Selasa, 25 Juli 2017

Sinopsis School 2017 Episode 3 Part 2

PS : All images credit and content copyright : KBS
Duk Soo memanggil Eun Ho yang minta pengurangan nilaimu dibatalkan . Eun Ho pikir Setidaknya harus berusaha. Sementara Sa Rang masih saja terkesima dengan Issue sebagai cowonya. Eun Ho dai Duk Soo mencabut rumput ditaman.
“Mau sampai kapan kita selesai mencabuti semuanya? Ini membuatku gila. Aku tidak sanggup lagi.” Keluh Duk Soo
“Kau tidak punya pilihan lain. Kenapa kau melakukan sesuatu yang akan membuatmu dilaporkan? Kau membuat suasana hatiku rusak. Semua ini salahku.” Ucap Eun Ho sambil memukul Duk Soo. 

Duk Soo mencoba menghindar dan Dae Hwi datang memberikan minuman pada keduanya,  Duk Soo mengucapkan terimakasih dan hampir mati karena dehidrasi. Duk Soo curiga karena Dae Hwi yang mendadak memberi minuman. Dae Hwi mengaku hanya merasa keduanya pasti akan kepanasan.
“Bukan karena.. kau merasa bersalah pada kami 'kan?” ucap Eun Ho curiga. Dae Hwi terlihat sedikit gugup.
“Hei.... Kami ini punya hubungan yang dekat.” Ucap Duk Soo memeluk Dae Hwi dengan bangga.
“Kalau ada cara untuk mengurangi pemotongan poin kalian.. aku akan memberitahu kalian.” Kata Dae Hwi. Duk Soo pun berterimakasih. 

Byung Joo membacakan puisi di depan kelas pada pelajar Guru Goo “Seperti kue beras yang lengket maka cinta juga akan membuat mereka lengket. Jangan merasa tertekan dan tetaplah bersama dalam keabadian. Selamanya.” Guru Goo akhirnya memanggil Eun Ho sebagai yang terakhir.
Oke. Yang terakhir. Ra Eun Ho.
“Judulnya. "Ini semua.. karena si X." Oleh Ra Eun Ho.” Kata Eun Ho. Semua pun diam mendengarnya.
"Ini semua karena si X. Pengurangan poin yang tidak seharusnya. Resiko akan dikeluarkan. Nilaiku jadi "busuk". Aku sudah menyerah pada  bangku kuliah. Ibuku sampai harus datang ke ruang guru. Harus berlutut karena seseorang. Orang yang menghancurkan.. masa SMA kita.. adalah seseorang bernama "X"... X... Saat aku memanggil namamu, kau pasti.. akan kuhabisi, mengerti? Kau akan mati, mengerti? Kau pasti akan mati.”
Semua yang mendengarnya bisa menahan tawa, saat itu juga Tae Woon dan Dae Hwi seperti mendalami puisi yang dibuat Eun Ho. 
Guru Goo pun selesai mengajar dan saat bel berbunyi Guru Shim masuk ruangan memberikan kunci pada Dae Hwi kalaulupa membawa kunci utamanya. Dae Hwi  mengaku juga harus menyerahkan semua formulir belajar mandiri dan Guru Shim pun pamit pergi. Eun Ho melirik dari tempat duduknya dengan wajah curiga.
“Ketua.. Kenapa dia memberikan kunci utamanya padamu?” tanya Eun Ho.
“Oh, aku harus ke beberapa ruangan sekaligus. Wakil Ketua Osis dan aku masing-masing pegang satu kunci.” Jelas Dae Hwi. 

Eun Ho curiga dengan Dae Hwi terus mengikutinya sampai ke belakang sekolah, sampai akhirnya ternyata melihat Dae Hwi yang bertemu dengan Nam Joo sembunyi-sembunyi. Dae Hwi bertanya alasan Nam Joo yang memanggilnya untuk datang. Eun Ho mencoba mengintip dari balik semak.
Nam Joo menarik Dae Hwi seperti ingin menciumnya, tiba-tiba Tae Woon sudah berdiri dibelakang Eun Ho bertanya apa yang dilakukaya. Eun Ho panik saat Tae Woon melotot yang dilakukan Nam Joo dan Dae Hwi. 


Dae Hwi menolak saat Nam Joo ingin menciumnya, terlihat binggung dengan sikap pacarnya. Nam Joo pun menanyakan alasan Dae Hwi ingin berpacaran denganya.  Dae Hwi terlihat binggung akhirnya mengaku kalau Nam Joo cantik.
“Kebanyakan orang akan menjawab, "Karena aku menyukaimu" saat mereka ditanya begitu.” Ucap Nam Joo terlihat kecewa.
“Apa aku membuatmu tersinggung? Aku menyukai segala yang ada pada dirimu. Kecantikanmu.. semuanya.” Jelas Dae Hwi. Nam Joo bertanya apakah memang Semua yang ada padanya. Dae Hwi pun memberikan kecupan di kening Nam Joo. 



Eun Ho jalan dengan Tae Woon dengan wajah gugup, lalu dengan terbata-bata bertanya apakah Tae Woon pernah berciuman. Tae Woon pikir Eun Ho gila menanyakan pertanyaan itu. Eun Ho mengartikan Tae Woon yang juga belum pernah.
“Tentu saja. Bukan cuma aku yang belum pernah ciuman.”kata Eun Hoo. Tae Wook pikir Eun Ho makin gila mengartikan hal itu.
“Tentu saja aku pernah... Bahkan anak SD pun pernah.” Kata Tae Woon. Eun Ho berbicara sendiri kalau  Anak-anak sekarang gesit juga rupanya.
“Kenapa? Apa kau.. mau berciuman dengan  si Jong "Burung" itu atau apa pun itu?” kata Tae Woon dengan nada tinggi.
“Kenapa memangnya? Itu 'kan bukan urusanmu. Bukan urusanmu, aku mau bergulat dengannya atau mau menciumnya. Jangan ikut campur.” Kata Eun Ho.
Tae Woon menegaskan Eun Hoo masih di bawah umur tahu. Byung Joo sambil meminum susu datang bertanya apa yang ingin dilakuan Eun Ho dengan seekor burung.Eun Ho yang gugup memilih untuk pergi.
“Apa Eun Ho memelihara burung? Wah, kau benar-benar pejuang lingkungan yang hebat. Haruskah aku memelihara burung juga?” ungkap Byung Joo polos. Tae Woon hanya bisa melarang Byung Joo melakukanya. 


Keluarga Ra bersiap-siap untuk berjualan ayam, Tuan  Ra merasa kalau Eun Ho lapar dan ingin melihatnya. Nyonya Kim dengan pisaunya memperingatkan Tuan Ra agar tak menganggunya Eun Ho karena mereka harus tenang dan memastikan agar tetap nyaman, serta Jangan sampai mereka  membuatnya stres.
“Benar. Ini demi masa depannya.” Ucap Tae Sik. Nyonya Kim memperingatakan kalau mereka tak boleh menganggunya.
Eun Ho berada di kamar, Tuan Ra masuk memberikan makanan meminta anaknya agar jangan menghiraukan dan terus mengambar. Lalu ibunya ikut memasuk membawa segelas teh hangat, agar Ini membantu berkonsentrasi.
Tae Sik ikut berdiri di depan pintu. Eun Ho kesal melihatnya. Tae Sik memperlihatkan selembar uang kalau itu sudah seperti nyawa bagikny. Eun Ho terlihat bahagia mengambilnya, Tae Sik menasehati Eun Ho agar meLakukan yang terbaik untuk kompetisinya. 

Sa Rang duduk di halte sambil mengoceh "Nama macam apa itu Cherry on Top?" den berpikir kalau itu Anggota cadangan dan mengumpat kalau Mereka semua pasti sudah ingin mati. Kyung Woo datang bertanya siapa yang dilihatnya. Sa Rang pun mendekat memperlihatkan ponselnya kalau itu adalah “Issue-ku tercinta.”
“Bukankah dia tampak bersinar? Bukankah dia keren?” kata Sa Rang, Kyung Woo langsung mengelengkan kepala. Sa Rang yang kesal memilih untuk menjauh.
“Tariannya tidak sesuai dengan Nada dan suaranya tidak cocok dengan lagunya.” Ucap Kyung Woo. Sa Rang makin kesal mendengarnya.
“Suaranya lebih bagus darimu, tahu.” Kata Sa Rang. Kyung Woo pun hanaya diam saja. 

Sa Rang memberikan pijatan pada Eun Ho kalau Ini akan membuat tubuh dan jiwanya rileks dengan bangga kalau dirinya adalah ahli kalau soal ujian. Eun Ho pun mengucapkan terimakasih dengan merasakan senang merasakan pijatan dari temanya.
“Kau ikut tes di mana lagi sekarang?” tanya Eun Ho. Sa Rang mengatakan  Perekrutan PNS di Chungnam dan Gyeongbu dan Dua malam. Eun Ho bertanya apakah itu maksudnya 3 hari.
“Aku sudah mulai bosan” keluh Eun Ho. Sa Rang memijat bagian kepala kaau ini akan menjernihkan Eun Ho karena ia hanya pergi 3 hari saja.
**
Guru Goo masuk ke dalam kelas, Sa Rang sedang memijat melonggo dan menutup wajah temannya karena terkesima.  Dengan wajah terpanan, Sa Rang mengatakan Mungkin  tidak akan ikut ujian kali ini dan tidak ingin meninggalkan sekolah ini bahkan sedetikpun.
“Kita kedatangan murid pindahan. Dia adalah seorang penyanyi terkenal. Jadi Siapa namamu?” ucap Guru Goo mencoba memperkenalkan murid baru.
“Issue.... Hai teman-teman... Aku baru pindah hari ini... Namaku Kang Hyun Il. Senang bertemu dengan kalian.” Kata Issue memperkenakan diri. Sa Rang melihat Idolnya tak bisa menutupi kebohongan kalau sangat menyukainya. 

Eun Ho mempersiapkan Buku sketsa, Tiket dan siap berangkat. Tae Woon sambil berjalan bertanya apakah Eun Hao akan pergi ke acara kompetisinya, lalu dengan nada mengejek agar memastikan tak ada yang terlupa dengan panggilan bodoh. Eun Ho kesal dipanggil bodoh.
“Apa Kau sebegitu sukanya mengusili orang?” keluh Eun Ho kesal, Tae Woon mengaku tak seperti itu.
“Aku hanya suka mengusili orang-orang bodoh saja.” Kata Tae Woon. Eun Ho pikir kalau dirinya lebih dewasa jadi harus sabar.
Eun Ho sudah siap pergi tapi melihat ban sepedanya yang kempes lagi, saat itu juga mengambil helm dan mendekati Tae Woon seperti ingin menumpang. Tae Woon menyuruh Eun Ho agar naik bus saja dan Jangan naik sepeda tua itu lagi.
“Aku tidak bisa naik bus... Bisa tidak aku...” ucap Eun Ho berusaah merayu.
“Aku sibuk sekali mulai detik ini. Aku harus belajar supaya bisa lebih dewasa.” Kata Tae Woon.
“Hei, jantanlah. Jangan jadi cowok pelit. Aku membuatmu kesal, benar'kan? Tentu... Kalau jadi kau, aku juga akan kesal.” Ucap Eun Ho terus mencoba agar Tae Woon mau mengantarnya.
“Jadi, dirimu yang sudah dewasa ini.. Tidak bisakah kau mengantarku? Aku tidak boleh sampai telat ke acara kompetisinya.” Kata Eun Ho
“Kau harus bilang "Kumohon beri aku tumpangan, Oppa” kata Tae Woon. Eun Ho pun tak bisa memanggil temanya sendiri “Oppa”
Tapi akhirnya Eun Ho pun diantar sampai ke tempat kompetisi dan langsung turun dari motor lalu berlari masuk. Tae Woon melihat Eun Ho masih mengunakan helm ingin memberitahu untuk melepaskanya. Eun Ho kembali berlari pada Tae Woon, dengan gaya genitnya mengucapkan terimakasih. Tae Woon hanya bisa tersenyum melihat tingkah Eun Ho yang lucu, lalu mengirimkan pesan “Lepaskan helmnya dan bersikaplah dewasa.” 



Bit Na dan teman lainya mendatangi guru Shim kalau pasti tahu siapa orangnya dan berjanjitidak akan mengatakannya pada siapapun. Guru Shim menegaskan kalau tidak bisa mengatakannya. Bit Nam pikir tidak adil kaena Yang menerima dan mempercayai semua laporan itu guru Shim.
“Apa Bapak sudah memeriksa..fotonya asli atau tidak? Itu bisa saja dipalsukan.”kata Bit Nam membela diri.
“Bapak ragu mereka akan memalsukannya. Jadi Mari kita saling percaya.” Kata Guru Shim.
“Sekolah jadi kacau begini karena Ra Eun Ho. Kudengar Eun Ho kemungkinan adalah kaki tangannya X?” ucap Guru Jang seperti di sengaja. Guru Shim langsung berteriak memperingatkan guru Jang kalau Itu tidak benar.
“Apa maksudmu tidak benar? Kudengar sistem pengurangan poin ini dilakukan untuk menangkap X.” Kata Guru Jang. Guru Jung langsung berpura-pura kalau ada lalat yang lewat
“Kenapa Eun Ho.. sampai melakukan itu? Kenapa dia menyebabkan semua kekacauan ini?”komentar guru lainya. Guru Jang juga berpikiran yang sama.
Bit Na langsung menyimpulkan kalau semua karena Eun Ho, Guru Shim menegaskan kalau itu bukan karena Ra On. 


Akhirnya Bit Na kembali ke kelas langsung melabrak Eun Ho kalau semua itu terjadi karenanya. Eun Ho dibuat binggung. Bit Na mengaku kalau mendengar sistem pelaporan dan pengurangan poin ini bisa ada karena Eun Ho, dikarenak sekolah ingin menangkap X. Eun Ho menjelaskan bukan seperti itu.
“Sistem poin ini ada.. karena dia. Kepala Sekolah dan dia berkonspirasi untuk membuat kita menangkap si X dengan tangan kita sendiri. Kau dengar juga, 'kan?” ucap Bit Na meminta saksi. Temanya pun mengaku kalau bisa mendengarnya.
“Kita saling serang karena kau. Hei! Apa yang akan kau lakukan pada nilai-nilai sekolahku? Eun Ho! Sebaiknya kau bereskan semua ini.”teriak semua anak yang menyudutkan Ra On. Tae Woon hanya menatap dengan senyuman mengejek.
“Sudah cukup,  Kita masih belum tahu kepastiannya. Jadi hentikan semua ini. Lagipula X 'kan belum tertangkap.” Ucap Dae Hwi membela.
“Itu sudah pasti, Pak Shim yang bilang. Apa yang akan kau lakukan sekarang?” kata Bit Na merasa Eun Ho pasti senang. 


Eun Ho duduk ditaman lalu 3 pria mendekatinya lalu bertanya siapa mereka. Salah satu pria memberitahu kalau ia adalah kaka seniornya dengan memperlihatkan name tagnya.  Ia memberitahu kalau Ujian masuk kuliah sudah di depan mata dan mereka harus dibuat stres karena adanya sistem pengurangan poin ini.
“Kami adalah anak-anak kelas 3 yang stres. Tapi kau sepertinya santai sekali.” Ucap Si senior. Eun Ho menegaskan kalau bukan ia. Tapi si senior tak percaya merasa Eun Ho yang berbohong lalu mengambil buku gambar Eun Ho.
Eun Ho meminta dikembalikan tapi karena pendek tak bisa mengambilnya, saat itu Tae Woon datang bisa mengambil buku gambar milik Eun Ho dengan mengeluh kalau Ini benar-benar menjengkelkan. Kakak kelasnya menyuruh Tae Woon untuk mengulanginya.
“Persis seperti apa yang kau dengar. Aku merasa jengkel padamu.”ucap Tae Woon. Si senior tak terima karena berani bicara pada yang lebih tua.
“Aku memang sudah kurang ajar dari sananya. Aku tidak punya etika. Aku memang berengsek. Jadi kalau kau masih mau hidup, enyahlah sana.” Kata Tae Woon.
Si senior mulai menyerang, tapi Tae Woon bisa membuat seniornya jatuh. Dengan wajah tak terima si senior menegaskan bahwa Ini namanya kekerasan di sekolah. Tae Woon pun tak takut agar melaporkan saja  dan pasti seniornya itu akan dikeluarkan karena sekolah ini miliknya.

Eun Ho pun hanya diam saja. Salah satunya tahu kalau Tae Woon adalah anak direktur sekolah. Salah satunya pun hanya bisa mengancam Eun Ho lalu bergegas pergi. Tae Woon pun mengembalikan buku gambar milik Eun Ho dan Eun Ho pun melangkah pergi. 
Eun Ho masuk kelas dengan wajah sedih melihat lokernya kalau sudah banyak air dan membuat semua bukunya basah. Bit Na yang melihatnya, tersenyum licik bisa membalas dendam. Akhirnya Eun Ho pergi ke ruangan Kepsek dengan wajah kesal.
“Bapak 'kan sudah janji akan menghapus semua pengurangan Poinku kalau aku berhasil menangkap X.” Ucap Eun Ho marah
“Eun Ho... Kau akhirnya sadar juga.” Ucap Kepsek Yang
“Hapus semua pengurangan poinku dan tulislah rekomendasi untukku. Katakan bahwa aku ini adalah orang yang berjasa menegakkan kedisiplinan di sekolah ini.” Ucap Eun Ho. Kepsek Yang menyetujuinya.
“Dan Bawa saja si kunyuk itu ke sini.” Kata Kepsek Yang. Eun Ho menegaskan akan membawanya Bagaimanapun caranya.


Tae Woon berdiri di pakiran melihat Eun Ho merasa kalau seharusnya berterima kasih tadi. Eun Ho yang sinis mengaaku tidak akan berterima kasih. Tae Woon dibuat kesal mendengarnya.
“Tunggu saja sampai aku berhasil menangkap.. X atau Y, atau siapalah itu. Maka Akan kubunuh dia.” Tegas Eun Ho penuh amarah lalu pergi dengan sepedanya. 

Tae Woon berdiri diatap gedung, teringat kembali kenangannya dengan jam tangan berwarna biru.
Flash Back
Tiga jam tangan dipakai bersama-sama, Tae Woon, Dae Hwi dan satu teman lainya, mengelukan nama Im Joong Gi. Mereka berpelukan kalau dengan berkata kalau  Ini bukan jam persahabatan atau semacamnya.
Lalu mereka naik motor bersama, terlihat ada sesuatu yang terbakar. Tae Woon menelp ayahnya kalau Ada sebuah kecelakaan dan Joong Gi, terlihat Tae Woon yang tergeletak berteriak histeris memanggil Joong Gi.
Tae Woon menangis mengingat temanya, Eun Ho pergi ke tengah jalan tepat di bawah tiang menaruh sebuah bunga dan berdoa. Dae Hwi menatap ponselnya membaca sebuah berita “Balapan liar di jalan telah menewaskan satu orang” sebuah jam tangan masih disimpan olehnya. Saat kejadian, Dae Hwi berteriak bertanya apa yang terjadi pada Tae Woon.
Tae Woon dibawa oleh beberapa orang, dan di bagian kalender kalau hari ini adalah peringatan 1 tahun kematian Joong Gi. Lilin dinyalankan didepan foto kebersaan ketiganya. 


Tae Woon datang dengan motornya, sang ayah sudah berdiri dipakiran.  Tuan Hyun mengomel kalau sudah memperingatkan jangan  mengendarai motor itu dan mengeluh anaknya yang memilih hobi yang membahayakan seperti itu. Tae Woon terlihat marah dengan perbuataan yang dilakukan ayahnya.
“Berhenti naik motor tidak akan bisa mengembalikan keadaan.” Kata Tae Woon
“Ayah tidak tertarik pada semua itu, jadi berhentilah bersikap angkuh. Ayah tidak akan berubah pikiran.” Tegas Tuan Hyun.
“Karena itulah aku berusaha menemukan sesuatu yang besar, karena Ayah tidak akan berubah karena sesuatu yang kecil.” Balas Tae Woon. 

Semua baru saja selesai belajar, Eun Ho  sibuk mengeringkan bukunya. Tae Woon masuk dan melihat tasnya yang jatuh dan sangat marah ketika meliat jam tanganya jatuh dan pecah. Ia langsung melempar kursi dan bertanya siapa yang melakukan itu padanya.
“Mengakulah selagi aku masih bicara baik-baik. Siapa yang merusak ini?” teriak Tae Woon langsung menendang meja dan menuduh siapa yang melakukanya. Semua terlihat ketakutan.
“Apa kelihatannya suasana hatiku sedang baik sekarang? Katakan padaku siapa yang melakukannya. Siapa yang merusaknya, brengsek!” teriak Tae Woon marah
“ Sudah cukup!” ucap Dae Hwi sebagai ketua kelas lalu melihat jam tangan milik Tae Woon, seperti berusaha menahan rasa sedihnya.
Akhirnya Dae Hwi menyuruh semua keluar Tapi Tae Woon mengancam kalau ada yang keluar maka mereka semua akan mati. Dae Hwi berteriak menyuruh semua keluar. Akhirnya mereka semua pun keluar dari ruangan. Eun Ho seperti tak ingin pergi, tapi Duk Soo menariknya agar meninggalkan keduanya. 

Tae Woon langsung mengancam Dae Hwi yang ingin mati, Dae Hwi mendekat meminta Tae Woon agar berhenti. Tae Woon menyuruh Dae Hwi diam dan  menegaskan Suasana hatiku sedang buruk sekarang.
“Kalau kau memakai.. sampah itu, apa semua dosamu akan hilang juga?” kata Dae Hwi
“Kau bilan ini Sampah? Kau sebut itu "sampah"?!!” ucap Tae Woon tak terima.
Eun Ho berjalan keluar tapi terlihat tak tenang, akhirnya  menyuruh Duk Soo pergi lebih dulu dan kembali berlari masuk ke dalam gedung. Tae Woon dan Dae Hwi pun mulai berkelahi dalam kelas, saling memukul dan menendang.

Dae Hwi dengan wajah babak belur, mengumpat Tae Woon yang pengecut. Tae Woon memperingatkan Dae Hwai agar diam sebelu menghancurkanya.  Dae Hwi pikir memang Itulah rencananya, karena ingin menghancurkan sampah sekolah ini.
“Pasti akan sangat menyenangkan.. kalau anak-anak tahu apa yang sudah kau lakukan.” Ucap Tae Woon.
“Diamlah kau, Pembunuh.” Balas Dae Hwi. Keduanya pun kembali berlari saling mendorong dan berguling. Eun Ho masuk kelas melongo tak percaya keduanya bisa berkelahi. Tae Woon dan Dae Hwi saling menatap seperti ingin saling membunuh.
Bersambung ke episode 3

 FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09 

Sinopsis School 2017 Episode 3 Part 1

PS : All images credit and content copyright : KBS
Si Pelaku misterius sedang berada dalam sebuah ruangan, seperti ruangan khusus. Ada satu dirigen “Sirup Jagung” dan itu digunakan saat menjebak guru Koo dikamar mandi membuatnya tak bisa bergerak karena lengket. Lalu Foto wajah Kepsek Yang digunakan untuk menempel pada Drone. Dan juga sebuah lem yang digunakan ketiga Eun Ho melihatnya dalam ruangan guru dan membuat ledakan dari api. 

Saat itu juga si pelaku dengan sengaja mencoret dan menempelkan stiker pada mobil guru. Petugas Han melihatnya dari balik pohon, dibelakang Guru Shim juga melihat si pelaku dan keduanya diam – diam berusaha untuk mendekat.
Petugas Han menyuruh Guru Shim mendekat lebih dulu,Guru Shim berjalan pelahan tapi kakinya malah menginjak botol kaleng kosong yang membuatnya berbunyi. Si Pelaku pun bisa mendengarnya dan langsung kabur. Petugas Han akhirnya mengejar lebih dulu si pelaku. 

Eun Ho dan Sa Rang berjalan pulang bersama. Sa Rang merasa kesal pada pihak sekolah karena Nama temanya sudah bersih dan sekarang pelaku aslinya muncul tapi malah masih mengurangi poinnya. Eun Ho mengetahui kalau itu karena masuk ruang guru tanpa izin dan mencoba untuk mencuri.
“Ini semua karena si kunyuk itu. Siapa sebenarnya dia?” ucap Sa Rang kesal
“Dia itu bajingan.” Ungkap Eun Ho juga tak kalah geram, 
“Eun Ho. Jangan terlalu mencemaskan hal itu.” Ucap Sa Rang memberikan sengaja dan  keduanya saling memberikan tanda cinta dengan tangan diatas kepala.

Tiba-tiba si pelaku berlari didepan Eun Ho yang sedang mengambil sepeda. Eun Ho dengan mulut melonggo langsung ikut mengejar bersama dengan Guru Shim dan juga Petugas Han sambil berteriak agar berhenti. Tiba-tiba Guru Jung datang dari arah samping dan bisa menangkap si pelaku dengan tanganya.
“Akhirnya tertangkap juga.” Ungkap Guru Jang. Petugas Han pun  datang dengan terpogoh-gopoh karena harus berlari dengan sepatuh heels. Eun Ho pun juga kelelahan. Semua ingin tahu siapa yang ada dibalik jaket, Guru Jang sudah siap menariknya. 

[Episode 3 - Curigai Temanmu]
Kepsek Yang tak percaya melihat ternyata Duk Soo ada dibalik sweater hitam.  Duk Soo mengaku kalau hany meniru-niru si pelaku karena menurutku itu keren. Petugas Han yakin Duk Soo mengatakan yang sebenarnya.
“Dia sedang bersama  dengan teman-temannya saat insiden itu terjadi.” Kata Petugas Han yang sudah melihat rekaman CCTV. Kepsek Yang benar-benar tak habis pikir dengan tingkah anak didiknya.  Saat itu datang Guru Goo dengan pakaian yang sama.
“Aku memergoki dia sedang mencoba melemparkan telur di kantin. Dia juga bilang hanya meniru-niru si pelaku. Aku yakin ini adalah kejahatan tiruan.” Ucap Guru Yang
“Kurangi.. poin mereka berdua. Aku tidak bisa percaya kalau perusuh-perusuh ini..  akan semakin merajalela di sekolah.” Ucap Kepsek Yang marah
“Itu karena kepala sekolahnya.. juga adalah seorang perusuh.” Komentar Guru Jang yang berani
“Walaupun kau benar.. tapi tidak usah dikatakan juga.” Ungkap Guru Park dan  Kepsek Yang lalu menerima telp dari Tuan Hyun.
Kepsek Yang langsung mengucapkan peminta maaf dan akan segera menemuinya. Guru Park ingin tahu apa yang dikatakan Tuan Hyuk apakah tidak akan melepaskan begitu saja,atau  meminta Kepsek Yang untuk berhenti kalau gagal menemukan pelakunya.Kepsek Yang terlihat uring-uringan menyuruh Guru Park diam saja,
“Kalian Menghilanglah dari pandanganku.. Pergi dan Keluarlah.” Ucap Kepsek Yang menyuruh semua keluar dari ruanganya. Guru Goo pun mengajak pelaku gadungan untuk ikut denganya.
“Kita harus menangkap pelakunya.” Kata Kepsek Yang pada Guru Park. 


Salah satu murid memanggil Eun Ho kalau memberitahu Kepala sekolah ingin bertemu dengannya. Eun Ho mengeluh menurutnya Kalau terlalu sering bertemu, bisa-bisa jadi teman akrabnya. Diruangan, Eun Ho kaget dianggap sebagai Kaki tangan sipelaku
“Aku hanya bicara tentang kemungkinannya. Kenapa dia menerbangkan drone dan membuat keributan? Aku yakin kau akan menanggung hukumannya sendiri kalau dia tidak melakukan sesuatu.” Ucap Kepsek Yang
“Tapi itu Benar bukan aku, Pak. “ ucap Eun Ho mencoba untuk menyakinkanya. Kepsek Yang merasa tak peduli menyuruh memutuskan kalau akan memberikan memberi satu kesempatan besar.


 Guru Yang duduk di ruangan dengan berbiara pada Kamera dan seluruh kelas menontonnya bersama-sama. “Kepada Siapapun. Aku akan menjaminnya tidak peduli apapun. Jangan cemaskan soal apapun.. dan fokuslah melaporkannya padaku. Mereka akan memberikan poin tambahan bagi siapa yang berani melaporkan pelanggaran di sekolah.”
Sa Rang yang mendengar merasa Ini tidak masuk akal. Eun Ho pun hanya bisa diam saja.
“Kalian akan diberi..5 poin tambahan untuk setiap  laporan yang kalian buat.Menyembunyikan tindakan buruk temanmu.. bukanlah sesuatu yang baik. Kalian harus segera melaporkannya. Itu adalah cara menunjukkan kesetiaan pada temanmu. Apa Kalian mengerti?” ucap Kepsek Yang seperti sedikit mengancam.
Semua langsung mengeluh kalau ini tidak masuk akal danTidak bisa dipercaya. Eun Ho hanya bisa melonggo menonton siaran kepala sekolah. Di ruangan, Kepsek mengebrak meja sampai semua orang kaget. Guru Shim dan anak yang lain pun sedikit ketakutan melihatnya.
“Poin kalian akan ditempel secara terbuka dua hari sekali dan Dua minggu dari sekarang,kami akan mengumumkan 10 anak yang memiliki poin terendah dari semua siswa. Kalau ada siswa yang menerima terlalu banyak pengurangan nilai, maka mereka akan diskorsing bahkan bisa dikeluarkan.. mengikuti aturan yang berlaku di sekolah ini.” Tegas Kepala Sekolah. 

Byung Goo mengeluh Kepala sekolah benar-benar tidak masuk akal. Nam Joo pikir Kepsek Yang ingin mereka saling serang kalau ingin selamat .Hak Jong pikir Nam Joo meminta pihak sekolah  melaporkan seseorang dan kalau tidak mau kehilangan poin.
“Bagaimana menurutmu, Ketua?”tanya Duk Soo pada Dae Hwi
“Ya sudah, kita jangan saling melaporkan.” Ucap murid lainya, Mereka semua pun membenarkan tindakan itu dan bisa saling mempercayai.
“Bagaimana bisa aku percaya itu?” komentar Hee Chan dengan sinis keluar dari kelas. Dae Hwi hanya bisa terdiam.
Sa Rang mengumpat kesal karena menurutnya Sekolah sudah gila karena seharusnya tak boleh memperlakukan mereka seperti ini. Eun Ho berbisi kalau Sepertinya ini semua karena salahnya. Sa Rang kaget mendengarnya.

Flash Back
Eun Ho tak percaya kalau Kepsek Yang ingin meminta agar dirinya menangkap pelakunya. Kepsek Yang tahu kalau Eun Ho tak ingin poinnya dikurangi jadi hanya meminta agar membawa pelakunya saja.
“Ini semua.. demi menangkap si X itu 'kan?”ucap Sa Rang dengan berbisik
“Dia bilang kalau kita saling memperhatikan satu sama lain, maka seseorang yang mencurigakan akan muncul.” Ucap Eun Ho
“Aku tidak menyangka dia benar-benar memikirkan hal semacam itu. Jadi dia mau kita menangkap X dengan tangan kita sendiri.” Kata Sa Rang. Eun Ho mengangguk setuju.
“Kalau poinku sampai dikurangi, maka aku tidak akan bisa kuliah. Ke kampus manapun tidak akan diterima.” Ucap Eun Ho frustasi. 


Mereka pergi ke tempat les mengambar, si pegawai dengan yakin kalau Eun Ho bisa masuk Hanguk. Eun Ho tak percaya mendengarnya begitu juga Sa Rang yang mengantar temanya. Lalu Sa Rang memberitahu Eun Ho  ada di level 6,  dan Peringkatnya 280.
“Kalau kau bisa masuk 3 besar dalam kontesnya, kemudian memasukkan nilai sekolah dan portofoliomu, maka kau masih punya kesempatan besar akan diterima.” Jelas si pegawai. Eun Ho hanya tertunduk memikirkan nilainya.
“Bagaimana kalau poin di sekolahnya tinggal sedikit? Poinnya lebih sedikit dari yang kau bayangkan.” Tanya Sa Rang. Si pegawai pikir Itu bisa jadi masalah.
“Aku akan menambah poinku lagi kalau begitu. Aku akan menambah poinku, dengan menangkap X dan memastikan diriku masuk Hanguk. Ayo kita tangkap dia.” Ungkap Eun Ho mengebrak meja dengan sangat yakin. 

Eun Ho berlari mengejar Kyung Woo dengan mengendong gitarnya, langsung bertanya apakah tak melihat si Pelaku karena melihat keduanya berada dalam atap. Kyung Woo bertanya apakah Eun Ho sangat ingin menangkapnya dan apa yang akan dilakukan kalau berhasil menangkapnya.
“Aku akan menyuruhnya menyerahkan diri.”ucap Eun Ho
“Tetap saja, yang menyelamatkan kau adalah  dia.” Kata Kyung Woo.Eun Ho pikir benar juga.
“Tapi aku sedang di ujung tanduk sekarang. Aku harus menangkapnya. Kalau tidak,  aku tidak akan bisa kuliah, dan hidupku akan berakhir.” Ucap Eun Ho
“Kenapa sih di negara ini, hidup kita harus berakhir kalau tidak berhasil masuk kuliah?” keluh Kyung Woo. Eun Ho juga tak mengerti lalu tiba-tiba berhenti melangkah.
Eun Ho pikir si pelaku sedang mempermainkan mempermaikanya Karena kelihatan gampangan, Kyung Woo pikir si pelaku pasti sangat ketakutan dan tidak punya kesempatan memikirkan hal lain karena keadaannya jadi seperti ini.
“Cara bicaramu.. seolah-olah kau ini pelakunya.” Komentar Eun Ho
“Aku tidak mau menuduh seseorang, tapi aku tidak bisa pura-pura  tidak tahu padahal aku tahu. Apa hal-hal semacam ini tidak diajarkan di sekolah?” kata Kyun Woo lalu beranjak pergi. 


Eun Ho masuk kelas mencari sesuatu di dalam tasnya, lalu membuka loker tapi dikejutkan dengan sesuatu yang ada didalamnya dan melihat sekeliling kelas tak ada yang mencurigkanya. Tiba –tiba Tae Woon datang datang pintu depan dan Dae Hwi dari pintu belakang memanggil Eun Ho. Eun Ho kaget melihat keduanya dengan sebuah note ditanganya  (Dae Hwi dan Tae Woon tidak ada di aula.)
“Kenapa kau kelihatan kaget?” ucap Tae Woon setelah saling menatap sinsi pada Dae Hwi. Eun Ho mengelengkan kepala dengan menyembunyikan note di belakang badanya dan ingin tahu kenapa Tae Woon menemuinya.
“Apa yang dikatakan oleh Pak Kepala Sekolah? Apa kau sudah membersihkan namamu?” tanya Tae Woon. Eun Ho mengaku memang bisa dibilang seperti itu.
“Tapi.. dia mau menangkap pelakunya, tidak peduli bagaimanapun caranya.” Ucap Eun Ho.
“Pelaku yang sebenarnya.. pasti sedang merasa cemas sekarang.” Kata Dae Hwi mengarakan pandangan sinis pada Tae Woon.
Tae Woon juga berpikir sepert itu, Eun Ho melihat keduanya seperti saling menuduh sebagai pelaku, Tae Woon pikir tak mungkn kalau si pelaku akan aman setelah apa yang di lakukan, lalu meminta Eun Ho memberitahu kalau memang membutuhkan bantuan.  Eun Ho menganguk setuju, sementara Dae Hwi mengejek Tae Woon yang ingin memberikan bantuan. 


Eun Ho menemui Guru Shim untuk menanyakan sesuatu, Guru Shim mengingat pada hari itu ia memberikan izin pada Dae Hwi untuk mengambil spanduk peringatan ulang tahun sekolah dan Tae Woon ada di ruang UKS karena katanya sedang tak enak badan, karena bertemu dengannya di sana.
“Apa dia baik-baik saja sekarang?” ucap Guru Shim seperti khawatir. Eun Ho pun mulai berpikir siapa lagi pelaku yang akan dicurigainya. 

Dae Hwi melihat Kyung Woo duduk dengan gitarnya lalu bertanya Bagaimana kabar lagu yang sedang ditulisnya, Kyung Woo langsung membahas tentang drone. Dae Hwi terlihat sedikit gugup mendengarnya.
“Si X pasti sengaja menerbangkannya untuk membersihkan nama Eun Ho, benark 'kan?” ucap Kyung Woo. Dae Hwi pikir seperti itu.
“Bagaimana dengan spanduknya?” tanya Kyung Woo. Dae Hwi terlihat sedikit gugup. Kyung Woo menjelaskan yang dimaksud adalah Spanduk untuk peringatan ulang tahun sekolah, Dae Hwi mengaku kalau Hasilnya bagus lalu berjalan pergi. Kyung Woo seperti mencurigai Dae Hwi. 

Eun Ho duduk sendirian melihat hasil gambar seperti seorang pahlawan dengan jubahnya yang sedang duduk. Kyung Woo tiba-tiba duduk disampingnya dengan bangga kalau Eun Ho itu tidak pernah lihat cowok ganteng sebelumnya karena terlihat gugup sekali.
“Padahal aku baru saja selesai makan.” Ucap Eun Ho seperti ingin muntah mendengarnya. Tae Woon malah makin mengejek Eun Ho yang makan banyak sekali tadi.
“Omong-omong.. Menurutmu siapa pelakunya? Si X, Itu julukan yang diberikan teman-teman padanya. Dia membuat tanda X hari itu. Benar-benar ide yang orisinal. Mungkin saja.. dia melakukan itu untuk menyelamatkanku, 'kan, Dengan menerbangkan drone itu?” ucap Eun Ho bangga dan seperti menuduk Tae Woon pelakunya.
“Kau mau tanya atau mau menuduhku. Pilih salah satunya.” Keluh Tae Woon. Eun Ho serba salah dan akhirnya Tae Woon berdiri dari tempat duduknya dengan wajah kesal.
“Apa dia sebegitu kurang kerjaannya, sampai menerbangkan drone demi kau? Si X mungkin saja tidak mau dikait-kaitkan.. dengan orang tolol sepertimu.” Ucap Tae Woon. Eun Ho ingin marah karena diejek tolot, tapi dengan Tae Woon melempar bola basket ke arahnya membuat nyalinya jadi ciut.
“Apa Orang seperti itu berjuang demi keadilan? Ahh... Tidak mungkin dan tak akan dipercaya” ucap Eun Ho melihat Tae Woon bermain basket dilapangan. 


Eun Ho menarik Sa Rang keluar dari kelas. Sa Rang berteriak melihat note yang diperlihatkan Eun Ho padanya lalu bertanya apakah memang itu sesuatu kebenaranya. Eun Ho juga ingin tahu itu benar atau tidak.
“Kalau begitu apa pelakunya adalah Tae Woon atau Dae Hwi?” ucap Sa Rang dengan sedikit berteriak. Eun Ho memohon pada Sa Rang agar jangan membuat suara gaduh.
“Tidak mungkin.. Kau 'kan sudah tahu mereka bagaimana.” Kata Sa Rang. Eun Ho juga tahu dengan hal itu. 

“Song Dae Hwi.. Dia adalah Juara kelas. Dia juga Ketua Osis. Calon mahasiswa Seoyul.” Ucap Sa Rang yang bisa membayangkan Dae Hwi yang dielu-elukan oleh semua murid karena kepintaranya.
Sementara Tae Woon sangat di istimewakan oleh sekoah karena ayahnya sebagai direktur dan pemilik sekolah. Sa Rang tahu Harta milik Geumdo yang sangat dibanggakan dan disayangi oleh Kepala Sekolah.
“Hyun Tae Woon.  Anak dari direktur Geumdo. Bahkan guru-gurupun membungkuk kalau bertemu dia, dianggap Direktur Geumdo masa depan.” Ucap Sa Rang
Sa Rang pikir Kenapa anak-anak seperti mereka harus membuat kekacauan di sekolah, Eun Ho berpikir Mungkin saja pengirimnya adalah pelaku yang sebenarnya dan untuk membuatnya curiga pada mereka. Tapi Sa Rang mengingat kalau Eun Ho mengatakan Tae Woon dan Dae Hwi memang tidak ada di aula.
“Itu.. Aku juga yakin sih ada banyak siswa yang tidak berada di aula waktu itu.” Ucap Eun Ho menatap kembali note yang bertuliskan (Dae Hwi dan Tae Woon tidak ada di dalam aula.)


Keluarga Ra makan malam bersama, Nyonya Kim bertanya pakah Kesimpulannya, tersangka pertama adalah anak dari direktur sekolah dan yang satunya adalah si juara kelas. Eun Ho membenarkan. Nyonya Kim pikir sekarang Pertanyaannya, siapa yang melakukannya.
Tuan Ra yang memasak ingin tahu komentar istrinya yang mencicipi masakanya, tapi seperti Nyonya Kim tak begitu peduli. Tae Sik berkomentar kalau  Yang kaya adalah pelakunya. Tuan Ra ingin tahu pendapat dari dua anaknya tentang masakanya.
“Fakta kalau dia sanggup menerbangkan sebuah drone adalah petunjuk kalau dia orang kaya. Karena aku sudah memberimu petunjuk, pinjamkan padaku 5 dolar.” Ucap Tae Shik mencari kesempatan. Ibunya langsung memarahi anaknya.
“Jalanmu untuk jadi manusia itu masih panjang.” Keluh Eun Ho. Tae Sik mencoba negosiasi untuk meminjam 3 dollar.
“Anak-anak yang berprestasi di sekolah biasanya merasa tertekan. Mungkin juga itu cara mereka menghilangkan stres.” Komentar Nyonya Kim.
“Aku memanggang ikannya dengan sangat baik hari ini..” ungkap Tuan Ra seperti ingin memberikan perhatian. 

Tiba-tiba Eun Ho membenarkan ucapan ibunya, kalau Dae Hwi memang belajar sangat keras. Tuan Ra tak bisa lagi menahan kesalnya menyuruh mereke berhenti mengambil semua makan diatas meja. Nyonya Kim binggung dengan sikap suaminya,
“Apa posisiku sebenarnya di keluarga ini? Apa aku koki? Apa susahnya.. mengatakan makanannya enak atau tidak?” keluh Tuan Ra seperti tak dihargai.
Eun Ho dan Tae Sik akhirnya berusaha memuji dengan gaya berlebihan kalau rasanya enak, begitu juga Nyonya Kim.  Tuan Ra masih kesal, mereka pun berusaha merayu agar Tuan Ra tak marah dengan terus memuji masakannya. 

Eun Ho berjalan menuruni tangga mengingat ucapan Tae Sik “Yang kaya pasti adalah pelakunya. Fakta kalau dia sanggup menerbangkan sebuah drone adalah bukti kalau dia punya banyak uang.” Lalu melihat Tae Woon yang masuk ke ruang guru.
Akhirnya Eun Ho ikut masuk ingin mengetahui Tae Woon, tapi tak melihat ada orang didalam ruangan kepala sekolah, padahal melihat Tae Woon masuk. Saat itu terdengar suara kepala Sekolah yang ingin mencari ponselnya.
Eun Ho mulai panik dan saat itu juga tanganya ditarik. Kepsek Yang masuk  melihat ponselnya diatas meja, lalu terlihat curiga dengan menatap kearah dinding depan. Tae Woon sedang menutup mulut Eun Ho bersembunyi dibalik bendera. Kepsek Yang menatap dalam dan akhirnya bisa bersin lalu keluar dari ruangan. 

Tae Woon melepaskan tangan dan keduanya seperti bisa bernafas lega Eun Ho pun menanyakan alasan Tae Woon datang. Tae Woon mengaku kalau ayahnya menyuruhku datang ke kantor kepala untuk mengambil sesuatu lalu menaruh sesuatu diatas meja, lalu bertanya balik pada Eun Ho. Eun Ho terlihat binggung menjelaskanya.
“Tapi.. kenapa kau sampai harus bersembunyi?” tanya Eun Ho heran.  Tae Woon mengaku kalau itu karena Eun Ho yang masuk.
“Kukira kau akan melakukan sesuatu yang buruk. Kalau kau membuat masalah di sekolah kita, maka kau akan dihukum.” Kata Tae Woon. Eun Ho menegaskan kalau bukan seperti itu, Tae Woon kembali mendekat yang membuat Eun Ho gugup lalu berjalan pergi. Eun Ho dengan kesal pun mengikutinya keluar. 

Saat keluar keduanya dikejutkan dengan Kepsek Yang dan  Guru Park ada di depan mereka. Kepsek Yang pun bertanya Apa yang mereka berdua lakukan di dalam. Tae Woon mengaku Ayahnya menyuruh untuka mengambil sesuatu. Kepsek Yang pun menanyakan pada Eun Ho, Eun Ho terlihat binggung.
“Dia hanya mengikutiku.” Kata Tae Woon. Eun Ho berusaha menjelaskan bukan seperti itu maksudnya.
“Padahal sudah kubilang, kau sebaiknya berhati-hati.. karena kau adalah salah satu tersangka kaki tangan.” Ucap Kepsek Yang.
“Dia sama sekali tidak mungkin jadi kaki tangan.”kata Tae Woon. Kedua guru binggung dan bertanya kenapa bukan Eun Ho.
“Dia sama sekali tidak pintar dan Juga tidak seterampil itu. Dia juga agak sedikit bodoh. Siapa yang mau menjadikan dia kaki tangan? Kecuali pelakunya memang ingin tertangkap.” Ucap Tae Woon. Eun Ho kesal dianggap bodoh oleh Tae Woon.
“Aku pasti akan mengatakan semua pada ayahku.” Kata Tae Woon lalu beranjak pergi. Eun Ho pun bergegas mengikutinya. Kepsek Yang bertanya-tanya Apa yang ingin dikatakan semua pada ayah Tae Woon. 



Eun Ho masih tak terima dianggap Agak bodoh dan mengancam ingin membunuhnya. Tae Woon pikir Eun Ho itu tidak bisa mencerna semua ini, Eun Ho dibuat binggung dengan perkataan Tae Woon.
“Aku menarik kembali perkataanku.. bahwa .. Kau ini SANGAT bodoh.” Ucap Tae Woon. Eun Ho makin kesal Tae Woon terus mengejeknya.
“Sepertinya barusan.. aku menyelamatkanmu dari sebuah keadaan yang membahayakan.” Kata Tae Woon. Eun Ho pikir bukan seperti itu maksudnya.
“Coba Dengar... Kau masuk ke dalam kantor kepala sekolah. Aku melihatmu masuk. Haruskah kugunakan ini untuk mendapatkan poin tambahan?” ucap Tae Woon.
Eun Ho pikir Tae Woon sedang mengancamnya, Tae Woon mengaku lebih suka mintai pertolongan daripada dianggap mengancam, Eun Ho hanya bisa menghela nafas panjang melihat Tae Woon yang berjalan pergi. 

Kepsek Yang bertanya  apa itu kedengaran seperti ancaman, tapi menurutnya kalau tu Semacam peringatan lalu mengulang perkataan Ta Woon "Aku pasti akan mengatakan semuanya pada ayahku." Dan ingin tahu pendapat Guru Yang mengatakan hal itu.
“Dia bilang "Pasti akan." Itu adalah kalimat yang sulit. Mungkin maksudnya kalau kau gagal menangkap pelakunya, maka dia akan melaporkanmu pada ayahnya?” ucap Guru Park. Kepsek Yang tak yakin.
“Kau 'kan Wakil Kepala Sekolah. Berpikirlah seperti orang yang berkelas.” Ucap Kepsek Yang
“Padahal di sini masih ada satu orang lagi yang tidak berkelas. Pokoknya, kalau kau tidak punya rencana, maka kau mungkin akan habis dikunyah-kunyah oleh direktur.” Kata Guru Park
“Coba Lihat... Karena kita sudah memasang umpan, maka aku berharap pelaku akan menggigitnya.” Ucap Kepsek Yang kalau akan memulainya. Guru Park pikir Kali ini umpannya luar biasa bagus.


Guru Shim duduk diruangan terlihat kesal sendiri karena harus membuat laporan dari berkas “Total Pengurangan Poin Siswa kelas 11-1” lalu akhirnya seperti duduk dalam ruangan rapat berbiacara kalau Sistem pengurangan poin ini membuat anak-ana saling curiga satu sama lain jadi harus dihapuskan serta tidak pantas.
“Apanya yang tidak pantas? Ini benar-benar.. metode bertahan yang sangat dibutuhkan di saat-saat seperti ini. Kalau aku tidak menembak duluan, seseorang akan menembakku.” Ucap Guru Shim duduk dengan nada bicara seperti Kepala Sekolah.
“Kau benar. Mereka sedang saling tembak, Seperti orang gila. Mereka akan menembak teman-temannya, guru-gurunya, semuanya.” Ungkap Guru Shim menirukan gaya bicara Guru Park
“Anak-anak zaman sekarang sangat menjengkelkan. Aku bukan ibu mereka.” Keluh Guru Shim dengan gaya Guru Jang yang suka bersolek.
“Begitu kau keluar dari sekolah, yang akan kau hadapi adalah medan perang Kalau sekolah tidak melatih mereka dengan keras.. Dengan keras.. dan kejam....” Komentar Guru Shim Meniru Malaikat Maut yaitu guru Goo yang suka membawa kayu untuk memukul.
Saat itu terdengar bunyi suara pukulan kayu, Guru Shim benar-benar kaget karena berpikir kalau diruangan hanya sendirian. Guru Goo berdiri dari balik kursinya sambil berkata “Kalau kita tidak melatih mereka dengan kejam, anak-anak akan mudah kalah.” Guru Shim hanya bisa berteriak frustasi setelah Guru Goo keluar dari ruangan. 


Sebuah pengumuman hasil pengurangan Poin Sementara ditempat dengan slogan “ Tidak ada diskriminasi, Terpercaya”. Semua berkumpul, Sa Rang dengan bangga kalau tak ada yang dikurangi. Eun Ho binggung melihat poinya, Byung Joo benar-benar merasa kalau semua hanya omong kosong.
“Hei. Bukankah kita janji tidak saling melaporkan?” ucap Byung Joo. Semua murid juga binggung dan bertanya-tanya siapa yang melakukannya?
“Lihat itu... Pengurangan 39 poin?!! Baiklah. Jadi ini yang mereka inginkan.” Kata Eun Ho memikirkan siapa yang melaporkanya. Sa Ran pikir itu yang membuatnya dipanggil ke ruangan kepala sekolah.
“Coba lihat, Apa Dae Hwi dapat pengurangan 5?” kata Duk Soo heran begitu juga yang lainya. Mereka pun mulai bertanya-tanya siapa yang melaporkan Dae Hwi. Hee Chan berdiri dibelakangnya tersenyum dingin. 

Flash Back
Hee Chan masuk mobil bertemu dengan ibunya kembali. Ibu Hee Chan langsung  memuji anaknya. Kalau Ini adalah kesempatan dan ingin tahu kelemahan Dae Hwi jadi bisa dilaporkan untuk mengurangi poin.
“Hanya dia yang peringkatnya ada di atasmu. Jadi biarkan poinnya berkurang..nanti nilainya akan turun. Kau akan lebih difavoritkan guru  nantinya.” Ucap Ibu Hee Chan tak ingin anaknya berada diperingkat dua.
Bit Na melihat nilainya yang berkurang 13 poin dan langsung berteriak marah siapa yang melakukanya,  Tapi saat itu banyak orang yang mengambl gambar untuk melakukan sikap Bit Na agar mengurangi poin. Bit Na pun menghentikan sikap sombongnya. 

Jung Il langsung menemui Guru Shim merasa tidak paham kenapa poinku bisa berkurang. Guru Shim memperlihatkan Jung Il yang merokok pada foto diponselnya. Jung Il pun  tak bisa berbuat apa-apa karena memang itu buktinya. 

Guru Shim pikir kalau mereka membuat anak-anak bertengkar dan saling curiga satu sama lain menurutnya bagi sebuah sekolah kalau tidak pantas dilakukan. Guru Goo bertanya Bagaimana kalau mereka berada di luar sekolah.
“Begitu mereka meninggalkan sekolah, dunia akan memberikan mereka sesuatu yang lebih kejam dari ini. Kita hanya sedang mengajari mereka bahwa kau tidak seharusnya mempercayai semua orang.” Ucap Guru Goo. Guru Shim pikir tetap saja.
“Kenapa? Aku malah lebih suka  tidak merepotkan diri. Itu adalah cara terbaik untuk mengontrol anak-anak tanpa mengeluarkan banyak tenaga.” Komentar Guru Jang.
“Seorang guru.. tentu harus bersikap layaknya guru agar anak-anak bisa patuh.” Ejek Guru Jung memakai jaketnya untuk mengajar.
“Kau mengatakan itu agar aku bisa dengar, ya?” keluh Guru Jang kesal, Guru Jung seperti memang lebih suka bicara didepan orang.
“Tentu saja, aku mengatakannya  pada diriku sendiri.” Ucap Guru Jung lalu keluar dari ruangan. Guru Jang terlihat hanya bisa menahan amarahnya.  


Jung Il masuk kelas langsun menuduh Hak Joong yang senang sekarang, dapat poin tambahan karena melaporkan teman-temannya. Hak Joong binggung dan mengaku bukan ia yang melakukannya. Jung Il tahu kalau hanya Hak Joong adalah satu-satunya yang tahu tentang merokok. Hak Joong menyakinan kalau bukan ia pelakunya.
“Coba kulihat ponselmu.” Ucap Jung Il. Hak Joong pun tak ingin temanya melihat ponselnya tanpa alasan. Keduanya pun salin mendorong, Dae Hwi pun turun tangan merelai keduanya.
Saat itu juga Bit Na sibuk mengambil gambar, Keduanya langsung marah. Bit Na mengaku kalau sedang selfie.  Keduanya pun mengejar Bit an ingin melihat apakah foto mereka diambil agar mengurangi poin. 

Sa Rang merasa Kepala sekolah pasti akan senang menyaksikan ini karena Sekolah ini semakin gila saja. Lalu melihat gambar apa yang dibuat Eun Ho sekarang. Eun Ho memperlihatkan pada Sa Rang.
Cerita yang dibuat oleh Eun Ho
Semua anak berkumpul didepan garis polisi dengan bertanya-tanya Apa ada yang meninggal. Mereka berkata kalau seseorang jatuh. Guru Shim menjadi seorang polisi mengetahui kalau seseorang terjatuh. Guru Jung keluar sebagai pendeta seperti ketakutan.
“Ini gila.. Dia jadi gila.. karena mendapatkan terlalu banyak pengurangan poin Sekolah ini sudah sinting. Ini jelas karena ulah.. si setan X. Kita harus segera melarikan diri!” ungkap Guru Jung ketakutan dan kabur. Guru Shim benar-benar kebingungan lalu merasakan ada seseorang yang melempar batu padanya. Eun Ho melempar batu dengan tatapan kosong dan Guru Shim pun mendekat.
“Jangan mau dibodohi. Ini semua adalah ulah kepala sekolah iblis dan akibat kelicikannya.” Ucap Eun Ho.
Saat itu seorang keluar dengan Tae Woon membuka penutup kepala dengan bangga kalau dirinya adalah X. Eun Ho pun ketakutan berjalan mundur dan melihat Dae Hwi dibelakang dengan jubah yang sama. Dae Hwi bertanya Apa yang paling penting sekarang menurutnya Yang paling penting adalah.. poin.

“Jadi apa kalian berdua bekerja sama? Kalian komplotan 'kan?” kata Eun Ho. Dan keduanya mendekat membuat Guru Shim dan Eun Ho ketakutan saat itu juga Sa Rang keluar dari balik jendela mengambil gambar dari ponselnya.
“Poinmu dikurangi 10 karena tidak pakai seragam. Umpannya ternyata sudah kalian makan. Kalian bahkan tidak tahu mana hal yang lebih penting. Apa yang kalian lakukan?” ucap Sa Rang tertawa seperti nenek sihir. 

Sa Rang meminta agar Issue sebagai pemeran utamanya karena benar-benar akan terkenal. Eun Ho melihat nama idol, Cherry on Top dengan nada mengejek melihat majalah yang dipeluk temanya. Sa Rang merasa Issue sangat seksi lalu memeluknya. Eun Ho sibuk menatap gambar dua orang yang dicurigainya.
Bersambung ke part 2

FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09