Selasa, 12 September 2017

Sinopsis Girl's Generation 1979 Episode 1 Part 1

PS : All images credit and content copyright : KBS
Lee Jung Hee dkk menari dalam kamar lagu Abba, seperti layaknya girl band diatas pangung. Ibu Jung Hee, membuka pintu berteriak marah karena mereka kembali berkumpul lagi dalam kamar anaknya. Teman Jung Hee panik dan berusah untuk kabur.
Ibu Jung Hee mengambil sapu, Jung Hee bergegas pergi meninggalkan rumah sebelum dipukul ibnya. Ibu Jung Hee berteriak menyuruh mereka untuk belajar.  Mereka pun berlari bersama-sama keluar dari rumah Jung Hee, wajah bahagia anak SMA terlihat. 

[SMA Putri Jeonghyeon]
Jung Hee berjalan dengan teman-temanya, So Eun Ja, wanita berambut panjang dengan kepang dua berharap Semoga pria yang hari ini ditemuinya berwajah tampan. Kim Eun Joo menceritakan sudah Amenyalakan lilin dan berdoa tadi malam.
“Astaga... Kau tidak bisa berharap banyak dari kencan kelompok. Harapanku nol. Aku pergi hanya karena kau bilang membutuhkan seorang teman wanita.” Ucap Jung Hee pada teman-temanya.
“Baiklah dan Hentikan itu!” kata Jeon Hyun Hee, wanita dengan pipi chubby lalu mendorong Jung Hee agar menjauh dan mereka pergi bertiga. Jung Hee berteriak meminta menunggu. 

[Daegu, 1979]
Mereka mulai kencan buta berkelompok, Seorang pria berkacamata Bae Dong Moon terus menatap Jung Hee yang duduk di paling pojok. Jung Hee bergumam dalam hati kalau Harapan kecil itu sirna dalam kencan kelompok ini.
“Kami sudah memperkenalkan diri. Bagaimana denganmu, Nona?” ucap salah satu pria.
“Usia kita sama. Jadi Bagaimana jika kita bicara dengan santai?” kata Eun Joo. Si pria pikir seperti itu, Eun Joo mulai memperkenalkan namanya lebih dulu.
Mereka pun berurutan memperkenalkan nama Jun Hyun Hee, So Eun Ja, Lee Jung Hee. Dong Moo sedari tadi menatap Jung Hee berusaha menginta nama Jung Hee. Mereka akhirnya akan mulai mencari pasangan, didepan wanita ada barang-barang pria mulai dari sapu tangan pulpen dsb.
“Melihat hal ini, aku tidak berharap banyak. Asal bukan si Kepala Ikan di ujung meja itu. Kumohon.”gumam Jung Hee
Tiga teman Jung Hee dengan cepat memilih. Jung Hee terlihat kesal melihat hanya tinggal kotak kaca mata diatas meja, tanganya ingin mengambil tapi menariknya kembali karena tahu kalau itu pasti milik Dong Moon. 


Mereka akhirnya duduk di meja masing-masing. Jung Hee seperti tak suka dengan Dong Moon terlihat acuh. Sementara Dong Moon terlihat bahagia karena Jung Hee duduk didepanya, berpikir kalau tadi salah dengar saat memperkenalkan diri jadi memberitahu kalau namanya Bae Dong Moon.
“Kukira kita sudah sepakat untuk bicara santai.” Ucap Jung Hee mendengar Dong Moon mengunakan bahasa formal.  Dong Moon setuju dan Jung Hee ingin memperkenalkan namanya lagi tapi Dong Moon sudah lebih dulu menyebutkan namanya karena sudah mengingatnya.
“Aku mendengarmu tadi.” Ucap Dong Moon bahagia. Jung Hee malah berkomentar sinis karean Dong Moon terlihat senang seperti itu.
“Jung Hee. Apa Kau tahu, kau sangat cantik. Orang-orang mengatakan kau mirip Brooke Shields, kan?” ucap Dong Moon berusaha memuji
“Entahlah. Aku pernah mendengar bahwa aku mirip Im Ye Jin.” Kata Jung Hee bangga. Dong Moon setuju kalau Jung Hee  mirip Im Ye Jin juga.
“Dengar... Aku harus pergi.” Kata Jung Hee ingin segera pergi. Tapi tiba-tiba mereka melihat seorang guru seperti tentara datang dengan anak murid lainya, seperti polisi sekolah.
Semua bergegas untuk kabur dari cafe tempat kencan, saat itu guru dan murid lainya melihat mereka yang kabur dan berteriak agar berhenti. Jung Hee dkk sempat berhenti tapi setelah itu mereka pun memilih untuk segera kabur. 


Dong Moon memegang tangan Jung Hee untuk kabur dari guru, lalu menyuruh Jung Hee bersembunyi dibalik tumpukan karung. Jung Hee mengeluh tapi Dong Moon mendorong Jung Hee agar cepat masuk saja. Jung Hee akhirnya bersembunyi di bawah karung-karung bekas.  Si guru tentara melihat Dong Moon. Dong Moon menyapanya dengan sedikit gugup.
“SMA Gaeryeong. Bae Dong Moon.” Ucap Guru Tentara, Dong Moon menutupi name tag yang tertera namanya lalu membenarkan kalau itu namanya.
“Apa Tadi kamu bersama siswi SMA Jeonghyeon?” kata Guru Tentara. Dong Moon menyangkalnya.
“Kamu juga! Itu seragamnya,  Jadi sekarang Minggir.” Ucap Guru Tentara ingin melihat yang ada dibelakang Dong Moon.
Dong Moon menutupi melarang Guru Tentara mendekat, tanganya memeluk karung.  Jung Hee merasakan kalau tubuhnya yang dipeluk oleh Dong Moon  dan menyentuh bagian dadanya. Seorang murid yang membantu berteriak pada GuruTentara kalau Mereka pergi ke arah sana. Guru Tentara pun mengikuti arahan dari anak-anak murid yang membantunya. 

Dong Moon bisa bernafas lega karena Guru tentara akhirnya pergi meninggalkan mereka.  Jung Hee keluar dari persembunyian langsung menampar Dong Moon. Dong Moon yang tadinya terlihat senang bisa menghindari guru, tapi malah Jung Hee memukulnya.
“Berani sekali kamu menyentuhku?” ucap Jung Hee marah.  Dong Moon pun meminta maaf.
“Terima kasih.” Kata Jung Hee dan akan pergi. Dong Moon menahanya dengan gugup ingin mengatakan sesuatu tapi susah mengatakanya. Jung Hee bertanya apa lagi yang ingin dikatakan.
“Aku mau mengajakmu berkencan, Jika kau ada waktu hari Minggu ini...” ucap Dong Moon. Jung Hee kaget langsung menjawab kala u  tidak ada waktu.
“Kalau begitu, Minggu pekan depan...” kata Dong Moon
“Maaf, tapi aku juga sibuk Minggu pekan depan. Aku sibuk setiap hari.” Kata Jung He lalu bergegas pergi. Dong Moon pun tak bisa berkata apa-apa lagi. 

Tuan Lee, Ayah dari Jung Hee seperti seorang bos di konveksi jahit. Ia meminta agar semua perkerja mendengarkan bicara sambil berkerja.Ibu Jung Hee dan juga Bibi Jung Hee ada dalam ruangan. Seorang Pria tampan, Joo Young Chun sedang berbaring dilantai memperbaiki mesin jahit.
“Aku tahu selama ini kalian mengeluh tentang bekerja lembur. Kurasa ini karena kalian tidak punya rasa memiliki dalam pekerjaan kalian. Apa Kalian lelah? Aku tidak begitu saat seusia kalian.” Ucap Tuan Lee
“Apa Kalian mau tahu? Aku kehilangan orang tuaku ketika masih kecil dan harus menghidupi keluargaku di usia 12 tahun. Aku sungguh melakukan segala jenis pekerjaan pada saat itu.” Ucap Tuan Lee. Istrinya yang mendengar hanya bisa tersenyum dengan tingkah suaminya. 

Jung Hee berjalan pulang merasa kalau dirinya yang banyak berharap banyak tentang kencan buta. Seorang anak kecil menyapa Jung Hee yang baru pulang sekolah. Jung Hee melihat Aeng Cho ada didepan rumah bertanya sedang apa.  Aeng Cho mengatakan alau datang dengan Young Choon Oppa.  Jung Hee pikir Ada mesin jahit yang rusak lagi lalu mengajaknya pergi.
"Pabrik ini bukan milik Lee Ki Nam, tapi pabrikku. Aku bangga menjadi anggota komunitas ini."  Ucap Tuan Lee memberitahu slogan pabrik mereka
Young Chun berdiri memberitahu kalau sudah selesai. Tuan Lee yang sedang marah menyuruh saalah satu pekerja agar mulai menguji mesin jahitnya. Salah satu pekerja terlihat senang karena sudah kembali berfungsi.
“Ini Berfungsi dengan baik, Young Choon memang hebat.” Puji pekerja dengan senyuma.
“Apa Sudah diperbaiki dengan benar? Tempo hari langsung rusak kembali. Hei... Young Choon. Apa Kau sengaja membuat mesin itu rusak? Untuk menghasilkan uang Bukankah begitu?” ucap Tuan Lee sinis.
Saat itu Eung Cho datang memanggil kakaknya, Young Choon kaget melihat adiknya yang masuk tempat kerja padahal meminta agar menunggu diluar saja.  Aeng Cho mengatakan kalau Jung Hee yang bilang kalau  boleh masuk. Ibunya binggung karena anaknya sudah pulang. Jung Hee pun masuk ke dalam pabrik
“Dari mana saja kau? Kakakmu sudah pulang sejak tadi.” Ucap Tuan Lee dengan nada tinggi.
“Pasti dia belajar.” Kata Ibu Jung Hee membela anaknya. Tuan Lee berteriak melhat Jung Hee pergi kalau harus Belajar yang benar!
“Astaga. Dia hanya bisa mengomel.” Keluh Jung Hee keluar dan ingin melampiaskan pada makanan diluar pabrik, tapi memilih untuk menahanya.
Ibu Jung Hee memberikan bayaran pada Young Choon. Bibi Jung HEe memberikan ubi untuk dimakan dengan Aeng Cho juga.  Young Choon pun pamit pergi lebih dulu pada semuanya.
“Hei.. Kenapa kau begitu baik kepada Young Choon? .” Ucap  Ibu Jung Hee pada bibi Jung Hee.
“Hei.. Kau Hati-hati dengan Young Choon, ya? Kita tidak tahu dari mana asalnya. Jangan tersenyum dan bersikap baik kepadanya” kata Ayah Jung Hee
“Bos benar soal itu. Dunia sekarang ini menakutkan bagi wanita.” Kata Ibu Jung Hee menyetujuinya. Bibi Jung Hee tak bisa melepaskan senyuman pada Young Choon yang memang tampan.
“Khususnya nomor tiga. Apa kau mengerti?” ucap Ayah Jung Hee memperingatakan pekerja yang mesinya di perbaiki oleh Young Choon. Si wanita mengangguk mengerti. Ayah Jung Hee pun pamit pergi.
Young Choon berjalan pulang dengan adiknya, mengandeng tanganya. Aeng Cho dengan suara anak kecilnya menyanyikan lagu kartu Candy. Young Choon tersenyum mendengar adiknya yang menyanyi. 


Jung Hee memakai bajunya, lalu melihat di lemarinya dan berteriak memangil ibunya agar membelikan baju karena Tidak ada yang bisa dipakai. Ibu Jung Hee mengomel kalau tak mungkin karena kamar anaknya penu dengan baju.
“Lihat saja sendiri. Tidak ada!” ucap Jung Hee kesal. Saat itu kakak Jung Hee, Lee Bong Soo keluar dengan pakaian baru.
“Ibu! Coba Lihat ini.... Ini pas sekali.” Ucap Bong Soo terlihat senang. Jung Hee makin kesal kakaknya yang membeli baju baru lagi bahkan baju bermeask 
“Ibu menyuruhmu ganti baju, dasar bodoh.” Ucap Ibu Jung Hee memukul anaknya untuk masuk kamar. Bong Soo makin mengejek Jung Hee dengan baju barunya.
“Memangnya anak Ibu hanya Bong Soo? Ibu selalu memberikannya baju bermerek, tapi bagianku adalah baju bekas.” Keluh Jung Hee.
“Ibu sudah menyuruhmu menghormati kakakmu! Dia kakakmu!” teriak Ibu Jung Hee tak mau kalah membela Bong Soo.
“Bukan! Kami saudara kembar! Kenapa Ibu pilih kasih?” teriak Jung Hee marah. 

Saat itu Tuan Lee masuk mengeluh wanita-wanita ini begitu berisik. Bong Soo mengambil perhatian ayahnya dengan membungkuk, mereka langsung berdiri berjejer seperti sangat takut dengan Tuan Lee.
“Hei... Jung Hee.. Apa Kau sama dengan Bong Soo? Kelak kau akan meninggalkan kami untuk keluarga lain. Kakakmu satu-satunya putra dalam empat generasi. Mengerti?” ucap Tuan Lee mengajak mereka segara makan. Jung Hee ingin bicara dengan ayahnya, tapi kena pukul oleh ibu dan kakaknya.
“Ayah apa???? Kau seharusnya setuju saja. Beraninya kau... Bagaimana kau mendidiknya? Apa yang kau lakukan di rumah seharian?” kata Ayah Jung Hee akhirnya ikut memarahi istrinya. Ibu Jung Hee pun mengajak Ayah Jung Hee untuk mandi saja.
Ayah Jung Hee mengumpat marah, Ibu Jung Hee melihat suaminya membawa bungkusan dan ingin tahu apa isinya. Tuan Lee melarangnya. Meminta agar membuatkan daging untuk makan malam. Bibi Jung Hee memberikan mangkuk besar, Ibu Jung Hee mengambilnya.
Jung Hee langsung memberikan pukulan pada kakaknya yang selalu disayang oleh keluarganya. Bibi Jung Hee meminta Jung Hee agar menghentikanya. Jung Hee benar-benar kesal memilih untuk segera masuk kamar saja. 

Malam hari
Bong Soo pergi ke tempat konveksi mengajak para pekerja yang lembur untuk mulai menari. Semua masih terlihat malu-malu mengikuti irama musik, sampai akhirnya Bong Soo memanaskan suasana membuat mereka mulai menari, terihat  pekerja nomor tiga yang terlihat sangat senang mengikuti irama musik. 

Di kamar,  Ibu Jung Hee dan suaminya menonton TV bersama, tapi lama kelamaan Ibu Jung Hee tertidur dengan barsandar di lemari. Diam-diam Ayah Jung Hee mengeluarkan sesuatu dari laci dan membawa sesuatu.
Bibi Jung Hee sedang melipat baju dikamar,  Ayah Jung Hee mengetuk pintu dan menaruh sesuatu diatas meja menyuruh agar memakanya. Bibi Jung Hee melihat isi dari kantung makanan, sedikit terkejut melihatnya. 

Di kamar
Jung Hee yang sangat marah menuliskan diatas buku untuk meluapkan amarahnya.
“Aku benci mereka semua. Ayahku yang diktator, Ibuku yang bersikap seperti pelayan untuk ayahku dan Bong Soo. Orang yang paling kubenci adalah Lee Bong Soo. Kenapa 18 tahun kehadiran Lee Jung Hee di dunia begitu sepi dan membosankan?”

Bibi Jung Hee mengetuk pintu dan masuk kamar, memberikan makanan yang diberikan ayah Jung Hee padanya.  Jung Hee melihat isinya langsung melonggo bertanya Dari mana makanan itu. Bibi Jung Hee mengaku  ada yang memberikannya dan memikirkan Jung Hee. Jung Hee mengucapkan terimakasih pada bibinya.
“Hanya Bibi yang aku punya.” Ucap Jung Hee. Bibi Jung Hee bertanya apakah Jung Hee sudah merasa lebih baik. Jung Hee mengangguk sambil memakan pemberian bibinya.
“Ini meleleh di mulutku... Ayahku tidak pernah membelikanku makanan seperti ini.” Ucap Jung Hee. Si bibi merasa tak enak hati karena ayah Jung Hee malah membelikan untuknya.
“Dia tidak akan pernah melakukannya. Bibi kenal dia. Saat aku baru masuk SMA, dia bertanya kenapa anak perempuan harus bersekolah. Apa Bibi tidak ingat?” ucap Jung Hee. Bibinya membenarkan. Jung Hee tersenyum makan kue yang menurutnya sangat Lezat.
“Kau sangat cantik bila tersenyum.” Puji Bibi Jung Hee seperti sangat sayang pada keponakanya. 


Jung Hee mengerjakan soal di papan tulis, Hyun Hee dengan sedikit berbisik memberitahu Jung Hee kalau tandanya harus minus. Gurunya bisa mendengar suara Hyun Hee menyuruh agar menutup mulutnya. Jung Hee hanya bisa mengumpat kesal.
“Kalian lebih bodoh daripada babi hutan Apa Kau tidak bisa menyelesaikan itu?” ucap Guru marah, lalu melihat jawaba salah satu murid Uhn Joo dan menyuruhnya untuk duduk.
“Ki Ryu... Semuanya, berbaris.” Kata Gurunya. Jung Hee dkk mulai mengeluh. Gurunya menyuruh Jung Hee agar Berbaris.

“Dengarkan baik-baik. Zona demiliterisasi membagi bangsa ini selama 20 tahun. Komunis di utara selalu mencari cara untuk menyerang negara kita. Kalian hidup nyaman dan bisa belajar, melahap makanan apa pun yang orang tua kalian berikan, tapi tidak bisa menyelesaikan soal matematika sederhana?” ucap Guru
“Kalian bukan manusia, tap Kalian babi. Jadi Bersiaplah.” Ucap Guru. Anak murid dengan wajah kasih berteriak Tembak. Si Guru seperti dengan segaja menari bagian tali belakang bra seperti menjepretnya. Teriakan kesakitan pun terdengar, Guru Shim beranggapan kalau Para komunis menembak mereka, lalu menyuruh duduk Sim Ae Sook berdiri di paling pinggir seperti sangat dendam dengan gurunya. Guru 

Para wanita menganti baju olah raga di kelas, Hyun Hee melihat bagian pungung Jung Hee kalau memang. Jung Hee mengumpat pada gurunya Oh Man Sang, akan membalasnya. Eun Ja memberitahu Jung Hee kalau Ae Sook memakai sesuatu yang bertali.
“Dari mana dia mendapatkannya?” ucap  Eun Ja penasaran. Teman-temanya melihat dan Ae Sook mengatakan kalau itu rahasia. Teman Jung Hee tahu kalau pakaian dalam itu tak dijual di Korea.
“Itu tidak cantik. Itu untuk anak badung.” Ungkap Jung Hee seperti tak peduli. 

Mereka berlatih gerak jalan di sekolah dengan Guru tentara,  Guru tentara mulai melatih dengan memberikan aba-aba balik kanan dan juga maju jalan. Sementara Jung Hee dkk mulai mengobrol tentang Malam Kebudayaan.
“Ki Wook, pasanganku kemarin, mengundang kalian semua. Semua pria yang kemarin akan datang.” Ucap Eun Jo. Guru Tentara memberi aba-aba agar mereka mau jalan, semua mulai berjalan.
“Lupakan saja. Aku tidak mau menemui si Kepala Ikan itu.” Ucap Jung Hee.

“Masalahnya bukan si Kepala Ikan. Jika Eun Ja pergi, maka kau bisa menemui Son Jin.” Kta Eun Jo. Semua balik kanan berteriak bahagia mengetahui nama Son Jin
“Siapa Son Jin? Seorang pria?” tanya Jung Hee binggung. Eun Jo pikir Jung Hee sedang bercanda.
“Apa Kau tidak tahu Son Jin? Dia siswa tampan di SMA Garyeong, jabatanya Ketua OSIS.” Ucap Eun Jo. Jung He seperti tak yakin kalau wajahnya memang tampan.
“Tentu saja... Daegu dipenuhi gadis-gadis yang terobsesi kepadanya.” Kata Eun Jo dan yang lainya juga merasa tidak sabar lagi.

Saat itu Guru Tentara menyadari anak ada-ada yang berjalan kearah yang salah dan langsung membunyikan peluitnya. Jung Hee dkk kaget karena semua berbalik arah berjalan dibelakang mereka.  Mereka akhirnya mendapatkan hukuman dengan posisi push up dengan menahan tangan.
“Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh! Akibat murid-murid yang terpisah dari barisan tadi, seluruh kelas akan dihukum. Pastikan ini tidak terulang.” Ucap  Guru tentara. Ae Sook kesal mendorong Jung Hee, Jung Hee tak mau kalah akhirnya ia juga yang jatuh.
“Hei.. Kalian... Jung Hee. Ae Sook. Maju.” Perintah Guru tentara. Ae Sook mengeluh kalau tidak melakukan apa pun. Gurunya tak mau tahu menyuruh keduanya maju.
“Kalian tidak tahu caranya bertobat, jadi bersikap Kayang.” Perintah gurunya. Jung Hee mengeluh tapi akhirnya keduanya bersikap kayang dan yang lainya kembali berlatih baris berbaris.
“Jung Hee. Aku tidak akan pernah melupakan ini.” Ucap Ae Sook. Jung Hee menyuruh diam saja karena sangat lelah.



[Malam Kebudayaan]
Jung Hee dkk sudah berkumpul,  Eun Jo yakin  Jika semua berjalan lancar, mungkin mereka  ada kencan dadakan. Jung Hee binggung apa maksudnya. Eun Ho memberitahu kalau akan ada Kencan kelompok yang terjadi secara mendadak. Dong Moon datang langsung menyapa Jung Hee dengan wajah bahagia.
“Apa waktu itu kau pulang dengan selamat?” tanya Dong Moon.
“Itu sudah lama sekali. Kenapa baru bertanya sekarang?” keluh Jung Hee. Dong Moon ingin bicara tapi Jung Hee lebih dulu untuk pamit masuk ke dalam gedung.
“Ada begitu banyak pria... Aku senang sekali.” Ungkap Dua temanya. Jung Hee melihat Hyun Hee seperti merasa sakit karena memegang terus bagian perutnya.
“Dia memakai ikat pinggang.” Ucap Eun Jo. Jung Hae pikir itu korset dan Agar terlihat kurus.
“Aku tidak bisa melakukan ini dan harus melepaskannya.” Kata Hyun Hee. Jung Hee pun menemaninya ke toilet. 

Di dalam toilet
Hyun Hee merasa kembung dan Perutnya menggila, tapi tak ada pintu toilte yang kosong. Jung Hee terlihat kesal  karena melihat ada yang berani merokok di toilet gereja seperti itu dengan asap yang keluar dari bagian atas.  Saat itu Ae Sook dkk keluar dari toilet.
“Musuh selalu bertemu tanpa direncanakan. Aku senang melihatmu di sini.” Ungkap Ae Sook. Jung Hee heran karena dianggap musuh. Ae Sook menyuruh temanya agar mengosongkan toilet.
“Wajah cantikku ini, terbakar karena dihukum akibat ulahmu.” UcapAe Sook.
“Kenapa aku yang salah? Kau yang lebih dahulu memukulku.” Kata Jung Hee tak takut.
“Kamu anggap apa Geng Akasia?” ucap Ae Sook seperti diremehkan. Hyun Hee mengajak pergi saja tapi teman Hyun Hee sudah menariknya dan memasukan ke toilet.
“Geng Akasia hari ini akan memberimu pelajaran, mengerti?” ucap Ae Sook mulai menjambak rambut. Jung Hee mencoba melawan dan membuat Ae Sook tertambar dengan tanganya sendiri.
Ae Sook mengangkat kepalanya, temanya memberitahu kalau hidung Ae Sook berdarah. Jung Hee terlihat ketakutan dan langsung kabur. Ae Sook berteriak agar mereka mengejar Jung Hee 


Jung Hee bersembunyi dengan masuk ke dalam sebuah ruangan, dan mencoba menguncinya tapi seperti Ae Sook sudah ada didepan pintu. Ae Sook menyuruh Jung Hee keluar saja saat aku minta baik-baik. Mereka mencoba mendorong, saat itu seorang datang membantu Jung Hee untuk menahan agar tak terbuka.
“Kenapa dia begitu kuat? Jung Hee! Buka pintunya.!!!” Teriak Ae Sook. Jung Hee tak bisa berkata-kata melihat wajah pria tampan ada didepanya.
Jung Hee pikir itu Son Jin, dengan mengingat saat dilapangan “Daegu dipenuhi gadis-gadis yang terobsesi kepadanya. Saat itu Son Jin membuka pintu dan membuat Ae Sook jatuh, Jung Hee berada dibelakang pingtu. Ae Sook kaget ternyata Son Jin ada didepanya dan berusaha untuk bersikap manis.
“Ada apa ini?” tanya Soo Jin. Ae Sook mengatakan Ada seorang gadis. Soo Jin langsung menyela kalau tak ada
“Ruangan ini tidak boleh dimasuki.” Ucap Soo Jin. Ae Sook akhirnya meminta maaf dan mengajak semua teman-temanya untuk pergi.




Jung Hee melonggo ke bagian depan pintu ingin melihat apakah Mereka sudah pergi. Son Jin menahan agar Jung Hee tak melonggokan wajahnya, Jung Hee terdiam karena pria tampan didepanya menyentuhnya dan terlihat ingin melindunginya.
“Mereka sudah pergi. Kau berani melawan tiga orang sendirian, jadi Pergilah melalui pintu belakang. Kau akan selamat.” Ucap Son Jin.  Jung Hee mengucapkan terimakasih lalu berjalan pergi dengan senyuman.
“Itulah momennya... Kali pertama aku bertemu dengan Son Jin dan ternyata dunia di hadapanku tiba-tiba berubah. Tidak lagi membosankan dan sepi. Ini dunia yang baru. Sebuah dunia di mana seorang pria memasuki hatiku.” Gumam Soo Jin tersenyum bahagia.
Son Jin sebagai “Oppa Gereja” menyanyikan lagu diatas panggung dengan gitarnya. Semua terhanyut dengan suara yang dibawakan Son Jin, Jung Hee benar-benar terlena menatap Son Jin diatas panggung mengaku kalau sedang jatuh cinta dan tanpa menyadari kalau Dong Moon yang duduk dibagian depan terus menengok menatap Jung Hee mengaku kalau sedan jatuh cinta.
Bersambung ke part 2

FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar