Jumat, 11 Agustus 2017

Sinopsis Manhole Episode 1 Part 1

PS : All images credit and content copyright : KBS
Sebuah titik hijau masuk dan berterbangan seperti kunang-kunang, berjalan dengan kecepatan cahaya mengelilingi kota Seoul. Di sebuah kamar, Bong Pil terlihat mabuk lalu berjalan keluar kamar melihat ke arah balkon. Kang Soo Jin sudah mengunakan Hanbook, ibunya menyuruh agar diam dikamar sebagai Pengantin wanita Soo Jin  ingin membantu.
“Omong kosong, Kau sudah membantu dengan duduk diam di sini. Jangan keluar sampai pengantin priamu datang.” Ucap Ibu Soo Jin dan bergegas keluar.
 [Bong Phil, 28 tahun “Selama tiga tahun, dia belajar untuk ujian PNS. Pusat dari kisah ini, si tokoh utama.”]
Sebuah titik seperti kunang-kunang berjalan didepanya dan ingin mengambilnya, tapi benda itu pergi begitu saja dan melesat pergi. Phil hanya bisa menghela nafas.
“Cintaku menghilang layaknya bintang jatuh. Seperti anggur ginseng berusia 20 tahun milik ayahku, setiap kali seseorang membuat anggur, ia pastilah berharap rasanya semakin manis dari waktu ke waktu. Namun cinta di dalam hatiku, sangatlah pahit bagaikan cawan penuh racun.” Gumam Phil melihat Soo Jin duduk dikamar.
Soo Jin keluar dari kamar, Phil buru-buru bersembunyi. Soo Jin ingin tahu karena ada teriakan dari luar untuk membeli kotaknya.
“Kang Soo Jin, sudah 28 tahun... Ya, 28 tahun telah berlalu. 28 tahun lalu, aku percaya kisah cinta kami dimulai. Kami terlahir berselang tiga hari... di rumah sakit yang sama. Selama 28 tahun kita menggunakan ranjang yang sama. Aku terus menunggu waktu yang tepat untuk mengungkapkan perasaanku. Namun secara mengejutkan, dia mengatakan akan menikah... dengan pria lain, beberapa bulan lalu.” Guman Phil. Soo Jin terlihat bahagia dan kembali masuk ke dalam kamar.
“Manusia hanya memiliki satu kesempatan dalam hidup. Dan hidup tidak akan selalu berjalan sesuai kehendakmu.” Gumam Phil melihat kembali ke arah kamar Soo Jin dan mengumpat kesal karena tidak tahan dengan semua kebisingan ini.
Benda hijau peri ke sisi kota Seoul, lalu melewati lorong dengan cepat dan naik ke atas lalu jatuh ke bawah penutup aliran air dibawah. Seperti sebuah tanda kalau tempat itu sudah ada kekuatan tertentu. 


 [Episode 01 : My Love is Leaving]
Di depan rumah Soo Jin sedang ada upacara penyambutan calon pengantin pria. Phil keluar dari rumah sambil berteriak marah, kalaau itu Berisik dan tidak tahan. Mereka semua hanya bisa melonggo binggung.
“Memangnya kalian menyewa seluruh gang ini? Apa yang kalian lakukan tengah malam begini? Beraninya kalian membuat keributan seperti ini?” ucap Phil marah. Salah satu anggota tak ingin mengabaikan Phil menyuruh mereka melanjutkan upacara lagi. Phil akhirnya menarik spanduk yang dibawa sampai terjatuh.
“Apa kau sadar pukul berapa sekarang? Jam berapa sekarang?” ucap Phil. Si pria dengan topeng cumi mengatakan ini 9 malam.
“Kalau memang pukul 9 malam, apakah lantas kau berhak mengenakan pakaian seperti ini dan menciptakan keributan di lingkunganku? Memang apa hebatnya pernikahan? Itu. ...tak lebih dari kuburan bagi masa muda kalian, idiot!” ucap Phil. Si pria tak tahan bertanya siapa Phil yang berani menganggu upacara, saat itulah Soo Jin datang.
[Kang Soo Jin, 28 tahun. "Femme fatale"(sebutan tokoh wanita dengan kepribadian mengerikan.) di lingkungan ini. Cinta pertama Bong Phil, namun hanya memiliki 1 minggu sebelum pernikahannya digelar.]
Ibu Soo Jin menyuruh anaknya masuk, Seseorang berteriak memanggil Bong Phil. Bong Phil kesal mendengar namanya di panggil.  Sepasang pria dan wanita datang memanggil Bong Phil dengan membawa botol kosong yang dihabiskan anaknya.
“Orang tuanya Bong Phil. Calon pensiunan pegawai pos dan seorang ibu rumah tangga. Sudah sejak lama menyerah akan kelakuan putra mereka.”
Botol pun dileparkan kearah Bong Phil, Bong Phil berusaha untuk menghindar. Saat itu Bong Phil mengingat Hari di mana sesosok monster yang tidak mengerti cinta, akhirnya menjadi seorang manusia.


Flash Back
Bong Phil menatap  Soo Jin yang duduk disampinganya,  Saat kelas tiga. Ketika Soo Jin diperintah duduk di sampingnya maka  mendadak memahami arti cinta. Dengan cara yang radikal namun jujur, maka menunjukkan kesadarannya tersebut.
“Namun, saat itu aku terlalu progresif, di saat Soo Jin amat konservatif (kuno). Soo Jin menangis selama dua jam tanpa henti saat duduk di sampingku, sebab itu aku mengatakan padanya akan bertanggung jawab.” Cerita Phil.
Soo Jin yang masih kecil memberikan tamparan pada Phil. Saat itu Phil merasakan segala sesuatu menjadi tidak terprediksi. Setelah saat itu seperti ia merasakan trauma untuk menyampaikan perasaan sukanya. 


Di dapur, Ibu Phil sibuk membuat sarapan sementara Tuan Bong sedang menghitung uang untuk semua tagihan. Phil masih ada dikamar melihat isi dompetnya masih kosong dan saat menurun tangga memanggil ayahnya, tapi ayahnya sudah menghilang dari ruang tengah. Lalu ia memanggil Ibu dan Ibu Phil sudah tak ada di dapur.
“Mereka berdua di sini rupanya.” Ucap Bong Phil mencarinya, tapi tak menemukan akhirnya memilih untuk pergi. Keduanya pun keluar dari persembunyian seperti sengaja menghindar dari anak mereka. 

Phil berjalan terlihat sebuah mobil truk yang terparkir, Yoon Jin Sook membahas Phil yang membuat masalah saat perayaan Soo Jin dan Itu berita buruk untuknya Padahal selama ini menghabiskan waktu padanya, bagaikan lalat yang mengitari kotoran.
“Hei! Perumpaanmu itu benar-benar menjengkelkan!” ucap Phil kesal
“Tapi memang sekacau kotoran” pikir Jin Sook
“Berhentilah bicara soal kotoran. Hentikan!” tegas Phil marah
“Kau pasti sangat sedih. Aku akan membuatkanmu jus, minumlah sebelum pergi.” Ucap Jin Sook
“Kau blender saja jusmu itu, lalu minum sendiri, mengerti?” kata Phik. Jin Sook kesal temanya itu berani bicara itu padanya.
[Yoon Jin Sook, 28 tahun, Dia lahir dan tumbuh di lingkungan tempat tinggal Phil.Seorang teman yang tahu segala sesuatu tentangnya.]


Phil datang ke tempat ruang belajar menemui temanya, Jo Suk Tae bertanya apakah memiliki rokok.  Suk Tae membahas tentang Soo Jin menggelar perayaan. Phil merengek agar Suk Tae memberikan rokok.
“Apa Pernikahannya minggu depan?” ucap Suk Tae. Phil tetap meminta rokok.
“Tapi aku tidak punya pakaian pantas untuk ke pesta pernikahan.” Kata Suk Tae seperti tak mendengar ucapan Phil. Phil mengumpat marah bertanya apakah Suk Tae punya rokok atau tidak.
“Lupakan soal pernikahannya! Rokok, rokok!” teriak Phil. Suk Tae kaget melihat Phil yang terus berteriak dan akhirnya bertanya pada teman lainya apakah punya rokok.
[Jo Suk Tae, 28 tahun. Belajar mempersiapkan ujian PNS selama 6 tahun. Hidupnya tampak tidak memiliki harapan.] 

Akhirnya Suk Tae membantu menyalakan rokok di mulut Phil dengan membahas rasio kelulusan adalah 268 : 1 jadi merasa pasti akan mencapai usia 30 tahun sebelum berhasil lulus ujian ini. Phil pikir ujian itu bagus lalu kembali kesal karena tak bisa menyalakan rokoknya.
“Kau sibuk belajar untuk ujian tidak masuk akal ini. Tapi kau berbohong ke Bongbong Pub soal ujian ini.” Kata Phil kesal
“Hei, semua ujian PNS itu sama saja. Hakim dan Jaksa kan juga pegawai negeri. Kau kan juga belajar untuk PNS tingkat sembilan.” Ucap Suk Tae
“Hei, aku belajar untuk jadi Polisi. Kau dan aku sepenuhnya berbeda.” Kata Phil membela diri
“Kau bilang Polisi? Hei, bagaimana kalau aku belajar dengan keras kemudian lulus, sedangkan kau gagal?Aku akan menjadi PNS, sedangkan kau pengangguran. Setelah itu baru kau dan aku jadi berbeda. Bukan begitu?” kata Suk Tae
“Hei, sudah kukatakan padamu. Siapa yang tidak akan berhasil akhirnya. Itu kau. Jadi, berhentilah bermimpi, bocah tengik!” umpat Phil kesal lalu berjalan pergi.
“Hei, dibandingkan aku kau lebih terlihat tidak mampu. Selama bertahun-tahun kau menyukai Soo Jin. Tapi, pada akhirnya dia menikahi orang lain.” Kata Suk Tae.
Phil yang marah mencengkram baju Suk Tae ingin berkelahi karena berkata sekejam itu pada temannya, saat itu seorang pria melihatnya langsung memarahi karena sedang konsentrasi belajar tapi mereka malah mengganggu orang-orang yang sedang belajar.
“Enyah sana kalau tidak mau belajar, idiot!” teriak Si Pria. Phil melihat si pria yang sudah tua bertanya pria itu sedang bersiap mengikuti ujian apa. Suk Tae mengelengkan kepala.
“Tingkat tujuh! Petugas Kejaksaan. Kalian berengsek!” teriak Si pria marah memperlihatkan buku tebal yang harus dipelajarinya. 


Phil duduk bersama dengan Jin Sook dan Suk Tae sambil makan ramyun. Jin Sook menyuruh agar memBunuh pengantin prianya. Phil tak mungkin bisa membunuhnya, lalu mengomel Inilah sebabnya, Suk Tae sibuk menyiapkan ujian selama 6 tahun dan Jin Sook sendiri menjual jus.
“Hei, jangan bandingkan aku dengan dia. Aku ini Presdir Yun., seorang Wirausahawan muda. Dan juga, kenapa kau makan ramyeon di meja kedaiku?” ucap Jin Sook pada Suk Tae menyuruh  Pergi ke toko kelontong!
“Di sana terlalu berisik.” Kata Suk Tae lalu mengambil mie milih Phil untuk dihabiskan.
“Phil.. Kalau begitu, bagaimana caramu menghentikan pernikahannya? Tinggal 2 hari lagi.”kata Jin Sook seperti mustahil.
“Aku... aku akan menghentikannya. Kau akan lihat. Aku akan menghentikannya.” Kata Phil yakin
“Benar. Phil akan melakukannya. Jangan khawatir. Apa kau tidak ingat? Dia jatuh saat lomba maraton 1,000 meter. Kemudian, sekolah kita jadi gagal ikut seleksi nasional. Phil itu hebat soal menghentikan (menghalangi) sesuatu. Oh, yah.. dia pintar soal kartu kredit juga. Dia membayar tagihan kartu kredit dengan kartu lainnya. Sebab itu, jangan khawatir. Aku mengerti dia.” Ungkap Suk Tae santai
“Apa ramyeon ini membuatmu mabuk?” kata Phil sambil menepuk pundak Suk Tae. Suk Tae sedang menyeruput kuah ramyun, menjerit kesakitan karena terkena air panas. Jin Sook pun panik melihat Suk Tae seperti terkena luka bakar. 


Jin Sook langsung mengomel karena dagu Suk Tae  melepuh, dengan menempelkan plester pereda sakit. meminta agar Jin Sook menolong mengobatinya.
“Hei, kau sudah banyak mengganggu Soo Jin. Kau, jangankan 28 tahun, 280 tahun menunggu pun tidak akan mendapatkannya. Dasar si berengsek idiot.  Dia pantas disumpahi.” Umpat Suk Tae marah.
“Kurasa kulit melepuh belum cukup membuatmu diam, ya?” ungkap Jin Sook heran.
“Kurasa, aku akan memuntahkan isi perutku juga. Tenggorokanku rasanya ikut terbakar.” Kata Suk Tae memegang perutnya sambil merengek. Jin Sok langsung mendorong Suk Tae yang terlalu berlebihan.
“Hei, tenggorokan terbakar itu bukan apa-apa, berengsek. Aku bahkan merasa seakan jantungku terbakar.” Ucap Phil selesai minum berbaring disamping Jin Sook
“Berhentilah mengeluh begitu Apa kau ingin aku membawa Soo Jin ke sini? Ingin aku katakan padanya kau mencintai dia? Kau kan sudah lama sekali mencintai dia. Setidaknya sampaikan padanya. Biar kuteleponkan.” Kata Jin Sook sudah siap menelp. Phil langsung merampas ponselnya. 
 “Tidak boleh. Apa gunanya lagi sekarang?” ucap Phil.  Dengan Segera, mereka akan melewatkan malam pertama.” Kata Phil merengek sedih.
“Siapa yang tahu, mereka mungkin sudah malam pertama duluan.” Ucap Jin Sook. Phil makin merengek keras bahkan sampai menendang Jin Sook dan Suk Tae. Keduanya mengeluh dengan Phil yang sudah gila.
“Semua orang di lingkungan ini tahu kalau dia mencintai Soo Jin. , sebaiknya aku berinisiatif menggelar rapat komplek.” Ucap Jin Sook memanggil semua orang memberitahu kalau Phil telah mencintai Soo Jin selama. Phil langsung menutup mulut Jin Sook.
“Semuanya! Ada pria gila di sini. Gila!” teriak Suk Taek. Phil melepaskan tanganya cara untuk mengulang segalanya.
“Atau, tunggu saja mereka bercerai. Mereka yang cepat-cepat menikah, biasanya lekas bercerai juga. Itu namanya takdirdan Sedang tren juga.” Kata Suk Taek
“Semestinya aku tidak bicara denganmu! Kau benar-benar omong kosong! “ ucap Phil dan langsung memukul kepala Suk Taek lalu berlari pergi.
“Berhentilah mengoceh hal-hal tidak masuk akal begitu!” keluh Jin Sook melihat Suk Taek hanya bisa mengelus kepala yang sakit. 


Keduanya melihat Phil pulang, Jin Sook merasa kasihan pada Phil padahal menurutnya Wanita di dunia ini bukan hanya Soo Jin. Suk Tae mengeluh karena harus melewatkan belajar hari ini gara-gara dia.
“Kau tidak kunjung lulus padahal sudah belajar enam tahun. Satu hari bolos bukan apa-apa.” Kata Jin Sook.
Belajar itu soal tekad, tahu. Hei, kau juga suatu hari nanti akan menikah, 'kan?” ucap Suk Tae. Jin Sook juga tak tahu
“Aku sangat penasaran dengan siapa kau akan menikah.” Kata Suk Tae.
“Pastinya bukan kau.” Tegas Jin Sook. Suk Tae juga mengaku juga tidak bilang mau menikahinya dan mulai mengumpatnya da mengambil bir lain. Jin Sook memberitahu kalau itu sudah bekas, Suk Tae pun terlihat memuntahkan. 

Soo Jin di rumahnya menyempot bunga, lalu duduk di meja kerja melihat kamera setelah itu mengambil tab dan melihat fotonya, seseorang datang Park Jae Hyun. Keduanya melihat hasil foto prewed dengan pakaian wedding.
[Park Jae Hyun, 31 tahun. Apoteker di komplek tersebut. Tunangannya Soo Jin sekaligus musuh utama Phil.]
“Aku tidak suka wajahku di foto ini. Kenapa aku tidak tersenyum? Kita tidak bisa memakai foto ini. Wajahku terlihat kacau. Apa hari itu aku sedang lelah?” kata Soo Jin .
“Kau terlihat cantik.” Ucap Jae Hyun memuji, tapi Soo Jin merasa Jae Hyun yang tersenyum, tapi jadi merasa dirinya yang tak tersenyum.
“Aku jadi merasa bersalah karenanya. Kau yang mengatur sendiri foto pra pernikahan kita sudah membuatku bersyukur. Kau tampak lebih cantik saat tersenyum.” Kata Jae Hyun.

Soo Jin merasa ingin foto sekali lagi lalu kembali duduk didepan meja. Jae Hyun melihat kipas yang tak menyala. Soo Jin mengatakan kalau menyentuhnya dan mendadak tidak menyala, menurutnya Tangannya ini mudah merusak sesuatu.
“Aku sedang istirahat makan siang sekarang. Aku akan kembali setelah pulang kerja. Lalu, ayo kita makan malam bersama.” Kata Jae Hyun. Soo Jin mengangguk setuju lalu merangkul tangan Jae Hyun.
“Soal kejadian semalam, aku minta maaf.” Kata Soo Jin. Jae Hyun pikir tak masalah.
“Itukan tradisi pernikahan, Sedikit keributan bukan masalah. Tapi temanmu mengerikan. Tunggu satu minggu saja. Aku akan membawamu pergi dari lingkungan aneh ini.” Kata Jae Hyun. Soo Jin mengangguk setuju dan mereka pun berpisah. 
Saat Jae Hyun keluar menuruti tangga melihat ponselnya kalau Young Ju menelp dan memilih untuk tak menjawabnya. Soo Jin melihat foto dirinya dan memberikan hormat seperti sangat menghargai dirinya. 


Tempat Persewaan DVD "Family"
Seorang pria duduk didalam dengan memegang gitar [Oh Dal Soo. 29 tahun, Kakak laki-laki di komplek. Dulunya dia adalah mahasiswa jurusan film yang pintar. Tapi ya, hanya pintar. Tidak ada lebihnya.] Phil masuk dalam ruangan sambil merengek kembali.
“Itu tentang kisah cinta yang sedih. Kau mau menontonnya. Mirip kisah cintamu. Dua orang yang saling mencintai terpisah akibat impian mereka. Pada akhirnya, si wanita menikah dengan pria lain. Jadi Kenapa kau ke sini?” kata Dal Soo
“Ya, aku hanya lewat dan.. “ kata Phil terlihat kebingungan. Dal Soo tahu kalau  Jalur yang dilewati biasanya tidak melewati tempat ini.
“Hyung, biar aku bertanya sesuatu padamu. Kau kan menonton banyak sekali film. Di... di dalam film, bagaimana mereka menghentikan sebuah pernikahan?”kata Phil
“Hei, sadarkan dirimu! Film ya film. Realita jauh berbeda. Bisa-bisa kalau tidak ditahan... kau kena hajar. Tapi, kenapa kau tidak menghentikan dia? Bukankah kau selalu hebat dalam segala sesuatu?” ucap Dal Soo heran
“Aku tidak tahu kalau ia hendak menikah. Aku... aku bahkan tidak dapat undangan pernikahannya.” Kata Phil. Dal Soo pun mengangguk mengerti.
“Kenapa dia tidak mengirim undangan pernikahan padaku.” Ucap Phil heran
“Bukan itu maksudku, tapi aku tidak habis pikir mengapa kau terobsesi mendapat undangan pernikahannya. Mendapatkan undangannya justru berarti game over. Kau semestinya tahu sebelum dia memutuskan menikah.”kata Dal Soo
Phil makin  mengumpat terlihat sangat uring-uringan. Dal Soo pikir Semua ini soal mengumpulkan informasi dan Phil sudah kalah dalam permainan. Game over. Phil mengaku benar-benar tahu kalau  Soo Jin punya kekasih, tapi  tak mungkin tahu kalau  Soo Jin  hendak menikah secepat ini.
“Ingatlah kisah 12 kapal. Jenderal Yi Sun Shin kita hanya memiliki 12 kapal, namun ia tidak menyerah. Permainan belum tamat sekarang. Pergi ke medan kedua, ronde selanjutnya. Ada sebuah film.  "Four Weddings and a Funeral” Hugh Grant menghancurkan pernikahannya. Tidak ada yang bisa memprediksi masa depan. Itulah yang disebut kehidupan.” Ucap Dal Soo sambil memainkan gitarnya. 
Seorang wanita menjerit bahagia memuji suara Dal Soo yang keren dan memberitahu kalau akan ke sauna, lalu mengeluh melihat Phil yang datang lagi. Phil menegaskan kalau datang bukan untuk si wanita itu.
[Hong Jung Ae, 28 tahun. Dia bermusuhan dengan Phil. Bersama Dal Soo, dia tinggal dan bekerja bersama selama dua tahun lamanya.]

Jung Ae bertanya apakah Soo Jin memberinya undangan pernikahan menurtnya si pengantin pria bertubuh tinggi dan tampan, bahkan penghasilannya besar juga. Dal Soo makin mengeluh dengan lelaki tinggi dan tampan akan melakukannya.
“Kenapa dia menghancurkan masa mudanya dengan menikah?” kata Dal Soo mengejek. Jung Ae setuju kalau Soo Jin sinting.Phil yang frustasi memilih untuk segera pergi saja
“Hei.. Hyung, apa kau tahu? Dia peringkat dua dari bawah saat kelas dua.” Ucap Phil membuka aib Jung Ae. Jung Ae mengumpat kesal mendengarnya kalau itu saat ia masih SMA. 


 “Tiga hari setelah ulang tahunku, adalah ulang tahun Soo Jin. Aku, untuk Soo Jin, telah menyiapkan kejutan indah. Lalu, aku menyuruhnya datang ke tempat kejutan akan kulakukan.”
Flash Back
Soo Jin menungu disuatu tempat tapi tak melihat Phil. Sampai akhirnya Phil datang membawakan sebuah kue sambil menyanyikan sebuah lagu dan meminta agar meniup lilin. Soo Jin dengan wajah bahagia meniup lilin diatas kue yang dibawa oleh Phil.
“Kau selalu memakai chocopie. Mana Hadiah?” kata Soo Jin. Phil mengaku kalau Ini hadiah pertamanya dan seperti memberikan kode.
Suk Tae dan Dal Soo bersembunyi menyalakan sesuatu, lingkaran tempat Soo Jin dan Phil terlihat sangat meriah dengan kembang api yang menyala. Soo Jin makin bahagia  dan sangat tersentuh karena seperti meriah dengan kembang api.
“Dalam bayanganku, perayaan ditutup dengan nyala kembang api yang indah. Tapi... saat itulah terjadi kesalahan.”
Polisi tiba-tiba datang yang membuat kegaduhan,  Suk Tae dan temanya panik memilih pergi. Kembang api akhirnya menyala tak karuan, Phil dan Soo Jin mencoba kabur dan terlihat panik.
“Hari itu, aku justru membuatnya ke kantor polisi, dan menulis berita acara pemeriksaan (BAP) untuk pertama kalinya. Dan juga, bagaikan sebuah pesta pernikahan, orang tua kami datang bersama ke kantor polisi, jadi bisa kubilang pesta ulang tahun hari itu luar biasa. Itu adalah pesta yang hebat. Apa dia sudah melupakannya?”


Soo Jin pergi ke sebuah gunung dengan menaiki tangga, merasa sangat bahagia menghirup udara yang masih segar, tapi terlihat panik melihat isi tas dan tak menemukan, lalu merasa sudah menduga dan merasa Pasti karena sudah cukup lama tidak melakukannya, lalu mengangkat telp sambil tertawa.
“Kenapa kau langsung tertawa saat menjawab telepon, seperti orang gila?” ucap Jin Sook. Jung Ae pikir Soo Jin pasti sedang bersama calon suaminy yang membuatnya iri sekali.
 “Di mana kau?” tanya Jin Sook. Soo Jin memberitahu kalau  Di bukit belakang kota. Jin Sook bertanya sedang apa disana.
“Aku ke sini untuk memotret. Tapi, aku justru tidak membawa kameraku. Jadi, aku akan turun lagi.” Kata Soo Jin
“Apa katamu? Bagaimanapun, datanglah ke Bongbong Pub. Pesta lajangmu.” Kata Jin Sook. Jung Ae menegaskan bahwa ini darurat. Soo Jin mengaku mengerti.
“Dan juga, jangan tertawa-tawa sendiri di bukit. Kau akan mengejutkan orang-orang. Mereka akan mengira kau gila. Cepatlah.” Pesan Jin Sook. Soo Jin hanya bisa menarik nafas panjang merasa sudah bekerja keras memandang sebentar bukit. 


Soo Jin sampai di cafe sambil mengeluh kalau berat sekali rasanya harus turun , dan  hanya memanjat bukit tanpa mendapat apa-apa hari ini, karena Kameranya ketinggalan. Lalu meminta segelas air pada pelayan.
“Selamat atas pernikahanmu. Tapi, aku sudah pernah menikah sebelumnya, rupanya biasa saja. Kenapa kau memilih menikah muda? Kenapa tidak menikmati sebentar lagi masa mudamu?” komentar si pelayan, Soo Jin pun meminta segelas bir setelah air putih begitu juga Jin Sook.
“Aku kopi... Dal Soo Oppa tidak suka kalau aku minum di luar rumah.” Kata Jung Ae. Si bibi pun meminta pelayan lain membawakan dua bir dan satu cangkir kopi.
“Hei.. Apa kau hamil?” kata Jin Sook. Jung Ae mengaku tidak seperti itu.
“Hei, dia tanya bagaimana cara menghentikan pernikahan, kepada Oppa-ku.” Cerita Jung Ae. Jin Sook juga mengaku kalau ditanyai juga seperti itu.

“Phil selalu saja menghalangi langkahku.” Keluh Soo Jin. Lalu Jin Sook pikir kalau Phil benar-benar menuruti sarannya. Semua ingin tahu apa yang dikatakan Soo Jin. .
“Membunuh... calon suamimu.” Kata Jin Sook. Soo Jin langsung berteriak. Jin Sook pikir kalau itu hanya lelucon.
“Dia tidak waras kalau sungguh melakukannya. Dia mungkin akan menikamnya begini.” Ucap Jung Ae sambil bercanda seperti menusuk dengan pisau. Soo Jin menyuruh keduanya berhenti saja.
“Tapi, kenapa kau tidak mengundang Phil ke pernikahanmu?” tanya Jin Sook. Soo Jin terlihat gugup.
“Aku mengundangnya lewat pos.”kata Soo Jin. Jung Ae heran kalau rumah mereka bersebelahan dan dengan melempar cuma butuh tiga detik, bhakan lewat jendela pun bisa.
“Ya, aku tadinya ingin memberikan langsung padanya, tapi rasanya aneh.” Akui Soo Jin, Jung Ae ingin tahu kenapa. Soo Jin kembali dibuat binggung.
“Hei, kenapa lagi menurutmu? Phil kan menyukai Soo Jin bahkan mengejarnya. Jung Ae , dengarkan aku. Kalau kau hendak menikah dengan Dal Soo Oppa, apa kau akan mengundang Goo Gil Oppa?” kata Jin Sook. 


“Kenapa harus begitu? Suasananya akan menjadi aneh. Aku tidak menyuruh dia menyukaiku dan tidak peduli padanya.” Kata Jung Ae
“Temanku, seperti itulah dia sekarang.” Jelas Jin Sook. Jung Ae mengaku mengerti.
“Kalau begitu katakan padanya... untuk berhenti.” Kata Jung Ae. Soo Jin pun memikirkan dengan nasibnya.
Jin Sook pikir Jung Ae berteman dengan dia. Jung Ae pikir  sungguh membencinya., Jin Sook pikir Kalau memungkinkan bicara logis dengan Phil maka yang akan membuatnya menjadi manusia lebih baik mulai sekarang. Soo Jin memilih hanya terus meminum bir saja.
“Tidak ada cara lain. Kau hanya perlu mengakhiri semuanya minggu ini.” Kata Jin Sook. Soo Jin yang frustasi meminta agar memesan bir untuknya
“Apa Kau tidak punya mulut atau tangan sendiri? Memangnya aku pelayanmu? Kenapa tidak pesan sendiri?” keluh Jin Sook tapi akhirnya memesankan bir untuk Soo Jin 

[Arena Bilyard dan Kafe Internet Pilseung]
Phil pindah ke tempat lain, Seorang pria menyapanya mengatakan  Sejak tadi  bertanya-tanya Phil di mana dan kembali membahas kemarin bikin keributan, lalu menanyakan ingin kopi atau soda.
[Yang Goo Gil, 29 tahun, Hyung komplek. Kuat sekali dan pemikirannya sangat sederhana. Meski begitu, dia baik. Orang yang sangat baik.]
Phil merasa tidak perlu kopi ataupun soda. Goo Gil melihat Phil  terlihat benar-benar depresi dan paham benar perasaannya. Phil pikir  Kalau saja dirinya tidak menggila saat seusia mereka, maka tidak akan mengalami situasi seperti ini.
“Aku pun memikirkan hal yang sama. Seandainya dulu aku sedikit lebih pandai. Apa Kau tahu bagaimana perasaanku? Saat aku kehilangan Jung Ae, aku merasakan persis sama sepertimu. Layaknya pria sejati, aku menangis kencang. Lalu, aku mendaftarkan diri ke militer. Saat itulah aku menyadari..” ucap Goo Gil yang langsung disela oleh Phil

“Berhentilah bicara omong kosong, Hyung. Apa kau tahu jalan keluar dari situasi ini?” kata Phil. Goo Gil ingin tahu contohnya.
 “Aku... harus menikahi Soo Jin. Oleh Sebab itu, tidak bisakah kau memberi saran?”ucap Phil
Goo Gil pikir Phil itu preman,  dan pernikahannya seminggu lagi jadi tidak baik dan Pria sejati tidak berbuat demikian. Phil meminta agar Goo Gil memberitahu sesuatu dan anggap saja dirinya preman.  Goo Gil pikir bisa menghancurkan mejanya kalau begitu. Phil makin frutasi mendengarnya.

“Ada satu cara... Jawabannya adalah kecepatanmu. Aku ingat saat kau berada di tim pelari. Kau lelaki yang dapat berlari sangat cepat. Masalahnya adalah kau tidak memiliki awal yang benar.” Ucap Goo Gil. Phil tak ingin banyak omong kosong ingin tahu nasibnya nanti.
“Sebuah ledakan. Sesuatu yang cepat. Tembakan di pernikahan.” Kata Goo Gil. Phil merasa Goo Gil sangat menjengkelkan sekali, membuatnya kesal
“Kenapa? Apa Kau tidak lihat pernikahan selebriti? Mereka juga ada tradisi menembakkan pistol. Sebab itu, kau sebaiknya lekas... “ ucap Goo Gil kembalai disela oleh Phil. Phil pikir Goo Gil itu gila.
“Aku akan diam saja. Aku tidak mau berpikir lagi. Tidak seorangpun yang normal di lingkungan ini. Kenapa juga aku bertanya pada kalian akan solusinya? Aku sudah gila!” ucap Phil benar-benar frustasi sampai keluar menabrak standing banner.
Bersambung ke part 2

 FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09 


1 komentar: