Rabu, 09 Agustus 2017

Sinopsis School 2017 Episode 7 Part 2

PS : All images credit and content copyright : KBS
Keduanya mendengarnya dengan terlihat gugup, Nam Joo melihat keduanya sangat cemburu karena melihat keduanya kembali dekat, Saat itu Tae Woon ikut melihatnya dari belakang dan brtanya Apa pacarnya selalu semanis itu.
“Entahlah. Aku tidak pernah melihatnya seperti itu.” Ucap Nam Joo dengan nada sinis lalu masuk ke dalam ruangan. Dae Hwi melihatnya dan terlihat binggung.

“Aku perlu bicara denganmu.” Kata Tae Woon mendekati Eun Ho. Eun Ho pikir Tae Woon bisa mengatakanya langsung.
“Aku ingin bicara berdua saja.” Kata Tae Woon, akhirnya Dae Hwi pun masuk ruangan membiarkan keduanya. Eun Ho dengan wajah serius bertanya apa yang ingin dikatakan Tae Woon.
“Bunga apa yang kau suka?” kata Tae Woon. Eun Ho heran dengan pertanyaan Tae Woon dan ingin tahu apakah memang penasaran soal itu. Tae Woon menganguk lalu berjalan masuk ruangan. Eun Ho heran melihat sikap Tae Woon. 



Eun Ho terlihat serius mengambar di ruang rahasia, Di belakang Tae Woon memegang earphone seperti ingin menaruh di telinga Eun Ho, tapi beberapa kali terlihat sangat ragu. Eun Ho masih asyik mengambar dan tanpa sadar melihatnya. Tae Woon yang kesal akhirnya memilih untuk melepaskan earphone dan mengunakan speaker besar.
“Apa yang kau lakukan?” ucap Eun Ho heran sambil menutup kupingnya .
“Aku sedang dengar musik. Kenapa memangnya?” kata Tae Woon dengan nada tinggi.
“Pelankan suaranya! Nanti kedengaran orang!” ucap Eun Ho
“Tidak mau. Ini adalah caraku mendengarkan musik! Aku tidak pakai earphone seperti  pengecut!” teriak Tae Woon melampiaskan amarahnya. Eun Ho heran melihat tingkah temanya, sementara Tae Woon pikir pilihan lagunya itu bagus. 

Kepsek Yang kaget mendapatkan berita kalau diminta untuk turun dari posisinya. Tuan Hyun menjelaskan bahwa Kementrian Pendidikan akan memeriks Kepsek Yang, jadi meminta agar beristirahat dan juga akan membawanya kembali kalau suasananya sudah membaik.
“Kita harus menunjukkan kalau sekolah sedang menunjukkan penyesalan. dan berusaha memperbaiki keadaan.” Jelas Tuan Hyun
“Tapi... tetap saja, aku 'kan kepala sekolahnya.” Ucap Kepsek Yang
“Kau selalu bilang kalau kita harus mengorbankan seseorang untuk menyelesaikan masalah. Ini adalah saatnya berkorban. Mohon jadilah tumbal demi demi kebaikan bersama. Tumbal yang dikorbankan. “kata Guru Park.
Anggap saja ini adalah bentuk kecintaanmu pada sekolah. Bukankah harus ada seseorang yang melakukannya?” ucap Tuan Hyun dan Kepsek Yang menatap tak percaya. 

Eun Ho menanyakan pendapat Sa Rang tentang X dengan gambarnya.  Sa Rang mengaku kalau itu sangat keren. Byung Goo kembali masuk ruangan memberitahu kalau  Kepala Sekolah dipecat. Semua terlihat tak percay dan ingin tahu alasanya.
“Dia dilaporkan dengan tuduhan diskriminasi.. dan manipulasi pada siswa, yang pasti semuanya. Jadi dia dipecat.” Kata Duk Soo, Semua merasa kalau itu keren.
“Apa X yang melaporkannya ke Kementrian Pendidikan?” pikir satu murid dan memuji Si X. Tae Woon sedikit tersenyum mendengarnya, tapi Eun Ho terlihat khawatir. 

Kepsek Yang membereskan semua barang –barang diruangan dengan wajah kesal. Guru Park membantu dan ada Ibu Sa  Rang sedang bertugas membersihkan ruangan sambil mendengar keduanya bicara. Guru Park memberikan papan nama Kepsek Yang, Kepsek Yang pun terlihat marah.
“Sebelum orangnya diganti, maka papan namanya harus diganti lebih dulu.” Kata Guru Park lalu menaruh papan namanya “ Wakil Kepala Sekolah Park Myung Duk”Kepsek Yang terlihat tak percaya mendengarnya.
“Sepertinya kau sudah menantikan ini sejak lama.” Komentar Kepsek Yang
“Aku bersumpah, aku tidak gila jabatan.” Komentar Guru Park. Kepsek Yang merasa kalau semua sudah membuat malu saja.
“Untunglah, Bapak hanya akan berada sementara di kantor baru. Tenangkan diri dan istirahat sajalah di sana.” Kata Guru Park dan Kepsek Yang pun terlihat kesal keluar ruangan. 


Guru Park dengan wajah bahagia duduk di kursi kepala sekolah dengan wajah bangga, mengaku kalau selalu ingin duduk di kursi itu dan Ternyata sama menyenangkannya sama dengan yang dibayangkanya.
“Hei.. Foto kepala sekolah itu juga harus diturunkan. Simpan di sudut yang gelap di suatu tempat.” Perintah Guru Yang, Ibu Sa Rang pikir kalau itu adalah wajah kepala sekolah mereka.
“Lagian dia sudah tidak ada di sini.” Kata Guru Park.  Ibu Sa Rang pun hanya bisa mengeluh kalau menurutnya  setelah kucing pergi, maka sekarang giliran tikuslah yang bermain-main.

Kepsek Yang membawa beberapa barang dan terlihat Eun Ho  menendang kaleng bekas, Kepsek Yang kesal memperingatkan agar Jangan menendang sembarangan. Eun Ho mengumpat lalu berkata “Apa kau pernah merasa panas dan berapi-api pada sesuatu?” dan berpura-pura merasa panas. Kepsek Yang tak percaya Eun Ho berani bicara kasar padanya.
“Aku tidak bicara dengan Bapak, Aku sedang mengulang puisi yang kami pelajari hari ini.” Ucap Eun Ho. Guru Shim melihat Kepsek Yang mencoba untuk membantu membawakanya.
“Ini Kebetulan sekali... Kenapa buktinya harus mengarah pada Bapak?” kata Guru Shim. Kepsek Yang juga berpikir seperti itu.
“Etika di sekolah ini sudah jatuh ke dasar jurang. Kelas 11-1.... Kau tangkap sajalah X itu. Kalau hasil ujian akhir kelas kalian Jelek, maka kau akan menyesal nanti.” Ucap Kepsek Yang mengancam.
“Bapaklah yang harusnya merasa menyesal.” Kata Guru Shim mengembalikan kardusnya, Kepsek Yang kesal menyuruh guru Shim untuk minggir. Eun Ho dan Guru Shim hanya bisa tertawa. Kepsek Yang masuk ruangan yang kecil dan sempat hanya bisa mengomel sendirian.
“X, dasar kau si gendut jelek. Aku tidak akan memaafkanmu.” Kata Kepsek Yang marah. 

Nam Joo duduk didepan Dae Hwi yang terus menatap bukunya, lalu mengeluh karena pacarnya itu bahkan tidak menatapnya sekalipun. Dae Hwi pun tersadar lalu meminta maaf. Nam Joo pun bertanya apakah Dae Hwi tak lapar karena sudah masuk makan malam.
Dae Hwi melihat jam tanganya dan tersadar kalau sudah malam, Nam Joo bertanya mereka mau makan malam apa.  Dae Hwi kembali meminta maaf. Nam Joo sudah tahu kalau alasan Dae Whi pasti Kau harus belajar  hari ini Dan besok juga.
Dae Hwi merasa bersalah seperti tak memperdulikan Nam Joo. Nam Joo pikir tak masalah karena sudah memiliki rencana lalu pamit pergi. Dae Hwi pun tak mengejarnya karena memang harus belajar demi nilai yang bagus. 

Nam Joo dan Bit Na berjalan-jalan ke dalam sebuah Mall. Bit na mengaku benci terus-terusan di sekolah. Nam Joo melihat Bit Na yang selalu saja beli sepatu, mereka pun keluar masuk toko seperti Bit Na melampiaskan rasa bosanya.
Di depan ruangan VVIP, Seorang pegawai meminta agar Bit Na menunjukan kartu IDNya. Bit Na mencari dalam dompet dan tak menemukanya, karena tahu Nam Joo juga sebagai anggota VVIP jadi meminta agar meminjamkanya. Nam Joo terlihat gugup mengaku tidak bawa.
“Waktu itu juga kau tidak bawa 'kan? Dan Kau juga hari ini lupa.” Kata Bit Na curiga. Pegawai pikir mereka bisa mencari nama dalam data base. Bit Na pun menyebutkan namanya dan sudah terdaftar dalam data base.
“Apa kau juga anggota tetap? Kau bilang ibumu juga anggota di sini.” Ucap Bit Na seperti ingin Nam Joo juga memberitahu namanya.
“Aku bisa kena masalah kalau ibuku tahu aku ke sini. Aku tidak boleh belanja karena nilaiku turun.” Kata Nam Joo mencoba mengelak.
“Dia tidak akan tahu kalau kau cuma lihat-lihat.” Ucap Bit Na. Nam Joo pikir lebih baik pulang saja karena juga ada janji ke salon. Bit Na malah makin sumringah, kalau ia akan ikut denganya ke salon. Nam Joo pun terlihat binggung. 

Nam Joo pulang ke rumah melihat ayahnya membawa sesuatu dari taksinya, Tuan Hong melhat anaknya yang pulang dengan bangga kalau menemukan rak buku karena sebentar lagi naik kelas 3,  jadi pasti memerlukannya. Nam Joo kesal karena tak memintanya dan mereka itu seperti pengemis yang membawa barang padahal orang sudah membuangnya.
“Kenapa Ayah mengambil sampah orang lain?” ucap Nam Joo marah, Ayahnya berusaha menjelaskan bukan seperti itu maksudnya.  Nam Joo mengaku sangat muak.
“Baiklah... Ayah tidak akan membawanya pulang dan sekarang aku menaruhnya jadi Ayah tidak akan mengambilnya.” Kata Tuan Hong menenangkan anaknya.
“Anakku sayang, Tak ada masalah dengan temanmu yang waktu itu 'kan? Semuanya baik-baik saja 'kan? Dia tampan dan  pantas mendapatkan anakku.” Kata Tuan Hong bangga.
“Jadi kenapa Ayah datang ke sekolahku? Apa Hanya demi roti murahan itu?” ucap Nam Joo kesal, Tuan Hong tahu kalau anaknya sangat suka roti itu.
“Bikin malu saja. Kenapa ayah begini-begini saja? Kenapa Ayah tidak bekerja sekeras orang tua yang lain? Kenapa Ayah selalu jadi orang yang menyedihkan begini? Aku sudah muak sekali.” Kata Nam Joo terlihat iri dengan orang tua lain yang kaya dan memilih segera masuk rumah.
Saat itu Tuan Ra baru saja mengantar ayam goreng, melihat Nam Joo yang marah dan Tuan Ra terlihat sedih berkomentar kalau Anak-anak zaman sekarang..memang susah dipahami, bahkan anak mereka sendiri sekalipun.


Bapak mentri dan anak buahnya memberitahu aklau Karena ada banyak sekali masalah, jadi Kementrian Pendidikan berencana melakukan penyelidikan mendalam. Tuan Hyun pun mempersilahkanya dan merasa yakin tidak akan menemukan masalah lain. Kepsek Yang terlihat sangat marah karena bukan ia yang mendampinginya, tapi Guru Park.
Sementara di dalam ruangan, Bit Na masuk dan terlihat mencari sesuatu dengan wajah panik, lalu melihat Bo Ra dan langsung mengambil kotak pensi dan mencariinya. Bo Ra heran melihat Bit Na yang tiba-tiba merampasnya.
“Sebelumnya kau mengambil catatanku. Apa sekarang kau juga mengambil pulpenku? Apa kau tahu berapa harganya itu?” ucap Bit Na langsung menuduh.
“Tidak. Aku tidak mengambilnya, jadi Kembalikan itu.” Kata Bo Ra, Tapi Bit Na malah menjatukan semua alat tulis milih Bo Ra dengan semena-mena.
Bo Ra tak terima meminta Bit Na membereska semua barang-barangnya sekarang. Bit Na malah makin menuduh Bo Ra dengan menanyakan dimana menyembunyikan pulpen miliknya. Bo Ra mengaku tak tahu dan terjatuh karena didorong. Bit Na tak bisa menahan amarah langsung menarik rambut Eun Ho dan keduanya pun berkelahi dengan saling menjambak.
Guru Jang masuk kelas melihat keduanya berkelahi menyuruh berhenti, tapi keduanya seperti tak mendengar sampai akhirnya Mentri dan guru-guru masuk melihat keduanya sedang berkelahi dan Guru Goo memukul kayu keatas meja sampai membuat keduanya berhenti.
“Apa itu darah? Terapkan aturan tentang kekerasan di sekolah sekarang juga. Kau harus segera melaporkan jika ada kekerasan di sekolah.” Ucap Mentri. Tuan Hyun memilih untuk pergi seperti merasa malu.
“Ya, tapi itu hanyalah hal sederhana yang biasa terjadi di masa pertumbuhan..” kata Guru Park mencoba membela. Guru Goo yang marah menyuruh keduanya segera ikut denganya. 


Bo Ra hanya diam saja harus berhadapan dengan Bit Na dan juga Guru Shim. Guru Shim terlihat sedikit gelisah meminta Bo Ra mau menatapnya dengan bertanya apakah memang ia yang lebih dulu memukul Bit Na. Bit Na dengan gaya angguhnya membenarkan kalau Bo Ra yang lebih dulu sambil mengeluh terus menanyakan pada Bo Ra.
“Bapak sudah dengar pendapatmu dan Sekarang gilirannya.”  Ucap Guru Shim ingin tahu apakah yang dikatakan Bit Na itu memang benar.
“Tidak.. Bit Na menjambak rambutku duluan.” Ucap Bo Ra. Bit Na terlihat sangat marah dengan mengelak kalau ia yang tak melakuanya.
“Guru Jang... Apa kau benar tidak melihat?” tanya Guru Shim. Guru Jang pikir sudah menjelaskannya dan melihatnya tapi tidak dari awal.
“Saat aku melihat mereka, bukan Bo Ra saja yang sedang dipukuli.” Kata Guru Jang.
“Tapi tidak bisakah kau ceritakan lebih detail.” Kata Guru Shim, Guru Jang mengaku tak tahu dan tidak lihat sambil mengeluh karena terus ditanyai.
Akhirnya Guru Shim menyurh keduanya kembali ke kelas dan meminta agar jangan bertengkar. Setelah itu kembali menemui Guru Jang memohon,  Guru Jang heran kenapa Guru Shim memohon padanya.
“Kau 'kan wali kelasnya tahun lalu, jadi kau pasti tahu kalau Bo Ra bukan anak yang suka memukul duluan. Dia pendiam dan lugu,  kau tahu itu.” Ucap Guru Shim yakin bukan Bo Ra yang melakukanya.
“Bagaimana aku bisa tahu itu? Dia mungkin kelihatan lugu di depan kita, tapi bisa saja berbuat kekerasan kalau kita tidak melihat.” Kata Guru Jang.
“Tapi tetap saja. Kalau kau melihat keseharian anak-anak..” kata Guru Shim mencoba membela tapi disela oleh Guru Jang.
“Bahkan orangtua mereka saja pun tidak tahu anaknya seperti apa. Aku bukan ibu mereka. Kenapa juga mereka mesti bertengkar di depanku?” kata Guru Jang kesal. Guru Shim pun tak bisa berkata-kata lagi.



Bo Ra berpapasan dengan guru Jang dengan tegas mengatakan kalau Jangan salah paham. Guru Jang tak mengerti maksudnya karena selama ini berusaha menghindar dan pura-pura tak tahu. Bo Ra
“Aku tidak akan pernah meminta bantuan Ibu lagi. Aku sudah cukup belajar dari kesalahanku dulu.” Ucap Bo Ra. Guru Jang tak percaya kalau Bo Ra berkata seperti itu dan meminta agar menjaga mulutnya
“Aku tidak berharap apapun dari Ibu, jadi jangan menatapku seolah Ibu takut.. aku akan meminta bantuan pada Ibu lagi. Itu tidak akan terjadi lagi.” Kata Bo Ra. 

Guru Shim berkata kalau cerita mereka yang masih saling bertentangan, jadi mereka akan menunda sidang untuk menentukan siapa yang bersalah. Ia berharap orang yang salah akan lebih dulu minta maafdan yang satunya menerima dengan baik permintaan maaf itu. Tapi  menurutnya kalau ini bukan perkara mudah.
“Bilang saja aku yang memukulnya.” Kata Bo Ra terlihat pasrah, Guru Shim kaget mendengarnya.
“Akulah yang bersalah di sini. Apa gunanya bersikeras? Yang pasti ibunya Bit Na akan membawa seorang pengacara mahal. Aku tidak akan bisa menang. Keluargaku tidak akan sanggup mengatasi ini.” Kata Bo Ra.
“Memiliki pengacara bukan berarti mereka akan menang.” Ucap Guru Shim. Bo Ra seperti tak ingin membahasnya meminta izin untuk pergi saja. 

Guru Shim duduk gelisah sendirian, Petugas Na datang melihat rekan kerjanya itu risau dan bertanya Apa ada masalah. Guru Shim merasa heran karena kelasnya tidak pernah tenang, menurutnya itu karena dirinya adalah seorang pengecut.
“Mereka bertengkar satu sama lain. Mereka bahkan berpasangan dan mengendap masuk ke ruang guru.” Ucap Guru Shim seperti kecepolosan.
“Kau bilang Mereka bahkan berpasangan dan mengendap masuk ke ruang guru? Hari itu kau dengar sesuatu juga 'kan?” kata Petugas Han. Guru Shim pun tak bisa mengelaknya dan ingin menceritakan. 


Flash Back
Guru Shim mendengar dari kegelapan seseorang yang mengetahui kedatanganya, lalu yang satunya meminta agar diam saja agar tak membuat kegaduhan.
“Ada dua siswa di sana. Yang satu perempuan, dan yang satunya adalah laki-laki. Sepertinya mereka siswa dari kelasku, tapi aku tidak bisa memberitahu sekolah soal ini. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan.” Ucap Guru Shim binggung.
“Kau tentu harus menemukan mereka. Dan tanyakan apa yang mereka lakukan di sana. Tapi kalau dia adalah siswa perempuan dari kelas 11-1, maka Ra Eun Ho lah yang akan pertama dicurigai.” Kata Petugas Han, Guru Shim binggung kenapa harus Eun Ho lagi.
“Apa Kau tidak ingat? Waktu Di belakang sekolah, Di samping gudang.” Kata Petugas Han.
Eun Ho bertemu dengan Si X lalu memutuskan agar bisa bersembunyi dibalik terpal, Petugas Han pun baru saja datang seperti kehilangan arah dan bertanya apakah melihatnya pada Eun Ho. Eun Ho pun menunjuk arah yang salah.
“Kita sangat terburu-buru, jadi langsung menuju ke arah yang dia sebutkan.. tapi area itu sangat luas. Aku tidak merasa X berhasil lolos, lebih masuk akal kalau Eun Ho-lah yang menyembunyikannya. Aku terus mengawasinya karena itu mencurigakan, tapi aku tidak dapat petunjuk apa-apa.” Ucap petugas Han
“Tapi aku yakin bukan Eun Ho yang melakukannya. Dia sangat putus asa karena Difitnah, Jadi Bukan dia.” Kata Guru Shim yakin
“Bisa saja karena dia tidak punya pilihan lain. Mungkin dia punya alasan sendiri.” Kata Petugas Han. 



Eun Ho melihat layar komputer menjerit bahagia karena Ada yang mengirim komentar. Dengan menuliska dua kata "Seru juga.". Tae Woon pikir kalau pasti suka sesuatu yang kekanakan. Eun Ho kesal Tae Woon yang selalu mengejeknya.
“Ini adalah penggemar pertamaku. Aku harus membalas komentarnya.” Kata Eun Ho penuh semangat lalu mengingat rambutnya dan ingin segera membalas.
Saat itu Tae Woon mendekat dan melihat bagian leher Eun Ho yan terlihat seperti jantungnya berdegup dengan kencang, dan langsung menarik karet rambut Eun Ho agar tak memakainya.  Eun Ho heran menurutkan akan lebih nyaman. Tae Woon malah langsung mengacak-ngacak rambut Eun Ho dan berkata kalau itu cocok dengan Sembunyikan wajahnya dan itu lebih cantik. Eun Ho heran melihat tingkah Tae Woon yang menyebalkan. 


Petugas Han bertemu dengan ketua polisi di ruangan dengan memberikan hormat lebih dulu. Ketua Polisi mengaku sudah mendengar ada sedikit masalah. Petugas Han pikir Mereka adalah remaja yang hormonnya sedang meledak jadi yah begitu saja.
“Kau pikir itu hanya sekadar "begitu"? Dengan Masuk tanpa izin ke ruang guru, lalu Meretas ID kepala sekolah, Membongkar informasi rahasia. Dan Menghancurkan mobil. Apa Kau sebut itu "begitu" saja? Direktur sepertinya sedang kesulitan sekarang. Dia dan aku sangat dekat, jadi aku tidak tahu harus bersikap bagaimana padanya.” Ucap Ketua Polisi
“Aku sedang mengatasinya.” Kata Petugas Han terlihat gugup

“Cepat selesaikan semua... Itu mungkin hanya ulah iseng anak-anak. Tapi itu menyakiti harga diri kita.” Ucap Ketua polisi
“Kalau kita bersikap keras, maka anak-anak mungkin akan terluka.” Pikir Petugas Han. Ketua Polisi merasa kalau ini seperti mengingatkan Petugas han dengan masa lalu. Petugas Han mengaku tak seperti itu.
Petugas Han keluar dari kantor polisi dengan slogan yang dipasang (Percayakan Keamanan dan Kebahagiaanmu Pada Polisi) Ia mengingat kembali ucapan Ketua Polisi “Temukan X secepatnya. Direktur mungkin akan meminta untuk dilakukan investigasi resmi. Kalau yang tertangkap adalah siswa, maka masalahnya akan lebih serius.” 



Petugas Han bertemu dengan Guru Goo meminta waktu agar bisa berbicara. Keduanya berbicara diruang rapat. Petugas han memberitahu kalau harus melakukan pemeriksaan terhadap seorang anak, terkait masalah yang sedang terjadi tapi merasa takut.
“Apa Kau takut anak itu akan merasa terluka?” ucap Guru Goo. Petugas Han membenarkan.
“Aku punya alasan kenapa mencurigainya. Sebagai polisi, aku tidak bisa mengabaikan hal itu.” Kata Petugas Han.
“Ini Mudah saja, kita Ikuti saja aturannya. Semakin kompleks, susah dan memusingkannya situasi ini, maka kau tetap harus mengikuti aturan. Kalau kau berpegang pada aturan dan tidak goyah, ka akau akan tahu kau benar atau tidak, atau apakah kau melakukan kesalahan. Dan kalau kau membuat kesalahan, maka kau akan tahu apa itu..” Ucap Guru Shim. Petugas Han mengangguk mengerti. 

Tuan Hyun berbicara pada Tae Woon meminta agar menganggap kepala sekolah yang menawarkannya pertama kali jadi anaknya itu harus  mengatakan tak tahu. Tae Woon mengangguk mengerti.  Tuan Hyun pikir kalau nanti anaknya mendapatkan hukuman maka tunjukkan penyesalan supaya tidak ada murid yang protes. Tae Woon mengangguk mengerti. Tuan Hyun melihat anaknya seperti ada masalah dan menanyakannya.
“Pasti akan cantik.. kalau dia mengikat rambutnya.” Ucap Tae Woon. Tuan Hyun hanya bisa melonggo binggung. 

Eun Ho dengan nada mengejek berkata kalau Tae Woon diberkati dengan banyak pengurangan poin dan juga hukuman. Tae Woon pikir dirinya akan berbagi berkat dengan Eun Ho. Saat itu Petugas Han datang berkata kalau harus bicara. Eun Ho terlihat panik begitu juga Tae Woon karena tiba-tiba di panggil. 


Eun Ho di dudukan bersama dengan Guru Goo dan juga Petugas Han di ruang rapat. Guru Goo pun langsung menanyakan alasan Eun Ho masuk ke dalam ruang guru. Eun Ho terlihat gugup. Petugas Han mengatakan kalau mereka punya bukti, jadi Berbohong tidak akan menyelesaikan masalah.
“Kau tidak sendirian 'kan?” kata Petugas Han. Eun Ho makin panik.
“Sekarang Coba kutanya lagi. Siapa yang masuk ke ruang guru denganmu hari itu Siswa laki-laki itu..” Tanya Guru Goo. Eun Ho kaget guru Goo bisa tahu kalau temanya itu adalah seorang pria.
“Aku tidak bisa mengatakannya.” Kata Eun Ho, Tae Woon gelisah mondar mandir didepan ruang guru.
“Kalau kau tidak mengatakan siapa yang bersamamu hari itu, maka kau harus menanggung semuanya sendiri dan akan dikeluarkan dari sekolah.” Ucap Guru Goo.
“Ada saksi dan kami juga punya bukti. Jadi mohon katakan saja sejujurnya.” Tegas Petugas Han. Eun Ho terlihat kebingungan. 


Eun Ho keluar paling terakhir setelah Guru Shim dan Petugas Han keluar dari ruangan. Saat itu Tae Woon masih menunggu di seberang lorong,bersandar pada dinding.
“Hei, Ra Eun Ho... Apa yang mereka katakan?”ucap Tae Woon penasaran. Eun Ho  hanya bisa diam. 
Akhirnya keduanya bertemu di belakang sekolah, Eun Ho pikir pihak sekolah tahu  ada yang masuk ke ruang guru waktu itu.Tapi mereka tidak tahu ituTae Woon atau Dae Hwi. Tae Woon pun ingin tahu apa yang dikatakan Eun Ho tadi.
“Kubilang aku tidak bisa mengatakannya.” Kata Eun Ho. Tae Woon terlihat kesal mendengarnya.
“Harusnya kau bilang saja kalau kau denganku atau Dae Hwi, atau siapalah Apa kau gila? Kau akan dikeluarkan dari sekolah. Sekali ketahuan kau tidak akan bisa lolos..” Kata Tae Woo kesal

“Jadi aku harus bagaimana? Kau dan Dae Hwi juga akan habis kalau ketahuan.” Ucap Eun Ho juga tak ingin mereka celaka.
“Hei, kau bodoh... Apa kau mau mati hanya demi menyelamatkan kami?” ucap Tae Woon kesal. Eun Ho mengaku dirinya juga frustasi.
“Jadi Hentikanlah.. Lupakan dan Jangan lakukan apa-apa.” Kata Tae Woon. Eun Ho ingin tahu apa yang dipikiran Tae Woon sekarang.
“Aku yang akan mengurusnya.” Kata Tae Woon beranjak pergi. Eun Ho pun tak bisa berkata apa-apa lagi.  

Tae Woon masuk ke dalam  ruang rahasia mengingat kembali saat Eun Ho dianggap menyelinap masuk ruang guru, dan semua anak berpikir Eun Ho pelakunya dan dianggap sebagai Avengers, lalu Ia sangat yakin kalau Eun Ho bukan pelakunya.
Dae Hwi mengatakan “Anak-anak seperti aku, yang tidak punya apa-apa.. harus melakukan segala yang kami bisa. Agar tidak diinjak-injak oleh brengsek sepertimu.” 

Sementara Dae Hwi dirumahnya menerima Penghargaan: Juara Pertama Kompetisi Matematika”. Eun Ho dengan gelisah mengingat saat Tae Woon menyuruh agar mengatakan saja kalau bersamanya atau Dae Hwi.  Tae Woon juga mengatakan “Kau akan dikeluarkan. Kau tidak akan bisa lolos kalau ketahuan.” 

Eun Ho gelisah di pakiran lalu melihat Tae Woon yang datang, lalu bertanya apa yang direncanakanya. Tae Woon mengatakan kalau akan mengurusnya  dan berjalan pergi,  Eun Ho bertanya-tanya apa yang akan diurusnya Tae Woon segera menemui guru Goo. Eun Ho pun hanya diam saja.
“Akulah orangnya.” Ucap Tae Woon. Guru Shim tak mengerti maksud ucapanya.
“Akulah orangnya. Siswa laki-laki yang masuk ke ruang guru bersama Ra Eun Ho.”kata Tae Woon. Eun Ho melonggo tak percaya mendengar pengakuan itu dan saat itu Dae Hwi sedang masuk dalam ruang guru.
Bersambung ke episode 8

FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar