PS; yang udah baca blog / tulisan aku.. Tolong minta follow account IG aku yah dyahdeedee09 & Twitter @dyahdeedee09 jadi biar makin semangat nulisnya. Kamsahamnida.

Selasa, 25 Juli 2017

Sinopsis School 2017 Episode 3 Part 2

PS : All images credit and content copyright : KBS
Duk Soo memanggil Eun Ho yang minta pengurangan nilaimu dibatalkan . Eun Ho pikir Setidaknya harus berusaha. Sementara Sa Rang masih saja terkesima dengan Issue sebagai cowonya. Eun Ho dai Duk Soo mencabut rumput ditaman.
“Mau sampai kapan kita selesai mencabuti semuanya? Ini membuatku gila. Aku tidak sanggup lagi.” Keluh Duk Soo
“Kau tidak punya pilihan lain. Kenapa kau melakukan sesuatu yang akan membuatmu dilaporkan? Kau membuat suasana hatiku rusak. Semua ini salahku.” Ucap Eun Ho sambil memukul Duk Soo. 

Duk Soo mencoba menghindar dan Dae Hwi datang memberikan minuman pada keduanya,  Duk Soo mengucapkan terimakasih dan hampir mati karena dehidrasi. Duk Soo curiga karena Dae Hwi yang mendadak memberi minuman. Dae Hwi mengaku hanya merasa keduanya pasti akan kepanasan.
“Bukan karena.. kau merasa bersalah pada kami 'kan?” ucap Eun Ho curiga. Dae Hwi terlihat sedikit gugup.
“Hei.... Kami ini punya hubungan yang dekat.” Ucap Duk Soo memeluk Dae Hwi dengan bangga.
“Kalau ada cara untuk mengurangi pemotongan poin kalian.. aku akan memberitahu kalian.” Kata Dae Hwi. Duk Soo pun berterimakasih. 

Byung Joo membacakan puisi di depan kelas pada pelajar Guru Goo “Seperti kue beras yang lengket maka cinta juga akan membuat mereka lengket. Jangan merasa tertekan dan tetaplah bersama dalam keabadian. Selamanya.” Guru Goo akhirnya memanggil Eun Ho sebagai yang terakhir.
Oke. Yang terakhir. Ra Eun Ho.
“Judulnya. "Ini semua.. karena si X." Oleh Ra Eun Ho.” Kata Eun Ho. Semua pun diam mendengarnya.
"Ini semua karena si X. Pengurangan poin yang tidak seharusnya. Resiko akan dikeluarkan. Nilaiku jadi "busuk". Aku sudah menyerah pada  bangku kuliah. Ibuku sampai harus datang ke ruang guru. Harus berlutut karena seseorang. Orang yang menghancurkan.. masa SMA kita.. adalah seseorang bernama "X"... X... Saat aku memanggil namamu, kau pasti.. akan kuhabisi, mengerti? Kau akan mati, mengerti? Kau pasti akan mati.”
Semua yang mendengarnya bisa menahan tawa, saat itu juga Tae Woon dan Dae Hwi seperti mendalami puisi yang dibuat Eun Ho. 
Guru Goo pun selesai mengajar dan saat bel berbunyi Guru Shim masuk ruangan memberikan kunci pada Dae Hwi kalaulupa membawa kunci utamanya. Dae Hwi  mengaku juga harus menyerahkan semua formulir belajar mandiri dan Guru Shim pun pamit pergi. Eun Ho melirik dari tempat duduknya dengan wajah curiga.
“Ketua.. Kenapa dia memberikan kunci utamanya padamu?” tanya Eun Ho.
“Oh, aku harus ke beberapa ruangan sekaligus. Wakil Ketua Osis dan aku masing-masing pegang satu kunci.” Jelas Dae Hwi. 

Eun Ho curiga dengan Dae Hwi terus mengikutinya sampai ke belakang sekolah, sampai akhirnya ternyata melihat Dae Hwi yang bertemu dengan Nam Joo sembunyi-sembunyi. Dae Hwi bertanya alasan Nam Joo yang memanggilnya untuk datang. Eun Ho mencoba mengintip dari balik semak.
Nam Joo menarik Dae Hwi seperti ingin menciumnya, tiba-tiba Tae Woon sudah berdiri dibelakang Eun Ho bertanya apa yang dilakukaya. Eun Ho panik saat Tae Woon melotot yang dilakukan Nam Joo dan Dae Hwi. 


Dae Hwi menolak saat Nam Joo ingin menciumnya, terlihat binggung dengan sikap pacarnya. Nam Joo pun menanyakan alasan Dae Hwi ingin berpacaran denganya.  Dae Hwi terlihat binggung akhirnya mengaku kalau Nam Joo cantik.
“Kebanyakan orang akan menjawab, "Karena aku menyukaimu" saat mereka ditanya begitu.” Ucap Nam Joo terlihat kecewa.
“Apa aku membuatmu tersinggung? Aku menyukai segala yang ada pada dirimu. Kecantikanmu.. semuanya.” Jelas Dae Hwi. Nam Joo bertanya apakah memang Semua yang ada padanya. Dae Hwi pun memberikan kecupan di kening Nam Joo. 



Eun Ho jalan dengan Tae Woon dengan wajah gugup, lalu dengan terbata-bata bertanya apakah Tae Woon pernah berciuman. Tae Woon pikir Eun Ho gila menanyakan pertanyaan itu. Eun Ho mengartikan Tae Woon yang juga belum pernah.
“Tentu saja. Bukan cuma aku yang belum pernah ciuman.”kata Eun Hoo. Tae Wook pikir Eun Ho makin gila mengartikan hal itu.
“Tentu saja aku pernah... Bahkan anak SD pun pernah.” Kata Tae Woon. Eun Ho berbicara sendiri kalau  Anak-anak sekarang gesit juga rupanya.
“Kenapa? Apa kau.. mau berciuman dengan  si Jong "Burung" itu atau apa pun itu?” kata Tae Woon dengan nada tinggi.
“Kenapa memangnya? Itu 'kan bukan urusanmu. Bukan urusanmu, aku mau bergulat dengannya atau mau menciumnya. Jangan ikut campur.” Kata Eun Ho.
Tae Woon menegaskan Eun Hoo masih di bawah umur tahu. Byung Joo sambil meminum susu datang bertanya apa yang ingin dilakuan Eun Ho dengan seekor burung.Eun Ho yang gugup memilih untuk pergi.
“Apa Eun Ho memelihara burung? Wah, kau benar-benar pejuang lingkungan yang hebat. Haruskah aku memelihara burung juga?” ungkap Byung Joo polos. Tae Woon hanya bisa melarang Byung Joo melakukanya. 


Keluarga Ra bersiap-siap untuk berjualan ayam, Tuan  Ra merasa kalau Eun Ho lapar dan ingin melihatnya. Nyonya Kim dengan pisaunya memperingatkan Tuan Ra agar tak menganggunya Eun Ho karena mereka harus tenang dan memastikan agar tetap nyaman, serta Jangan sampai mereka  membuatnya stres.
“Benar. Ini demi masa depannya.” Ucap Tae Sik. Nyonya Kim memperingatakan kalau mereka tak boleh menganggunya.
Eun Ho berada di kamar, Tuan Ra masuk memberikan makanan meminta anaknya agar jangan menghiraukan dan terus mengambar. Lalu ibunya ikut memasuk membawa segelas teh hangat, agar Ini membantu berkonsentrasi.
Tae Sik ikut berdiri di depan pintu. Eun Ho kesal melihatnya. Tae Sik memperlihatkan selembar uang kalau itu sudah seperti nyawa bagikny. Eun Ho terlihat bahagia mengambilnya, Tae Sik menasehati Eun Ho agar meLakukan yang terbaik untuk kompetisinya. 

Sa Rang duduk di halte sambil mengoceh "Nama macam apa itu Cherry on Top?" den berpikir kalau itu Anggota cadangan dan mengumpat kalau Mereka semua pasti sudah ingin mati. Kyung Woo datang bertanya siapa yang dilihatnya. Sa Rang pun mendekat memperlihatkan ponselnya kalau itu adalah “Issue-ku tercinta.”
“Bukankah dia tampak bersinar? Bukankah dia keren?” kata Sa Rang, Kyung Woo langsung mengelengkan kepala. Sa Rang yang kesal memilih untuk menjauh.
“Tariannya tidak sesuai dengan Nada dan suaranya tidak cocok dengan lagunya.” Ucap Kyung Woo. Sa Rang makin kesal mendengarnya.
“Suaranya lebih bagus darimu, tahu.” Kata Sa Rang. Kyung Woo pun hanaya diam saja. 

Sa Rang memberikan pijatan pada Eun Ho kalau Ini akan membuat tubuh dan jiwanya rileks dengan bangga kalau dirinya adalah ahli kalau soal ujian. Eun Ho pun mengucapkan terimakasih dengan merasakan senang merasakan pijatan dari temanya.
“Kau ikut tes di mana lagi sekarang?” tanya Eun Ho. Sa Rang mengatakan  Perekrutan PNS di Chungnam dan Gyeongbu dan Dua malam. Eun Ho bertanya apakah itu maksudnya 3 hari.
“Aku sudah mulai bosan” keluh Eun Ho. Sa Rang memijat bagian kepala kaau ini akan menjernihkan Eun Ho karena ia hanya pergi 3 hari saja.
**
Guru Goo masuk ke dalam kelas, Sa Rang sedang memijat melonggo dan menutup wajah temannya karena terkesima.  Dengan wajah terpanan, Sa Rang mengatakan Mungkin  tidak akan ikut ujian kali ini dan tidak ingin meninggalkan sekolah ini bahkan sedetikpun.
“Kita kedatangan murid pindahan. Dia adalah seorang penyanyi terkenal. Jadi Siapa namamu?” ucap Guru Goo mencoba memperkenalkan murid baru.
“Issue.... Hai teman-teman... Aku baru pindah hari ini... Namaku Kang Hyun Il. Senang bertemu dengan kalian.” Kata Issue memperkenakan diri. Sa Rang melihat Idolnya tak bisa menutupi kebohongan kalau sangat menyukainya. 

Eun Ho mempersiapkan Buku sketsa, Tiket dan siap berangkat. Tae Woon sambil berjalan bertanya apakah Eun Hao akan pergi ke acara kompetisinya, lalu dengan nada mengejek agar memastikan tak ada yang terlupa dengan panggilan bodoh. Eun Ho kesal dipanggil bodoh.
“Apa Kau sebegitu sukanya mengusili orang?” keluh Eun Ho kesal, Tae Woon mengaku tak seperti itu.
“Aku hanya suka mengusili orang-orang bodoh saja.” Kata Tae Woon. Eun Ho pikir kalau dirinya lebih dewasa jadi harus sabar.
Eun Ho sudah siap pergi tapi melihat ban sepedanya yang kempes lagi, saat itu juga mengambil helm dan mendekati Tae Woon seperti ingin menumpang. Tae Woon menyuruh Eun Ho agar naik bus saja dan Jangan naik sepeda tua itu lagi.
“Aku tidak bisa naik bus... Bisa tidak aku...” ucap Eun Ho berusaah merayu.
“Aku sibuk sekali mulai detik ini. Aku harus belajar supaya bisa lebih dewasa.” Kata Tae Woon.
“Hei, jantanlah. Jangan jadi cowok pelit. Aku membuatmu kesal, benar'kan? Tentu... Kalau jadi kau, aku juga akan kesal.” Ucap Eun Ho terus mencoba agar Tae Woon mau mengantarnya.
“Jadi, dirimu yang sudah dewasa ini.. Tidak bisakah kau mengantarku? Aku tidak boleh sampai telat ke acara kompetisinya.” Kata Eun Ho
“Kau harus bilang "Kumohon beri aku tumpangan, Oppa” kata Tae Woon. Eun Ho pun tak bisa memanggil temanya sendiri “Oppa”
Tapi akhirnya Eun Ho pun diantar sampai ke tempat kompetisi dan langsung turun dari motor lalu berlari masuk. Tae Woon melihat Eun Ho masih mengunakan helm ingin memberitahu untuk melepaskanya. Eun Ho kembali berlari pada Tae Woon, dengan gaya genitnya mengucapkan terimakasih. Tae Woon hanya bisa tersenyum melihat tingkah Eun Ho yang lucu, lalu mengirimkan pesan “Lepaskan helmnya dan bersikaplah dewasa.” 



Bit Na dan teman lainya mendatangi guru Shim kalau pasti tahu siapa orangnya dan berjanjitidak akan mengatakannya pada siapapun. Guru Shim menegaskan kalau tidak bisa mengatakannya. Bit Nam pikir tidak adil kaena Yang menerima dan mempercayai semua laporan itu guru Shim.
“Apa Bapak sudah memeriksa..fotonya asli atau tidak? Itu bisa saja dipalsukan.”kata Bit Nam membela diri.
“Bapak ragu mereka akan memalsukannya. Jadi Mari kita saling percaya.” Kata Guru Shim.
“Sekolah jadi kacau begini karena Ra Eun Ho. Kudengar Eun Ho kemungkinan adalah kaki tangannya X?” ucap Guru Jang seperti di sengaja. Guru Shim langsung berteriak memperingatkan guru Jang kalau Itu tidak benar.
“Apa maksudmu tidak benar? Kudengar sistem pengurangan poin ini dilakukan untuk menangkap X.” Kata Guru Jang. Guru Jung langsung berpura-pura kalau ada lalat yang lewat
“Kenapa Eun Ho.. sampai melakukan itu? Kenapa dia menyebabkan semua kekacauan ini?”komentar guru lainya. Guru Jang juga berpikiran yang sama.
Bit Na langsung menyimpulkan kalau semua karena Eun Ho, Guru Shim menegaskan kalau itu bukan karena Ra On. 


Akhirnya Bit Na kembali ke kelas langsung melabrak Eun Ho kalau semua itu terjadi karenanya. Eun Ho dibuat binggung. Bit Na mengaku kalau mendengar sistem pelaporan dan pengurangan poin ini bisa ada karena Eun Ho, dikarenak sekolah ingin menangkap X. Eun Ho menjelaskan bukan seperti itu.
“Sistem poin ini ada.. karena dia. Kepala Sekolah dan dia berkonspirasi untuk membuat kita menangkap si X dengan tangan kita sendiri. Kau dengar juga, 'kan?” ucap Bit Na meminta saksi. Temanya pun mengaku kalau bisa mendengarnya.
“Kita saling serang karena kau. Hei! Apa yang akan kau lakukan pada nilai-nilai sekolahku? Eun Ho! Sebaiknya kau bereskan semua ini.”teriak semua anak yang menyudutkan Ra On. Tae Woon hanya menatap dengan senyuman mengejek.
“Sudah cukup,  Kita masih belum tahu kepastiannya. Jadi hentikan semua ini. Lagipula X 'kan belum tertangkap.” Ucap Dae Hwi membela.
“Itu sudah pasti, Pak Shim yang bilang. Apa yang akan kau lakukan sekarang?” kata Bit Na merasa Eun Ho pasti senang. 


Eun Ho duduk ditaman lalu 3 pria mendekatinya lalu bertanya siapa mereka. Salah satu pria memberitahu kalau ia adalah kaka seniornya dengan memperlihatkan name tagnya.  Ia memberitahu kalau Ujian masuk kuliah sudah di depan mata dan mereka harus dibuat stres karena adanya sistem pengurangan poin ini.
“Kami adalah anak-anak kelas 3 yang stres. Tapi kau sepertinya santai sekali.” Ucap Si senior. Eun Ho menegaskan kalau bukan ia. Tapi si senior tak percaya merasa Eun Ho yang berbohong lalu mengambil buku gambar Eun Ho.
Eun Ho meminta dikembalikan tapi karena pendek tak bisa mengambilnya, saat itu Tae Woon datang bisa mengambil buku gambar milik Eun Ho dengan mengeluh kalau Ini benar-benar menjengkelkan. Kakak kelasnya menyuruh Tae Woon untuk mengulanginya.
“Persis seperti apa yang kau dengar. Aku merasa jengkel padamu.”ucap Tae Woon. Si senior tak terima karena berani bicara pada yang lebih tua.
“Aku memang sudah kurang ajar dari sananya. Aku tidak punya etika. Aku memang berengsek. Jadi kalau kau masih mau hidup, enyahlah sana.” Kata Tae Woon.
Si senior mulai menyerang, tapi Tae Woon bisa membuat seniornya jatuh. Dengan wajah tak terima si senior menegaskan bahwa Ini namanya kekerasan di sekolah. Tae Woon pun tak takut agar melaporkan saja  dan pasti seniornya itu akan dikeluarkan karena sekolah ini miliknya.

Eun Ho pun hanya diam saja. Salah satunya tahu kalau Tae Woon adalah anak direktur sekolah. Salah satunya pun hanya bisa mengancam Eun Ho lalu bergegas pergi. Tae Woon pun mengembalikan buku gambar milik Eun Ho dan Eun Ho pun melangkah pergi. 
Eun Ho masuk kelas dengan wajah sedih melihat lokernya kalau sudah banyak air dan membuat semua bukunya basah. Bit Na yang melihatnya, tersenyum licik bisa membalas dendam. Akhirnya Eun Ho pergi ke ruangan Kepsek dengan wajah kesal.
“Bapak 'kan sudah janji akan menghapus semua pengurangan Poinku kalau aku berhasil menangkap X.” Ucap Eun Ho marah
“Eun Ho... Kau akhirnya sadar juga.” Ucap Kepsek Yang
“Hapus semua pengurangan poinku dan tulislah rekomendasi untukku. Katakan bahwa aku ini adalah orang yang berjasa menegakkan kedisiplinan di sekolah ini.” Ucap Eun Ho. Kepsek Yang menyetujuinya.
“Dan Bawa saja si kunyuk itu ke sini.” Kata Kepsek Yang. Eun Ho menegaskan akan membawanya Bagaimanapun caranya.


Tae Woon berdiri di pakiran melihat Eun Ho merasa kalau seharusnya berterima kasih tadi. Eun Ho yang sinis mengaaku tidak akan berterima kasih. Tae Woon dibuat kesal mendengarnya.
“Tunggu saja sampai aku berhasil menangkap.. X atau Y, atau siapalah itu. Maka Akan kubunuh dia.” Tegas Eun Ho penuh amarah lalu pergi dengan sepedanya. 

Tae Woon berdiri diatap gedung, teringat kembali kenangannya dengan jam tangan berwarna biru.
Flash Back
Tiga jam tangan dipakai bersama-sama, Tae Woon, Dae Hwi dan satu teman lainya, mengelukan nama Im Joong Gi. Mereka berpelukan kalau dengan berkata kalau  Ini bukan jam persahabatan atau semacamnya.
Lalu mereka naik motor bersama, terlihat ada sesuatu yang terbakar. Tae Woon menelp ayahnya kalau Ada sebuah kecelakaan dan Joong Gi, terlihat Tae Woon yang tergeletak berteriak histeris memanggil Joong Gi.
Tae Woon menangis mengingat temanya, Eun Ho pergi ke tengah jalan tepat di bawah tiang menaruh sebuah bunga dan berdoa. Dae Hwi menatap ponselnya membaca sebuah berita “Balapan liar di jalan telah menewaskan satu orang” sebuah jam tangan masih disimpan olehnya. Saat kejadian, Dae Hwi berteriak bertanya apa yang terjadi pada Tae Woon.
Tae Woon dibawa oleh beberapa orang, dan di bagian kalender kalau hari ini adalah peringatan 1 tahun kematian Joong Gi. Lilin dinyalankan didepan foto kebersaan ketiganya. 


Tae Woon datang dengan motornya, sang ayah sudah berdiri dipakiran.  Tuan Hyun mengomel kalau sudah memperingatkan jangan  mengendarai motor itu dan mengeluh anaknya yang memilih hobi yang membahayakan seperti itu. Tae Woon terlihat marah dengan perbuataan yang dilakukan ayahnya.
“Berhenti naik motor tidak akan bisa mengembalikan keadaan.” Kata Tae Woon
“Ayah tidak tertarik pada semua itu, jadi berhentilah bersikap angkuh. Ayah tidak akan berubah pikiran.” Tegas Tuan Hyun.
“Karena itulah aku berusaha menemukan sesuatu yang besar, karena Ayah tidak akan berubah karena sesuatu yang kecil.” Balas Tae Woon. 

Semua baru saja selesai belajar, Eun Ho  sibuk mengeringkan bukunya. Tae Woon masuk dan melihat tasnya yang jatuh dan sangat marah ketika meliat jam tanganya jatuh dan pecah. Ia langsung melempar kursi dan bertanya siapa yang melakukan itu padanya.
“Mengakulah selagi aku masih bicara baik-baik. Siapa yang merusak ini?” teriak Tae Woon langsung menendang meja dan menuduh siapa yang melakukanya. Semua terlihat ketakutan.
“Apa kelihatannya suasana hatiku sedang baik sekarang? Katakan padaku siapa yang melakukannya. Siapa yang merusaknya, brengsek!” teriak Tae Woon marah
“ Sudah cukup!” ucap Dae Hwi sebagai ketua kelas lalu melihat jam tangan milik Tae Woon, seperti berusaha menahan rasa sedihnya.
Akhirnya Dae Hwi menyuruh semua keluar Tapi Tae Woon mengancam kalau ada yang keluar maka mereka semua akan mati. Dae Hwi berteriak menyuruh semua keluar. Akhirnya mereka semua pun keluar dari ruangan. Eun Ho seperti tak ingin pergi, tapi Duk Soo menariknya agar meninggalkan keduanya. 

Tae Woon langsung mengancam Dae Hwi yang ingin mati, Dae Hwi mendekat meminta Tae Woon agar berhenti. Tae Woon menyuruh Dae Hwi diam dan  menegaskan Suasana hatiku sedang buruk sekarang.
“Kalau kau memakai.. sampah itu, apa semua dosamu akan hilang juga?” kata Dae Hwi
“Kau bilan ini Sampah? Kau sebut itu "sampah"?!!” ucap Tae Woon tak terima.
Eun Ho berjalan keluar tapi terlihat tak tenang, akhirnya  menyuruh Duk Soo pergi lebih dulu dan kembali berlari masuk ke dalam gedung. Tae Woon dan Dae Hwi pun mulai berkelahi dalam kelas, saling memukul dan menendang.

Dae Hwi dengan wajah babak belur, mengumpat Tae Woon yang pengecut. Tae Woon memperingatkan Dae Hwai agar diam sebelu menghancurkanya.  Dae Hwi pikir memang Itulah rencananya, karena ingin menghancurkan sampah sekolah ini.
“Pasti akan sangat menyenangkan.. kalau anak-anak tahu apa yang sudah kau lakukan.” Ucap Tae Woon.
“Diamlah kau, Pembunuh.” Balas Dae Hwi. Keduanya pun kembali berlari saling mendorong dan berguling. Eun Ho masuk kelas melongo tak percaya keduanya bisa berkelahi. Tae Woon dan Dae Hwi saling menatap seperti ingin saling membunuh.
Bersambung ke episode 3

 FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar