Selasa, 10 Januari 2017

Sinopsis Hwarang Episode 7 Part 2

PS : All images credit and content copyright : KBS

Ah Ro yang kebinggungan memetik daun bayam sambil memilih Lulus atau Gagal dan hasilnya itu Lulus. Joo Ki datang mengagetkan Ah Ro sambil mengeluh. Ah Ro langsung bertanya pendapat Joo Ki apakah kakaknya itu akan lulus.
“Dia tidak bisa mendapatkan segalanya secara cuma-cuma . Apa kau memiliki hati nurani?Dia baru mempelajari cara membaca dan menulis.” Ucap Joo Ki, Ah Ro kembali mengambil bayam ingin kembali memetiknya.
“Sudahlah hentikan.Kenapa kau melakukan itu terhadap bayam yang malang?” keluh Joon Ki, Ah Ro akhirnya melihat tumpukan daun yang bercampur dengan batang, seperti tak sadar kalau ia yang melakukanya. Ia pun meminta maaf tapi kembali memetik bayam memikirka apakah kakaknya akan lulus atau gagal. 

Wi Hwa memberikan cap nilai pada kertas ujian, untuk Kim Ki Bo, Kim Shib, Kim Jang Hyun hasilnya gagal. Lalu melihat hasil Suk Han Sung yang mengetahui kalau menyontek Bab Tiga dari "Tao Te Ching" dan hasilnya tetap Gagal. Kim Soo Ho, Kim Yeo Wool pun gagal. Keduanya terlihat tertunduk sedih.
“Park Ban Ryu- Lulus.” Ucap Wi Hwa, Senyuman Ban Ryu pun terlihat. Moo Myung terlihat tegang menunggu hasilnya.
“Kim Ji Dwi.... Kau lulus.Itu bukan karena aku menyukai jawabanmu,tapi karena itu berdasarkan pada "Tao Te Ching".” Ucap Wi Hwa pada Maek Jong.
“Kim Sun Woo, Kau gagal.Itu bukan karena aku tidak menyukai jawabanmu,tapi tugas iniuntuk mendasari jawabanmu pada "Tao Te Ching". Dan kau menyebutnya omong kosong, jadi aku tidak bisa meluluskanmu.” Jelas Wi Hwa pada Moo Myung dan mengakhiri pelajaran dalam kelasnya.

Maek Jong melihat Sun Woo yang terlihat kecewa dengan hasilnya,  lalu keluar dari ruangan. Moo Myung masih duduk diam didepan meja, Wi Hwa mendekatinya memperingatakan kalau Moo Myung punya dua kesempatan lagi dan sebelumnya sduah memberitahu kalau  jawabannya akan sama dan Moo Myung akan membuang-buang energi dua kali, lalu diusir jadi teruskan saja. 

Wi Hwa duduk sambil memancing mengingat jawaban Moo Myung yang berani "Jika hukum mengabaikan tanah yang keringdan ada yang namanya jalur raja,maka raja seharusnya tidak menjadi raja." Maek Jong sudah berdiri disamping Wi Hwa, menanyakan alasan Moo Myung bisa gagal. Wi Hwa melihat Maek Jong yang datang, menganggap sebagai  keponakan palsunya.
“Jadi, Kau bilang akan menurunkan Ratu, Bagaimana jalannya?” ejek Wi Hwa
“Apa kau tidak sependapat dengan dia? Kau membenci arogansi kaum atas dan lebih mengutamakan rakyat.” Kata Maek Jong
“Apa yang bisa dilihat seorang raja dari bawah?” tanya Wi Hwa, Maek Jong melihatRaja yang bersembunyi mungkin mampu melakukannya.
“Kau tampaknya berharap terlalu banyak dari raja tidak berwajah.” Bala Wi Hwa

Maek Jong pikir Wi Hwa seperti itu,  karena itu alasanya menentang Wali Kuasa Ratu. Wi Hwa pikir tak mengetahui  tentang Raja, menurutnya tak mungkin seorang anak kecil yang bersembunyi seumur hidupnya dan tidak bisa melindungi diri bisa berhasil melakukannya saat kembali. Ia merasa  Raja yang muda dan tidak berguna, tidak akan mampu melakukan apa pun di tengah-tengah para pejabat yang licik itu.
“Ratu tidak punya alasan untuk terus berkuasa, dan Raja yang belum siap akan membawa bencana untuk Silla. Itu sebabnya aku membentuk Hwarang Untuk melindungi masa depan... yaitu Masa depan Silla.” Ucap Wi Hwa dengan tawanya.
“Jika kau menemukan cara untuk melindungi Silla tanpa Ratu, kembalilah kepadaku. Lagi pula tidak ada ikannya, tapi kau membuatnya semakin sulit.” Kata Wi Hwa lalu melepaskan ikan yang baru memakan pancinganya. Maek Jong hanya bisa diam saja.


Seorang pelayan membakar hasil ujain pada tungku masak.  Ah Ro melihat langsung mengambil dan melihat hasilnya Gagal dan lembar nama "Kim Ji Dwi" yang kosong diberi cap lulus.
“Kenapa lembar kosong ini lulus sedangkan kakakku gagal?” ucap Ah Ro binggung.
“Ahh.. Aku mengerti. Ini korupsi yang terkenal di dalam Hwarang. Aku tidak akan membiarkannya.” Tegas Ah Ro dengan mata melotot, pelayan yang tak mengerti apapun hanya menatap binggung. 

Ah Ro langsung menghadang Wi Hwa yang baru keluar seperti ingin buru-buru pergi. Wi Hwa menyapa Ah Ro karena mengetahuinya  dari Pi Joo Ki bahwa kalau A Ro ada dalam di Hwarang. Ah Ro mengaku kalau  Ada yang harus dikerjakan dan ingin tahu alasan Wi Hwa yang melakukan hal ini. Wi Hwa binggung maksudnya apa.
“Penyalahgunaan kekuasaan, Tulang Murni tidak bersalah dan Tidak ada yang bersalah. Bisa-bisanya kau melindungi keponakanmu seperti itu?”ucap Ah Ro tak terima, Wi Hwa sudah tak bisa menahan meminta agar Ah Ro minggir.
“Lembar kosong ini lulus. Kenapa jawaban yang bijaksana yang ditulis dengan upaya oleh seseorang yang baru belajar menulis bisa gagal? Tugas ini berdasarkan pada "Tao Te Ching", tapi...” ucap Ah Ro memperlihatkan lembaran yang berbeda. Wi Hwa tak peduli menyuruh Ah Ro segera menyingkir.

Ah Ro tak bisa membiarkan begitu saja,  Wi Hwa pun ingin tahu apa yang dinginkan sekarang.  Ah Ro pikir Wi Hwa ingat penelitian tentang para bangsawan muda di ibu kota dan ia mempertimbangkan soal memberi tahu para pejabat bagaimana Wi Hwa melakukan penelitian atas permintaan itu. Wi Hwa mengerti dan menyuruh melakukan yang dinginkanya saja karena ia  terburu-buru.
“Apa kau tidak tahu? Ini bukan masalah sederhana. Mereka akan mengatakan ini penyelidikan ilegal dan percobaan meniadakan Hwarang. Lalu Ratu akan sangat tidak senang.” Ucap Ah Ro memperingatinya. Saat itu Wi Hwa seperti merasakan sesuatu dan akhirnya bisa berdiri tegak.
“Jadi, apa yang kau mau?” ucap Wi Hwa, Ah Ro memperingatkan agar Wi Hwa tak melakukan hal seperti ini lagi lalu berjalan pergi. Wi Hwa pikir dirinya sebaikanya kembali ke dalam ruangan terlihat jejak kakinya yang basah, seperti tak bisa menahan buang air kecilnya. 

Ah Ro bertemu dengan Maek Jong untuk mengembalikan uang koin yang dipinjamnya jadi sekarang impas dan meminta agar jangan bertemu lagi. Sebelum pergi Ia ingin tahu alsasan Maek Jong ingin agar diajarkan  cara menulis menurutnya Maek Jong itu  punya koneksi yang kuat untuk meluluskanya meskipun mengumpulkan lembar kosong.

“Aku kurang memperhatikan kakakku gara-gara kau sehingga dia gagal. Aku seharusnya membantu dia sampai akhir. Kau menghancurkan semuanya.” Ucap Ah Ro kesal
“Maksudmu, kau memikirkan aku dan tidak bisa memperhatikan kakakmu? Ahh.. Ini hal paling menyenangkan yang pernah kudengar.” Ucap Maek Jong dengan wajah bahagia, Ah Ro merasa tidak mengatakn seperti itu.
“Tapi kau lagi-lagi, itu mungkin ada artinya setelah apa yang terjadi kepadaku. Itu mungkin ada artinya.” Kata Maek Jong

“Ini bukan soal ciuman. Aku merasa kasihan kepadamu, Kau terlihat seperti orang yang paling kesepian di dunia. Karena aku juga seperti itu, Aku kesepianItu tidak akan terjadi lagi.” Tegas Ah Ro.
“Apa yang harus kulakukan agar kau menemuiku lagi? Saat aku menatapmu, aku merasa tidak berdaya. Itu membuatku gila.”akui Maek Jong
Ah Ro merasa kalau Maek Jong itu bercanda denganya, Maek Jong mengaku merasa menyesal soal siapa dirinya dan tak mengerti yang harus dilakukan karena hanya memikirkan Ah Ro. Moo Myung tak sengaja lewat melihat keduanya sedang berbicara seperti sangat serius

Di depan "Rumah Hwarang" Tuan Park dan Hong Kong sudah menunggu didepan pintu, seorang pengawal membuka pintu. Hong Kong bertanya apakah mereka boleh masuk hari ini. Tuan Park hanya diam saja, Hong Kong sengaja meninggikan suara kalau ia sudah datang kesekian kalinya dan meminta agar memanggil Wi Hwa.
Pengawal memberikan selembara kertas, Hong Kong memberikan pada Tuan Park agar membawanya. Tuan Park tertawa membacanya, Hong Kong ikut membawa dan tulisan “Mari kita minum-minum tiga puluh tahun kemudian.” Lalu berteriak marah, Tuan Park mengajak mereka pergi saja karena mungkin  ada kesempatan lain.
Hong Kong tak percaya Tuan Park menolak begitu saja, Hong Kong tetap memohon agar bisa membiarkan mereka masuk saja, karena hanya ingin menemui seseorang. Tuan Park mengajak mereka segera pergi saja, menurutnya bukan hanya tempat ini ingin menemui seseorang. 

Tuan Ahn sedang merabu obat, Tuan Park tiba-tiba masuk menyapa Tuan Ahn yang sudah lama tak bertemu. Tuan Ahn kaget melihat petinggi kerajaan yang datang menemuinya. Akhirnya Tuan Ahn duduk sambil memeriksa denyut nadi Tuan Park, seperti pasiennya.
“Kudengar kau menemukan putramu, Aku ucapan Selamat dan dia seorang Hwarang, bahkan Ratu sendiri yang memilih dia.” Ucap Tuan Park sengaja mengajaknya bicara.

“Perutmu mualdan energimu menurun, jadi, kau membutuhkan istirahat.Aku akan menerapkan akupunktur terhadapmu dan memberimu resep.Suruhlah pelayanmu mengambil obatmu.” Ucap Tuan Ahn tak mengubris ucapan Tuan Park
“Konon, kecemburuan wanita membuat salju jatuh pada musim panas. Sudah Lama waktu telah berlalu. Tapi kebencian tidak memudar. Kau pasti tahu betul dan Kurasa kita melihat pemandangan yang sama.” Ungkap tuan Park seperti berusaha menghasut Tuan Ahn.

Ah Ro berjalan sendirian sambil bertanya-tanya apakah si  Tuan Mesum sungguh menyukainya, memang bisa mengaku kalau Maek Jong  lumayan. Sebagai keponakan Tuan Wi Hwa dan tidak miskin dan pasti telah mempelajari banyak hal di Tiongkok melihatnya dari segi  objektif, tidak buruk. Lalu ia terlihat heran sendiri malah memikirkan itu.
“Ada apa dengan hari ini?” tanya Moo Myung yang tiba-tiba datang, Ah Ro kaget melihat kakaknya kalau ini bukan hari yang spesial.
“Kau Pulanglah dengan hati-hati. Lewati jalan besar. Pastikan kau pergi bersama Pi Joo Ki.” Pesan Moo Myung pada adiknya.
“Kudengar semuanya gagal. Jadi, jangan terlalu kecewa. Tuan Wi Hwa yang aneh karena memberi tugas itu, bukan Kau. Dari apa yang kulihat, kau menjawab dengan cukup baik.” Ucap Ah Ro, Moo Myung mengerti dan meminta Ah Ro segera pergi.

“Ibu... Ini hari peringatan kematiannya. Tapi kau Jangan khawatir. Aku sudah terbiasa sendiri. Dia akan sangat bahagia mengetahui kami menemukan Kakak. Kau harus tetap di sini, jadi, aku yang akan mengurusnya.” Ucap Ah Ro sebelum Moo Myung pergi, Moo Myung terdiam karena hari ini upacara peringatan kematian ibu temanya. 


Yeo Wool melihat lembaran daun bayam di mangkuk yang tak berbentuk. Han Sung memberitahu kalau rasanya  enak seperti masakan Ibu. Yeo Wool mengeluh Han Sung ikut duduk bersama mereka, Han Sung pikir lebih sudah duduk dikursi itu karena  jumlahnya menjadi genap.
“Sudah kubilang kau tidak bisa bertahan di sini. Kau sudah gagal, jadi waktu kita bersama akan segera berakhir.” Ucap Ban Ryu sinis pada Moo Myung.
“Apa kau bangga soal lulus? Menurutku jawaban Anjing-Burung yang terbaik. Semua orang juga berpikir demikian, benarkan?” kata Yeo Wool membela. Semua orang terdiam seperti menyetujui, Ban Ryu semakin melirik sinis pada Yeo Wool.
“Peringatan kematian... Apakah itu sangat penting?” tanya Moo Myung, So Ho ingin tahu kematian siapa. Moo Myung menyebut kalau itu ibu mereka.
Maek Jong sedikit kaget, Han Sung pikir Moo Myung  sebaiknya pulang karena sudah menyelesaikan tugas. Semua melirik seperti tak setuju, Han Sung pun kembali makan nasinya dengan wajah tanpa masalah. 

Moo Myung berbaring dikamar dengan tatapan kosong, teringat kembali ucapan Ah Ro “Ini hari peringatan kematiannya ibu”. Sementara So Ho terlihat frustasi menurutnya tempat ini seperti  penjara karena  sudah menyelesaikan tugas tapi kenapa harus tidur bersama mereka. Yeo Wool pikir mereka lebih baik pergi saja.
“Kau bilang ini seperti penjara dan Sebaiknya kau juga mengunjungi keluargamu.” Ucap Yeo Wool pada So Ho dan Moo Myung
“Aku memperingatkanmu. Jangan melakukan hal bodoh. Jangan membuat kami menderita gara-gara kau.” Tegas Ban Ryu tak ingin lagi dihukum, So Ho terlihat penasaran menanyakan rencana Yeo Wool dan berpikir kalau tidak akan melakukan hal bodoh. Yeo Wool mengaku telah membuka jalan sedikit.

Wi Hwa terlihat bahagia melihat sebuah botol besar diatas meja,  Yeo Wool mengaku kalau Ibuny memberikan saat datang, dan itu adalah  arak berharga dari Tiongkok jadi menyuruh untuk menawarkannya. Wi Hwa mengucapkan terimakasih dengan wajah bahagia.
“Itu arak yang paling mematikan. Sekali minum, tubuhmu akan berangsur melemah.”
Wi Hwa dan assitentnya terlihat sudah tak sadarkan diri setelah meminumnya, Wi Hwa sempat tersadar karena kakinya menyentuh lilin tapi setelah itu kembali tertidur.

“Kedua kalinya minum, kau tidak akan mengenali orang tuamu karena Arak yang paling mematikan.” Cerita Yeo Wool tentang kekuataan arak yang diberikanya.
“Apa maksudmu sekarang tidak ada yang berjaga di Rumah Hwarang?” kata So Ho
Yeo Wol pun memberikan pilihan untuk pergi atau tetap didalam asrama, tapi menurutnya lebih baik pergi karena mereka juga akan kena hukuman kalau salah satunya pergi. Ban Ryu mengumpat itu tak masuk akal,  So Ho pun menantang Ban Ryu untuk melaporkan saja, Tapi lakukan itu setelah mereka pergi. Yeo Wool akhirnya menanyakan pendapat dua temanya.
Maek Jong mengaku akan pergi, Yeo Wool melihat Moo Myung yang paling punya alasan untuk pergi. Mereka berempat berjalan perlahan keluar dari kamar sambil mengendap-ngendap lalu dikejutkan dengan penjaga yang masih berjaga monda mandir didepan pintu, So Ho mengumpat kesal pada Yeo Wool karena sebelumnya mengatakan kalau bisa tak menyadarkan orang.

“Apa Araknya tidak manjur? Padahal Aku memberi dia sebotol. Dengan menghirupnya, mereka akan tergoda untuk meminumnya.” Ucap Yeo Wool, So Ho panik karena mereka semua pasti mati kalau sampai ketahuan.
Saat itu So Ho mencoba mengintip dari celah, matanya dibuat kaget. Akhirnya semua melihat penjaga yang berjalan dengan terbentur lalu memukul kepala sendiri, Yeo Wool tersenyum karena sama seperti yang dikatakan kalau minuman itu tak membuat orang sadar lalu mereka pun mengendap-ngendap berjalan keluar pintu rumah.
Ban Ryu terlihat gelisah dalam ruangan yang tak ikut pergi, Sementara Moo Myung dkk sudah berhasil melompat keluar dinding dan mereka bertemu kembali pukul 3 pagi dan masuk bersama-sama. Semua mengerti dan mulai berpencar, beberapa saat itu juga Ban Ryu sudah mengunakan seragam Hwarangnya ikut keluar dari asrama Hwarang. 


Maek Jong berjalan sendirian lalu bersiul, Pa Oh langsung keluar mengaku hampir terkena serangan jantung bahkan melihat Raja yang  berkeliaran saat malam dan meminta agar  jangan bergaul dengan pembawa pengaruh buruk karena ia adalah seorang Raja.
“Diamlah dan pimpin jalan.” Tegas Maek Jong, Pa Oh bertanya kenapa Maek Jong akan pergi dimalam hari.  Maek Jong mengaku akan pergi ke Rumah.

Ratu sedang dalam ruangan, lalu pelayanya memberitahu kalau menemukan setangkai bunga  yang tidak mekar di area istana. Seperti Ratu hanya melihat bunga tersebut sudah mengerti maksdunya. Akhirnya ia masuk ke dalam ruangan Raja dan melihat anaknya yang sudah duduk di singgasana, lalu bertanya apa yang sedang dilakukan Maek Jong.
“Aku hanya duduk di kursiku sebentar.” Ucap Maek Jong
“Apa kau pikir punya kekuasaan untuk mempertahankan kursi itu?” tanya Ratu, Maek Jong menjawab tidak.
“Seperti yang Ibu katakan,aku terlalu kecildan lemah.” Ucap  Maek Jong, Ratu merasa senang, Maek Jong bisa menyadarinya dan meminta agar meninggalkan Hwarang
“Jika kamu meninggalkan Hwarang dan menunggu dengan tenang, aka akan mengurus sisanya.” Kata Ratu Ji So berusaha membujuk.
“Semakin lama aku menunggu, maka Ibu akan semakin kuat. Seorang anak tidak bisa berjalan dari awal dan Anak itu harus jatuh dan berlatih agar kakinya tumbuh kuat serta agar dia mampu berjalan dengan baik.” Ucap Maek Jong
Ia mengingat ucapan Moo Myung saat ujian  “Tidak ada jalan yang dimulai sebagai bentuk sebuahjalanan. Seseorang harus berjalan di atasnya agar itu menjadi jalur yang benar. Kita harus menghantam dan menghancurkan tanah yang keras serta membuat lubang agar air bisa mengalir melewatinya.”
“Jadi Aku harus berlatih berjalan untuk mengambil jalur seorang raja. Aku akan menjadi lebih kuat dalam Hwarang.”tegas Maek Jong pilihanya pada sang ibu. 


Ah Ro melakukan peringatan sederhana seperti menabur abu lalu berdoa, Tuan Ahn pun membuka kertas dan menerbangkanya, seperti supaya arwah istrinya itu tenang. Keduanya lalu berdiri berrsama, Ah Ro tahu kalau akhirnya menemukan Sun Woo yang dicari selama ini, tapi mereka tetap berdua lagi.
“Tapi setidaknya kita menemukan dia, jadi, jangan merasa bersalah lagi kepada Ibu.”ucap Ah Ro menenangkan ayahnya. Tuan Ahn menyetujinya tidak akan merasa bersalah.
“Aku punya pertanyaan. Apa yang terjadi terhadap Sun Woo? Saat kali pertama datang, dia terluka parah. Aku tahu Sudah pasti dia baru saja melewati kejadian besar,tapi aku tidak enak bertanya kepadanya.” Kata Ah Ro, Tuan Ahn sempat terdiam dan saat itu terlihat Maek Jong datang ke rumah, Ah Ro tersenyum melihat kakaknya. Maek Jong pun melakuan ritual peringatan. 


Ban Ryu berjalan sendirian, menatap ke arah depan seperti tak menyangka  Dari semua tempat, datang ke tempat itu. Saat itu terlihat Tuan Park dan Hong Kong baru saja datang dengan menaiki kudanya. Hong Kong meminta Tuan Park menunggu  karena akan memanggil pelayan.
“Ini sudah larut malam. Aku tidak butuh pelayan. Jangan menarik perhatian.” Kata Tuan Park, Hong Kong mengerti lalu membungkukan badan sebagai pijakanya. Ban Ryu seperti menahan amarahnya melihat ayah kandungnya yang diperlakukan seperti budak. 

Sementara Yeo Wool dan So Ho keluar tempat para Gisaeng, beberapa wanita terlihat sangat terkesima melihat ketampanan mereka, Yeo Woo heran melihat Soo Ho sangat ingin pergi ke luar tapi tampak tidak senang melihat para gadis
“Mereka semua belum cukup umur dan dari kelas bawah.” Ucap Soo Ho lalu tiba-tiba matanya terpenjam mengingat saat melihat wajah cantik Ratu Ji So yang duduk ditandu dan juga ketika berpapasan dengan ditutup oleh kain. Seperti So Ho lebih suka wanita yang jauh lebih tua darinya, lalu menyadarikan diri kalau sudah gila.

Soo Yun melihat-lihat mutiara yang ada dipasar malam, lalu menemukan sosok kakaknya yang meninggalkan Rumah Hwarang dan berkeliaran malam-malam begini. Dengan senyuman liciknya berpikir kalau hari ini adalah saat yang tepat.
“Hari saat aku akan menebus kesedihanku. Jadi Bersiaplah maka kau akan merasakanya” ucap Soo Yun melemaskan tanganya.
Dari belakang terlihat Soo Ho yang berdiri tak jauh, Soo Yun langsung meremas bokong kakaknya, dengan wajah bahagia sebagai balasanya karena sering memitingnya. Saat menoleh kepalanya, Soo Yun kaget melihat Ban Ryu bukan So Ho, begitu juga Ban Ryu yang tiba-tiba Soo Yun yang meremas bokongnya. Sook Myung menjerit yang membuat semua sedang berbelanja menatap keduanya.
Yeo Wool melihat kalau Soo Yun tak jauh dari mereka, Soo Yun panik langsung menutup badanya seperti Ban Ryu yang baru melakukan sesuatu padanya. Orang yang melihatnya, tak percaya kalau Tuan Ban Ryu melecehkan Soo Yun  dan Seorang Hwarang tidak pantas melakukan itu bahkan terang-terangan memegang Soo Yun,  Ban Ryu binggung karena tak melakukan apapun.

“Sebenarnya, dari belakang...” ucap Soo Yun ingin menjelaskan tapi Soo Ho sudah lebih dulu datang keluar dari kerumunan. Soo Yun akhirnya menampar wajah Ban Ryu.
“Ban Ryu! Apa yang kau lakukan kepada adikku?” teriak Soo Ho mencengkram bajunya, Soo Yun memberikan kode meminta maaf pada Ban Ryu
“Cepat Katakan. Apa yang dilakukan keparat ini kepadamu?” teriak Soo Ho pada adiknya, Soo Yung mencoba menjelaskanya,
“Kau melakukannya dengan sengaja karena tahu dia adikku.” Teriak Soo Ho benar-benar marah,
Yeo Wool datang meminta Soo Ho agar mengendalikan dirinya,  Soo Yun ingin menjelaskanya. Tapi Soo Ho menyuruh adiknya lebih baik diam,  karena ia yang akan menangani semuanya. Lalu mencari sesuatu untuk memukul Ban Ryu untuk memberikan pelajaran.

Sebelum Soo Ho memukul, Soo Yun lebih dulu memukul bagian tengkuk kakaknya. Akhirnya Soo Ho langsung jatuh tak sadarkan diri, Soo Yun memegang pipi Ban Ryu karena merasa khawatir memint maaf lebih dulu, Ban Ryu terlihat gugup menerima sentuhan dari wanita. 
Ah Ro dan kakaknya berjalan bersama, dengan bertanya Bagaimana Kakaknya keluar, Moo Myung mengakumemanjat dinding, Ah Ro kaget berpikir kakaknya menyerah karena sekali gagal. Moo Myung menegaskan kalau  tidak menyerah dan akan kembali sebelum ketahuan. Ah Ro heran dengan Moo Myung yang harus repot-repot keluar.
“Kau bilang ini hari peringatan kematian Ibu.” Ucap Moo Myung
“Ini hari ulang tahunnya, yaitu Ulang tahun Ibu. Aku tidak tahu hari peringatan kematiannya karena kami tidak tahu kapan dia meninggal.” Ungkap Ah Ro, Moo Myung terdiam karena ternyata ibu temanya menghilang begitu saja.

“Tapi aku merasa senang memiliki kakak lelaki. Jadi, aku tidak mau memikirkan Kau mendapat masalah lagi. Karena menyenangkan rasanya ada seorang Kakak di sampingku sekarang.”ungkap Ah Ro lalu kembali berjalan, Moo Myung mengangguk mengerti dengan wajah gugup.
“Aku merindukan wangi Ibu. Pada hari seperti ini, dia biasanya membelai kepalaku. Suara angin dan burung adalah pengantar tidurku.” Cerita Ah Ro
Moo Myung binggung bertanya apakah Ibu tidak pandai bernyanyi. Ah Ro memberitahu kalau  Ibu tidak bisa menyanyikan pengantar tidur untuk mereka karena ibu mereka adalah orang bisu yang tidak biasa bicara. Moo Myung terdiam seperti melakuan suatu kesalahan, Ah Ro menatap curiga karena kakaknya tak mengetahui tentang ibu mereka yang bisu.
Bersambung ke episode 8


FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar