Sabtu, 09 September 2017

Sinopsis Strongest Deliveryman Episode 11 Part 1

PS : All images credit and content copyright : KBS
Jin Kyu datang binggung melihat semua barang sudah dikeluarkan dan bertanya apa yang terjadi.
“Apa Kau yang berbuat semua ini?” ucap Kang Soo dengan wajah sangat marah, Jin Kyu binggung karena memang bukan dia. Kang Soo seperti tak yakin kalau Jin Kyu tak melakukanya.
“Kenapa harus aku?” kata Jin Kyu seperti tak punya alasan. Saat itu Nenek Jung keluar dari restoran, mereka sempat menatap sedih. Tapi Nenek Jung berlalu tanpa bisa berbuat apa-apa. Kang Soo terlihat makin marah marah karena restoran Nenek Jung akhirnya diusir dari tempatnya selama ini. 

Petugas membawa semua barang-barang keluar dan tanpa sengaja menjatuhkan semua brosur yang sudah dibuat Kang Soo dan diinjak begitu saja. Di bagian depan restoran ditempel pengumuman “Pembongkaran”
[Akta untuk properti ini telah dipindahkan  melalui eksekusi wajib dari Pengadilan Negeri Seoul.]
Semua pun pergi termasuk juga Jin Kyu,  Kang Soo menatap brosur yang selama ini mereka bagikan, lalu berjongkok untuk membereskanya. Byung Joo melihatnya berpikir Kang Soo tak perlu melakukan itu. Dan Ah akhirnya ikut jongkok membantu Kang Soo, Tuan Baek dkk ikut membereskan brosur yang berserakan dijalan. 

Nyonya Jung menemui Jin Kyu yang datang  sangat tergesa-gesa. Jin Kyu membahas tentang Tentang Hanyang Seolleongtang dan ingin tahu apakah Nyonya Jung di balik semua yang terjadi. Nyonya Jung mengakui memang membeli bangunan itu dan penyewaannya tidak sesuai prosedur, jadi mengusirnya. Jin Kyu ingin tahu alasanya dengan menahan amarah.
“Kenapa Anda membeli bangunan Hanyang Seolleongtang itu? Sekarang 'kan tanpa begini pun kita bisa melawan Hanyang.” Ucap Jin Kyu yakin
“Aku berniat membantumu. Kudengar Hanyang selalu laku karena jasa pengantaran itu dan penjualan restoran ini kadang menurun, jadi aku membelinya. Kalau diharuskan aku ingin mengusirnya, hanya untuk membantumu meningkatkan penjualan.” Jelas Nyonya Jung
“Dengan begitu, saat aku menunjukmu sebagai direktur umum maka tidak akan ada perlawanan. Kenapa kau marah  seperti itu? Kupikir kau akan berterima kasih padaku. Aku melakukan semuanya untuk membantumu. Apa jawabanku belum memuaskanmu?” kata Nyonya Jung heran melihat reaksi Jin Kyu.
“Tidak, aku tidak mau melakukan ini. Aku ingin bersaing dengan kemampuanku sendiri. Aku ingin bekerja keras, dan bersaing dengan percaya diri! Itu sebabnya aku selalu riset setiap malam, dan aku bahkan mulai mendapatkan hasilnya!” ucap Jin Kyu 


“ Anda tidak tahu betapa bahagianya diriku ketika aku berhasil. Hanya dengan sekali, aku merasa bisa melakukan sesuatu Aku bahkan mulai berpikir kalau diriku itu tidak bodoh. Dan sebab itulah, aku sangat bersyukur pada Anda. Tapi... kenapa bisa Anda membuat usahaku jadi sia-sia? Kenapa Anda bisa, hanya sekali gerakan membuatku jadi orang bodoh?” ucap Jin Kyu marah
Nyonya Jung meminta agar Jin Kyu Sadarkan dirinya karena Tujuannya  bukan untuk menyingkirkan Hanyang, karena Hanyang hanyalah sebuah batu kerikil yang membuat kesuksesannya menjadi terhalang dan Yang harus Jin Kyu lakukan hanyalah menyingkirkannya.
“Mereka sangat tidak penting bahkan ketika kau berjongkok dan menemui mereka.” Kata Nyonya Jung merendahkan restoran Nenek Jung
“Itu Memang penting bagiku. Bagiku, Hanyang adalah langkah pertama yang kuambil dalam hidupku. Aku hanya bisa terlahirkembali sebagai orang baru jika aku mengalahkan merekadengan caraku sendiri. Aku... harus melakukan itu agar aku bisa membuat proyek makanan Jungga yang baru bisa berhasil!” kata Jin Kyu yakin
“Bahkan tanpamu, proyek untuk Restoran Jungga yang baru bisa berhasil.” Kata Nyonya Jung yakin. Jin Kyu tak mengerti maksudnya.

“Sistem Jungga sudah dilengkapi sepenuhnya. Meski kau bisa jadi direktur umum...tapi hasilnya sama saja.” Kata Nyonya Jung
“Lalu...kenapa Anda mempercayakan tugas ini padaku? Kenapa Anda memberiku kesempatan seperti ini?” tanya Jin Kyu
“Apa Kau masih belum tahu?” kata Nyonya Jung, Jin Kyu mengatakan tak tahu jadi meminta agar katakan padanya.
“Ini Untuk mengembalikanmu sebagai pewaris Ohsung Group. Orang tua tidak mungkin mengusir anak mereka sendiri. Bahkan Ketua Oh pasti akan datang mencarimu lagi.”ucap Nyonya Jung. Jin Kyu tak percaya kalau masih dihubungkan dengan ayahnya.
“Dan jika kau telah menjadi pembisnis terhormat saat itu, Ketua Oh pun akan berubah pikiran. Lalu, kau akan mendapatkan kesempatan untuk mewarisi setengah dari Ohsung Group. Tapi tentu saja, kau harus menikahi Ji Yoon dulu” kata Nyonya Jung tak mau rugi.
Jin Kyu mengartikan Nyonya Jung selama ini telah memanfaatkannya. Nyonya Jung pikir hanya menciptakan sebuah kesempatan dan Jin Kyu akan diberi kesempatan untuk bertahan di Ohsung Group dan Ia akan diberikan kesempatan untuk bertahan di tengah-tengah semua konglomerat besar. Dengan gaya sombongnya, Nyonya Jung mengatakan kalau dirinya adalah pengusaha.
“Jadi kalau aku menginvestasikan banyak uang ke seseorang yang tak punya pengalaman sepertimu berarti aku punya motif tersembunyi. Harusnya kau sudah tahu. Tapi, kau tidak menyadarinya. Kau hanya membaca buku, seperti seseorang yang ingin tahu sesuatu. Kau memang bodoh.” Ungkap Nyonya Jung. Jin Kyu sangat marah mendengarnya.
“Kau Istirahat saja... Besok aku akan menunjukmu sebagai direktur. Hanyang sudah tidak ada lagi, jadi tidak perlu khawatir dengan penjualanmu. Dan saat kau sedang beristirahat pikirkan hari di mana kau bisa kembali ke Ohsung Group. Itu akan membantumu melupakan hal-hal yang tidak penting seperti Hanyang.” Ucap Nyonya Jung sambil membereskan berkas diatas meja. Jin Kyu masih duduk dengan mata berkaca-kaca. 

Suasana terlihat suram di Ruangan Strong Delivery,  Tuan Baek memastikan kalau bukan Oh Jin Kyu yang melakukannya. Kang Soo pikir bukan Jin Kyu karena ketika datang terlihat sangat  terkejut. Tuan Baek pikir itu dibuat-buat karena ia bisa seperti Jin Kyu.
“Ah! Apa yang terjadi? Kenapa kau menyalahkanku? Bukan aku. Bukan aku! Memang bukan aku!” ucapa Tuan Baek berakting berlebihan. Dan Ah melirik sinis. Tuan baek pun Maaf pada Nyonya Presdir.
“Kurasa, tempat itu memang dijual. Tapi ada izin tidak restoran itu disingkirkan dengan sangat tiba-tiba? Apa bisa menjalankan perintah eksekusi seenaknya?” kata Byung Joo 
“Tidak. Mereka menuntut dulu lalu mendapat izin dari pengadilan. Dan mereka akan melayangkan surat pemberitahuan eksekusi sebelumnya. Aku yakin pemilik Hanyang menerima semua dokumen itu.”  Ucap Min Chan sedih
“Kenapa dia tidak bilang pada kami?” kata Ho Young binggung
“Mungkin karena khawatir. Dia takut kita ini akan panik Atau kita merasa dikalahkan sehingga memilih untuk menyerah.” Kata Min Chan. Kang Soo langsung berdir dari tempat duduknya.
“Aku harus bertemu dengan pemilik Hanyang.” Kata Kang Soo. Dan Ah bertanya apa rencannya setelah bertemu dengan nenek Jung
“Aku harus meyakinkannya agar tidak menyerah. Aku yakin ada cara agar dia bisa memulainya dari awal.” Kata Kang Soo lalu keluar dari ruangan. 

Nenek Jung bertemu dengan Soon Ae memberikan tumpukan amplop, untuk diberikan pada Kang Soo dkk serta mengucapkan terima kasih atas semua kerja keras mereka juga, selian itu ia juga benar-benar minta maaf. Soon Ae benar-benar tak ingin melepaskan Nenek Jung begitu saja.
“Jangan seperti itu. Datang saja ke Lively...” ucap Soon Ae tetap ingin membantu.
“Tidak. Kau sudah melakukan banyak hal untukku Dan tolong sampaikan ini pada Kang Soo. Katakan padanya untuk melupakan Hanyang, dan tetap semangat bekerja untuk bisnis barunya.” Ucap Nenek Jung lalu pamit pergi, Soon Ae benar-benar sedih melihat Nenek Jung harus pergi meninggalkan mereka. 

Kang Soo mengetuk pintu rumah Nenek Jung memanggilnya untuk membuka pintu dan terus mengetuknya dengan suara lantang. Dan Ah yang menemaninya berpikir kalau Nenek Jun tidak ada di rumah.
“Kenapa dia tidak ada di rumahnya, bahkan sudah jelas kami akan menemuinya?” ucap Dan Ah. Kang Soo akhirnya keluar dari gedung tempat nenek Jung.
“Aku akan pergi ke Namyangju Mungkin dia sedang menemui Hyun Soo.” Ucap Kang Soo. Dan Ah menahanya.
“Sudah hentikan. Kau harus menerima kenyataan ini. Bahkan ada juga restoran lain yang diusir seperti ini. Kau melakukan semua yang kau bisa. Itu terlalu berlebihan bagimu untuk melakukan ini.” Ucap Dan Ah menasehati. Kang Soo yang keras kepala tak peduli dan akan kembali lagi nanti. Dan Ah menahan dengan narik tangan Kang Soo.
“Maaf... Tapi aku tidak suka kalau dia diusir karena tidak punya uang.” Kata Kang Soo
“Aku juga tidak suka! Tapi ada yang disebut dengan kenyataan. Kau tidak bisa mengubahnya walau kau tidak suka.” Kata Dan Ha
“Tetap saja aku tidak suka... Aku tidak suka...” ucap Kang Soo dengan menahan amarahnya.
“Kau ini kenapa? Kenapa kau malah melakukan hal ini?” kata Dan Ah. Kang Soo menjawab hanya mengatakan akan kembali. Dan Ah meminta agar Kang Soo memberitahu ada apa.
“Apa sesuatu terjadi padamu? Katakan padaku. Aku harus tahu... Aku ingin tahu... Aku ingin lebih memahamimu.” Ungkap Dan Ah memohon. Kang Soo menatapnya. 

Keduanya duduk di jembatan, dengan sungai didepan mereka. Kang Soo menceritakan Ayah menderita sakit, terkena kanker, tapi terlambat ditangani Jadi satu-satunya metode pengobatan yang dimilikinya adalah untuk meminum obat penghilang rasa sakit.
“Tapi dia tidak bisa membayar tagihan rumah sakitnya, jadi dia diusir. Sejak hari itu Ayahku sangat menderita. Dia akan pingsan karena banyaknya rasa sakit yang ditanggungnya, Tapi dia masih akan merasa kesakitan saat bangun tidur.” Cerita Kang Soo. Dan Ah diam menatap Kang Soo seperti tak percaya kalau Kang Soo memiliki cerita sedih
“Aku ingin ayahku mati secepat mungkin. Aku hanya... tidak ingin dia kesakitan lagi.” Ucap Kang Soo
“Kang Soo. Aku tahu kalau kedua situasi ini berbeda.” Kata Dan Ah mencoba menyakinkan.
“Tapi...Bagiku, ini sama saja. Aku tidak bisa membantu kalau aku merasa ini hal yang sama, jadi Aku akan kembali nanti” kata Kang Soo lalu beranjak pergi. Dan Ah pun tak bisa menahanya lagi. 

Jin Kyu duduk di meja kerja dengan papan nama “Kepala Manajer Oh Jin Kyu” dan mengingat kembali ucapan Nyonya Jung “Bahkan tanpamu, grup makanan Jungga akan berhasil”. Akhirnya Ia hanya bisa berteriak marah dengan melempar semua barang dari atas meja.  Saat keluar restoran, Ji Yoon datang bertanya apakah sudah selesai melakuakan riset.
“Ya. Kenapa kau kemari?” tanya Jin Kyu. Ji Yoon mengaku  bosan.
“Aku tidak terbiasa sendirian begini pada hari Minggu. Kebiasaan itu adalah yang paling menyeramkan.” Ucap Ji Yoon. Jin Kyu bisa mengerti
“Ayo pergi berkencan jika kau selesai dengan semuanya. Sebenarnya, aku mau kencan bersama Ahjussi. Tapi tidak bisa, karena si wanita yang menyeramkan itu. Kalau memang kau tidak bisa tidak apa. Lagian aku tidak pernah menempel padamu.” Ucap Ji Yoon akan bergegas pergi.
“Baiklah, ayo kita berkencan. Kau mau apa?” tanya Ji Kyu.
“Ayo pergi minum. Akhir-akhir ini aku sedang galau.” Kata Ji Yoon bahagia. Jin Kyu bingung apakah harus Siang hari. Ji Yoon pikir Minum di siang hari adalah yang terbaik. 


Keduanya sampai di cafe, dengan memesan bir gelas besar. Ji Yoon mengajak Minum sekali teguk. Kalau tidak bisa dihabiskan, maka Jin Kyu akan kena sentil dibagian kepalanya. Jin Kyu pikir lebih baik minum bisa saja. Ji Yoon merasa Itu tidak menyenangkan, lalu memulainya.
Jin Kyu panik tak mau kalah mencoba menghabiskan satu gelas dengan cepat, Ji Yoon lebih dulu habis dan Jin Kyu masih menyisakan setengah gelas bahkan lehernya seperti merasa tak enak. Ji Yoon pun meminta Jin Kyu mendekatkan kepalanya, Ji Kyu pasrah dan saat menerima sentilan matanya terlonjak kaget karena sangat sakit. Ji Yoon meminta dua gelas lagi, Jin Kyu memohon pada bibi agar nanti saja. 

Hyun Soo duduk dengan neneknya bertanya  apa yang akan dilakukan sekarang. Nenek Jung pikir tak masalah karena akan ke tempat lain dan membuka restoran baru, karena ia yang handal dalam memasak. Hyun Soo pikir tetap saja tak bisa karena orang-orang di sana akan sangat kecewa.
Ibu Hyun Soo di dalam toko terlihat gugup saat mendengar suara seseorang yang memanggil Hyun Soo.  Hyun Soo dan Nenek Jung ikut kaget melihat Kang Soo yang datang. Nenek Jung bertanya apa yang membuatnya sampai datang ke tempatnya.  Kang Soo mengaku kalau ingin bertemu dengan Nenek Jung. Nenek Jung tak habis pikir dengan sikap Kang Soo yang keras kepala.

“Tinggalkan aku sendiri dan hentikan saja aku!” ucap Nenek Jung
“Begitulah aku. Aku tidak enak kalau dengar apa kata orang lain.” Kata Kang Soo
“Oh, kau begitu menyeramkan.” Ungkap Nenek Jung. Keduanya pun tertawa. Hyun Soo mengaku senang karena Kang Soo datang lalu memberitahu ibunya kalau temanya Kang Soo sudah datang.
Kang Soo tak tahu kalau ibu Hyun Soo ada di toko dan menyapanya. Hyun Soo mengajak Kang Soo masuk toko. Ibu Hyun Soo hanya bisa tertunduk menyembunyikan wajahnya. Hyun Soo memberitahu kalau Kang Soo datang Kang Soo pun menyapa ibu Hyun Soo. Ibu Hyun Soo akhirnya mengangkat kepalanya. Kang Soo terkejut kalau itu ibunya yang ada di foto saat mengendongnya masih kecil.
“Kami terlihat sangat mirip, 'kan?” ucap Hyun Soo bangga. Ibu Kang Soo melihat keduanya benar-benar mirip. Kang Soo hanya diam saja.
“Tetaplah di sini bersama Kang Soo. Ibu akan membeli beberapa buah.” Ucap Ibu Hyun Soo ingin menghindar.
“Tidak apa.. Biar aku yang beli, toko itu jaraknya jauh jadi Ibu di sini saja dan bicaralah dengan Kang Soo.” Kata Hyun Soo bergegas pergi. Nenek Jung ingin ikut karena cucunya itu belum sepenuhnya sehat. Hyun Soo mengeluh kalau sudah baikan. Akhirnya hanya ada Kang Soo dan Ibunya. 

Ibu Hyun Soo mengajak Kang Soo dudukk, Kang Soo dengan tatapan dingin menolaknya. Ibu Hyun Soo  mengatakan kalau sudah dengar banyak Tentang Kang Soo dari Hyun Soo lalu mengucapkan Terima kasih Karena sudah berbaik hati pada Hyun Soo.
“Sangat sulit bagimu dengan pekerjaanmu saat ini, kan? Dan cuaca akhir-akhir ini berubah-ubah. Hujan sering turun, dan... “ ucap Ibu Hyun Sooo langsung disela oleh Kang Soo
“Sudahlah.. Hentikan... Jadi ternyata Anda di sini. Kupikir Anda sekarang berada di Seoul. Kudengar Anda menjual rumah dan perahu kami dan naik bus menuju Seoul. Anda pergi begitu saj, namun Anda hidup seperti ini? Di seluruh penjuru Seoul aku berusaha mencari Anda. Karena ada yang harus kukatakan pada Anda.” Ucap Kang Soo
“Kang Soo....” ucap Ibu Hyun Soo. Kang Soo tak ingin ibunya menyebutkan namanya.
“Aku tak suka Anda menyebut namaku dari mulut Anda sendiri. Sejak hari itu, Ayah hanya melihat jalan menuju ke Seoul Dan dia juga menjadi semakin sakit. Tapi, dia bahkan tidak bisa membenci orang seperti Anda. Dia tidak pernah sekalipun kesal pada Anda bahkan saat dia naik ke kapal, dia pernah menjadi kapten sebagai pekerjaannya sehari-hari.” Ucap Kang Soo dengan menahan amarah. Ibu Hyun Soo kembali memanggil nama anaknya.
“Kubilang jangan sebut namaku! Mulai sekarang. pegang kata-kataku baik-baik, sebelum Anda mati. Ayah sakit dan mati karena Anda. Bahkan saat sel kankernya menghancurkan organ tubuhnya, dia mati karena merindukanmu. Dia sangat kesakitan saat kuku jarinya berantakan, namun dia hanya memanggil namamu.” Ucap Kang Soo. Ibu Kang Soo hanya bisa menangis.
“Sampai saat Anda mati, jangan pernah lupakan itu. Karena aku juga tidak akan melupakannya. Kalau begitu, aku akan pergi dan Jangan bilang apa-apa pada Hyun Soo.” Tegas Kang Soo lalu keluar dari toko. Ibu Kang Soo jatuh lemas dan menangis dibawa rak buku.


Jin Kyu dan Ji Yoon kembali pulang, Jin Kyu memuji Ji Yoon makan banyak  bahakn seperti seorang kuda nilyang sedang minum alkohol. Ji Yoon mengaku kalau memang punya perut yang bagus, bhkan masih sekolah, biasanya  menghilangkan stress dengan makan.
“Kenapa makanmu hanya sedikit kalau punya selera makan yang banyak?” ucap Jin Kyu
“Itu karena aku tidak punya uang! Upah per jamku hanyalah sebuah lelucon. Dasar.. upah per jam sangatlah jelek.” Ucap  Ji Yoon kesal. Jin Kyu hanya tertawa lebar melihat tingkah Ji Yoon.
Ji Yoon melihat mereka sudah sampai rumahnya, Jin Kyu pun menyuruh Ji Yoon segera masuk dan Mimpi yang indah. Ji Yoon mengaku kalau  hari ini sangat senang. Jin Kyu juga merasakan hal yang sama. Lalu Ji Yoon pun menaiki tanga untuk masuk pintu kostnya.
“Hei, Ji Yoon! Besok belilah makanan dari restoran. Jangan terlalu sering makan makanan di toko swalayan.” Ucap Jin Kyu
“Aku pasti akan melakukannya kalau upah per jamku naik 10.000 Won.” Kata Ji Yoon lalu keduanya pun melambaikan tangan. 


Kang Soo masuk restoran. Dan Ah melihat Kang Soo datang langsung menyambutnya. Kang Soo melihat Dan Ah yang belum pulang. Dan Ah pun menanyakan dengan Nenek Jung. Kang Soo mengatakan  sudah bertemu dengannya.
“Dia bilang apa?” kata Dan Ah. Kang Soo hanya mengatakan  kalau itu pasti tidak terlalu mudah.
“Kau sudah bekerja keras, Naiklah ke atas dan beristirahatlah.” Kata Dan Ah. Kang Soo mengangguk dengan menyuruh Dan Ah pulang. 

Dan Ah sudah siap naik motor dan pulang, tapi terlihat khawatir dengan Kang Soo akhirnya naik ke lantai atas dan mendengar suara tangisan. Ia ragu untuk membuka pintu, tapi akhirnya membuka pintu melihat Kang Soo sedang menangis memang sebuah foto.
Kang Soo memegang foto ibunya dan juga peta yang ditandainya sudah berantakan. Ia langsung merobek foto ibunya dan menangis sekencang-kencangnya. Dan Ah pun akhirnya bersuara. Kang Soo melihat Dan Ah menyuruh pergi saja.
“Kau kenapa? Kenapa kau menangis?” ucap Dan Ah. Kang Soo menyuruh Dan Ah Pergi saja.
“Mana bisa kau pergi, di saat kau menangis?” ucap Dan Ah mendekati Kang Soo. Kang Soo akhirnya menangis histeris dipelukan Dan Ah sekeras-kerasnya dengan memanggil ayahnya. Dan Ah memeluk  Kang Soo dengan mata berkaca-kaca memohon agar Jangan menangis.

Kang Soo akhirnya berhenti menangis dan sudah duduk tenang. Dan Ah pun bertanya apakah karena ini, alasan Kang Soo hanya tinggal di satu wilayah selama dua bulan. Kang Soo membenarkan, tapi ketika iabertemu dengan ibunya malah seperti ini.
“Dan juga dia berada di tempat Hyun Soo.” Ucap Kang Soo. Dan Ah binggung  Apa yang harus dikatakan di saat seperti ini?
“Kau tidak perlu mengatakan apa pun. Aku tidak apa-apa.” Kata Kang Soo. Dan Ah tak yakin kalau Kang Soo baik-baik saja. 
“Aku tidak apa-apa. Terima kasih karena berada di sisiku.” Kata Kang Soo
“Kalau aku sendiri. sejujurnya ini pasti sangat sulit bagiku.” Ungkap Dan Ah.
“Kau harus pulang sekarang. Aku lelah dan  ingin tidur.” Kata Kang Soo. Dan Ah merasa tak percaya kalau Kang Soo bisa tidur malam ini. Kang Soo mengangguk. 


Kang Soo seperti tertidur lelap, Dan Ah menatapnya dengan memegang jari Kang Soo meminta agar Jangan menangis, karena Kalau melihatnya menangis, akan merasa sangat sedih dan mengucapkan Selamat malam serta Jangan mimpi buruk, setelah itu keluar dari kamar. Kang Soo terlihat tertidur lelap tanpa mebuka matanya. 

Yeon Ji memarahi Dan Ah yang pulang sangat larut lalu bertanya apakah bersama dengan Kang Soo di ruang tertutup. Dan Ah dengan santai membenarkan. Yeon Ji kaget mendengarnya dan menarik Dan Ah untuk duduk menatapnya.
“Apa Kau ini sekarang penuh dengan throttle?” ucap Yeon Ji. Dan Ah membenarkan. Yeon Ji benar-benar tak percaya mendengarnya.
“Apa yang akan kau lakukan? Bukankah kau mau pindah? Apa Kau tidak mau lari dari Hell Joseon?” ucap Yeon Ji
“Pastilah aku mau. Tapi Aku akan melakukan apa yang kuinginkan sebelumnya.” Ucap Dan Ah. Yeon Ji rasa Dan Ah sudah gila.
“Aku hanya ingin menjadi gila. Aku ingin mencintainya seperti wanita gila. Aku mungkin sudah jahat jika aku seperti ini hanya untuk pergi darinya nanti, tapi Aku hanya ingin mencintainya seperti orang gila. Itulah yang ingin kulakukan dan keputusanku. Jadi mulai sekarang jangan bilang apa-apa padaku.”tegas Dan Ah. Yeon Ji benar-benar tak habis pikir Dan Ah bisa berubah pikiran. 


Ji Yoon datang terburu-buru masuk cafe. Manager langsung memarahi Ji Yoon karena telat datangnya. Ji Yoon mengaku Tadi malam banyak minum. Managernya mengeluh Ji Yoon yang menyebut itu alasan. Ji Yoon hanya bisa meminta maaf dan berjanji tidak akan terjadi lagi.
“Aku potong gajimu untuk bulan ini.” Ucap Managernya. Ji Yoon pun tak bisa berkata apa-apa lagi.
Teman kerja Ji Yoon memberikan sesuatu pada Ji Yoon, Ji Yoon binggung apa itu. Temanya memberitahu kalau Ada seorang pria yang menitipkan amplop itu dan mengingat kalau pria itu yang pernah menjual tas bersamanya.
Ji Yoon mengingat kalau itu Jin Kyu lalu membuka amplop berisi sebuah kartu kredit dengan pesan “Belilah makanan yang tepat” Ji Yoon binggung kenapa Jin Kyu bersikap seperti ini.
Bersambung ke Part 2

FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar