Jumat, 26 Mei 2017

Sinopsis Suspicious Partner Episode 12


 PS : All images credit and content copyright : SBS

Keduanya berjalan keluar dari kantor kejaksaan, Ji Wook mengatakan Tak ada bukti nyata yang mendukung alibinya, Bahkan Tak ada apapun di jalan yang dilewatinya dan tidak ada foto juga selain itu Jin Woo membayar cash untuk minumannya.
“Dia bilang  jarang memakai kartu kredit.” Kata Bong Hee membela. Ji Wook heran Bong Hee yang sungguh percaya dengannya.
“Aku ada di situasi itu juga. Tak ada bukti fisik yang mendukung alibiku.” Komentar Bong Hee.
“Kau terlalu berempati kepadanya.” Ejek Ji Wook, Bong Hee menegaskan kalau mereka itu pengacara.
“Kita harus sepihak dengan klien kita.” Tegas Bong Hee. Ji Wook mengeluh kalau itulah benci jadi pengacara.
“Lalu kenapa kau jadi pengacara?” tanya Bong Hee.
Ji Wook memberitahu kalau ia jadi pengacara karena Bong Hee, lalu akhirnya terdiam karena tak ingin menyalahanya. Ia pun meminta agar  Jangan berempati dengan semua pembunuh yang ada di dunia. Bong Hee menegaskan dengan  segala hormat, tidak berempati dengan pembunuh.
“Aku hanya berempati dengan orang yang salah dituduh sebagi pembunuh.
 tegas Bong Hee.
“Maksudku, tidak ada bukti yang membuktikan kalau dia tidak membunuh.” Balas Ji Wook
“Aku tidak bermaksud kalau aku secara buta mempercayainya. Kita harus mengecek seluruh fakta dan mempercayainya jika dia kelihatan tidak bersalah. Maksudku, kita harus melakukan yang terbaik.” Jelas Bong Hee.
Ji Wook dengan nada kesal sudah tahu pasti mempercayainya. Bong He menegaskan kembali kalau mereka itu pengacaranya. Ji Wook kembali mengatakan karena itulah sangat benci jadi pengacara dan Bong Hee yang membuatnya terus mengulang perkataanya. Bong Hee kesal merasa tak terima kalau semua itu karena Ji Wook. Mereka pun saling menyalahkan. 


Yoo Jung duduk di depan tangga dengan wajah lesu, saat itu Eun Hyuk baru saja pulang berkejar melihat Yoo Jung seperti menunggunya. Yoo Jung langsung berdi dengan kesal karena Eun Hyuk yang tak mau menjawab teleponnya.
“Kenapa kau dan Ji Wook memperlakukanku seperti ini? Apa Kalian berdua mau mengeroyokku atau bagaimana? Kenapa aku jadi kekanakan?” keluh Yoo Jung kesal pada keduanya.
“Aku bahkan tidak kenal kau lagi. Semuanya jadi kacau karena kalian berdua. Aku tahu kalian benci aku. Aku sadar kalau yang kulakukan itu jahat. Kalian berdua jahat juga. Tapi apa salahnya dengan itu?” kata Yoo Jung
Eun Hyuk hanya diam saja.  Yoo Jung pun membahas tentang Ji Wook yang sudah punya pacar sekarang, lalu mengomel pada Eun Hyuk yan  membiarkannya pacaran dengan pelaku pembunuhan. Eun Hyuk tetap diam. Yoo Jung pun merasa jengkel sendiri karena harus bicara itu.
Akhirny Eun Hyuk menyapa Yoo Jung yang lama tak bertemu lalu meminta agar segera pergi. Yoo Jung binggung, Eun Hyuk pun meminta agar mereka cukup bertemu seperti ini saja lalu masuk ke apartementnya. 


Eun Hyuk masuk ke dalam kamar terlihat gelisah setelah bertemu langsung dengan Yoo Jung, seperti ada rasa penyesalan karena Yoo Jung hubungan persahabatan dengan Ji Wook juga rusak.
Yoo Jung pun juga terlihat frustasi dengan keadaanya yang belum berubah memilih untuk minum wine agar bisa tidur. 

Bong Hee berjalan sendirian dengan ponselnya seperti mencari alamat sesuatu sampai akhirnya ia menemukan tempat yang dituju. Jaksa Jang turun dari mobilnya, sopirnya memberitahu sebuah toko kue  dan meminta agar tunggu di mobil saja.
Jaksa Jang menolak karena ingin membeli sendiri saja, sampai di sebuah toko melihat beberapa kue alam etalase sampai akhirnya menatap sebuah kue.
“Hari ini adalah ulang tahun anakku. Cheesecake adalah kesukaannya.” Ucap Jaksa Jang sedih. Lalu pegawai pun akan membungkuskan kue cheese cake.
Saat menunggu Jaksa Jang melihat Bong Hee yang berjalan dengan tersenyum didepan toko. Akhirnya pun berjalan keluar toko. 

Bong Heee baru saja berjalan dengan senyuman bahagia ditaman, lalu dikagetakan dengan melihat Tuan Jang yang berdiri didepanya dengan tatapan dingin.
“Beraninya kau tersenyum? Apa Kau tahu hari apa ini? Bagaimana bisa kau tertawa dan senyum seperti itu? Jika dia masih hidup.., maka dia akan menyalakan lilinnya sekarang. Aku akan memegang tangan puteraku yang masih hidup.” Ucap Tuan Jang marah
“Hatiku hancur berkeping-keping...karena membeli kue, bahkan tidak bisa ia makan. Lalu Beraninya kau!! Kau tersenyum semaumu.” Kata Tuan Jang marah. Bong Hee ingin menjelaskan tapi Jaksa Jang lebih dulu mencekik lehernya.
“Jika aku preman yang tak penting,  ini pasti akan jadi lebih baik.Jika aku ini orang yang buas yang tidak kenal hukum dan cita-cita... Mata dibalas mata. Gigi dibalas gigi. Aku harus memotongmu menjadi keping-keping segera.” Ucap Jaksa Jang terus mencekik Bong Hee sampai kehabisan nafas.
Akhirnya Jaksa Jang pun melepaskan dan pergi. Bong Hee memegang lehernya menegaskan kalau sungguh tidak melakukannya. Ia merasa tak aday yang bisa dilakukan jika Jaksa Jang  tidak percaya kepadanya.

“Aku... tidak melakukannya. Kau bisa tuduh aku semaunya.., tapi aku tidak dapat mengakui hal yang tidak aku perbuat.” Tegas Bong Hee.
“Buktikan kalau begitu! Jika bukan kau pelakunya, maka bawa pelaku aslinya. Sampai saat itu tiba, kau masih tetap pelakunya. Dan Bagiku, kau tidak lebih dari pelaku.” Tegas Jaksa Jang dan berjalan pergi. Bong Hee hanya bisa menangis dengan memegang lehernya yang sakit. 



Bong Hee kembali ke rumah dengan leher di tutup syal lalu dengan senyuman memberitahu kalau itu alibi dari Jung Hyun Soo. Ji Wook pikir Bong Hee itu  bisa menyelamatkannya, tapi tidak yakin. Ji Wook memberitahu kalau  Pemilik bar tidak tidu tapi aku menemukannya.
Flash Back
Bong Hee datang ke restoran tempat Hyun Soo minum sendirian, lalu menanyakan pada pemilik restoran, tapi seperti tak ingat. Bong Hee menemukan sebuah foto yang tertempel di dinding restoran sebagai kenangan tertulis [20 Mei : Ulang tahunmu]
“Ini foto ulang tahun saat kejadian terjadi. Ini cocok dengan yang dikatakan Jung Hyun Soo, kan?” kata Bong Hee yakin
“Bagaimanapun, itu takkan dianggap sebagai bukti dan dapat membuktikan alibinya.” Jelas Ji Wook
“Tapi Ini memberikan pijakan kalau kita dapat mempercayainya. Skorku satu hari ini.” Ucap Bong Hee bangga 
Bong Hee kembali ke kamar melihat lehernya dan merasa bersyukur karena tak memar. Ji Wook tiba-tiba masuk dan melihat leher Bong Hee menyakinkan kalau baik-baik saja. Bong Hee binggung karena sudah berusaha di tutupinya tapi ketahuan juga.
“Apa yang terjadi?” tanya Ji Wook khawatir ingin melihatnya. Bong Hee menutupinya mengaku kalau bukan apa-apa.
“Kau bisa katakan kepadaku.” Ucap Ji Wook. Bong Hee merasa  tidak ingin bicarakan tentang ini.
Ji Wook pun bisa mengerti dengan menyakinkan kalau keadaaan baik, Bong Hee pun mengangguk kalau baik-baik saja. Ji Wook pun keluar ruangan seperti tak peduli. 



Rapat di kantor Jin Wook
Tuan Byun mengatakan akan membuat salinan file dari bukti termasuk jejak kaki. Tuan Bang pun mengatakan akan mengambil DNA di kancing. Tuan Byun membahas saksinya adalah warga yang sudah tua lalu merasa tak yakin kalau punya penglihatan bagus,
“Nona Kurang Bukti, berikan aku secangkir air.” Ucap Tuan Byun, Bong Hee tak mengubrisnya.
“Kalau begitu, kita akan menyingkirkan saksi. Aku harus mencari tahu lebih  soal penyerangnya.” Kata Ji Wook
“Karena aku punya kasus lain, maka aku tidak bisa bantu banyak.., tapi aku akan coba bantu kapanpun aku bisa.” Ucap Eun Hyuk
Ji Wook meminta Bong Hee untuk mengambikan pulpen. Bong Hee langsung memberikanya dengan sigap. Tuan Byun kesal karena Bong Hee yang   tidak bisa dengar hanya saat dirinya yang bicara. Tuan Bang memberitahu kalau Bong Hee pendengar yang selektif. Tuan Byun mengumpat kesal akan mengambil sendiri air minum. 


Bong Hee berjalan di depan rumah dengan mengunakan topi dikepalanya. Ji Wook masih merasa tak yakin kalau saksi bisa mengindentifikasi pelaku dari jarak ini. Eun Hyuk pikir itu mungkin jika mengenal pelaku. Ji Wook pun meminta Bong Hee akan melakukan kembali jalan dengan dengan topi yang menutupi wajahnya.
“Saksi mata mengklaim kalau dia tahu restoran..,lingkungan, dan warga di lingkungan itu. Tapi Kenapa dia melihat-lihat ke rumah orang lain?” ucap Ji Wook heran
“Itu karena dia kesepian. Saat kita kesepian, kita melihat orang lain. Kita melihat agar tahu apa yang orang lain lakukan atau apakah orang lain tidak kesepian.” Jelas Eun Hyuk
Ji Wook hanya bisa diam mendengarnya tanpa memperhatikan Bong Hee. Bong Hee melepaskan topinya bertanya apakah mereka bisa melihatnya atau harus melaukan sekali lagi. Akhirnya dengan Tuan Bang melihat foto-foto dari forensik
“Ada sesuatu yang aneh.., tapi aku tidak bisa menunjuknya” ucap Ji Wook
“Kita menelusuri barang curian. Sesuatu mungkin akan muncul.” Kata Tuan Bang.
“Ini pembunuhan oleh perampok. Kenapa pelaku menusuknya berkali-kali?” ucap Ji Wook menunjuk foto korban. Bong Hee pun membenarkan.
“Senjata yang digunakan untuk membunuh belum ditemukan, kan?” kata Ji Wook. Tuan Byun mengatakan belum. 


Bong Hee kembali datang mengunjungi Hyun Soo. Hyun Soo merasa Bong Hee  tidak perlu mengunjunginya setiap waktu, membuatnya bersyukur tapi juga merasa bersalah. Bong Hee meminta agar Hyun Soo tak mengatakan hal itu.
Ji Wook menelp, keduanya pergi ke sebuah tempat. Seorang pria mengaku tidak tahu apapun lalu beranjak masuk. Keduanya pergi dengan wajah lesu karena tidak bisa menemukan sesuatu yang berguna, Ji Wook melihat seorang pegawai yang sedang membuang sampah dan ingin bertanya, tapi si wanita langsung pergi mengaku tak tahu apapun.
“Oh, ternyata.... Tampangmu tidak berhasil.” Ejek Bong Hee. Ji Wook menegaskan kalau tidak memakai tampangnya. Keduanya pun berjalan.
“Omong-omong, dimana kita memarkirkan mobilnya?” kata Ji Wook lupa. Bong Hee mengingat mereka memarkir di sebuah jalan. Ji Wook binggung karena mereka itu berada di jalan yang sama juga.
“Kita akan segera menemukannya jika muter-muter di jalan ini” kata Bong Hee berjalan lebih dulu. Ji Wook mengeluh Bong Hee itu tanpa harapan.
Keduanya muter-muter mencari mobil mereka yang diparkir. Ji Wook merasa merkea  tadi hanya muter-muter saja. Bong Hee melihat kalau tiap jalan itu kelihatan sama. Ji Wook pun mengeluh dengan restoran yang membuat restoran di jalan yang kecil bahkan sama.
“Lagi trend buka restoran di tempat seperti ini.” Kata Bong Hee. Tiba-tiba Hujan turun sangat deras. Ji Wook langsung menarik tangan Bong Hee untuk cepet berteduh.
Mereka pun bertenduh di bawah jalan terowongan,  Bong Hee kesal dengan hujan tiba-tiba pahdalan sudah mencuci rambutnya tadi pagi. Ji Wook mengejek kalau Orang normal mencuci rambutnya di pagi hari menurutnya Tak ada yang istimewa. Bong Hee seperti baru mengetahuinya.
Keduanya pun main air hujan dengan saling mencipratkan ke wajah. Bong Hee pun sengaja membiarkan tanganya terkena tetasan air hujan. Ji Wook menatap Bong Hee seperti merasakan sesuatu di hatinya, akhirnya ia buru-buru menyadarkan diri mengajak segera pergi saja. Bong Hee pikir  Masih sedikit hujan. Ji Wook yang tak ingin hatinya berubah memilih untuk segera pergi karena harus persiapan untuk sidang.

Ji Hae membawa sebuah koper masuk ruangan melihat Yoo Jung yang tertidur di kursi dengan wajah pucat lalu membangunkanya. Yoo Jung pun terbangun dengan pucat pasih. Ji Hae memberitahu kalau  harus pergi ke sidang. Yoo Jung pun akan  ikut pergi juga.
“Aku bisa pergi sendiri. Aku jaksa yang lumayan dan bisa bicara dengan lancar. Kau harus tetap di sini dan beristirahat.” Kata Ji Hae merasa khawatir.
“Tidak, tak apa. Aku ingin pergi juga.” Ucap Yoo Jung seperti memaksakan diri. 

Ji Wook dan Bong Hee akan masuk ke pengadilan tak sengaja bertemu dengan jaksa Jang didepan pintu. Jaksa Jang menatap sinis. Bong Hee memegang lehernya seperti masih mengingat kejadian sebelumnya. Ji Wook bisa mengetahui kalau Jaksa Jang yang mencekik leher Bong Hee, lalu dengan memegang tangan Bong Hee mengajak agar segera masuk. 

Ruang pengadilan pun berubah tanda kalau Sidang sedang berlangsung. Bong Hee dan Ji Wook sebagai Pengacara. Sementara Ji Hae dan Yoo Jung duduk sebagia jaksa. Yoo Jung menatap Bong Hee dan Ji Wook seperti masih tak rela. Akhirnya sidang pun dimulai dengan jaksa memberikan pernyataan.
“Pada pukul 19:30 tanggal 20 Mei 2017, terdakwa, Jung Hyun Soo, secara rahasia masuk ke rumah korban untuk merampok. Setelah membunuh korban dengan senjata tajam, dia mengambil barang kepunyaan korban. Karenanya, saya menuduh terdakwa, Jung Hyun Soo, atas pembunuhan dan pencurian... berdasar Pasal 338 KUU Kriminal.” Ucap Ji Hae
“Pengacara, kalian mengakui tuduhan tersebut?”tanya Hakim. Yoo Jung terus menatap keduanya tanpa berkedip.
“Terdakwa tidak mengakui tuduhan tersebut. Terdakwa tidak punya alasan maupun motif untuk membunuh korban.” Kata Ji Wook
“Pembunuhan oleh perampok tidak membutuhkan alasan maupun motif yang spesifik.” Ucap Ji Hae. Ji Wook membenarkan.
“Bagaimanapun, pasti ada alasannya, yaitu Alasan utama terdakwa melakukan perampokan.” Jelas Ji Wook
“Kami menemukan di TKP ada barang dari korban yang hilang.” Kata Ji Hae ingin menuntut
“Anda benar. Ada sesuatu yang hilang. Namun... tak ada bukti juga bahwa barang tersebut diambil oleh terdakwa. KeJaksan belum gagal melacak lokasi dengan barang hilang tersebut. Barang yang hilang tersebut tidak ditemukan baik di rumah maupun tempat kerja pelaku. Dan Juga, saat kami mengecek akun bank dan rekeningnya.., kami tidak dapat menemukan pemasukan uang yang dia dapat dari perampokan.” Ucap Ji Wook membela.
“Apa kau mengklaim kalau tak ada pencurian... yang dilakukan?” tanya hakim. Ji Wook membenarkan.
“Biarkan saya menunjukkan ini, Yang Mulia. Agar dapat disahkan sebagai tindakan pembunuhan dan perampokan yang dibutuhkan adalah terdakwa dibuktikan bersalah  untuk merampok. Dan Juga, terdakwa harus terbukti...melakukan pembunuhan saat merampok. “ jelas Ji Wook
“Oleh karena itu, tuduhan oleh jaksa yang ada pada terdakwa... Menurut Pasal 338 KUU Kriminal... tidak sah karena terdakwa tidak pernah mencoba, melakukan tindak perampokan. Dan Juga tidak ada bukti yang menunjukkan... bahwa terdakwa melakukan pembunuhan. Oleh karena itu, terdakwa... juga tidak dapat dituntut sebagai pembunuh. Hanya itu, Yang Mulia.” Kata Ji Wook membela klienya. Bong Hee terlihat sedikit bahagi karena bisa membela Hyun Soo yang tak salah. 

Bong Hee pikir Jika mereka terus seperti ini sampai sidang kedua dan sukses mencurigai saksi, maka akan memenangkan kasusnya dan Jung Hyun Soo akan dibebaskan. Tapi saat itu pandangan Ji Wook melihat pada Yoo Jung yang berdiri didepan mobilnya seperti bertahan dengan sakitnya.
Dari kejauhan Eun Hyuk juga melihat Yoo Jung yang lemah. Ji Wook akhirnya mendekati Yoo Jung yang lemah memegang lenganya sebelum terjatuh. Yoo Jung sedikit kaget melihat Ji Wook didepanya.
“Apa Kau baik-baik saja?” tanya Ji Wook. Yoo Jung mengaku  baik-baik saja.
“Kurasa kau tidak boleh mengendara sekarang.” Ucap Ji Wook. Yoo Jung pikir masih mampu.  Ji Wook tetap ingin mengantikan untuk menyetir lalu masuk di belakang kemudi. 

Bong Hee melihat dari kejauhan dengan tatapan sedih, Ji Wook pun hanya melirik lalu masuk. Eun Hyuk melihat dari kejauhan pun tak bisa berkata apa-apa. Akhirnya keduanya naik mobil bersama dengan wajah sedih.
“Aku tahu ini akan terdengar tidak dewasa.., tapi terkadang aku iri dengan perempuan yang sakit. Ibuku melahirkan aku sebagai anak yang sehat, jadi jarang sakit.” Keluh Bong Hee. Eun Hyuk hanya bisa tertawa.
“Kau tidak perlu tertawa.” Kata Bong Hee . Eun Hyuk pun hanya bisa menatap Bong Hee seperti menahan rasa kecewa. 

Bong Hee masuk rumah dan melihat masih gelap yang berarti Ji Wook belum pulang. Eun Hyuk masuk rumah terlihat air matanya mengalir, seperti yang ditahan selama ini.
Ji Wook mengantar Yoo Jung sampai rumah lalu akan pamit pergi, lalu menyarankan untuk pergi ke rumah sakit. Yoo Jung pikir tak perlu karena  akan baik-baik saja setelah minum obat pereda deman dan tidur, dan Ji Wook pasti tahua kalau ia  selalu merasa baikan setelah keringatnya sudah keluar. Ji Wook akan pergi tapi saat itu Yoo Jung menahan tanganya.
“Kau harus masuk dulu. Hanya masuk dan minum teh, oke?” kata Yoo Jung. Ji Wook meminta agar Yoo Jung jangan melakukan itu.  
“Aku terlalu mencintaimu. Karena itulah cintamu tidak cukup terasa olehku. Aku selalu haus cinta. Aku merasa hanya aku yang gelisah dalam cinta. Tapi setelah kau pergi... Setelah kita putus, Aku sadar kalau ini cinta masih ada pada dirimu. Meskipun aku mati kehausan cinta..,aku ingin berada di sisimu, Ji Wook.” Ungkap Yoo Jung dengan mata berkaca-kaca. Ji Wook menatapnya dengan mata ikut berkaca-kaca. 


Bong Hee menunggu dalam rumah terlihat gelisah, lalu mengeluarkan cream tanganya tapi karena melamun malah mengeluarkan semua pada tanganya. Akhirnya ia membuka kulkas dan merasa kalau kulkasnya sudah rapih jadi tak perlu dibersihkan.
Akhirnya Bong Hee yang mondar mandir melihat papan nama Ji Wook, dan keluar dari rumah untuk menunggu Ji Wook. Ji Wook akhirnya pulang ke rumah melihat Bong Hee yang menunggunya. Bong Hee pun langsung berlari kepelukan Ji Wook.
“Aku menyukaimu... Aku....menyukaimu, Pengacara Noh.” Ungkap Bong Hee mengaku perasaan yang selama ini di pendam. Ji Wook ingin memegang kepala Bong Hee tapi diurungkan niatnya.
“Jangan... jatuh cinta kepadaku.” Ucap Ji Wook seperti masih menyukai Yoo Jung.
“Tidak semua yang dimulai akan berjalan dengan sempurna, Beberapa hal berhenti tepat setelah mereka memulainy, karena setiap yang dimulai itu menakutkan.” Gumam Ji Wook. 

Epilog
Nyonya Hong kaget mengetahui Nyonya Park yang Berhenti kerja. Dua pegawai kaget karena Nyonya Park yang tidak menelepon padahal sudah memberitahu setiap klien VIPnya. Nyonya Hong kesal karena Nyonya Park yang melewatkannya.
Saat menuruni tangga, Nyonya Hong melihat Nyonya Park yang berjalan menaiki tangga.  Nyonya Park melihat klienya memilih untuk berlair kabu keluar dari gedung. Nyonya Hong berteriak menyuruh Nyonya Park berhenti merasa tak terima karena dilewatkan begitu saja.
Bersambung ke episode 13


FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09 

INSTRAGRAM dyahdeedee09  FANPAGE Korean drama addicted

Sinopsis Suspicious Partner Episode 11

PS : All images credit and content copyright : SBS
Bong Hee melihat Ji Wook yang tertidur pulas dalam hatinya bergumam kalau terkadang  tidak kelihatan menderita insomnia. Ji Wook yang sudah tertidur pulas terbangun dan melihat Bong Hee yang tertidur di depanya.
“Inilah definisi dari kata "permulaan". Langkah pertama dari perilaku dan perkara. Atau langkah pertama dari emosi.” Gumam Ji Wook
Saat itu kepala Bong Hee sampai terjatuh dan Ji Wook langsung menopang tanganya agar Bong Hee tak terjatuh. 

[Episode 11 - Permulaan yang Belum Dimulai]
Ji Wook berusaha agar membuat kepala Bong Hee tak terjatuh, tapi Bong Hee tiba-tiba membuka mata saat tangan Ji Wook sedang memegang pipinya. Ji Wook buru-buru melepaskan tangan dan terlihat gugup menjelaskanya.
“Jangan salah paham.” Kata Ji Wook. Bong Hee bertanya kenapa dan tak tahu apa maksud kata 'jangan' tadi. Ji Wook makin kesal dengan pertanyaan Bong Hee.
“Aku tak tahu apa yang kau pinta untuk tidak kulakukan.” Kata Bong Hee binggung.
“Aku hanya menyuruhmu untuk tidak salah paham karena ini bukan apa-apa. Jika kau menanyakan itu, aku tak tahu cara meresponnya.” Kata Ji Wook kesal
“Menggodamu asik sekali.” Goda Bong Hee melihat Ji Wook salah tingkah.

Ji Wook berdiri dari tempat duduknya dengan kesal meraasa kalau  sudah terlalu baik kepadanya. Bong Hee pikir tak juga. Ji Wook merasa Bong Hee kalau berpikir dirinya gampang. Bong Hee mengaku kalau dirinya itu  nyaman dengan Ji Wook.
“Aku CEO-nya dan kau itu tidak lebih dari pegawaiku saja.”tegas Ji Wook
“Aku lupa sebentar kalau kau menginjak orang dengan statusmu.” Balas Bong Hee  Ji Wook
“Biarkan aku menyegarkan ingatanmu... pada saat kau masih jadi trainee Aku akan berlakukan sekarang.” Tegas Ji Wook. Bong Hee pun berjanji kalau akan bersikap baik.
“Kau bersikap kurang baik” balas Ji Wook. Bong Hee akhirnya meminta maaf karena melewati batas dan bersikap berlebihan.
“Apa Kau mabuk? kenapa kau berlebihan?” ucap Ji Wook heran
“Aku tak mabuk. Aku merasa berlebihan karena suasana hatiku baik. Aku belum berterimakasih dengan baik. Terima kasih..” Ungkap Bong Hee sambil gumam dalam hati.
“Kau selalu menyelamatkanku saat aku di ambang kematian” gumam Bong Hee.
Ji Wook meminta agar membalasnya dengan kerja keras. Bong Hee berjanji akan lakukan yang terbaik. Ji Wook pun memastikan agar Bong Hee bisa melakukan yang terbaik lalu berjalan pergi ke kamarnya.
“Pastikan kau mengunci pintumu.  Aku mungkin tidak sengaja masuk.” Goda Bong Hee. Ji Wook menatap dingin. Bong Hee pun mengaku kalau ia hanya bercanda dan bersikap berlebihan.  Ji Wook mengumpat kesal dengan sikap Bong Hee yang terus bersikap berlebihan.
Bong Hee masuk kamar lalu menuliskan dalam buku agendanya  [Selamat karena telah dipekerjakan dan menjadi jaminan.] wajahnya pun tersenyum bahagia. 

Ji Wook masuk ruangan mengatakan kalau ini adalah rapat pertama mereka sambil bergumam kalau Permulaannya selalu menegangkan. Bong Hee, Tuan Bang, Tuan Byun dan Eun Hyuk sudah berada didalam ruangan. Tuan Byun mengeluh Ji Wook yang  tak mau memecat Bong Hee. Bong Hee langsung menatap sinis pada Tuan Byun.
“Kenapa kau menatapku? Nona Kurang Bukti.” Keluh Ketua Byun. Bong Hee pun hanya bisa tertunduk dia,
“Kita merasa sengit dari awal, kan?” ucap Eun Hyuk tertawa bahagia.
“ Haruskah aku beritahu kau tentang rekrutmen? Kita butuh sekretaris, juru tulis...” kata Tuan Bang.
“Kita punya sekretaris, Nona Kurang Bukti.” Kata Tuan Byun menunjuk Bong Hee.  Bong Hee menegaskan kalau ia sebagai pengacara dengan lisensi.”
“Kau harus lakukan keduanya. Jika tidak suka ini, bayarlah untuk posisimu. Memang siapa yang mau bayar posisi dalam kerja? Kau harus lakukan itu karena kau akan membawakan efek negatif terhadap firma ini.” Ucap Tuan Byun
“Aku akan membuat laba, Ketua Byun.” Kata Eun Hyuk bangga. Tuan Byun pun memuji kalau hanya Eun Hyuk satu-satunya harapan mereka.
“Karena itulah kau harus membuatku jadi partner bernama. Daripada "Firma Hukum No Ji Wook", lebih baik "Firma Hukum Ji and No".” Kata Eun Hyuk. Ji Wook melirik sinis
“Apa mau "No and Ji" saja?” kata Eun Hyuk. Tuan Byun pikir kalau Harusnya "Byun and No".
“Ketua Byun, namanya harus "No, Ji, and Byun".”kata Eun Hyuk. Bong Hee pikir mereka juga harus memasukan namanya.
“Namanya jadi "No, Ji, Byun, Eun, and Bang". Aku menambahkan akhir namaku juga.” Kata Tuan Bang tak mau kalah.
Eun Hyuk akhirnya mengajak mereka agar membahas agenda selanjutnya. Tuan Byun memotong dengan melihat dua wajah Eun Hyuk dan Ji Wook yang babak belur berpikir kalau keduanya baru saja berkelahi. Eun Hyuk mengaku kalau memberi pelajaran kepada 20 atau 30 anak SMA.
“Sama juga denganku, aku memenangkan perkelahian melawan 37 orang dengan tanganku sendiri.” Kata Tuan Byun bangga. Bong Hee tertawa mengejek 
“Apa Kau barusan menertawakanku? Itu malam dengan hujan.Ada 37 preman di lingkunganku.” Cerita Tuan Byun bangga
“Permulaannya... sedikit terlalu ceroboh. Tapi ini... lebih dari ceroboh.” Gumam Ji Wook seperti berusaha menahan amarah.
“Ini adalah kesia-siaan! Bekerjalah!” teriak Ji Wook kesal karena tak ada yang serius dalam rapat pertamanya lalu keluar dari ruangan. 

Ji Wook minum di dapur, Tuan Byun mendekat dan bertanya apa hubungan dengan Bong Hee. Ji Wook binggung apa maksud pertanyaan. Tuan Byun mengaku kaalu sudah cmelihat semuanya tadi.
Flash back
Tuan Byun berbaring di lantai mengeluh Ji Wook yang tak mendengar ancamanya, agar memPekerjakan Eun Hyuk. Ji Wook tak peduli dan pergi begitu saja. Saat itu Bong Hee keluar dari kamarnya dan kaget melihat dua pria tua sudah ada diruang kerja. Tuan Bang binggung kenapa Bong hee keluar dari kamar bawah.
“Apa Kau tinggal serumah dengannya?” kata Tuan Byun heran.
“Dia tidak punya tujuan untuk pergi, jadi aku biarkan dia tinggal di sini.” Jelas Ji Wook. Tuan Byun merasa tak masalah dengan hal itu.
“Kau bisa jujur denganku. Apa Benar tidak ada apa-apa di antara kalian?” kata Tuan Byun seperti tak yakin. Ji Wook membenarkan. 

Bong Hee baru saja kembali, Eun Hyuk tiba-tiba memanggilnya dan bertanya darimana saja. Bong Hee mengakan kalau sedang menjalankan tugas kecil dari Kepala Bang dan juga harus mendapatkan sesuatu lalu pamit pergi.
“Hei... Kau tahu apa yang terjadi antara aku dengan Ji Wook, kan?” kata Eun Hyuk membuat Bong Hee terdiam mengingat kejadian sebelumnya. 

Flash Back
Bong Hee bertanya Siapa yang harus dicela. Ji Wook mengatakan kalau itu adalah temanya yaitu  Teman yang bersama Yoo Jung dimalam itu dan itu yang dimaksud adalah Eun Hyuk yang berada dalam kamar Yoo Jung sedang memakai kemejanya.
Bong Hee merasa kalau Eun Hyuk itu sungguh pintar dan cermat. Eun Hyuk mengaku kalau Itulah kekuatan juga kelemahannya, yaitu  Orang-orang tidak suka kalau dirinya pintar dan cermat. Keduanya pun duduk dibangku taman bersama.
“Ji Wook memanggilku untuk berterima kasih kepadaku. Dia mau aku melindungi kasusmu.” Cerita Eun Hyuk

“ Kurasa... Aku menjadi tersangka pembunuhan demi menyelamatkan kalian... kembali berhubungan.” Pikir Bong Hee.
“Benar. Aku sungguh tidak bisa cukup berterima kasih kepadamu.” Kata Eun Hyuk dengan tawa candanya.
“Aku tahu kau benci padaku.., tapi jangan terlalu benci.” Ucap Eun Hyuk
“ Itu bahkan bukan urusan cintaku. Aku tak punya hak untuk membencimu. Tapi Aku sungguh tidak suka bajingan dan jalang... Aku sungguh tidak suka orang yang selingkuh. Tapi kenapa kau selalu bercanda dan tertawa?” komenta Bong Hee heran
Eun Hyuk mengaku kala ia  tidak bercanda maka tak mungkin bisa  menemui Ji Wook dan ia tidak tahu cara lainnya. Bong Hee mengaku kalau ia memang ditakdirkan jadi pengacara dan sungguh tidak bisa menggambarkan dirinya sebagai jaksa maupun hakim.
“Daripada menuduh dan menghakimi orang dengan tindak kriminal mereka.., maka aku tipe orang yang memohonkan belas kasih. Aku lebih cocok jadi pengacara.” Komentar Bong Hee.
“Ini karena kau berhati baik.” Kata Eun Hyuk memuji.
“Teman kuliahku akan tertawa jika dengar apa yang kau katakan tadi. Aku pembunuh dan orang yang membunuh orang lain.” Ungkap Bong Hee dengan tawanya. 


Ji Wook sedang menikmati kopi di balkon atas melihat keduanya yang sedang mengobrol sambil tertawa. Eun Hyuk membahas Bong Hee yang berani menendang si pria mesum yang menganggunya. Saat itu Tuan Bang ikut melihat disamping Ji Wook.
“Mereka terlihat dekat.” Ungkap Tuan Bang. Ji Wook dengan sinis berkomentar kalau Tidak mungkin.
“Apa Kau cemburu?” ejek Tuan Bang, Ji Wook mengelak kalau yang dikatakan itu tidak masuk akal.
“Jika Bong Hee masih waras.., maka dia takkan pernah berteman dengan brengsek seperti Eun Hyuk. Ada apa dengan semua orang hari ini?” keluh Ji Wook. Tuan Bang hanya bisa tertawa. Ji Wook kesal melihat Tuan Bang tertawa mengejek.
Beberapa saat kemudian, Ji Wook sengaja menyiram air ke tanam yang membuat keduanya panik karena basah semuanya. Bong Hee ingin pergi lebih dulu karena membawa barang-barang yang baru dibelinya. Eun Hyuk pun menjerit agar Ji Wook menghentikanya. Ji Wook tak memperdulikanya kalau terus menyiramnya. 


Nyonya Park  sudah menyelesaikan pelatihannya. Pegawai lain memberitahu kalau bos mereka datang. Nyonya Park pun bersiap-siap dan membungkuk memberikan salam serta mengucapkan Terima kasih karena Tak ada yang mau mempekerjakanny pada usia senja. Tapi saat melihat wajah Nyonya Hong, umpatan dari mulutnya pun keluar.
“Senang bertemu Anda.” Ucap Nyonya Park mengubah ucapanya lebih dulu.
“Kau bilang "Sial. Senang bertemu Anda?"” ejek Nyonya Hong sebagai bosnya.
“Aku jadi suka menyumpah jika gugup.” Ungkap Nyonya Park menahan amarahnya.
“Apa kau yakin kita tidak pernah bertemu sebelumnya? Ahjumma. Lihat aku dengan matamu dan jawab aku. Apa benar kau pertama kali bertemu denganku?” ucap Nyonya Hong sengaja ingin mengujinya.
“Aku merasa... sudah terlahir lagi.” Kata Nyonya Park tak mengingat dengan Nyonya Hong.
Nyonya Hong mulai mengejek Nyonya Park yang bayi yang baru terlahir dan seharusnya menangis seperti bayi saja, yaitu  Bayi yang  punya keriput serta bayi tua dan kurang ajar dan meminta agar memberikan tepuk tangan. Nyonya Park pun hanya bisa diam saja.
“Ahjumma.., lebih baik kau waspada. Aku adalah jelmaan dari pembalasan.” Ucap Nyonya Hong
“Astaga, ini membuat frustrasi. Tapi aku akan membiarkannya kali ini.” Kata Nyonya Park ingin marah melepaskan celemek setelah itu mengikatnya kembali
“Aku adalah pekerja yang sangat disiplin. Aku mungkin tua, tapi aku akan berusaha untuk terus rapi.Aku hidup dari tangan hingga mulut, apa Anda tahu. Aku tidak mampu kehilangan gaji bulananku. Suamiku tidak menghasilkan uang dan terbaring di kasur.Tapi aku harus melayaninya karena dia adalah suamiku."cerita Nyonya Park 
" Puteriku mencoba yang terbaik.., tapi dia belum punya pekerjaan yang stabil. Sebagai orang tua, yang setidaknya bisa kulakukan adalah melayani diriku sendiri. Karena itulah aku berubah pikiran... dan memutuskan untuk tetap bekerja.” Tegas Nyonya Park menceritakan tentang kehidupanya.
Nyonya Hong yang memiliki hati halus merasa kalau Nyonya Park itu  sangat menyedihkan. Ia mengakui kalau merasa bersalah kepadanya tapi merasa jengkel juga dan itu membuatnya binggung.  Nyonya Park juga mengaku ingin jadi orang sombong tanpa jadi menyedihkan Seperti seseorang yang dikenal. Nyonya Hong berteriak kesal karena yang dimaksud adalah dirinya.
“Apa yang harus kulakukan terlebih dahulu?” tanya Nyonya Park. Nyonya Hong berteriak menyuruh pegawai barunya itu menemukan yang bisa dilakukan.
“Astaga, Anda pasti banyak makan ayam dan pizza. Karena Anda memiliki suara yang keras.” Ejek Nyonya Park . Nyonya Hong dengan bangga kalau pizza miliknya itu sangat enak.
Nyonya Park berjalan mengambil menu berpikir kalu Ayah dan Ibu. mengawasi anaknya dari atas sana tapi sekarang malah mengirimkan untuk berkerja di tempat Nyonya Hong. 
Seorang pelanggan sedang melihat ponselnya membahas kalau polisi  belum menangkap pelakunya. Teman yang lain pun merasa kalau keadaan ini sangat Menakutkan sekali. Nyonya Park ingin mengetahui apa yang sedang mereka bicarakan.

Si pelaku melihat berita ["Kematian Koki Terkenal Meninggalkan Tekanan Besar bagi Semua Orang"] dengan tatapan dingin. Lalu mengingat saat berbicara dengan Bong Hee.
Flash Back
Bong Hee ingin tahu alasan  Kenapa seseorang membunuh orang lain. Si pelaku juga ga tahu dan merasa tiap orang memiliki situasi dan alasan masing-masing. Bong Hee pun bertanya Situasi macam apa yang menyebabkan membunuh. 

Si pelaku duduk di dalam rumahnya, lalu menjawab pertanyaan Bong Hee yaitu Balas dendam pada si wanita, yaitu Hukuman yang masuk akal.
Flash Back
Saat si wanita masuk ke rumah dikagetkan dengan  koki yang sudah terbunuh di lantai dengan luka ditubuhnya. Setelah menjerit histeris melihat sesuatu di depan TV yang membuatnya panik dan kagett melihat ada tulisan dengan darah di foto Koki [Deuteronomy 22:25 -Buku kelima dari Alkitab]
"Namun jika seorang pria...bertemu dengan wanita dan berjanji untuk menikah dan memperkosanya.., maka hanya pria yang harus mati." Deuteronomy 22:25.
Si wanita seperti bisa menebak seseorang, lalu panik dan akhirnya berpikir kalau akan membuat seperti Perampokan dengan sengaja membuat ruangan jadi berantakan seperti baru saja di rampok dan dibunuh.  Ia pun berpikir kalau Sesuatu yang mahal pasti hilang.

Saat itu Jung Hyun Soo yang ditangkap atas tuduhan pembunuhan terhadap Yang Jin Woo serta punya hak untuk pengacara dan menentang penangkapan yang tidak sah. Hyun Soo pun sudah mengunakan pakaian tahanan dibawa masuk ke kantor jaksa, dengan banyak wartawan yang menganggapnya sebagai pembunuh sesungguhnya.
“Kudengar kau selalu menyangkal saat diinterogasi polisi. Ada saksi mata yang melihatmu saat itu. Kau mengirim paket untuk warga di Dong A Building One. Karena itu, salah satu warga... langsung menyadarimu.” Kata Yoo Jung. 

“ Dia adalah kurir pria dan” kata Nenek yang melihat seseorang keluar dari rumah mengunakan topi.
 “Bukan hanya itu. Dari jejak kaki yang ada di TKP sampai bukti dan DNA, semuanya menuju padamu. Yang ingin aku katakan adalah menyangkal tidak ada gunanya. Aku menuntutmu atas perampokan dan pembunuhan.” Ucap Yoo Jung
“Apa kau masih mau menggunakan hakmu untuk diam? Kupikir kau mendengarkan saat mereka membacakan peringatan Miranda. [ hak untuk diam]” kata Yoo Jung
“Kau takkan percaya jika aku mengatakan yang sebenarnya kan? Kau langsung melompat ke kesimpulan tanpa mencoba terlebih dulu. Aku sangat tahu itu. Jadi Aku mengakuinya.” Ucap Hyun Soo.
“Aku tidak percaya kepadamu Jung Hyun Soo” ucap Yoo Jung
“Akankah semua orang bisa mengerti dan mempercayaiku?” komentar Hyun Soo seperti pasrah kalau tak mungkin ada orang yang mempercayainya. 


Bong Hee mengemudikan mobilnya dengan wajah bahagia sambil bernyanyi, saat sampai di parkiran dengan bangga kalau Pengemudi yang andal harus bisa memarkirkan mobilnya dan ia berhasil dengan satu percobaan.
Ternyata Bong Hee bertemu ibunya. Nyonya Park tak percaya anaknya dapat mobil perusahaan menurutnya itu Tempat kerja yang bagus sekali. Bong Hee dengan bahagia mengatakan kalau bisa memakainya untuk bekerja. Nyonya Park juga tak mau kalah kalau bisa makan pizza semaunya. Akhirnya keduanya pun menikmati pizza bersama.
“Ketuanya bernama Byun Young Hee. Suaranya keras, pemikirannya sempit. Kau takkan percaya betapa kecil dan sempitnya itu. Membuat otakku meledak saja. “ keluh Bong Hee tentang Tuan Byun.
“Aku akan mengenalkan si ular berbisa. Setiap kata yang dikatakan bosku seperti bisa. Setiap kata yang diucapkannya seperti bom. Bahkan matanya kelihatan jahat. Mata bosku kelihatan berantakan. Wanita itu dingin sekali. Kau bisa merasakan energi dinginnya dari jarak 15 meter...” ungkap Nyonya Park terdiam karena merasakan Energi dingin. 
Nyonya Hong sudah berdiri dibelakang pegawainya lalu bertanya apakah Bong Hee itu anaknya dengan nada sinis, lalu mengejak kalau tidak tahu tiap orang bisa jadi pengacara jaman sekarang. Bong Hee merasa tersindir mendengarnya.
“Ibu. Baru-baru ini, ada keputusan yang memuat pelecehan di tempat kerja dapat diartikan sebagai kecelakaan di tempat kerja. Jadi Ingat itu. Dan Kementrian Buruh...menempatkan bersama rekomendasi untuk menghapuskan pelecehan di tempat kerja.” Kata Bong Hee sengaja menyindir
“Kau bicara itu untukku kan?” ucap Nyonya Hong kesal. Bong Hee mengelak kalau tak ada alasan mengatakannya.
“Setelah mencela seperti itu, kau mengatakan hal itu untuk... “ ucap Nyonya Hong dan dihentika karena ponsel Bong Hee dering dengan bangga kalau itu telp dari pekerjaan.


“Halo... Pengacara Eun Bong Hee sedang berbicara.” Kata Bong Hee. Ji Wook yang berbicara di telp sudah tahu karena ia yang menelpnya.
“Pengacara Noh! Ada apa? Langsung ke intinya.” Kata Bong Hee. Ji Wook kesal Bong Hee memanggilnya Pengacara Noh.
“Hei, berhenti jadi konyol dan cepat kembali ke sini.” Ucap Ji Wook. Bong Hee pun mengaku lupa kalau  ada meeting dengan klien dan akan segera datang.
Ji Wook yang mendengar perkataan Bong Heee merasa sudah gila. Sementara Ibu Bong Hee melihat anaknya seperti sangat keren. Bong Hee pun mengingatkan ibunya dengan perkataan tadi kalau  Pelecehan di tempat kerja dapat diartikan sebagai kecelakaan di tempat kerja. Nyonya Hong yang mendengarnya mengumpat kesal mendengarnya. 

Bong Hee dkk menonton berita “Polisi, yang menginvestigasi Tn. Jung yang ditangkap atas pembunuhan terhadap Koki Yang Jin Woo.., mengirim Tn. Jung untuk disidang hari ini...atas perampokan dan pembunuhan. Orang yang berada di persidangan mengatakan. menyangkal semua tuduhan dan bahwa detail-detailnya...
“Jadi Tersangka, Tn. Jung, mau aku mengambil kasusnya?” kata Bong Hee binggung, Semua hanya diam saja.
Bong Hee teringat dengan klien sebelumnya yang meminta pembelaan kalau mendengar Bong Hee yang membunuh pacarnya. Seorang Napi pun merasa Bong Hee  punya jalan sendiri karena tahu cara untuk keluar dari tuduhan pembunuhan.
“Orang-orang membicarakan itu dari waktu ke waktu. Mereka mengira aku sama dengan mereka karena aku pelaku pembunuhan.” Ucap Bong Hee.
“Kau berguna ternyata, Nona Kurang Bukti. Ini bisa digunakan untuk mempromosikan firma kita. “ kata Tuan Byun. Tuan Bang juga tahu kalau ada seluruh media
“Firma kita nanti akan dikenal.” Ucap Eun Hyuk mengebu-gebu.
Tuan Byun mengatakan sebuah pepatah "Menjadi terkenal..dan mereka akan memberikanmu tepuk tangan saat kau muncul." Eun Hyuk menebak itu ucapan Andy Warhol. Ji Wook menegaskan kalau bukan Dia yang mengatakan hal itu.

“Coba lihat.. Bahkan sesuatu yang tak kau katakan jadi terkenal saat kau juga terkenal.” Kata  Tuan Bang. Eun Hyuk pun setuju.
“Astaga, siapa yang tahu ternyata Nona Kurang Bukti bisa berguna? Pengacara yang pernah ditangkap polisi.” Kata Tuan Byun bahagia.
“Kau bisa berbagi ceritamu di sel tahanan.” Kata Tuan Bang
“ Pengacara yang dapat mengerti perasaan seorang pembunuh.” Ucap Tuan Byun. Bong Hee langsung menolak karena tak paham dengan mereka.
“Mereka terus memanggilku Nona Kurang Bukti.” Keluh Bong Hee kesal. 

Bong Hee melihat Ji Wook yang sedang berbiacara di telp, setelah menutup telp mengetuk untuk masuk dan bertanya apakah terjadi sesuatu terjadi. Ji Wook menceritakan kalau  ada Wanita muda menghina ibunya tadi. Bong Hee hanya mengeluh kalau wanita itu kasarnya. Ji Wook langsung bertanya apa yang dibutuhkanya.
“Aku mau menemui Jung Hyun Soo. Haruskah aku pergi sendiri?” ucap Bong Hee.
“Apa Kau tahu kenapa aku keluar dari firma dulu dan membuka praktek?” tanya Ji Wook.Bong Hee mengelengkan kepala
“Ini Untuk membuat yang lainnya melakukan semua pekerjaan. Itulah yang dilakukan CEO, Mereka terjebak dalam kehidupan pekerja.” Kata Ji Wook. Eun Hyuk pun akhirnya menawarkan diri untuk pergi bersama Bong Hee. 


Ji Wook tak ingin Eun Hyuk bersama Bong Hee, akhirnya ikut bersama dengan Bong Hee. Bong Hee pun tersenyum bahagia bisa pergi bersama dengan Ji Wook.
Sesampai di kanto kejaksaan bertemu dengan seorang petinggi, mereka pun menyapanya. Si petinggi mengaku kalau mendapat mimpi buruk semalam karena akan menemuinya seperti ini. Bong Hee memilih untuk pamit masuk lebih dulu. Ji Wook merasa kalau lebih benci melihat mantan atasanya. 
“Hei, Apa kau membawa dia kemana-mana?kenapa? ” kata si atasanya dingin.
“Aku bahkan tidak tahu.” Ucap Ji Wook lalu pamit pergi. 

Di lorong
Bong Hee tak sengaja bertemu dengan Yoo Jung dan menyapanya lebih dulu dengan nanyakan kabarnya. Yoo Jung mengaku Tidak baik dan bertanya balik. Bong Hee menjawab kalau  sangat baik.
“Aku akan langsung saja. Apa Kalian benar-benar pacaran?” tanya Yoo Jung
“Apa aku harus menjawab itu?” komentar Bong Hee. Yoo Jung pikir  punya hak untuk tahu.
“Kau bicara mengenai hak itu saat kau sedang dalam kerugian.” Tegas Bong Hee. Yoo Jung mengeluh kalau Ini Menjengkelkan. Bong Hee juga jengkel.
“Aku sungguh menyukaimu saat pertama bertemu denganmu Kenapa harus kau?.” Kata Yoo Jung. Saat itu Ji Hae melihat keduanya bicara dan sengaja bersembunyi untuk melihatnya.
“Itu yang ingin kukatakan. Aku juga menyukaimu. Dan kenapa dia harus mengencani wanita yang cantik? Itu membuatku marah.” Keluh Bong Hee. Ji Hae yang melihatnya heran dengan yang dikatakan oleh Bong Hee semua hanya omong kosong dan pergi.
“Jadi Kau tak mau katakan kepadaku? Aku bertanya apa kalian benar pacaran.” Kata Yoo Jung
Bong Hee terlihat gemetar dengan mata yang tak fokus mengaku kalau memang berpacaran. Yoo Jung melihat mata Bong hee kalau itu bohong. Bong Hee mengelak kalau yang dikatakan benar.
“Aku tahu itu. Dengan ada di sekitarku, Ji Wook takkan pernah...” ucap Yoo Jung dan saat itu Ji Wook datang.
Ji Wook mengaku kalau memang ada disekitar Yoo Jung dan memilih Bong Hee dengan memeluk lenganya. Bong Hee kaget tiba-tiba Ji Wook memeluknya.  Ji Wook pun mengajak Bong Hee untuk pergi. Yoo Jung menatap sedih karena melihat keduanya pergi. 


Bong Hee terlihat tegang sampai tak bisa bergerak. Ji Wook melihat Bong Hee kaget dan memastikan kalau keadaanya baik-baik saja karena Wajahnya aneh sekali. Bong Hee terlihat masih shock mengaku terkadang lupa bernafas dan bisa menghembuskan nafasnya.
“Bagaimana bisa kau lupa bernafas?” keluh Ji Wook heran
“Kau barusan memberiku waktu sulit dengan bertingkah seolah aku pacarmu. Apaan itu?” ucap Bong Hee binggung.
“Yah, kau tahu. Aku tak bisa membiarkan pekerjaku jadi pembohong.Ah.. Bagaimana mengatakannya? Apa Aku harus menuai benih yang kau tabur?” kata Ji Wook.
Bong Hee mengejek tak peduli dan berjalan pergi. Ji Wook pun berpikir kalau dirinya itu gampangan. Bong Hee membenarkan. Ji Wook pikir kalau sudah terlalu lemah lembut.Bong Hee melihat jamnya kalau sudah terlambat untuk wawancaranya dari tadi.

Di ruang interogasi
Bong Hee bertemu dengan Jin Woo membahas kalau Ada lebih dari 20.000 pengacara di negara Korea sekarang tapi Kenapa memilihnya padahal banyak pengacara yang lebih baik?
“Jika kau berencana untuk bertanya bagaimana caranya keluar dari tuduhan pembunuhan atau menanyai hal mengenai kurangnya bukti...” ucap Bong Hee yang membuat Jin Wook tiba-tiba tertawa. Bong Hee pun binggung kenapa tiba-tiba si pria malah tertawa.
“Aku membunuhnya, menusuknya. Inikah jawaban yang kau cari? Apa tidak ada cara lain daripada membuat tuduhan yang salah dan tawar menawar saja?” kata Jin Woo. Bong Hee hanya bisa terdiam.
“Pengacara Eun... Kupikir kau adalah satu-satunya harapanku.” Ucap Ji Won. Bong Hee terdiam mengingat kejadian sebelumnya. 

Flash Back
Bong Hee berbicara pada Ji Wook kalau pasti mempercaya kepadanya.  Ia yakin kalau Ji Wook itu percaya kepadanya. Ia merasa kalau Ji Wook adalah harapanya.
“Aku seorang kurir. Aku bahkan tidak bisa menghitung berapa kali aku memasuki lingkungan itu dan rumah itu. Karena Begitu seringnya aku ke sana. Mereka bilang itu buktinya... Itu bukti dari pembunuhannya.Begitulah cara mereka menangkapku dan membuatku duduk di sini.” Ucap Jin Woo
“Aku masih tidak mengerti kenapa aku duduk di sini sekarang. Aku bahkan tidak mengerti bagaimana bisa ini terjadi padaku. Sejujurnya, aku sangat kesepian dan Situasi ini membuatku takut.” Kata Jin Woo dengan menahan tangisnya.
Bong Hee terus menatapnya seperti bisa mengerti perasaan Jin Woo. Jin Woo pun mulai berpikir kalau pasti ada yang akan mengerti dan percaya padanya. Ia yakin  Pasti ada tempat dimana bisa bergantung.Bong hee kembali mengingta saat bicara dengan Ji Wook.
Flash Back
“Aku tak tahu kenapa ini terjadi padaku. Aku tak bisa percaya kenapa ini terjadi, aku takut juga. Tapi hanya kau yang bisa kuandalkan.” Ucap Bong Hee. 

Ji Hae binggung karena menerima pertanyaan apakah Bong Hee sungguh membunuh anak Pengacara Distrik. Yoo Jung merasa Bong Hee tidak kelihatan seperti orang yang mau melakukan itu. Ji Hae menegaskan kalau sudah jadi jaksa selama beberapa tahun.
“Aku bertemu banyak kriminal yang melakukan pembunuhan. Kesimpulanku... semua orang bisa membunuh. Tentu, beberapa orang dilahirkan untuk jadi psikopat dan menjadi brengsek gila. Kecuali mereka.., orang normal membunuh orang lain juga.” Jelas Ji Hae.
“Mereka membunuh karena tidak dapat menahan kemarahan yang tiba-tiba. Orang bisa mati dengan pukulan sederhana. Mereka membunuh karena kecelakaan. Beberapa orang membunuh untuk keluar dari kebencian dan karena uang. Oleh karena itu, jawabanku... Ya, Bong Hee membunuhnya. Ini bukan hanya berdasarkan perasaan pribadiku.., tapi juga karena keraguan yang masuk akal.” Jelas Ji Hae
“Aku tidak tahu inilah yang kau pikirkan tentangnya.” Pikir Yoo Jung masih tak percaya.
Ji Hae mengaku kalau  membiarkan ini terjadi sesuai kehendak hatinya tapi suatu hari pasti akan menangkapnya. Yoo Jung mengaku kalau dikatakn Jae Hae itu membantu atas perasaan bersalahnya. Ji Hae binggung, tapi Yoo Jung tak ingin membahasnya. 


Jin Woo menceritakan Pada sore saat insiden terjadi karena cuacanya bagus maka jalan-jalan ke taman. Ia duduk di bangku taman dengan banyak anak yang lalu lalang, Bong Hee dan Ji Wook mendengarkan dengan wajah serius.
“Anak perempuan bermain riang dengan balonnyadan berlarian. Mereka sangat lucu. Aku ingat bahwa film  "The Usual Suspects" dirilis. Jadi aku pergi ke bioskop untuk nonton.” Cerita Jin Woo sudah siap membeli tiket.
“Aku kembali lagi karena jam tayangnya tidak cocok denganku. Dan... aku makan makanan kaki lima hari itu. Aku makan tteokbokki. Aku minum kopi juga. Aku makan tteokbokki dan minum caffe mocha, serta menambahkan whipped cream diatasnya. Lalu aku minum di bar yang terkadang aku kunjungi.” Cerita Jin Woo yang makan toppoki ditaman dan pergi ke bar.
“Aku biasanya minum sendirian. Omong-omong, di bar.. ada pasangan yang sedang merayakan ulang tahun di sana.” Ungkap Jin Woo yang mengingat saat itu ada beberapa orang berkumpul dan selfie. Sementara Jin Woo duduk dibagian belakang mereka sendirian.
“Mereka membeli roti ultah dengan lilin di atasnya.” Cerita Jin Woo mengingat tentang alibinya. Ji Wook menatap klienya seperti ingin melihat apakah benar cerita bohong atau tidak.
Bersambung episode 12

FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09 
INSTRAGRAM dyahdeedee09  FANPAGE Korean drama addicted