh Sung Joon sambil menatap sapi didepannya dengan wajah ketakutan. 

Keduanya mengunakan skop membersihkan kotoran sapi dan dipindahkan ke trolly, Hye Jin mengedumel Sung Joon yang belagak membeli makanan yang mahal tapi ternyat tak punya uang. Sung Joon mengatakan bahwa ia bisa mendengar omelan bawahanya itu.
“Hei.....Lagi pula makanmu lebih banyak!” ucap Sung Joon membela diri
“Kalau aku tahu kau tak punya uang, aku makan bibimbab saja.” kata Hye Jin menyesal
“Lagian siapa yang pesan Naengmyun ? Seandainya kau tak pesan naengmyun, hutang kita bisa berkurang 5000 Won.”ucap Sung Joon menyalahkan Hye Jin
“Kenapa nadamu jadi tinggi? Padahal Kau sendiri yang bilang, aku boleh pesan.” balas Hye Jin tak terima.
Sung Joon tak ingin berdebat lagi karena lebih baik mereka membersihkan semuanya saja. Hye Jin tetap saja ngedumel karena seharusnya pesan bimbimbap saja pasti tak akan melakukan hal ini. Sung Joon kembali mengungkapkan bisa mendengar ucapanya dengan nada kesal. Akhirnya keduanya berjalan mundur untuk membersihkan kotoran dan bokong mereka pun bertubrukan dan keduanya sama-sama jatuh. Sung Joon menjerit histeris karena tanganya memegang kotoran sapi.
Hye Jin bertanya apakah bosnya itu baik-baik saja, Sung Joon mengomel dengan pertanyaan bawahanya itu dan tak mau melakukanya lagi. Bibi Pelayan tiba-tiba sudah berdiri didepan kandang, Sung Joon pun kembali berkerja. Hye Jin dengan sekuat tenaga mengangkat kotoran sapi sebanyak-banyaknya agar cepat selesai, tak menyadari ID card kesayanganya itu jatuh. 

Semua pegawai makan siang bersama-sama sambil menyantap Sondae dan usus babi dengan nikmat, Shin Hyuk melihat usus itu teringat kembali saat makan dengan Hye Jin.
Flash Back
“Banyak makanan didunia. Kenapa harus makan isi perut babi?” keluh Shin Hyuk melihat makanan yang tak pernah dimakan.
Hye Jin memberitahu Sundae itu makanan yang paling enak dan bagian usus adalah yang paling enak, lalu memint Shin Hyuk untuk mencoba dengan menyuapinya. Shin Hyuk menolak karena itu sangat menjijikan dimatanya. Hye Jin menyuruh agar tak membayangkan makanan itu menjijikan dan mencobanya. Shin Hyuk mengelengkan kepala dengan wajah merasa geli hanya melihat saja.
Shin Hyuk melihat usus babi didepanya, mengingat Hye Jin yang makan benda menjijikan itu, lalu berusaha mencobanya, tapi yang terjadi malah ia ingin muntah akhirnya malah membuangnya diatas mangkuk odeng. Semua pegawai menjerit, Poong Ho langsung memukul dengan pengaruk kayunya karena masih ingin minum kuah odengnya, tapi tetap saja ia meminum walaupun ada lepehan usus dari mulut Shin Hyuk. Sementara Shin Hyuk masih terlihat mual setelah makan usus babi. 

Hye Jin dan Sung Joon selesai membersihkan kotoran sapi lalu menaburkan dengan tanah. Setelah itu memberikan makanan sapi-sapi, Hye Jin terlihat sangat bersemangat. Keduanya memindahkan kotoran sapi dengan trolly bersama-sama, terlihat saling berkerja sama tanpa ada pertengkaran kembali.
Setelah berhasil memindahkan semuanya, Hye Jin dan Sung Joon ingin saling high five tapi langsung menurunkan tanganya karena dua-duanya sama-sama gengsi. Sung Joon menyuruh Hye Jin membawa trolly kosong kembali karena tadi ia yang mendorongnya. 

Keduanya yang kelelahan , berbaring diatas dipan. Sung Joon memperingatkan Hye Jin kalau kejadian hari ini tak boleh ada yang tahu. Hye Jin menanyakan alasanya karena tak ada yang salah dengan membersihkan kotoran sapi. Sung Joon menegakan tak ada yang bisa dibanggakan dengan membersihkan kotoran sapi tanpa dibayar. Hye Jin setuju kalau memang itu maunya.
Tiba-tiba keduanya sama-sama mengangkat tangan mereka seperti sedang memotret mengambil gambar awan dari tangan mereka. Bibi pelayan datang memberitau hutang mereka lunas dan mempersilahkan keduanya untuk mandi. Hye Jin baru sadar kalau ID Cardnya hilang, dengan panik mencari-cari dimana ia menjatuhkanya. Sung Joon menyalahakan Hye Jin yang  selalu memakainya terus.
Sung Joon menyuruh Hye Jin mandi lebih dulu dan bisa membuat ID Card baru lagi. Hye Jin menolak karena itu barang berharga miliknya, Sung Joon memberitahu mereka sudah banyak membuang-buang waktu jadi menyuruhnya untuk cept mandi. Hye Jin menegaskan mungkin bagi Sung Joon itu tak penting, tapi menurutnya ID Card itu adalah yang terpenting baginya, lalu berlari pergi ke tempat kandang sapi.
“Aku akan mandi dan pergi dalam 20 menit. Ingat itu!” teriak Sung Joon mengancam Hye Jin. 


Hye Jin pergi ke kandang sapi mencari-cari mungkin saja terjatuh disana, Sung Joon ternyata ikut masuk dan melihat Hye Jin yang berjongkok sambil menangisi kartu pegawainya yang hilang. Akhirnya Hye Jin keluar dari kamar mandi yang mengelap kalung ID Cardnya, dengan wajah sedih.
Tiba-tiba Sung Joon memberikan ID Card milik Hye Jin, melihat ID Cardnya, wajah Hye Jin bahagia bertanya dimana mendapatkanya. Sung Joon mengaku menemukanya dilantai. Hye Jin penasaran disebelah mana karena sebelumnya sudah mencari-cari ke seluruh perternakan.
Sung Joon pikir Hye Jin itu tak mencari secara teliti jadi ia yang berhasil menemukanya. Hye Jin sangat bersyukur sambil mencium ID Card kesayanganya. Sung Joon langsung mulai melihatnya dan meminta Hye Jin tak perlu menciumnya lalu mengajaknya pergi sekarang.

Bibi pelayan datang kembali menanyakan kenapa Sung Joon kembali membongkar tumpukan kotoran sapi lagi, Sung Joon binggung menjelaskanya, Hye Jin menduga Sung Joon yang mencari ID Cardnya didalam kotoran sapi. Sung Joon menyangkal karen menemukanya dilantai, tiba-tiba banyak lalat yang menghampiriny.

Hye Jin meliht Sung Joon yang pergi lebih dulu, lalu pamit pada bibi pelayan. Sementara si bibi berpikir dalam tumpukan itu ada emas dengan cepat berlari untuk mencarinya. 

Di dalam mobil jadi banyak lalat, Sung Joon membuka jendela agar bisa mengeluarkan lalat dari mobilnya. Hye Jin menatap ID Cardnya bercerita bahwa ini pertama kalinya bisa diterima di perusahaan besar dan mendapatkan ID Card dengan foto wajahnya. Sung Joon melirik Hye Jin yang berbicara disampingnya.
“Selama ini orang yang paling membuatku iri adalah pegawai yang pakai kartu seperti ini. Karena itu, setiap kali aku melihatnya, Aku bersyukur, bersemangat dan bangga.” cerita Hye Jin melihat kartu ditanganya mengingat saat pertama kali mentab kartu terlihat ada wajahnya dilayar.
Dalam pikiranya terucap "Ah, aku benar-benar pegawai peruasahaan ini dan aku benar-benar jadi pegawai sekrang”  Sung Joon tersenyum mendengarnya, Hye Jin sadar ID Card hanya sebuah kartu dan memang berlebihan. Sung Joon mengakui memang Hye Jin itu berlebihan tapi bisa dimengerti.
“Setiap orang punya benda yang bagi orang lain tak berguna, tapi bagi mereka spesial.” jelas Sung Joon, Hye Jin bertanya apakah Sung Joon memiliki barang seperti itu juga.

“Waktu itu... barang yang kau rusak.” ucap Sung Joon, Hye Jin mengingat saat tak sengaja menjatuhkan puzzle yang ada didalam pigura dan jatuh berantakan. Sung Joon langsung menyodorkan tanganya, Hye Jin binggung, Sung Joon seperti meminta agar Hye Jin memegang tanganya, Hye Jin pun mengulurkan tangan untuk memegangnya.
“Apa yang kaulakukan? Aku minta uang untuk ganti rugi bingkai kaca waktu itu.” ucap Sung Joon, Hye Jin kesal lalu melepaskan tangan bosnya
“Kalau tak punya uang sekarang,Transfer di Seoul saja. No. Rekeningku 0820491...” kata Sung Joon cepat
Hye Jin buru-buru mengeluarkan ponselnya, Sung Joon tertawa mengejek Hye Jin gampang dibodohi dan tak bisa diajak bercanda atau serius. Hye Jin kesal mengatakan akan tetap membayarnya, meminta Sung Joon mengulang nomor rekeningnya. Sung Joon memberitahu harga bingkainya, 1juta won. Hye Jin dengan cepat bahwa omongan Sung Joon bercanda lalu memasukan kembali ponselnya. Sung Joon tersenyum lebar, Hye Jin melirik wajah Sung Joon kembali berubah dingin.

Di tempat pemberhentian
Joon Woo terlihat tak yakin merek masih ada waktu untuk makan. Han Sul beralasan kalau Wapemred yang menyuruh mereka bersantai lalu melihat kursinya yang kotor dan pindah duduk disamping Joon Woo. Sementara Joon Woo mengajak Han Sul cepat makan dan mereka harus segara pergi.
“Pergi kemana? Pertama-tama, disaat yang tepat, aku pura-puramobilnya mogok.” gumam Han Sul dengan rencananya.
Han Sul berpura-pura dipinggir sawah sengaja memberhentikan mobilnya dan berpura-pura mogok, Joon Woo mencari-cari buku panduan dilaci mobil. Han Sul keluar dari mobil berpura-pura menelp montir untuk mengulur waktu. Sementar Joon Woo berusaha untuk mengecek dari buku manual mobil. Akhirnya mereka menunggu sampai montir itu datang.
Sampai matahari terbenam, keduanya duduk didepan kayu bakar, Han Sul sambil memegang lengan Joon Woo sambil melihat bintang yang bertaburan dilangit lalu mengodanya dengan mengelus bagian tangan sampai ke lengan. Joon Woo langsung memeluk Han Sul dan sepert ingin menciumnya. 

Han Sul memikirkan semua rencananya sambil memejamkan matanya membayangkan nanti malam akan berciuman mesra dengan Joon Woo.
“Lalu setelah itu, pacarku adalah anak pemilik Jin Sung Grup, Kim Joon Woo! Ini jackpot terbesar dalam hidupku.” jerit Han Sul bahagia.
Joon Woo yang sibuk makan heran melihat Han Sul malah menutup matanya  sambil tertawa, bukan segera makan. Han Sul langsung bersemangat untuk segera makan. 

Mobil Sung Joon memasuki parkiran, Hye Jin sumringah lalu berlari sambil membentangkan tanganya ke arah pantai, saat membalikan badanya teringat bahwa mereka datang bukan untuk berlibur. Sung Joon akhirnya ikut membentangkan tangan karena pemandangan sangat indah, begitu juga Hye Jin yang berteriak bahagia.
Sung Joon mengajak Hye Jin mulai berkeliling, Hye Jin pikir harus menelp lebih dulu karen yang lain akan datang telat harus meminta seseorang untuk mengirimkan uang, lalu bertanya untuk meyakinkan apakah uangnya akan diganti. Sung Joon terlihat kesal menyuruh Hye Jin membuat surat penjanjian saja kalau tak percaya, Hye Jin tersenyum mengejek Sung Joon tak bisa membedakan bercanda atau serius. 

Ponsel Sung Joon berdering, Ha Ri mengajaknya untuk makan malam bersama. Sung Joon pun mengajaknya makan Gangwondo jam 8. Ha Ri tersenyum mendengr nama tempat yang jauh dari Seoul lalu teringat bahwa Sung Joon sedang perjalanan bisnis, lalu bertanya apakah ia akan pulang besok.
Nada masuk terdengar, Ha Ri melihat Hye Jin menelpnya. Akhirnya ia memutuskan telp Sung Joon untuk menerima telp dari Hye Jin. Sung Joon berjanji akan menelpnya ketika sudah sampai di Seoul.
Hye Jin yang baru saja mengingkat sepatunya mengeluh tak bisa mengangkat telp dari temannya karena sedang mengerjakan sesuatu. Ha Ri penasaran apa yang dikerjakanya, Hye Jin berjanji akan menceritakan di Seoul tapi sekarang meminta temannya untuk mengirimkan uang. Ha Ri menduga kalau ini adalah penipuan.
“Aku butuh uang tapi uang dikartuku habis.” ucap Hye Jin, Ha Ri percaya dan akan mengirimnya.
“Aku tak pulang sampai besok, karen dipaksa ikut perjalanan bisnis dari kantor” kata Hye Jin memberitahu.
“Apa? perjalanan bisnis? Dengan siapa?” tanya Ha Ri panik
Hye Jin berbisik memberitahu dengan Sung Joon, Ha Ri makin panik mengetahui mereka hanya pergi berdua saja. Hye Jin membenarkan untuk sekarang tapi nanti akan ada anggota lain yang ikut. Ha Ri berusaha menutupi rasa khawatirnya , Hye Jin tak lupa mengucapakan terimkasih pada temannya. 

Shin Hyuk yang bosan memegang bola ditanganya sambil memejamkan matanya, saat membuka matanya langsung menjerit karena ada laba-laba. Poong Ho mengembalikan barang milik Shin Hyuk keatas mejanya, Ah Reum datang ke meja Shin Hyuk dengan senyuman. Shin Hyuk binggung melihat Ah Reum yang belum pulang kantor.
Ah Reum binggung karena masih jam 4 Sore, Shin Hyuk melihat jam tanganya sendiri, baru percaya bahwa masih jam 4, padahal dalam pikiranya sudah jam 7 malam dan waktu berjalan lebih lambat. Ah Reum melihat Shin Hyuk tak sibuk, Shin Hyuk langsung memeluk Ah Reum sebelum bicara.
“Aku mau cari udara segar.” ucap Shin Hyuk lalu menakuti Ah Reum dengan laba-laba mainanya. Ah Reum berhasil menjerit ketakutan. 

Joon Woo binggung melihat jalanan yang mereka lalu seperti di pedesaan. Han Sul yang menyetir mobil seperti merasakan perutnya bergejolak, sambil menjelaskan bahwa jalan yang diambil itu jalan pintas. Joon Woo masih berpikir tempat itu sangat aneh lalu panik melihat Han Sul yang mengeluarkan keringat sangat banyak.
Han Sul mengatakan baik-baik saja tapi perutnya semakin bergejolak  karena makan mie direstoran dan harus segera pergi ke toilet. Joon Woo panik karena tak mungin ada toilet yang banyak terhampar sawah-sawah. Han Sul menjerit karena perutnya semakin sakit dan membutuhkan toilet.
Joon Woo menjerit menujuk ada WC umum di bawah pohon, Han Sul langsung memberhentikan mobil dan berjalan walaupun sempet terhenti-henti karena menahan pup agar tak keluar. Joon Woo melihatnya dengan senyuman dari depan mobil. 

Di dalam toilet, Han Sul tak percaya bisa seperti ini didepan Joon Woo yang membuatnya malu. Tapi setelah itu berusaha untuk menyemangatinya dirinya untuk memulai mengambil hati Joon Woo. Tanganya mengambi tissue ternyata tissue toiletnya habis, Joon Woo datang menanyakan keadaan rekan kerjanya.
Han Sul berbicara pelan untuk membawakan tissue toilet, Joon Woo tak mendengar apa yang diucapan temanya itu dan meminta untuk berteriak. Han Sul berteriak kesal lalu mengumpat sendiri pada dirinya yang makin dilihat jelek dimata Joon Woo, tapi ia kembali berusaha menyakinkan diri kalau bisa membuat Joon Woo jatuh ditanganya.
Akhirnya Han Sul keluar, Joon Woo kembali menanyakan keadaanya. Han Sul berdalih yang dilakukan sekarang itu Sebagai manusia sudah wajar lalu mengajaknya pergi. 

Joon Woo pikir sekalian saja buang air disana, saat membuka pintu langsung menutup pintunya karena bau tak sedap menusuk hidungnya. Han Sul merasa itu sangat memalukan memilih untuk berlari cepat meninggalkan Joon Woo, yang terjadi malah tersengkal kakinya sendiri. Joon Woo berlari menghampiri Han Sul yang terjatuh.
“Itu bau pupuk kandang... Harusnya kau tahu itu.” jerit Han Sul mencari alasan. Joon Woo mengerti lalu mengajak Han Sul bangun tapi temanya itu mengaduh kesakitan
“Kenapa? Apa Kakimu sakit? Pasti keseleo. Kau bisa”tanya Joon Woo panik, Han Sul mengelengkan kepala dan meminta Joon Woo mengantikan untuk menyetir. Joon Woo mengatakan tak memiliki SIM. Han Sul menjerit. 

Shin Hyuk menelp Hye Jin tapi tak diangkat-angkat, lalu menelp Joon Woo menanyakan keadaan disana. Joon Woo sudah mengendong Han Sul dan tangan Han Sul seperti Hands Free ponsel ditelinga Joon Woo.
“masalah sunbae. Kami belum setengah jalan tapi tak bisa lanjut. Kaki Han Seol sakit jadi tak bisa nyetir dan aku tak punya SIM.” ucap Joon Woo
“Jackson bagimana? Maksudku Hye Jin.” ucap Shin Hyuk panik, Joon Woo memberitahu Hye Jin dan Sung Joon sudah pergi duluan.
Han Sul kembali merasakan perutnya kembali bergejolak, tanpa ragu menarik rambut Joon Woo untuk segera membawanya ke toilet. Shin Hyuk berteriak memanggil Joon Woo yang hanya terdengar jeritan kesakitan ditelp.
“Ahh Tunggu....Sebentar. Jadi Jackson dan  wapimred berdua saja? Kalau sampai menginap...” ucap Shin Hyuk melihat pria yang duduk didepanya saling berjauhan, tiba-tiba tanganya memegang wanita dengan erat. Shin Hyuk langsung berlari melihat apa yang ada dipikiranya jika mereka berdua menginap.

bersambung ke part 2  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar