Sabtu, 30 September 2017

Sinopsis While You Were Sleeping Episode 4

PS : All images credit and content copyright : KBS
Soo Yoon akan masuk sekolah mengeluh yang tiba-tiba hujan lalu berteduh di depan pos keamanan. Saat itu Adik Jae Chan juga berteduh lalu bertanya apakah Soo Yoon sudah menjenguk ibunya di RS. Soo Yoon terlihat binggung seperti tak mengenali Adik Jae Chan lalu menganguk.
“Bagaimana keadaannya? Apa Dia baik-baik saja?” tanya adik Jae Chan.
“Sudah kubilang, jangan berlagak seperti tahu segalanya” kata Soo Yoon. Jae Chan mengaku kalau bertanya karena khawatir.
“Aku takkan beri tahu siapa pun, Aku janji.” Kata Jae Chan dengan memakaikan jaketnya pada Soo Yoon. Soo Yoon tiba-tiba bertanya nama Jae Chan.
“Apa Kau tidak tahu namaku? Tahun lalu kita satu kelas.”keluh Jae Chan kesal
“Apa Kalau kita satu kelas, berarti aku harus tahu nama teman-temanku saat itu?” balas Soo Yoon. Jae Chan pikir itu sudah pasti.
“Itu bagian dari tugas sebagai teman sekelas.” Kata Jae Chan. Soo Yoon merasa tidak tahu punya tugas seperti itu lalu bergegas pergi. Jae Chan mengeluh karena bahkan pergi menonton konsernya lalu ikut masuk ke dalam kelas. 


Hyang Mi membawa trolly dengan tumpakan berkas yang sangat tinggi. Jae Chan binggung memastikan kalau Semua berkas kasus itu akan ditugaskan kepadanya. Hyang Mi dengan sinis membalas apakah ia yang harus menangani semua kasus. Jae Chan lalu melihat kalau Tidak ada tempat.
“Bagaimana kalau kau pinjam lemari Jaksa Shin? Dia juga mengerjakan kasus ini dengan cepat sehingga tak ada kasus yang belum dipecahkan. Dan ada banyak ruang di lemarinya.” Kata Hyang Mi bangga.  Jae Chan menegaskan dirinya juga cepat berkejar.
“Apa Sudah pesan restoran untuk makan siang kita hari ini? Itu yang kau lakukan.” Tanya Tuan Choi. Jae Chan mengaku sudah. Tuan Choi ingin tahu dimana restorannya.
“Bukan itu yang paling penting.” Kata Jae Chan terlihat kesal sendiri
“Benar. Katanya review kinerja junior bergantung pada seberapa bagusnya kau memesan restoran, daripada memecahkan kasus. Kau harus berhati-hati dalam memilih restoran.” Saran Tuan Choi
“Aku akan meminta nasihat dari Jaksa Shin dan memutuskannya dengan hati-hati.” Kata Jae Chan.
Tuan Choi seperti tak yakin kalau Hee Min  akan memberitahunya. Jae Chan yakin karena dulu mereka satu kampus.


Hee Min sedang berjalan di lorong, Jae Chan melihat Hee Min langsung memanggilnya tanpa panggilan jabatan, tapi Hee Min tetap tak mengubrisnya dan langsung masuk ke ruang penyidik.  Jae Chan binggung berpikir Hee Min memang tak mendengarnya.
“Hei.. Harusnya kau sopan memanggilnya. Jangan memanggilnya dengan akrab, Harus kau panggil dia Jaksa Shin. Kau tidak bisa bersikap santai dengannya saat dia menjadi jaksa di depanmu.” Nasehat Yoo Bum dengan nada mengejek
“Ada apa? Kenapa memanggilnya?” tanya Jaksa Park. Jae Chan tahu kalau Hee Minbertanggung jawab memesan restoran Jadi akan tanya-tanya padanya.

“Hei, kau. Hafalkan saja. Jaksa Senior di sini tidak suka daging basah, jadi jangan pesan restoran dengan menu shabu-shabu. Jaksa penuntut umum tidak suka daging mentah, jadi jangan pesan menu sashimi. Lalu Asisten jaksa itu bau kaki jadi dia tidak suka melepaskan sepatunya. Jaksa Shin tidak suka masakan Italia, jadi ingat itu.” Ucap Yoo Bum kembali mengambil perhatian Jaksa Park
“Aigoo, sebaiknya jangan biarkan dia tahu cara yang susah payah itu.” Ejek Jaksa Parl
“Anda benar. Dia harus membayarku untuk ini.” Kata Yoo Bum. Jae Chan dengan kesal memilih untuk pamit pergi saja.
Jaksa Park binggung melihat sikap Jae Chan kalau Kelihatannya sedang tersinggung. Yoo Bum kembali membanggkan diri kala Dulu pernah mengajari Jaksa Jung sebelumnya jadi Mungkin mengira ia memperlakukannya seperti muridnya. Jaksa Park pikir seharusnya Yoo Bum pasti merasa malu.
“Tidak apa. Mungkin ucapanku-lah yang membuatnya tersinggung. Ini salahku.” Kata Yoo Bum dengan senyuman lalu menatap sinis ke arah Jaee Chan. 

Si anak berbisik pada ayahnya kalau pria itu tentara yang melarikan diri itu. Sang ayah sengaja mengecilkan volume radionya. Si anak panik kalau nanti mereka mati seperti yang ada dalam mimpinya. Si ayah menyakinkan kalau Jangan khawatir dan Tidak akan ada yang mati hari ini.
“Ayah akan memberitahu semua penumpang untuk turun, dan bilang kalau bus sedang rusak. Kemudian...” ucap si ayah lalu sengaj menghentikan di tengah jalan.
Si ayah berdiri ditengah bus meminta maaf pada penumpang karena ada masalah dengan bannya jadi perlu memperbaikinya dan mereka bisa naik bus berikutnya. Semua penumpang pun mengeluh karean membuat mereka Membuang-buang waktunya.
Mereka pun mengeluh karena diluar hujannya sangat deras. Si anak seperti tak ingin keluar tapi ayahnya menyuruh sang anak untuk pergi.  Dan hanya ada tentara didalam bus, Si ayah mendekati tentara yang terlihat gugup lalu meminta agar membantu untuk mengganti ban-nya.
Si anak sudah ada di luar dengan menjauhkan semua penumpang dari bus dan melihat ayahnya ada didalam bus. Tapi tiba-tiba si tentara melawan dan akhirnya ledakan besar pun terjatuh. Si anak langsung menangis histeris melihat ayahnya masih berada di dalam bus. 

Hong Joo terbangun dari tidurnya sambil menangis, lalu menuliskan dalam notenya (18 Februari 2016. Seung Won akan menjadi pembunuh karena kakaknya.) Lalu menempelkan semua note mimpinya dan bertanya-tanya Siapa itu Seung Won? Lalu Siapa yang akan dia bunuh? Dan Siapa kakaknya?
Ia teringat perkataan Jae Chan sebelumnya “Kalau kau tidak bisa atasi, lupakan semua mimpimu itu. Seakan belum pernah terjadi.” Akhirnya Hong Joo memilih untuk mengambil note yang dituliskan lalu membuangnya ke tempat sampah. 

Soo Yoon sedang bersama temanya, Adik Jae Chan tiba-tiba datang dengan wajah serius mengajak So Yoon untuk bicara.  Temanya berpikir kalau keduanya saling menggoda. Soo Yoon menyuruh Adik Jae Chan agar ikut denganya. Mereka pun sampai di gedung aula.
“Aku sudah bilang, jangan berlagak seperti tahu segalanya. Aku sudah bilang jangan buka mulut!” ucap Soo Yoon marah langsung memukul adik Jae Chan.
“Kulihat kau sedang mencari sesuatu di lab komputer.” Kata Jae Chan da ingin tahu kenapa Soo Yoon yang melihat hal yang aneh
“Kenapa kau mencari di internet bagaimana cara membeli potassium sianida dan dosis yang cukup untuk membunuh?Apa yang kau pikirkan? Apa Kau mungkin akan membunuh ayahmu?” ucap Jae Chan tak percaya.
“Aku mencoba menyelamatkan ibuku. Ayahku harus pergi supaya ibuku bisa hidup.” Ucap Soo Yoon seperti sangat frustasi.
“Kenapa kau harus melakukan itu? Harusnya kau laporkan pada polisi. Jaksa harusnya sudah menuntut kasus ini. Ayahmu akan diadili dan dikirim ke penjara. Maka kau tidak perlu...” kata Jae Chan menyela.
“Bagaimana kalau dia tidak bisa diadili?” kata Soo Yoon.
Jae Chan hean kenapa tidak bisa karena Soo Yoon berbuat kejahatan. Soo Yoon pikir Pasti tidak bisa, karena Ayahny tidak akan pernah diadili karena jaksa yang bodoh dan pengacara yang licik.


Saat itu Yoo Bum datang ke rungan Jae Chan mengaku kalau datang sebagai pengacara Park Jun Mo. Jae Chan bertanya apakah Park Jun Mo, Orang yang melakukan KDRT. Yoo Bum membenarkan kalau Tuan Park sebagia klien utamanya dan pasti  tahu si pianis, Park So Yoon dan ayahnya sebagai klienya itu.
“Rasanya kasus ini sudah begitu umum.” Kata Jae Chan terus menatap ke layar komputernya.
“ Apa Kau sudah selesai meninjau jejak catatannya?” kata Yoo Bum sambil melihat berkas diatas meja.
“Ya. Dia menendang istrinya dengan sepatunya. Enam tulang rusuknya retak karena dia. Ini kasus cedera.” Kata Jae Chan.
“Ini harus ditangani sebagai serangan.” Kata Yoo Bum membela klienya. 

Soo Yoon tahu kalau Pengacara licik itu akan membuat kasus itu sebagai penyerangan, bukan cedera. Adik Jae Chan bertanya Apa bedanya kasus cedera dan penyerangan. Soo Yoon memberitahu kalau korban tak terluka maka itu namanya serangan dan apanila terluka, itu namanya cedera.
“Tapi ibumu terluka. Dia bahkan merusak tulang rusuk ibumu. Jadi ini pasti kasus cedera, bukan?” kata adik Jae Chan. 

Yoo Bum pikir kalau ini kasus penyerangan dengan memperlihtakn Ini laporan medis Do Geum Sook, Istri dari Tuan Park. Jae Chan melihat hasilnya Beberapa tulang rusuknya patah dan kontusi dan menurutnya Bagaimana bisa ini jadi kasus penyerangan bila ada laporan medis.
“Hei, kau harus memeriksa tanggalnya. Insiden tersebut terjadi tanggal 14 Februari lalu Laporan medis tersebut ditulis pada 10 Februari.” Kata Yoo Bum. Jae Chan melihat “Diterbitkan tanggal 10 Februari 2016”
“Apa Itu artinya Park Jun Mo bukan penyebab rusaknya tulang rusuk istrinya?” ucap Tuan Choi. Yoo Bum membenarkan. Hyang Mi ingin tahu bisa terjadi.
“Ini catatan kartu kredit Do Geum Sook.. Dari yang dilihat apa yang ia habiskan tanggal 10 Februari..., maka dia menggunakan gondola dan peralatan ski sewaan di Chungyeon Resort. Jadi Itu berarti tulang rusuknya tidak rusak karena Park Jun Mo. Penyebabnya karena Do Geum Sook bermain ski.” Kata Yoo Bum 


“Kecuali kalau ada lagi spekulasi muncul..., pengacara licik itu akan berhasil membuat kasus cedera menjadi kasus penyerangan.” Jelas Soo Yoon
“Katakan saja itu benar. Ada apa dengan kasus penyerangan? Ini juga kejahatan yang harus didakwa.” Kata adik Jae Chan heran
“Benar... Ini memang kejahatan, tapi ini aneh. Dan Ini kejahatan yang bisa dihukum kalau korban menyetujuinya. Jadi kalau korban tidak setuju..., maka tidak ada yang bisa dilakukan oleh jaksa bodoh itu. Kejahatan akan hilang.” Jelas Soo Yoon.
“Kalau begitu bujuklah ibumu untuk menyetujuinya.” Kata adik Jae Chan. 

Di rumah sakit
Nyonya Do sudah duduk diatas tempat tidurnya berbicara pada Jaksa kalau tidak ingin Tuan park dihukum dan membenarkan terluka di resort ski jadi Suaminya tidak ada hubungannya dengan hal itu.Tuan Park sengaja datang menemui istrinya agar tak melaporkanya. Nyonya Do seperti ketakutan ada didekat suaminya.
“Ibu akan beri tahu mereka... kalau dia tidak mau ayahku dihukum, seperti yang selalu dilakukannya.” Cerita Soo Yoon. Jae Chan heran kenapa tak mua melakukanya
“Ibuku... lebih takut ayahku daripada hukuman.” Ucap Soo Yoon. 

Jae Chan binggung setelah menutup telp karena Nyonya Do tak ingin memperpanjang masalahnya dan itu kasusnya selesai begitu saja, lalu mengaku benar-benar penasaran pernah bilang sebelumnya kalau Park Jun Mo itu sebagai klien tetapnya
“Bagaimana bisa direktur lembaga pendidikan menjadi klien tetap? Apa yang harus dia lakukan untuk menjadikanmu pengacaranya saat masa tugasmu belum setahun? Dan Dilihat dari dirimu itu, sepertinya kau dibayar banyak olehnya.Kenapa kau mengambil kasus yang teramat jelas? Aku tadi penasaran, tapi sekarang aku mengerti.” Kata Jae Chan sudah mencurigai kelicikan Yoo Bum. Yoo Bum pura-pura tak mengerti.
“Apa Kau selalu melakukan ini? Mengubah kasus cedera menjadi serangan dengan memperbaiki beberapa dokumen, mengancam korban agar tidak mengajukan tuntutan dan membuat mereka menandatangani formulir persetujuan? Kau menghapus kejahatannya, supaya dia terlihat biasa di matamu.Berapa kali dia harus mengunjungimu untuk menjadi klienya ?” ucap Jae Chan sinis.
Hyang Mi melihat ketegangan berpikir kalau seharusnya menghentikanya. Tuan Choi akhirnya berdiri berkomentar kalau ucapan Jae Chan sudah melewati batas. Jae Chan mengaku tahu tahu menurutnya Jae Chan seperti yang diharapkan.
“Aku paham kau dendam padaku karena sesuatu yang terjadi 13 tahun silam.” Ucap Yoo Bum. Jae Chan pikir Tapi baginya itu sudah berakhir.
“Kenapa kau jadi pemarah pada klienku?” kata Yoo Bum, Jae Chan tak suak dianggap seperti layaknya pendendam.
“Atau adakah kata lain supaya dijelaskan apa yang kau lakukan padaku saat dulu? Aku tidak bisa memahaminya dengan kata-kata lain selain pemarah. Jadi Dengarkan. Pertama...,kenapa kau main mata dengan pacarku dan menyuruhnya untuk putus denganku?” ucap Yoo Bum
Hyang Mi mendengarnya langsung sibuk mengetik chat dalam grup. Yoo Bum lalu ingin tahu alasan Jae Chan yang menabrakan mobil pada mobil Hong Joo lalu yang ketiga Jae Chan itu menyindirnya dengan kasus yang sedang ditanganinya.
“Kenapa kau mencoba untuk beragumen?” kata Yoo Bum mengejek.
“Jangan bicara omong kosong. Itu adalah urusan yang terpisah.” Kata Jae Chan membela diri
“Benar... Tapi kurasa ketiga kejadian itu hanya memiliki satu alasan. Kau mau balas dendam.” Kata Yoo Bum. 


Pesan dari ruangan Hyang Mi pun sudah sampai ke bagian lain, di bagin kantor Jaksa Lee Ji Kwang, kalau Jaksa Jung sengaja menabrak mobil Jaksa Lee. Mereka ingin tahu alasanya, salah satu pegawai berpikir Mungkin alasannya karena balas dendam.
“Mereka pasti punya alasan yang tidak kita ketahui.” Pikir  pegawai di ruangan lain. Jaksa lain pun ingin tahu alasan apa dimasa lalu.

“Katanya Jaksa Jung merebut pacar Jaksa Lee. Mungkin ada yang selingkuh!” kata pegawai lain. Hee Min ada diruangan kaget kalau berhubungan dengan perselingkuh menurutnya itu sangat liar dan kacau
Yoo Bum mengaku tidak meminta Hong Joo untuk memperbaiki keadaan bahkan tidak meminta untuk tidak menghukumnya. Tapi hanya meminta untuk mengikuti hukum dan prinsip yang kita pelajari lallu Dapatkan persetujuan dari jaksa senior dan buat itu tidak dapat diromfeksi.
“Kau Jangan galak pada klienku. Jadi Ikuti sesuai aturan hukum. Hah?” ucap Yoo Bum akan pamit pergi. Keduanya akan berdiri tapi Yoo Bum berjalan lagi mendekati Jae Chan.
“Dan tolong jangan bertingkah seperti anak kecil.Perilakumu itu terlalu kekanak-kanakan dari yang kulihat.” Ejek Yoo Bum. Jae Chan hanya diam karena sudah tahu sifat licik Jae Chan. 

Soo Yoon tahu bahwa Jaksa bodoh itu tidak akan pernah menyelamatkan ibunya dan Begitulah keadaannya. Adik Jae Chan yakin kalau Pasti ada cara lain. Soo Yoon pikir pepatah itu tidak pernah salah yaitu “Di mana drum dipukul maka hukum akan bungkam dan Begitulah adanya.

Semua sudah berkumpul untuk makan bersama, Jae Chan melihat Hee Min baru datang dan memanggilnya dengan banmal. Hee Min pura-pura tak mendengar walaupun sudah diteriki beberapa kali. Jaksa Lee meminta agar Jae Chan memanggil Jaksa Shin. Tetap saja Jae Chan memanggil nama He Min. Akhirnya Jaksa Son Woo Joo pun memanggil Hee Min, Hee Min langsung menengok. Jae Chan hanya bisa melonggo melihatnya.
“Restorannya agak kecil, Hampir saja aku tersesat.” Keluh Hee Min lal duduk membuka jaketnya.
“Jaksa Jung, apa agamamu?” tanya Jaksa Park. Jae Chan mengaku tak punya agama. Semua melonggo binggung.
“Kenapa, kenapa dengan kalian?” tanya Jae Chan heran. Jaksa Park mengaku kalau mereka semua punya agama jadi bergiliran berdoa sebelum makan
“Jangan khawatirkan kami dan makanlah duluan.” Kata Jaksa Park mengajak mereka semua bergandengan tangan lalu berdoa.
“Jaksa Lee, kenapa tidak kau yang mulai dulu” kata Jaksa Park. Jaksa Lee mengangguk setuju dan Jae Chan akan mulai makan.
“Terima kasih banyak telah  memberi kami makanan ini. Berikan berkat untuk mereka yang tidak percaya pada-Mu. Tolong beri panduan kepada Jaksa Jung untuk menemukan restoran dengan ruang yang lebih besar, supaya tidak tersesat lagi.” Ucap Jaksa Lee dengan lantang.
“Aku termasuk dalam sebuah organisasi di mana sopan santun dan ketertiban itu penting. Ajari anak-anak domba malang yang menurutnya sopan santun lebih penting daripada umur. Tolong beri mereka berkah.” Kata Hee Min. Jae Chan terdiam karena  memang itu pasti untuknya.
“Kasus yang tidak terpecahkan menumpuk di kantor Jaksa Jung. Tolong beri dia panduan untuk segera menangani kasus-kasus tersebut supaya korban tidak perlu meneteskan air mata lagi.Dan juga, tolong bantu jiwa yang mempermalukan semua jaksa dengan pakaian yang salah. Izinkan dia membukakan pintu hatinya untuk memilih pakaian yang tepat.” Kata Jaksa Soon. Jae Chan akhirnya tak nafsu makan melihat kemeja dan dasinya memang tak cocok.
“Dunia dipenuhi dengan kecemburuan dan kemarahan. Itu sebabnya beberapa orang tidak bisa melepaskan masa lalu mereka dan menyimpan dendam. Mereka terkadang tidak dapat menangani kasus dengan adil. Itu karena... Bahkan saat kami marah atau dendam..., kami harus memecahkan kasus dengan pola pikir rasional. Harap bimbing mereka untuk menjaga prinsip seorang jaksa. Aku berdoa untuk mereka.” Kata Jaksa Park
Semua mengucap amien lalu membuka matanya. Jaksa Park melihat Jae Chan yang belum makan. Jae Chan mengaku sudah makan lebih dulu. Jaks Park dengan baik hati memberikan lauk untuk Jae Chan. 



Jae Chan mengambil tumpukan berkas. Tuan Choi binggung apa yang dilakukan Jae Chan sekarang. Jea Chan mengaku akan mengurusi berkas ini. Tuan Choi pikir itu terlalu banyak untuk diselesaikan hari ini. Jae Chan pikir akan begadang semalaman.
“Kalau aku coba, aku bisa mengosongkan lemari bodoh itu dalam sehari” kata Jae Chan penuh semangat membuka berkas diatas meja.
“Wahh.. Pas sekali... Ini kasus Park Jun Mo. Dilengkapi laporan medis dan formulir persetujuan. Aku hanya bisa melakukannyakalau aku memprosesnya tidak sesuai prosedur dan Hanya butuh waktu lima menit.” Kata Jae Chan memulai mengetik
“Terduga, Park Jun Mo... Dia dituduh melakukan penyerangan. Pihak yang dirugikan tidak ingin terdakwa dihukum. Oleh karena itu, kasus ini tidak dapat diadvokasi.” Ucap Jae Chan sambil menulis dan menyelesaikan berkasnya.
“Bahkan tidak butuh waktu lima menit. Berarti, aku tidak perlu begadang semalaman...Kasus selanjutnya adalah soal SIM yang tidak terdaftar, ini Hanya tiga menit.” Kata Jae Chan kembali mengetik.
Hyang Mi heran melihat Jae Chan karena Belum pernah melihat seperti itu sebelumnya. Tuan Choi pikir Jae Chan pasti mabuk. Hyang Mi bertanya-tanya apakah mereka akan pulang cepat hari ini. 


Rumah duka dengan si foto si supir bus sudah meninggal dengan banyak karangan bunga dan wartawan.
“Saya berada di rumah duka Inspektur Jung Il Seung dan sopir bus,Nam Chul Du yang mencoba menyelamatkan para penumpang bus dari seorang tentara pelarian. Para politisi diminta untuk memberikan penghargaan atas prestasi nasional dan membuat mereka ditunjuk sebagai pahlawan yang menyelamatkan warga.”
Beberapa wartawan ingin tahu keberadaan anaknya karean  ada dalam bus bersama ayahnya karena harus wawancara lagi. Mereka pan mendengar kalau si anak membantu mengevakuasi setiap penumpang. Sekertaris menanyakan keberadaan anak itu karena Anggota politisi ingin bicara dengannya.
“Reporter Mun, Apa kau mengambil foto anggota kongres kami?” tanya seorang sekertaris pada si wartawan.  Reporter mengaku sudah lalu beranjak pergi. Si anak berdiri sendirian dan memilih untuk pergi. 

Jae Chan akhirnya tertidur di meja kerjanya. Hyang Mi pikir Tenaganya pasti sudah habis. Tuan Choi pikir tahu itu terlalu berat bagi Jae Chan sebagai jaksa junior. Tiba-tiba Jae Chan terbangun dan air mata mengalir di pipinya.Keduanya pun kaget melihat Jae Chan yang tiba-tiba terbangun.
“Apa Kau mimpi buruk?” tanya Hyang Mi. Jae Chan mengaku tidak tidur tapi Hwang Mi melihat Jae Chan sedang menangis. Jae Chan mengelak kalau bergegas keluar dari ruangan. 

Jae Chan berdiri di depan cermin mengingat mimpinya adiknya dibawa mobil polisi. Adiknya menangis meminta agar diselamatkan dan bukan ia yang melakukanya. Jae Chan panik seperti takut terjadi pada adiknya, lalu menelp sang adik menanyakan keberadaanya.
“Aku di sekolah.” Kata Adik Jae Chan. Jae Chan panik menanyakan apakah ada yang terjadi atau memastikan kalau adiknya tidak sakit dan terluka. Adik Jae Chan mengatakan tak ada dan ingin tahu alasan kakanya menanyakan hal itu.
“Tidak ada. Kau pulang jam berapa?” tanya Jae Chan. Adiknya juga tak tahu tapi Mungkin sekitar jam 10 malam.
“Jangan pergi ke mana pun dan langsung pulang. Mengerti?” pesan Jae Chan. Adiknya pikir  memang tidak punya rencana pergi ke suatu tempat lalu menutup telpnya.
Adik Jae Chan melihat keluar jendela, Soo Yoon berjalan pulang sendirian, lalu teringat perkataan sebelumnya “Aku mencoba menyelamatkan ibuku. Ayahku harus pergi supaya ibuku bisa hidup.”  Lalu bergegas pergi. 


Jae Chan mencoba menyakinkan kalau Ini hanya mimpi saja dan Tidak ada yang terjadi. Ia mengingat saat adiknya dibawa oleh polisi, tanganya di tahan agar tak mengejarnya, lalu bisa melihat Hong Joo kalau sudah meminta agar mempercayainya.
“Kalau kau memercayaiku, maka kau bisa menghentikannya.” Kata Hong Joo
Jae Chan mengumpat kesal dengan nasibnya karena sebelumnya mengak tak percaya. 

Si anak duduk di dalam ruangan yang sepi lalu mengeluarkan bola baseball dalam saku bajunya.  Ia hanya bisa menangis mengingat permintaan ayah sebelumnya agar memastikan semua orang sudah keluar dari bus dan bawa sejauh mungkin dari bus.
“Lebih baik kita kabur saja dan Ini persis seperti mimpiku.” Kata Si anak
“Ayah adalah kapten bus ini. Mana bisa Ayah membiarkan mereka pergi?” kata Tuan Nam. Si anak mohon agar mengikutinya saja.
“Hei! Misalnya saja seorang penangkap menghindari bola. Wasit akan terkena pukulan dan permainan akan berantakan.” Ujar Tuan Nam
“Aku akan menumbuhkan rambutku. Aku tahu itu yang Ayah inginkan. Aku akan menumbuhkan rambutku, jadi pergilah bersamaku.” Kata si anak. Tuan Nam pun setuju.
“Ayah pastikan untuk melihat rambutmu tumbuh. Jadi Turun saja dulu, mengerti?”kata Tuan Nam. 

Hong Joo gelisah dengan mimpinya, lalu akhirnya kembali mencari di tempat sampah dan menempelkan pada dinding kamarnya, sebagai pentunjuk.
Wartawan mulai mengetahui kalau anak dari Tuan Nam itu adalah perempuan, bukan laki-laki dan Anak yang ada di dalam bus. Saat itu melihat istri dari Tuan Nam bertanya keberadaan putrinya. Nyonya Nam membalikan badan kalau anaknya  Hong Joo tidak di sini sekarang.

Hong Joo keluar dari rumah dikagetkan dengan Jae Chan sudah ada didepan rumahnya lalu bertanya alasan datang di malam hari. Jae Chan menegaskan kalau tidak datang karena berubah pikiran tapi datang untuk menjelaskan kenapa tidak memercayai kata-kata Hong Joo. Hong Joo pun menyuruh Hee Chan agar mengatakan saja.
“Aku ini seorang jaksa. Yang kulakukan adalah mengadili orang saat melakukan kejahatan. Aku tidak pernah mencegah kejahatan. Maksudku tidak ada yang bisa kulakukan walau kau menceritakan mimpimu padaku. Aku tidak peduli siapa yang meninggal dalam mimpimu. Aku tidak harus menderita karenanya. Tapi...” ucap Jae Chan terhenti.
“Apa Kau seperti penangkap bola? Bola dilemparkan pada kecepatan 160km per jam. Kau terlalu takut untuk menangkapnya. Tapi kau tidak bisa menghindarinya karena kau akan merusak permainan saat itu. Begitu, 'kan?” ucap Hong Joo. Jae Chan membenarkan.
“Aku tidak bisa mengabaikannya walau tidak ingin mempercayainya. Itu karena aku juga mengalami mimpi itu. Kenapa selalu mengarah padaku? Kenapa harus aku?” keluh Jae Chan
“Aku juga tidak tahu kenapa kau juga begitu. Aku bahkan tidak tahu kenapa aku mulai memiliki mimpi seperti itu.” Kata Hong Joo
“Tapi pasti ada alasan kenapa harus kau dan aku.” Kata Jae Chan. 

Flash Back
Hong Joo dengan rambut pendeknya menangis sendirian dalam ruangan yang gelap. Lalu seeorang datang mengambil bola baseball yang tergeletak, setelah itu memberikan pada Hong Joo. Hong Joo menatapnya, ternyata yang memberikan bola adalah Jae Chan saat masih kecil juga. 

Hong Joo mengaku juga tidak tahu tapi kalau memang ada ada alsanya apa yang harus dilakukan karena Jae Chan tidak bisa mencegahnya karena dia seorang jaksa penuntut dan tidak ingin mempercayai kata-katanya. Ia pikir Jae Chan bisa menyalahkan semua itu padanya dan itu sebabnya datang.
“Aku minta Bantu aku, Kau muncul dalam mimpiku. Kau marah karena aku tidak mendengarkan kata-katamu. Seung Won naik mobil polisi atau ambulans dan menghilang” ucap Jae Chan. Hong Joo heran mimpi apa seperti itu.
“Kau bilang Seung Won... Siapa itu Seung Won?” tanya Hong Joo. Jae Chan mengaku kalau itu adiknya dan kenapa menanyakan hal itu.
“Dalam mimpiku...,Seung Won itu membunuh seseorang.” Ucap Hong Joo. Jae Chan kaget mendengarnya. 


Soo Yoon pergi ke supermarket sudah ada di rak bagian untuk membunuh ayahnya. Tapi saat itu tangan disentuh oleh seseorang,  Ia langsung menyebut nama Seung Won dan kaget karena datang menemuinya. Seung Won terlihat senang karena ternyata Soo Yoon itu ingat dengan namanya.

Hong Joo menceritakan kalau Seung Won menyalahkankakaknya untuk pembunuhan itu dan itu artinya kalau kakaknya itu adalah Jae Chan.
Soo Yoon tak percaya kalau Seung Won mengikutinya. Seung Won mengajak mereka pergi dan akan mengantarnya pulang.Jae Chan dan Hong Joo saling menatap memikirkan mimpi mereka agar mencegah sesuatu yang buruk terjadi. 


Tempat abu berada di dalam sebuah kotak dengan mana Nam Chul Du. Foto saat Hong Joo masih kecil dengan rambut potongan pendek dan juga bola baseball. Lalu terlihat foto Hong Joo dengan rambut panjangnya mulai dari remaja sampai akhirnya dewasa dan berhasil menjadi sarjana.
Bersambung ke episode 5

FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar