Selasa, 15 Agustus 2017

Sinopsis School 2017 Episode 9 Part 2

PS : All images credit and content copyright : KBS
Jung Il tiba-tiba datang dan duduk di depan Nam Joo, bertanya Apa keluarganya memang benar yang punya Shingang. Nam Joo terlihat gugup, Dae Hwi juga mendengarnya.  Jung Il menceritakan kalau dari ibunya, bahwa bos di perusahan itu belum menikah. Nam Joo terlihat binggung.
“Mungkin dia salah orang. Itu 'kan bukan perusahaan kecil. Bagaimana bisa semua pekerja tahu kehidupan pribadi CEO-nya?” ucap Dae Hwi mencoba menutupi
“Kalau cuma itu bukankah semua orang harusnya tahu?” kata Jung Il. Dae Hwi pikir Mungkin hanya gosip.
“Mereka pasti salah paham karena ayahmu tidak pernah membicarakan keluarga. Gosip menyebar dengan cepat. Gosip adalah masalah. Dan Jung Il. Belnya sudah mau bunyi, Duduklah di kursimu.” Ucap Dae Hwi dan Jung Il kembali ke kursinya. Nam Joo terlihat masih tetap tegang. 

Hee Chan menemui Bo Ra dengan menuduh kalau Yang menyebarkan gosip soal mereka. Bo Ra membalas kalau ia juga di gossipkan  pernah hamil jadi Untuk apa  mengatakan hal semacam itu, dan merasa tak percaya hanya karena alasan itu memanggilnya untuk datang.
“Jadi siapa lagi? Tidak ada orang yang tahu soal kita.” Kata Hee Chan terlihat panik.
“Mungkin memang ada orang lain. Tidak ada yang namanya rahasia di dunia ini.” Kata Bo Ra.
“Kau tahu.. ibuku akan membunuhku kalau sampai dia tahu.” Ucap Hee Chan benar-benar panik. Bo Ra pikir tak ada urusan denganya.
“Kau tidak pernah cerita pada siapapun.. soal kita 'kan?” kata Hee Chan. Bo Ra menegaskanTidak pernah.
“Kumohon. Kau benar tidak pernah cerita pada siapapun 'kan?” ucap Hee Chan memastikan kembali. Bo Ra mengingat saat itu Eun Ho yang mengembalikan diary miliknya.
“Diariku... Aku kehilangan diari beberapa hari yang lalu. Diari yang.. kita tulis berdua. Eun Ho yang menemukannya, tapi..” ucap Bo Ra dan Hee Chan terlihat sangat marah.
“Apa kau gila? Bagaimana kau bisa kehilangan diari itu? Kenapa kau masih membawanya ke mana-mana?” ucap Hee Chan melotot. Bo Ra yakin kalau Eun Ho tidak baca. Hee Chan tak percaya dan ingin mencari keberadan Eun Ho. 


Tae Woon seperti mencari Eun Ho dan melihat dari belakang, tapi saat berdiri didepanya ternyata salah orang dan penasaran dimana keberadaan orang yang disukainya itu. Eun Ho sedang duduk di tangga dan saat itu Hee Chan datang langsung menuduh yang memulai gosip itu. Eun Ho heran dengan omong kasih itu.
“Diarinya Bo Ra... Kau pasti sudah baca.” Ucap Hee Chan. Eun Ho heran kenapa Hee Chan menuduhnya.
“Kau harusnya jaga mulutmu itu. Dia dan aku tidak punya hubugan macam itu. Dia yang duluan suka padaku dan mengekoriku ke mana-mana.” Tegas Hee Chan dengan mata melotot
“Aku tidak baca apapun.” Tegas Eun Ho lalu berjalan pergi. Hee Chan langsung menghalagi Eun Ho pergi.
“Katakan pada anak-anak kalau semua itu bohong. Ini benar-benar bikin aku stres. Ini akan menghancurkan ujian akhirku!” teriak Hee Chan sudah meremas lengan Eun Ho. Bo Ra melihat dari atas tangga.
Eun Ho bisa melepaskan tangan Hee Chan mengumpat kalau sudah gila dan berjalan pergi. Hee Chan mengikutinya dan langsung mendorongnya. Eun Ho bisa berteriak marah. Bo Ra yang ketakutan memilih untuk pergi. Hee Chan mendorong Eun Ho dengan kasar kalau Eun Ho pasti pelakunya. 


Saat itu Tae Woo bertemu Bo Ra mendengar suara Eun Ho yang mengatakan kalau ia bukan orangnya. Hee Chan terus menduruh Eun Ho sebagai pelaku dan Eun Ho menegaskan kalau bukan ia pelakunya dan tak sengaja memukul wajah Hee Chan. Hee Chan terlihat sangat marah langsung mendorong Eun Ho sampai terjatuh.
Tae Woon melihat Hee Chan yang mendorong Eun Ho sampai terjatuh, langsung berteriak marah. Eun Ho melihat Tae Woon sangat marah langsung mengatakan kalau baik-baik saja, Tae Woon sudah siap ingin memukul. Eun Ho langsung memeluk dari belakang agar Tae Woon tak memeluknya. 

Tae Woon memasangkan plester pada luka Eun Ho di ruangan rahasia. Eun Ho bertanya-tanya kemana Suster UKS-nya tidak pernah ada. Tae Woon mengeluh Eun Ho itu tidak pernah berhenti buat masalah, padahal sudah mengatakan tetaplah di sampingnya.
“Siapa bilang kau boleh terluka?” ucap Tae Woon terlihat sangat marah. Eun Ho tak bisa berkata-kata. Setelah mememberikan pelester Tae Woon melempar kotak obat seperti mencoba menahan amarah.
“Lagian kenapa juga Hee Chan jadi begitu?” tanya Tae Woon. Eun Ho mengaku tak tahu
“Dia menyangka aku menyebarkan gosip kalau dia dan Bo Ra pernah pacaran.” Kata Eun Ho. Tae Woon tak percaya kalau keduanya pernah pacaran. Eun Ho mengaku kalau juga tak tahu.
“Aku menemukan diarinya Bo Ra beberapa hari lalu. Sepertinya ada sesuatu di dalam sana. Dia menyangka aku membacanya dan menyebarkan gosip soal mereka yang katanya pernah pacaran.” Cerita Eun Ho, Tae Woon mulai mengumpat marah.
“Memangnya kenapa kalau orang tahu mereka pernah pacaran, sampai dia harus bersikap seperti ini? Aku harap memang ada yang akan menyebarkan gosip soal mereka”kata Tae Woon. Eun Ho seperti tak mendengarnya. Tae Woon pun memilih untuk tak membahasnya lagi. 



Tae Woon melihat luka ditubuh Eun Ho, lalu meminta agar Eun Ho tetap ada di dalam kontainer saja. Eun Ho tiba-tiba keluar dari ruangan berteriak memanggil Tae Woon, Tae Woon mengeluh Eun Ho yang keluar padahal sedang terluka jadi lebih baik diam saja.
“Apa kau mau memukuli Hee Chan?” tanya Eun Ho
“Ya. 10 kali lebih menyakitkan dari yang sudah dia lakukan padamu.” Ucap Tae Woon tak bisa menahan amarah.
“Hentikan... Bagaimana bisa.. kau melakukan semua sesukamu?” tegas Eun Ho
“Hei. Aku.. marah begini karena kau.. Siapa yang menyuruhmu bertengkar dan terluka seperti itu?” ucap Tae Woon tak bisa terima. Eun Ho bisa mengerti dan memohon agar Tae Woon bisa menahan amarah.
“Tidak, aku tidak mau. Aku melakukan ini demi kau.” Tegas Tae Woon bergegas pergi. 

Di ruangan guru
Ibu Hee Chan sudah bertemu dengan ibu Eun Ho. Ibu Hee Chan ta terima karena nanti luka di wajahnya tidak bisa hilang. Ibu Eun Ho tak mau kalah karena Eun Ho juga terluka. Ibu Hee Chan langsun menyalahkan akalu Anak perempuan Nyonya Kim itu memang suka bikin masalah, bahkan hampir dikeluarkan waktu itu!
“Sekolah membuat kesalahan besar waktu itu. Bukankah begitu, Pak Yang?” ucap ibu Eun Ho meminta pembelaan.
“Aku adalah Kepala Sekolah pengganti untuk sementara waktu. Dia adalah pendahuluku. Pokoknya, pendahuluku-lah yang membuat keputusan itu. Tapi Tetap saja, menerobos masuk ruang guru adalah perbuatan yang salah. Tidak terlalu salah, Hanya sedikit salah.” Ucap Guru Park. Ibu Hee Chan makin menyudutkan kalau Eun Ho adalaha masalahnya.
“Anakmu yang memukul Eun Ho duluan.” Kata Ibu Eun Ho, Ibu Hee Chan langsung berdiri dengan mengatakan ayah dari anaknya itu sebagai jaksa. “Siapa yang peduli? Apa kau tahu siapa suamiku? Apa Kau kenal dengan Ra Soon Bong?” teriak Ibu Eun Ho tak mau kalah. Guru Shim meminta agar mereka bisa tenang.
“Etika sudah benar-benar jatuh ke dasar jurang.” Komenta Kepsek Yang ikut duduk bersama.
“Berhentilah bicara soal etika, Pak Kepala Sekolah yang sudah dilengserkan.” Kata Guru Park
“Panggil Komisi Kekerasan Sekolah. Aku akan menunjukkan padamu apa itu hukum.” Kata ibu Hee Chan.
“Ayo lakukan. Aku tidak takut pada komisi bodohmu itu.” Kata Ibu Eun Ho menantang. 

Eun Ho melihat Hee Chan yang duduk didepanya dan sengaja berdiri disampingnya. Hee Chan menyuruh Eun Ho agar enyah dan jangan ganggu. Eun Ho malah sengaja semakin mendekat kalau mau lihat seberapa besar luka yang disebabkan.
“Apa kau sudah gila?” ucap Hee Chan. Eun Ho mengaku memang sudah gila dan Akalnya sudah hilang.
“Apa kau senang membuatku terdengar seperti seorang gadis yang memukulmu?” ucap Eun Ho marah
“Tinggalkan aku sendiri, Cepat.” Kata Hee Chan berusaha untuk terlihat seperti orang baik. 
“Kaulah yang memukulku. Aku tidak akan bergerak sedikitpun sampai kau minta maaf.” Tegas Eun Ho. Hee Chan menyuruh Eun Ho segera pergi saja. “Ujian akan segera tiba. Bersikaplah yang baik. Kau mengganggu anak-anak lain.” Ucap Dae Hwi menahan Hee Chan sebelum memukul Eun Ho.
“Dae Hwi. Sepertinya kau tidak seharusnya terlibat. Dialah yang menggangguku duluan.” Kata Hee Chan. Eun Ho tak bisa terima begitu saja. Dae Hwi pun mengajak Hee Chan agar keluar bersama. Tae Woon baru datang seperti tak peduli memilih untuk tak peduli. Eun Ho melihat Tae Woo seperti tak ikut emosi. 


Saat bel sekolah, Tae Woon sengaja mencegat Hee Chan yang akan pergi ke kantin mengejek kalau sekarang juga memukul cewek, Hee Chan mengaku kalau Ada salah paham di sini. Tae Woon pikir dirinya juga bisa salah paham Hee Chan Agar punya alasan memukulnya. Hee Chan heran dengan sikap Tae Woon.
“Kalau aku melakukan apa yang kumau, maka kau sudah mati sekarang.” Ucap Tae Woon menahan amarah.
“Kenapa kau ikut campur dengan urusannya Eun Ho?” ucap Hee Chan. Tae Woon malah balik bertanya pada Hee Chan “Menurutmu kenapa?”
“Kalau kau menyentuh Eun Ho lagi, habislah kau.” Tegas Tae Woon memperingati. Saat keluar kelas melihat Eun Ho sedang bersama Sa Rang, seperti ketakutan tapi setelah itu langsung berbisik kalau dirinya tidak main-main. Eun Ho hanya bisa tersenyum mendengarnya. 


Hee Chan meminta agar Bo Ra memberikan diarynya, Bo Ra mengaku Tidak mau dan ingin tahu alasanya. Hee Chan pikir itu semua cerita tentang mereka ada diary itu. Bo Ra tak habis pikir kalau Hee Chan  mau menghancurkannya. Hee Chan memikirkan kalau nanti anak-anak melihatnya lagi.
“Apa kau sebegitu malunya kita pernah pacaran?” ucap Bo Ra tak percaya. Hee Chan mengaku bukan seperti itu maksudnya.  
“Kenapa? Apa kau takut orang tahu apa yang sudah kau lakukan?” ucap Bo Ra. HeeChan malah langsung mencengkram tubuh Bo Ra. Bo Ra terlihat ketakutan, kejadian yang sama seperti dulu

Flash Back
Hee Chan bertemu Bo Ra mengunakan seragam dengan nada tinggi memarahi kalau mengekorinya, kalau akan membunuh sampai tahu. Bo Ra meminta Hee Chan agar meminta maaf. Hee Chan balik bertanya untuk apa dan merasa tak bersalah.
“Kau yang memulai gosipnya. Berani sekali kau seperti ini” kata Bo Ra marah
“Aku tidak bohong. Itu benar.. kau memang gampangan. Bukankah begitu?” kata Hee Chan sombong
“Kau benar-benar jahat rupanya.” Ucap Bo Ra. Hee Chan langsung mencengkram tangan Bo Ra. Bo Ra meminta agar Hee Chan melepaskan.
“Aku tahu kau menggoda semua cowok.” Kata Hee Chan terlihat cemburu.
“Apa kau tahu kenapa aku mencampakkanmu? Semua Karena ini, Kau obsesif.” Ucap Bo Ra. Hee Chan langsung menampar Bo Ra.
“Sekarang kau bahkan tidak pernah  minta maaf setelah memukulku. Apa keluargamu tahu orang macam apa kau ini?” kata Bo Ra. Hee Chan menyuruh Bo Ra diam saja.
“Aku yang akan mengatakan pada semua orang. Akan kulaporkan pada sekolah dan pada ibumu. Aku akan bilang pada anak-anak..” kata Bo Ra, Hee Chan menyuruh Bo Ra aga katakan saja mereka semua.
“Apa Kau tahu.. yang akan terjadi kalau kau melakukannya.” Ucap Hee Chan sambil mencengkram baju Bo Ra sampai Bo Ra tak bisa bernafas. 


Bo Ra juga merasakan tak bisa bernafas dan Hee Chan sudah siap memukul. Tae Woon melihatnya langsung berteriak agar menghentikan. Hee Chan masih memperlihatkan kepalan tanganya.  Tae Woon mengejek kalau Menghajar cewek ternyata adalah kebiasaan Hee Chan den memperingatkan agar melepaskanya.
“Jangan ikut campur.” Ucap Hee Chan seperti tak ingin Tae Woo ikut campur.
“Maaf,tapi sekarang aku jadi suka ikut campur dengan hidup orang lain. Ah.. Tidak... Sekarang ini bukan tentang"orang lain" lagi. Kubilang lepaskan dia selagi aku masih bicara baik-baik. “ kata Tae Woon. Akhirnya Hee Chan melepaskan tanganya, Bo Ra pun buru-buru bergegas pergi.
“Hentikan Atau lanjutkan kalau kau memang mau  Dan lihat apa yang akan terjadi.” Kata Tae Woon memperingatkan lalu berjalan pergi.
Hee Chan duduk di kelas mengingat cerita Bo Ra “Diariku. Aku kehilangan diari itu beberapa waktu lalu. Diari yang kita tulisi bersama.” Akhirnya ia mencoba mencari dalam loker tapi tak menemukanya dan langsung melampiaskan amarah dengan mememukulnya. Hee Chan berjalan pulang dan merasakan ada orang yang mengikutinya lalu bergegas masuk ke rumah


Guru Shim bertemu dengan Bo Ra sebagai saksi kunci dan tidak akan menyakiti Eun Ho hanya karena bersaksi jadi hanya perlu mengatakan apa yang terjadi antara Hee Chan dan Eun Ho. Bo Ra mengaku benar tidak tahu apa-apa, seperti tak ingin ikut campur dan semua rahasinya terbongkar.
“Apa mengatakan tidak tahu akan membuat hidupmu jadi mudah? Kau juga bilang tidak tahu waktu itu, dan akhirnya kaulah yang disalahkan atas pemukulan Bit Na dan Juga dianggap sebagai pencuri buku catatannya. Kukira itu bukan hal bagus.” Ucap Petugas Han. Guru Shim meminta agar Petugas Han tak menyudutkan anaknya.
“Aku menyuruhmu untuk bersikap bijak. Apa yang sebenarnya akan membuat hidupmu jadi mudah?” kata Petugas Han. Bo Ra seperti tetap saja tak peduli. 

“Bo Ra... Kau 'kan melihat semuanya. Kenapa kau pura-pura tidak tahu?” kata Eun Ho berbicara dengan Bo Ra. Bo Ra tetap mengaku tidak tahu dan tidak lihat apa-apa. Eun Ho berusaha untuk memohon.
“Aku benar tidak tahu dan tidak mau tahu.” Kata Bo Ra
“Aku tidak memintamu berbohong. Kau hanya perlu mengatakan apa yang kau lihat. Tidak bisakah kau melakukan itu?” pinta Eun Ho
“Apa kau kira ada yang akan berubah kalau aku bicara? Apa kau kira kau bisa mengalahkan Hee Chan kalau aku buka mulut?” kata Bo Ra
“Jadi.. kau memang sengaja tidak mau buka mulut. Ini.. semua karena gosip antara kau dengan dia?” kata Eun Ho. Bo Ra  memilih untuk bergegas pergi. 

Bo Ra bertemu dengan Dae Hwi dan menduga kalau Hee Chan yang mengirimnya ke sini lagi. Dae Hwi mengaku bukan seperti itu, kalau dirinya hanya cemas. Bo Ra pikir Tak usah cemas, karena hanya melakukan apa yang seperti yang disuruh Dae Hwi  waktu itu.
“Lagian aku tetap akan kalah, jadi aku memilih untuk diam.” ucap Bo Ra , Dae Hwi akan menjelaskan Waktu itu...
“Waktu itu, kukira kau sungguh-sungguh. Makanya aku berhenti. Karena aku tidak tahu kalau kau sebenarnya adalah brengsek egois..” kata Bo Ra.
“Waktu itu.. Aku benar-benar minta maaf atas kejadian itu.” Ucap Dae Hwi
“Tapi.. tidak semuanya bohong. Suruh saja Hee Chan untuk tenang, karena aku tidak akan melakukan apapun untuk menyakitinya.” Tega Bo Ra. 

Guru Shim membaca Statement Ra Eun Ho tentang Tuduhan Kekerasan di Sekolah, lalu membaca surat milik Bo Ra “Seo Bo Ra: Waktu aku lihat, mereka berdua sudah terluka. Aku tidak tahu apa-apa, jadi berhentilah menanyaiku.”
“Ini lebih mirip investigasi daripada konseling. Menanyai satu persatu...” ucap Guru Shim
“Kalau kau mau tahu kebenarannya, maka lakukan investigasi.” Ucap Petugas Han yang tegas
“Daripada kebenarannya, maka aku lebih ingin tahu siapa anak-anak ini sebenarnya. Aku tidak mau memperlakukan anak-anak.. seperti polisi memperlakukan penjahat.” Jelas Guru Shim.
“Kau harus menemukan kebenarannya untuk tahu siapa mereka sebenarnya. Rasa sakit yang mereka alami Setelahnya adalah sesuatu yang tak bisa dihindari.” Jelas Petugas Han.
Guru Shim tahu tapi menurutnya mereka masih muda jadi masih bisa saling bicara dan berbaikan. Petugas Han pikir anak-anak itu tak muda lagi, tapi sudah 18 tahun.
“Apa Kau tidak tahu, seberapa menakutkannya anak-anak. saat mereka berubah menjadi orang yang kejam.” Kata Petugas Han.
“Tetap saja, aku tidak akan menyerah begitu saja. Mereka muda untuk bisa dikembalikan lagi ke jalan yang benar. Mereka masih 18 tahun.” Ungkap Guru Shim. 
Saat itu Guru Jang masuk mengajak Petugas Han untuk makan bersama, lalu meliha Guru Shim yang tidak pernah pulang, membuatnya tak nyaman. Guru Shim malah bertanya balik kenapa datang ke ruangan Petugas Han. Petugas Han terlihat sennag melihat keduanya yang memperebutkan dirinya. 

Akhirnya Guru Shim tertidur dimeja, sementara Petugas Han dan Guru Jang makan burger bersama diruangan. Petugas Han bertanya apakah pernah menerima konseling.Guru Jang pikir dirinya tidak gila jadi tak melakuanya. Petugas Han kembali bertanya Apakah melakukan konseling adalah hal gila. Guru Jang pikir seperti itu.
“Seperti memeluk bom. Sekali meledak, maka kau tidak akan bisa melakukan apa-apa. Seperti pria pesakitan di sana.” Kata Guru Jung menunjuk pada Guru Shim yang tertidur.
“Ini sudah mirip dengan investigasi polisi. Apa yang dikatakan oleh anak-anak.. kapan dan apa keributan yang mereka sebabkan.” Pikir Petugas Han
“ Sekali kau mendengarkan dan memahami apa yang mereka katakan maka kau tidak akan punya waktu untuk berpikir. Kau masih harus mengajar, bertemu dengan para orangtua, mendamaikan anak-anak.Dan memasukkan semuanya dalam lembar evaluasi. Itu adalah hal mematikan bagi seorang guru.” Kata guru Jung mengingat semua yang dilakukan Guru Shim untuk mendukung semua anak muridnya.
Petugas Han menatap Guru Shim yang tertidur dan merasa kalau ini memang benar. Guru Jung pikir tetap saja Guru Shim tidak perlu menatapnya dengan mata menyedihkan seperti itu. Petugas Han menyudahi makanya measa sepertinya harus berkeliling sekarang. Sekalian olahraga. Guru Jung setuju kalau berkeliling berdua itu pas sekali, Guru Shim langsung bangun berteriak tak boleh mereka berdua.


Salon Rambut Hanil
Dae Hwi berjalan melihat ponselnya karena Nam Joo yang menelpnya tapi tak diangkat, sampai didepan rumah terlihat Nam Joo yang sudah menunggu dan melihat kalau ponselnya tak diangkat. Keduanya akhirnya berbicara ditempat yang lain.
“Aku tidak bisa putus begitu saja. Aku bukan satu-satunya yang berbohong di sini. Bagaimana dengan perasaanmu? Apa itu tulus?” ucap Nam Joo
“Perasaanku... tidak palsu.” Tegas Dae Hwi
“Masalahnya, aku tidak punya pilihan. Aku tidak berniat bohong sejak awal. Anak-anaklah yang mengangga kalau aku anak orang kaya. Sejujurnya.. aku juga tidak mau membantahnya” ungkap Nam Joo. Dae Hwi seperti tak menyangka Nam Joo seperti itu.
“Kau benar. Aku memang merasa malu. Saat kau tanya apakah itu perusahaan taksi ayahku, aku tidak mengatakan kalau ayahkulah supirnya. Aku terlalu malu.” Ungkap Nam Joo.
“Nam Joo...Aku tahu.. Aku tahu betul kenapa kau melakukannya. Bagaimana bisa aku  menilaimu seenaknya?” kata Dae Hwi.
Nam Joo ingin tahu alasan Dae Hwi yang tak bisa memaafkan sekali saja dan berjanji tidak akan berbohong atau menipunya lagi.  Sebelumnya Dae Hwi juga mengatakan kalau menyuakinya, menurutnya perasaan itu tulus. Dae Hwi mengaku memang pernah menyukainya.
“Saat pertama melihatmu, kau tampak sangat cantik saat tersenyum. Saat kau duduk di sampingku, aku merasa berdebar.” Akui Dae Hwi mengingat saat Nam Joo memberikan minuman padanya.
“Tapi.. bukan hanya itu alasan aku menyukaimu. Sepertinya juga karena aku tidak tahu soal kebohonganmu. Mungkin sebenarnya aku menyukai.. Nam Joo si gadis kaya lebih daripada Nam Joo si miskin. Aku tidak berhak menyukaimu.” Akui Dae Hwi. Nam Joo tak banyak berkata-kata memilih untuk segera pergi.

Dae Hwi kembali ke rumah melihat foto kebersamaan dengan Nam Joo dalam ponselnya, seperti masih berat. Sementara Nam Joo hanya bisa menangis di halte sendirian. 




Tae Woo melihat Hee Chan yang memberikan kode pada Dae Hwi agar bertemu dan melihat dari kejauhan keduanya yang saling bicar. Hee Chan menyuruh Dae Hwi harus mengatasi masalah Eun Ho secepatnya, seperti waktu itu. Dae Hwi binggung. Hee Chan merasa  Dae Hwi yang tak mau melakukanya.
“Sejujurnya, aku tidak merasa ini benar. Aku tidak mau terlibat lagi. Aku ingin kau berhenti menyuruhku melakukan hal-hal semacam itu.” Tegas Dae Hwi akan berjalan pergi
“Jadi kau mau selamat sendirian.” Kata Hee Chan. Dae Hwi merasa Hee Chan sedang mengancamnya.
“Aku mengatakan yang sejujurnya. Kalau kejadian tahun lalu terbongkar, bukan aku saja yang akan Hancur, Kau juga akan habis. Apa itu tak masalah?” kata Hee Chan. Dae Hwi mengaku kalau tak peduli
“Jangan sok berani kau. Aku tahu Kau juga ketakutan. Sejujurnya, aku hanya tinggal berangkat kuliah ke  luar negeri kalau ini jadi masalah. Keluargaku hanya tinggal menge-set ulang hidupku. Tapi kau tidak, karena Kau akan tamat. Kita sudah bertahan selama ini. Kenapa kau begini? Ayo kita perbaiki semua. Mengerti?” ucap Hee Chan. Dae Hwi hanya bisa diam saja. Tae Woon terus melihat keduanya. 


Dae Hwi berjalan pulang, Tae Woon langsung menyindir Dae Hwi yang merasa malu. Dae Hwi menyuruh Tae Woon enyah dari kehidupanya dan mengumpat kalau mantan temanya itu pecundang.
“Mengancam gadis lemah dan menghancurkan Hidupnya tapi kau bersikap sok baik di depan semua orang seolah kau ini dewa. Ini Benar-benar menghibur. Identitas sebenarnya dari Ketua OSIS kita ini.” Ucap Tae Woon. Keduanya saling menatap dingin ada banyak dendam.
Bersambung ke episode 10

FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar