PS; yang udah baca blog / tulisan aku.. Tolong minta follow account IG aku yah dyahdeedee09 & Twitter @dyahdeedee09 jadi biar makin semangat nulisnya. Kamsahamnida.

Kamis, 28 September 2017

Sinopsis While You Were Sleeping Episode 1

PS : All images credit and content copyright : SBS
Terlihat sebuah gedung Lembaga Keuangan Kyobo, Salju mulai turun. Seorang wanita Nam Hong Joo berdiri di tepi jalan dengan luka di wajah, didepanya ada Jung Jae Chan dengan luka dibagian kepala. Hong Joo melangkah mendekati Jae Chan dan langsung memeluknya.
“Aku...percaya padamu. Sebab itulah aku..., bisa mempercayaimu.” Ucap Hong Joo. 

Hong Joo langsung terbangun dari tidurnya dengan wajah kebingungan lalu merasa kalau ini tak mungkin dan bener-bener gila, lalu menulis diselembar kertas Di jalan. Ibu Hong Joo,Yoon Moon Sun masuk kamar anaknya mengeluh melihat kamar anaknya lalu membuka tirai kamarnya.
“Ada apa? Apa Kau bermimpi lagi?” tanya Nyonya Joon. Hong Joo terus menuliskan di dalam notenya tentang mimpinya.  (Di jalan, di malam hari, di musim dingin)
“Bau apa ini? Jangan nyalakan lilin. Bukalah jendelamu dan biarkan udara segar masuk dalam kamarmu. Aigoo, kamarmu itu seperti kandang babi.” Keluh Nyonya Yoon. 
Hong Joo menuliskan lebih detail (Aku memeluk pria yang belum pernah kutemui sebelumnya.) lalu mengeluh kalau semua ini sangat gila. Nyonya Yoon ingin tahu gila apa maksudnya, lalu mengeluh dengan kekacauan kama anaknya Seperti kandang babi.
“Ibu bahkan tidak bisa makan babi karena babi pas dengan dirimu sekarang.” Keluh Nyonya Yoon.
“Bukan begitu, Ibu. Dalam mimpiku, aku memeluk pria yang belum pernah kutemui. Aku memeluknya lebih dulu. Ibu, tahu 'kan kalau aku bukan tipe yang harus digoda oleh cowok dulu.”kata Hong Joo.
“Tentu Ibu tahu. Bagaimana kau bisa menggoda orang-orang yang terlihat seperti itu? Kalau kau punya hati nurani, maka begitulah.” Kata Nyonya Yoon mengejek.
“Ibu, benarkah kau adalah Ibuku?” keluh Hong Joo.
“Boleh kau bunyikan bel untuk ibumu? Di sini, Ernest Hemingway.” Ejek Nyonya Yoon memperlihatkan buku milik anaknya. 


Nyonya Yoon duduk diruang tengah, bertanya pada anaknya apakah pria itu  tampan. Hong Joo mengambil ayam goreng dikulkas, pikir merasa tak penting karena ia juga sudah punya pacar. Nyonya Yoon mengingatkan kalau ia baru menemuinya dua kali sejak kencan buta.
“Lalu saat menemuinya lagi, Apa kau mau menikahinya?” tanya Nyonya Yoon
“Aku benci pada orang yang curang..., jadi jangan bicara tentang pria dalam mimpiku. Tidak boleh.” Tegas Hong Joo.
“Dia akan masuk dalam hidupmu walau kau tidak mau. Semua impianmu juga akan jadi kenyataan.” Kata Nyonya Yoon yakin. Hong Joo menegaskankalau itu Tidak benar. 

Mereka lalu melihat ke arah jendela ada mobil truk yang membawa barang ke rumah yang ada didepan mereka. Nyonya Yoon sudah mendengar ada pindah ke rumah depan mereka hari ini. Keduanya melihat ada dua pria didepan rumah. Nyonya Yoon melihat keduanya tampan lalu bertanya-tanya apakah Mereka itu kakak-adik. Adik Jae Chan menyuruh kakaknya mengambil sepiring kue beras.
“Zaman sekarang mana ada tukar makanan kue beras? Itu sangat kuno.” Keluh Jae Chan.
“Ini tidak kuno. Tapi beginilah caramu ramah pada orang lain. Jadi Pergi saja.” Kata adik Jae Chan. 

Hong Joo melihat dari jendela dan yakin kalau itu Jae Chan, pria yang di lihatnya dalam mimpi dan memeluknya. Nyonya Ho binggung dengan ucapan anaknya. Saat itu juga Jae Chan menekan bel dengan menyapa tetangga barunya.
“Halo, aku baru saja pindah ke rumah di seberang jalan.” Ucap Jae Chan ramah terlihat dari interkom.
“Pergilah. Jangan sembarangan bertamu tanpa pemberitahuan. Kami tidak ingin salam atau buah tangan. Maaf.” Ucap Hong Joo sinis. Jae Chan binggung berdiri didepan rumah.
“Hei, sudah kubilang aku tak mau melakukannya.” Ucap Jae Chan kesal. Adiknya pikir kakaknya yang tak tersenyum
“Aku senyum, Aku tersenyum lebar macam orang bodoh.” Kata Jae Chan mendekat pada adiknya.
“Lalu siapa yang bersikap kasar? Apa Dia itu wanita?” tanya Adik Jae Chan. Jae Chan membenarkan dengan wajah kesal
“Kau harus mengencaninya. Siapa tahu kalian bakal jadi pasangan serasi.” Ejek adik Jae Chan. Jae Chan mengumpat kesal pada adiknya lalu menatap sinis kearah jendela.  Hong Joo melihatnya langsung menutup tirai jendelanya. 


Hong Joo duduk di halte, berbicara ditelp kalau mereka harus punya mobil, karena Kalau naik bus bisa terlambat. Lalu matanya melihat Jae Chan berjalan ke halte, Hong Joo panik bergumam dalam hati kalau Pria dalam mimpinya datang.
“Eonni. Tolong minggir sedikit.” Ucap seorang pelajar meminta agar Hong joo duduk bergeser, tapi Hong Joo seperti tak mengubrinya.
“Aku tidak bisa jatuh cinta padanya.” Gumam Hong Joo lalu menutup telp ibunya.
“Tenanglah. Aku sama sekali tidak tertarik padanya.” Gumam Hong Joo, tapi Jae Chan tiba-tiba duduk di sampingnya.
“Kenapa dia duduk di sampingku? Ada 3 kursi di sebelah kiri dan 2 di sebelah kanan. Kenapa dia malah pilih tempat duduk itu? Apa Dia mencoba menggodaku? Tidak, harusnya jangan ambil kesimpulan kecuali mempermalukan diri sendiri.” Gumam Hong Joo lalu bergeser.
Jae Chan ikut mengeser tempatnya. Hong Joo binggung karena Jae Chan  mengikutinya tapi mencoba agar tidak boleh menyimpulkan kembali bergeser. Jae Chan ikut juga bergeser kembali. Hong Joo pikir kalau dibiarkan maka tetangga bakal berubah jadi teman dan seorang teman bakal berubah jadi pacar.
“Aku tidak tertarik padamu.” Ucap Hong Joo berdiri dari tempat duduknya. Tapi saat itu juga Jae Chan berdiri memberikan tempat duduk untuk para pelajar yang sebelumnya meminta agar Hong Joo bergeser.
“Apa Kau bicara padaku?” ucap Jae Chan membalikan badanya. Hong Joo seperti malu karena ternyata itu cara mencoba mengeser tempat duduknya.
“Dia pasti mengira pria itu menggodanya. Ini Memalukan” ejek si remaja melihat Hong Joo. Temanya pikir Hong Joo bisa mendengar karena pasti sangat malu.
Hong Joo akhirnya memilih untuk naik ke bus yang berhenti. Supir bus menyuruh Hong Joo naik halte di seberang jalan, karena Perhentian berikutnya itu pemberhentian terakhir. Hong Joo mengaku, lalu menegask kalau ia bisa naik bus ke pemberhentian terakhir.
Si remaja melihat Hong Joo masih mengejek kalau pasti sangat memalukan sekali. Jae Chan terdiam lalu mencoba mengingat dan itu ternyata sama dengan suara “Kami tidak ingin salam atau buah tangan. Maaf.”
“Ahh.. Suara yang kudengar waktu itu. Kau si gadis kasar itu!” teriak Jae Chan kesal menunjuk ke arah bus. Hong Joo berusaha untuk tenang didalam bus.
“Tidak apa. Jangan khawatir. Itu tidak membuatku malu.” Gumam Hong Joo. 

Hong Joo dateng ke restoran ibunya, menceritakan kalau perasaanya kalau mimpi itu akan terwujud. Nyonya Yoon bertanya apakah anaknya jatuh cinta pada pria itu. Hong Joo hanya diam saja. Nyonya Yoon pikir hati anaknya itu  bukan pintu otomatis karena Kalau ada yang ketuk, pasti terbuka lebar.
“Bukan begitu maksudku, tapi Dia itu menggodaku.” Kata Hong Joo. Nyonya Yoon bertanya Apa yang membuat anaknya berpikir demikian.
“Kenapa juga tadi dia duduk tepat di sampingku seperti itu?” kata Hong Joo
“Katamu dia begitu supaya para gadis itu bisa duduk. Dia memang playboy dan punya bakat yang terpendam. Kurasa kau tidak tahu kapan bisa seperti itu dengan pria.” Kata Nyonya Yoon. 

Saat itu seorang pria akan membayar makananya, Nyonya Yoon memberitahu totalnya 17 ribu Won. Sementara Hong Joo melihat tangan Si pria dengan plester dan juga korek api, seperti merasakan sesuatu. Nyonya Yoon melihat tatapan anaknya bertanya apakah anaknya kenal pria itu.
“Dalam mimpi kualami sekitar tiga bulan yang lalu..., aku melihat Ahjussi itu dengan perban di jarinya. Saat itu turun salju. Begitu dia menjentikkan koreknya untuk merokok..., lalu dia terbakar.” Ucap Hong Joo. Nyonya Yoon panik bertanya kapan dan dimana kejadianya.
“Aku tidak tahu jelasnya. Dia menjentikkan koreknya dengan tangan yang diperban itu.” Kata Hong Joo. Nyonya Yoon pikir itu arti akan terjadi lalu bergegas keluar dari restoran. 

Nyonya Yoon menahan paman sebelum masuk ke dalam mobil, agar memberikan korek dan rokoknya. Si paman binggung tiba-tiba Nyonya Yoon meminta korek dan rokok. Nyonya Yoon mencari alasan kalau  Merokok itu tidak baik buat kesehatan dan bisa kena kanker.
“Apa pedulimu? Jangan ikut campur urusan orang. Jadi Minggir. Menjauhlah.” Ucap Si paman ketus
“Ahjussi, Anda akan mati kalau merokok.” Kata Hong Joo. Si pria merasa keduanya itu gila dan menyuruh pergi saja. Nyonya Yoon pun terjatuh.
“Ahjussi!.. Anda harus mendengarku, Anda akan mati kalau merokok! Anda tidak akan rugi. Dengarkan saja aku. mengerti?”kata Hong Joo berusaha menyakinkan.
“Ah, kalian ini benar-benar menghancurkan hariku.” Keluh Si paman dan bergegas meninggalkan restoran. 

Nyonya Yoon mendekati anaknya memberitahu kalau sudah mengambil korek dari si paman lalu bertanya apakah bisa membantu. Hong Joo pikir tak pentin dan barang itutidak ada gunanya karena Ini hanya pilihan dan hidupnya.
“Bicara apa kau? Kita harus mengubahnya kalau sudah tahu.” Kata Nyonya Yoon.
“Tidak bisa... Siapa yang akan percaya omong kosong ini?” kata Hong Joo sambil menceritakan yang ada didalam mimpinya 

"Aku melihatmu di dalam mimpiku. Apa yang kuihat dalam mimpiku selalu menjadi kenyataan. Jadi kalau kau ingin hidup..., maka kau harus mendengarkanku."
Paman mengemudikan mobil lalu mencari-cari korek dalam saku jaketnya dan menemukan ada di sampingnya. Si paman pun berhenti di pom bensin, saat itu si paman mengeluarkan korek dan juga rokoknya, saat itu api langsung menyambarnya.
 “Semua orang akan berpikir itu hanyalah omong kosong. Bahkan Ayah pun meninggal seperti itu karena dia tidak memercayaiku.Masa depan tidak akan berubah. Mengetahui apa yang akan terjadi tidak mengubah apa pun.” Ucap Hong Joo. 

Moon Hyang Mi melihat sebuah kue di etalase serta meminta banyak lilin juga.  Dua temanya bertanya apakah ada yang ulang tahun. Hyang Mi memberitahu kalau hari ini hari pertama Jaksa Jung jadi harus merayakannya, keduanya mengeluh mereka yang harus merayakan.
“Yahh... Kita harus merayakannya. Ayo kita merayakannya. Biar hari ini menjadi hari libur nasional.” Kata Son Woo Joo langsung berubah pikiran setelah melihat foto Jae Chan.  Min Jung Ho pikir Jae Chan terlihat pintar.
“Benar bukan? Apa kalian Tidak lihat sorotan mata Jaksa Jung? Aku sangat menyukainya.” Kata Hyang Mi 

Lee Yoo Bum masuk ke dalam cafe, mengeluh kalau Hyang Mi membuatnya  jadi sakit hati menurutnya biasa selalu sopan pada saat kerja sama. Tapi sekarang memanggilnya Jaksa Jung seperti yang biasa dilakukan padanya.
“Eeiy, Jaksa Lee.. maksudku Pengacara Lee.” Kata Hyang Mi seperti belum terbiasa memanggil nama baru Yoo Bum. Yoo Bum pun memberikan kartu kreditnya kalau akan membayar.
“Tidak, tidak perlu melakukan itu.” Kata Hyang Mi. Yoo Bum pikir tak masalah karena  Hari ini adalah hari pertama Jaksa Jung jadi harus mengucapkan selamat kepadanya.
“Apa Kau kenal dia?” tanya Hyang Mi penuh semangat.
“Tentu saja. Dulu aku mengajarinya. Kalau yang kulihat, dia itu seperti tidak pernah diajari oleh seorang guru.”kata Yoo Bum bangga. 

Mereka masuk ke kantor kejaksaan sambil minum kopi. Hyang Mi tak percaya kalau Jae Chan selalu mendapat nilai terendah di sekolah. Yoo Bum pun meceritakan masa lalunya dengan Jae Chan.
Flash Back
[13 tahun silam]
Jae Chan terlihat masih sangat muda. Yoo Bum menuliskan sebuah kata dalam bahasa inggris dan meminta Jae Chan Bacalah dengan nyaring. Jae Chan melihat merasa kalau kata itu sangat mudah.
“"Just". Artinya sekarang dan "Ice" seperti pada "ice cube". Bersama-sama, mereka diucapkan sebagai "just ice". Artinya, "Bekukan sekarang."” Ucap Jae Chan polos sedang belajar bahasa inggris. 

Mereka tak percaya ternyata Jae Chan memang dulu sebodoh itu. Jung Ha pikir jaksa yang bodoh pasti akan membuat pekerjaan Hwang Mi lebih sulit. Hwang Mi yakin Jae Chan itu masih jaksa jadi tidak sebodoh itu. Tapi saat itu depan ruangan Jaksa, Jae Chan sibuk selfie memperlihatkan ID Cardnya sebagai jaksa.
“Aku tidak tahan melihatnya.” Ungkap Jung Ho. Yoo Bum menyapa Jae Chan sebagai Jaksa Baru.
“Kaukah itu, Yoo Bum?” kata Jae Chan seperti kaget melihat Yoo Bum yang datang.

Sebuah papan nama diatas meja “Jaksa Jung Jae Chan”. Yoo Bum menaruh jaket diatas meja dan Tuan Choi Dam Dong sibuk membersihkan jaket yang di pakaian oleh Yoo Bum. Jae Chan terus melihat seperti tak yakin kalau Yoo Bum dilayani layaknya bos.
“Apa sudah dua tahun silam? Pekerjaan yang kulakukan karena skandal korupsi dan kasus pembunuhan berantai membuatku mendapat penghargaan dari Jaksa Penuntut Umum. Yang kulakukan hanyalah meletakkan sendok di atas meja dan awalnya yang dapat itu Pak Choi, tapi aku malah dapat penghargaan.” Ucap Yoo Bum. Tuan Choi pikir tak benar itu.
“Halo, aku penyidik ​​Choi Dam Dong.” Kata Tuan Choi. Jae Chan pun menjabat tangan dengan dengan menyebutkan namnya. Yoo Bum menunjuk pada Hyang Mi.
“Aku Petugas Moon Hyang Mi.” Kata Hyang Mi dingin. Jae Chan mengulurkan tanganya tapi Hyang Mi seperti tak mengubrisnya dengan menaruh kue dibawah meja.



Jae Chan hanya bisa menghela nafas lalu bertanya alasanya datang.Yoo Bum pikir kalau itu karean Jae Chan kembali sebagai jaksa penuntut Jadi  ingin mengucapkan selamat pada Jae Chan. Hyang Mi membahas keduanya yang pertama kali bertemu sebagai guru dan murid dan sekarang kalian bertemu lagi sebagai pengacara dan jaksa penuntut.
“Aku hanya datang untuk menyapa. Kurasa kita bisa saling membantu. Kau Tahu bukan, hubungan win-win.” Ucap Yoo Bum dengan tangan robek kertas dan menjadikan seperti butiran kecil.
Ponsel Yoo Bum berbunyi, Jae Chan menatap Yoo Bum yang berdiri didepanya. Yoo Bum bertanya apakah sudah dapat SMS darinya dan meminta kalau ada waktu luang tanggal 14, lalu mengingatkan kalau nanti Hari Valentine.
“Restoran yang Anda sudah lama ingin memeriksa ... Aku benar-benar tahu tempat itu.” Ucap Yoo Bum yang terus membuat kertas jadi bulatan kecil.
Flash Back
Jae Chan berbaring ditempat tidurnya. Yoo Bum membuat seperti bulatan kecil bertanya apakah Jae Chan tahu arti "win-win". Jae Chan pikir Itu bahasa Cina kah. Yoo Bum memberitahu kalau Ayah Jae Chan bilang akan menaikkan gajiku sebanyak 10 ribu Won tiap kali dapat rangking.
“Menyerah saja. Aku tidak bisa mendapatkan nilai yang lebih baik untuk itu.” Kata  Jae Chan pasran
“Kita bisa menilaimu lewat rapor palsu” kata Yoo Chan. Jae Chan pikir tak mungkin karena ayahnya itu polisi.
“Bagaimana kalau kita ketahuan? Aku yakin dia malah menaruh kita di penjara.” Kata Jae Chan.
“Kita bisa memastikan tak terlalu jelas. Hei, aku akan dapat 300 ribu Won lebih kalau naik 30 jadi Aku akan memberikanmu setengah dari itu dan Katamu mau sepeda motor. Kapan kau bisa membelinya dengan uang sakumu sendiri? Aku bisa menghasilkan lebih banyak uang, dan kau bisa membeli sepeda motor. Nilai perbaikanmu akan membuat ayahmu juga bahagia Semua pihak yang terlibat akan puas. Itulah yang namanya win-win.” Kata Yoo Bum membuat curang agar bisa win win. 
Yoo Bum berbicara di telp kalau harus datang, lalu berbicara pada Jae Chan agar menyisihkan waktu luangmu karena akan membawanya ke restoran sushi yang menakjubkan, lalu pamit pergi. Jae Chan duduk diam terlihat gelisah dengan membersihkan bekas kertas diatas meja.

Hong Joo membuka mata sedang ada dirumah sakit lalu membaca selembar kertas merasak tak percaya kalau Ibu meninggal karenanya dan itu karena kecelakaan yang dialami. Bibi Hong Joo merasa sedih seperti tak bisa berkata-kata lagi.
“Katakan kalau ini hanya mimpi. Kumohon... Bangunkan aku.” Kata Hong Joo seperti tak percaya setelah melihat lembaran kertas.
“Sadarkan dirimu” kata Bibi Hong Joo yang juga sedih melihat Hong Joo ditinggalkan oleh kakaknya. 


Hong Joo bangun dengan air mata mengalir, wajahnya langsung panik mencoba menuliskan dalam notenya. “Bibi, Ibu.. Karena kecelakaan yang kualami, Ibu...” seperti tangisnya tak bisa di hentikan membayangkan akan kehilangan ibunya.
“Hong Joo, makan sebelum mandi.”kata Nyonya Hoon melihat anaknya keluar dari kamarnya. Hong Joo hanya diam saja.
“Hei, kenapa matamu bengkak begitu? Apa Kau menangis?” tanya Nyonya Yoon panik
“Aku tadi malam makan ramyeon sebelum tidur. Sekarang Aku mandi dulu.” Kata Hong Joo mencoba menghindar. Ibunya menyuruh anaknya agar mandi dulu. 

Saat itu berita di TV terdengar “Sebuah ledakan besar disebabkan oleh warga sipil yang sedang merokok sambil mengisi bensin. Di pompa bensin swalayan di Osung-dong, Giheung-gu. Seorang pria melepaskan SUV-nya. Dia menyalakan rokok di mulutnya dan mengambil nosel dan menuju pembukaan tangki bensin. Saat dia menyalakan korek apinya, maka kabut minyak dari tangki bensin terbuka terbakar dan kebakaran di pompa bensin pun terjadi. Kecelakaan ini menewaskan pria berusia 37 tahun, Pak Kim, di tempat kejadian.”
“Hei, bukannya dia orang yang tempo hari itu? Kau melarangnya tidak merokok. Benarkan dia orangnya?” ucap Nyonya Yoon melihat rekaman CCTV saat si paman saat mengisi bahan bakar. 

Hong Joo panik langsung masuk ke kamar mandi dan mengunting rambutnya. Nyonya Hong panik dan binggung langsung mengambil gunting dari tangan anaknya meminta agar tak melakukan hal itu.
“Ibu, orang itu mati seperti yang kulihat dalam mimpiku.” Kata Hong Joo sambil menangis.
“Ibu tahu. Tidak ada yang bisa dilakukan.” Kata Nyonya Yoon.
“Masa depan tidak bisa berubah! Jadi Aku harus bagaimana? Ibu... Ibu, bagaimana ini?” kata Hong Joo menangis kebingungan.
Akhirnya Nyonya Yoon duduk di atap mengetahui cerita Hong Joo kalau ia akan mati karena kecelakaan yang di alami tapi tidak tahu kapan itu akan terjadi. Hong Joo dengan wajah sedih menganguk. Nyonya Yoon melihat rambut anaknya yang sudah pendek, lalu mengoda kalau seharusnya dipasang bunga agar terlihat cantik.
“Apa Ibu pikir ini lucu? Apa Ibu rasa situasi ini lucu? Ibu juga lihat 'kan kalau pria itu meninggal seperti yang ada dalam mimpiku. Mimpiku itu tidak pernah salah.” Kata Hong Joo kesal sendiria.
“Apa Itu sebabnya kau memotong rambutmu seperti ini? Apa Kau pikir dengan mengubah rambutmu bisa mengubah segalanya?” kata Nyonya Yoon.
“Aku tidak akan pernah menumbuhkan rambutku lagi, karena Aku punya rambut panjang dalam mimpi itu.” Tegas Hong Joo
“Ibu tidak tahu kalau kau terlihat cantik karena rambutmu.” Kata Nyonya Hong. Hong Joo langsung memeluk ibunya.
“Aigoo, jangan khawatir, Ibu tidak akan mati.” Kata Nyonya Hong menenangkan.
“Hanya Ibulah yang kumiliki..., jadi jangan tinggalkan aku. Mengerti?” kata Hong Joo memeluk erat ibunya. Nyonya Hong kembali mengejek anaknya kalau seharusnya pakai bunga di rambutnya. 


Nyonya Yoon sibuk menuliskan sesuatu di kamarnya, dan terlihat tak gelisah. Hari itu tepat tanggal 13 dan akhirnya berubah di tanggal 14. Yoo Bum memesan sebuket bunga, wajahnya terlihat bahagai ingin pergi kesuatu tempat.
 [14 Februari 2016]
Jae Chan sibuk selfie didepan mobilnya, sampai akhirnya Yoo Bum datang terlihat di layar bertanya apa yang dilakukan Jae Chan lalu bertanya apakah akan berkencan, lalu melihat kalau Jae Chan baru beli mobil baru. Jae Chan bertanya alasan datang ke tempat itu. Yoo Bum mengaku ada janji lalu bertanya balik. Jae Chan mengaku juga sama. 

Seseorang memanggil nama Yoo Bum, ternyata Hong Joo baru saja keluar dari mobilnya. Yoo Bum melihat Hong Joo dengan rambut yang di potong pendek. Hong Joo datang dan langsung kaget melihat Jae Chan, begitu juga sebaliknya. Yoo Bum binggung melihat keduanya bertanya apakah mereka saling kenal, keduanya terlihat sinis kalau memang mengakunya.
“Tapi, bagaimana kau mengenalnya?” tanya Hong Joo binggung,
“Sebentar, Apa kalian berdua pacaran?” tanya Jae Chan. Yoo Bum mengakuinya, tapi Hong Joo terlihat gugup.
“Jadi Kami ini pacaran, kan?” kata Yoo Bum memastikan. Hong Joo membenarkan.
“Hei, Apa kau mau dengan pacarmu, bergabung dengan kita?” kata Yoo Bum. Keduanya langsung menolak. Yoo Bum pun tak banyak pikiran mengajak Hong Joo masuk karena diluar sangat dingin.
“Hei.. Lihatlah dirimu. Sudah beli mobil pula, dan Sudah dewasa juga kau” komentar Yoo Bum dengan menepuk bokong Jae Chan. Lalu Jae Chan hanya bisa menatap Hong Joo seperti merasakan sesuatu. Yoo Bum menceritaka kalau saat SMP Jae Chan sudah punya sepeda motor dan menurutnya Jae Chan sudah dewasa sekarang.




Flash Back
(Musim Dingin tahun 2003)
Ayah Jae Chan sebagai polisi bertanya apakah Jae Chan sungguh tidak mencuri motor itu. Jae Chan mengaku kalau membeli dengan uangnya sendiri. Ayah Jae Chan pikir tidak pernah memberimu banyak uang saku. Jae Chan mengaku kalau mencari uang sendir.
“Apa Kau cari uang? Dari mana? Kau Pakai apa?” tanya Ayah Jae Chan curiga. Jae Chan hanya diam saja.
“Kepala, biar kami saja yang interogasi dia.” Kata dua anak buah Ayah Jae Chan dengan wajah khawatir.
“Kenapa tidak menjawab pertanyaan Ayah? Apa Kau mencurinya?” tanya Ayah Jae Chan mulai naik darah.
“Tidak, aku hanya menggunakan raporku...” kata Jae Chan lalu melihat figura Rapor Jae Chan yang bagus, seperti ayahnya sangat bangga dengan nilai anaknya.
“Aku memanipulasi raporku. Yoo Bum hyung bilang dia bisa dapat gaji banyak kalau kami melakukan itu. Kami membaginya jadi setengah.” Akui Jae Chan tak ingin berbohong. Ayah Jae Chan sangat marah langsung menjatuhkan semua rapor anaknya.
“Ah, kau ini. Kenapa malah bohong soal nilaimu? Ayahmu pernah bahas soal bagaimana nilaimu itu, minta maaf padanya.” Kata anak buahnya menyuruh  Jae Chan membungkuk.
“Ayah, tentang kecelakaan itu...” kata Jae Chan. Seperti Ayah Jae Chan sangat marah dan kecewa pada anaknya. 

Yoo Bum mulai makan tapi Hong Joo kebingungan melihat pesan yang dikirimkan pada ibunya tak ada satupun yang dibalas. Yoo Bum bertanya apakah ada sesuatu karena Hong Joo selalu melihat ponselnya. Hong Joo pikir malam ini harus pulang lebih awal karena Ibunya membalas pesanya.
“Apa dia sakit?” tanya Yoo Bum. Hong Joo mengelengkan kepala tapi hanya mendapatkan firasat buruk.
“Aku sudah meniup lilin, lalu Kompor... aku mematikannya dan Pintu.... Aku lupa mengunci pintu.” Gumam Hong Joo mengingat sebelum keluar dari rumah.
“Aku tidak mengunci pintu. Aku harus cepat pulang ke rumah.” Kata Hong Joo panik mengambil jaketnya. Yoo Bum binggung melihat Hong Joo yang tiba-tiba pergi begitu saja. 

Hong Joo mencoba menelp ibunya meminta agar segera diangkat. Yoo Bum mengejar Hong Joo akan naik mobilnya, dan bertanya apakah pernah menyetir dari salju. Hong Joo mengaku belum pernah lalu berpikir untuk naik taksi atau panggil seseorang saja
“Kemarikan kuncimu, Biar aku yang nyetir. Aku sering mengemudi di bawah salju.” Kata Yoo Bum menyakinkan. Hong Joo pun memberikan kunci mobilnya.
Nyonya Yoon berjalan pulang di malam hari sambil meminum kopi untuk menghangatkan diri, saat itu juga seorang pria mengikutinya sampai didepan rumah pun menyadari kalau sedari tadi mengikutinya. 

Hong Joo kebingungan karena ibunya  tidak mengangkatnya dan berpikir kalau harus telepon polisi. Yoo Bum menenangkan kalau ibu Hong Joo baik-baik saja. Akhirnya Nyonya Yoon mengankat telp dari anaknya.
“Kenapa menelepon berkali-kali?... Bukan, tadi di kafe ponsel Ibu ketinggalan. Itu sebabnya Ibu mengabaikannya. Dan ini Karena sudah ditemukan, Ibu sudah bisa bicara denganmu. Tadi anak muda menemukannya dan mengembalikannya padaku.” Cerita Nyonya Yoo sudah ada di dalam rumah.
“Lain kali jangan ketinggalan ponsel lagi dan pastikan untuk segera mengambilnya! Aku akan segera pulang.” Kata Hong Joo seperti sudah bisa bernafas lega. 

Yoo Bum melihat Hong Joo merasa kalau selalu khawatir pada ibunya. Hong Joo pikir tidak, lalu berkata serius pada Yoo Bum dengan berkata Kalau saja mengalami kecelakaan, maukah Yoo Bum menjaga ibunya baik-baik. Yoo Bum merasa heran kecelakan apa yang dimaksud.
“Itu, aku tidak bicara tentang sekarang. Sesuatu seperti itu mungkin terjadi di masa depan.” Ucap Hong Joo
“Baiklah. Tidak peduli yang terjadi, maka aku akan pastikan menjaga ibumu. Apa kau sudah puas?” kata Yoo Bum
“Tapi, kau ini sungguh tidak apa-apa? Kau tidak kelihatan baik.” Kata Yoo Bum menatap Hong Joo, dan saat itu juga mobilnya menabrak seseorang dan mobil pun berputar sampai akhirnya menabrak tiang. Seseorang tergeletak di jalan dengan penuh luka, Hong Joo dan Yoo Bum seperti tak ada sadarakan diri dalam mobil. 

Hong Joo sedikit membuka mata sambil memanggil ibunya, lalu beberapa bibi panik melihat Hong Joo yang sudah siuman.Mereka pun bergegas memanggil dokter, Dokter mencoba memeriksa dengan tanganya apakah bisa mndengarnya. Hong Soo seperti hanya bisa mendengar suara bergema.
“Ibuku......ada di mana?” gumam  Hong Joo yang tak bisa melihat ibunya lalu memanggil nama Yoo Bum. Dokter memastikan Hong Joo bisa melihat jari yang ada didepanya.
“ Ini Pasti keajaiban Natal... Syukurlah.” Ungkap bibi dalam satu ruangan melihat Hong Joo yang siuman. Hong Joo mencari ibunya ada dimana.

Hong Joo hanya mengunkan selang lalu melihat rambutnya yang sudah panjang dan terlihat binggung. Bibi menemaninya, Hong Joo pun bertanya  Hari ini tanggal berapa. Bibi Yoon mengatkana kalau Ini malam natal dan Hari Natal sudah lewat.
“Itu tiga bulan yang lalu.” Kata  Hong Joo. Bibi yang satu ruangan memberitahu kalau Hong Joo dirawat selama 10 bulan.
“Bibi... Ibu di mana?” tanya Hong Joo mulai panik. Bibi Yoon pikir akan memberitahu kalau Hong Joo sudah lebih baik. Hong Joo mengaku sudah lebih baik Jadi katakan saja.
“Kuharap kau bangun lebih cepat. Ibumu melakukan yang terbaik untuk bertahan supaya bisa kembali sadar.” Kata Bibi Yoon menahan rasa sedihnya. Hong Joo tak mengerti meminta bibinya menceritakan yang terjadi pada ibunya. 

“Karena kecelakaan yang kau alami, seseorang meninggal.” Cerita Bibi Yoon.
Saat itu pria yang tertabrak mobil meninggal dan keluarga si pria memarahi Nyonya Yoon kalau penyebab anaknya meninggal, padahal sudah berlutut meminta maaf. Lalu dengan sangat perhatian merawat Hong Joo di ruangan rawat.
“Aigoo, putriku. Bertahanlah sebentar, ya? Ibu akan buatkan makanan lezat untukmu.” Ungkap Nyonya Yoon seperti yakin kalau anaknya akan segera bangun.
“Dia harus membayar uang pokok dan tagihan rumah sakitmu, jadi dia menjual semuanya termasuk rumah dan restorannya. Dia bekerja seharian sampai dia tidak tidur. Dia hanya memikirkan tentang kesadaranmu.” Cerita Bibi Yoon.
Nyonya Yoon menempelkan di depan restoran, kalau sudah dijual. Akhirnya ia pun berkejar sebagai tukang bersih-bersih gedung demi menerima uang tambahan untuk anaknya. Tapi sepertinya karena terlalu lalu, ketika akan berjalan kepalanya seperti pusing.
“Lalu suatu hari, dia...” ucap Bibi Yoon tak bisa mengatakan. Hong Joo pun bertanya apakah ibunya meninggal. Bibi Yoon membenarkan kalau Nyonya Yoon sudah meninggal.

Hong Joo membaca surat yang di tinggalkan ibunya,  (Untuk putriku tersayang Hong Joo, Ada 25 juta Won dan 15 juta Won di rekening tabungan Ibu. Ibu juga punya asuransi jiwa yang bisa kau klaim. Kau Jangan terpukul dan merasa bersalah)
“Ini pasti mimpi... Apa aku sedang bermimpi? Katakan padaku kalau ini semua cuma mimpi. Aku harus bangun dari mimpi buruk ini.” Ucap Hong Joo seperti tak bisa menerima kenyataan.
“Kenapa aku tidak bisa bangun?..Katakan padaku kalau ini hanya mimpi. Kumohon.” Kata Hong Joo frustasi. Bibi Hong Joo ikut sedih melihat keponakanya.
“Aku tidak suka mimpi ini... Bibi...” kata Hong Joo marah. Bibi Hong Joo meminta agar Hong Joo tetap sadarkan dirinya dan memberitahu mungkin harus diadili.
“Kenapa aku harus diadili? Aku bahkan tidak menyetir. Kenapa harus aku?” kata Hong Joo. Bibi Yoon kaget karena mengetahui Hong Jootidak menyetir.
“Kenapa aku terus dituduh kalau penyebab kecelakaan itu? Aku tidak menyetir. Kecelakaan itu bukan salahku!” tegas Hong Joo dengan tatapan marah.
Bersambung ke episode 2

FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09 


1 komentar: