Selasa, 29 Agustus 2017

Sinopsis School 2017 Episode 13 Part 1

PS : All images credit and content copyright : KBS
Tae Woon dengan membuat rangkulan pada Eun Ho mengatakan kalau hari ini adalah hari pertama mereka pacaran, Eun Ho tersenyum mendengarnya. Eun Ho pulang ke rumah dengan sepeda mengeluh melihat ayah dan ibunya minum lagi di luar rumah.
“Jangan cemas. Ini karena ada sesuatu yang baik terjadi hari ini.” Kata Ayah Eun Ho
“Kenapa? apa kalian menang lotere atau semacamnya?” tanya Eun Ho dengan wajah penasaran.
“Teman Ayah yang melarikan uang kita itu,sudah ketemu.” Kata Tuan Ra. Eun Ho terlihat senang berpikir kalau uangnya sudah dikembalikan.
“Belum, Sepertinya dia tidak punya pilihan lain karena tekanan biaya sekolah anak-anaknya. Jadi katanya dia akan menyicil setiap bulan.” jelas Ayah Eun Ho
“Apa artinya dia akan membayar setiap tanggal satu per bulannya?” tanya Ibu Eun Ho. Tuan Ra membenarkan.
“Jangan lengah dan pastikan kau terima uangnya.” Pesan Ibu Eun Ho.  Ayah Eun Ho mengangguk mengerti.
“Di hari pertama di awal bulan 'kan?” kata Ibu Eun Ho. Eun Ho mengingatkan Hari pertama.
Ia mengingat saat Tae Woon mengatakan Ini adalah hari pertama mereka mulai pacaran. Tuan Ra tak mengerti dengan hari pertama. Ibu Eun Ho kesal kalau Tuan Ra tidak mau kalau hari pertama awal bulan. Tuan Ra malah melihat wajah anaknya yang memerah, lalu berpikir sebegitu senang karena penipunya tertangkap. Eun Ho membenarkan saja dengan senyuman bahagia. 


Eun Ho duduk di kamarnya, menatap tanganya dengan saling mengenggam di sela-sela jarinya, lalu mengingat saat Tae Woon mengengam tanganya dan juga merangkul tanganya. Ia tersipu malu mengingat wajahnya yang berdekatan dengan Tae Woon.
Tae Woon baru saja selesai mandi mengeringkan rambut sambil menari, lalu memakai penyegar untuk wajahnya. Ia duduk mengingat kembali saat bersama Eun Ho mengodanya kalau merindukannya. Eun Ho akhirnya melangkah lebih dekat padanya.
“Aku selalu berusaha menyembunyikan perasanku.” Ucap Eun Ho. Tae Woon tersenyum mengingatnya lalu mengambil ponselnya. 

Eun Ho masih duduk di depan meja belajar terlihat sedikit panik melihat ponselnya, karena Tae Woon yang menelp. Lalu mengangkat bertanya Ada apa menelpnya. Tae Woon mengeluh Eun Ho malah menanyakan hal itu karena sudah pasti sangat jelas alasanya.
“Menurutmu kenapa aku menelepon jam segini?” kata Tae Woon. Eun Ho bertanya memangnya kenapa.
“Kau ini lamban sekali. Menurutmu kenapa? Antarkan ayam ke sini.” Kata Tae Woon. Eun Ho binggung.
“Tadinya aku mau tidur tapi mendadak aku ingin makan ayam sampai tidak bisa tidur. Bawakan aku satu ekor ayam.” Ucap Tae Woon dengan senyuman jahilnya.
“Apa kau sudah gila? Kau ingin dipukul dengan paha ayam yah?” ucap Eun Ho kesal.
“Ayolah. Aku tidak begitu ingin makan sebenarnya. Antarkan untukku, yah? Aku sepertinya tidak akan bisa tidur kalau tidak melihat ayam malam ini. Satu ayam saja. Lakukan untukku sebagai tanda perayaan kita pacaran.” Rengek Tae Woon
“Kau bilang Sebagai perayaan karena kita pacaran, apa kau tidak mau mati saja? Tidur sajalah sana.” Kata Eun Ho kesal menutup telp lalu membaringkan tubuhnya sambil menutup wajahnya dengan selimut. 

