Selasa, 15 Agustus 2017

Sinopsis School 2017 Episode 9 Part 1

PS : All images credit and content copyright : KBS
Tae Woon menatap Eun Ho yang tersenyum didepanya, lalu meminta agar Jangan tersenyum seperti itu karena membuat Jantungnya berdebar. Eun Ho terlihat binggung, keduanya saling menatap dan Tae Woon memberanikan diri untuk mendekat. Eun Ho terlihat makin gugup sampai akhirnya saat Tae Woon semakin mendekatkan bibirnya.
“Hei... Jangan.. main-main begitu.” Ucap Eun Ho memalingkan wajahnya.
“Aku tidak main-main. Apa Kau tidak lihat? Aku sungguh-sungguh sekarang.” Ungkap Tae Woon sengaja agar Eun Ho bisa melihat matanya. Eun Ho seperti tak bisa berkata-kata lagi memilih untuk segera pamit pergi melewati hujan. Tae Woon pun mengejarnya. 

Byung Goo dan Tae Woon bertemu di cafe Tae Woon mengatakan kalau Byung Goo ini cerita temannya. Byung Joo memastikan kalau teman Tae Woon baru saja menembak seorang cewek, tapi setelahnya suasana malah jadi canggung.
“Ya. Haruskah dia bilang itu hanya bercanda.. dan meminta si cewek melupakannya?” ucap Tae Woon.
“Kau 'kan bukan tipe orang yang suka menarik lagi apa yang sudah kau katakan.” Kata Byung Goo. Tae Woon pikir benar juga lalu tersadar.
“Astaga, yang benar saja! Sudah kubilang ini bukan ceritaku. Ini curhatan temanku.” Tegas Tae Woon mencoba menyangkal. Byung Goo pun bisa mengerti saja.
“Kenapa kau sensitif sekali? Tapi Pokoknya, mereka akan sangat canggung nantinya. Cobalah untuk tidak bertemu dia. Berpapasan.. akan membuat semuanya jadi semakin canggung.” Ucap Byung Goo.
“Apa yang harus dilakukan temanku agar tak bertemu dengan cewek itu?” tanya Tae Woon.
“Dia harus berangkat ke sekolah pagi-pagi sekali.. atau siang-siang sekali agar mereka tidak saling jumpa.” Kata Byung Goo. Tae Woon mengangguk mengerti.
“Soal temanmu.. Dia sangat menyedihkan, Kenapa dia minta saran kencan padamu? Kehidupan cintamu sendiri saja tidak beres. Apa temanmu itu bodoh? Apa Dia itu tolol atau otak udang ?” kata Byung Goo.
Tae Woon terlihat kesal lalu mengumpat Byung Goo kalau mati, Byung Goo hanya bisa mengaku kalau minumanya enak. Tae Woon pun menyuruh Byung Goo agar minum saja kalau enak. 


Eun Ho juga berbaring di kamar tidur mengingat saat Tae Woon menatapnya, lalu berkata kalau “Jangan tersenyum seperti itu. Jantungku berdebar.” Saat itu juga Eun Ho merasa gelisah sendiria langsung bergulingan di atas selimut lalu terjatuh. Kakaknya masuk ke dalam kamar ingin meminta uang 10 dollar tapi melihat adiknya yang jatuh di lantai dengan selimut.
“Apa yang kau lakukan? Kau. Kenapa pipimu memerah? Apa yang kau pikirkan?” ucap Tae Sik. Eun Ho mengelengkan kepala mencoba menyangkalnya.
“Kenapa? Apa ada seseorang yang bilang suka padamu?”kata Tae Sik bisa menebaknnya. Eun Ho pikir bukan seperti itu.
“Lagian dia tidak mengajakku pacaran” kata Eun Ho merasa Tae Woon hanya main-main saja.
“Jangan terlalu kelihatan senang kau.” Pesan Tae Sik. Eun Ho binggung bagaiman bisa tak melakukanya karena Semuanya malah jadi canggung.
“Jadi benar ada yang bilang suka padamu.” Kata Tae Sik lalu keluar dari kamar berteriak memberitahu ibunya kalau Eun Ho sedang berkencan dengan seseorang. Eun Ho langsung mengejar kakaknya tapi badanya yang dibalut selimut tak mudah untuk mengejarnya.
Pagi Hari, Eun Ho keluar kamar dan buru-buru pamit untuk pergi ke sekolah. Ibunya binggung melihat anaknya yang pergi lebih cepat bahkan belum sarapan. Tuan Ra keluar kamar dan ikut bergegas pergi, Nyonya Kim makin binggung dengan keduanya yang pergi pagi-pagi sekali. 


Eun Ho sampai di sekolah lebih dulu dan motor Tae Woon juga masuk ke parkiran. Keduanya terlihat makin gugup bertemu di pagi hari,  Eun Ho langsung bertanya kenapa Tae Woon yang datang pagi hari. Tae Woon turun dari motor langsung bertanya kenapa Eun Ho datang pagi hari, karena Biasanya selalu telat.
“Aku.. Bangun.. kepagian hari ini.” Ucap Eun Ho. Tae Woon juga mengaku kalau melakukan hal yang sama dengan wajah gugup memilih untuk segera pamit pergi lebih dulu.
“Astaga, canggung sekali. Apa nanti cuma kami berdua yang ada di kelas? pasti canggung. Memikirkannya saja aku merasa canggung sekali.” Ungkap Eun Ho berjalan masuk dengan wajah gugup.
“Eun Ho pasti sedang di kelas sendirian sekarang. Bisa gila aku. Dasar Byung Goo, si berandal itu.”umpat Tae Woon juga yang terlihat binggung.
Tiba-tiba keduanya saling bertemu dan Tae Woon mengejek Eun Ho yang  tidak ke kelas. Eun Ho mengaku baru mau ke sana, lalu keduanya makin gugup akhirnya Eun Ho merasa kalau kehilangan sesuatu dan langsung mencari dalam semak. Tae Woon pun memilih untuk pergi dan masuk kelas.
Eun Ho berjalan dan tak sengaja menendang sesuatu ada sebuah buku diary milik Bo Ra.
“Gosip biasanya diciptakan oleh sesuatu yang acak. Kau mencoba membunuh gosip itu, tapi mereka bertahan. Mereka membawa beban berat.. dengan cara yang tak disangka.”


(Epiosde 9 - Beban Berat yang Dibawa oleh Gosip)

Guru Shim bertemu dengan Bo Ra, membahas kalau baru saja membuat masalah, jadi harus tetap masuk kelas meski ada kabar soal  Bo Ra yang akan dikeluarkan. Bo Ra pikir kalau dirinya  akan  tetap dikeluarkan, jadi tak ada gunanya masuk kelas.
“Tetap saja, semua 'kan belum final. Mari kita tunggu.” Kata Guru Shim menyakinkan. Bo Ra seperti pasrah dan merasa tak masalah dengan hal itu
“Bapak yang tidak baik-baik saja. Bapak akan cari cara, jadi tunggulah sebentar lagi. Maafkan Bapak, Bo Ra.” Ucap Guru Shim. Bo Ra memilih untuk segera keluar dari ruangan. 

Bo Ra membereskan semua barang ke dalam tasnya di lokernya, Young Gun hanya menatap seperti ada sedikit merasa bersalah tapi memilih untuk tak peduli. Saat itu Eun Ho masuk kelas dan sempat melihat Tae Woon tapi memilih untuk tak peduli dan menatap Bo Ra sedang ada didepn loker.
“Bo Ra.... Apa ini punyamu? Aku menemukannya di bawah tumpukan kayu. Apa ini punyamu?” ucap Eun Ho. Bo Ra mengangguk dan mengucapakan terimakasih.
“Apa kau akan ikut kelas hukuman? Sampai akhir minggu ini, Kau pasti kesulitan. Katakan saja kalau kau butuh bantuan.” Kata Eun Ho. Bo Ra pikir tak perlu dan merasa baik-baik saja lalu keluar dari kelas. Eun Ho merasa kasihan dengan Bo Ra.
Hee Chan hanya melirik, sementara Eun Ho kembali duduk dan sempat melihat Tae Woon hanya berbaring diatas meja. 

Tae Woon seperti menunggu seseorang dan melihat Eun Ho langsung memanggilnya. Tapi suara lain lebih nyaring memanggilnya, Eun Ho melihat ke arah Dae Hwi lalu menagih janji kalau akan mentraktirnya es serut. Dae Hwi mengelak kalau sudah membayar dengan memperbaiki sepeda Eun Ho,  sambil bercanda. Keduanya terlihat makin dekat dan akrab.
Sementara Tae Woon hanya bisa menatap dengan wajah cemburu, lalu akhirnya masuk ke dalam tempat persembunyianya dan matanya seperti melihat Eun Ho yang tersenyum manis padanya lalu mengikat rambutnya sampai terlihat bagian tengkuknya. Saat itu Tae Woon pun sadar kalau itu hanya khayalan saja. 

Eun Ho mencoba tertidur tapi matanya kembali terbuka  mengingat kembali dengan kejadian sebelumnya saat Tae Woon ingin menciumnya, akhirnya ia terbangun menatap cermin dengan senyuman apakah memang membuat Tae Woon berdebar.
Ia menoleh ke arah kanan mengingat saat diantar pergi oleh Tae Woon naik motor lalu duduk bersama diatap menceritakan naik motor karena itu bisa membuatnya keren. Lalu Ia menoleh ke arah kiri  Tae Woon yang memberikan obat saat tanganya terluka, setelah itu mengingat saat pertama kali mengetahui Tae Woon sebagai X.
“Kau benar-benar membuatku tak bisa tenang.” Ucap Tae Woon yang menyelamatkannya. Eun Ho benar-benar binggung akhirnya menaruh boneka di depanya.
“ Kita 'kan teman... Tapi perasaan.. macam apa ini” kata Tae Woon akhirnya sangat frustasi. 

Eun Ho akhirnya bertemu Sa Rang, Sa Rang yang masih kesal menyindirnya kalau selama ini Eun Ho sibuk sekali. Eun Ho binggung apakah ia menyakitinya. Sa Rang dengan ketus mengaku kalau  ia sakit hati, tapi kalau ditanya itu, maka tidak bisa mengelak.
“Ada yang bilang sebaiknya aku mengaku saja padamu. Yah.. Benar. Aku sakit hati!  Sakit sekali! Kau mengabaikanku belakangan ini.” Ucap Sa Rang. Eun Ho seperti baru menyadarinya.
“Ya.. Kau benar... Maafkan aku.” Ucap Eun Ho merasa bersalah
“Kalau kau minta maaf secepat itu, malah aku yang kelihatan jahat!” kata Sa Rang
“Aku hilang akal belakangan ini, karena ada 'bom' yang menjatuhiku. Jadi kau Kau memaafkanku, 'kan?” ucap Eun Ho Sa Rang pun ingin tahu Bom apa maksudnya.
“Masalahnya.. ada apa dengan hidupku ini?” keluh Eun Ho. Sa Rang bisa menebak kalau ini berhubungan dengan Tae Woon.
Eun Ho heran Tae Woon yang bisa tahu. Sa Rang pikir kalau ini Jelas sekali dan bisa lihat dari caranya menatap Eun Ho, ia merasa yakin.. Tae Woon sedang mengganggu Eun Ho bahkan mengekorinya dan selalu menatapnya. Eun Ho seperti tak percaya kaalu Tae Woon yang terus menatap ke arahnya, dengan memastikan kembali.
“Ya. Aku yakin sepertinya ada laser keluar dari matanya. Haruskah aku mengatakan sesuatu?” kata Sa Rang. Eun Ho pikir tak perlu dan wajahnya berubah jadi bahagia. 


Eun Ho masuk ke parkiran dan melihat Tae Woon sudah menunggu di parkiran, dan memasukan sepedanya. Tae Woon langsung meminta Eun Ho agar Berhentilah bersikap gugup karena dirinya tidak akan menggigit. Eun Ho menyangkalnya.
“Aku tidak tahan lagi dengan kecanggungan ini. Pokoknya, aku mengerti perasaanmu. Tapi aku tidak akan mempertimbangkan kembali ucapanku.” Kata Tae Woon langsung berdiri didepan Eun Ho. Eun Ho terlihat binggung.
“Apa Maksudmu kau akan bersikap sesukamu?” kata Eun Ho. Tae Woon membenarkan.
“Kalau aku tidak begitu maka aku bisa gila. Aku akan terus melakukan apa yang kumau mulai saat ini, maka  kau juga lakukanlah yang kau mau.” Kata Tae Woon lalu berjalan pergi.
“Benar. Itulah Hyun Tae Woon yang sebenarnya.” Pikir Eun Ho sambil mengumpat marah. 

Guru Shim menulis sesuatu di papan, (Ujian Akhir, D-10 dari Ujian Akhir) semua hanya bisa mengeluh melihat tulisan yang dibuat guru mereka. Guru Shim pikir Setidaknya mereka punya sisa 10 hari, jadi mereka harus bekerja keras dan raihlah nilai tertinggi.
“Pak Shim... Kenapa kami harus dapat nilai tertinggi?” kata Eun Ho. Semua pun menanyakan hal yang sama, kalau merasa itu tak benar dan tak adil.
“Pokoknya, raihlah nilai terbaik. Semoga hari kalian menyenangkan.” Kata Guru Shim tanpa bisa berkata-kata lalu keluar dari ruang kelas.
“Pokoknya... aku akan berusaha yang terbaik. Aku mau tidur dulu.” Ucap Eun Ho. Sa Rang yang duduk didepanya pun ikut tidur juga diatas kepala Eun Ho, keduanya seperti sudah mulai baikan. Nam Joo menatap Dae Hwi seperti tak perduli dengan hubungan mereka. 


Bo Ra sedang berjalan di lorong dan Hee Chul berjalan dari arah berlawan dan kedunya terlihat saling acuh, sebelumnya beberapa orang menatap seperti ada sesuatu. Didalam kelas Jung Il dkk membahas kalau Anak kelas lain sedang membicarakannya, yaitu Seo Bo Ra dan Kim Hee Chan pernah pacaran waktu kelas 10. Sa Rang kaget mendengarnya dan yang lainya berpikir kalau ini gosip besar. Saat itu Bo Ra datang dan Sa Rang memilih untuk pergi.
“Apa Dia berkencan dengan Bo Ra?” kata Byung Goo seperti masih tak percaya
“Tentu saja itu bohong. Hee Chan itu masih waras.” Kata Jung Il membela. Teman yang lain pun juga pernah dengar itu.
“Ya. Aku dengar ada yang melihat  Bo Ra di depan rumah sakit.” Cerita Hak Joong seperti sengaja membuat semakin panas. Byung Goo binggung apa maksudnya rumah sakit.
“Bodoh kau. Bukankah itu sudah jelas? Pacaran di sekolah, Rumah sakit.” Kata teman lainya. Bo Ra hanya mendengar tanpa bisa membela diri. Jung Il dan Ho Joong tersenyum licik bisa membuat gossip. Saat itu Hee Chan masuk ke dalam kelas.
“Hei.. Memangnya aku gila? Kenapa juga aku pacaran dengan pecundang sepertinya?” kata Hee Chan seperti berusaha mengelak. Bo Ra pun hanya bisa diam saja. 


Eun Ho berjalan ke belakang sekolah dan tiba-tiba Tae Woon menghentinkanya dengan kaki panjangnya dinaikan ke atas dinding.  Lalu bertanya apa yang dilakukan. Tae Woon mengaku sedang pamer kaki panjangnya. Eun Ho mengejek Tae Woon yang sangat berbaka dalam urusan pamer.
“Hei... Walaupun ini canggung, bagaimana bisa kau.. menjadikan ini alasan untuk menyerah pada mimpimu?” ucap Tae Woon. Eun Ho seperti binggung mimpi apa yang dimaksud.
“Kenapa kau tidak menggambar? Webtoon-nya harus diselesaikan demi para pembaca. Kau harus mengunggah episode yang baru secepatnya.” Ucap Tae Woon sambil mengejek. Eun Ho menegaskan kalau sudah tahu.
“Dan kupikir.. kau tidak mengerti perasaan Xsama sekali. Makanya kau hanya punya 1 pembaca.” Kata Tae Woon. Eun Ho bingung apa Perasaan X
“Apanya yang tidak kumengerti?” tanya Eun Ho. Tae Woon mengatakan itu  Semuanya.
“Aku mengatakan ini dari sudut pandang seorang X profesional. Aku akan katakan bagaimana perasaan X. Kalau tidak ada aku mau jadi apa kau?” ejek Tae Woon lalu menyuruh Eun Ho agar ikut denganya. 


Eun Ho berada di ruangan dengan Tae Woon yang duduk disebelahnya sangat dekat, Eun Ho melirik dan menyuruh Tae Woon untuk menyingir., Tae Woon seperti dengan sengaja pura-pura tak tahu. Eun Ho menyuruh Tae Woon menjauh karena mereka duduk terlalu dekat. Tae Woon mengerti kalau mereka butuh jarak dan bergeser.  
“Ini... Jarak nyaman. Aku akan menjaganya selalu.” Ucap Tae Woon.
Tapi beberapa saat kemudian, Tae Woon malah semakin dekat duduk dibelakang Eun Ho. Lalu Eun Ho membahas saat X sedang lari, Tae  Woon sengaja mendekatkan wajah ke depan, keduanya saling menatap dengan jarak yang dekat. Eun Ho langsung menjauh seperti jantungnya berdegup dengan kencang.
“Kau bilang akan jaga jarak.” Ucap Eun Ho
“Hei. Kau anggap aku apa? Kau bilang Jarak?Aku tahu bagaimana bersikap Profesional dan memisahkan pekerjaan dengan perasaan. Aku bukan orang semacam itu. Kau ini Susah sekali, Aku akan menempelimu seperti lem. Aku tidak akan menjauh.” Kata Tae Woon malah semakin mendekat.
Eun Ho yang merasa canggung akhirnya mendorong Tae Woon agar menjauh dan kembali mengambar. Tae Woon hanya bisa tersenyum bahagia melihat Eun Ho yang ada didekatnya. Sana..


Eun Ho mengambar dibuku dengan dialog dibagian atasnya “Bukannya aku tidak suka. Aku merasa takut.. untuk benar-benar memahami perasaan seseorang. Ini adalah pertama kalinya ada orang yang bilang suka padaku.”
Sementara Tae Woon duduk di meja belajarnya mengirimkan komentar “Astaga. Ternyata begitu, ya perasaannya X. Semakin seru. Tanda seru yang banyak. Sepertinya X benar-benar memberimu masukan. X pasti sangat, sangat tampan..” tapi ia langsung menghentikan seperti bukan dirinya yang melakukan ini.

Tiba-tiba ayahnya datang masuk ke kamar anaknya, Tae Woon langsung menyembunyikan layar laptopnya. Tuan Hyun memberikan sekotak ayam goreng mengaku kalau Seseorang memberikan padaya. Tae Woon pun bertanya siapa orangnya. Tuan Hyun terlihat gugup.
“Pokoknya.. asistenku yang memberikan ini padaku. Separuh pedas, separuh original. Jadi Makan dan belajarlah. Naikkan nilaimu atau apalah itu!” ucap Tuan Hyun dan buru-buru pergi. Tae Woon hanya bisa melonggo melihat tingkah ayahnya. 


Hee Chan dan ibunya makan malam dengan steak di restoran, baru saja memotong dagingnya, Ibu Hee Chan langsung mengeluh kalau sangat marah saat suaminya selalu bilang Hee Chan bodoh karena mirip dengan dirinya. Hee Chan meminta maaf pada ibunya.
“Kalau kau tidak bisa dapat peringkat pertama di sekolah.. kau tidak akan dapat kesempatan masuk Fakultas Hukum di Seoyul. Mereka semua orang-orang jenius. Kau punya konsultan pribadi dan guru untuk tiap mata pelajaran. Tapi Kenapa kau selalu dapat juara dua? Kau harus mengalahkan Dae Hwi kali ini. Tidak peduli apapun.  Mengerti?” kata Ibu Hee Chan
Hee Chan hanya diam saja seperti sangat tertekan, Ibu Hee Chan langsung tersadar kalau anaknya belum makan dan menyuruhnya untuk makan yang banyak karena perlu banyak tenaga. Hee Chan dalam kamarnya menuliskan seperti sebuah surat dan langsung meluapkan amarah sampai mematahkan pulpenya. 

Di kelas
Eun Ho memangil Dae Hwi yang duduk disebelahnya meminta izin agar bisa meminjam catatan pelajaran sastranya. Dae Hwi langsung membeikan ringkasan ujiannya. Eun Ho melonggo melihat Dae Hwi yang memberikan ringkasanya.
Nam Joo yang mendengarnya merasa iri karena selama ini ia yang selalu mendapatkan catatan Dae Hwi.  Eun Ho tak mau kehilangan kesempatan dan langsung mengambil catatan Dae Hwi. Nam Joo pun mengajak Dae Hwi agar bicara di luar kelas. 

Nam Joo langsung menduga kalau Dae Hwi memeriksa latar belakang keluargaknya. Dae Hwi mengaku kalau itu tak disengaja. Nam Joo pikir Dae Hwi sekarang senang.
“Apa aku kelihatan seperti seorang pecundang menyedihkan. yang berbohong pada semua orang?” ucap Nam Joo marah. Dae Hwi menegaskan bukan seperti maksudnya.
“Kau harusnya jujur padaku!” tegas Dae Hwi juga tak kalah marah
“Kau 'kan sudah tahu semua, jadi hentikanlah! Kenapa harus hari itu? Apa kau harus melakukannya di hari itu?” ucap Nam Joo masih tak terima
“Karena hari itu hari ke-200 kita pacaran. Karena.. aku selalu memikirkan hari-hari yang kita habiskan bersama dan apakah kita harus tetap.. melanjutkan semua ini.” Ucap Dae Hwi
“Jangan pura-pura baik kau. Kau tidak pernah menyukaiku. Akulah yang buta.” Kata Nam Joo seperti merasa Dae Hwi lebih menyukai Eun Ho
“Kalau begitu, harusnya kau tidak berbohong sejak awal. Apa Kau tahu bagaimana perasaanku saat mencurigaimu? Makanya aku memberikanmu kesempatan. Aku ingin kau jujur padaku! Mengatakan semuanya padaku!” ucap Dae Hwi
Nam Joo seperti binggung Dae Hwi yang memberikan Kesempatan, lalu bertanya balik pada Dae Hwi apakah selama ini sudah jujur, Dae Hwi hanya diam saja, Nam Joo mengumpat Dae Hwi Pengecut dan menananyakan Apa artinya dirinya bagi Dae Hwi selama ini.
“Apa kau berpacaran denganku agar kau bisa pamer pada semua orang?” kata Nam Joo sepeprti merasa di manfaatkan. Dae Hwi merasa tak percaya kalau Nam Joo bisa mengatakan itu.
“Apa kau.. bahkan pernah menyukaiku?” tanya Nam Joo. Dae Hwi memilih agar mereka bercara lagi nanti dan pergi. Nam Joo hanya bisa mengusap air mata yang mengalir. Dae Hwi berjalan sendirian mengingat saat pertama kali curiga. 

Flash Back
Dae Hwi melihat Nam Joo yang berbicara dengan seseorang dalam taksi, dengan memberikan sekantung roti. Saat ia sengaja memanggilnya Nam Joo langsung membuangnya dan menyapa Dae Hwi. Lalu mereka naik taksi bersama, Nam Joo bisa melihat gugup.
“Bukankah ini perusahaan ayahmu? Shingang Transportation.” Ucap Dae Hwi seperti sengaja membiarkan Nam Joo jujur.
“Ya, benar. Ini perusahaan.. taksi milik ayahku.” Akui Nam Joo tetap tak mau jujur. 

Saat mengantar pulang, Dae Hwi melihat Lingkungan tempat tinggal Nam Joo yang  nyaman juga. Nam Joo pun meminta akan jalan sendirian. Dae Hwi setuju dengan membiarkan Nam Joo berjalan sendirian, tapi diam-diam dia mengikuti Nam Joo pulang ke rumahnya yang ada apartment.  Keduanya duduk di pinggir lapangan.
“Semua tentangku kelihatan palsu. Semuanya bohong.”ucap  Dae Hwi seperti ingin Nam Joo jujur padanya.
“Hei. Siapa yang tak pernah berbohong? Semua orang punya alasan untuk berbohong.” Ucap Nam Joo. Dae Hwi pun kembali membiarkan Nam Joo tak bicara. 

Dae Hwi membelikan sebuket bunga dan juga hadiah, serta menuliksan di kartu ucapan “Selamat Hari ke-200. Terima kasih untuk segalanya. Selama ini aku sangat bahagia. Kuharap kita..”  Dae Hwi terdiam dan mencoret tulisan seperti merasakan keraguan.
Akhirnya ia pergi sambil menelp ke  Shingang Transportation, mengaku sebagai teman anak perempuan CEO-nya. Receptionist yang menerimanya binggung,  karena Bos kami tidak punya anak perempuan. Dae Hwi pun menemui keberadanya dan saat itu Nam Joo yang sudah menunggu terus mencoba menelpnya. 

Dua orang wanita membahas Issue itu dikucilkan di Geumsang Chumhwa dan menduga kalau dikeluarkan dari grupnya, bahkan jarang masuk sekolah juga. Sa Rang sedang makan dengan Kyung Woo langsung berdiri dengan nada marah mengatakan semua tidak benar, bahwa Issue sedang ada konser di luar negeri tahu.
“Hei. Siapa Issie?” ucap Kepsek Yang ikut berkumpul dengan anak muridnya. Sa Rang kesal memberitahu yang benar namanya Issue, tapi tetap saja Kepsek Yang menyebut nama Issie.
“Issue Oppa itu tidak dikucilkan tahu.” Ucap Sa Rang membela tapi yang lain tahu karena Semua orang di internet bilang begitu.
“Apa semua di internet itu benar? Aku akan melaporkan kalian ke agensi  Issue Oppa –ku karena menyebarkan gosip tidak benar tentang dia.” Kata Sa Rang. Saat itu Issue baru saja masuk kantin.
“Tapi.. kenapa kau yang melaporkannya?” ucap Issue. Kyung Woo sedari tadi melambaikan tangan pada Issue. 

Ketiganya berjalan menuruni tangga. Issue membenarkan kalau memang dikucilkan dan akan segera dikeluarkan. Sa Rang kaget mendengarnya, Issue pikir Sa Rang sudah mengetahuinya. Sa Rang mengaku tahu Issue tidak begitu berbakat.
“dan kau juga sering bolos sekolah, tapi dikucilkan..” ucap Sa Rang
“Kedengarannya kau sedang menghinaku.” Kata Isseu. Sa Rang mengaku bukan itu maksudnya.
“Apa kau benar akan dikeluarkan?” tanya Sa Rang. Issue pikiryang akan keluar duluan.
“Benarkah? Kalau begitu kau akan  kehilangan pekerjaan dong.” Kata Kyung Woo ikut bicara. Sa Rang langsung berteriak memperingatinya. Kyung Woo pikir akan mengajaknya.
“Hei.. Jangan membuat semuanya makin runyam. Apa Kau mau mati!!” ucap  Sa Rang lalu mengajak Issue pergi saja dengan memanggilnya Oppa. Issue yang kesal di panggil Oppa memilih pergi.
“Pasti akan seru kalau dia bergabung denganku.” Ucap Kyung Woo yang bermaksud mengajak Sa Rang pergi. 



Di ruangan Kepsek Yang, terlihat spanduk  (Aku akan menemukan X! Aku akan kembali ke jabatanku semula!) Duk Soo datang dengan bayaran minuman. Kepsek Yang membahas kalau Anak-anak bilang soal siapa itu X. Duk Soo pikir Semacam itulah dan tidak seharusnya mengatakan ini.
Choi Hyun Jung juga seperti diinterogasi tentang X, Hyun Jung mengaku tak tahu walaupun di sogok dengan makana,  Semua orang di kelas 11-1 di interogasi agar mendapatkan siapa X.  Seorang anak murid memberitahu Sepertinya kulitnya putih. Makanya dia selalu pakai jaket hitam.


Byung Goo pergi menemui Kepsek Yang melihat sekeliling merasa ruangan seperti CSI. Kepsek Yang memberikan minuman, Byung Goo  menolak kerena  hanya minum susu stroberi. Kepsek yang ingin tahu siapa yang dicurigai oleh Byung Goo.
“Aku punya firasat soal ini. Sepertinya.. dia adalah seseorang yang bergerak cepat. Tidak ada yang bisa menangkapnya hingga saat ini.” Ucap Byung Goo. Kepsek Yang pikir Benar sekali.
“Aku yakin X adalah.. seseorang yang cepat dan bisa lari 100 meter dalam tempo 11 detik” kata Byung Goo. Kepsek Yang memanggil Young Gun kalau lari 100 meter dalam 12 detik.

Bersambung Part 2

FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar