Kamis, 07 September 2017

Sinopsis School 2017 Episode 16 Part 1

PS : All images credit and content copyright : KBS
Semua kaget saat melihat dibalik jaket hitam adalah Tae Woon, lalu berjalan ke depan semua guru. Semua anak murid benar-benar kaget melihat Tae Woon yang berani mengakui sebagai X.  Eun Ho pun berjalan dan berdiri disamping Tae Woon. Kepsek Yang bertanya apa yang mereka lakukan.
“X adalah aku. Sekolah ini sudah menuduh Ra Eun Ho yang tidak bersalah.” Kata Tae Woon.
“Tidak... Aku adalah kaki tangannya.” Ucap Eun Ho, Semua makin kaget tak percaya dengan pengakuan Eun Ho.
Sa Rang dan Bo Ra ingin mendekat, Dae Hwi menahan keduanya agar tak ikut campur. Guru Koo yang melihatnya tersenyum karena keduanya berani mengakuinya. Tuan Hyun terlihat marah menyuruh mereka  Selesaikan ini sekarang juga.
“Sepertinya kita harus berhenti untuk hari ini. Semuanya, silakan tinggalkan aula. Kembalilah ke kelas kalian. Kami akan mendiskusikan kembali bagaimana caranya menyelesaikan semua ini. Kau Cepat suruh mereka kembali ke kelas.” Ucap Kepsek Yang.
Eun Ho dengan berani mengenggam tangan Tae Woon, beberapa teman melihat kedunaya memuji X, bahkan terlihat bangga karena banyak yang mendukung X. Kau luar biasa!


(Episode 16, Dalam Perjalanan Menemukan Dirimu yang Sebenarnya)
Tae Woon kesal pada Eun Ho yang  terus-terusan ikut campur. Eun Ho juga marah dengan Tae Woon yang malah mengakunya. Tae Woon menegaskan Karena dirinya memang X. Eun Ho mengatakan ia juga memang kaki tangan Tae Woon.
“Ayo kita ke sana lagi dan katakan kalau ini hanya jebakan untukmu.” Ucap Tae Woon khawatir
“Tidak, ini bukan pertama kalinya Dan ini juga bukan jebakan.” Kata Eun Ho
“Eun Ho, apa kau mau dikeluarkan dari sekolah? Aku tahu kau masih sangat ingin ke sekolah. Jadi apa yang akan terjadi kalau kau melindungiku? Kau ini bodoh sekali.” Ucap Tae Woon marah. Saat itu Tuan Hyun memanggil Tae Woon menyuruh ikut denganya. 


Keduanya duduk di ruang kepalas sekolah, Tuan Hyun marah karena sudah memperingatkanya agar tidak bertindak bodoh. Tae Woon pikir Selesaikan saja semua sesuai dengan yang Ayahnya peringatkan padanya, karena  Anak-anak dan para orang tua pasti tidak akan tinggal diam.
“Ayah akan ada dalam masalah besar kalau sampai publik tahu soal ini. Bagaimanapun, Ayah tetap harus membereskan semua ini” ucap Tae Woon.
“Apa kau senang karena sudah berhasil menghancurkan reputasiku? Apa ini yang kau inginkan? Aku tidak akan mengubah pemikiranku. Sebaiknya kau tidak berharap terlalu tinggi. ” kata Tuan Hyun marah


Di dalam kelas
Semua masih membahas kalau X adalah Tae Woon, seperti tak percaya mendengarnya. Byung Joo duduk diatas meja, merasa sangat kaget karena tidak habis pikir Hyun Tae Woon adalah X-nya.
“Jadi dia melaporkan dirinya sendiri, saat kejadian X melaporkan Kepsek.” Kata Anak murid perempuan. Semua benar-benar tak percaya dengan yang dilakukan Tae Woon.
“Seberapa rusaknya sekolah ini, sampai Tae Woon melaporkan sekolah milik ayahnya sendiri?” kata Dal Soo
“Ayolah. Sekolah ini memang sudah rusak di sana-sini.” Komentar murid lain. Salah satunya berpikir melaporkan semua pada orang tua mereka.  Teman yang lain merasa mereka tak bisa hanya akan duduk dan tinggal diam jadi harus melakukan sesuatu. 

Sa Rang dengan wajah penuh amarah merasa tidak bisa diam saja begini menurutnya lebih baik melaporkan semua yang sudah terjadi selama ini. Bo Ra setuju mereka bisa tempelkan poster atau apapunn itu dan Anak-anak juga mau protes.
“Kalau sampai Kementerian Pendidikan dan media tahu, semua orang akan kena masalah” kata Dae Hwi khawatir. Keduanya memintaa agar Dae Hwi untuk melakukan saja.
“Eun Ho dan Tae Woon sudah mengaku, jadi semua orang di sekolah shcok. Ayo kita gunakan kesempatan ini untuk menghukum sekolah.” Kata Sa Rang. Bo Ra mengangguk setuju. 

Kepsek Yang terlihat gelisah dalam ruangan merasa semuanya akan berantakan dan memikirkan Bagaimana kalau ada yang mengumumkan semua ke publik. Guru Park berpikir Kalau mereka melaporkan ini ke Kementerian Pendidika dan polisi datang untuk melakukan pemeriksaan..
“Diam kau. Omongan itu adalah doa, Kalau sampai kejadian, kau dan aku akan sama-sama tamat. Kita harus menghentikan ini bagaimanapun caranya.” Ucap Kepsek Yang dengan Guru Park Yang duduk dan berdiri karena panik
“Bagaimana caranya menghentikan mereka? Mereka sangat gigih.  Kita sebaiknya mengatakan semua pada kepolisian.” Ucap Guru Park

“Astaga.. Kita harus cari jalan keluar!” kata Kepsek Yang. Guru Park pikir Mungkin saja sudah ada artikel yang muncul sekarang dengan mengeluarkan ponselnya. Kepsek Yang kesal menyuruh Guru Park menghentikan tingkahnya.
“Bagaimana bisa kau berjalan sejauh ini dengan sikap pesimismu?” keluh Kepsek Yang
“Bapaklah yang selama ini sudah berjalan sangat jauh melebihi aku. Aku tidak bisa percaya..” kata Guru Park, Saat itu juga Tuan Hyun datang.
“Bagaimanapun semua harus dihentikan. Kalau ini sampai membesar,maka kita akan diperiksa oleh semua orang. Kita harus menggunakan semua kekuasaan dan wewenang untuk mencegah masalah ini menyebar ke publik.” Kata Kepsek Yang
“Aku juga tahu itu. Tapi semua sudah di luar kendali dan kita tidak bisa mencegahnya” tegas Tuan Hyun
“ Dari mana sebenarnya semua ini bermula?” bisik Guru Park. 


Tuan Hyun bertemu dengan komite sekolah, Ibu Bit Na menyindir  Berkat anak Tuan Hyun maka sekolah ini jadi semakin spektakuler. Tuan Hyun hanya bisa meminta maaf. Ibu Hee Chan memberitahu  Semua orangtua saling telepon sekarang.
“Kami akan lihat bagaimana kau akan mengurus semua ini dan memutuskan untuk berhenti atau tidak.” Kata Ibu Bit Na
“Tunggu... Ini akan jadi masalah serius kalau Komite tidak membantu kami. Rusaknya reputasi sekolahakan berdampak paling besar pada anak-anak.” Kata Tuan Hyun
“Kami akan memindahkan anak-anak sebelum itu terjadi. Kalau sampai gosipnya menyebar, apa sekolah akan dibiarkan?” kata Ibu Hee Chan sinis
“Aku percaya kau akan menemukan cara bijak untuk membereskan semua ini, tapi kami tidak bisa menunggu lama.” Tegas Ibu Bit Na. Tuan Hyun hanya bisa menatap para orang tua murid dengan wajah kebingungan. 


Petugas Han datang bertemu dengan Tuan Hyun baru saja keluar ruangan, berkomentar  Sekolah benar-benar kacau sekarang. Tuan Hyun pikir harus membereskan masalah ini secepatnya. Petugas Han melihat  Sepertinya ini tidak akan bisa diselesaikan dengan cepat lalu pamit pergi. 

“Keluarkan saja mereka secepatnya. Mereka berdua, Ra Eun Ho dan Hyun Tae Woon.” Ucap Tuan Hyun tak peduli.
“Sepertinya ini terlalu kejam untuk mereka.” Pikir Guru Park
“Aku tidak akan mengulanginya lagi. Ikuti semua aturannya. Orangtua akan mengamuk kalau kita melakukan sesuatu untuk menyelamatkan Tae Woon.” Kata Tuan Hyun mengorbankan anaknya.
“Kau harusnya melakukan sesuatu yang lebih baik dari ini.” Bisik Guru Park pada Kepsek Yang terlihat hanya diam saja. 

Eun Ho dan Tae Woon duduk bersama didepan Guru Koo. Guru Koo memberitahu  Direktur tetap berkeras untuk mengeluarkan mereka berdua dari sekolah dan mungkin harus mengundurkan diri dengan sukarela. Tapi ia memberitahu Ada masa hukuman selama seminggu.
“Tetaplah datang ke sekolah selama 2 hari dan masuklah ke kelas hukuman meski kalian akan dikeluarkan. Kalian tidak perlu masuk ke kelas reguler. Apa Ada pertanyaan?” ucap Guru Koo. Keduanya mengatakan tidak.
“Aku bahkan tidak tahu apa salah kalian.” Ungkap Guru Koo merasa ini tak adil lalu mengejek keduanya bodoh. Eun Ho dan Tae Woon hanya bisa saling menatap. 

Guru Shim masuk ke ruangan Kepsek Yang, terlihat sangat marah tapi Kepsek Yang tak ada diruangan. Ia merasa kalau Kepsek Yang sedang tidur dan bertanya kemana perginya setelah melakukan hal macam itu. pada anak-anak yang tidak bersalah, lalu melihat foto Kepsek Yang diatas meja.
“Dan kau menyebut dirimu kepala sekolah? Dasar kau sapi tua!” ucap Guru Shim menyentil foto Kepsek Yang
“Apa yang kau lakukan pada wajahku yang berharga?” ucap Kepsek Yang masuk ruangan sambil makan sosis.
“Kau sudah membuat anak-anak dikeluarkan dari sekolah. Bagaimana bisa kau makan sosis?” keluh Guru Shim
“Apa kau tahu apa yang dilakukan oleh kunyuk-kunyuk itu?” kata Kepsek Yang membela diri
“ Ini semua terjadi karena sekolah memang sudah berantakan. Mereka pasti tidak punya pilihan. Masih untung mereka tidak memasang bom di sekolah.” Kata Guru Shim melawan.
“Apa kau sudah gila? Keluar kau dari kantorku sekarang juga. Sepertinya belakangan kau sering bicara sesukamu. Diamlah kalau kau tidak mau kena pecat. Pastikan anak-anak tidak membuat masalah lain lagi.” Tegas Kepsek Yang
“Kita harus menunggu dan melihat siapa yang akan duluan kena pecat. Guru-guru lain juga tidak akan tinggal diam. Menurutmu apa gunanya Departemen Pendidikan?” kata Guru Shim yang sudah berani melawan.
Kepsek Yang pikir Guru Shim sedang mengancamnya. Guru Shim tak mengubrisnya, melihat banyak sampah di lantai dan membereskanya, sperti ingin menyindir banyak sampah di sekolah yang harus dibuang. 


Tae Woon berjalan bersama Eun Ho memuji pacarnya yang Kmemang pemberani dan sudah seperti pendamping X sekarang Eun Ho pikir Susah juga ternyata jadi pacarnya X. Tae Woon berpikir kalau Eun Ho menyesal menjadi pacarnya.
“Kalau aku menyesal kenapa? Apa Kau mau menarik semua ucapanmu?” goda Eun Ho
“Apa kau gila? Aku sudah bersusah payah menjadikan kau milikku. Aku tidak akan pernah melepaskan tangan ini.” Ucap Tae Woo menganggam tangan Eun Ho.
“Bagaimana bisa kita semirip ini? Kita berdua sama-sama pemarah dan berpikiran pendek.” Kata Eun Ho memegang tangan Tae Woon tanpa peduli lagi kalau ada teman mereka yang melihatnya.
“Coba Lihat betapa bahagianya. anak yang mau dikeluarkan dari sekolah ini.” Kata Tae Woon
“Pertama, apa yang akan kita lakukan besok? Kita tidak harus ke sekolah. Bagaimana kalau lari?” ucap Eun Ho melihat kearah depan lalu menarik Tae Woon. Tae Woon kaget Eun Ho berlari sambil menariknya. 

Keduanya duduk di tempat biasa, Tae Woon bertanya apakah Eun Ho akan baik-baik saja meski tidak akan bisa kembali ke sekolah selamanya. Eun Ho pikir memang tak punya pilihan dan kalau meamng kembali berpikir kalau tak bisa.
“Wahh... Udaranya segar sekali. Waktu di sekolah, kenapa aku tidak tahu ada hal semacam ini?” Mulai sekarang kau bisa mencari tahu banyak hal.”ucap Eun Ho sengaja menyandarkan kepalanya dan menatap bintang, lalu mengengam tangan Tae Woon. Tae Woon pun menyandarkan kepalanya, keduanya terlihat sudah saling menyayangi. 

Byung Joo terlihat sedih karena kursi dibelakangnya sudah kosong dan Tae Woon dikeluarkan dari sekolah, Hak Joong bertanya-tanya  Apa yang akan terjadi pada Tae Woon dan Eun Ho.  Hee Chan dengan nada sinsi  mengatakan Mereka akan dikeluarkan dan tidak akan aman setelah apa yang sudah mereka perbuat.
“Kenapa aku mencium ada bau sampah ?” sindir Dae Hwi mendengar ucapan Hee Chan. Hee Chan marah langsung berdiri menatap Dae Hwi.
“Maaf. Belakangan aku agak kesulitan mengatur emosiku. Kenapa kau tidak mengoceh lagi pada kepala sekolah?” ejek Dae Hwi
“Tentu. Aku tinggal ke kantornya saja. Apa yang akan kau lakukan sekarang setelah Tae Woon tidak ada?” kata Hee Chan
“Jangan cemaskan aku. Bagaimana denganmu? Tidak akan ada yang mengerjakan soal untukmu lagi. Kau pasti akan kesulitan mempertahankan ranking 5-mu itu.” Kata Dae Hwi
“Dasar kau berengsek miskin.” Umpat Hee Chan lalu keluar ruangan.
“Harusnya berandalan macam merekalah yang dikeluarkan.” Komentar Sa Rang geram. Bo Ra meminta agar tak perlu menghiraukan Hee Chan. 


Eun Ho pergi ke cafe merasa Senang sekali rasanya tidak harus pergi ke sekolah karena bisa bermain sepanjang hari dengan Tae Woon. Tae Woon mengejek Eun Ho yang  kekanakan sekali lalu  Eun Ho menyuruh agar memesan minumannya.
“Satu lemonade dan kau minum teh herbal saja.” Kata Tae Woo untuk Eun Ho
“Teh herbalnya satu” ucap Bo Ra, Sa Rang memesan  satu cokelat panas juga dan Dae Hwi memesan satu lagi lemonade dan jus anggur. Keduanya melonggo melihat ketiganya ikut bolos
“Apa yang terjadi? Apa kau sudah gila? Pergi les sana.” Ucap Eun Ho panik
“Jadi ini tujuanmu menanyakan keberadaan kami tadi?” kata Tae Woon sinis
“Kami mana bisa membiarkan kalian bersenang-senang sendiri.” Kata Bo Ra
“Hei, Murid Top sekolah... Memangnya kau tidak belajar?” kata Tae Woon. Dae Hwi pikir akan tetap ranking satu, Tae Woon merasa temanya itu pasti sudah gila.
“Hei. Kau 'kan kaya, Bayar semuanya,  Cepat.” Ucap Dae Hwi sudah terlihat santai dengan Tae Woon.
“Bagaimana kalau kita makan kukis dan cake juga? Karena ada cowok kaya yang akan mentraktir semuanya.” Ungkap Sa Rang dan Bo Ra mulai memilih. Tae Woon pikir Anak-anak ini memang luar biasa.


Mereka duduk dimeja dengan Eun Ho yang duduk bersama dua temanya, Tae Woon duduk didepanya menatap Eun Ho dengan senyuman. Dae Hwi melihatnya seperti merasakan sesuatu yang berbeda pada tatapan temanya. Kedunya pun duduk bersama.
“Terimakasih.. Eun Ho sangat senang bertemu dengan kalian. Dia sangat menyukai teman-temannya dan juga sangat menyukai sekolah.” Kata Tae Woon.
“Kembali saja.. Apa benar tidak ada jalan keluar? Pergilah dan memohonlah pada ayahmu.” Kata Dae Hwi.
“Aku sudah pernah mencobanya saat Joong Gi meninggal dulu.  Dia sangat gigih. Reputasinya jauh lebih penting ketimbang aku. Aku merasa sepertinya tidak bisa melakukan apa-apa untuk Eun Ho.Kenapa aku tidak bisa melakukan apa-apa untuknya?” ucap Tae Woon memikirkanya. 


Tae Woon bertemu dengan ayahnya, mengataakn  Karena Tuan Hyu tidak pernah suka caranya, maka akan mengatakannya dengan caranya dengan membiarkan Eun Ho tetap sekolah. Tuan Hyun mengatakan tidak bisa melakukannya.
“Kalau begitu aku akan mendatangi kantor Departemen Pendidikan, kantor polisi, stasiun TV dan semuanya besok. Makanan di sekolah, kompetisi buatan dan hasil evaluasi.. Kalau yang melaporkannya adalah anak direktur sekolah, publik pasti akan sangat tertarik.” Ucap Tae Woon. Guru Shim mulai mengumpat marah.
“Apa masalahmu sebenarnya?” kata Tuan Hyun. Tae Woon meminta agar  Eun Ho tetap sekolah.
“Ini adalah pertukaran yang sebanding. Ini adalah cara yang biasa Ayah lakukan.” Kata Tae Woon
“Berani sekali kau melakukan ini padaku demi cinta monyetmu itu?” kata Tuan Hyun marah
“Kalau Ayah tetap berusaha ingin menghancurkan hidup Eun Ho, aku tidak akan memaafkan Ayah. Ini bukan cinta monyet yang bodoh, tapi ini demi rekan sekelasku, dan demi salah satu murid di sekolah kita.” Tegas Tae Woon
“Oh.. Begitukah? Kalau begitu bersiaplah kau untuk kukirim ke luar negeri. Aku harus dapat sesuatu dari pertukaran ini. Begitulah caranya melakukan pertukaran yang adil.”balas ayah Tae Woon. 


Guru Shim datang kerumah Eun Ho dengan di suguhkan ayam goreng, Ibu Eun Ho yang mendenggarnya terlihat tak percaya, akalau Eun Ho bisa kembali ke sekolah. Ayah Eun Ho mengeluh dengan istrinay yang mengomel tanpa henti sejak tadi. Ibu Eun Ho mengaku memanng sangat marah
“Pak Shim... Bagaimana bisa mendadak..” tanya Eun Ho binggung
“Itu 'kan hal yang seharusnya. Kau hanya protes karena diperlakukan tidak adil di sekolah. Hukumannya terlalu berat kalau sampai dikeluarkan.” Kata Guru Shim, Ibu Shim pikir Guru Shim itu  pasti merasa kesulitan
“Pak Shim... Bagaimana dengan Tae Woon? Dia juga kembali ke sekolah, 'kan?” kata Eun Ho dengan tatapan sedih. Guru Shim terlihat gugup memberitahu Tae Woon. 

Eun Ho kembali bertemu dengan Tae Woon kalau akan ke luar negeri secara Mendadak. Tae Woon dengan santai kalau Bakatnya akan terbuang kalau hanya di korea. Eun Ho bertanya Apa Tae Woon  setuju untuk berangkat ke luar negeri agar ia bisa kembali ke sekolah. Tae Woon menyangkalnya.
“Aku ingin belajar desain seperti yang kau sarankan. Aku juga merasa waktunya pas sekali. Kalau aku berhasil mendesain sepeda motor yang keren, kau akan jadi yang pertama naik.” Ungkap Tae Woon
“Jadi itu alasannya, kenapa kau mau berangkat ke luar negeri?” ucap Eun Ho. Tae Woon membenarkan
“Permulaan hidup baru.. Aku sangat senang... Tapi kenapa aku merasa.. kau ini sedang berbohong?” kata Eun Ho. Tae Woon pikir tak ada alasan dirinya  harus bohong.
“Siapa lagi orang yang berbohong soal itu zaman sekarang? Kau 'kan masih ingin sekolah. Ini adalah pilihan bagus untuk kita.” Ucap Eun Ho
“Lakukan semua sesukamu... Lagi pula kau tidak akan mendengarkanku. Ini adalah hidupmu, belajar ke luar negeri, atau keluar dari sekolah. Lakukan saja sesukamu.” Ucap Eun Ho berjalan pergi dengan wajah penuh amarah, Tae Woon pun tak bisa berkata apa-apa. 

Tae Woon kembali ke rumah, Ayahnya langsung memperingatkan Tae Woon agar Tetap tenang sampai hari keberangkatanny dan Jangan lakukan hal bodoh. Tae Woon bertanya pada ayahnya apakah  tidak ingin tahu kenapa ia melakukan semua ini pada sekolah.
“Bukankah sebagai Ayahku, seharusnya Ayah cari tahu dulu?” ucap Tae Woon
“Aku tidak tertarik pada aksi bodohmu itu.” Kata Tuan Hyun
“Apa Ayah tahu apa yang paling kutakutkan? Saat aku dewasa nanti, maka aku akan jadi orang seperti Ayah.” Kata Tae Woon tak ingin seperti ayahnya yang sombong. 

Guru Shim melihat surat Permintaan Keluar dari Sekolah dari Tae Woon. Petugas Han melihat dari mejanya, Guru Shim bertanya apakah Tae Woon tak masalah lalu memberitahu masih punya masa tunggu, jadi suratnya tidak akan diproses sampai masa tunggunya selesai.
“Baiklah. Tapi, Pak Shim... Mohon pastikan Eun Ho kembali ke sekolah.” Kata Tae Woon. Guru Shim menganguk mengerti dan terlihat berat membiarkan Tae Woon pergi. 

Eun Ho duduk sendirian di ruang gambar webtoon, lalu makan siang di minimarket, tatapan melihat beberapa anak yang makan snack bersama dengan baju seragam sekolah. Ia mengingatkan dengan Sa Rang yang selalu makan siang bersama di kantin. Mereka pun tertawa bersama dengan Dae Hwi, Bo Ra di ruangan kontainer.
Bersama Tae Woon memberikan acungan jempol karena Bo Ra berani melawan. Mereka juga berhasil mengejari kepala sekolah dengan makanan basi, sampai tak berhenti tertawa. Eun Ho terdiam terlihat sedih mengingat kenangan disekolah. 

Eun Ho berkerja membagikan selembaran, Dae Hwi datang mengejek Eun Ho  yang sangat tegar. Eun Ho pikir benar karena sudah menghabiskan 18 tahun hidupnya dengan penuh ketegaran. Dae Hwi bertanya apakah Eun Ho benar baik-baik saja. Eun Ho mengangguk.
“Eun Ho... Tidak bisakah kau mengaku saja?” ucap Dae Hwi. Eun Ho bertanya Mengaku apa maksudnya.
“Jangan bersembunyi di dalam sendirian dan bertindak seolah kau baik-baik saja. Kalau terlalu berat, katakan saja dan kalau sakit, ucapkanlah. Tidak bisakah kau melakukannya?” kata Dae Hwi merasa kasihan.
“Sepertinya aku tidak bisa. Aku tidak seharusnya mengatakan kalau ini menyakitkan. Karena semua orang akan ikut sakit karenaku.” Ungkap  Eun Ho
“Lalu Bagaimana denganmu? Kau juga merasa sakit. Kau harus mengatakan kalau kau sakit dan kesulitan, supaya orang lain juga bisa mengatakan hal yang sama dan bisa bersandar padamu juga, Seperti Tae Woon.” Kata Dae Hwi. Eun Ho hanya diam saja. 

Tae Woon bermain basket,  Dae Hwi memberitahu Eun Ho sepertinya tidak baik-baik saja dengan bersikap sok kuat, dan bahagia serta ceria seperti biasanya Tapi kelihatan tertekan, bahkan belum masuk sekolah lagi.
“Seiring waktu dia akan baik-baik saja.” Kata Tae Woon seperti tak khawatir.
“Kau akan ke luar negeri, Apa benar itu karena Eun Ho? Pikirkanlah kembali.” Ucap Dae Hwi seperti berat juga.
“Aku sudah memutuskan.” Kata Tae Woon. Dae Hwi meminta bisakan kembali saja ke sekolah.
“Aku tidak akan kembali ke sekolah bodoh itu.” Tegas Tae Woon
“Kalau kau memutuskan untuk kembali, maka aku akan mengumpulkan anak-anak dan melakukan demo ke Departemen Pendidikan, bagaimanapun caranya. Jadi..” ucap Dae Hwi dan Tae Woon menyelanya.
“Hei.... Tidak bisakah kau biarkan aku menyelesaikan masalah ini dengan caraku? Kau sudah terlalu banyak pikiran.. Mengerti?”kata Tae Woon. Dae Hwi hanya bisa diam saja dengan helaan nafas. 


Nam Joo pulang kerumah menerima pesan dari Dae Hwi “Ayo bertemu di sekolah besok. Aku akan menunggu.” Akhirnya Nam Joo memberanikan diri, tapi baru sampai di depan sekolah memilih untuk berbalik. Tanganya ditarik oleh Dae Hwi. Nam Joo terlihat kaget Dae Hwi sudah ada didekatnya.
“Ayo ke sekolah, Nam Joo. Aku akan terus di sampingmu.” Kata Dae Hwi menarik Nam Joo pergi, didepan sekolah sudah berkumpul Bit Na dkk.
“Nam Joo... Kau kembali.. Kalau aku jadi kau aku pasti akan malu setengah mati... Kau kuat juga.” Ejek Jung Il. Dae Hwi tak tinggal diam ingin memukulnya.
“Sudah kuperingatkan, aku tidak akan memaafkanmu kalau kau menyentuhnya lagi.” Kata Dae Hwi. Mereka pun bingung kalau keduanya sudah putus.
“Kata siapa kami putus? Nam Joo adalah pacarku, dan kalau kau mengganggunya lagi, matilah kau” ucap Dae Hwi. Nam Joo tak percaya mendengarnya dan Bit Na sedari tadi menatapnya.
“Aku juga ingin mati rasanya... Aku merasa sangat malu, sampai rasanya ingin mati saja. Tentu saja.. Maaf karena sudah berbohong. Apapun alasannya, aku tahu kenyataan soal kebohonganku, tidak akan hilang begitu saja. Tapi aku tidak akan melakukannya lagi.” Ucap Nam Joo berani mengakuinya.
“Apa kau bercanda? Apa Kau mau mengubur semua ini begitu saja?” kata Jung Il
“Tidak... Aku ingin menghadapi semuanya sekarang. Semua kebohongan yang pernah kuucapkan. Jadi maki saja dan hakimi aku sesuka kalian.” Kata Nam Joo masuk ke dalam kelas.
Bit Na dkk terlihat binggung, Didalam kelas, Sa Rang dan Bo Ra memberikan pujian pada Nam Joo dengan jempolnya. Dae Hwi masuk ke dalam kelas berkata dengan bangga kalau Pacarnya sangat keren, Keduanya memilih untuk memalingkan wajahnya, seperti enggan memuji Dae Hwi. 


Eun Ho pergi ke tempat sampah dengan sekotak kardus dan kembali mengingat kenangan dengan Tae Woon.
Flash back
“Ini gambar yang kau buat sampai sekarang. Ada banyak, 'kan? Orang mungkin tidak tahu apa yang digambar oleh Ra Eun Ho, apa yang ingin dia lakukan untuk hidupnya atau apa saja impian yang gagal dia raih. Tapi Eun Ho, Aku tahu semuanya. Aku akan tetap di sisimu, jadi.. mari jangan menyerah. Mari kita lakukan yang terbaik.” Kata Tae Woon memperlihatkan gambar yang sudah dibuat oleh Eun Ho.
Eun Ho mengingat semuanya dan mengeluarkan ponselnya setelah meninggalkan sampah dalam kotak kardusnya. 

Tae Woon duduk diam di ruangan melihat Formulir Pendaftaran Belajar ke Luar Negeri dan juga Program Bahasa Inggris. Saat itu ponselnya berbunyi kalau itu telp dari restoran ayam. Tae Woon keluar rumah wajahnya tersenyum melihat Eun Ho yang datang.
“Kau adalah pelanggan VIP kami.Kami sedang mengadakan acara spesial.” Ucap Eun Ho memberikan dua kotak ayam.
“Siapa yang mengatakan "aku rindu padamu" dengan cara ini?” ejek Tae Woon.
“Aku tidak rindu padamu. Aku bahkan tidak bisa menghadapimu, jadi Untuk apa aku merindukanmu?” kata Eun Ho. Tae Woon pun mengucapkan terimkasih atas ayamnya dan memilih untuk segera masuk.
“Aku akan kembali ke sekolah.” Kata Eun Ho, Tae Woon tak percaya mendengarnya.
“Aku sadar betapa aku menyukai sekolah. Teman-temanku yang sangat kucintai semua ada di sana. Dan Juga kehidupanku sebagai anak 18 tahun. Impian yang ingin kuraih, semua ada di sana. Jadi aku akan kembali ke sekolah.” Ucap Eun Ho
“Keputusan yang bagus, Eun Ho.” Ungkap Tae Woon bangga
“Dan, aku juga akan menunggumu. Sepertinya ini saatnya aku membalasmu. Aku akan tetap di sisimu. Jadi.. Aku juga ingin kau memikirkan dengan serius soal hidupmu juga.” Ucap Eun Ho

Tae Woon tak percaya Eun Ho berkata seperti itu. Eun Ho meminta Tae Woon Jangan berangkat ke luar negeri kalau memang tidak mau apalagi hanya demi dirinya karean Pilihan yang sebenarnya harus demi Tae Woon sediri. Ia ingin Tae Woon memikirkan apa yang memang penting dalam hidupnya.
“Mungkin akan butuh waktu untuk menemukan jawabannya. Kau tahu 'kan aku ini punya banyak energi? Aku akan menunggu. Apapun yang akan kau pilih, aku akan memahaminya dan mendukungmu. Kuharap kau akan menemukan alasan dan tujuan tentang keputusanmu kembali ke sekolah. Bisa kau lakukan itu untukku?” ucap Eun Ho 
“Ahh.. Kau ini Benar-benar sesuatu, Kau ini selalu saja membuatku risau.” Ungkap Tae Woon yang gemas mencubit pipi Eun Ho. Eun Ho pun tersenyum menerimanya.
Bersambung ke part 2

 FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09 



Tidak ada komentar:

Posting Komentar