Eun Ho akhirnya keluar rumah mengendap-ngendap masuk ke dapur dan melihat ada ayam yang sudah digoren ibunya. Tiba-tiba Tae Sik menyalakan lampu melihat adiknya yang  mencuri ayam untuk dijual dan ingin memanggil ibunya. Eun Ho langsung memberikan ayam ditangan dan menyogoknya dengan uang.
“Akan kuberi kau 10 dolar.” Kata Eun Ho, Tae Sik langsung menyetujuinya. Eun Ho pun menyuruh kakaknya makan saja. Tae Sik mengingatkan Eun Ho agar tak melupakanya.
“Mau kau antar ke mana?” tanya Tae Sik. Eun Ho tak ingin membahasnya menyuruh kakaknya makan saja. Tae Sik pikir lebih baik ia yang  mengaantarkan. Eun Ho menolak menyuruh kakaknya makan saja. 

Eun Ho keluar dari rumah, dikagetkan dengan Tae Woon sudah duduk di meja dengan dengan mengejek apakah mau mengantar ayam. Eun Ho terdiam, Tae Woon mendekat lalu mengejek kalau ayam itu pasti untuknya. Eun Ho dengan nada sinis menyangkalnya.
“Jadi kau antar ke mana ayamnya jam segini?” ucap Tae Woon. Eun Ho membenarkan dan merasa bukan urusan Tae Woon.
“Kau mau ke mana? Aku ikut.” Kata Tae Woon. Eun Ho menolak dengan wajah kesal
“Jadi kau membawakan itu untuk diberikan padaku.” Kata Tae Woon.
“Kau seharusnya tidak mengerjai orang seperti ini.” Ucap Eun Ho kesal berjalan pergi.
“Aku merindukanmu. Aku tidak bisa tidur karena sangat merindukan itu.” Ucap Tae Woon. Eun Ho membalikan badan dan tangan Tae Woon langsung memegang pipinya.
“Aku tidak bisa tidur karena karena aku merindukan ayam.” Ungkap Tae Woon mengejek. Eun Ho kesal kalau yang dimaksud itu adalah ayam bukan dirinya dan ingin memukul tapi Tae Woon sudah memegang erat dua tangan Eun Ho. Eun Ho berteriak meminta Tae Woon untuk melepaskanya.

“Kau kelihatan lebih cantik dari sebelah sini.” Ucap Tae Woon mengoda.
“Karena aku cantik, jadi lepaskan!”rengek Eun Ho kesal karena Tae Woon yang tidak melepaskannya. Keduanya terlihat bercanda di depan rumah menikmati malam di hari mereka berkencan. 

Eun Ho duduk di meja menatap Tae Woon yang duduk didekatnya sambil tersenyum, keduanya saling menata terlihat sangat bahagia karena sudah memulai hubungan. Eun Ho pun berjalan sambil bergumam.
“Hubunganmu dengan orang lain bisa menunjukkan orang seperti apa dirimu. Ada yang pernah bilang, sebuah hubungan mulai retak, bukan karena insiden besar tapi karena kesalahpahaman kecil.”
Sa Rang duduk di depan menatap Eun Ho dengan wajah sedih. Eun Ho berjalan ke tempat duduk Bo Ra dan mengajaknya pergi. Young Gun menatap sinis pada Eun Ho dan Bo Ra yang akhirnya berteman. 

[Episode 13 -Di Antara Dua Orang]
Tae Woon berada dibelakang sekolah, memperlihatkan wajahnya. Eun Ho merasa kalau sejujurnya Tae Woon tidak begitu tampan. Tae Woon tak percaya kalau Eun Ho menganggap dirinya tidak begitu ganteng. Eun Ho membenarkan.
“Itu karena kau belum melihatku.. dengan hati-hati dan detail. Kalau kau lihat lebih dekat...” ucap Tae Woon mendekatkan wajahnya sampai membuat Eun Ho terpojok di dinding. Eun Ho terlihat senang bisa menggoda Tae Woon
Ibu Sa Rang baru saja keluar bersama dengan Sa Rang, melihat Eun Ho seperti terpojok didesak oleh Tae Woon. Tae Woon masih mengoda Eun Ho kalau akan tahu betapa gantengnya dengan menatapnya lebih dekat. Eun Ho meminta Tae Woon agar Jangan bikin tertawa. Sa Rang melihat temanya seperti terdesak, pamit pada ibunya.
“Hentikan... Hei! Menyingkir kau darinya!” teriak Sa Rang dengan membawa satu. Tae Woon bingung tiba-tiba Sa Rang ingin memukulnya dengan sapu dan menjauh dari Eun Ho.
“Tak heran, dari dulu aku sudah tak suka padamu. Kau selalu saja mengganggu dan menggoda Eun Ho-ku. Akan kuhabisi kau hari ini.” Uca Sa Rang. Eun Ho binggung karena belum memberitahu temanya.
“Hentikan!!!” kata Eun Ho tak ingin melihat Tae Woon di pukul. Sa Rang heran kenapa Eun Ho malah menghentikanya.
“Dia adalah..BF-ku.” Uca Eun Ho malu-malu. Tae Woon bisa tersenyum mendengarnya. Sa Rang binggung apa maksud dari BF.
“Apa Kau tidak tahu itu artinya apa?  Aku ini pacarnya.” Ucap Tae Woon yang mengerti BF adalah Boyfriend. Eun Ho hanya bisa tertunduk malu. Sa Rang tak percaya temanya bisa menyembunyikan darinya lagi. 


Eun Ho dan Sa Rang bertemu di tempat lain, Sa Rang kaget mengetahui kalau  Tae Woon adalah X mereka berdua sekarang pacaran. Eun Ho meminta maaf karena seharusnya memberitahu lebih cepat. Sa Rang tak habis pikir Eun Ho yang kau merahasiakan darinya.
“Itu 'kan rahasianya Tae Woon, jadi aku tidak bisa memberitahumu. Dan kami baru mulai pacaran kemarin. Tetap saja, tidak seharusnya aku merahasiakan itu darimu. Aku benar-benar minta maaf.” Kata Eun Ho
“Jadi kau memang tak punya pilihan. Apa Tae Woon cowok baik?” tanya Sa Rang
“Awalnya kukira dia berengsek, tapi semakin kulihat, dia semakin lumayan. Dia kelihatan berbeda, tapi dia peduli dan baik padaku. Aku juga suka suaranya. Dia juga sangat perhatian. Aku pernah sakit dan dia tanya apakah aku sakit.” Cerita Eun Ho bangga. Sa Rang menatap Eun Ho dengan tatapan sedih karena belum mendapatkan seseorang yang disukainya. 


Dae Hwi sedang membahas tentang Formula tingkat pertumbuhan ekonomi. Sa Rang masuk ke ruangan terlihat binggung, melihat ada Dae Hwi, Bo Ra Tae Woon dan Eun Ho. Eun Ho menyapa Sa Rang memberitahu kalau  Sekarang ini jadi markas mereka jadi bisa Sering-sering berkunjung. Bo Ra pun mengajak Bo Ra duduk.  Dae Hwi kembali mengajarkan teman-temannya.
“Hei... Apa Kau tidak belajar? Sehabis istirahat ada ujian” kata Dae Hwi pada Tae Woon.
“Aku tidak mau... Aku tidak akan belajar.” Kata Tae Woon yang malas.
“Oh, benar. Aku lupa, dia 'kan memang tidak pernah belajar.” Ejek Dae Hwi 
Mereka mulai belajar bersama-sama, saat itu Tae Woon sudah mulai mengambar, Eun Ho melihatnya kalau itu gambar dirinya dan memuji Tae Woon yang mengambar dengan bagus sekali. Tae Woon sedang di puji oleh Tae Woon. Sa Rang melihat keduanya terlihat sedih, bahkan keduanya sempat saling mengoda. 

Nam Joo masuk kelas, Bit Na dkk melihatnya dan langsung mendekat. Jung Il langsung bertanya Apa bisnis ayahnya sudah pindah gedung, karena yang didengar kalau mereka akan pindah ke gedung baru di sebelah gedung milik ayahnya. Nam Joo dengan gugup mengaku tidak tahu karena itu bisnis ayahnya.
“Yah.. Benar, bisnis orang dewasa. Omong-omong musim dingin tahun lalu Apa kau bilang kau ikut pelatihan di mana? Di Amerika atau Kanada? Di mana?” ucap Hak Joong seperti ingin menguji. Nam Joo heran mereka yang menanyakan hal itu.
“Aku penasaran mau sampai kapan kau akan berbohong.” Kata Jung Il
“Sekarang semua sudah membosankan. Khalayalanmu yang murahan itu. Apa kau kira kami tidak akan tahu tentang semua kebohonganmu? Maksudku, kenapa kau harus berbohong sejak awal?” kata Hok Joong.
Nam Joo terdiam, Hak Joong merasa Nam Joo itu bukan apa-apa, Tidak ada yang lebih baik dan mudah selain berdamai dengan kekurangannya itu. Saat itu Dae Hwi melihat ketiganya sedang mendekat Nam Joo dan langsung bertanya Apa yang mereka lakukan.
“Memangnya kami ngapain? Nam Joo bohong selama ini.” Ucap Hak Joong. Dae Hwi terlihat sangat marah, Nam Joo merasa malu memilih untuk keluar dari kelas membawa tasnya. Eun Ho dan Tae Woon baru datang binggung melihat Dae Hwi yang marah sekali. 


Dae Hwi mengejar Nam Joo didepan sekolah, Nam Joo meminta Dae Hwi agar melepaskanya karena pasti tahu sekarang pasti senang dan itu yang diingikanya selama ini.
“Kau tidak akan bisa menyimpan kebohongan itu lebih lama. Akhiri saja dan...” kata Dae Hwi langsung disela oleh Nam Joo
“Jangan ikut campur kau. Aku hanya tinggal.. berhenti dari sekolah bodoh ini.” Ucap Nam Joo lalu bergegas pergi. Dae Hwi pun tak bisa berkata-kata lagi. 

Semua orang membahas Nam Joo yang bohong, Jung Il dan Hak Joong merasa kalau Luar biasa sekali. Dan Hwi akhirnya kembali, Jung Il langsung tahu kalau putus dengan Nam Joo karena tahu selama ini berbohong, Hak Joong dengan nada mengejek kalau Nam Joo yang menipunya.  Dae Hwi langsung mencengkram baju Jung Il
“Apa kalian senang? Dasar Pengecut. Kalau kalian Bicara lagi maka aku akan membunuh kalian semua.” Ucap Dae Hwi penuh amarah. Semua orang terlihat kaget karena Dae Hwi sangat marah.
Saat itu Tae Woon datang sengaja menyenggol Jung Il dan Hak Joong agar menyuruhnya minggir. Hak Joong kesal Tae Woon yang berjalan menyenggolnya. Tae Woon merasa kalau Hak Joong itu Jangan menghalangi jalan dan sangat Menyebalkan.
“Sudah cukup Tae Woon.” Kata Hak Joong kesal
“Apa kau Mau coba lawan aku?” ucap Tae Woon. Hak Joong pun memilih untuk diam saja, tak berani melawan. Tae Woon masuk kelas langsung nepuk pundak Dae Hwi.
Dae Hwi duduk sendirian ditaman sambil melamun, Tae Woon datang memberikan sekaleng soda. Dae Hwi menerimannya, keduanya hanya duduk diam sambil minum soda. 


Petugas Han melihat Young Gun dkk, dengan senyuman mengaaku Senang bertemu dengan mereka lagi. Young Gun mengeluh kalau ini Menyebalkan. Petugas Han juga tahu ini menyebalkan lalu memberitahu Young Gun kalau Sudah waktunya kerja paruh waktu. Young Gun langsung menolaknya.
“Jadi Kau bilang Tidak mau? Aku tidak bisa menyuruhmu melakukan sesuatu yang tidak kau inginkan. Jadi, aku akan memaksamu. Apa kasus merokok kalian cukup untuk dijadikan ancaman?” ucap Petugas Han.
“Ibu menyebalkan sekali. Apa Memangnya Ibu ini guru?” keluh dua teman Young Gun.
“Apa Kau mau sekarang aku jadi polisi? Apa Kalian ingin diawasi sepanjang hari?” kata Petugas Han. Young Gun pun tak bisa menolak akan melakukanya. 

Saat itu Bo Ra baru saja anak menaiki tangga melihat Young Gun membahas kalau temanya itu yang  menangkap pencopet dan Beritanya ada di situs sekolah. Young Gun seperti tak peduli karena tak ada hubungan dengan Bo Ra. Bo Ra pikir hanya ingin mengatakan saja.
“Kau Bisa tidak, jangan bicara padaku? Ini Menyebalkan sekali.” Ucap Young Gun sinis lalu berjalan pergi. Bo Ra pun hanya diam saja. Petugas Han melihat Bo Ra memuji kalau ini  Percobaan yang bagus.
“Kalau kau terus mengetuk, suatu saat pintunya pasti akan terbuka.” Kata Petugas Han, seperti bisa melihat Bo Ra yang ingin berteman dengan Young Gun. 

Kyung Woo memanggil Sa Rang berjalan pulang, merasa heran karena wajahnya lesu sekali. Sa Rang juga tidak tahu, karena hanya merasa tak semangat. Kyung Woo menatap sesuatu dan merasa sudah dapat solusinya lalu memanggil Hyun Il a.k.a Issue.
“Ayo Ikut denganku. Aku membutuhkanmu.” Ucap Kyung Woo. Isseu bertanya ada apa dengan menatap Sa Rang seperti tak menyukainya. 

Sa Rang dan Kyung Woo duduk bersama seperti mulai dekat. Issue mengeluh bertanya haruskah retap duduk di sini. Kyung Woo pikir temanya boleh berdiri kalau memang mengingikanya. Issue menegaskan kalau dirinya artis dan merasa tak mungkin bisa..
“Karena itulah kau bisa memberikan impian, harapan dan ketenangan pada orang lain.” Kata Kyung Woo
“Itu Benar.. Hanya dengan Melihatmu, aku merasa bersemangat lagi. Suasana hatiku membaik sekarang.” Ucap Sa Rang mulai terzenyum.

“Bagi anak SMA di Korea, grup idola itu..” ucap Issue langsung disela oleh Sa Rang, Sa Rang pikir Grup Idol adalah dunia bagi mereka.
“Jadi Apa kau merasa baikan sekarang?” tanya Kyung Woo. Sa Rang membenarkan.
“Kau ini benar-benar, punya bakat membuat perasaan orang jadi tenang.” Kata Kyung Woo. Sa Rang pun mengucapkan Terima kasih karena sudah lebih baik sekarang.
“Aisshh.. Yang benar saja, kenapa kalian bawa aku ke sini?” keluh Isseu kesal. 


Malam hari, Dae Hwi berdiri didepan rumah Nam Joo dan buru-buru bersembunyi saat melihat Nam Joo akhirnya masuk rumah. Seperti memasatikan kalau Nam Joo kembali ke rumah.
Esok paginya, Eun Ho dkk makan siang dikantin, Eun Ho melihat makanan dinampan kalau makan siang porsinya jadi makin sedikit. Byung Goo merasatidak sadar dan sekarang porsinya makin sedikit.
“Kau tidak perlu menyadarinya. Jadi Makan sajalah.” Kata Tae Woon. Mereka akhirnya selesai makan bersama.
“Aku tidak tahu. Aku ingin makan sesuatu yang enak.” Ungkap Eun Ho yang masih merasa lapar.
“Kenapa kau bersikap seperti ini di depan anak-anak?” goda Tae Woon. Eun Ho binggung.
“Kau ingin aku membelikanmu makanan enak. Besok 'kan akhir pekan, jadi kau ingin kita berduaan saja, dan makan sesuatu yang enak, benarkan?” kata Tae Woon mengoda.
Eun Ho panik meminta agar Tae Woo diam saja karena bukan seperti itu maksud ucapanya. Tae Woon pikir Eun Ho itu malu karena teman-temanya  semua di sini sambil mengelus kepaa Eun Ho kalau akan melakukan yang diingikanya dan  meminta agar memakai baju yang bagus besok.
“Buatmu tidak akan ada yang namaya 'besok'. Hei.... Sini kau.” Ucap Eun Ho terlihat malu mengejar Tae Woon yang pergi meninggalkanya. 


Eun Ho memilih beberapa baju dikamarnya, lalu berdandan denga mengunakan maskara dan penjepit bulu mata. Tapi karena tak terbiasa beberapa kali merasakan kesakitan. Lalu ia mencoba mengunakan blush on, wajahnya terlihat seperti terlalu tua. Ia menghapusnya dan mulai menguncir rambutnya, dengan ikat dua.
Tapi sepertinya Ia merasa terlihat seperti anak-anak, Eun Ho mengubah rambutnya dengan mengikat ke atas memperlihatkan bagian lehernya. Senyuman pun terlihat. Di depan spion, Tae Woon menatap wajahnya seperti tak ingin terlihat jelek juga di hari kencan mereka.
“Hei, Sepeda Motor... Aku jadi sering melihatmu belakangan ini.” Ucap Tae Sik mendekati calon Ade iparnya.
“Aku harus bicara dengan Eun Ho.” Kata Tae Woon yang sebelumnya menatap Tae Sik.
“Jangan cuma bicara dengannya. Tapi Kau lihat juga wajahnya. Sepertinya matamu bermasalah.” Kata Tae Sik.
Saat itu Eun Ho keluar dari rumah, Tae Woon mulai terpana melihat Eun Ho yang tak seperti biasanya, dengan rambutnya di ikat memperilhatkan bagian lehernya.Keduanya selesai menonton, membahas adegan jatuhnya sangat lucu. Eun Ho mengeluh Tae Woon yang ini aneh sekali, karena menyuruh memegang pop corn bahkan minuman serta lolipo. Tae Woon menyuruh Eun Ho memegang minumanya, mengaku karena sangat suka dan memintanya.
“Kau cantik kalau begini.” Ucap Tae Woon memeluk pundak Eun Ho untuk berjalan.
“Kalau bilan apa, dengan Pegang ini semua? Haruskah aku yang membawakan semuanya?” keluh Eun Ho kesal
“Kau tanya Kenapa? Apa Kau mau tahu alasannya?” kata Tae Woon. Eun Ho mengangguk.
Saat itu juga Tae Woon memberikan kecupan di pipi Eun Ho dan mengaku kalau itu alasanya. Eun Ho sempat kaget lalu bergegas pergi menurutnya itu terlalu cepat. Tae Woon mengejarnya seperti tak percaya Eun Ho merasa Terlalu cepat dan kembali berjalan dengan memeluknya. 

Eun Ho bisa melepas paku tepat pada sasaran dengan membuat balon pecah, sementara Tae Woon tak bisa memecahkan satupun. Eun Ho mengejek Tae Woon kalau Semua yang dilemparkan meleset. Tae Woon beralasan kalau itu karena tidak fokus dan kembali mencoba tapi tetap saja gagal sementara Eun Ho kembali bisa memecahkan Balon.
“Bagaimana kau bisa sejago ini di percobaan pertamamu? Kau Jujur saja, kalau kau sudah pernah main ini sebelumnya 'kan?” ucap Tae Woon keas.
“Benar 'kan? Apa Aku terlalu jago untuk ukuran orang yang baru mencoba pertama kali? Biasanya orang akan gagal  di percobaan pertama mereka tapi aku berhasil terus. Tidak seperti seseorang yang kukenal.”ejek Eun Ho. Tae Woon hanya bisa cemberut.
Eun Ho menerima boneka hadiah yang besar, Tae Woon tak mau kalah begitu saja ingin mengulang lagi untuk membeli paku lagi. 

Keduanya menaiki motor bersama, Eun Ho memeluk erat Tae Woon bahkan bersadar di pundaknya. Keduanya berjalan seperti tama kecil, Eun Ho bertanya dimana mereka sekarang. Tae Woon memberitahu kalau ini Di tempat ibunya. Eun Ho melihat pohon yang ditempel nama ibu Tae Woon “Song Mi Yun”
“Nam ibumu "Song Mi Yun." Namanya cantik sekali.” Ucap Eun Ho melhatnya.
“Aku masih SD waktu ibuku meninggal. Aku dan ayahku waktu itu membuat janji, hanya akan menemui ibuku kalau kami sedang senang atau ada sesuatu yang bagus terjadi.” Cerita Tae Woon.
“Apa kau senang hari ini?” tanya Eun Ho. Tae Woon membenarkan kalau sangat senang hari ini dan menyuruh Eun Ho agar memPerkenalkan diri pada ibunya.
“Halo.. Aku Ra Eun Ho...” kata Eun Ho. Tae Woon dengan bangga memberitahu ibunya kalau Eun Ho sebagai pacarnya.
Keduanya duduk di batu dekat pohon tempat abu ibu Tae Woon. Eun Ho terlihat sangat mengantuk, lalu jatuh bersandar di pundak Tae Woon. Tae Woon sempat terkejut lalu memeluk pinggang Eun Ho agar tak jatuh. Keduanya menikmati hari kencan mereka. 

Dae Hwi duduk sambil menatap ke arah meja Nam Joo yang kosong. Eun Ho melihat Dae Hwi seperti sedih dengan kepergian Nam Joo. Saat di kantin, Byung Goo mengaku Senang sekali berkat X, makan siang mereka tidak diurutkan berdasarkan rangking lagi dan benar-benar sebagai penggemarnya X.
“Apa yang kau sukai darinya? Dari dulu 'kan mereka selalu memberi kita makan.” Kata Tae Woon. Byung Goo seperti tak sadar tapi menurutnya Tae Woon benar.
“Apa menurutmu makan siang kita belakangan ini rasanya aneh? Apa karena cuaca ?” kata Eun Ho
“Apanya yang aneh? Ini Enak, Kalau kau tidak mau makan sosismu, biar aku yang makan.” Kata Byung Goo. Eun Ho memberikan begitu juga Bo Ra. Byung Joo dengan senang hati menerimanya mengucapkan Terima kasih.


Guru Goo mulai mengajar Kehidupan Sejuta Orang, yang Sangat sederhana tentang cerita pendek yang unik dari Korea Utara. Eun Ho terlihat sangat kesakitan dan mengangkat tangan, Tapi Byung Goo lebih dulu mengangkat tangan meminta izin keluar kelas.
“Pak Koo.. Aku.. Aku benar-benar harus pergi.... Aku harus ke kamar mandi.” Ucap Byung Goo bergegas pergi.
Guru Goo mengejek Byung Goo mungkin sudah tak bisa membuka celananya. Tae Woon sempat mengejek tapi setelah itu terlihat khawatir melihat Eun Ho yang kesakitan di kursinya.
Beberapa pekerja dari dapur keluar membuang sampah, Ibu Sa Rang melihatnya mengeluh para pekerja yang Berantakan sekali dan berharap bisa mengajari caranya mendaur ulang. Ia melihat bekas bungkus makanan dengan tangga kedaluwarsa: 15 Mei 2017, 14 Februari 2017. Wajahnya langsung panik karena itu makanan yang dimakan oleh para siswa.
 
Di ruangan
Kepsek Yang masih mencoba untuk mencari tahu keberadan X dengan semua analisis yang sudah dibuat menruutnya Gerak-gerik X sudah dipetakan, Mulai dari aula sampai ke gedung utama. Saat itu ibu Sa Rang masuk dengan wajah panik. Kepsek Yang kesal melihat Ibu Sa Rang masuk ruanganya.
“Ini sampah dari kantin sekolah dan Lihat tanggal kedaluwarsanya. Sudah berakhir 6 bulan yang lalu.” Ucap Ibu Sa Rang panik
“Lalu kenapa... Itu hanya Sampah ya sampah... Apanya yang aneh?” kata Kepsek Yang. Ibu Sa Rang binggung karena Kepsek Yang seperti tak kaget.
“Ini adalah bekas makan siang ini. Anak-anak pasti sudah memakannya. Bapak harus melakukan sesuatu. Kata Ibu Sa Rang
“Aku benar-benar harus melakukan  sesuatu jadi Fokus sajalah dengan urusan bersih-bersih. Kenapa kau ikut campur dengan urusan sekolah? Jadi Jangan buang waktuku.” Ucap Kepsek Yang marah
“Bagaimana bisa kau sebut ini buang waktu? Anak-anak kita yang makan makanan ini.” Kata Ibu Sa Rang.
Kepsek Yang menyurh Ibu Sa Rang berkerja untuk Jaga kebersihan lingkungan dan menegaskan bahwa Kepala sekolah bukan orang yang bisa diceramahi seenaknya, lalu menyuruhnya keluar dan  Bersihkan saja semuanya. Ibu Sa Rang pun akhirnya keluar dengan wajah sedih
“Kenapa dia protes tentang sesuatu yang tak penting? Apa dia X?” ucap Kepsek Yang curiga. 


 
Eun Ho terlihat mengeluarkan ruam merah karena di kulitnya, Ibunya terlihat khawatir memastikan anaknya baik-baik saja dan sudah minum obatnya. Eun Ho mengangguk. Ibunya meminta anaknya harus hati-hati dengan  makanan di musim panas seperti ini.
“Apa karena makan siangnya ? Kau bilang hanya makan itu.” Kata Ibu Eun Ho. Eun Ho juga tak tahu Tapi tidak semua anak sakit perut.
“Katanya ada korupsi berkaitan dengan makanan di sekolah. Apa sekolahmu tidak termasuk salah satunya? Kata berita di TV mereka menyajikan makanan dengan bahan yang sudah kedaluwarsa. Sepertinya masalah serius kata Ayah Eun Ho curiga.” Ucap Tae Sik
“Kami juga tidak tahu. Tapi belakangan makan siang kami jadi sedikit aneh.” Cerita Eun Ho
“Sepertinya mereka yang membuat masalah dengan menggunakan telur yang sudah tercemar dan semacamnya itu harus dipenjarakan. Mereka harus dipenjara. Bagaimana bisa mereka membuat masalah dengan makanan yang dimakan orang banyak?” kata Tae Sik geram. Eun Ho hanya bisa diam saja.
Bersambung ke part 2


FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar