Rabu, 30 November 2016

Sinopsis The Man Living In Our House Episode 12 Part 2

PS : All images credit and content copyright : KBS
Nan Gil pergi ke bagian reparasi jahitan, melihat di depan pintu  (Ditutup karena alasan pribadi) lalu berusaha mencari tahu keberadanya. Akhirnya ia menuliskan pesan pada bibi Kim “Namaku Ko Nan Gil, pemilik Pangsit Hong. Aku tahu kau pernah mengunjungi Pangsit Hong.Aku akan menunggu telepon darimu.”
Anak Buah Wan Shik datang menemui Wan Shik memberitahu Tuan Bae mengatakan untuk melihat ke dalam rekening bank milik Wan Shik. Wan Shik terlihat sedikit panik . Si anak buah merasa  setelah penculikan terakhir kali dan ini adalah perbuatan Ko Nan Gil.
Wan Shik terdiam lalu mengingat perkataan Nan Gil “Apa kau bisa melakukan sesuatu tanpa perintah tuan Bae? Dan membuat pilihanmu sendiri untuk satu kali saja. Berhenti menerima perintah.” Ia langsung mengeluh keduanya itu mengangap dirinya seperti apa.
Ia lalu menelp Pengacara Kim, bertanya apakah akan bertemu dengan Hong Na Ri, Pengacara Kim membenarkan. Wan Shik meminta agar memberikan ponselnya pada Paman Shin karena ingin berbicara. Paman Shin berbicara pada Wan Shik dengan wajah gugup.
“Beritahu Hong Na Ri segala sesuatu tentang ayahnya.” Perintah Wan Shik. Paman Kim kaget karena berpikir harus sekarang juga.
“Aku tidak akan meremehkan Nan Gil lagi.” Tegas Wan Shik menutup telpnya. 


Na Ri datang dengan Duk Bong ke sebuah cafe, Paman Shin tak percaya Na Ri datang bersama. Duk Bong pun memperkenalkan diri  dan bertemu di persidangan. Na Ri pun bertanya apa yang ingin dibicarakan. Pengacara Kim memberitahu Tuan Shin Jung Nam ingin mengajukan banding. Na Ri kaget pamanya akan melakukan itu.
“Na Ri, mari kita bicara.” Ucap Paman Shin mengajak Na Ri agar pindah ke meja lainya. Duk Bong pun duduk didepan pengacara Kim dengan wajah dingin.
“Paman, aku tidak akan melakukan persidangan lagi dan akan mengurusnya.” Kata Na Ri menolaknya.
“Nan Gil adalah orang yang melakukannya kepada ayahmu, Dia membunuh ayahmu.”ucap paman Shin sesuai dengan perintah Wan Shik.

Na Ri kaget mendengarnya lalu teringat saat kembali ke Seoul dengan ucapan Nan Gil “ Ada sesuatu yang aku rahasiakan darimu. Mulai sekarang aku akan berbohong. Itu sebabnya kau tidak bisa bersamaku.”
“Jadi  Karena itulah kenapa kau dan dia tidak bisa. Mari kita ajukan banding dan mengakhirinya.” Ucap paman Shin merayu keponakanya.
“Kalau dia membunuh seseorang dan semua orang tahu itu, kenapa dia ada di sini?” ucap Na Ri tak bisa dipercaya, Paman Shin menegaskan bukan seseorang tapi ayahnya.
“Tepat sekali. Kenapa orang yang membunuh ayahku ada di sini?” kata Na Ri heran, Paman Shin menyakinkan kalau  Da Da Finance mengurusnya bahkan Nan Gil juga tahu kalau membunuh ayah Na Ri.
“Kenapa kau tidak memberitahuku saat datang terakhir kali?” ucap Na Ri
“Dia menatapku. Bagaimana mungkin aku bisa mengatakannya?” kata Paman Shin

Na Ri meminta pamanya bangun dan pergi,  paman Shin bertanya kemana Na Ri akan pergi. Na Ri piki harus bertemu ayah angkat Nan Gil menurutnya kalau dia menutupi pembunuhan itu, maka Tuan Bae juga bersalah serta perlu mendengar apa yang terjadi. Ia pun berjalan  ke tempat Duk Bong memberitahu harus pergi dengan pamanya  untuk memeriksa sesuatu.
Duk Bong yang khawatir mengikuti kemana arah mobil Na Ri pergi dengan paman dan Pengacara Kim. 


Yoon Kyu yang masih kesal sambil membalikan badanya bertanya pada Nan Gil Di mana akan menonton, Nan Gil binggung apa maksudnya. Yoon Kyu memberitahua kalau acara mereka itu ditayangkan hari ini. Nan Gil seolah tak peduli.
“Aku masih ingat ketika kita berada di sini bersama Nine By Nine.Apa kita tidak akan menontonnya bersama-sama?” ucap Yoon Kyu
“Berapa lama kau akan terus memunggungiku?” sindir Nan Gil  dan berjanji tidak akan terjadi lagi. Yoon Kyu langsung membalikan badanya. 
“Kalau begitu mari kita semua menontonnya bersama di rumah.” Kata Yoon Kyu penuh semangat, Nan Gil menolaknya.
“Kau tidak memiliki otoritas. Aku akan bertanya pada yang memiliki kekuasaan.” Keluh Yoon Kyu, Nan Gil melirik pada Duk Shim yang terus menatapnya, lalu mendekatinya meminta agar membantunya. 

Nan Gil mengangkat panci-panci untuk pelangan yang akan membawa pulang dumpling didepan restoran dengan bantuan Duk Shim. Diam-diam Yoon Kyu ikut mendengarnya juga. Nan Gil bertanya apakah Duk Shim tahu kalau ia melihat surat permintaan maaf itu. Duk Shim mengaku kalau sudah mengetahuinya.
“Kau seorang fotografer yang baik dan memiliki bakat. Tapi jangan mengambil foto secara diam-diam lagi.” Ucap Nan Gil, Duk Shim yang tadinya tersenyum langsung cemberut.

“Menyukai seseorang adalah hal yang baik, jadi aku pikir kau diizinkan untuk melakukan apapun. Tapi tidak secara diam-diam dari orang lain. Itu menyakitkan, kau pasti tahu itu.” Kata Nan Gil
“Tapi aku melakukannya... selama lebih dari satu tahun.” Ucap Duk Shim seperti tak bisa melepaskan begitu saja.
“Aku sudah seperti itu dengan seseorang... sepanjang hidupku. Dan bagiku Itu tidak masuk akal. Aku mengatakan ini karena menganggapmu sudah dewasa sekarang. Jadi Kau akan berhenti, kan?” kata Nan Gil menasehati. Duk Shim memegang dadanya seperti menahan rasa sedihnya lalu menganguk mengerti, Yoon Kyu diam-diam langsung berjalan masuk kembali ke dalam restoran. 


Wan Shik berjalan cepat melalui lorong,  Na Ri  melihat foto Nan Gil dengan Tuan Bae yang masih kecil. Tuan Bae memberitahu Nan Gil berada di kelas sembilan pada saat foto bersama jadi tahu mengenai anak angkatnya  secara menyeluruh. Wan Shik datang dan Tuan Bae menyuruhnya untuk duduk. 
“Dia saksi yang melihat Nan Gil membunuh Hong Sung Kyu pada hari itu.” Kata Tuan Bae. 

Duk Bong baru sampai di depan gedung DaDa, Dua pengawalnya datang bertanya alasan datang. Duk Bong mengaku kalau klienya mengatakan sedang berada ditempat tersebut.
 “Kalau dia membunuh seseorang, kenapa dia tidak dihukum?” tanya Na Ri
“Kami mengatakan kalau dia bunuh diri karena hutangnya. Wanita yang tinggal bersamanya setuju dengan itu. Dan...itu bukan...pertama kalinya Nan Gil mendorong seseorang... untuk bunuh diri. Jadi Itu sebabnya aku menyerahkannya dan membatalkan adopsi. Kami merasa kasihan kepadanya, Jadi karena itu kami tidak mengatakan apapun. Hidupmu... benar-benar berantakan sekarang. Skekarang Siapa yang melindungi siapa Dia memiliki uang dan sedang berusaha untuk memiliki tanah itu.” Kata Tuan Bae mencoba menghasutnya.

“Biarkan pamanku pergi.” Ucap Na Ri
“Aku akan melakukanya, setelah semuanya diselesaikan. Lagipula dia lebih suka tinggal di sini daripada bersama Nan Gil.” Ucap Tuan Bae 
Duk Bong masuk ke dalam ruangan, Tuan Bae bertanya siapa yang berani masuk ruanganya. Duk Bong mengaku kalau  pengacara Hong Na Ri dan ingin mengkonfirmasi karena sudah datang lalu duduk di samping Na Ri .
“Shin Jung Nam, Hong Sung Kyu. Tunjukkan dokumen hutang mereka.” Kata Duk Bong, Tuan Bae mengaku tidak tahu hal-hal seperti itu jadi lebih baik tanyakan saja pada pengacaranya.
“Ayo Bangun, kau tidak perlu berbicara dengan orang-orang ini lagi.” Kata Duk Bong mengajak pergi,  Tuan Bae pun tak bisa berkata apa-apa lagi.

Nan Gil baru keluar dengan Yoo Kyu, Duk Bong kembali mengantar pulang Na Ri membahas kalau Na Ri tidak mengatakan apapun sepanjang perjalanan dan bertanya kenapa tidak percaya kepadanya, Na Ri tetap tak memberitahu dengan mengucapkan terimakasih atas bantuanya hari ini lalu turun dari mobil. Nan Gil pun melihat Duk Bong yang langsung pergi meninggalkan rumah.

“Apa kau tahu hari apa itu?” ucap Yoon Kyu mendekati Na Ri, Na Ri seperti terlihat sinis menatap Nan Gil
“Ini hari tempat pangsit kami tayang di TV. Nan Gil mengatakan tidak perlu menonton, tapi tolong biarkan kami menggunakan ruang tamumu.” Kata Yoon Kyu, Na Ri pun memperbolehkanya.  Yoon Kyu terlihat bersemangat.
Semua sudah berkumpul diruang tengah, Yoon Kyu membawa beberapa dumpling dan juga minuman, mengajakan semua bersulang tapi yang lainya sibuk dengan ponsel mereka dengan games. Dan ia pun meminum sendirian.  

Na Ri mengeluarkan sebuah kotak berisi foto-foto bersama ayahnya, seperti tak yakin ayahnya itu sudah meninggal. Lalu teringat saat Nan Giil mengatakan pada pamanya  Kau berkata kalau kau melihatnya musim semi lalu.” Nan Gil juga mengatakan  akan mencari tahu sendiri.

Yoon Kyu mendengar bunyi bel rumah dengan penuh semangat merasa kalau Nan Gil pasti datang sebagai atasan mereka, tapi ternyata Yeo Joo yang datang. Duk Shim melonggo tak percaya si gadis pengoda itu datang. Nan Gil melihat kalau semua ini sekarang akan menjadi semakin keras sekarang.
“Kalian menutup toko lebih awal. Apa ada sesuatu yang terjadi?” tanya Yeo Joo dengan bersikap manis
“Pangsit Hong akan ada di TV malam ini. Mereka menayangkan acara yang syuting sebelumnya.” Kata Ha Ni yangterkesima dengan kecantikan Yeo Joo, Joon dan Yoon Kyu hanya bisa melonggo.
“Kenapa kau ada di sini?” tanya Duk Shim ketus
“Aku datang untuk menemuimu, tapi restoran tutup.” Kata Yeo Joo
Duk Shim tak percaya Yeo Joo sengaja ingin menemuinya, Yeo Joo memperlihatkan tas belanjanya kalau baru pergi berbelanja dengan kakaknya dan membeli hadiah. Duk Shim pikir Yeo Joo bisa tahu apakah akan menerimanya. Yeo Joo rasa Duk Shim  tidak perlu menerimanya, tapi tolong hargai betapa hatinya ini sangat memikirkannya. Duk Shim tak peduli meminta agar dirinya bisa beristirahat. Yeo Joo pikir harus menyapa Na Ri juga karena sudah datang ke rumahnya. 

Na Ri langsung memasukan semua fotonya dan berpura-pura diam saja saan terdengar ketukan pintu. Yeo Joo membuka pintu memberitahu kalau ia datang kerumahnya. Na Ri mengaku hanya ingin sendiri. Yeo Joo mengerti dan akan bicara nanti saja serta akan menonton acara. Terdengar bunyi ketukan pintu kembali.
“Sudah aku katakan aku ingin sendirian.” Teriak Na Ri, tapi kali ini bukan Yeo Joo tapi Nan Gil yang datang. 
“Apa kau tidak menonton pertunjukannya?”tanya Nan Gil, Na Ri mengatakan tidak
“Ada apa? Kau mengatakan tidak perlu khawatir, tapi aku tidak bisa menahannya.” Ucap Nan Gil melihat sikap Na Ri yang berbeda
“Mari kita bicara nanti.” Kata Na Ri
“Menakutkan saat kau mengatakan, "Mari kita bicara nanti." Kau benar-benar harus turun. Dan... Kapan kita akan melakukan itu?” ucap Nan Gil, Na Ri tak mengerti maksudnya.
“Kau meminta satu jam sehari untuk mengenalku.” Kata Nan Gil
“Baiklah. Aku perlu bicara denganmu, jadi mari kita lakukan sekarang.” Ucap Na Ri serius, Nan Gil merasa Na Ri itu membuatnya merasa  lebih takutkan. Na Ri meminta Nan Gil agar menunggu di restoran. 

Tuan Bae langsung menampar Wan Shik dengan sekuat tenaga dan benar-benar marah karena anaknya itu berani melakukanya tanpa perintahnya, karena ia hanya ingin Wan Shik melakukan yang di perintahkan. Wan Shik mengaku  merasa frustrasi, melihat Nan Gil selalu menyeret ayahnya. Tuan Bae mengerti kalau yang dilakukan Wan Shik itu hanya demi orang tuanya.
“Tapi Kenapa membuat masalah dengan seseorang yang tidak bisa kau kalahkan? Jadi Bisakah kau mengalahkan Nan Gil?” kata Tuan Bae merendahkanya.
“Kau selalu... menyukai Nan Gil lebih daripada aku. Apa itu sebabnya kau percaya kepadanya dan melacak akunku?” ucap Wan Shik dengan nada tinggi,
“Kau bilang Akunmu? Ada terlalu banyak sisa uang, jadi aku melakukan itu untuk semua orang. Lalu Apa kau... menyembunyikan sesuatu?” kata Tuan Bae menaruh curiga.
Wan Shik terlihat kesal karena dugaanya salah membuat kesalahan yang fatal. Tuan Bae lalu mengajak Wan Shik duduk dan menyuruh pengacara Kim memberikan berkas yang dimintanya,  dan meminta agar Wan Shik memberikan tanda tanganya. Wan Shik kaget dan binggung
“Sekarang kau... CEO Da Da Finance. Kau akan Masuk penjara selama beberapa tahun, dan Da Da akan menjadi milikmu setelah kau keluar. Setidaknya kau harus melakukan ini... untuk orang tuamu.” Kata Tuan Bae, Wan Shik terdiam mendengar perintahnya. 
Wan Shik kembali masuk ruanganya,  Anak buahnya memberitahu yang tuan Bae sembunyikan adalah buku pencucian uang Greenland. Wan Shik menanyakan keberadaanya. Si anak buah melihat luka diwajah Wan Shik, sempat menanyakan keadaanya.
“Setelah kalian mulai mencurigai satu sama lain, maka kedua pihak akan mati. Aku akan mengurusnya jadi  Tunggu di luar.” Kata Wan Shik lalu mengeluarkan ponselnya.
“Aku mengirimkan alamatnya, Hanya ini yang bisa aku lakukan.” Ucap Wan Shik. 
Nan Gil menerima telp Wan Shik bisa mengerti,  saat itu semua sedang menonton acara restoran Hong. Dengan gambar Nan Gil yang sedang menguleni adonan dengan caption (Pemiliknya terlihat seperti model.) Semua melihat Nan Gil itu terlihat baik di depan kamera.
Yeo Joo ikut terkesima melihat Nan Gil itu fotogenik dan bisa mengerti kenapa Na Ri suka padanya. Duk Shim melirik sinis karena Yeo Joo seperti mendukung Na Ri dengan Nan Gi. Nine By Nine tampil di TV menjadi bintang tamu, Yeo Joo dan Duk Shim memilih untuk duduk mundur karena tak tertarik. 

Na Ri dan Nan Gil sudah duduk bersama di restoran,  keduanya hanya saling menatap. Nan Gil merasa kalau Na Ri membuatnya jadi tambah gugup. Na Ri bertanya apakah harus memulainya sekarang, lalu membahas kalau dirinya sekarang sendirian dan ayahnya sudah meninggal.
“Aku pergi ke Da Da Finance bersama Duk Bong hari ini.” Kata Na Ri
“ Kenapa kau pergi kesana? Yang mereka lakukan semuanya kebohongan.” Ucap Nan Gil menyakinkan
“Itu benar. Aku mendengar kebohongan lain. Mereka mengatakan kau membunuh ayahku dan bahwa kau sudah menegaskan hal itu serta tahu itu.” Ucap Na Ri, Nan Gil hanya bisa terdiam
“Katakan sesuatu. Aku tidak percaya semua yang mereka katakan. Tapi aku tidak mengerti kenapa kau menyembunyikan itu dariku. Kenapa kau mengatakan untuk mencari ayahku? Kenapa kau yakin dia masih hidup?” kata Na Ri binggung
“Karena aku memeriksa semua rumah sakit pada hari itu, mereka semua mengatakan tidak ada yang datang dengan luka-luka. Jadi aku ingin percaya dia masih hidup.” Jelas Nan Gil
“Kau bilang "Hari itu"? Jadi Hari apa itu?” kata Na Ri penasaran 


Di rumah Perawatan Gyeonggi-do, Bibi Kim datang dengan senyuman sumringahnya, seorang pria terlihat sedang mendorong ember dengan pakaian kotor sambil bersenandung “ Di sisi lain cakrawala Di mana awan putih mekar aku ingin pergi bersamamu”
Bibi Kim berdiri didepan, Tuan Hong yang terlihat sudah menua tersenyum melihat Bibi Kim yang datang menemuinya. 

Nan Gil memberitahu hari itu adalah saat Lima tahun yang lalu dan ayahnya meninggal, serta pada saat itu mulai mengembangkan penyakitnya. Selain itu  juga di hari itu mempertaruhkan hidupnya dengan  berkelahi sebagai anak laki-laki pesaing.
“Aku melihat seorang pria berjalan ke atap, ketika itu hanya kami berdua. Aku melihat ketakutan di matanya., Dia terpojok karena aku. Dia tidak bisa kemana-mana lagi dan jatuh. Aku tidak bisa menangkapnya. Itu terjadi hanya dalam hitungan detik. Aku melihat darah. Aku mendorong ayahmu... untuk mati.” Cerita Nan Gil yang masih dalam ingatanya

“Aku ingat semua itu dengan sangat jelas. Aku mencoba mengatakan kepada diriku sendiri bahwa aku tidak membunuhnya. Tapi... Aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri karena berada di sana.” Kata Nan Gil, Na Ri yang menahan air matanya memilih untuk pergi. 


Yoon Kyu dkk kembali ke restoran, lalu memuji kalau tayangan tadi sangat mengagumkan bahkan Semua orang mencari tempat pangsit "Tiga besar Raja Makan" di internet. Joon dan Ha Ni melihat Nan Gil hanya diam saja, Yoon Kyu terus menyerocos kalau mungkin akan diedit tapi ternyata wajahnya terlihat di TV. Nan Gil memilih untuk masuk ke dalam kamarnya.
“kita akan meninggalkan pekerjaan pada waktu yang tepat. Ayo pergi.” Kata Yoon Kyu mengajak semuanya pergi.

Tuan Hong membawakan ubi bakar ke dalam ruangan yang di alas kardus, Bibi Kim menonton tayangan restoran Dumpling Hong saat salah satu anggota memberikan  ekspresi wajah tentang bagaimana rasanya. Lalu memberitahu Tuan Hong agar menonton acara TV bersama.
“Mereka mengatakan pemilik Pangsit Hong adalah Hong Sung Kyu.” Kata Bibi Kim
“Hong dibuka di Seulgi-ri hampir 20 tahun yang lalu, sama dengan usiaku. Kami sedang mencari pendirinya, Hong Sung Kyu, Yang hilang pada suatu hari.” Ucap Na Young memberitahu latar belakang restoran Hong.
“Aku senang.. Aku memiliki nomor Hong Na Ri.” Ungkap Bibi Kim
“ Apa yang kau katakan? Kami sepakat untuk melupakan semua tentang hal itu.” Ucap Tuan Hong panik
“Hei...  Ayolah... Tapi anakmu mengatakan... dia tidak bisa melupakanmu.” Kata Bibi Kim, Tuan Hong melotot menatapTV saat melihat nomor yang bisa di hubungi kalau bertemu dengan Tuan Hong. 

Yeo Joo menahan Duk Shim yang akan pulang, Duk Shim mengatakan bisa pergi sendiri. Yeo Joo melarang kalau Anak-anak tidak boleh berjalan sendirian di malam hari. Duk Shim tak peduli karena tahu tujuan Yeo Joo hanya ingin melihat kakaknya.
“Itu karena aku berhutang kepadanya.” Kata Yeo Joo, Na Ri kembali masuk rumah dengan menahan air matanya.
“Na Ri, aku akan keluar untuk berjalan-jalan.” Ucap Yeo Joo memberitahu, Na Ri berlari begitu saja menaik tangga. Yeo Joo melihat Na Ri itu seperti menangis lalu meminta Duk Shim menunggu dan tak boleh kabur.
Na Ri sudah mengunci pintu kamarnya, Yeo Joo berusaha untuk membuka dan mengetuknya tapi tak ada sahutan. Duk Shim mengikutinya, sampai akhirnya mereka pun memilih pergi. 

Nan Gil menelp Joon kalau sudah menemukan buku besarnya dan semua tidak ada di komputer manapun jadi membutuhkannya untuk menghabisi Da Da. Joon sedang menyetir terlihat tegang, dua temanya sedang asik dengan melihat tayangan  acara mereka.
“Apa kau akan mencarinya sekarang? Sendirian?” tanya Joon khawatir.
“Kirim semua file Da Da kepada jaksa. Jangan meninggalkan apapun. Aku akan mengakhiri Da Da sendiri. Aku sudah memulainya, jadi harus menyelesaikannya.” Ucap Nan Gil dengan mata penuh dendam. 

Na Ri mengingat kenangan dengan ayahnya yang menaiki ayunan dengan mendoronganya seperti langsung mendoronganya pergi ke busan. Saat itu ponselnya berdering, Bibi Kim sengaja menelp Na Ri saat Tuan Hong tak ada diruangan.
“Hong Na Ri... Apa kau benar-benar ingin mencari ayahmu?” kata Bibi Kim, Na Ri bertanya siapa yang menelpnya. 
“Aku akan mengirimkan alamat, jadi datanglah. Kau harus Datang sendirian, mengerti.  Ayahmu takut pada orang-orang.” Ucap Bibi Kim
“Apa  Ayahku masih hidup?” kata Na Ri tak percaya, Bibi Kim meminta Na Ri bisa melihatnya sendiri saja. 

Na Ri pergi ke restoran memanggil Nan Gil tapi ternyata tak ada diruanganya, lalu mencoba menelp tapi tak diangkat. Nan Gil pergi ke sebuah ruangan bawah tanah seperti sebuah bar, Na Ri sudah meninggalkan rumah dengan menaiki taksi dan sampai di Rumah Perawatan Gyeonggi-do.
Nan Gil masuk ke dalam dengan mengingat ucapan Na Ri sebelumnya “Go Nan Gil.... Aku mencintaimu...” lalu bergumam “Aku tidak pernah membayangkan mendengarmu mengatakan kau mencintaiku. Terima kasih.”

Saat itu anak buah Tuan Bae melihat kedatangan Nan Gil langsung berkelahi. Na Ri masuk ke dalam rumah perawatan, Tuan Hong sibuk mengambil seprai kotor dalam tiap ruangan. Na Ri dari kejauhan melihat seorang pria yang mendorong ember besar, ketika mendekat memastikan kalau wajah itu mirip dengan foto ayah yang dibawanya.
Nan Gil pun melawan semua anak buah Tuan Bae sendirian, sampai akhirnya kepalanya terkena pukulan botol kaca dan kepalanya pun mengeluarkan darah.
“Aku tidak pernah membayangkan... membuatmu menangis. Maafkan aku.” Gumam Nan Gil
Bersambung ke episode 13

FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09 

Sinopsis The Man Living In Our House Episode 12 Part 1

PS : All images credit and content copyright : KBS
Yoon Kyu mengejar Nan Gil yang berlari sangat cepat. Nan Gil sudah ada di tepi jalan untuk menghentikan taksi. Saat itu Joon menelp ke ponselnya. Saat masuk taksi, Nan Gil mengangkat ponselnya bertanya keberadan Joon sekarang. Supir taksi menanyakan kemana tujuan Nan Gil.
Di dalam restoran, Na Ri berjalan mundur ketakutan dan Wan Shik pin berjalan dengan tatapan dinginya sambil tersenyum licik mengaku Sangat menyenangkan bisa melihat Na Ri lagi.

Joon masih ada didalam mobil anak buah Tuan Bae, si anak buah bertanya keberadaan Wan Shik sekarang. Salah satu temanya memberitahu Wan Shik pergi ke restoran Hong. Si anak buah pun menyuruh Joon agar mengatakan pada Nan Gil untuk datang ke Susaek-dong.
“Aku ingin kau datang ke Susaek-dong.” Ucap Joon mengetahui kalau seharusnya Nan Gil ke restoran. Sopir taksi kembali menanyakan tujuan Nan Gil.
“Apa? Kau ada di restoran? Kenapa kau ada di sana? Cepat jemput kami.” Ucap Joon memberikan kode agar Nan Gil kembali ke restoran.
Nan Gil mengatakan akan segera datang dan meminta mereka menunggu, lalu menyuruh sopir taksi menuju Seulgi-ri. 

Duk Bong baru sampai dan melihat sebuah mobil terparkir di dalam restoran. Na Ri masih ada didalam restoran menanyakan keberdaan Nan Gil sekarang. Wan Shik tak tahu karena Nan Gil tidak ada saat sampai di restoran. Na Ri bertanya apakah Nan Gil tahu kalau Wan Shik ada di restoran.
“Apa kau selalu memberitahu teman-temanmu kalau akan datang? Na Ri, jangan berada di dekat Nan Gil.” Ucap Wan Shik memperingatinya.
“Aku di sini karena ini adalah rumahku.” Tegas Na Ri, Ponsel Wan Shik berbunyi melihat nama Nan Gil memilih untuk tak mengangkatnya. Nan Gil yang ada didalam taksi terlihat geram.
“Itu karena Nan Gil... maka kau masuk dalam bahaya. Kau harus sadar,  Bayar kembali dengan apa yang kau punya dan pergi dengan damai.” Ucap Wan Shik dengan nada dingin
Na Ri mengangkat ponsel yang berdering dan itu dari Nan Gil,  Nan Gil memberitahu hampir sampai ke restoran, lalu menyuruh agar memberikan ponsel pada Wan Shik setelah itu keluar. Na Ri mengerti memberikan ponselnya karena Nan Gil ingin berbicara.
Wan Shik hanya terdiam seperti sangat takut dengan Nan Gil, Nan Gil berteriak “Angkat teleponnya, Kim Wan Shik!” sampai supir taksi terlihat kaget. tapi Wan Shik tak mau mengangkatnya merasa kenapa harus ia yang melakukanya.
“Kenapa kau membuatku terlihat buruk, Na Ri? Cepat Matikan.” Teriak Wan Shik,
Na Ri hanya diam saja, Wan Shik terlihat marah karena Na Ri tak mau mendengarkannya agar mematikan ponselnya akhirnya membuang ponselnya. Na Ri akan keluar tapi di tahan oleh Wan Shik. Nan Gil menahan amarahnya karena Wan Shik tak mau berbicara padanya. 



Kantor polisi
Beberapa orang sedang mencoba untuk meminta pertolongan menelp seseorang, seorang wanita mengaku kalau benar-benar tidak melakukan apapun. Yeo Joo duduk bersama dengan pria yang datang bersamanya dengan hidung tersumpal kapas karena berdarah sementara dirinya terlihat kacau dengan rambut yang berantakan.
“Semua orang sibuk mencari ibu mereka.” Ejek Yeo Joo yang memilih untuk tak menghubungi siapapun.
“Aku tidak akan membiarkanmu pergi dengan mudah. Kau berada dalam masalah besar.” Tegas si pria dengan sangat marah
Duk Bong sedang didepan rumah Na Ri melihat nama  (Pria dari kencan buta) menelpnya. Si pria yang sedang bersama Yeo Joo  langsung bertanya Apa hubungannya dengan Do Yeo Joo. Duk Bong binggung dan mengaku kalau hanya kenal saja dan menanyakan alasan menelp.  Si pria tak percaya dengan memberitahu kalau sekarang terluka.

Yeo Joo melirik sinis mendengar pembicaraan keduanya, Duk Bong mengumpat sipria sudah gila. Si pria bercerita kalau mereka sedang membahas tentang hal buruk dan mengaku kalau membicarakan Duk Bong dibelakangnya. Tapi akhirnya meralat kalau hanya khawatir tentang Duk Bong.
“Lalu  Yeo Joo melemparkan meja dan memecahkan gelas. Ini  Benar-benar berantakan.” Ucap si pria, Duk Bong menanyakan keberadaan pria itu sekarang.
“Menurutmu dimana? Pengacara Kwon Duk Bong, sekarang Pengacaraku akan memasukan Yeo Joo ke penjara.” Ucap si pria mengancam
“Kalau kau memasukannya ke penjara, maka kau akan mendapatkan sesuatu yang lebih buruk. Pastikan untuk menyampaikan pesan ini... kalau kau tidak ingin video itu beredar di internet. Sebaiknya kau tidak menyentuhnya.” Balas Duk Bong
Si pria menyimpulkan sudah tahu ada sesuatu dan mengumpat kalau Duk Bong itu memang sampah. Duk Bong membalas kalau temanya yang sampah lalu telp pun dimatikan. 


Na Ri keluar dari pintu samping, Duk Bong melihat dan langsung memanggilnya.  Na Ri datang dengan masih menyimpan wajah ketakutan, Duk Bong mengeluh Kenapa Na Ri keluar dari restoran saat keadaan seperti ini, karena seharusnya tidak begitu dekat dengan keluarganya. 
“Kau harus menyingkirkan pintu itu.” Ucap Duk Bong seperti tak suka. Saat itu Nan Gil datang turun dari mobil. Duk Bong binggung melihat Nan Gil yang turun dari taksi, Nan Gil hanya menatap Na Ri lalu masuk ke dalam restoran.
“Kalau dia tidak ada dalam, kenapa kau ada di sana?” ucap Duk Bong heran

“Hari ini sudah malam, jadi Sebaiknya kau pergi.” Kata Na Ri, Duk Bong menahanya Na Ri agar tak masuk rumah.
“Kau baru saja keluar dari restoran. Kenapa mobil ini ada di sini? Apa kau bertemu orang-orang itu tanpa Nan Gil? Apa yang terjadi?” ucap Duk Bong penasaran
“Apa yang harus aku ketahui?”kata Na Ri dengan nada tinggi memilih untuk segera masuk. 


Nan Gil masuk restoran, Wan Shik menunggunya dengan nada mengejek kalau Nan Gil seharusnya memikirkan anak buahnya. Nan Gil langsung memberikan pukulan beberapa kali sampai akhirnya Wan Shik duduk dengan wajah babak belur.
“Hubungi dan beritahu mereka untuk membiarkan semua  pegawaiku pergi.” Perintah Nan Gil mengambil ponsel Wan Shik
“Apa menurutmu aku tidak memperkirakan ini saat datang sendirian?” ucap Wan Shik
“Apa kau bisa melakukan sesuatu tanpa perintah tuan Bae?” balas Nan Gil menantang. 
“Aku pikir kalau kau sudah berubah. Kau masih senang memukul. Itulah kau. Tidak peduli seberapa keras kau mencoba, maka kau hanya seperti aku. Sadarlah, Nan Gil. Dan Juga, kau harus berterima kasih kepadaku. Aku tidak pernah mengatakan kepada Na Ri... bahwa kau membunuh ayahnya.” Ucap Wan Shik memberikan tekanan.

Joon dan Ha Ni masih ada di dalam mobil yang berhenti di pinggir jalan.  Nan Gil akhirnya duduk di meja dan Wan Shik duduk di kursi, Ia menanyakan apa yang dilakukan Wan Shik pada pegawainya.   Wan Shik pikir itu sebabnya salah satu alasan Nan Gil harus menyerah kalau tidak maka semua orang di sekitarnya akan terluka. Nan Gil menelp seseorang. 

“Tuan Bae.... Apa kau meminta Wan Shik menculik anak-anak? Itu sangat kekanak-kanakan.” Ucap Nan Gil
“Menurutmu siapa yang berikutnya?” kata Tuan Bae dengan nada mengancam.
“Ada Wan Shik bersamaku. Apa yang harus aku lakukan? Apa tidak masalah kalau aku mengatakan kepadanya apa yang aku tahu?” ucap Nan Gil, Wan Shik sempat panik mendengarnya. 
“Apa kau mengancam ayahmu?” ucap Tuan Bae tak percaya
Nan Gil meminta agar semua bisa dikembalikan,  Tuan Bae pikir kalau tahu akan semudah ini maka tidak akan menculik mereka. Nan Gil pikir akan tidak bisa menyuruh Wan Shik untuk kembali akan menjadikan sebagai orang biasa yang menjalankan sebuah restoran dumpling.
“Aku sedang berpikir untuk melapor ke polisi. CEO Da Da seharusnya tidak perlu ditahan karena ini.” Kata Nan Gil, Tuan Baepun menyuruh akan mengembalikan Wan Shik padanya.
“Dia memintaku untuk membiarkanmu pergi.” Ucap Nan Gil memberitahu Wan Shik setelah menutup telp.
“Walaupun jika kau takut, maka berurusan denganku saja secara langsung. Dan membuat pilihanmu sendiri untuk satu kali saja. Berhenti menerima perintah.” Tegas Nan Gil memberikan nasehat. Wan Shik hanya bisa terdiam.
Anak buah Tuan Bae mendapatkan perintah, lalu Joon dan Ha Ni diturunkan dari mobil. Joon melihat Ha Ni dengan wajah panik takut terjadi sesuatu. Ha Ni tersenyum bahagia karena tak ada yang terluka dan mereka bisa bebas sekarang. 


Na Ri berdiri didepan pintu penghubung terlihat ragu akan kembali ke restoran, Wan Shik akhirnya keluar dari restoran dan menaiki mobilnya. Duk Bong ternyata masih menunggu di dalam mobil dan melihat Wan Shik yang keluar dari restoran lalu masuk ke dalam restoran.
Nan Gil menelp anak buahnya bertanya Apa ada di antara kalian yang terluka. Joon mengatakan tak ada yang terluka. Nan Gil pun akan bertemu kembali dengan mereka esok. Duk Bong masuk dengan wajah penuh amarah.  
“Kalau kau tidak bisa menghentikan mereka, maka luruskan semuanya. Jangan biarkan mereka mendapatkan Na Ri.” Ucap Duk Bong, Na Ri akhirnya memilih masuk dan mendengar keduanya bicara

“Kau sudah setuju bahwa itu adalah tanahnya. Kalau begitu menyerah saja. Itu yang bisa kau lakukan untuk dia. Apa kau pikir mudah bagiku untuk membelamu? Setidaknya untukku, dia satu-satunya yang aku lihat.” Tegas Duk Bong dengan nada tinggi. Na Ri akan pergi tapi terhenti mendengar ucapan Nan Gil.
“Apa kau tahu... bagaimana cemburunya aku padamu? Aku berharap aku juga bisa merindukannya.  Tapi... hanya ini yang bisa aku lakukan untuknya. Karena itu tanah milik ibunya, jadi aku ingin dia memilikinya.” Tegas Nan Gil.
Na Ri terdiam mendengarnya karena mengetahui perasaan Nan Gil yang sebenarnya. Nan Gil tak mengeri kenapa bisa memberitahu semua niatnya pada Duk Bong, tapi menurutnya lebih baik dianggap saja sebagai ucapan terima kasih karena sudah membelanya  dan pasti benar-benar bersyukur. Duk Bong hanya bisa terdiam karena mengetahui tujuan Nan Gil yang sebenarnya. 


Nan Gil mendatangi Na Ri yang duduk diruang makan dengan menanyakan keadaan lebih dulu.  Na Ri merasa Sebaiknya seperti itu. Nan Gil meminta maaf dan berjanjitidak akan terjadi lagi. Na Ri bertanya apa yang akan dilakukan Nan Gil kalau sampai terjadi seperti ini lagi. 
Na Ri mengambil teh jeruk untuk membuatnya, Nan Gil menyuruh Na Ri duduk saja karena akan membuatnya. Na Ri menatap Nan Gil yang berdiri disampingnya. Dua cangkir teh pun berada diatas meja. Nan Gil bertanya apakah Duk Bong marah karena dirinya.
“Kau pasti tiba-tiba sangat menyukainya. Kalau begitu kalian harus berteman.” Ejek Na Ri saat itu tehnya tumpah mengenai tanganya. Nan Gil panik melihat tangan Na Ri yang sudah memerah karena melepuh.
“Dinginkan di dalam air, Aku akan mencarikan salep.” Ucap Nan Gil panik
“Jangan memperlakukan aku seperti anak berusia 5 tahun yang terluka. Kalau seperti ini, kau bahkan bisa saja memanggil ambulans. Aku baik-baik saja. Pergi dan beristirahatlah.” Ucap Na Ri, Nan Gil terdiam karena tindakanya memang seharusnya tak boleh dilakukanya.

Na Ri mengingat kata-kata Nan Gil saat bicara dengan Duk Bong “ Apa kau tahu bagaimana cemburunya aku padamu? Aku berharap aku juga bisa merindukanya. Tapi... hanya ini yang bisa aku lakukan untuknya.” Nan Gil akan kembali ke kamarnya dan Na Ri meminta agar berhenti sekarang juga.
“Aku akan hidup dengan baik mulai sekarang, jadi jangan khawatir. Kau juga tidak perlu merasa menyesal.” Ucap Na Ri, Nan Gil bingung apa maksud perkataanya. Na Ri tak ingin membahasnya dan menyuruh Nan Gil segera pergi saja. 



Duk Bong datang ke kantor polisi melihat Yeo Joo yang duduk sendirian di samping sel penjara. Yeo Joo seperti tak percaya Duk Bong akan datang. Duk Bong berbicara dengan polisi memberitahu sebagai pengacara Do Yeo Joo dan bertanya apa yang tejadi
“Dia didakwa atas tindakan vandalisme.” Ucap Polisi memperlihatkan berkasnya.
“Hei, kami melakukannya bersama-sama. Kenapa hanya aku yang membayar?” kata Yeo Joo tak terima
“Itu benar... Kenapa dia satu-satunya yang membayar kompensasi?” ucap Duk Bong meminta penjelasan.
“Beberapa orang mengatakan bahwa mereka dipukul oleh dia, tapi memutuskan untuk tidak melaporkannya. Karena itu hanya dia yang dituntut karena vandalisme.” Jelas polisi. Duk Bong sempat melirik sinis pada Yeo Joo. 

Didepan kantor
Yeo Joo kesal karena Duk Bong bisa memberikan tanda tangan begitu saja, karena tidak bisa membayar satu sen pun dan Duk Bong tahu tentang kondisi keluarganya. Duk Bong bertanya kenapa Yeo Joo melakukan hal itu. Yeo Joo menceritakan setelah minum teman Duk Bong itu menjadi liar.
“Aku pikir kau bisa menangani orang-orang seperti itu” kata Duk Bong, Yeo Joo pikir juga seperti itu tapi ternyata dirinya salah.
“Ini semua salahmu.” Kata Yeo Joo, Duk Bong binggung kenapa Yeo Joo malah menyalahkanya.
“Kau menyakiti perasaanku saat kau mengatakan bahwa aku murahan.  Itu karena aku minum saat sedang marah.” Kata Yeo Joo
“Aku yakin kau terluka karena perkataanku bahwa Na Ri tak murahan. Bukan sebaliknya. Bukankah itu menyedihkan? Dia tidak peduli, tapi kalian bersaing sendiri dengan dia.” Ucap Duk Bong
“Apa Kau pikir aku bersaing dengan Na Ri? Kenapa aku harus melakukannya?” kata Yeo Joo mengelak
“Kau yang harus bertanya pada alam bawah sadarmu, bukan aku.” Ucap Duk Bong lalu membuka pintu mobilnya. 

Yeo Joo langsung berjalan masuk ke dalam mobil, Duk Bong heran  Kenapa semua orang masuk ke mobilnya lalu duduk dibelakang kemudi. Yeo Joo mengajak mereka pergi ke department store. Duk Bong binggung kenapa harus pergi kesana dan menegaskan mobilnya bukan taksi.
“Temanmu merobek pakaianku dan aku kehilangan tasku. Selain itu Kau juga harus mengubah gayamu.” Ucap Yeo Joo
“Aku punya gaya sendiri.” Kata Nan Gil menolak
“Sudah aku katakan untuk merubahnya menjadi seperti apa yang disukai Na Ri. Jadi Berikan saja kartumu kepadaku, maka Aku akan membantumu.” Ucap Yeo Joo mengulurkan tangan untuk meminta kartunya. 

Na Ri sudah menyiapkan sarapan tapi Nan Gil belum juga datang lalu bertanya-tanya kemana ayah tirinya itu. Saat akan masuk ke pintu samping ternyata sudah di kunci. Akhirnya ia keluar dari pintu depan dan terlihat papan tulis didepan restoran.  (Kau bisa membawa pulang dengan masuk ke dalam restoran)
Di dalam restoran terlihat sangat ramai dan juga penuh dengan pelanggan, hanya ada Joon yang mengantarkan pesanan pada pelangan.  Na Ri bertanya pada Ha Ni apakah memerlukan bantuan. Ha Ni sedang membuat dumpling pikir tak perlu bantu lalu meminta Na  Ri membereskan meja yang kotor saja.
Na Ri pun bergegas membereskan meja setelah pelanggan selesai makan. Nan Gil melihat Na Ri yang berkerja langsung menghampirinya, mengucapakan Terima kasih, tapi menurutnya Na Ri lebih baik pergi saja. Na Ri bertanya apakah Yong Kyu berhenti bekerja. Nan Gil pikir tidak. Na Ri pun menayakan alasan Nan Gil mengunci pintu samping. 


“Kenapa kau tidak datang untuk makan sarapan? Kau tidak menepati janjimu.” Ucap Na Ri mengeluh
“Kurasa itu benar. Kau begitu bijaksana.”balas Nan Gil
“Kenapa kau menekanku karena bersikap bijaksana?” kata Na Ri kesal
“ Kau harus pergi sebelum menjadi semakin emosional.” Balas Nan Gil
Na Ri memberitahu akan menemui Duk Bong setelah toko tutup. Nan Gi pikir Na Ri tak perlu memberitahukanya karena bisa pergi begitu saja. Na Ri meminta agar Nan Gil ikut denganya. Nan Gil pikir kenapa ia harus ikut.  Na Ri pikir itu Karena mereka keluarga dan tahu Nan Gil  mencintai tanah ini, jadi mereka harus mengurusnya.

Duk Bong keluar dengan celana robek dan sweater sedikit kebesaran,  Yeo Joo melihatnya menahan tawa berkomentara  kalau Duk Bong memang terlihat seperti Nan Gil. Duk Bong mengeluh tidak bisa memakai pakaian seperti ini. Yeo Joo pikir haruskah mereka juga mengubah rambutnya. Duk Bong memilih untuk kembali masuk kamar  ganti.
“Apa yang sedang aku lakukan?” ucap Yeo Joo sadar seperti merasa ada sesuatu yang salah pada dirinya.
“Astaga.... Aku seperti tiruan dari Nan Gil. Tapi Apa yang sedang aku lakukan?” kata Duk Bong melihat dirinya di cermin seperti merasa bukan dirinya yang mau disuruh-suruh. 

Yoon Kyu mengintip dari depan restoran melihat semua pelanggan yang akan membawa pulang harus masuk ke dalam restoran,  terlihat sangat ramai. Ia mengeluh Nan Gil bahkan tidak meneleponnya karena seharusnya mengkompensasi kerusakan psikologis yang dialami.
“Apa yang kau lakukan disini?” ucap Duk Shim tiba-tiba datang mengagetkanya, Yoon Kyu benar-benar kaget sampai terjungkal kebelakang. Duk Shim tertawa mengejek melihatnya.
“Ini karena trauma akibat tadi malam.” Pikir Yoon Kyu, Duk Shim bingung apa yang dimaksu dengan trauma. Yoon Kyu merasa Duk Shim tak perlu mengetahuinya.
“Apa yang kau bicarakan? Ayo pergi dan Berhenti mengulur-ulur waktu.” Ucap Duk Shim bergegas masuk ke dalam restoran, Yoon Kyu pun mengikutinya. 

Duk Shim langsung sinis melihat Na Ri yang membereskan meja pelanggan lalu bertanya apakah sekarang ikut berkerja direstoran dan mencuri pekerjaanya. Na Ri menegaskan kalau akan pergi sekarang lalu menyapa Yoon Kyu yang baru datang.
“Apa karena dia bisa menggantikanku?”kata Yoon Kyu melihat Na Ri pergi dengan diikuti oleh Duk Shim.
Joon membawa pesanan menyapa Yoon Kyu yang akhirnya datang, Ha Ni jug ikut menyapanya. Yoon Kyu melirik pada Nan Gil, Nan Gil pun memberikan kode agar Yoon Kyu segera berkerja. 

Duk Shim memberikan sebuah USB, Na Ri binggung apa yang diberikaanya. Duk Shim mengatakan kalau itu adalah Surat permintaan maaf darinya.  Na Ri bisa merasakan perbedaan usia di antara mereka. Duk Shim pun meninggalkanya setelah memberikanya.
Na Ri melihat isi dari USB dan melihat sebuah foto Nan Gil yang duduk ditepi danau dengan caption  (Aku berharap ada danau yang dia tatap. Apa aku harus dilahirkan kembali?) Duk Shim mengambil foto saat Nan Gil mengayuh sepeda melewati supermarket Seulgi dan memberi caption (Darimana dia mendapatkan tas itu? Itu sangat sesuai dengannya.)
Duk Shim juga mengambil foto Nan Gil saat mengemudikan sepeda melewati ilalang (Dia akan naik sepeda secara perlahan dan kemudian ngebut seperti orang gila. Dia sangat keren.) Ia juga mengambil foto Nan Gil yang masuk ke rumah kaca dengan caption (Aku ingin tinggal di sini. Aku ingin dia menjadi milikku.)

Duk Shim mengambil foto Nan Gil yang ada dihalaman menatap ke lantai atas rumah ( Dia melihat ke atas dengan begitu manis. Apa ada seseorang di lantai dua?) Na Ri melihat foto tersebut seperti bisa mengetahui karena Nan Gil ingin melihatnya di lantai dua.
“Ini sebabnya... Aku mengurungmu... dan merencanakan kecelakaan sepeda itu. Aku minta maaf untuk itu.” Tulis Duk Shim. 


Duk Shim sedang ada di restoran, Na Ri mengirimkan pesan “Datanglah ke taman bermain.”  Duk Shim dengan wajah cemberut datang dan duduk diayunan,  Na Ri mengatakan kalau yang diberikan bukan  surat permintaan maaf, Duk Shim merasa kalauitu benar-benar permintaan maaf.
“Kau memintaku untuk menunjukkan Nan Gil, kan?” kata Na Ri, Duk Shim pikir Na Ri boleh melakukannya
“Apa dia orang yang baik? Kau pasti menyadarinya saat mengambil foto-foto dirinya. Jadi Apa Nan Gil adalah orang yang baik?” tanya Na Ri
“Dia seperti angin pada bulan Mei, Bukan April dan Bukan Februari. Dia seperti angin di bulan Mei.” Ucap  Duk Shim
“Kenapa kau ingin tinggal di sini, bukan dengan orang tuamu?” tanya Na Ri
Duk Shim tak ingin menjawabnya dan ingin pergi, Na Ri memanggilnya kalau masih bicara jadi tak boleh pergi kemana-mana dan ingin tahu Apa yang terjadi di Seoul. Duk Shim memilih untuk tak menjawabnya lalu pergi. 

Nan Gil sedang menguleni adonan kulit, Na Ri mengirimkan pesan “Datanglah ke ruang tamu.” Saat itu Duk Shim terus menatapnya dengan tersipu malu melihatnya tanpa sadar sampai meremas kotak untuk dumpling. Yoon Kyu melihatnya dan Duk Shim langsung meminta maaf dengan merapihkan kembali kotak dumpling. 

Duk Bong membeli pakaian dengan gaya yang di minta oleh Yeo Joo, Tuan Kwon tiba-tiba datang dengan membawa stick golf, memarahi anaknya yang menyalahgunakan statusnya  sebagai pengacara, sertaha mempertahankan tanah yang seharusnya mereka ambil.
“Bagaimana kau bisa tahu?” kata Duk Bong kaget
“Itu tidak penting, kau orang bodoh menyedihkan.” Tegas ayahnya marah
“Biarkan saja itu menjadi taman. Berapa banyak kerusakan yang akan terjadi padamu? Ditempat itu mereka mengubur peledak yang membunuh anak-anak yatim. Apa kau ingin semua orang tahu hanya karena uang? Dengarkan aku satu kali ini. Tolong...” kata Duk Bong juga marah

“Hukum pembatasan sudah berakhir dan Kakekmu sudah lama meninggal. Aku tidak tahu apa-apa,Tidak ada yang tahu dan juga tidak ada bukti.” Kata Tuan Kwon
Soon Rye datang mengatakan kalau ia tahu karena ia -satunya anak yatim yang selamat dari kebakaran di panti asuhan. Tuan Kwon kaget begitu juga Duk Bong. 


Na Ri memperlihatkan laptopnya. Nan Gil binggung apa yang ingin diperlihatkanya. Na Ri mengatakan kalau itu Surat permintaan maaf Duk Shim. Nan Gil bertanya apakah ia boleh melihatnya.  Na Ri mengatakan kalau Duk Shim ingin Nan Gil untuk melihatnya. Nan Gil binggung kenapa boleh melihatnya. 
“Ini sebuah profesi.” Kata Na Ri, Nan Gil pikir Duk Shim itu hanya seorang pelajar.
“Dia menunjukkan kepadamu gambar yang dia ambil.. sebagai siswa yang tidak bersalah untuk menyatakan kepadamu.” Jelas Na Ri lalu mengambil minuman.

Nan Gil melihat caption foto dengan (Aku ingin tinggal di sini. Aku ingin dia menjadi milikku.) lalu melihat foto terakhir saat sedang ada didepan restoran dan melihat sosok wanita yang dikenalnya, si Bibi Kim yang pernah ditemu sebelumnya.  Bibi Kim mengatakan “Tuan Hong sudah meninggal bertahun-tahun lalu. Kenapa kau bertanya?”
Na Ri kembali, Nan Gil langsung mengambil USB dengan meminta izin agar bisa menyimpanya, Na Ri heran dengan mengejeknya kalau Nan Gil  ingin menyimpannya bersama dengan surat cinta itu dengan memanggilnya si, Pangeran Pangsit.
“Aku mendapatkannya dari seorang pelajar,  dan Aku menyimpannya karena itu lucu. Itu mengingatkanku pada masa laluku.” Kata Nan Gil lalu mengeluh Na Ri yang membuatkan teh padahal akan kembali bekerja.

“Aku banyak berpikir tentang hal itu setelah melihat foto-foto ini. Ini satu tahun kehidupanmu Bahkan aku ada di dalamnya. Pikiranmu ada di tempat lain. Padahal Aku akan mengatakan sesuatu yang penting.” Kata Na Ri melihat Nan Gil seperti tak menatapnya, Nan Gil mengaku kalau  mendengarkan.
“Setelah melihat ini, aku juga banyak tersadar. Kau sudah hidup dengan cara yang sama, bahkan saat aku belum mengenalmu. Aku seharusnya tidak mengatakan untuk mengakhirinya dengan begitu mudah.” Kata Na Ri
“Ternyata kau cukup bijaksana.” Kata Nan Gil kembal memujinya, Na Ri merasa itu perkataan baru dari Nan Gil selain menguleni adonan. Nan Gil tak banyak komentar berkata kalau ia harus segera pergi.
“Baiklah... Aku akan menjadi bijaksana. Aku sadar bahwa aku tidak tahu banyak tentang kau. Jadi aku berencana untuk mencari tahu. Beri aku satu jam sehari. Mari kita bicara tentang bagaimana kehidupanmu dan kenapa kau mengembangkan rasa sakit itu. Kita keluarga dan harus tahu lebih banyak tentang satu sama lain.” Ucap Na Ri, Nan Gil pun setuju.

“Ngomong-ngomong, kau akan terkena demam...” kata Nan Gil dan langsung disela oleh Na Ri
“Aku tidak akan hanya tinggal di rumah. Aku akan bertemu Duk Bong yang kau dorongku padanya.” Ucap Na Ri dengan nada menyindir.
Nan Gil merasa kalau Na Ri tetap saja tak konsisten dengan cara bicaranya.  Nan Ri pikir itulah keluarga, Nan Gil pikir merasa tak mendorongnya lalu berpikir Na Ri harus pergi keluar menggunakan sepedanya saja.
Ia melihat foto yang diambil oleh Duk Shim dengan memastikan kalau wajah yang dilihatnya itu adalah bibi Kim yang mengaku sudah mengambil surat keterangan kematian lalu bergegas pergi dari kamarnya. 

Soon Rye duduk dengan wajah dingin dan Tuan Kwon terus menatap sinis. Duk Bong mengaku tak tahu jadi meminta maaf karena membuatnya  melakukan penelitian. Soon Rye juga tidak tahu. Tuan Kwon mengingatkan Soon Rye berkerja di perusahannya selama lebih dari 20 tahun.
“Itu membuat kita menjadi keluarga.” Ucap Tuan Kwon, Soon Rye seperti tak terima kalau dianggap sebagai keluarga sekarang.
“Dia dan aku tidak tahu tentang hal itu. Apa yang bisa kita lakukan sekarang?” ucap Tuan Kwon
“Kau tahu jadi Biarkan tanah itu.” Tegas Soon Rye, Tuan Kwon berdiri lalu berbisik pada Duk Bong agar memberikan Soon Rye uang saja lalu meninggalkan ruangan. 

Soon Rye terlihat marah berdiri dari tempat duduknya, Duk Bong langsung meminta maaf.  Soon Rye memutuskan untuk berhenti berkerja sekarang.  Duk Bong melarang karena Itu hanya akan menyenangkan hati ayahnya, lebih baik Soon Rye tetap berkerja dan terus menyiksanya. Soon Rye kaget Duk Bong sekarang mendukungnya. 

Na Ri sedang mencari keyword (Gangguan panik) ponsenya berdering, Paman Shin menelpnya. Na Ri langsung menanyakan keberadaan pamanya sekarang. Duk Bong menelp Na Ri saat akan keluar rumah, bertanya kapan akan datang.  Na Ri binggung tiba-tiba Duk Bong menanyakan hal itu 
“Kau seharusnya datang ke kantorku.” Ucap Duk Bong
“Aku akan pergi bersama Nan Gil setelah menutup restoran.”kata Na Ri
“Aku harus berbicara denganmu. Bisa kita bertemu lebih dulu?” ucap Duk Bong
“Pamanku mengatakan kalau dia ada di dekat sini.” Kata Na Ri
Duk Bong bertanya apakah paman yang ada di persidangan, Na Ri membenarkan dan pamanya sedang bersama pengacara. Duk Bong meminta agar Na Ri menunggu karena  Seorang pengacara harus bertemu dengan pengacara juga. 

Na Ri sudah menunggu didepan rumah, lalu masuk ke dalam mobil saat Duk Bong sudah menjemputnya. Duk Bong meminta agar  Lain kali jangan menunggu dalam keadaan kedinginan. Na Ri merasa udara tak dingin bahkan  belum menerima musim dingin. Duk Bong menahan tawanya.
“Kenapa kau tertawa?” tanya Na Ri heran
“Ini aneh. Aku berada dalam suasana hati yang buruk, tapi aku tetap tersenyum.” Kata Duk Bong
“Kenapa suasana hatimu buruk?”tanya Na Ri,Duk Bong mengalihkan pembicaraan dengan bertanya dimana akan bertemu dengan pamanya.
bersambung ke part 2 

FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09