Selasa, 12 September 2017

Sinopsis Girl's Generation 1979 Episode 1 Part 2

PS : All images credit and content copyright : KBS
Jung Hee pulang ke rumah dengan wajah bahagia, berbaring dilantai kamar mengingat kembali saat ia dan Son Jin berdiri sangat dekat, lalu mulai bergumam
“Tapi aku tidak mengetahui bahwa cinta berarti penderitaan akan segera terjadi. Bahwa aku akan memeluk sebuah batu yang terbungkus duri di dalam hatiku. Saat itu aku tidak tahu.”

Di kelas
Guru Oh mengajarkan kembali pelajaran matematika,  sementara itu Jung Hee tersenyum melihat ke depan karena dimatanya seperti melihat Son Jin duduk diatas meja mengodanya. Guru Oh sempat heran melihat Jung Hee hanya tersenyum menatap papan tulis dan mencoba untuk menghindarinya.


Jung Hee kembali berlatih baris berbaris, semua terlihat fokus dan Jung Hee melakukan kesalahan dengan berjalan kearah yang berbeda sampai akhirnya saat membalikan badan, senyumanya kembali terlihat kalau Son Jin yang meniup peluit, padahal si Guru tentara yang memperingatkanya.

Ae Sook dkk seperti terbiasa makan dengan meminta makanan pada teman lainya. Hyun Hee dkk juga istirahat dengan makan yang bekal mereka bawa dari rumah, suara penyiar radio terdengar
"Sebelum aku memanggil namanya, dia tidak lebih dari suatu gerakan." Lagu Bunga oleh Kim Chun Su. Inilah lagu terakhirnya. Tembang dari Barbara Streisand, Kita Yang Dahulu". Ucap Jung Hee duduk dibelakang mic, dan saat lagu di putar menatap ke arah  luar jendela kembali membayangkan Son Jin.
“Son Jin.. Sedang apa kamu sekarang? Saat melihat bunga atau langit, aku hanya memikirkanmu. Apa Kau tidak menyadarinya? Aku merindukanmu. Aku ingin menemuimu.” Gumam Jung Hee. 

Jung Hee baru keluar dari ruang radio dan teman-temanya memangil kalau  Ada berita besar. Jung Hee merasa tidak tertarik. Eun Jo memberitahu kalau ini Mengenai Son Jin. Jung Hee berhenti melangkah. Eun Jo mendengar Son Jin pergi ke Perpustakaan Taehyang-dong.
“Kau bilang Taehyang-dong? Kenapa dia pergi begitu jauh untuk belajar?” ucap Jung Hee heran
“Terlalu banyak gadis mengganggunya di perpustakaan dekat sana.” Kata Eun Jo
“Apa Kalian yakin?” tanya Jung Hee seperti tak percaya. Eun Jo sangat yakin.
“Ini informasi rahasia tingkat tinggi yang kekasihku ceritakan.” Kata Eun Jo. Jung Hee sumringa mendengarnya. 

Bong Soo masuk kamar adiknya mengeluh padahal sudah punya jam beker, Jung Hee mengatakan kalau satu saja tidak cukup. Bong Soo mengejek kalau Jung Hee itu tuli dan berteriak pada ibunya kalau Jung Hee  sudah tuli. Jung Hee berteriak marah kalau tak seperti itu lalu  memasang tiga jam beker diatas meja.
Jung Hee terlihat sangat gelisah sampai akhirnya tidur dengan posisi duduk tengkurap lalu bangun dan melihat jam beker yang tak berbunyi. Bibinya membuka pintuk melihat Jung Hee yang sudah bangun memberitahu sedari tadi jamnya berbunyi tapi tak juga bangun. Jung Hee mengeluh karena tak membangunkanya dan bergegas keluar dari kamar. 

Jung Hee keluar pagi-pagi dengan sepedanya, Bibinya mengejar meminta agar sarapan lebih dulu. Jung Hee pikir sudah tidak sempat. Bibi sudah membuat telur kukus dan menyuapinya. Jung Hee hanya makan satu suap lalu pergi. Bibinya melihat Jung Hee kasihan karena tak sarapan.  Jung Hee segera mengayuh sepeda dengan cepat.
“Katanya ruangan siswa campuran sangat cepat terisi.” Kata Jun Hee mulai kelelahan mengayuh sepedanya.
Sampai di depan perpustakaan, sudah banyak yang mengantri. Di depan terlihat spanduk bertuliskan "Mata-mata tidak memakai tanda. Kita semua harus mencari" Mereka mendapatkan kartu untuk masuk ke Ruang campuran. Jung Hee melihat kertas yang diberikan warna beda.
“Aku mau yang putih. Aku mau ruang campuran.” Ucap Jung Hee. Si petugas memberitahu kalau Sudah penuh. Jung Hee tak percaya tapi setelah itu melihat Dong Moon baru naik tangga dan berteriak memanggilnya sambil membawa kertas miliknya. 

Jung Hee memberikan kertas agar bisa bertukar, Dong Moon melihat kalau  Itu untuk ruangan putri. Jung He merengeka kalau Dong Moon memberikan miliknya dan memint yang baru saja
“Ruangan putra pasti sudah penuh. Jika memberimu ini, maka aku harus menunggu sampai seseorang pergi.” Ucap Dong Moon
“Dong Moon. Tolonglah... Ayolah, Dong Moon.” Rengek Jung Hee sambil memukul bagian dada Dong Moon. Akhirnya Dong Moon seperti tak tega dan memberikan miliknya. Jung Hee bergegas pergi sambil mengucapkan  Terima kasih. Dong Moon terpesona karena Jung Hee yang memegang dadanya. 

Jung Hee pergi ke "Ruang Campuran" lalu mencari sosok Son Jin, lalu menemukan sedang duduk membaca buku. Jung Hee terus melihatnya dari tempat duduk yang kosong. Son Jin sempat menengok, Jung Hee langsung menyembunyikan wajahnya, setelah Son Jin kembali membaca senyumanya terlihat karena bisa menatap Son Jin. Akhirnya Jung Hee pergi ke toilet, di depan kaca berlatih menyapa Son Jin lebih dulu.
“Hai, Jin... Apa kau Ingat aku?” ucap Jung Hee, tapi menurutnya  tak boleh seperti itu
“Di Malam Kebudayaan...” kata Jung Hee, menurutnya itu tak bagik.
“Ah... Pokoknya, ini kesempatan sekali seumur hidup. Jangan sampai terlepas.” Ucap Jung Hee menyakinkan diri masuk kembali ke dalam perpustakanya dan berdiri membelakangi meja Son Jin. 

“Halo.... Tempo hari, di Malam Kebudayaan...” ucap Jung Hee dan dikagetnya ternyata  Dong Moon yang duduk di meja Son Jin. Suaranya yang berteriak membuat orang-orang mengeluh karena sedang fokus belajar.
“Kenapa kau di sini?” tanya Jung Hee binggung
“Son Jin, yang tadi duduk di sini, baru saja pergi.” Kata Dong Moon. Jung Hee kembali berteriak lalu bergegas pergi. 

Son Jin sudah membawa sepedanya keluar dari perpustakana. Jung Hee melihatnya bergegas mengambil sepeda, Dong Moon menghalanginya, Jung Hee menyuruh Son Jin minggir karena bisa tertabrak. Son Jin terus mengayuh sepeda tanpa sadar Jung Hee yang mengikutiya dari belakang.
Jung Hee tak mau kehilangan kesempatan tapi malang saat itu ada mobil melaju dari dari depan membuat hilang keseimbangan dan akhirnya jatuh dari sepeda dan terluka dibagian kakinya. Ia hanya bisa menangis melihat luka dibagian kakinya.
“Apa Kau baik-baik saja? Apa Kau terluka?” ucap Son Jin tiba-tiba sudah ada didepan Jung Hee hanya bisa melonggo diam. Son Jin pun ingin melihat luka Jung Hee.
“Astaga. Bisakah kau berdiri? Kau terluka.” Ucap Son Jin membantu Jung Hee berdiri
Saat itu seorang wanita datang dengan paras yang cantik, dengan wajah panik, Jung Hye Joo menanyakan keadaan Jung Hee. Tatapan mata Son Jin langsung tertuju pada Hye Joo seperti terpesona dengan kecantikan Hye Joo.
“Pada saat itu, sesuatu membuatku sangat gugup.” Gumam Jung Hee. Saat itu ayah Hye Joo datang melihat Jung Hee.
“Kau terluka parah... Ayo ke dokter.” Kata Tuan Jung. Jung Hee menolak
“Tapi kau berdarah.” Kata Tuan Jung. Jung Hee pikir akan ke apotek saja.
“Maaf, tapi kami sedang pindahan, jadi Hye Joo, kamu harus membantunya.”kata Tuan Jung. Hye Joo mengangguk mengerti.
Tuan Jung pergi menaiki mobilnya, Hye Joo melihat kaki Jung Hee berpikir apakah bisa berjalan. Son Jin tiba-tiba berjongkok menyuru Jung Hee agar naik ke punggungnya.  Jung Hee binggung. Son Jin segera menyuruh Jung Hee naik saja. 



Akhirnya Jung Hee sudah digendong Son Jin, berjalan bersama dengan Hye Joo yang membawa tasnya. Jung Hee seperti mencari kesempatan dengan bersadar di punggung Son Jin.
“Aku sedang bermimpi... Aku masih bermimpi... Jika ini mimpi, tolong jangan bangunkan aku.” Gumam Jung Hee seperti tersenyum. Tapi Hye Joo melihat Jung Hee seperti merasa sangat sakit.
“Benarkah ini terjadi? Aku bisa mati bahagia sekarang.” Gumam Jung Hee bahagia. Son Jin juga berpikir Jung Hee merasa kesakitan. Hye Joo melihat ada apotek yang buka.
“dasar Bodoh. Kenapa mereka buka di hari Minggu?” gumam Jung Hee kesal melihat ada apotik yang buka. 

Hye Joo masuk lebih dulu ke dalam apotik. Seorang pria membereskan rak menyuruh Hye Joo pergi ke tempat lain karena tidak buka hari ini. Hye Joo meminta maaf memberitahu kalau ada seseorang terjatuh. Ternyata Young Choon yang ada diapotik menatap Hye Joo seperti mulai terpesona dan melihat kalau ia baik-baik saja. Hye Joo mengatakan kalau itu bukan dia.
Son Jin membawa masuk Jung Hee ke dalam apotik.  Young Choon sempat panik melihat Jung Hee.  Soon Jin memberitahu  Jung Hee jatuh dari sepeda jadi butuh antiseptik. Young Choon memanggil Ahjussi memberitahu Jung Hee jatuh jadi meminta agar segera keluar.
“Kau sangat mahir bersepeda. Apa Kau bodoh?” keluh Young Choon. Jung Hee hanya bisa cemberut mendengarnya.
“Kita perlu menghentikan pendarahannya. Tolong ambilkan kami...” kata Son Jin
“ Mintalah kepada apotekernya.” Kata Young Choon kembali berteriak memanggil Ahjussi.  Hye Joo mencoba membersihkan luka tapi Jung Hee langsung berteriak kesakitan.
“Maaf, pasti sakit sekali. Tapi lukamu harus dibersihkan.” Kata Hye Joo.  Son Jin akhirnya turun tangan membersihkan luka Jung Hee dengan meniupnya. Jung Hee hanya terdiam dengan menatap Son Jin tanpa menjerit kesakitan.
Apoteker akhirnya datang melihat luka Jung Hee dan bergegas mengambil  antiseptik.  Young Choon pun pamit untuk pergi kerja. Temanya berkomentar kalau Young Choon akan kaya, kalau bekerja sangat giat. Jung Hee diberikan obat oleh apoteker, langsung menjerit kesakitan.  Si apoteker mengejek Jung Hee yang cengeng. 


Kaki Jung Hee sudah diperban,  Hye Joo merasa tak enak memastikan keadaan Jung Hee sekarang. Jung He mengaku sudah baik-baik saja. Hye Joo pun pamit pergi,  dan memberikan kartu nma agar menghubungi jika masih ada yang sakit atau apa saja pun itu, lalu naik ke dalam taksi yangs udah menunggu.
Son Jin sempat menatap Hye Joo, Jung Hee dengan gugup hanya berdua dengan Son Jin mengatakan sudah tidak apa-apa jadi bisa pergi sendiri. Son Jin pikir akan mengantarkanya pulang. Jung Hee terkejut Son Jin akan mengantar pulang. 

Keduanya berjalan beriringan dengan Jung Hee didepan dan Son Jin mengikutinya dari belakang. Son Jin mulai bertanya kemana Jung Hee yang terlihat buru-buru mengemudikan sepedanya, Jung Hee binggung menjelaskanya.
“Kenapa kau pergi sejauh itu untuk belajar?” ucap Son Jin. Jung Hee panik dan kakinya yang belum bisa berdiri tegak hampir jatuh tapi tangan Son Jin siap menahanya.
“Kau hampir terjatuh lagi.” Kata Son Jin menahan Jung Hee.
“Aku merasa perubahan suasana akan membantuku belajar lebih baik.”kata Jung Hee. Son Jin bertanya apakah itu berhasil. Jung Hee makin binggung.
“Kurasa tidak... Karena itulah kau pergi begitu cepat.” Kata Son Jin
“Bukan karena itu, tapi Aku harus mengurus sesuatu.”kata Jung Hee. 

Saat itu Bong Soo melihat adiknya langsung menghampiri kalau tahu  pergi pagi-pagi sekali untuk belajar, dan sekarang malah menggoda pria di jalanan, dan mulai mengumpat marah, tapi komiknya langsung terjatuh melihat ternyata seniornya di sekolah.
“Aku sekolah di SMA Garyeong. Aku di kelas... Kelas berapa?” ucap Bong Soo bertanya pada adiknya Jung Hee memberitahu kelas 11-5.
“Berapa nomor indukku?” bisik Bong Soo. Jung Hee menyebut angka  28. Bong Soon memperkenalkan nama panjanga Lee Bong Soo.Nomor 28,
“Dia kakakku. Saudara kembarku.” Ucap Jung Hee. Son Jin mengerti kalau kakaknya bernama Bong Soo dan belum tahu nama Jung Hee.
“Dia Jung Hee. Lee Jung Hee. Adikku.” Ucap Bong Soo.
“Bong Soo.... Aku meninggalkan sepeda adikmu di toko sepeda. Adikmu terluka, jadi, pergilah mengambilnya.” Ucap Son Jin. Bong Soo sempat ingin mengelak tapi karena kelas hanya bisa menganguk mengerti.
“Jung Hee... Sampai jumpa nanti” kata Son Jin. Jung Hee hanya bisa tersenyum dan Bong Soo pun memberikan hormat saat Son Jin pergi. Jung Hee berteriak memanggil Son Jin hanya untuk mengucapkan Terima kasih.
“Lain kali, jangan terlalu kuat mengejarku. Kau bisa terluka. Semoga lekas sembuh.” Kata Son Jin. Jung Hee sempat kaget hanya bisa menghela nafas karena Son Jin sudah mengetahui dan mau membantunya. 
“Ada apa ini? Kenapa dia bisa bersamamu? Apa Kau mengejarnya? Kau jatuh saat mengejarnya, bukan?”kata Son Jin. Jung Hee berteriak kesal dan berjalan lebih dulu. Bong Soo pun mengejarnya.
“Aku benar. Kau mengejar Son Jin juga, kan? Astaga. Jung Hee. Apa masalahmu? Cobalah memakai energi itu untuk belajar.” Ejek Bong Soo. Jung Hee menyuruh kakanya untuk diam saja.
“Kurasa kau baik-baik saja. Tadi kamu sekarat.” Ejek  Bong Soo. Jung He menyuruh Bong Soo mengambil sepedanya saja. Bong Soo menolak menyuruh Jung Hee mengambil sendiri saja.
“Dasar kau. Tadi Jin menyuruhmu mengambilnya untukku Dan kamu setuju! “keluh Jung Hee.
“Aku tidak peduli siapa bilang apa tapi Suruh dia tutup mulut.” Kata Bong Soo lalu melihat Ada yang pindah rumah.
Jung Hee melihat kearah yang ditunjuk Bong Soo, dan ada Young Choon yang membawa semua barang-barang ke dalam rumah.  Bong Soo mengeluh Young Choon ada di mana-mana bahkan bekerja begitu keras untuk ukuran pria setampan dia.
Saat itu Young Choon membawa barang bertanya pada pemiliknya mau ditaruh dimana. Bong Soo langsung terpana melihat pemiliknya adalah Hye Joo yang cantik. Jung Hee melihat kalau Hye Joo tinggal dirumah baru dan memilih untuk pergi. Bong Soo heran melihat adiknya yang pergi ke arah berlawanan. Hye Joo membawa beberapa tumpukan buku, Young Choon seperti tak tega langsung mengambil dari tangan Hye Joo walaupun Hye Joo berkata kalau bisa melakukan sendiri. 

Jung Hee ingin pulang, saat itu tiba-tiba Dong Moon seperti sudah menunggu dan bertanya apakah akan pulang. Jung Hee kaget karna Dong Moon mengetahui alamatnya. Dong Mon mengaku tidak tapi karena melihat Jung Hee buru-buru keluar, jadi cemas dan mengejarnya dan ingin tahu Apa yang terjadi.
“Bukan urusanmu. Pergilah. Tapi apa yang kau lakukan di Perpustakaan Taehyang-dong?” Ucap Jung Hee. Dong Man ingin menjelaskanya tapi Jung Hee lebih dulu bicara 
“Kurasa anak-anak SMA Garyeong suka pergi ke sana. Son Jin, si Ketua OSIS juga pergi ke sana.” Kata Jung Hee.
“Lalu Kau sendiri? Kenapa pergi sejauh itu?” kata Dong Moon
“Dong Moon.... Kau.. tidak perlu tahu.” Ucap  Jung Hee. Dong Moon melhat Luka Jung Hee pasti sakit tapi Jung Hee seperti tak peduli memilih untuk pergi. 

Bibi Jung Hee sibuk dengan tanamanya, melihat Jung Hee yang pulan cepat. Jung Hee melihat bibinya ada didepan rumah. Bibi Jung Heee melihat luka di kaki Jung Hee langsung terlihat panik. Jung Hee mengaku  Ini bukan apa-apa. Bibi Jung Hee mengikuti Jung Hee masuk mematikan kalau akan bisa berjalan. 

Jung Hee berbaring ditempat tidurnya mengingat kembali wajah Son Jin dan berkata “Jung Hee.... Sampai jumpa.” Lalu membersihkan luka yang kotor dengan tiupanya.
“Aneh... Tadi aku sangat senang. Tapi Kenapa sekarang aku sangat sedih Ini karena aku merindukannya... Makin memikirkannya, aku makin merindukannya. Itu sebabnya aku terus bersedih. Mana bisa aku menunggu sampai hari Minggu?” ucap Jung Hee berbicara sendiri sambil berteriak. Ibunya yang mendengar suara anaknya agar Jangan berisik dan tidur saja. 

Disekolah
Semua temannya kaget kaalau Son Jin melakukan itu, dan Jung Hee digendong di punggung Son Jin. Jung Hee meminta temanya untuk tak bersuara dengan semua teman-temanya yang sibuk belajar.  Eun Jae berpikir Dada Jung Hee bersentuhandengan punggung Soo Jin dan mengoyangkanya.
“Yang benar saja. Aku tidak melakukan itu.” Ucap Jung Hee.
“Apa maksudmu? Mana bisa kau digendong di punggungnya tanpa menyentuhkannya?” ucap Eun Jae mengoda. Semua menjerit histeris memikirkanya.
“Diam! Pelankan suara kalian! Maka Akan kulepaskan semua nama kalian” teriak ketua kelas menyuruh mereka untuk belajar. Mereka pun berusah untuk tak berisik. 

Guru Oh duduk di meja guru melihat "Rapor Siswa" lalu melihat anak yang berdiri depanya. Guru tentara juga melihat si anak seperti melonggo tak percaya, terkesima menatapnya.
Di kelas, Jung Dkk berbicara dengan menuliskan diatas kertas.  "Permainan sudah berakhir" dan “Benar. Jung Hee, sekarang kamu adalah pacar pria tampan Daegu, Son Jin.” Jung Hee pikir bukan seperti itu.
“Ada seorang gadis bernama Choi Duk Boon dari SMA Putri Dongsung yang terkenal suka mengikuti Jin ke mana pun. Dia jatuh di depan sekolah tempo hari dan sangat kacau. Apa Kau tahu  yang Jin lakukan?” ucap Eun Joo. Jung Hee ingin tahu apa yang dilakukan Soo Jin.
“Dia Cuma bilang Hati-hati.. Kemudian dia pergi. Dia berdarah di tengah jalan.” Ucap Eun Joo
“Tidak mungkin. Aku yakin darahnya tidak banyak.” Kata Jung Hee melihat Sun Jin itu baik hati menolongnya.
“Pokoknya, begitulah sifatnya. Dia dingin dan angkuh.” Kata Eun Ja
Saat itu Guru Oh berjalan dilorong melihat ke arah belakang senyumanya terlihat sangat lebar. Hye Joo dikepang dua berjalan dibelakang guru Oh seperti sebagai murid baru di sekolah Jung Hee. 


“Dia terkenal angkuh di hadapan gadis. Tapi dia menggendongmu di punggungnya. Dia memilihmu.” Ucap Hyun Hee tersenyum bahagia. Jung Hee terlihat malu-malu
“Apa maksudmu?” tanya Kim Ki Ryu ingin tahu. Eun Ja memberikan kode dengan dua jari yang saling bertemu. Ki Ryu berteriak bahagia memuji Jung Hee hebat. Jung Hee mendorong Ki Ryu untuk duduk saja.
Saat itu Guru Oh masuk kelas, melihat keduanya yang berdiri mulai mengomel  para siswi terburuk di kelas sudah begitu senang dan berisik sepagi ini dan menyuruh keduanya akan memulai meditasi. Keduanya mengeluh mendengarnya.
“Apa Kalian tidak mau? Kalau begitu, Kalian mau bersiap menghadapi senapan mesin?” kata Guru Oh. Mereka menolak akhirnya naik keatas meja dengan mengangkat dua tangan/
“Sementara Jung Hee dan Ki Ryu bermeditasi pagi ini, bapak akan memperkenalkan siswi pindahan baru.” Ucap Guru Oh. Semua terlihat senang ada siswa baru. Guru Oh meminta agar masuk.
Semua langsung memuji Hye Joo cantik sekali. Jung Hee tak percaya melihat Hye Jung adlah  siswa SMA dan mengeluh Kenapa harus sekarang. Hye Joo mulai menyapa temanya dengan memperkenalkan namanya dan barus aja pindah dari Seoul. Semua makin bangga mendengarnya, saat itu Hye Joo kaget melihat Jung Hee sedang dihukum.
“Sungguh memalukan... Perasaan gugup apa ini yang melandaku lagi?” gumam Jung Hee.
Bersambung ke episode 2

FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09 


1 komentar:

  1. Ky reply series ya... Settingnya
    Kynya Bagus nih setelah baca sinop nya
    Jd tertarik tuk nonton

    BalasHapus