Sabtu, 30 September 2017

Sinopsis While You Were Sleeping Episode 3

PS : All images credit and content copyright : KBS
Hong Joo menatap Jae Chan dengan memegang sapu tangan agar darahnya tak mengalir. Polisi akhirnya dan ambulance datang, lalu menanyakan  Siapa pemilik mobil putih itu, Hong Joo mengaku kalau itu miliknya. Dan Jae Chan mengaku sebagai mobil yang tak sengaja menabrak.
“Kalian bisa melanjutkannya di kantor polisi dan Kalian berdua harus diobati dulu.” Ucap polisi. Keduanya mengangguk, Yoo Bum dari depan mobil melirik sinis karena Hong Joo dan Jae Chan pergi menaiki ambulance. Jae Chan sempat menatap sinis pada Yoo Bum karena tak mempercayainya. 

Hong Joo terus menatap Jae Chan di dalam ambulance masih teringat saat Jae Chan datang membuka pintu mobil  dan mencoba menyelamatkanya. Ia lalu menanyakan keadaan Jae Chan. Jae Chan mengaku baik-baik saja jadi meminta tidak usah menatapnya. Hong Joo sempat binggung karena Jae Chan ternyata menyadarinya, lalu mengarahkan pandanganya ke arah lain.
Saat itu Jae Chan menatap Hong Joo dan mengingat saat berjalan memeluknya lalu berkata “Aku percaya. Sebab itulah akubisa memercayaimu.” Akhirnya  Jae Chan pun bertanya Bagaimana bisa Hong Joo mempercayainya. Hong Joo terlihat binggung
“Soal yang kukatakan tadi. Tadi sudah bilang kalau kau dan ibumu akan mati karena Yoo Bum. Kalau aku jadi kau, pasti takkan kupercaya kata-kata itu Bahkan aku juga marah.” Kata Jae Chan.
“Aku tidak marah, Aku percaya kau sudah menyelamatkanku.” Kata Hong Joo
“Kenapa kau percaya padaku?” tanya Jae Chan penasaran. Hong Joo mengaku tidak bermaksud berbohong.
“Kau juga bermimpi, 'kan? Dan mimpimu bakal jadi kenyataan. Bukankah begitu?” kata Hong Joo. Jae Chan kaget Hong Joo bisa mengetahuinya.
“Aku juga bermimpi seperti itu Dan mimpiku selalu menjadi kenyataan. Sama sepertimu.” Akui Hong Joo. Jae Chan pun terdiam. 


Seorang wanita muda bermain piano dengan sangat lihai diatas panggung, penonton pun terpukau menonton dari bangku penonton. Seorang wartawan melihat seorang ibu seperti merasa kesakitan, lalu menanyakan keadanya karena mengeluarkan banyak keringat.
“Sepertinya di sini panas. Kau tak apa 'kan, sayang?” kata suaminya dengan memegang tangan istrinya. Si wanita terlihat gemetar ketakutan saat suaminya memegang tanganya. Mereka pun kembali menonton pertunjukan piano. 

Hong Joo duduk disamping Jae Chan dengan luka sudah di berikan plester. Jae Chan bertanya apakah Hong Joo terus bermimpi seperti itu. Hong Joo membenarkan kalau banyak bermimpi dan pasti kali ini baru pertama kalinya untuk Jae Chan. Jae Chan membenarkan.
“Seberapa jauh kau... Maksudku, seberapa jauh kau bisa memprediksinya? Aku tak tanya karena aku percaya.” Ucap Jae Chan.
“Tidak berbatas, Bisa saja sebulan atau esoknya. Bahkan bisa beberapa menit kemudian.” Jelas Hong Joo
“Apa Pernah prediksi mimpimu salah?” tanya Jae Chan. Hong Joo mengaku Tak pernah.
“Ada mimpi yang tak terwujud, tapi tidak pernah salah.” Jelas Hong Joo.
“Apa Kau belum mencoba mengubahnya?” tanya Jae Chan. Hong Joo pikir Jae Chan itu luar biasa.
“Apa Aku benar-benar menyelamatkan seseorang?” ucap Jae Chan tak percaya. Hong Joo membenarkan. Jae Chan pun ingin tahu apa yang akan terjadi.
“Maksudku, bukan karena aku percaya kata-katamu, tapi katakanlah misalnya aku akan mengubah masa depan. Dan Anggap saja aku sudah mengubahnya. Lalu apa yang akan terjadi?” jelas Jae Chan.
Hong Joo juga tak tahu,  menurutnya Saat Jae Chan  menghentikan air yang mengalir, berarti air itu akan dialihkan pengalirannya. Dan Jae chan menghentikan hal-hal yang terjadi, seperti menghentikan air mengalir, maka Waktu akan mengalir berbeda.


Di kantor polisi
Senior polisi mengeluh dengan perutnya yang makin menonjol berpikir kalau harus turunkan berat badannya, lalu menanyakan juniornya yang datang terlambat. Juniornya yang tadi hampir tertabrak, pikir agar Jangan diungkit karena hampir mati. Sementara seniornya seperti tak peduli, berpikir kalau dirinya bisa saja mati kalau tidak diet.
Pianis sedang melakukan wawancara dengan wartawa kalau menjaga fisik dan berlatih dengan giat. Wartaan tahu Park So Yoon  masuk final Kompetisi Internasional Chopin untuk pertama kalinya di Korea, jadi meminta tanggapan. Saat So Yoon sedang menjawab pertanyaan wartawan, ibunya jatuh pingsan.
Soo Yoon dan ayahnya langsung panik melihat Nyonya Park tak sadarkan diri. Wartawan yang duduk disebelah Nyonya Park meminta agar segera di panggil ambulance, saat itu terihat ada berkas tapak sepatu di baju Nyonya Park. Ia pun langsung menatap sinis pada Tuan Park lalu menelp polisi. Tuan Park mencoba mengelak kalau tidak melakukan ini.
“HaloApa ini polisi? Aku ingin melaporkan kasus KDRT.” Kata si wartawan. Tuan Park menegaskan kalau tidak melakukannya. So Yoon panik meminta agar ibunya segera sadar. Adik Jae Chan masuk binggung karena sudah banyak orang yang berkerumun. 


“Kalau waktu berlalu dengan cara lain..., ke mana arahnya? Ke arah yang lebih baik Atau malah sebaliknya?” tanya Jae Chan penasaran.
“Aku belum mencoba mengubah waktu. Aku juga tidak tahu. Tapi yang pasti orang tidak menyadari bahwac waktu telah berubah dari awal. Kemudian, seiring berjalannya waktu..., perbedaannya akan semakin besar.” Ucap Hong Joo. 

Nyonya Yoon dibawa masuk ke dalam ambulance dan belum sadarkan diri sementara Tuan Park dibawa ke kantor polisi, Tuan Park tetap mengelak dengan meminta polisi agar mengetahui siapa dirinya. Soo Yoo berdiri sendirian dalam lobby gedung. Adik Jae Chan melihatnya lalu mendekat.
“So Yoon... Apa Kau tak apa?” tanya Adik Jae Chan dengan sebuket bunga lalu disembunyikanya. Soo Yoon bingung melihat Jae Chan yang bisa datang ke tempatnya.
“Itu... Aku hanya mampir kemari.” Ucap Jae Chan. Soo Yoon langsung mendekat dan mencengkram baju Jae Chan.
“Jangan katakan apa pun tentang yang terjadi hari ini. Anggap saja kau tak lihat apa-apa. Mengerti?” kata Soo Yoon mengancam. Jae Chan mengangguk mengerti.
“Aku tidak akan kasih tahu siapa-siapa. Tidak akan pernah.” Kata Jae Chan. Dengan memegang tangan Soo Yoon diatas bajunya. Soo Yoon pun mengucapkan  Terima kasih.


“Satu hal yang pasti mulai sekarang, waktu akan berlalu dengan cara lain. Entah itu menuju ke arah yang baik atau buruk.” Ucap Hong Joo. Jae Chan pikir juga seperti itu.
“Sekarang giliranku yang bertanya padamu. Kenapa kau datang menyelamatkanku? Aku hanya mimpi bagimu. Kenapa kau menyelamatkanku bahkan ketika mobilmu sendiri kau hancurkan... dan terluka seperti ini?” kata Hong Joo. Jae Chan juga mengaku tak tahu.
“Apa Kau masih belum mengerti? Mungkin aku tahu alasannya.” Kata Hong Joo dengan nada mengoda.
Jae Chan binggung apa maksud ucapan Hong Joo. Hong Joo bertanya kapan itu mulainya Jatuh cinta padanya. Jae Chan kaget karena Hong Joo menganggap kalau ia jatuh cinta padanya menurutnya Pasti ada salah paham dengan mencoba untuk bergeser tempat duduknya.
“Kau jatuh cinta padaku saat aku memelukmu, 'kan? Itu sebabnya kau balas peluk aku, 'kan?” kata Hong Joo ikut bergeser untuk mendekat.
“Tidak, aku hanya memelukmu karena kau yang peluk dulu. Aku tidak merasakan apa-apa.” Jelas Jae Chan.
“Apa Kau tak merasakan apa-apa? Tapi kau memelukku erat-erat. Bahkan menepuk belakangku. Jadi Apa kau bisa memeluk wanita di mana pun?” tanya Hong Joo. Jae Chan mengaku tidak seperti itu.
“Berarti aku bukan sembarang wanita. Apa yang spesial dariku?Apa yang kau sukai dariku?” tanya Hong Joo
“Aku bingung. Kenapa bertanya seperti itu?” kata Jae Chan bingung
“Tidak, aku salah. Kau 'kan memelukku setelah menyelamatkanku. Berarti... di pemberhentian bis Atau saat kau bawa kue beras?” kata Hong Joo seperti mulai percaya diri.
Jae Chan binggung mencoba untuk menjauh malah tubuhnya jatuh dari kursi, Hong Joo pikir Jae Chan jatuh cinta dengan suaranya dan pindah rumah karenanya. Jae Chan pikir Hong Joo yang membuatnya gila, seperti sebuah drama kalau Jae Chan dianggap sebagai  (Pria Baik)




Yoo Bum duduk di mobilnya, berbicara di telp bertanya  Kantor polisi mana? Apa kejahatan dan hukuman untuk itu? Lalu dianggap sebagai  (Pria jahat) . Sementara Hong Joo merasa kalau badanya langsung merinding menganggap kalau Jae Chan memang benar pindah karena dirinya. Ia pun dianggap sebagai  (Wanita Aneh) dan ketiganya akan bertemu  ( Pria Baik, Pria Jahat, Wanita Aneh)
Hong Joo terbangun dikamarnya dengan wajah cerah lalu menuliskan tentang mimpinya, seperti sangat bahagia mengingat ketika Jae Chan membuka pintu mobil memastikan kalau ia baik-baik saja.  Setelah itu membuka tirai kamarnya.
Adik Jae Chan membuka tirai kamar kakaknya agar menyuruh bangun. JaeC Chan mengeluh dan meminta waktu Lima menit lagi. Adik Jae Chan memberitahu kalau sudah Telat. Jae Chan tetap masih saja tertidur, adik Jae Chan pun melempar baju kotor agar bangun. Jae Chan akhirnya terbangun sambil berteriak marah.
“Sekarang sudah jam berapa?” teriak Adik Jae Chan menunjuk ke arah jam di meja. Jae Chan pun hanya diam karena memang sudah telat.
“Hei.. Buatkan aku sereal juga.”kata Jae Chan melihat adiknya sedang sarapan. Adiknya menyuruh agar Jae Chan membuat sendiri karena lagi kesusahan
“Kau malah bertingkah aneh. Kenapa labil begitu?” kata Jae Chan. Adik Jae Chan ingin memberitahu sesuatu, tapi teringat perkataan Soo Yoon. “Jangan katakan apa pun tentang yang terjadi hari ini.”
Akhirnya ia mengurungkan niatnya. Jae Chan heran adiknya malah tak ingin menceitakannya. Adik Jae Chan mengalihkan cerita dengan menanyakan hubungannya dengan gadis sebelah dan berpikir kalau mereak berdua sudah pacaran. Jae Chan pikir adiknya ingin mati ditanganya karena mengatakan hal itu.
“Hidup itu membosankan bagimu, kan? Kenapa? Kau itu sangat khawatir padanya. Kau menyelamatkannya walau mobil barumu kau korbankan.” Kata adik Jae Chan kesal.

Sementara Hong Joo sedang asyik membuat nasi kepal dengan bentuk hati lalu menceritakan pada ibunya kalau  pria itu jatuh cinta padanya. Ibunya bertanya siapa pria yang dimaksud. Hong Joo mengaku kalau itu Pria pindahan yang Muda dan tampan.
“Aigoo. Lalu bagaimana dengan pengacara itu?”ejek Nyonya Yoon.
“Ibu, jangan ungkit tentang dia lagi. Dia akan memanfaatkanku selagi cari uang.” Kata  Hong Joo
“Jadi Apa kau mau putus dengannya?” tanya Nyonya Yoon. Hong Joo pikir ibuna ingin ia menemuinya lagi
“Dia bisa saja menghancurkan sesuatu.” Kata Hong Joo. Nyonya Yoon pun bertanya apakah Hong Joo mau berkencan dengan pria pindahan itu?. Hong Joo mengaku Tidak.
“Aku hanya ingin mengganti pacarku. Aku hanya akan membayarnya karena sudah menyelamatkanku.” Kata Hong Joo
Nyonya Yoon bingung apa maksudnya Membayar pria itu kembali. Hong Joo menceritakan alau Jae Chan menyelamatkan hidup mereka jadi harus membayarnya selama sisa hidupnya dan Itu yang tepat dilakukan. Nyonya Yoon ingin tahu Bagaimana caranya.
“Sepertinya dia belum pernah berkencan dengan gadis mana pun. Tapi mau bagaimana lagi? Yang pasti, dia menyelamatkan hidupku.” Kata Hong Joo seperti sangat berbunga-bunga.
“Kau harus memikirkan ini. Kau bisa membayarnya kembali dengan balas dendam.” Kata Nyonya Yoon.
“Balas dendam? Tapi Kedengarannya bagus juga. Seperti Romeo dan Juliet. Itu membuatku bersemangat.” Kata Hong Joo terus membentuk nasi kepal dengan bentuk hati.


Jae Chan menceritakan kalau Hong Joo memang sangat gila karena bepikir dirinya jatuh cinta dan cari perhatian menurutnya seHarusnya Hong Joo  pergi temui dokter jiwa Atau harus ada hukum yang membedakan mana orang gila itu maka Dengan begitu kita bisa menghindari orang seperti dirinya.
“Aku sangat tidak beruntung bertemu dengannya.” Keluh Jae Chan
“Tapi kau bilang di dalam mimpimu dia sangat sedih.” Kata adik Jae Chan
“Dia tidak sedih! Tapi Itu agak menakutkan. Ya, aku menyelamatkannya karena dia menakutkan... Ahh.. Tidak... Sebenarnya aku tidak menyelamatkannya. Aku tidak pernah bilang apa pun tentang mimpiku. Dan Bisa-bisa aku dipanggil gila karena mendengar tentang mimpiku.” Cerita Je Chan.
Adik Jae Chan menganguk setuju saja dan saat itu bel rumah berbunyi, mereka binggung Siapa yang datang datang pagi sekali, lalu melihat di interkom. Adik Jae Chan memberitahu kalau tamunya adalah si wanita sebelah rumah. Jae Chan kaget mendenganya lalu berjalan mendekat.
“Aku Hong Joo yang tinggal di sebelah rumah.” Kata Hong Joo ramah. Adik Jae Chan pun bertanya apakah ada yang bisa dibantu.
“Omo, siapa pemilik suara tampan itu? Coba Perlihatkan wajahmu. Aku jadi penasaran.” Ucap Hong Joo penuh semangat.
Adik Jae Chan binggung dengan tanggapan Hong Joo. Jae Chan pikir kalau sebelumnya sudah mengatakan kalau Hong Joo itu gila. Hong Joo berdiri didepan interkom mengaku kalau bisa mendengar keduanya bicara.
“Aku membuat bola nasi untuk dibagikan pada kalian.”kata Hong Joo
“Maaf, Nam Hong Joo.. Aku tidak percaya yang kau ceritakan tentang mimpi. Jadi aku bukan menyelamatkanmu karena itu Dan kau tidak perlu membayarku kembali. Kau bisa ambil kembali bola nasimu.” Kata Jae Chan lalu mematikan interkom merasa kalau paham yang dikatakan.
“Oh, Apa kau tidak percaya padanya? Aku benar-benar mengerti maksudmu.” Kata Hong Joo memegang sebuah note dengan senyuman bahagia. 


Keduanya sama-sama melewati Toko bunga lalu melihat egg tart yang baru keluar dari oven didepan kaca toko kue. Keduanya hanya lewat dengan helaan nafas dan sempat berhenti didepan mural kakek dan nenek yang berciuman, walaupun usia senja merasa mereka masih muda.
Mereka berjalan di tempat yang sama, melalui lapangan dan bertemu dengan dua ahjumma sedang berolahraga. Para anak TK sedang jalan-jalan dan salah seorang anak kehilangan balonya karena terbang dan menyangkut di dahan.
Hong Joo memberitahu kalau Ada pria yang tinggi dengan lengan panjang dan Namanya Jung Jae Chan. Beberapa saat kemudian Jae Chan datang membalik balon yang tersangkut. Si anak langsung mengucapkan Terima kasih pada Jung Jae Chan Ahjussi. Jae Chan binggung karena si anak bisa mengetahui namanya. 

Hong Joo sudah pergi ke kedai kopi yang cukup ramai, lalu didepan kasir memberitahu Dalam tiga menit, pria tinggi akan datang kemari memesan sesuatu. Si kasir bingung, Hong Joo memberitahu cirinya adalah memakai baju krem jadi meminta kalau datang melakukan sesuatu untuknya.  Jae Chan akhirnya datang dan ingin memesan.
“Apa Anda pesan Americano dengan gula tambahan dan sirup hazelnut?” ucap si kasir. Jae Chan binggung lalu membenarkan dan memberikan kartu kreditnya.
Hong Joo sudah sampai di jalur kereta bawah tanah, berdiri tepat di pintu 8-3 dan menaiki kereta. Jae Chan datang berdiri di tempat yangs ama dengan Hong Joo berdiri lalu menaiki kereta yang datang.

Jae Chan duduk di bangku kosong, saat itu Hong Joo sengaja melonggokan kepalanya menatap Jae Chan yang bersela seorang paman. Jae Chan kaget melihat Hong Joo ada didekatnya. Si paman pun bertanya apakah mereka saling mengenal. Jae Chan mengaku tidak sementara Hong Joo mengaku mengenalnya, akhirnya si paman memberikan tempat duduknya untuk Hong Joo.
“Ini aku. Nam Hong Joo yang dari sebelah rumah.” Kata Hong Joo. Jae Chan mengaku sudah tahu dengan tatapan acuh.
“Kau pasti sangat penasaran... Kau penasaran kenapa aku mengikutimu tapi ternyata tidak karena kita naik kereta bersama.” Kata Hong Joo. Jae Chan pikir Rasanya memang aneh.
“Benarkah? Apa Kau ini sedang membaca pikiranku?” kata Jae Chan heran
“Aku benar-benar mengikutimu. Karena aku menebak ke mana kau pergi dalam mimpiku. Aku menduga balon itu terjebak di pohon da aku juga menebak kau memesan kopi Dan kau naik kereta subway untuk pergi bekerja Dan aku juga melihat stasiun mana tujuanmu.” Ucap Hong Joo. Jae Chan hanya diam saja.
“Sudah kubilang aku bisa meramal masa depan dalam mimpiku. Jadi memang benar kau menyelamatkanku Dan memang benar aku berutang budi padamu. Benarkan?” ucap Hong Joo. Jae Chan hanya diam saja keluar dari keerta. 


Hong Joo mengeluh Jae Chan hanya diam saja padahal sengaja datang karena hanya ingin mendengar jawabannya lalu memberikan sebuah payung karena Hong Joo pasti akan membutuhkannya. Jae Chan menegaskan kalu tidak percaya dengan kata-kata Hong Joo.
“Kau bilang kau bermimpi tentangku. Kenapa kau malah menyangkalnya?” kata Hong Joo kesal
“Aku bukannya menyangkal, tapi Aku hanya tidak mempercayainya.” Tegas Jae Chan. Hong Joo binggung.

“Aku tidak ingin memercayai itu. Aku tidak akan percaya walau aku memimpikan hal itu lagi. Aku tidak peduli siapa yang mati dalam mimpiku.”tegas Jae Chan. Hong Joo ingin tahu alasanya.
“Kalau aku percaya..., maka aku harus selamatkan siapa pun yang hampir mati. Kalau tidak...,aku malah menyalahkan diriku tanpa henti. Aku tidak bisa mengatasinya. Lalu kau bisa mengatasinya?” kata Jae Chan. Hong Joo mengaku Tidak bisa.
“Kalau tidak bisa, abaikan saja mimpimu itu. Seakan tak pernah terjadi. Itu akan membuatmu tak pernah menderita. Dan Kalau kau ingin mengubah sesuatu, cari saja orang lain.” Kata Jae Chan.
“Aku tidak bisa menemukan orang lain.” Ucap Hong Joo
“Aku tidak tahu kenapa harus menjadi dirimu. Carilah orang lain yang lebih keras. Jika ada 2, pasti ada 3 dan 4 juga.” Kata Jae Chan.
“Sudah kubilang.. itu Hanya dirimu saja.” Kata Hong Joo. 

Seorang anak sedang berlatih melempar bola baseball menceritakan kalau memimpikan sesuatu yang aneh tadi malam. Ayahnya ingin tahu mimpi seperti apa.  Si anak menceritakan kalau Ayahnya akan mati dalam mimpinya. Sang ayah hanya tersenyum lalu bertanya bagaimana ia nanti mati.
“Apa ayah yang banyak darah? Dengan Banyak darah berarti pertanda baik.” Ucap si ayah dengan terus mengajarkan anaknya melempar bola.
“Bus Ayah mengalami ledakan. Seorang tentara muda naik busnya Ayah. Dia membawa granat dan senjata api.” Cerita si anak
“Hei, ini bukan Amerika.  Impianmu sangat tidak mungkin terjadi.” Kata si ayah.
“Tapi itu nyata! Dia melempar granat ke dalam bus. Lalu semua orang meninggal. Ayah, Apa hari ini bisa jangan bekerja dulu? Mimpi yang kurasakan sangat nyata.” Rengek si anak.
“Benarkah? Kalau begitu... Jika kau melakukan sesuatu untuk Ayah, Ayah akan memikirkannya.” Kata Si ayah. Si anak menerima bisikan ayahnya dan langsung berlati mengejek ayahnya kalau tidak mungkin melakukannya.
“Ayah tidak minta terlalu banyak. Kenapa kau tidak mau?.” Keluh si ayah. 


Jae Chan keluar dari stasiun dan melihat hujan yang turun, padahal sebelumnya Hong Joo memberikan sebuah payung dan berkata mungkin akan membutuhkannya tapi menolaknya. Jaksa Park Dae Young juga baru keluar stasiun mengeuh karena Ramalan cuaca memang suka salah prediksi.
“Pak Jaksa, selamat pagi.” Sapa Jae Chan melihat seniornya. Jaksa Park pun menyapa Jae Chan bertanya apakah membawa payung.
“Tidak, aku akan lari ke toko seberang dan membelinya.” Kata Jae Chan. Tapi saat itu Jaksa Shin Hee Min datang dengan payung menyapa seniornya.
“Mobil Anda di mana?” tanya Hee Min. Jaksa Park menjelaskan Karena kebijakan pemerintah, jadi tidak membawanya dan melihat Hee Min yang membawa payung.

“Aku akan mengantar Anda sampai di kantor.” Kata Hee Min. Jaksa Park pun dengan senang hati menerima bantuan.
“Jaksa Jung, bagaimana ini... Payungku terlalu kecil untuk bertiga.” Kata Hee Min dengan nada mengejek.
Jae Chan pikir tak masalah menyuruh Hee Min untuk mengantar Jaksa Park saja. Keduanya pun berjalan melewati hujan deras. Jaksa Park membahas kalau Jae Chan bicara informal pada Hee Min. Hee Min pikir itu karena Jae Chan senior di kampus.
“Meski begitu, dia tetap harus beretika di kantor kami.” Kata Jaksa Park pikir Jae Chan pasti tidak tahu.
“Aku tahu. Jalannya itu masih panjang.”kata Hee Min. Sementara Jae Chan pun akhirnya hanya bisa berlari keluar dari stasiun. 


Tuan Park duduk melihat rekaman CCTV di dalam lift saat menginjak-nginjak tubuh istrinya dengan sepatu. Yoo Bum datang meminta maaf datang terlambat karena mendadak hujan. Tuan Park seperti sudah menunggu lama. Yoo Bum langsung berkomentar kalau Tuan Park mengibaratkan pergi ke laut kali ini.
“Menurut laporan medis, Anda mematahkan enam tulang rusuknya. Karyawan kami kesulitan menghapus rekaman CCTV itu.”jelas Yoo Bum memperlihatkan hasil medis.
“Aku tahu mereka sangat kesusahan. Itu sebabnya aku akan bayar mereka lebih banyak.
“Tuduhan cedera akan menyulitkan banyak hal, jadi aku akan bicara dengan para dokter dan menjadikannya sebagai serangan. Tuliskan surat permintaan maaf untuk setiap tanggal, hanya berjaga-jaga saja. Anda tahu  yang terjadi  selanjutnya jika Anda dikenai tuduhan penyerangan kan? Anda mungkin mendapat surat cerai yang ditandatangani oleh istri Anda. Jadi...” kata Yoo Bum langsung disela oleh tuan Park
“Aku tidak akan diadili karena dia tidak memiliki hak untuk bertindak. Aku sangat tahu itu.” Kata Tuan Paak
“Istri Anda akan menandatanganinya, 'kan? Kalau tidak, berarti dia akan memasukkanku ke penjara.” Ucap Yoo Bum memastikan
“Jangan khawatir. Dia tidak akan pernah membuat So Yoon menjadi anak terpidana.” Kata Tuan Park
Saat itu di ruang rawat, Nyonya Park masih terbaring seperti tak sadarkan diri, sementara Soo Yoon menjaga ibunya dirumah sakit. 


Hong Joo duduk sendiri di cafe dengan berbicara kala Yoo Bum mungkin berpikir itu tidak masuk akal karena disalahkan atas sesuatu yang tidak di lakukan lalu ia memeluk orang lain menurutnya itu wajar saja. Yoo Bum mengetuk jendela cafe, Hong Joo sempat kaget dan mencoba untuk tenang saat Yoo Bum mulai masuk cafe.
“Bicaralah dengan akal sehat. Berpisahlah dengannya secara rasional.” Ucap Hong Joo melihat Yoo Bum duduk di duduk didepanya dan menawarkan kopi. Yoo Bum dengan melipat tangan didada langsung menolaknya.
“Aku ingin bertemu denganmu karena kau mungkin ingin banyak bicara denganku. Sebagai contoh, permintaan maafmu.” Kata Yoo Bum.
“Aku tahu kau kecewa dengan tingkahku saat kecelakaan itu terjadi.”kata Hong Joo. Yoo Bum mengaku senang karena Hong Joo sudah menduganya.
“Aku tahu yang kulakukan sekarang sama sekali tidak masuk akal. Aku juga tahu kau tidak berbuat salah. Tapi aku akan tidur nyenyak kalau kita mengakhiri hubungan kita di sini.” Kata Hong Joo. Yoo Bum kaget Hong Joo malah ingin putus denganya.
“Jadi, ayo kita akhiri di sini. Panggil saja aku gila atau tidak tahu diri. Tapi aku tidak tahu apa yang harus kubicarakan. Maafkan aku!” ucap Hong Joo dengan nada tinggi.
“Apa Kau sebut ini permintaan maaf?” keluh Yoo Bum pikir seperti balas dendam.
“Ya, ini permintaan maaf. Aku bisa saja lebih nyaring lagi saat minta maaf. Semua ini salahku. Aku memang pantas disalahkan. Aku dengan tulus meminta maaf!” kata Hong Joo dengan nada nyaring. Yoo Bum binggung dengan banyak orang melihat ke arah mereka. 


Si Ayah mengemudikan busnya, lalu memberikan perhatian pada penumpang yang akan naik kalau lantai licin jadi berhati-hati. Tiba-tiba melihat anaknya yang naik bus juga. Si Ayah binggung kenapa tak sekolah,  sia anam mengaku sengaja naik bus ayahnya karena khawatir.
“Aigoo. Kalau banyak bermimpi seperti itu, sebaiknya berhenti sekolah saja.” Ejek Si ayah dan anaknya duduk di kursi belakang ayahnya lalu melihat sosok pria dengan baju tentara naik ke dalam bus.

“Ayah, aku melihat pria itu dalam mimpiku.” Bisik si anak. Ayahnya merasa kalau  Itu kebetulan saja.
“Ayah, kurasa dia bawa pistol di dalam tasnya” kata Si anak, lalu terdengar berita dari radio dialam bus.
“Seorang tentara diam-diam lari dari pangkalan militer dan membawa dua granat di Provinsi Gangwon. Dia menembak seorang petugas polisi di sebuah toko di Seoul. Polisi dan tentara sedang mencari keberadaannya. Petugas polisi yang tertembak akhirnya tewas di tempat.Reporter Kim Moo Kyung melaporkan dari tempat kejadian.”
Wajah si ayah makin tegang, begitu juga si anak lalu terlihat sebuah bola baseball dan foto bersama anaknya ada didasbord bus.
Bersambung ke episode 4

FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar