PS; yang udah baca blog / tulisan aku.. Tolong minta follow account IG aku yah dyahdeedee09 & Twitter @dyahdeedee09 jadi biar makin semangat nulisnya. Kamsahamnida.

Jumat, 26 Mei 2017

Sinopsis Suspicious Partner Episode 11

PS : All images credit and content copyright : SBS
Bong Hee melihat Ji Wook yang tertidur pulas dalam hatinya bergumam kalau terkadang  tidak kelihatan menderita insomnia. Ji Wook yang sudah tertidur pulas terbangun dan melihat Bong Hee yang tertidur di depanya.
“Inilah definisi dari kata "permulaan". Langkah pertama dari perilaku dan perkara. Atau langkah pertama dari emosi.” Gumam Ji Wook
Saat itu kepala Bong Hee sampai terjatuh dan Ji Wook langsung menopang tanganya agar Bong Hee tak terjatuh. 

[Episode 11 - Permulaan yang Belum Dimulai]
Ji Wook berusaha agar membuat kepala Bong Hee tak terjatuh, tapi Bong Hee tiba-tiba membuka mata saat tangan Ji Wook sedang memegang pipinya. Ji Wook buru-buru melepaskan tangan dan terlihat gugup menjelaskanya.
“Jangan salah paham.” Kata Ji Wook. Bong Hee bertanya kenapa dan tak tahu apa maksud kata 'jangan' tadi. Ji Wook makin kesal dengan pertanyaan Bong Hee.
“Aku tak tahu apa yang kau pinta untuk tidak kulakukan.” Kata Bong Hee binggung.
“Aku hanya menyuruhmu untuk tidak salah paham karena ini bukan apa-apa. Jika kau menanyakan itu, aku tak tahu cara meresponnya.” Kata Ji Wook kesal
“Menggodamu asik sekali.” Goda Bong Hee melihat Ji Wook salah tingkah.

Ji Wook berdiri dari tempat duduknya dengan kesal meraasa kalau  sudah terlalu baik kepadanya. Bong Hee pikir tak juga. Ji Wook merasa Bong Hee kalau berpikir dirinya gampang. Bong Hee mengaku kalau dirinya itu  nyaman dengan Ji Wook.
“Aku CEO-nya dan kau itu tidak lebih dari pegawaiku saja.”tegas Ji Wook
“Aku lupa sebentar kalau kau menginjak orang dengan statusmu.” Balas Bong Hee  Ji Wook
“Biarkan aku menyegarkan ingatanmu... pada saat kau masih jadi trainee Aku akan berlakukan sekarang.” Tegas Ji Wook. Bong Hee pun berjanji kalau akan bersikap baik.
“Kau bersikap kurang baik” balas Ji Wook. Bong Hee akhirnya meminta maaf karena melewati batas dan bersikap berlebihan.
“Apa Kau mabuk? kenapa kau berlebihan?” ucap Ji Wook heran
“Aku tak mabuk. Aku merasa berlebihan karena suasana hatiku baik. Aku belum berterimakasih dengan baik. Terima kasih..” Ungkap Bong Hee sambil gumam dalam hati.
“Kau selalu menyelamatkanku saat aku di ambang kematian” gumam Bong Hee.
Ji Wook meminta agar membalasnya dengan kerja keras. Bong Hee berjanji akan lakukan yang terbaik. Ji Wook pun memastikan agar Bong Hee bisa melakukan yang terbaik lalu berjalan pergi ke kamarnya.
“Pastikan kau mengunci pintumu.  Aku mungkin tidak sengaja masuk.” Goda Bong Hee. Ji Wook menatap dingin. Bong Hee pun mengaku kalau ia hanya bercanda dan bersikap berlebihan.  Ji Wook mengumpat kesal dengan sikap Bong Hee yang terus bersikap berlebihan.
Bong Hee masuk kamar lalu menuliskan dalam buku agendanya  [Selamat karena telah dipekerjakan dan menjadi jaminan.] wajahnya pun tersenyum bahagia. 

Ji Wook masuk ruangan mengatakan kalau ini adalah rapat pertama mereka sambil bergumam kalau Permulaannya selalu menegangkan. Bong Hee, Tuan Bang, Tuan Byun dan Eun Hyuk sudah berada didalam ruangan. Tuan Byun mengeluh Ji Wook yang  tak mau memecat Bong Hee. Bong Hee langsung menatap sinis pada Tuan Byun.
“Kenapa kau menatapku? Nona Kurang Bukti.” Keluh Ketua Byun. Bong Hee pun hanya bisa tertunduk dia,
“Kita merasa sengit dari awal, kan?” ucap Eun Hyuk tertawa bahagia.
“ Haruskah aku beritahu kau tentang rekrutmen? Kita butuh sekretaris, juru tulis...” kata Tuan Bang.
“Kita punya sekretaris, Nona Kurang Bukti.” Kata Tuan Byun menunjuk Bong Hee.  Bong Hee menegaskan kalau ia sebagai pengacara dengan lisensi.”
“Kau harus lakukan keduanya. Jika tidak suka ini, bayarlah untuk posisimu. Memang siapa yang mau bayar posisi dalam kerja? Kau harus lakukan itu karena kau akan membawakan efek negatif terhadap firma ini.” Ucap Tuan Byun
“Aku akan membuat laba, Ketua Byun.” Kata Eun Hyuk bangga. Tuan Byun pun memuji kalau hanya Eun Hyuk satu-satunya harapan mereka.
“Karena itulah kau harus membuatku jadi partner bernama. Daripada "Firma Hukum No Ji Wook", lebih baik "Firma Hukum Ji and No".” Kata Eun Hyuk. Ji Wook melirik sinis
“Apa mau "No and Ji" saja?” kata Eun Hyuk. Tuan Byun pikir kalau Harusnya "Byun and No".
“Ketua Byun, namanya harus "No, Ji, and Byun".”kata Eun Hyuk. Bong Hee pikir mereka juga harus memasukan namanya.
“Namanya jadi "No, Ji, Byun, Eun, and Bang". Aku menambahkan akhir namaku juga.” Kata Tuan Bang tak mau kalah.
Eun Hyuk akhirnya mengajak mereka agar membahas agenda selanjutnya. Tuan Byun memotong dengan melihat dua wajah Eun Hyuk dan Ji Wook yang babak belur berpikir kalau keduanya baru saja berkelahi. Eun Hyuk mengaku kalau memberi pelajaran kepada 20 atau 30 anak SMA.
“Sama juga denganku, aku memenangkan perkelahian melawan 37 orang dengan tanganku sendiri.” Kata Tuan Byun bangga. Bong Hee tertawa mengejek 
“Apa Kau barusan menertawakanku? Itu malam dengan hujan.Ada 37 preman di lingkunganku.” Cerita Tuan Byun bangga
“Permulaannya... sedikit terlalu ceroboh. Tapi ini... lebih dari ceroboh.” Gumam Ji Wook seperti berusaha menahan amarah.
“Ini adalah kesia-siaan! Bekerjalah!” teriak Ji Wook kesal karena tak ada yang serius dalam rapat pertamanya lalu keluar dari ruangan. 

Ji Wook minum di dapur, Tuan Byun mendekat dan bertanya apa hubungan dengan Bong Hee. Ji Wook binggung apa maksud pertanyaan. Tuan Byun mengaku kaalu sudah cmelihat semuanya tadi.
Flash back
Tuan Byun berbaring di lantai mengeluh Ji Wook yang tak mendengar ancamanya, agar memPekerjakan Eun Hyuk. Ji Wook tak peduli dan pergi begitu saja. Saat itu Bong Hee keluar dari kamarnya dan kaget melihat dua pria tua sudah ada diruang kerja. Tuan Bang binggung kenapa Bong hee keluar dari kamar bawah.
“Apa Kau tinggal serumah dengannya?” kata Tuan Byun heran.
“Dia tidak punya tujuan untuk pergi, jadi aku biarkan dia tinggal di sini.” Jelas Ji Wook. Tuan Byun merasa tak masalah dengan hal itu.
“Kau bisa jujur denganku. Apa Benar tidak ada apa-apa di antara kalian?” kata Tuan Byun seperti tak yakin. Ji Wook membenarkan. 

Bong Hee baru saja kembali, Eun Hyuk tiba-tiba memanggilnya dan bertanya darimana saja. Bong Hee mengakan kalau sedang menjalankan tugas kecil dari Kepala Bang dan juga harus mendapatkan sesuatu lalu pamit pergi.
“Hei... Kau tahu apa yang terjadi antara aku dengan Ji Wook, kan?” kata Eun Hyuk membuat Bong Hee terdiam mengingat kejadian sebelumnya. 

Flash Back
Bong Hee bertanya Siapa yang harus dicela. Ji Wook mengatakan kalau itu adalah temanya yaitu  Teman yang bersama Yoo Jung dimalam itu dan itu yang dimaksud adalah Eun Hyuk yang berada dalam kamar Yoo Jung sedang memakai kemejanya.
Bong Hee merasa kalau Eun Hyuk itu sungguh pintar dan cermat. Eun Hyuk mengaku kalau Itulah kekuatan juga kelemahannya, yaitu  Orang-orang tidak suka kalau dirinya pintar dan cermat. Keduanya pun duduk dibangku taman bersama.
“Ji Wook memanggilku untuk berterima kasih kepadaku. Dia mau aku melindungi kasusmu.” Cerita Eun Hyuk

“ Kurasa... Aku menjadi tersangka pembunuhan demi menyelamatkan kalian... kembali berhubungan.” Pikir Bong Hee.
“Benar. Aku sungguh tidak bisa cukup berterima kasih kepadamu.” Kata Eun Hyuk dengan tawa candanya.
“Aku tahu kau benci padaku.., tapi jangan terlalu benci.” Ucap Eun Hyuk
“ Itu bahkan bukan urusan cintaku. Aku tak punya hak untuk membencimu. Tapi Aku sungguh tidak suka bajingan dan jalang... Aku sungguh tidak suka orang yang selingkuh. Tapi kenapa kau selalu bercanda dan tertawa?” komenta Bong Hee heran
Eun Hyuk mengaku kala ia  tidak bercanda maka tak mungkin bisa  menemui Ji Wook dan ia tidak tahu cara lainnya. Bong Hee mengaku kalau ia memang ditakdirkan jadi pengacara dan sungguh tidak bisa menggambarkan dirinya sebagai jaksa maupun hakim.
“Daripada menuduh dan menghakimi orang dengan tindak kriminal mereka.., maka aku tipe orang yang memohonkan belas kasih. Aku lebih cocok jadi pengacara.” Komentar Bong Hee.
“Ini karena kau berhati baik.” Kata Eun Hyuk memuji.
“Teman kuliahku akan tertawa jika dengar apa yang kau katakan tadi. Aku pembunuh dan orang yang membunuh orang lain.” Ungkap Bong Hee dengan tawanya. 


Ji Wook sedang menikmati kopi di balkon atas melihat keduanya yang sedang mengobrol sambil tertawa. Eun Hyuk membahas Bong Hee yang berani menendang si pria mesum yang menganggunya. Saat itu Tuan Bang ikut melihat disamping Ji Wook.
“Mereka terlihat dekat.” Ungkap Tuan Bang. Ji Wook dengan sinis berkomentar kalau Tidak mungkin.
“Apa Kau cemburu?” ejek Tuan Bang, Ji Wook mengelak kalau yang dikatakan itu tidak masuk akal.
“Jika Bong Hee masih waras.., maka dia takkan pernah berteman dengan brengsek seperti Eun Hyuk. Ada apa dengan semua orang hari ini?” keluh Ji Wook. Tuan Bang hanya bisa tertawa. Ji Wook kesal melihat Tuan Bang tertawa mengejek.
Beberapa saat kemudian, Ji Wook sengaja menyiram air ke tanam yang membuat keduanya panik karena basah semuanya. Bong Hee ingin pergi lebih dulu karena membawa barang-barang yang baru dibelinya. Eun Hyuk pun menjerit agar Ji Wook menghentikanya. Ji Wook tak memperdulikanya kalau terus menyiramnya. 


Nyonya Park  sudah menyelesaikan pelatihannya. Pegawai lain memberitahu kalau bos mereka datang. Nyonya Park pun bersiap-siap dan membungkuk memberikan salam serta mengucapkan Terima kasih karena Tak ada yang mau mempekerjakanny pada usia senja. Tapi saat melihat wajah Nyonya Hong, umpatan dari mulutnya pun keluar.
“Senang bertemu Anda.” Ucap Nyonya Park mengubah ucapanya lebih dulu.
“Kau bilang "Sial. Senang bertemu Anda?"” ejek Nyonya Hong sebagai bosnya.
“Aku jadi suka menyumpah jika gugup.” Ungkap Nyonya Park menahan amarahnya.
“Apa kau yakin kita tidak pernah bertemu sebelumnya? Ahjumma. Lihat aku dengan matamu dan jawab aku. Apa benar kau pertama kali bertemu denganku?” ucap Nyonya Hong sengaja ingin mengujinya.
“Aku merasa... sudah terlahir lagi.” Kata Nyonya Park tak mengingat dengan Nyonya Hong.
Nyonya Hong mulai mengejek Nyonya Park yang bayi yang baru terlahir dan seharusnya menangis seperti bayi saja, yaitu  Bayi yang  punya keriput serta bayi tua dan kurang ajar dan meminta agar memberikan tepuk tangan. Nyonya Park pun hanya bisa diam saja.
“Ahjumma.., lebih baik kau waspada. Aku adalah jelmaan dari pembalasan.” Ucap Nyonya Hong
“Astaga, ini membuat frustrasi. Tapi aku akan membiarkannya kali ini.” Kata Nyonya Park ingin marah melepaskan celemek setelah itu mengikatnya kembali
“Aku adalah pekerja yang sangat disiplin. Aku mungkin tua, tapi aku akan berusaha untuk terus rapi.Aku hidup dari tangan hingga mulut, apa Anda tahu. Aku tidak mampu kehilangan gaji bulananku. Suamiku tidak menghasilkan uang dan terbaring di kasur.Tapi aku harus melayaninya karena dia adalah suamiku."cerita Nyonya Park 
" Puteriku mencoba yang terbaik.., tapi dia belum punya pekerjaan yang stabil. Sebagai orang tua, yang setidaknya bisa kulakukan adalah melayani diriku sendiri. Karena itulah aku berubah pikiran... dan memutuskan untuk tetap bekerja.” Tegas Nyonya Park menceritakan tentang kehidupanya.
Nyonya Hong yang memiliki hati halus merasa kalau Nyonya Park itu  sangat menyedihkan. Ia mengakui kalau merasa bersalah kepadanya tapi merasa jengkel juga dan itu membuatnya binggung.  Nyonya Park juga mengaku ingin jadi orang sombong tanpa jadi menyedihkan Seperti seseorang yang dikenal. Nyonya Hong berteriak kesal karena yang dimaksud adalah dirinya.
“Apa yang harus kulakukan terlebih dahulu?” tanya Nyonya Park. Nyonya Hong berteriak menyuruh pegawai barunya itu menemukan yang bisa dilakukan.
“Astaga, Anda pasti banyak makan ayam dan pizza. Karena Anda memiliki suara yang keras.” Ejek Nyonya Park . Nyonya Hong dengan bangga kalau pizza miliknya itu sangat enak.
Nyonya Park berjalan mengambil menu berpikir kalu Ayah dan Ibu. mengawasi anaknya dari atas sana tapi sekarang malah mengirimkan untuk berkerja di tempat Nyonya Hong. 
Seorang pelanggan sedang melihat ponselnya membahas kalau polisi  belum menangkap pelakunya. Teman yang lain pun merasa kalau keadaan ini sangat Menakutkan sekali. Nyonya Park ingin mengetahui apa yang sedang mereka bicarakan.

Si pelaku melihat berita ["Kematian Koki Terkenal Meninggalkan Tekanan Besar bagi Semua Orang"] dengan tatapan dingin. Lalu mengingat saat berbicara dengan Bong Hee.
Flash Back
Bong Hee ingin tahu alasan  Kenapa seseorang membunuh orang lain. Si pelaku juga ga tahu dan merasa tiap orang memiliki situasi dan alasan masing-masing. Bong Hee pun bertanya Situasi macam apa yang menyebabkan membunuh. 

Si pelaku duduk di dalam rumahnya, lalu menjawab pertanyaan Bong Hee yaitu Balas dendam pada si wanita, yaitu Hukuman yang masuk akal.
Flash Back
Saat si wanita masuk ke rumah dikagetkan dengan  koki yang sudah terbunuh di lantai dengan luka ditubuhnya. Setelah menjerit histeris melihat sesuatu di depan TV yang membuatnya panik dan kagett melihat ada tulisan dengan darah di foto Koki [Deuteronomy 22:25 -Buku kelima dari Alkitab]
"Namun jika seorang pria...bertemu dengan wanita dan berjanji untuk menikah dan memperkosanya.., maka hanya pria yang harus mati." Deuteronomy 22:25.
Si wanita seperti bisa menebak seseorang, lalu panik dan akhirnya berpikir kalau akan membuat seperti Perampokan dengan sengaja membuat ruangan jadi berantakan seperti baru saja di rampok dan dibunuh.  Ia pun berpikir kalau Sesuatu yang mahal pasti hilang.

Saat itu Jung Hyun Soo yang ditangkap atas tuduhan pembunuhan terhadap Yang Jin Woo serta punya hak untuk pengacara dan menentang penangkapan yang tidak sah. Hyun Soo pun sudah mengunakan pakaian tahanan dibawa masuk ke kantor jaksa, dengan banyak wartawan yang menganggapnya sebagai pembunuh sesungguhnya.
“Kudengar kau selalu menyangkal saat diinterogasi polisi. Ada saksi mata yang melihatmu saat itu. Kau mengirim paket untuk warga di Dong A Building One. Karena itu, salah satu warga... langsung menyadarimu.” Kata Yoo Jung. 

“ Dia adalah kurir pria dan” kata Nenek yang melihat seseorang keluar dari rumah mengunakan topi.
 “Bukan hanya itu. Dari jejak kaki yang ada di TKP sampai bukti dan DNA, semuanya menuju padamu. Yang ingin aku katakan adalah menyangkal tidak ada gunanya. Aku menuntutmu atas perampokan dan pembunuhan.” Ucap Yoo Jung
“Apa kau masih mau menggunakan hakmu untuk diam? Kupikir kau mendengarkan saat mereka membacakan peringatan Miranda. [ hak untuk diam]” kata Yoo Jung
“Kau takkan percaya jika aku mengatakan yang sebenarnya kan? Kau langsung melompat ke kesimpulan tanpa mencoba terlebih dulu. Aku sangat tahu itu. Jadi Aku mengakuinya.” Ucap Hyun Soo.
“Aku tidak percaya kepadamu Jung Hyun Soo” ucap Yoo Jung
“Akankah semua orang bisa mengerti dan mempercayaiku?” komentar Hyun Soo seperti pasrah kalau tak mungkin ada orang yang mempercayainya. 


Bong Hee mengemudikan mobilnya dengan wajah bahagia sambil bernyanyi, saat sampai di parkiran dengan bangga kalau Pengemudi yang andal harus bisa memarkirkan mobilnya dan ia berhasil dengan satu percobaan.
Ternyata Bong Hee bertemu ibunya. Nyonya Park tak percaya anaknya dapat mobil perusahaan menurutnya itu Tempat kerja yang bagus sekali. Bong Hee dengan bahagia mengatakan kalau bisa memakainya untuk bekerja. Nyonya Park juga tak mau kalah kalau bisa makan pizza semaunya. Akhirnya keduanya pun menikmati pizza bersama.
“Ketuanya bernama Byun Young Hee. Suaranya keras, pemikirannya sempit. Kau takkan percaya betapa kecil dan sempitnya itu. Membuat otakku meledak saja. “ keluh Bong Hee tentang Tuan Byun.
“Aku akan mengenalkan si ular berbisa. Setiap kata yang dikatakan bosku seperti bisa. Setiap kata yang diucapkannya seperti bom. Bahkan matanya kelihatan jahat. Mata bosku kelihatan berantakan. Wanita itu dingin sekali. Kau bisa merasakan energi dinginnya dari jarak 15 meter...” ungkap Nyonya Park terdiam karena merasakan Energi dingin. 
Nyonya Hong sudah berdiri dibelakang pegawainya lalu bertanya apakah Bong Hee itu anaknya dengan nada sinis, lalu mengejak kalau tidak tahu tiap orang bisa jadi pengacara jaman sekarang. Bong Hee merasa tersindir mendengarnya.
“Ibu. Baru-baru ini, ada keputusan yang memuat pelecehan di tempat kerja dapat diartikan sebagai kecelakaan di tempat kerja. Jadi Ingat itu. Dan Kementrian Buruh...menempatkan bersama rekomendasi untuk menghapuskan pelecehan di tempat kerja.” Kata Bong Hee sengaja menyindir
“Kau bicara itu untukku kan?” ucap Nyonya Hong kesal. Bong Hee mengelak kalau tak ada alasan mengatakannya.
“Setelah mencela seperti itu, kau mengatakan hal itu untuk... “ ucap Nyonya Hong dan dihentika karena ponsel Bong Hee dering dengan bangga kalau itu telp dari pekerjaan.


“Halo... Pengacara Eun Bong Hee sedang berbicara.” Kata Bong Hee. Ji Wook yang berbicara di telp sudah tahu karena ia yang menelpnya.
“Pengacara Noh! Ada apa? Langsung ke intinya.” Kata Bong Hee. Ji Wook kesal Bong Hee memanggilnya Pengacara Noh.
“Hei, berhenti jadi konyol dan cepat kembali ke sini.” Ucap Ji Wook. Bong Hee pun mengaku lupa kalau  ada meeting dengan klien dan akan segera datang.
Ji Wook yang mendengar perkataan Bong Heee merasa sudah gila. Sementara Ibu Bong Hee melihat anaknya seperti sangat keren. Bong Hee pun mengingatkan ibunya dengan perkataan tadi kalau  Pelecehan di tempat kerja dapat diartikan sebagai kecelakaan di tempat kerja. Nyonya Hong yang mendengarnya mengumpat kesal mendengarnya. 

Bong Hee dkk menonton berita “Polisi, yang menginvestigasi Tn. Jung yang ditangkap atas pembunuhan terhadap Koki Yang Jin Woo.., mengirim Tn. Jung untuk disidang hari ini...atas perampokan dan pembunuhan. Orang yang berada di persidangan mengatakan. menyangkal semua tuduhan dan bahwa detail-detailnya...
“Jadi Tersangka, Tn. Jung, mau aku mengambil kasusnya?” kata Bong Hee binggung, Semua hanya diam saja.
Bong Hee teringat dengan klien sebelumnya yang meminta pembelaan kalau mendengar Bong Hee yang membunuh pacarnya. Seorang Napi pun merasa Bong Hee  punya jalan sendiri karena tahu cara untuk keluar dari tuduhan pembunuhan.
“Orang-orang membicarakan itu dari waktu ke waktu. Mereka mengira aku sama dengan mereka karena aku pelaku pembunuhan.” Ucap Bong Hee.
“Kau berguna ternyata, Nona Kurang Bukti. Ini bisa digunakan untuk mempromosikan firma kita. “ kata Tuan Byun. Tuan Bang juga tahu kalau ada seluruh media
“Firma kita nanti akan dikenal.” Ucap Eun Hyuk mengebu-gebu.
Tuan Byun mengatakan sebuah pepatah "Menjadi terkenal..dan mereka akan memberikanmu tepuk tangan saat kau muncul." Eun Hyuk menebak itu ucapan Andy Warhol. Ji Wook menegaskan kalau bukan Dia yang mengatakan hal itu.

“Coba lihat.. Bahkan sesuatu yang tak kau katakan jadi terkenal saat kau juga terkenal.” Kata  Tuan Bang. Eun Hyuk pun setuju.
“Astaga, siapa yang tahu ternyata Nona Kurang Bukti bisa berguna? Pengacara yang pernah ditangkap polisi.” Kata Tuan Byun bahagia.
“Kau bisa berbagi ceritamu di sel tahanan.” Kata Tuan Bang
“ Pengacara yang dapat mengerti perasaan seorang pembunuh.” Ucap Tuan Byun. Bong Hee langsung menolak karena tak paham dengan mereka.
“Mereka terus memanggilku Nona Kurang Bukti.” Keluh Bong Hee kesal. 

Bong Hee melihat Ji Wook yang sedang berbiacara di telp, setelah menutup telp mengetuk untuk masuk dan bertanya apakah terjadi sesuatu terjadi. Ji Wook menceritakan kalau  ada Wanita muda menghina ibunya tadi. Bong Hee hanya mengeluh kalau wanita itu kasarnya. Ji Wook langsung bertanya apa yang dibutuhkanya.
“Aku mau menemui Jung Hyun Soo. Haruskah aku pergi sendiri?” ucap Bong Hee.
“Apa Kau tahu kenapa aku keluar dari firma dulu dan membuka praktek?” tanya Ji Wook.Bong Hee mengelengkan kepala
“Ini Untuk membuat yang lainnya melakukan semua pekerjaan. Itulah yang dilakukan CEO, Mereka terjebak dalam kehidupan pekerja.” Kata Ji Wook. Eun Hyuk pun akhirnya menawarkan diri untuk pergi bersama Bong Hee. 


Ji Wook tak ingin Eun Hyuk bersama Bong Hee, akhirnya ikut bersama dengan Bong Hee. Bong Hee pun tersenyum bahagia bisa pergi bersama dengan Ji Wook.
Sesampai di kanto kejaksaan bertemu dengan seorang petinggi, mereka pun menyapanya. Si petinggi mengaku kalau mendapat mimpi buruk semalam karena akan menemuinya seperti ini. Bong Hee memilih untuk pamit masuk lebih dulu. Ji Wook merasa kalau lebih benci melihat mantan atasanya. 
“Hei, Apa kau membawa dia kemana-mana?kenapa? ” kata si atasanya dingin.
“Aku bahkan tidak tahu.” Ucap Ji Wook lalu pamit pergi. 

Di lorong
Bong Hee tak sengaja bertemu dengan Yoo Jung dan menyapanya lebih dulu dengan nanyakan kabarnya. Yoo Jung mengaku Tidak baik dan bertanya balik. Bong Hee menjawab kalau  sangat baik.
“Aku akan langsung saja. Apa Kalian benar-benar pacaran?” tanya Yoo Jung
“Apa aku harus menjawab itu?” komentar Bong Hee. Yoo Jung pikir  punya hak untuk tahu.
“Kau bicara mengenai hak itu saat kau sedang dalam kerugian.” Tegas Bong Hee. Yoo Jung mengeluh kalau Ini Menjengkelkan. Bong Hee juga jengkel.
“Aku sungguh menyukaimu saat pertama bertemu denganmu Kenapa harus kau?.” Kata Yoo Jung. Saat itu Ji Hae melihat keduanya bicara dan sengaja bersembunyi untuk melihatnya.
“Itu yang ingin kukatakan. Aku juga menyukaimu. Dan kenapa dia harus mengencani wanita yang cantik? Itu membuatku marah.” Keluh Bong Hee. Ji Hae yang melihatnya heran dengan yang dikatakan oleh Bong Hee semua hanya omong kosong dan pergi.
“Jadi Kau tak mau katakan kepadaku? Aku bertanya apa kalian benar pacaran.” Kata Yoo Jung
Bong Hee terlihat gemetar dengan mata yang tak fokus mengaku kalau memang berpacaran. Yoo Jung melihat mata Bong hee kalau itu bohong. Bong Hee mengelak kalau yang dikatakan benar.
“Aku tahu itu. Dengan ada di sekitarku, Ji Wook takkan pernah...” ucap Yoo Jung dan saat itu Ji Wook datang.
Ji Wook mengaku kalau memang ada disekitar Yoo Jung dan memilih Bong Hee dengan memeluk lenganya. Bong Hee kaget tiba-tiba Ji Wook memeluknya.  Ji Wook pun mengajak Bong Hee untuk pergi. Yoo Jung menatap sedih karena melihat keduanya pergi. 


Bong Hee terlihat tegang sampai tak bisa bergerak. Ji Wook melihat Bong Hee kaget dan memastikan kalau keadaanya baik-baik saja karena Wajahnya aneh sekali. Bong Hee terlihat masih shock mengaku terkadang lupa bernafas dan bisa menghembuskan nafasnya.
“Bagaimana bisa kau lupa bernafas?” keluh Ji Wook heran
“Kau barusan memberiku waktu sulit dengan bertingkah seolah aku pacarmu. Apaan itu?” ucap Bong Hee binggung.
“Yah, kau tahu. Aku tak bisa membiarkan pekerjaku jadi pembohong.Ah.. Bagaimana mengatakannya? Apa Aku harus menuai benih yang kau tabur?” kata Ji Wook.
Bong Hee mengejek tak peduli dan berjalan pergi. Ji Wook pun berpikir kalau dirinya itu gampangan. Bong Hee membenarkan. Ji Wook pikir kalau sudah terlalu lemah lembut.Bong Hee melihat jamnya kalau sudah terlambat untuk wawancaranya dari tadi.

Di ruang interogasi
Bong Hee bertemu dengan Jin Woo membahas kalau Ada lebih dari 20.000 pengacara di negara Korea sekarang tapi Kenapa memilihnya padahal banyak pengacara yang lebih baik?
“Jika kau berencana untuk bertanya bagaimana caranya keluar dari tuduhan pembunuhan atau menanyai hal mengenai kurangnya bukti...” ucap Bong Hee yang membuat Jin Wook tiba-tiba tertawa. Bong Hee pun binggung kenapa tiba-tiba si pria malah tertawa.
“Aku membunuhnya, menusuknya. Inikah jawaban yang kau cari? Apa tidak ada cara lain daripada membuat tuduhan yang salah dan tawar menawar saja?” kata Jin Woo. Bong Hee hanya bisa terdiam.
“Pengacara Eun... Kupikir kau adalah satu-satunya harapanku.” Ucap Ji Won. Bong Hee terdiam mengingat kejadian sebelumnya. 

Flash Back
Bong Hee berbicara pada Ji Wook kalau pasti mempercaya kepadanya.  Ia yakin kalau Ji Wook itu percaya kepadanya. Ia merasa kalau Ji Wook adalah harapanya.
“Aku seorang kurir. Aku bahkan tidak bisa menghitung berapa kali aku memasuki lingkungan itu dan rumah itu. Karena Begitu seringnya aku ke sana. Mereka bilang itu buktinya... Itu bukti dari pembunuhannya.Begitulah cara mereka menangkapku dan membuatku duduk di sini.” Ucap Jin Woo
“Aku masih tidak mengerti kenapa aku duduk di sini sekarang. Aku bahkan tidak mengerti bagaimana bisa ini terjadi padaku. Sejujurnya, aku sangat kesepian dan Situasi ini membuatku takut.” Kata Jin Woo dengan menahan tangisnya.
Bong Hee terus menatapnya seperti bisa mengerti perasaan Jin Woo. Jin Woo pun mulai berpikir kalau pasti ada yang akan mengerti dan percaya padanya. Ia yakin  Pasti ada tempat dimana bisa bergantung.Bong hee kembali mengingta saat bicara dengan Ji Wook.
Flash Back
“Aku tak tahu kenapa ini terjadi padaku. Aku tak bisa percaya kenapa ini terjadi, aku takut juga. Tapi hanya kau yang bisa kuandalkan.” Ucap Bong Hee. 

Ji Hae binggung karena menerima pertanyaan apakah Bong Hee sungguh membunuh anak Pengacara Distrik. Yoo Jung merasa Bong Hee tidak kelihatan seperti orang yang mau melakukan itu. Ji Hae menegaskan kalau sudah jadi jaksa selama beberapa tahun.
“Aku bertemu banyak kriminal yang melakukan pembunuhan. Kesimpulanku... semua orang bisa membunuh. Tentu, beberapa orang dilahirkan untuk jadi psikopat dan menjadi brengsek gila. Kecuali mereka.., orang normal membunuh orang lain juga.” Jelas Ji Hae.
“Mereka membunuh karena tidak dapat menahan kemarahan yang tiba-tiba. Orang bisa mati dengan pukulan sederhana. Mereka membunuh karena kecelakaan. Beberapa orang membunuh untuk keluar dari kebencian dan karena uang. Oleh karena itu, jawabanku... Ya, Bong Hee membunuhnya. Ini bukan hanya berdasarkan perasaan pribadiku.., tapi juga karena keraguan yang masuk akal.” Jelas Ji Hae
“Aku tidak tahu inilah yang kau pikirkan tentangnya.” Pikir Yoo Jung masih tak percaya.
Ji Hae mengaku kalau  membiarkan ini terjadi sesuai kehendak hatinya tapi suatu hari pasti akan menangkapnya. Yoo Jung mengaku kalau dikatakn Jae Hae itu membantu atas perasaan bersalahnya. Ji Hae binggung, tapi Yoo Jung tak ingin membahasnya. 


Jin Woo menceritakan Pada sore saat insiden terjadi karena cuacanya bagus maka jalan-jalan ke taman. Ia duduk di bangku taman dengan banyak anak yang lalu lalang, Bong Hee dan Ji Wook mendengarkan dengan wajah serius.
“Anak perempuan bermain riang dengan balonnyadan berlarian. Mereka sangat lucu. Aku ingat bahwa film  "The Usual Suspects" dirilis. Jadi aku pergi ke bioskop untuk nonton.” Cerita Jin Woo sudah siap membeli tiket.
“Aku kembali lagi karena jam tayangnya tidak cocok denganku. Dan... aku makan makanan kaki lima hari itu. Aku makan tteokbokki. Aku minum kopi juga. Aku makan tteokbokki dan minum caffe mocha, serta menambahkan whipped cream diatasnya. Lalu aku minum di bar yang terkadang aku kunjungi.” Cerita Jin Woo yang makan toppoki ditaman dan pergi ke bar.
“Aku biasanya minum sendirian. Omong-omong, di bar.. ada pasangan yang sedang merayakan ulang tahun di sana.” Ungkap Jin Woo yang mengingat saat itu ada beberapa orang berkumpul dan selfie. Sementara Jin Woo duduk dibagian belakang mereka sendirian.
“Mereka membeli roti ultah dengan lilin di atasnya.” Cerita Jin Woo mengingat tentang alibinya. Ji Wook menatap klienya seperti ingin melihat apakah benar cerita bohong atau tidak.
Bersambung episode 12

FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09 
INSTRAGRAM dyahdeedee09  FANPAGE Korean drama addicted
                                                                                                                                                                                  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar