PS; yang udah baca blog / tulisan aku.. Tolong minta follow account IG aku yah dyahdeedee09 & Twitter @dyahdeedee09 jadi biar makin semangat nulisnya. Kamsahamnida.

Selasa, 28 November 2017

Sinopsis Andante Episode 10 Part 1

PS : All images credit and content copyright : KBS
[Episode 10: Kenangan Musim Dingin yang Hangat]
Shi Kyung berjalan di lorong melihat Itu wakil kepala sekolah dan bergumam kalau tidak boleh ketahuann dan berusaha menghindar. Wakepsek bisa menghalanginya dengan membahas kalau Shi Kyung pasti tidak ingin pergi ke Grand Canyon bersama Bom lagi. Shi Kyung mengaku tetap ingin pergi.
“Saya akan menambahkan kaktus.” Ucap Shi Kyung
“Benarkah? Lalu Kaktus seperti apa yang akan terjadi saat ini” tanya Wakepsek.
“Saya akan memberitahu Anda lain kali. Saya agak sibuk.” Kata Shi Kyung lalu berbalik arah dan melihat Guru Park sudah ada didepanya. 

“Oh! Dia adalah rintangan yang lebih besar lagi. Aku harus keluar dari sini.” Gumam Shi Kyung. Tapi guru Park seperti tetap ingin menghalangi jalan Shi Kyung.
“Lee Shi Kyung... Ikut ke ruang konseling.” Ucap Guru Park. Shi Kyung tak bisa melawanya.
“Kau tahu... aku sangat bingung saat melihat rapormu dan rapor Shi Young. Kenapa dua bersaudara bisa begitu berbeda?”kata Guru Park terus berbicara, sementara Shi Kyung diam-diam mengeluarkan ponselnya.
“Aku terjebak di ruang konseling.” Tulis Shi Kyung pada Bom. Bom ikut panik menyurh Shi Kyung segera Keluar dari sana.
“Aku sedang cari jalan keluar. Kau Cari tahu Sung Joon hyung di kuil mana.” Balas Shi Kyung
“Bila demikian... lalu Lee Shi Kyung, kau siapa?” kata Guru Park melihat Shi Kyung hanya tertunduk.
Bom memberitahu tahu Sung Joon sudah ditemukan, jadi meminta agar Shi Kyung untu segera cepat datang. Shi Kyung mengerti dan berpura-pura mendengarkan yang dikatakan Guru Park.  Guru Park ingin tahu Apa ada rahasia terkait dengan kelahiran anak muridnya. Shi Kyung hanya diam karena memang tak mendengarkan ucapan gurunya.
“Ya, aku tahu itu sulit dibicarakan tapi Kau bisa jujur padaku. Tak apa-apa Aku takkan buka mulut.” Ucap Guru Park penasaran. Shi Kyung hanya diam saja sampai akhirnya berdiri dari tempat duduknya.
“Benar... Semuanya benar, jadi boleh aku pergi?” kata Shi Kyung lalu bergegas pergi.
“Apa yang benar? Apakah Rahasia terkait kelahirannya?” ucap Guru Park binggung. 

Shi Kyung bergegas pergi keluar dari sekolah melihat Bom sudah menunggu dengan motornya dan bergegas naik. Shi Kyung mengingat kembali kenangan dengan Sung Joon di ruang rawat, sebelum pindah ke Kuil.
Flash Back
Shi Kyung bertanya apa yang diberikan Sung Joon padanya. Sung Joon mengatakan kalau itu Keinginan terakhirnya, jadi Kalau nanti ia mati maka meminta agar meberikan itu pada ayahnya.
“Hyung, lebih baik beri tahu ayahmu rasa sakit yang kau rasakan. Keluarkan suara dan berteriak. Maka kau akan merasa lebih nyaman.” Saran Shi Kyung melihat Sung Joon seperti menahan rasa sakit karena tak meminum obat.
“Aku tak ingin merenggut harapan ayahku. Dulu aku selalu tanya pada ayahku, apa yang pernah dilakukannya untukku. Aku selalu membencinya dan bahkan sering marah. Aku selalu menutunjukkan sisi burukku. Aku ingin jadi anak yang baik sebelum aku pergi untuk selamanya.” Kata Sung Joon.
“Bagaimana kalau terjadi lebih cepat?” ucap Shi Kyung khawatir.
“Shi Kyung. Sejujurnya... aku tak takut mati kesakitan, tapi aku takut mati sendirian. Aku takut. Sekarang Ada ayahku di sisiku, kurasa aku takkan begitu takut. Nanti akan kutelepon ketika saatnya tiba. Sinyalku untukmu adalah 1111. Kalau aku ingin mendonasikan mataku, maka aku harus dioperasi dalam 6 jam setelah kematianku. Jadi Jangan terlambat. Dan jangan lupa, kode ku 1111.” Pesan Sung Joon. 


Tuan Moon sedang mengambil air heran melihat keduanya  tahu kalau mereka ada di kuil. Shi Kyung mengatakan kalau  Sung Joon hyung memberitahukanya. Tuan Moon kaget kalau anaknya yang memberitahu. Shi Kyung memberikan sebuah amplop kalau Sung Joon hyung minta memberikannya pada Ayahnya.  Tuan Moon melihat surat Permohonan untuk Donasi Organ
“Anak itu tak mau berhenti!” kata Tuan Moon marah ingin merobek kertas. Shi Kyung menahan Tuan Moon agar tak melakukanya.
“Lepaskan! Sung Joon tak membutuhkan ini. Sung Joon takkan mati!” kata Tuan Moon marah
“Apa Sung Joon hyung saat ini bisa bicara? Apa dia bisa makan? Apa dia mengenali Anda, Ahjussi? Ini permintaan terakhir Sung Joon hyung! Dan Ada satu hal lagi yang ingin diberikan Sung Joon hyung.” Kata Shi Kyung. Tuan Moon melihat lembaran surat yang dituliskan oleh anaknya. 


“Ayah.. Ini aku, Sung Joon... Saat ayah membaca surat ini... Mungkin aku sudah tak bisa mengenali ayah. Aku pernah membenci ayah karena sangat miskin.”
Sung Joon menuliskan surat pada ayahnya saat sedang dalam kedaaan sadar walaupun tanganya masih terasa lemah.
“Menjadi bagian keluarga kita terasa sangat menyiksa. Kini aku akan mati, aku menyadarinya. Orang yang selalu mendampingi hingga saat terakhir... adalah keluarga. Ayah tak ingin anak yang tak berbakti ini takut dan sendirian. Ayahku, selalu bersamaku hingga saat terakhir. Kurasa sudah tiba saatnya aku harus pergi. Untuk terakhir kalinya... ayah, terima kasih.”
Sung Joon menatap ayahnya yang mendorong kursi roda dan berada di taman untuk menghirup udara segar. 

Tuan Moon sedih membaca surat dari anaknya, lalu terdengar suara di dalam kuil. Mereka bergegas masuk, Tuan Moon kaget melihat anaknya sudah jatuh tak sadarkan diri dengan mulut mengeluarkan darah. Akhirnya Tuan Moon mengendong Sung Joon keluar dari kuil.
“Ya, dokter... Aku sudah memanggil ambulans..., aku mengerti.” Kata Shi Kyung menelp Dokter Lee sambil berjalan disamping Tuan Moon.
Ketiganya keluar dari kuit dan berjalan lebih cepat, Bom mengatakan bisa dengar sirenen ambilan yang hampir datang jadi Bertahanlah sebentar lagi Si paman terlihat kelelahan dan jatuh, Shi Kyung mencoba membantu kalau akan menggendongnya. Tapi Tuan Moon besikukuh menolak karena hanya ingin ada didekatnya.
Sung Joon seperti sudah tak sadarkan diri, Tuan Moon meminta agar Sung Joon agar bangun seperti masih berharap agar tetap hidup. Tapi Sung Joon seperti sudah tahu kalau takdirnya lebih dulu. Tuan Moon menangis, Shi Kyung dan Bom pun ikut sedih melihatnya. 

Shi Young sibuk belajar di ruang makan, Bibi Oh mengambil minum di kulkas dan melihat hidung Shi Kyung yang mimisan. Shi Young terlihat santai dengan mengambil tissue untu menahan darahnya. Bibi Oh panik melihat keponakanya.
“Jangan diusap tapi Jepit kuat-kuat di bagian bawah hidungmu” kata Bibi Oh . Shi Kyung pikir bibinya tak perlu berlebihan karena ia baik-baik sajaa dan masuk  kamar saja.
“Sebaiknya kau berhenti belajar dan istirahat.” Saran Bibi Oh. Shi Young mengatakan kalau sebentar lagi.
Tadi aku tak belajar, tapi bersepeda bersama Ga Ram.” Kata Shi Young. Bibi Oh pikir seharusnya Shi Kyung yang mimisan lalu masuk ke dalam kamar. 

Bibi Oh masuk kamar memberitahu kakaknya kalau  Shi Young sangat lelah dan baru saja melihatnya mimisan. Nyonya Oh sempat panik tapi tak beranjak dari tempat duduknya. Bibi Oh heran melihat kakaknya yang  tak pergi melihatnya. Nyonya Oh pikir tak perlu.
“Terkadang, sikapmu seperti tak peduli pada Shi Young. Dulu kau marah-marah saat dia mengancam berhenti sekolah. Bahkan Kau tak bilang apa-apa saat dia mulai belajar lagi.  Kali ini nilainya meningkat banyak, tapi kau tak bilang apa-apa. Shi Young pasti kecewa.” Kata bibi Oh.
“Aku juga ingin memujinya. Aku merasa senang melihat rapornya, Mataku berkaca-kaca.” Ungkap Nyonya Oh. Bibi Oh heran kenapa sikap Nyonya Oh malah seperti acuh pada anaknya.
“Kalau aku kelihatan senang dan memujinya, maka Shi Young mungkin akan merasa puas dan berhenti. Harapanku pada Shi Young sangat tinggi. Shi Young takkan hidup seperti aku.” Ucap Nyonya Oh yakin.
“Lagipula, apa Shi Young masalahnya? Pengacaunya ada di kamar itu. Bagaimana cara menghadapinya? Aku tak tahu harus bagaimana.” Keluh Nyonya Oh yang masih kesal dengan Shi Kyung. 

Shi Kyung duduk ditaman sambil menelp Bom mengatakan Saat ini... berkat Sung Joon hyung, seseorang pasti sedang memandang langit. Bom bertanya  Apa di langit ada banyak bintang. Shi Kyung melihat kalau Ada banyak.
Seorang anak kecil di dorong duduk diayunan mengaku takut. Ayahnya berkata kalau akan memegangnya jadi tak perlu takut dan selalu ada di belakanganya.  Si ayah mendorong ayuanan, Si anak memastikan kalau ayahnya masih ada dibelakangnya.
“Shi Kyung, kau mahir main ayunan.” Ungkap Tuan Lee mendorong anaknya di ayunan. 

Shi Kyung seperti bisa melihat bayangan ayahnya yang bermain ayunan bersama, lal memberitahu Bom kalau ingat sesuatu dan pernah bilang tak bisa mengingat ayahknya tapi baru saja ingat sesuatu.
“Saat masih kecil... aku naik ayunan bersama ayah. Aku naik ayunan ini bersama ayahku, seperti dirimu.” Kata Shi Kyung lalu mendengar ada pesan yang masuk dan melihat nama [Bocah Preman], matanya pun langsung melotot. 

Shi Kyung langsung ditarik dan didorong oleh ketua kelas dengan menyalahkan Shi Kyung, gara-gara dia  maka rancangan hidupnya jadi kacau, tak bisa kuliah bahkan sia-siakan waktu berharganya 8 jam per hari, selama 15 hari di hospice .
“Aku tak pernah ingin melakukan pekerjaan sukarela ini. Apa Kau tahu semarah apa aku ini?” ucap Si Pria
“Kenapa gara-gara aku? Ini salahmu sendiri. Kalau kau tak menganggu Jae Hoon, maka hal ini takkan terjadi.” Ucap Shi Kyung berani melawan.
“Kau semakin dewasa. Apa Maksudmu ini daerahmu?” kata si pria. Shi Kyung membenarkan kalau ini adalah daerahnya.
“Aku tak takut padamu lagi.” Ucap Shi Kyung berani melawan dan akan pergi.
Temanya menahan Shi Kyung dengan tanganya, memastikan kalau memang benar-benar tak takut. Shi Kyun menahan rasa takutnya hanya bisa menyeringa. 


Shi Kyung akhirnya mengunakan seragam sukarela keluar dari kamar mandi, Tuan Kim wajahnya terlihat segar mengaku lebih nyaman. Shi Kyung pikir kalau masih bisa membantu. Tuan Kim menolaknya karena bisa lebih sering mandi sekarang , jadi akan mandi lagi besok dan menyuruh Shi Kyung untuk istirahat. Shi Kyung menganguk mengerti.
“Ini Lebih cepat dari yang kukira. Katanya mandi paling berat, tapi sepertinya tidak.” Komentar teman Shi Kyung datang.
“Wahh.. Tangan dan Punggungku juga sakit. Harusnya 3 tahun, tapi kuselesaikan dalam satu jam. Bahkan Leherku juga sakit.” Ungkap Shi Kyung merasa kelelahan.
“Baiklah, baiklah... Jangan mengeluh.” Ejek temanya. Shi Kyung mengak kalau tak mengeluh, tapi memang Benar-benar sakit
“Jam tugasku hampir selesai, hari ini cukup sampai di sini. Dan Sampai besok... Jangan lupa, masih 14 hari lagi. Kau harus Langsung ke sini sepulang sekolah.” Ucap si pria. Shi Kyung menganguk mengerti.
“Ini Lucu... Aku takkan ke sini selama setengah bulan, Jadi kau Tunggu saja sepuasmu.” Gumam Shi Kyung bahagia. 


Guru Kim memberitahu anaknya kalau jam belajar dipersingkat sampai libur musim dingin jadi Untuk menggantikan kelas siang, meka akan jadi relawan di hospice. Shi Kyung kaget kalau ia harus pergi ke hospice bahkan Relawan.
“Tampaknya Shi Kyung tak tahu.” Kaa Guru Kim. Shi Kyung dengan wajah melonggo mengaku tak tahu.
“Sudah jadi tradisi dan aturan sekolah, jadi patuhi prosedurnya. Terutama Shi Young, Shi Kyung, dan Bom. Jam relawan kalian masih kurang,jadi kalian harus bekerja ekstra.” Pesan Guru Kim. 

Ga Ram melihat Shi Young belajar sepeda dan akhirnya hampir terjatuh dan bisa langsung ditahan sebelum terjatuh. Shi Young bertanya kenapa Ga Ram menahanya. Ga Ram merasa kalau tahu kenapa Shi Kyung tak bisa menjaga keseimbangan.
“Kenapa? Kenapa aku tak bisa?” tanya Shi Young heran
“Saat sepeda miring, kau selalu membelok ke lawan arahmu jatuh.” Ucap Ga Ram. Shi Young ingin tahu apa yang harus dilakukanya.
“Kau harus Belok ke arahmu jatuh. Maka beratmu akan terbagi rata, dan jadi seimbang. Ayo Coba lagi.” Kata Ga Ram. Shi Young menganguk mengerti. 

“Hei.... Park Ga Ram, aku tak jatuh.” Kata Shi Young bahagia mengayuh sepedanya.
“Bagus sekali... Terus lakukan seperti itu!” teriak Ga Ram tersenyum bahagia melihat Shi Young bisa mengayuh dengan lancar.
“Kalau kau bilang dari tadi, maka aku takkan membuang banyak waktu. Kenapa sampai lama mengatakan hal sepenting itu?” keluh Shi Kyung masuk ke dalam perpustakaan.
“Aku baru menyadarinya. Setelah aku berhasil mengajarimu, Apa kau malah mengejekku?” balas Ga Ram.
“Ya, ingat ucapanmu. Ayah harus menghadapi kebencian saat anak belajar mengendarai sepeda. Kurasa suatu hari kau akan jadi ayah yang hebat.” Kata Shi Kyung
Keduanya melihat ada dosirak (Kotak bekal makan siang) diatas meja. Shi Young pikir Ada yang menempati kursi ini. Ga Ram merasa Siapa yang menggunakan dosirak untuk menempati kursi dan Lagipula, belakangan hanya mereka  yang menggunakan perpustakaan jadi menurutnya Mungkin ada yang meninggalkannya untuk Shi Young
“Tak mungkin... Nenekku tak tahu aku di sini... Lalu Ibu tak pernah menyiapkan dosirak dan Bibiku semakin tak mungkin lagi.” Kata Shi Kyung yakin.
“Coba Buka saja. Siapa yang tahu isinya” kata Ga Ram. Shi Young membuka melihat nasi yang dilapis dengan telur dadar dan gambar Kelinci dibagian atasnya.
“Wahh.. Itu gambar kelinci,  Orang yang meninggalkan dosirak ini pasti sangat mengenalmu.” Kata Ga Ram. Shi Young setuju.
“Di dunia, orang ini yang paling mengenalku.” Kata Shi Young seperti sudah menebak siapa yang menaruhnya. Nyonya Yoon berjalan seperti bergega pergi setelah menaruh kotak makan untuk anaknya. 

Shi Kyung ditarik temanya masuk ke sebuah ruangan, dengan wajah ketakutana memberitahu kalau langsung datang setelah sepulang sekola dan berpikir kalau Hari ini akan meggantikan untuk memandikan lagi.
“Ada dua pasien yang perlu dimandikan. Lalu Menurutmu berapa jam?” kata si pria marah. Shi Kyung mengaku kalau ia berkerja cukup cepat.
“Dua orang... mungkin 4 jam.” Kata si pria
“Bagaimana kalau pakai mesin? Takkan selama itu dan Tak banyak yang perlu dilakukan” kata Shi Kyung penuh semangat.
“Kau bilang Memandikan yang terberat?” kata Si pria tahu langsung memberikan tendangan pada tulang kering Shi Kyung.
“ Kalau mencoba menipuku lagi, maka kau takkan kuampuni. Paham?” ancam si pria. 

Tuan Kim bangun mengaku kalau Kesabarannya hampir habis. Shi Kyung kaget dan juga senang, sementara si pria berpikir Tuan Kim itu hantu karena muncul dari belakang. Tuan Kim menegaskan kalau ini adalah kamarnya.
“Aku ingin mengingat aroma ibuku, jadi sesekali aku berbaring di ranjang. Kenapa? Apa Aku juga perlu izin darimu?” ucap Tuan Kim. Si pria tak ingin berlama-lama mengajak Shi Kyung pergi. Si paman langsung menahanya.
“Aku lama bertarung di jalanan. Jadi aku paham situasi saat ini. Menurutku Di sini tak bisa seperti itu, Terutama pada Shi Kyung, takkan kubiarkan.” Kata Tuan Kim.
“Tak usah hiraukan kami, habiskan infusmu.” Kata Si pria tak takut dengan Tuan Kim.
“Aku masih lumayan sehat. Jadi Bagaimana?” kata Tuan Kim membuka bajunya. Si pria seperti ketakutan. Shi Kyung memberitahu kalau dulu Tuan Kim nomor 3 di geng terbesar Seoul. Temanya seperti tak percaya.
“Aku takkan panjang lebar. Sepertinya hari ini kau harus menggosok punggungku.” Kata Tuan Kim. Si Pria pikir Tuan Kim sudah mandi kemarin.
“Itu hanya mandi dan Punggungnya tak digosok.” Akui Shi Kyung.
“Aku ingin menghapus tatonya, tapi tak mudah. Bagaimana kalau kau gosok kuat-kuat untuk membantuku menghapusnya?” kata Tuan Kim
“Aku belum pernah menggosok punggung orang lain.” Ucap si pria berusaha menolak. Tuan Kim mengatakan kalau akan mengajarinya nanti karena tak ada yang tak bisa dipelajari.


Nyonya Shin berbicara dengan Nyonya Oh tentang Soo Bin. Nyonya Oh memberitahu kalau anaknya bertanya kenapa Nyonya Shin yang tak menjawab telpnya. Akhirnya Nyonya Shin menelp Soo Bin kalau tertidur saat menonton film.
“Ibu, Apa ibu tahu trik liburan? Kalau pesan tiket pesawat jauh-jauh hari, bisa dapat diskon. Jadi, aku...” kata Soo Bin bersemangat. Nyonya Shin kaget anaknya membahas tentang Liburan.
“Setelah ujian masuk perguruan tinggi harusnya kita pergi ke Napoli. Kita bisa makan Pizza dan espresso. Apa Ibu lupa?”ucap Soo Bin.
“Aku masih setengah tidur, jadi bingung.” Kata Nyonya Shin mencari alasan. Soo Bin merasa tak masalah karena akan menemui ibunya
“Ujianku sudah selesai.. Kita rancang liburan dan pesan semuanya.” Ucap Soo Bin penuh semangat.
“Tidak, ibu juga harus membicarakannya dengan Jung Won Ahjumma.” Kata Nyonya Shin. Nyonya Oh sedari tadi hanya mendengarkan terlihat khawatir. 



Shi Kyung tertidur dikamarnya terlihat sangat lelap, sampai akhirnya karena tanganya menyentuh rak membuat semua buku komik terjatuh di kepalanya dan membuatnya terbangun lalu melihat ponselnya dan matanya melotot melihat jamnya.
“Ibu! Kenapa aku tak dibangunkan?” kata Shi Kyung bergegas keluar dari kamar dan dibuat binggung karena seperti sudah tak ada orang di rumahnya dan bergegas pergi. 

Shi Kyung bersembunyi sebelum masuk kamar dan melihat dari kejauhan lalu bergumam “Hari ini bahkan wakil kepsek, Guru BP akan menutup gerbang begitu melihatnya”
“Tak bisa. Aku harus cari jalan lain untuk masuk.” Ucap Shi Kyung melihat Guru Park sudah mengunci pintu gerbang.
Shi Kyung akhirnya melempar tasnya dibalik tempat keamanan,  lalu melihat menaiki tangga dan berjalan diatap. Ia tak sadar kalau Guru Park menunggu dibawah gedung, sampai akhirnya Guru Park mengambil tas Shi Kyung untuk mengikutinya. Shi Kyung melonggo kaget dan kebingungan caranya untuk turun. 

Bom berjalan dengan tatapan kosong, mengingat permintaan dari rumah sakit kalau tak bisa ditunda lagi dan harus segera menjalani tes. Shi Kyung kembali harus menjalani hukuman dengan menyapu tangga, lalu menerima telp dari Rumah sakit.
“Ponsel Kim Bom ketinggalan di sini. Dia paling sering menelepon Anda, makanya kutelepon.”kata perawat. Shi Kyung teringat dengan hasil tes.
“Apa Hasil tes sudah keluar? Bagaimana hasilnya?” tanya Shi Kyung.
“Sebaiknya Anda tanyakan sendiri dan Tolong sampaikan agar datang mengambil ponselnya.” Kata si perawat . 

Shi Kyung melihat Bom bertanya apakah barus saja pergi ke rumah sakit dan Ponselnya ketinggalan di sana. Bom seperti baru menyadarinya. Shi Kyung ingin tahu apa Hasil tesnya. Bom mengaku Anemia.
“Apa serius? Bagaimana pengobatannya? Aku harus mencari tahu.” Kata Shi Kyung mencari keyword Anemia. Saat itu Bom seperti merasakan pandangan tiba-tiba kabur tapi berusaha untuk ditahan dan kembali bisa melihat dengan jelas. 

Yong Gi berjalan di lorong, Guru Kim memanggil Yong Gi mengetahui kalau anak muridnya itu takkan makan permen itu dan mengejeknya kalau permen itu rasanya enak. Ia mengoda kalau Yong Gi ingin membuangnya maka lebih baik memberikan padanya saja.
“Bagaimana yah? Ini adalah sebuah penghargaan, aku akan menyimpannya selamanya. Dan Pak guru semakin tua sehingga semakin menginginkan permen. Kalau ingin makan permen, beli sendiri lalu makan. Jangan rakus, berusaha mengambil milikku.” Ucap Yong Gi sinis lalu berjalan pergi dengan permen yang diberikan oleh Bibi Oh. 

Bibi Oh bertemu dengan Guru Kim bertanya apakah akan berhasil. Guru Kim yakin kalau akan berhasil dan memBayangkan kalau ia yang memberi permen itu pada Yong Gi maka akan langsung membuangnya ke tempat sampah.
“Doronganmu sepertinya berhasil untuk Yong Gi.” Puji Guru Kim. Bibi Oh pun bisa berharap kala memang itu benar.
“Apa aku boleh memberi Yong Gi, selainpermen untuk memberinya kekuatan? Apa ada yang seperti itu?” tanya Bibi Oh.
“Entahlah. Yong Gi mulai memberontak setelah ayahnya meninggal.Dan kemudian, ibunya meninggalkannya. Menurutku sebaiknya kau perhatikan dia dengan hati seorang ibu. Sepertinya itu yang paling dibutuhkannya. Perhatian dan dorongan seorang ibu.” Kata Guru Kim.
“Aku paham dorongan dan perhatian. Aku tak tahu caranya seperti ibu... Ahh.. Kakakku selalu memukuli Shi Kyung. Jadi Aku bisa begitu, kan?” kata Bibi Oh.
“Kau bilang Memukulinya? Apa Ibu Shi Kyung memukuli Shi Kyung?” kata Guru Kim kaget.
Bibi Oh mencoba mengelak,  menjelaskan kalau tak memukulinya seperti itu, tapi hanya Memukul punggungnya. Guru Kim menganguk mengerti. Menurutnya ibunya juga sering memukul punggungnya tapi menurutnya Jangan lakukan itu pada Yong Gi. Bibi Oh menganguk mengerti.
Bersambung Part 2

FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09 
INSTAGRAM dyahdeedee09  FANPAGE Korean drama addicted



PS; yang udah baca blog/ tulisan aku.. Tolong minta follow account IG aku yah dyahdeedee09   jadi biar makin semangat nulisnya. Makasih. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar