Sabtu, 31 Desember 2016

Sinopsis Goblin Episode 9 Part 3

PS : All images credit and content copyright : TVN
Kim Sun melihat cincin di jarinya, bertanya-tanya kebencian dan dosa seperti apa,  serta Keinginan apa yang terkandung dalam cincin itu. Wang Yeo melihat dari luar dengan topinya jadi tak bisa terlihat lalu masuk ke dalam restoran. Kim Sun mengambil ponselnya sambil mengeluh karena Kim Woo Bin tak bisa dihubungi.
“Maaf. Aku tak bermaksuduntuk membuatmu berada dalam masalah.” Ucap Wang Yeo
“Kenapa dia selalu membuatku menghubunginya lebih dulu?” keluh Kim Sun, Wang Yeo panik kalau Kim Sin akan menghubunginya sekarang juga.

Kim Sun menuliskan pesan “Apa  Kau sibuk?” Wang Yeo menjawab sibuk dengan mencoba membuka password ponselnya. Kim Sun menuliskan “Sekarang, kau lagi apa?” Wang Yeo menjawab sedang berusaha membuka ponselnya agar bisa mematikanya karena takut nanti berdering.
Sampai akhirnya Ponsel Wang Yeo agar mencoba membukanya 1 menit lagi karena terus membuka dengan garis yang salah. Kim Sung menuliskan “Kenapa kau tidak balas lagi?” Wang Yeo menjawab kalau alasanya  Pertama menyesal sudah menghapus ingatanya dan yang kedua.
Wang Yeo teringat saat membuka lukisan yang dimiliki Kim Shin dengan air mata yang mengalir, lalu bertanya-tanya siapa wanita itu karena membuat hatinya merasa tercabik. Ia mengaku kalau  sudah mulai menyukai orang lain jadi meminta maaf pada Kim Sun dan merasa bingung dengan dirinya sendiri.


Tiba-tiba terdengar bunyi suara pesan masuk, Wang Yeo memberitahu Kim Sun kalau mendapatkan pesan yang masuk.  Tapi ternyata pesan dari Kim Sun masuk kedalam ponsel Wang Yeo bertuliskan “Aku merindukanmu.” Akhirnya Wang Yeo menjawab kalau sangat merindukanya juga.
Sementara Kim Sun malah ketakutan karena mendengar suara tapi tak ada pesan yang masuk, lalu merasakan tubuhnya merinding ketakutan lalu menyanyikan lagu pujian. Wang Yeo malah tersenyum melihatnya. Kim Sun akhirnya berani menantang para hantu yang menganggunya, tapi setelha itu kembali menyanyi. Wang Yeo tersenyum bahagia melihatnya. 


Kim Shin melihat Eun Tak keluar tanpa membawa barang-barangnya karena akan ikut pulang denganya. Eun Tak mengatakan akan pergi berkerja karena musim natal jadi upahnya cukup banyak, serta tidak dipecat karena kejadian kemarin.
“Setelah kita menyelesaikan masalah , maka kita harus pulang ke rumah dan merayakannya dengan makan daging, Lalu Sampai kapan kau disini?” kata Kim Shin
“Sampai Februari saat semua salju di tempat ski meleleh jadi Kau pulang saja sekarang.” Kata Eun Tak pergi meninggalkanya.
Kim Shin melotot kaget karena harus menunggu Eun Tak pulang sampai bulan february,  akhirnya ia menelp Ketua Yu agar memecat seseorang dengan menggunakan koneksinya, dengan mengancam akan melelehkan semua salju yang ada ditempat ski. 

Kim Shin dan Eun Tak akhirnya pulang dengan semua barang-barangnya, Wang Yeo menyambutnya didepan pintu. Eun Tak meminta maaf karena sudah membuat Wang Yeo khawatir. Wang Yeo mengaku sedikit khawatir tapi lebih mengkhawatirkan Kim Shin.
“Orang yang menemukanmu lebih dulu itu si Duk Hwa Dan aku yang membawamu pulang.” Kata Kim Shin bangga
“Ini pertama kalinya aku seakan-akan pulang ke rumah, jadi aneh rasanya. Tempat ini rasanya sudah seperti rumahku sekarang.” Ucap Eun Tak tersenyum bahagia.
Wang Yeo melihat Eun Tak kembali aneh dan berpikir agar  menceritakan kisah sedihnya. Kim Shi mengaku taku saat akan mengajaknya pulang, lalu akan melepaskan jaketnya. Wang Yeo menyuruh jangan melepaskan  karena harus ikut dengannya. Eun Tak menghalanginya bertanya mau dibawa kemana “pamanku” ,  Wang Yeo kaget karena Eun Tak mengakui kalau pamanya itu hanya untuknya.
Kim Shin tersenyum bahagia dalam hatinya bergumam kalau Eun Tak memanggilnya “pamanku” Wang Yeo mengumpat Kim Shin itu Norak karena sudah bisa mendengarnya. Eun Tak dibuat binggung, Kim Shin tak ingin Eun Tak tahu kalau Wang Yeo bisa mendengar suara hatinya mengajaknya untuk segera pergi. 

Wang Yeo memberitahu Eun Tak kalau Kim Shin menyukai panggilanya, lalu berteriak agar Kim Shin ikut dengannya tanpa membawa boneika si “Tuan Soba”. Keduanya ada dikedai Teh dan Kim Shin duduk dengan gugup bertanya mau diserhakan pada siapa pernyataan alasannya, dan berpikir akan menyerahkan langsung.
“Hal-hal seperti ini tidak langsung diterima di atas sana. Dewa-dewa itu mungkin menciptakan pekerjaan kit karena mereka tak mau membaca semua laporan.” Kata Wang Yeo, Kim Shin pikir lebih baik  tulisan tangannya sama
“Kubilang kalau itu kutulis pakai tangan kiri. Jadi kaudiam dan tulis saja!” kata Wang Yeo, Kim Shin tiba-tiba berkomentar kalau Si pemilik restoran ayam itu cantik, Wang Yeo kaget mendengarnya.
“Apa Kau bertemu dengannya? Kau tidak bicara hal yang tak ada gunanya, 'kan?” kata Wang Yeo panik, Kim Shin mengaku tak mengatakan apapun, tapi... Wang Yeo berpikir Kim Shin memberitahu Kim Sun kalau ia adalah malaikat pencabut nyawa
“Kau juga bilang ke Eun Tak! Kalau aku akan menghilang setelah pedangku ditarik.” Ucap Kim Shin seperti sengajak ingin membalasnya, Wang Yeo makin panik karena Kim Shin tega mengatakan hal itu. 

Tiba-tiba seorang pria masuk ke dalam kedai yang hanya bisa dimasuki malaikat dan Goblin. Keduanya melonggo melihat manusia yang tak bisa dilihat dengan mata manusia. Si pria yang terlihat menahan buang air kecil meminat izin agar menggunakan kamar kecilnya.
Keduanya binggung karena pria itu adalah manusia, dan juga tidak mati. Kim Shin tahu kalau manusia tak boleh masuk. Si pria yang sudah tak tahan memohon, akhirnya Wang Yeo pun menunjuk ke arah toilet miliknya.  Kim Shin merasa pintu apapun bisa dibuka kalau manusia sedang putus asa dan Wang Yeo  masih belum percaya setelah melihatnya.
“Kau saja percaya pada dewa yang tak terlihat, kenapa kau tidak percaya manusia yang kelihatan bentuk dan rupanya? Itulah namanya kegigihan manusia. Kekuatan untuk mengubah nasib mereka sendiri.” Ucap Kim Shin
“Bagaimana bisa kedai teh bagi makhluk abadi diinjak oleh manusia? Bagaimana aku bisa menulis laporan penjelasan atas kasus ini!” kata Wang Yeo bingung
Kim Shin ingin pergi tapi Wang Yeo kembali menyuruh duduk, serta mulai menulis karena semua ini salahnya. Kim Shin pikir lebih Baik Duk Hwa saja yang menuliskan saat sampai rumah. 

Kim Sun mencoba untuk mewawancarai pelamar yang akan kerja di restoranya, tapi tak ada yang cocok. Lembaran kertas untuk mencari pekerja paruh waktu ditaruh diatas meja, Eun Tak kembali datang dengan senyuman, Kim Sun berkaca-kaca melihat Eun tak datang kembali.
“Namaku Ji Eun Tak. Umur sembilan tahun, orang tuaku meninggal dan Kalau ada pertanyaan, jangan sungkan bertanya. Aku bisa memenuhi semua syarat disini.” Ucap Eun Tak
“Apa Kau sudah ada janji hari ini?” tanya Kim Sun, Eun Tak mengelengkan kepala
“Kalau begitu ini hari pertamamu. Bekerjalah.” Kata Kim Sun, Eun Tak tersenyum bahagia menerimanya lalu bertanya kenapa restoranya pindah  ke tempat yang lebih bagus
“Hidup itu cuma punya sedikit penjelasan. Aku menyewakan apartemenku, Tapi Darimana kau tahu tempat ini? Padahal Kau saja tidak menghubungiku?” ucap Kim Sun heran,  Eun Tak mengaku tahu sendiri dengan melirik pada hantu yang memberitahukanya 

Eun Tak keluar dari restoran untuk membuang sampah, terlihat dua anak yang meminta anak kecil uang 10ribu Won, Tapi si anak kecil tak memiliki. Keduanya mengejek si anak kecil itu tuna wisma dan menyuruhnya agar mencari uang. Si anak kecil berani dengan melawan seperti pahlawan dengan mengeluarkan “Bom angin” 
Keduanya makin mengejek, menurutnya karena itu ibunya menelantarkannya, disebabkan banyak nonton film kartun. Eun Tak berteriak memarahi keduanya yang pengecut karena berani mengangguk anak kecil. Keduanya pun kabur meninggalkan anak kecil itu. Eun Tak menghampiri dengan memastikan kedaaanya.
“Suatu hari, kau pasti bisa menggunakan kekuatan-kekuatan super itu. Kau tinggal dimana? Apa dekat dari sini?” tanya Eun Tak mengelus kepala Sia anak kecil, tapi Si Anak kecil memilih untuk pergi. 

Eun tak mondar mandir dengan gelisah karena  Pengumumannya pasti sudah keluar lalu akhirnya menenangkan diri untuk melihat hasilnya pada laptopnya, wajahnya terlihat shock hasilnya lulus masuk ke jurusan komunikasi. Ia berguling-guling diatas tempat tidur dengan bahagia dan harus mencetak formulir biaya kuliah sekarang.
Beberapa saat kemudian, Eun Tak berdiri didepan kamar dengan mengingat pesan dari pihak kampus kalau ada orang yang sudah membayarnya. Sementara Kim Shin sibuk dengan menyemprotkan prafum didalam kamarnya.
“Dia memintaku memberitahukan namanyapadamu, kalau-kalau kau menghubungiku. Namanya Kim Shin.” Eun Tak tersenyum sendiri lalu masuk kedalam kamar dengan berpura-pura marah kalau Kim Shin yang membayar uang kuliahnya. Kim Shin berpura-pura kalau sudah mereka merahasiakannya.
“Tapi mereka bilang kau menyuruh mereka memberitahukan namamu.” Ucap Eun Tak, Kim Shin mengaku pihak kampus yang terus menanyani namanya jadi tak punya pilihan.
“Mereka selalu menanyai nama mahasiswanya tapi kau selalu memberitahukan mereka namamu.” Ucap Eun Tak

“Aku penasaran apa kau bakal suka hadiah ini untuk hadiah masuk kuliah.” Ucap Kim Shin memberikan sebuah tas yang sudah di isi parfum
Eun Tak langsung tersenyum bahagia menerimanya,  Kim Shin bisa mengetahuianya lalu mengucapakan selamat. Eun Tak memeluk tas yang sangat dirindukanya dan memeriksa isi tasnya. Kim Shin emmberitahu aung  5 juta won-nya sudah tak ada karena sudah ia pakai bayar uang kuliah. Eun Tak tak percaya mendengarnya 
Kim Shin malah berpikir Eun Tak itu tersentuh menegaskan hanya  meminjamkannya padanya. Eun Tak heran karena awalnya memberikannya tapi sekarang malah meminjamkanya dengan mengeluh kalau seseorang berubah secepat itu. Kim Shin menegakan kalau hanya Eun Tak sebagai manusia dirumah ini.
“Cicilannya 5200 won per bulan selama 80 tahun. Jangan pernah lupa bayar satu bulan pun” kata Kim Shin, Eun Tak tak pecaya selama 80 tahun.
“Ya. Kau tidak boleh mencicil lebih cepat dari jangka waktu itu.” Ucap Kim Shin, Eun Tak malah binggung mendengarnya, tapi akhirnya berpikir kalau memang itu sudah keinginan Kim Shin maka akan mematuhinya dan mengajaknya untuk kencan dengan tas yang dimilikinya. 


Eun Tak pergi ke kedai es krim dengan mengumpat Kim Shin itu bodoh karena malah membawa hasil ujianya saat pergi ke tempat ski, apabila membawa tas itu saja maka pasti langsung ikut pulang bersamanya. Kim Shin tak percaya padahal sudah memiliki rencana seperti itu.
“Apa Malaikat Pencabut Nyawa Ahjussi yang melarangmu?” kata Eun Tak, Kim Shin membenarkanya.
“Sudah kuduga. Kau harusnya berterima kasih padanya. Dia sudah menyelamatkan hidupmu. Kalau tidak, aku pasti sudah menarik pedangmu itu.” Ucap Eun Tak mengambil es milik Kim Shin
Kim Shin melarang Eun Tak mengambil es krim miliknya, Eun Tak mengatakan es krimnya sudah habis dan ingi meminta satu sendok saja, tapi terus menerus mengambil milik kekasihnya. Kim Shin hanya bisa tersenyum melihatnya.
“Apa ada rasa cinta disini?” tanya Eun Tak mengoda dengan memperlihatkan tasnya. Kim Shin menyuruh mencari saja karena  sudah mencoba memasukkannya.

Sek Kim memberikan  daftar hadiah yang disukai olehwanita muda seperti dimintanya. Ketua Yun binggung apa maksudnya "BTS". Sek Kim langsung menarikan lagu BTS. Ketua Yun pikir anggota Boy band itu memang mengguncang hati para wanita.
“Apa ini " EXO"? Apa ini merek alkohol?” kata Ketua Yun tak mengerti. Sek Kim pun menjelaskan kalau yang dimaksud adalah anggota boy band menarikan lagu “Growl” milik EXO.
Ketua Yun tertawa melihatnya measa Menjadi sekretaris pasti melelahkan, lalu memilih pilihan nomor 3 sebagai hadiahnya yaitu kamera digital. Sek Kim ingin menjelaskan, Ketua Yun memberitahu kalau sudah mengetahuinya. 

Duk Hwa sibuk dengan kamera melakukan sefie, Dengan pesan dari ketua Yu sebagai hadiah untuk Eun Tak “Ji Eun Tak... Selamat Semoga, dengan kamera inikau bisa mengenang momen-momenmu.Dari Yu Shin Woo.” Tiba-tiba Duk Hwa dikagetkan oleh Eun Tak yang terlihat dilayar.
“Kapan dan kenapa kaupulang lagi kesini?” tanya Duk Hwa, Eun tak heran melihat Duk Hwa kaget berpikir kalau sedang berbuat kesalahan
“Aku kaget karenawajah tampanku ini.” Kata Duk Hwa bangga memperlihatkan hasil foto selfienya.
“Kenapa kau punya kamera,bukannya kau tak punya uang?” tanya Eun Tak heran, Duk Hwa mengatakan kalau itu miliknya, Eun Tak bingung kenapa itu bisa jadi miliknya.
“Ini hadiah dari kakekku Dan fotoku adalahhadiah dariku.” Ucap Duk Hwa, Eun Tak melihat kartu dari kakek merasa terharu membacanya lalu mengulurkan tanga meminta agar memberikannya
Duk Hwa mengaku kalau hadiah satu-satunya yang pernah diterimanya hanya sebuah bangunan meminta agar bisa meminjamnya 10 menit saja, Eun Tak tetap memintanya, Duk Hwa menurunkan jadi 5 menit, Eun Tak tetap menolaknya akhirnya mereka pun kejar-kejaran didalam rumah. 

Kim Shin melihat keduanya kejar-kejaran merasa kalau ada anak-anak di rumah maka susananya jauh lebih hidup, lalu bertanya apakah mendapat lagi kartu daftar namanya. Wang Yeo pikir sudah mengatakan kalau mendapatkan lagi tapi tetap penasaran dan bertanya apa yang akan dilakukan Kim Shin sekarang.
“Apa kau ingat... Pria yang menerobos masuk ke ruangan tehmu itu?” kata Kim Shin, Wang Yeo pikir tak mungkin melupakanya
“Keputusasaan seorang manusiabisa membuka pintu apapun.Mungkin satu pintu yang terbuka sedemikian rupa itu bisa jadi variabel dalam rencana dewa. Aku berencana untuk memulai pencarian pintu Dengan putus asa. Pintu apa yang harus kubuka untuk mengubah rencana dewa itu? Mungkin butuh 100 tahun, 10 bulan, aku tak tahu tapi untuk saat ini aku sudah memutuskan untuk tinggal di sisinya. Dan kemudian... Aku mungkin bisa membuka pintu itu.” Ungkap Kim Shin

“Kuharap pintu yang akan kau buka itu bukan pintu kamarku.” Kata Wang Yeo
Kim Shin bertanya-tanyab kenapa dewa  terlibat dalam pintu toilet dan itu begitu penting. Wang Yeo mengaku kalau sebelumnya sudah tersentuh dengan perkataan Kim Shin tapi malah sekarang membuatnya kesal. Duk Hwa memanggil dua pamanya untuk mengajak foto, Kim Shin mendorong Wang Yeo agar menjauh karena ingin foto berdua dengan Eun Tak. Wang Yeo menolak tetap ingin ikut difoto, akhirnya ketiganya foto bersama dengan senyuman bahagia. 


Wang Yeo mengatakan kalau memiliki pertanyaan dan akan pindah dari tempat duduknya kalau Eun Tak menjawabnya. Eun Tak mengeluh apa lagi sekarang. Beberapa saat kemudian, Wang Yeo terlihat kebingungan berjalan dengan Kim Sun dengan mengingat saran dari Eun Tak “Menyetir mundur dengan sangat cepat, Memecahkan soal matematika dengan pensil, Tersenyum saat berbicara. Jangan sampai dia dekat jalan yang banyak mobil.”
Kim Sun binggung melihat Wang Yeo malah berjalan didepanya, seperti menghalanginya. Wang Yeo merasa berbahaya jadi meminta agar Kim Sun tak terlalu ke pinggir jalan. Kim Sun heran melihat tingkah Wang Yeo yang aneh dan bisa mengetahui ada yang ingin dikatakan.
“Aku tak punya agama.” Kata Wang Yeo, Kim Sun binggung Wang Yeo mengejeknya sudah pandai bicara. 

Teringat kembali saat terakhir kali Kim Sun bertanya apakah Wang Yeo memiliki agama,  dan merasa kalau selama ini tak bisa dihubungi memikirkan hal itu. Wang Yeo mengaku tak sempat memberitahukanya dengan senyuman lebar mengikuti tips dari Eun Tak, Kim Sun malah curiga melihat Wang Yeo yang terus tersenyum berpikir kalau ada yang aneh dengan riasannya.
“Bukannya menurutmu aku ini imut?” kata Wang Yeo percaya diri, Kim Sung mengatakan tidak.
“Lalu Kenapa kau tidak menjumpaiku waktu hari Natal! Kau pasti imut kalau datang hari itu. Jadi kau selama ini melakukan apa saja? Kau pasti tidak mungkin berada di gereja.” Kata Kim Sun penasaran
“Natal itu sedikit... ya kau tahulah. Karena Natal itu  hari lahirnya seseorang. Jadi serba salah aku menentangnya. Tapi, aku sudah bilang aku tidak punya agama. Lalu Apa kau sungguh tidak menganggapku aku ini imut?” ungkap Wang Yeo
Kim Sun melihat tingkah Wang Yeo merasa merinding karena merasakan deja vu dan mengingat kalau situasia ini pernah terjadi sebelumnya dan masih jelas dalam ingatannya 

Eun Tak pikir Kim Shin tidak perlu berjalan bersamanya, Kim Shin mengejek kenapa baru bilang padahal sudah sampai didepan restoran tempatnya berkerja. Eun Tak melihat ada si Malaikat Pencabut Nyawa dan memberitahu kalau Sebagian besar untung restora berasal dari dompetnya orang itu bukan orang seperti Kim Shin
“Memang berapa harga ayam gorengnya? Aku bisa membeli seluruh ayam di restoran itu.” Kata Kim Shin kesa
“Eh... kau itu takut darah ayam. Aku baca semuanya tentang goblin.” Kata Eun Tak
“Aku tidak takut, hanya jaga jarak saja dari darah itu.” Kata Kim Shin, Eun Tak mengingat kalau itu alasanya mencarikan kerja untuknya pada restoran ayam agar bisa jauh denganya.  Kim Shin mengaku kalau itu dulu
“Aku sudah tahu sekarang, jadi kau bisa pergi sekarang. Aku akan tinggal di sini selama 1.000 tahun ke depan..., jadi jangan datang cari aku. Dasar Pengecut.” Komentar Eun Tak, Kim Shin tak terima dianggap pengecut.
“Tak pernah ada orang yang bilang begitu padaku dan kau yang pertama. Dulu, semua orang bersorak-sorak padaku.. berteriak "Manse!"” ucap Kim Shin dianggap seperti raja. Eun Tak seperti tak peduli, Kim Shin memilih untuk masuk ke dalam restoran. 

Didalam restoran
Kim Shin dan Kim Sun saling menatap sinis seperti penuh rasa dendam, Eun Tak dan Wang Yeo saling berpandanganya dengan wajah binggung dan keduanya seperti tak tahu dengan keadaanya.  Kim Sun berbisik pada Eun Eun Tak dengan suara lantang “Apa dia pria yang selalu menyusahkanmu?”  Eun Tak mengataka kalau keduanya bisa mendengarnyakanya.
“ Dia bicara “Apa Kau tidak kenal suaraku? Biasanya suaraku tidak mudah dilupakan. Itu, panggilan telepon waktu darinya kan?” balas Kim Shin  berbisik pada Wang Yeo, Wang Yeo menyuruh Kim Shin diam karena bisa semua bisa medengarnya suara yang lantang.
“Kita bertemu lagi rupanya. Aku tak menyangka kalian berdua berteman. Dia datang ke restoran lama mencarimu waktu itu.” Ucap Kim Sun, Eun Tak bisa mengerti.
“Seberapa banyak yang kau katakan padanya?” bisik Eun Tak, Kim Shin mengaku tak banyak. Kim Sun membenarkan.

“Aku belum menyelidiki pria ini saat itu.” Ucap Kim Sun bertanya umurnya dengan lebih dulu meminta maaf. Kim Shin pikir tak perlu meminta maaf kalau memang ingin bertanya.
“Kau dengan liciknya menghindari pertanyaanku rupanya.” Ucap Kim Sun sinis
“Aku memang langsung menolak menjawab pertanyaanmu.” Balas Kim Shin
Wang Yeo kebinggungan karena keduanya mulai adu mulut, Kim Sun merasa ucapan Kim Shi terlalu kasar.  Kim Shin pikir itu karena dirinya lebih tua dari penampilanya dan seorang pria yang cukup rumit. Eun Tak pikir kalau mereka selesai bicara lebih baik pergi saja karena nanti banyak pelanggan akan segera datang.
Kim Shin menolak karena belum makan. Wang Yep pikir Kim Shin sudah selesai makan dan menyuruhnya untuk segara pulang  karena temanya itu semuanya jadi canggung. Eun tak menyuruh keduanya pulang, keduanya menolak tak ingin meninggalkan restoran. 


Akhirnya Eun Tak sibuk melayani pelanggan yang datang dan Wang Yeo berusaha untuk memecahkan pelajaran matematika dengan kacamatanya. Kim Shin bingung apa yang dilakkanya. Wang Yeo mengejek Kim Shin itu tak tahu menahu tentang masalah wanita. Kim Shin merasa wang yeo  tidak tahu jawabannya. Wang Yeo menyuruh Kim Shin lebih baik minum bir saja.
“Permisi, Kim Sun... Bisa tambah dua bir lagi?” kata Wang Yeo mengangkat dua tangan dengan senyumanya. Kim Sun kaget mendengar namanya di panggil. Kim Shin pun ikut kaget. Akhirnya Kim Sun mendekat meminta agar bisa bicara sebentar. Kim Shin menatap keluar jendela. 

Kim Sun bertanya apa maksudnya tadi, memanggil nama Kim Sun bukan Sunny. Wang Yeo pikir tak ada yang salah. Kim Sun merasa belum pernah memberitahukan namanya.  Wang Yeo terdiam mengingat saat terakhir kalau merasakan dadanya kesakitan berusaha menhilangkan ingatan Kim Sun.
“Darimana kau tahu namaku? Kenapa kau bisa tahu?” tanya Kim Sun curiga.
“Aku tadi memanggilmu Kim Sunny.” Kata Wang Yeo mencoba mengalihkan dengan ingin mengambilkan mantel karena pasti diluar dingin.
Kim Sun  menarik tanganya karena belum selesai bicara. Wang Yeo terdiam seperti merasakan sesuatu, dijari Kim Sun mengunakan cincin yang diberikan Wang Yeo padanya. Wang Yeo melihat tangan Kim Sun yang menyentuh tanganya. 

Seperti ingatan Wang Yeo sedikit terbuka melihat seorang wanita yang tak bernyawa dengan cincin yang sama dengan tertusuk dibagian dada, Ketika membuka gambar milik Kim Shin air matanya langsung mengalir. Lalu Raja yang marah pada Ratu dengan menemukan sebuah cincin yang membuatnya seperti terbakar cemburu.
“Ada yang tidak beres.Sepertinya... ini bermula darimu.” Gumam Wang Yeo melihat gambar milik Kim Shin
Ratu melihat dari jendela tandunya, seperti kaget melihat seseorang yang datang. Kim Shin melihat dari kejauhan tangan Wang Yeo yang tersentuh oleh tangan Kim Sun. Gambaran ratu sedang berlatih berjalan kembali terlihat dan raja pun mengintip melihatnya dengan senyuman bahagia. Wang Yeo seperti melihat sosok ratu di depanya. Kim Sun bertanya apa apa.
“Sebenarnya... kenapa” kata Wang Yeo terlihat binggung, Kim Shin terus melihatnya seperti bisa menduga sesuatu. Jari Kim Sun masih memegang erat tangan Wang Yeo tanpa terlepas. 
bersambung ke  Episode 10

FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09 

Sinopsis Goblin Episode 9 Part 2

PS : All images credit and content copyright : TVN
Eun Tak menahan tangisnya melihat hampran salju didepanya sangat banyak, ketika membalikan badan melihat sosok pria yang selalu datang ke pikiranya. Kim Shin melihat Eun Tak lalu berjalan mendekatinya dan mengajaknya untuk pulang karenatidak boleh berada di tempat ini sendirian.
“Aku tidak punya rumah. Tempat yang kuanggap rumahku pun, ternyata bukan rumahku. Semua orang dekat padaku hanya karena ada maunya saja. Beberapa orang ingin mengambil uang asuransiku dan orang yang lain mendekatiku karena dia ingin mati. Aku tahu semuanya sekarang. Dia bilang aku hanyalah alat untuk mengakhiri keabadian goblin.”” kata Eun Tak menyindir

“Aku lupa memberitahumu Dan lega karena aku tidak mengatakannya. Kalau bisa, aku malah ingin melewatkan kesempatan memberitahumu sampai aku mati. Tapi aku tidak bisa. Pedangku ini berbekas darah ribuan nyawa orang dengan beban hidup masing-masing mereka. Aku tidak punya hak membuat keputusan seperti itu. Jadi tariklah pedangnya. Kumohon.” Ucap Kim Shin
“Tidak... Aku tidak mau melakukanya.  Walaupun aku harus mati, aku tak mau. Jadi jangan cari-cari aku lagi. Kita pura-pura saja hidup dan tidak saling kenal. Kau harus Jauh-jauh dariku dan.. panjang umurlah, Tuan Kim Shin” kata Eun Tak
“Jangan muncul di hadapanku lagi. Jika aku melihatmu di depan mataku lagi..., maka aku sungguh akan membunuhmu.” Ucap Eun Tak memperingatkanya. 


Eun Tak kembali berkerja dengan melayani semua pelanggan, sementara Kim Shin terus melihatnya dari kejauhan. Eun Tak berjalan melewati jalan yang dipenuh salju, dan Kim Shin terus mengikutinya dari belakang. Eun Tak akhirnya sampai berjalan di sekitar pohon dengan semua ranting memutih,  seperti merasakan seseorang yang mengikutinya, tapi ketika menengok tak melihat siapapun.
Kim Shin sudah ada didepanya, memberikan lembaran kertas mengatakan kalau Hasil ujianya bagus. Eun Tak langsung mengambilnya merasa kalau Kim Shin pasti menjadikan sebagai alasan menemuinya. Kim Shin merasa snenag kaena punya alasan itu karena bisa bertemu dan melihatnya.
“Kenapa kau ingin melihatku?” tanya Eun Tak, Kim Shin balik bertanya kenapa Kim Shin ingin tahu alasan itu.
“Apa kau ingin aku hidup bersamamu atau mati bersamamu? Bukankah aku sudah memberitahumu kalau aku akan membunuhmu kalau kau muncul di hadapanku lagi?” kata Eun Tak ketus meminta agar Kim Shin mendekat karena akan menarik pedangnya kalau memang itu maunya.
“Pria ini, tidak mau menyerah.” Ucap Eun Tak melihat Kim Shin yang berjalan mendekat. Kim Shin meraih tangan Eun Tak dan menaruh di dada agar bisa melakukanya.
Eun Tak menangis meminta agar jangan melakukanya dan meminta agar melepaskan tanganya. Kim Shin pun melepaskanya, Eun Tak meanatp Kim Shin dengan matanya yang basah mengartikan saat membuat keputusan di hotel dan saat itu yang dimaksud olehnya.
Flash Back
Eun Tak bertanya apakah Kim Shin mencintainya,  Kim Shin mengatakan kalau memang bunuhnya maka akan mencintainya lalu mengatakan “Aku mencintaimu.” 


Eun Tak bertanya apakah Kim Shin sudah mencintainya,  Kim Shin hanya diam saja.Eun Tak berpikir apakah tidak ada sedikit saja. Kim Shin mengaku sangat takut Karena itulah ingin Eun Tak terus membutuhkannya dan memintanya seperti itu.
“Aku ingin alasan itu yang bisa membuat permohonankuterkabul.Dengan alasan itu, aku berharap bisa tetap hidup.... Bersamamu.” Kata Kim Shin, Eun Tak menatapnya tak percaya, keduanya saling menatap dengan pohon yang semakin memutih tertutup dengan salju. 

Eun Tak duduk diam dalam kamarnya  seperti memikirkan keadanya sekarang. Kim Shin berdiri depan pohon menatap kearah kamar Eun Tak yang masih terlihat terang, tapi akhirnya memilih untuk pergi.
Pagi hari, Eun Tak pergi ke gudang memberitahu  Salah satu pelanggan ingin tepi papan luncurnya di-waxing dan memakainyasekitar sejam lagi. Petugas yang ada digudang mencari Staf Kim yang biasa mengurusnya jadi meminta Eun Tak menunggu sebentar.
Eun Tak pun duduk dibangku dengan menahan dingin, saat itu terlihat tetesan es dari papan seluncur dan akhirnya terjatuh membuat rak yang ada didekat Eun Tak pun ikut jatuh. Eun tak yang sedang duduk tertimpa rak lalu tak sadarkan diri. 

Wang Yeo binggung melihat Kim Shin yang datang sendirian berpikir kalau tak bertemu dengan Eun Tak si Jiwa yang Hilang. Kim Shin mengaku berhasil menemuinya tapi tidak mau ikut pulang. Wang Yeo binggung karena  pertama kalinya dapat nama target secepat ini dan Sekarang gilirannya si Jiwa yang Hilang.
“Apa kau yakin ini Eun Tak? Tapi  kartu ini kosong.” Kata Kim Shin melihat kartu yang di pegangnya kosong.
“Namanya tertulis di sana. Tapi Apa sebenarnya yang terjadi? Seolah-olah ada seseorang yang ingin dia mati.Bukan aku dan juga pasti bukan kau orang yang ingin dia mati.” Kata Wang Yeo binggung
“Mungkin saja aku, karena Aku harus mati agar dia bisa hidup. Jika aku hidup, maka dia yang mati. Begitulah nasib anak itu dan diriku. Itulah hukumanku dan rencana besar sang dewa.” Ucap Kim Shin terlihat pasrah.
Wang Yeo meminta agar Kim Shin jangan lemah menurutnya kalau memang keinginan dewa tapi bukanlah keinginannya dan juga Kim Shin, lalu melihat jam tanganya masih punya waktu satu jam dengan memberitahu kalau Penyebab kematiannya, hipotermia, jadi meminta agar segera menemukanya. 

Kim Shin berlari ke bagian ski tak menemukan Eun Tak, berusaha menelpnya tapi tak diangkat, teringat kembali dengan perkataan si nenek muda “Kematian akan terus menghampirinya Dan aku yakin dia sudah beberapa kali mengalaminya. Kejadian yang akan menimpanya lebih parah lagi mulai sekaran, Akan ada lebih banyak kecelakaan. Kecelakaan tersebut lebih sering terjadi dan lebih berbahaya.”
Eun Tak sedikit tersadar terkenang kembali kenangan dengan Kim Shin, saat pertama kali ditepi pantai lalu meniupkan bunga ke arah Kim Shin, Di ladang merasa bahagia karena melihat salju pertama kali turun. Kim Shin juga memasangkan syal milik ibunya, dan perkataan terakhirnya ”Aku berharap kau akan selalu membutuhkanku dan memintaku seperti itu. Aku berharap alasan itu bisa membuat permohonanku terkabul.”
“Aku membutuhkanmu... Itulah yang kupinta darimu... Aku mencintaimu.” Kata Eun Tak terlihat sangat lemah dengan mata tertutup.
Kim Shin bisa merasakannya, lalu membuka pintu gudang langsung mengendong Eun Tak keluar yang sudah kedinginan. 

Eun Tak perlahan membuka matanya, melihat banyak dokter yang berdiri didepanya. Salah dokter memastikan kalau Eun Tak sudah sadar dan memberitahua sekarang ada di rumah sakit, dengan menunjukkan gejala-gejala hipotermi serta gegar otak tapi keadaanya baik-baik saja. Eun Tak melihat sekeliling seperti menyadari kalau masih hidup.
“Kalau terlambat saja kau dilarikan ke rumha sakit, maka kondisimu bisa bahaya.” Jelas Dokter
“Sudah berapa lama aku tak sadarkan diri?” tanya Eun Tak, Dokter mengatakan sudah satu setengah hari.
“Kalau begitu, tagihan rumah sakitnya?” tanya Eun Tak, Dokter pikir Eun Tak tak perlu khawatir karena  lalu bertanya apa hubunganya dengan Ketua Chunwoo Group
“Beliau datang sendiri untuk memproses perawatanmu disini dan Kemarin RS ini dalamkeadaan genting.”ucap Dokter yang memperbolehkan  Eun Tak pulang kalau memang sudah merasa baikan tapi menyarankanya agar harus beristirahat lagi.
Eun Tak memberanikan diri bertanya apakah salah satu dari dokter memiliki korek api. Semua Dokter menatap binggung karena pasiennya malah meminta korek pada mereka. 

Eun Tak menaiki gondola untuk sampai ke bagian atas ski, dengan menatap pemandangan dari atas mencoba menyalahkan korek lalu meniupnya, tapi Kim Shin tak datang seperti biasanya. Eun Tak kembali mencoba tetap saja tak berhasil, wajahnya panik berpikir kalau terjadi sesuatu pada Kim Shin.
Gondola pun sampai di bagian atas, Eun Tak terdiam melihat sosok pria yang ditunggunya, Kim Shin sudah berdiri menunggu. Keduanya saling menatap. Eun Tak turun dan langsung memukul Kim Shin karena berpikir tidak akan muncul lagi. Kim Shin mengaku sudh datang lebih cepat dan sudah menunggunya.
“Siapa yang memintamu begitu?Kau biasanya muncul kalau aku tiup api dan seharusnya menemuiku disana, serta muncul di depan mataku.” Ucap Eun Tak kesal
“Padahal aku datang kesini buat menggenggam tanganmu.” Kata Kim Shin, Eun Tak tak peduli memilih untuk pergi meninggalkanya. 

Kim Shin mengikuti Eun Tak lalu memeluknya dari belakang dan berkata “aku juga” Eun Tak binggung apa maksudnya. Kim Shin pikir kalau memang Eun Tak tak mengerti tak perlu membahasnya. Eun Tak mengaku bisa mengetahuinya. Keduanya berpelukan lalu Eun tak membalikan badanya.
“Ada yang ingin kuungkapkan padamu. Sekarang..., aku tidak bisa melihat apa-apa dalam dirimu, Ahjussi.  Kau hanyalah seorang pria tinggi yang mengenakan pakaian mahal dan pria bermata indah. Hanya itu yang bisa kulihat pada dirimu. Jadi... Aku tidak akan bisa lagi menarik pedangmu dan tidak akan menariknya walaupun kau tersenyum. Di mataku... kau sekarang pun sudah sangat tampan.”ungkap Eun Tak, Kim Shin mengelus rambut Eun Tak dengan senyuman bahagia. 

Kim Sun kembali lagi menemui peramal,  menceritakan kalau Wajahnya pucat dan bibirnya merah, pakai baju serba hitam serta kadang-kadang memegang topi hitam. Si peramal ketakutan ketika menguanakan alat penerawanganya. Kim Sun penasaran apa yang didapatkanya. Si peramal bertanya apakah sudah memberitahukan namanya.
“Dia itu malaikat pencabut nyawa.” Kata Si peramal. Kim Sun tertawa mendengarnya merasa tak percaya dengan hal itu.
“Aku sudah peringatkan padamu berhati-hatilah terhadap pria bertopi hitam!” kata Si peramal. Kim Sun merasa kalau peramal itu mendapatka pelanggan lai selian dirinya dan uangnya sudah cukup.

“Kalau kita berhati-hati sama pria, Aku mana bisa berkencan!” keluh Kim Sun tak percaya meminta agar membuat alasan yang lebih meyakinkan.
Ia dan teringat dengan seorang pria yang ditemuinya, sangat tinggi dan kelihatan tua dari dirinya dengan  Wajahnya mirip dinosaurus bahkan Mendengarkan suaranya saja membuatnya merasa berada di dalam kafe tersempit di seluruh dunia.
Peramal menyebut  pria itu “Gong Yoo” (nama asli Goblin). Kim Sun kesal memilih untuk pergi dengan memberikan uang 50ribu won. Peramal bertanya apakah Kim Sun pernah diberikan sesuatu yang berkilau sebelumnya.

Kim Sun langsung kembali duduk karena peramal bisa mengetahuinya. Si peramal meminta agar membuangnya,  karena tidak boleh menerima benda tanpa tahu siapa pemilik sebenarnya dan tak pernah tahu apa yang ada di dalam benda itu. Ia pikir Bisa saja berisi kebencian, dosa, dan keinginan si pemilik sebenarnya yang ada di dalamnya.
Bersambung ke part 3



FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09 

Sinopsis Goblin Episode 9 Part 1

PS : All images credit and content copyright : TVN
Eun Tak dengan berkaca-kaca mengetahui kalau ia menarik pedang itu maka Kim Shin akan menghilang dari dunia ini selamanya. Wang Yeo menjelaskan itu artinya seperti Memunahkan kehidupan abadinya Goblin dan begitulah nasib Pengantin Goblin.
Sementara Kim Shin bertemu dengan Nenek yang sebenarnya adalah Dewa, Si nenek memberitahu kalau Kim Shin sudah hampir membunuhnya dengan tangannya sendiri. Kim Shin terdiam teringat saat Eun Tak berhasil menarik pedangnya dengan tanganya mendorong Eun Tak dan hampir mati karena melayang. 

“Jika kau menarik pedang itu..., maka dia akan menjadi abu dan abu tersebut tersebar kemana-mana. Dia akan lenyap selamanya... dari dunia ini pergi ke dunia yang lain.” Kata Wang Yeo, Eun Tak menangis mendengarnya.
Wang Yeo menyakinkan kalau semua bukan salah Eun Tak, menurutnya jika Eun Tak berpikir dirinya hanya sebagai alat membuat Goblin punah, menurutnya itu salah. Karena Kim Shin sendiri yang memutuskan untuk tidak memberitahunya dan ia memberikan jawaban yang jujur.
“Di saat sekarang ini pun, aku berada di pihakmu.” Akui Wang Yeo, Eun Tak mengucapkan terimakasih karena sudah memberitahunya dan menyuruh agar Wang Yeo beristirahat saja. 

Eun Tak kembali ke kamar membereskan semua barang-barangnya ke dalam tas termasuk buku-bukunya, lalu memeluk boneka Goblin menurutnya kalau rumah ini bukan rumahnya. Dan ia pikir tidak punya rumah dalam kehidupan ini. Dengan memanggil Tuan Soba (boneka Goblin) mengajaknya untuk pergi.
Si Nenek Muda keluar dari toko buku dan melihat Duk Hwa yang berjalan berpapasan denganya., Ia berhenti lalu menyapa Duk Hwa yang sudah lama tak bertemu lalu mengajaknya minum, karena moodnya sedang tidak baik sekarang. Duk Hwa bertanya apakah Nenek itu yang akan traktir karena  tidak punya kartu kredit sekarang.

Kim Shin menatap ke arah jendela teringat kembali senyuman bahagia Eun Tak saat menyebarangi jalan di Kanada. Dalam hatinya bergumam “ Suatu hari setelah 100 tahun lamanya... Di saat cuaca yang cukup indah..., kuharap aku bisa mengungkapkan padanya kalau dia cinta pertamaku.”
Papan didepan kamar Eun Tak bertuliskan  [Pengantin Goblin sedang tidak ada di dalam] Kim Shin masih menatap ke langit dengan membuat permohoan agar bisa mengabulkanya. Eun Tak berjalan keluar rumah teringat saat Kim Shin sedikit mabuk bertanya apakah ada kata-kata teriakhirnya sebelum menarik pedangnya.
“Setiap saat waktu yang kuhabiskan bersamamu adalah saat-saat yang indah.  Di saat cuacanya yang bagus, di saat cuaca yang tidak bagus dan di saat cuaca yang cukup bagus. Aku menyukai semua saat-saat itu. Dan Juga...,apapun yang terjadi itu bukan kesalahanmu.”
Eun Tak menangis berpikir kalau itu adalah salam perpisahan untuknya, dengan nada kesal berpikir kalau  harus membunuhnya saja. 

Sementara Wang Yeo menatap keluar jendela sambil bergumam “ Hari itu, Roh yang Hilang berjalan cukup lama dalam hujanan air mata seseorang. Dia ingin kematian sebisa mungkin jauh dari si Goblin.”
Kim Shin baru keluar dari kamar Eun Tak panik karena tak melihat pengantinya itu ada didalam kamar, tidak mengangkat teleponnya dan tidak pulang menurutnya kabur dari rumah. Ia juga tak melihat tas serta “Tuan Soba”, Wang Yeo binggung siapa yang dimaksud dengan “Tuan Soba”
Kim Shin membuka pintu seperti pergi ke pantai dan kembali datang karena tak menemukan dipantai, lalu kembali membuka pintu dan masuk ke dalam rumah karena Eun Tak juga tidak pergi ke sekolah. Wang Yeo terdiam melihat sekali pintu terlihat keluar asap karena Kim Shin pergi ke tempat lain.
“ Dia juga tidak ada di perpustakaan, tempat dia mengikutiku Ke Kanada untuk pertama kalinya.” Kata Kim Shin keluar dari pintu rumah dan kembali masuk mencari ke tempat lain.
“Dia juga tidak ada di dekat taman, tempat dia memanggilku kedua kalinya.” Kata Kim Shin kebinggunga. 

Kim Shin akhirnya menemui para hantu bertanya apakah ada yang melihat Eun Tak. Semua hantu yang ketakutan hanya bisa mengelengkan kepalanya. Kim Shin kembali menemui Wang Yeo bertanya dimana restoran tempat biasanya membeli ayam goreng tempat Eun Tak berkerja paruh waktu, Wang Yeo memberikan kartu nama dalam saku jaketnya karena pasti akan mencarinya. Kim Shin binggung
“Akulah yang salah disini, karena Aku yang memberitahu semuanya padanya.” Kata Wang Yeo, Kim Shin binggung lalu menduga sesuatu.
“Ya benar... Aku memberitahunya, kau akan mati kalau dia menarik pedangmu. Aku menceritakan semuanya.” Ucap Wang Yeo, Kim Shin mengumpat Wang Yeo sudah gila karena memberitahukanya. 

“Padahal Kau sendiri pernah bilang jangan pernah memberitahunya!” kata Kim Shin marah
“Ya... tapi kali ini aku berpihak Pada Roh yang Hilang lagi.” Akui Wang Yeo, Kim Shin memperingatkan agar jangan mencampuri urusanya menurutnya untuk apa Wang Yeo memihak pada Eun Tak. 
“Aku tidak mau kau mati...Tidak ada maksudapapun dari hal itu. Hanya saja kalau kau tidak ada di dunia ini lagi maka aku bakal bosan hidup. Kau boleh marah padaku.” Kata Wang Yeo
Kim Shin terdiam menurutnya tak mungkin marah dengan hal itu,padahal dulu mendoakan agar ia cepat mati tapi sekaran maka tak ingin mati, lalu keluar dengan membawa kupon ayam goreng. Wang Yeo berharap agar Kim Shin tak menggunakan kupon itu, lalu merasa tak percaya kalau bisa menyukai Kim Shin dan tak ingin kehilangannya. 

Kim Shin berdiri didepan restoran ayam goreng, tertulis didepan pintu  [Dibutuhkan pekerja paruh waktu.] ternyata Eun Tak juga sudah tak berkerja ditempat itu lagi. Ketika akan berjalan pergi, Kim Shin dan Kim Sun saling berpapasan saling menatap.
Saat itu Kim Shin seperti melihat Kim Sun yang berbicara dengan Wang Yeo yang akan datang. Kim Sun meminta agar Wang Yeo jangan menghubungin dan jangan menyapanya kalau memang tak sengaja bertemu.
“Happy New Year....” ucap Kim Sun seperti mengucapkan salam perpisahan pada Wang Yeo. 
Kim Sun memanggil Kim Shin dengan panggilan “Kakak”, Kim Shin terdiam mendengarnya. Kim Sun bertanya kenapa Kim Shin  memandangi restoran ayamnya dan berpikir kalau ingin melamar jadi pekerja paruh waktu. Kim Shin sempat kaget mengatakaan kalau sedang  mencari pekerja paruh waktu yang bekerja di tempat itu.

“Si 2,5 juta won, Pakaianmu, jam tanganmu, sepatumu... Dari ujung kepala sampai ujung kaki, semuanya berjumlah 2,5 juta won. Kenapa kau mencari bawahanku yang gajinya cuma 6.300 won per jam?” kata Kim Sun heran lalu teringat sesuatu
“Apa kau orang yang membuatnya menangis? Apa kau si Brengsek itu yang bekerja mengabdi pada negara dan menyusahkan bawahanku?” ucap Kim Sun sinis, Kim Shin kaget lalu bertanya apakah Eun Tak menangis.
“Jadi kau yang membuat pekerja paruh waktuku bolos kerja. Yah.. Aku mengerti sekarang. Apa kau sudah menikah? Apa karena itu kau meninggalkannya seperti itu?” kata Kim Sun
“Aku belum menikah, tapi aku punya calon pengantin jadi kau boleh menganggapku pria yang sudah menikah.” Kata Kim Shin lalu pamit pergi. Lalu berkomentar kalau bukan hanya dia yang punya hubungan rumit. Kim Sun binggung lalu berteriak memanggilnya apa maksud perkatanya

Wang Yeo melihat Kim Shin duduk sendirian dan bertanya apakah sudah menemukannya. Kim Shin pun membahas kalau menyerahkan  dokumen tentang Eun Tak dan meminta agar mengumpulkan dokumenya dulu., Wang Yeo binggung dokumen apa maksudnya.
“Dokumen jiwa-jiwa yang hilang. Harus ada namanya di daftar itu jadi aku setidaknya tahu hari apa dia akan mati.” Kata Kim Shin, Wang Yeo mengartikan kalau Kim Shin mendoakannya biar mati
“Kita perlu tahu bagaimana proses dan lokasi dia nanti meninggal. Dengan begitu salah satu dari kita bisa datang menemuinya saat itu.” Jelas Kim Shin, Wang Yeo tak mengerti kenapa Eun Tak akan mati karena ia tak bermaksud membuatnya mati.
“ Pasti ada alasan lain, 'kan? Lalu Kita ini apa sebenarnya? Kita ini adalah goblin dan malaikat pencabut nyawa. Jadi Mana bisa kita gagal menyelamatkan seorang gadis?” kata Kim Shin binggung.
Wang Yeo akan mengambilkan dokumenya tapi memikirkan kalau terjadi sesuatu,  Kim Shin menyuruh Wang Yeo mengambil dokumennya saja karena kalau nyawa Eun Tak berada dalam bahaya, pasti bisa merasakannya dan orang yang pasti dibutuhkan adalah dirinya.

Wang Yeo bertemu dengan juniornya memberitakan  dokumen Jiwa-Jiwa yang Hilang itu jadi meminta agar segera memeriksanya karena penting. Juniornya mengatakan besok siang akan mengambilnya. Wang Yeo mengatakan kalau itu terlalu lama. Juniornya mengatakan akan mengambil Malam ini juga dan melihat isi dari berkas.
“Ji Eun Tak... Bukankah dia orangnya? Kau waktu itu mencari daftar namanya di stasiun bus. Jadi Siapa dia?” kata Juniornya binggung,
“Dia itu Pengantin Goblin.” Kata Wang Yeo, Juniornya kaget tak percaya Eun Tak memang pengantin Goblin.
“Apa karena itu, makanya si Goblin muncul pada saat itu?” ucap Juniornya penasaran, Wang Yeo menyuruh juniornya makan sandwichnya  dan mulai , renungkan kalimat yang dikatanya kalau ucapanya itu sudah  kelewat batas jadi akan menutup mulutnya. Juniornya pun buru-buru menutup mulut dengan makan sandwich. 

Teman Eun Tak datang ke rumah, Bibi yang baru dengan sinis berkata kalau keluarga Eun Tak sudah tak tinggal dirumah itu dan sudah lama pindah, lalu sambil mengeluh kalau hutang mereka banyak sekali karena selalu didatangi untuk mencarinya.
“Kenapa kau mencari Ji Eun Tak?” tanya Kim Shin yang sudah berdiri dibelakang teman Eun Tak. Teman Eun Tak mengatakan kalau Hasil ujiannya sudah keluar tapi Eun Tak yang tak masuk sekolah lagi dan ia sebagai ketua kelasnya.
“Ahjussi, siapa kau? Kau kenal Eun Tak darimana?” tanya Ketua kelas heran, Kim Shin mengaku kalau sangat mengenal Eun Tak lalu mengambil hasil ujianya dan akan menyerahkannya, lalu pamit pergi.
Tapi Kim Shin kembali karena tak mengerti bertanya apakah hasilnya bagus atau tidak.  Ketua kelas sedikit binggung karena Kim Shin tak mengerti, lalu menjelaskan kalau Dengan hasil nilanya Eun Tak bisa masuk  sebuah perguruan tinggi di Seoul. Kim Shin tersenyum mengaku bangga dengan Eun Tak lalu berjalan pergi. 

Kim Shin melihat hasil ujian dan keluar dari kamar membawa satu tas besa berkata pada Wang Yeo Kalau orang sedang patah hati, pasti akan kacau. Wang Yeo bertanya apa yang akan dilakukanya. Kim Shin meminta maaf  mengatakan kalau sedang tidak fokus sekarang lalu menyuruh mengambil plastik yang dibawanya karena Malaikat Pencabut Nyawa juga butuh kaus kaki.
Wang Yeo duduk sendirian di ruang tengah dengan menonton berita “ Berita terkini. Kabut tebal telah menutupi seluruh gedung pencakar langit dan kini hanya bagian puncak bangunan yang bisa terlihat. Kabut yang kelihatan seperti buatan dewa tersebut terlihat misterius.”
Lalu berita selanjutnya “Kejadian tersebut sudah seperti adegan film Sci-Fi dan begitulah pemandangan langit malam Seoul pada hari ini. Supermoon juga anehnya muncul di antara gedung-gedung tersebut. Setelah munculnya kabut pada siang hari, Supermoon ini muncul dan warga mulai resah.”

Kim Shin sedang ada diatas gedung teringat kembali dengan pesan si nenek muda agar cepat menarik pedangnya kembalilah menjadi abu.Jika tidak kembali maka  Eun Tak yang akan mati.
“Jika aku harus membuat pilihan itu..., maka kau harus.. mempersiapkan alasanmu sendiri.”
Di rumah sakit, seorang anak histeris menangis melihat ayahnya yang tak sadarkan diri. Dokter memberitahukan waktu kematianya Pukul 20:15. Malaikat Kematian datang membaca kartu dengan membawakan “Kim Gi Joong, 68 tahun. Penyebab kematian, pendarahan yang berlebihan.” Tapi tiba-tiba kartunya malah terbakar dan Tuan Kim yang sudah meninggal langsung bangun yang membuat semua kaget. 

Junior datang menemui Wang Yeo tak percaya kalau Di depan matanya pria itu bangun dan hidup lagi, walaupun  mengalami pendarahan berlebihan, tapi warna kulitnya cukup bagus. Wang Yeo bertanya apakah daftar namanya itu terbakar, Junior itu bertanya apakah kejadian itu bisa terjadi.
“Hal tersebut bisa terjadi, kalau api itu apinya si Goblin dan Ini pasti punyamu.” Kata Wang Yeo memberikan platisk besar, Juniornya binggung melihat isinya kaos kaki
“Ini Permintaan maafnya si Goblin.”kata  Wang Yeo,Juniornya benar-benar dibuat binggung dengan yang terjadi. 

Wang Yeo kesal masuk rumah mengomel kalau minta maaf terlebih dahulu itu belum sudah cukup karena membuat masalah dan sekarang para malaikat harus kerja lembur dan Goblin berani  membakar daftar nama target mereka, berikir Goblin itu buta karena sudah lama hidup
“Yah.. Memang sangat disayangkan nasib kalian berdua tapi bukan berarti kau bisa main-main dengan kehidupan manusia, dasar goblin bodoh.” Ungkap Wang Yeo kesal
“Aku hanya ingin seseorang melihatnya. Alangkah baiknya jika sang dewa melihatnya dan Lebih baik lagi kalau Eun Tak yang melihatnya.” Kata Kim Shin
Wang Yeo makin kesal karena tak dianggap apapun, merasa kalau tak ada gunanya bicara dengan Kim Shin, menurutnya lebih abiak membiarkan Eun Tak menarik pedangnya. Kim Shin pikir juga seperti itu. 

Kakek Yun berbicara pada Sek Kim setelah membaca koran, kalau Di dunia ini ada banyak makhluk aneh yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Lalu Sesekali mereka ternyata lebih dekat dengan mereka daripada yang mereka duga. Dan menurutnya Sek Kim sudah mengetahuinya.
Sek Kim terdiam mengingat saat bertemu dengan Kim Shin dan memanggilnya “Yoo Jae Shin-ssi.” Lalu diam-diam terus mengamatinya dari kejauhan Kim Shin yang sedang duduk dengan Duk Hwa direstoran, seperti sangat penasaran.
“Aku tahu seorang pria yang tidak menua. Paspor yang kubuat... dan akomodasi yang kusiapkan untuk berada di Nice dan juga mengawasi Duk Hwa... Aku yakin Anda memberikanku tugas seperti itu untuk mengenali jati diriku.” Kata Sek Kim
“Apa kau pernah membicarakan pria itu dengan orang lain?” tanya Kakek Yun, Sek Kim mengatakan tidak pernah.
“Sebenarnya..., dialah orang yang memilihmu. Dia membuat anak tanpa impian maupun uang untuk ikut ujian masuk perguruan tinggi. Dia memberikan anak itu impian dan mendaftarkannya ke universitas. Menurutmu siapa penolong tak berwajah itu?” kata Kakek Yun. Sek Kim terdiam mendengarnya.
“Jadi Ingatlah. Nama asli orang itu..., Kim Shin, yang artinya "percaya".” Kata Kakek Yun, Sek Kim benar-benar tak percaya mendengarnya. 


Duk Hwa memastikan kalau Supermoon dan kabut Kim Shin yang melakukannya, lalu mengeluh kalau menyebabkan kekacauan hanya untuk mencari anak SMA dan takut NASA nanti akan menangkapnya. Kim Shin melihat Duk Hwa minum obat penghilang mabuk, lalu bertana apakah baru saja minum. Duk Hwa mengaku baru minum-minum kemarin dan mulai sadar.
“Oh ya, kalau aku menemukan dia, apa yang akan kaulakukan terhadapku, Paman? Apa kau mau memberikanku kartu kredit?” kata Duk Hwa memberika penawaran
“Aku saja tak bisa menemukannya, apalagi kau.” Ucap Kim Shin tak percaya, Duk Hwa yakin Eun Tak  pasti tidak jauh-jauh perginya karena tidak punya uang lalu merasa tahu cara menemukan dirinya.

Seekor kupu-kupu terbang diatas hamparan salju yang tebal, lalu hinggap diatap atap yang tutup salju.  Eun Tak sibuk melayangi semua pelanggan yang ingin menyewa peralatan ski mulai dari skateboard sepatu dsb.  Setelah lelah berkerja Eun Tak duduk melihat ponselnya dengan membaca berita [Kabut tebal menutupi seluruh gedung pencakar langit-Supermoon bersinar mengerikan]
Duk Hwa pun memberitahu Kim Shin kalau sudah menemukannya kalau Eun Tak ada di tempat ski. Eun Tak berjalan setelah berkerja teringat kembali saat bertanya pada Kim Shin “Bagaimana kalau...aku bilang  tidak ingin menjadi pengantinmu lagi, apa yang akan terjadi?”
Kim Shin mengatakan kalau tak bisa menarik pedang ini jadi Hanya Eun Tak yang bisa menariknya dan harus menarik pedang itu agar menjadi tampan. Eun Tak mengumpat kesal mengingat Kim Shin yang berbohong padanya. Kim Shin saat itu meminta tidak hari ini karena hari ini hanya akan tertawa saja bersamanya. Eun Tak pun mengusulkan salju pertama saja karena butuh sapu pada saat itu. Kim Shin pun setuju.
Bersambung Ke Part 2

FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09