PS; yang udah baca blog / tulisan aku.. Tolong minta follow account IG aku yah dyahdeedee09 & Twitter @dyahdeedee09 jadi biar makin semangat nulisnya. Kamsahamnida.

Minggu, 05 November 2017

Sinopsis The Package Episode 7 Part 1

PS : All images credit and content copyright : JBTC

Ma Roo mengandeng tangan So So sambil bergumam dalam hati  “Aku bertanya-tanya... Kapan aku mulai menyukai orang ini. Apa tadi malam?” lalu mengingat saat mereka bertatapa dan berciuman.
“Apa itu sebelum kemarin?” gumam Ma Roo saat melihat So So di tangga malaikat
“Apa ... hari itu?” gumam Ma Roo mengingat saat mengajak So So menaiki tangga dengan menariknya mengunakan botol wine.
“Jika tidak, apa hari sebelumnya?”gumam Ma Roo yang  pertama kali melihat So So menangis dalam gereja dan membantu So So bersembunyi dari adiknya dan melihat tangan So So yang memeluknya dengan gemetar ketakutan.
“Mungkin saja sudah dimulai sejak lama.” Gumam Ma Roo teringat pertama kali di toko pernak pernik. Keduanya berjalan meninggalkan pulang, Ma Roo masih tetap bertanya-tanya kapan mulai menyukai wanita yang ada disampingnya. 

 [Episode 7 - Waktu yang dibutuhkan untuk mencintai.]
Ma Roo masih mengenggam tangan So So bertanya Kapan bus antar-jemput mulai beroperasi, menurutnya Jika kembali sekarang, bisa tidur sebentar dihotel. So So bertanya apakah Ma Roo merasa lelah, Ma Roo mengaku Tidak juga.
“Kalau gitu, kita harus melihat sunrise bersama.” Kata So So
“Apa begini rasanya mendengar kata "bersama?"” gumam Ma Roo merasa seperti jantungnya bergedup kencang, lalu menyetujui untuk pergi melihat sunrise.

So Ran berdiri sendirian menungg Sunrise, Nyonya Han melihat So Ran memastikan kalau wanita itu adalah yang satu grup perjalananya,  So Ran pun menyapa Nyonya Han dengan ramah.
“Apa kau datang untuk melihat sunrise?” tanya Nyonya Han.
“Aku tidak sengaja, tapi kupikir sebaiknya aku menunggu saja.” Jawab So Ran.
“Aku minta maaf, tapi bisakah kau memotretku saat mataharinya terbit?” kata Nyonya Han. So Ran menganguk bisa melakukanya.

Ma Roo dan So So menikmati sunrise dengan tatap bergandengan tangan melalui celah jendela. So Ran sibuk dengan ponselnya, lalu memminta Nyonya Han memberikan ponselnya untuk mengambil foto. Nyonya Han memberikan ponselnya, kembali meminta kalau hanya perlu mengambilnya dari pinggang ke atas.
“Aku tidak tahu apa itu  akan terlihat bagus.” Ucap So Ran mengambil gambar Nyonya Han. Nyonya Han pikir tak masalah hanya ingin  terlihat cantik saja.
“Apa Anda tidak menyukainya?” tanya So Ran memperlihatkan hasil fotonya, wajah Nyonya Han terlihat sedih.
“Bukan begitu. Bagaimana bisa gambarnya terlihat cantik meski orangnya tidak?” kata Nyonya Han merasa kecewa meilhat fotonya.
“Aku akan memotret Anda lagi.” Ucap So Ran bisa melihat wajah Nyonya Han yang kecewa. Nyonya Han berusaha menolak karena tak enak hati.
“Coba tersenyum sedikit lagi... dan turunkan dagumu, berdirilah tegak. Jangan gugup,  coba bersandar sedikit saja, Usahakan tampil lebih seksi.” Ucap So Ran mencoba mengarahkan gaya. Nyonya Han pikir kalau gaya seksi tidak cocok dengan usianya.
“Kau harus mengambil setiap fotonya seolah-olah itu adalah foto terakhirmu. Itulah satu-satunya cara untuk menangkap wajah sejatimu.” Kata So Ran merapihkan syal di leher Nyonya Han.
Nyonya Han pun mulai tersenyum, raut wajah bahagia terlihat dengan jelas.  So Ran memperlihatkan hasil fotonya, Nyonya Han sangat kagum karena fotonya terlihat cantik bahkan meminta lagi agar So Ran bisa mengambil dengan gaya yang lainya.


Kyung Jae duduk dibalkon sendirian seperti kesepian, begitu juga Tuan Oh sendirian dikamar tanpa ditemani istrinya. Nyonya Han tak percaya kalau So Ran  berkencan untuk waktu yang lama dan yakin orang akan bertanya Kapan akan menikah. So Ran mengatakan kalau itu sudah pasti.  Nyonya Han yakin pasti  So Ran sangat membencinya.
“Itu membuatku kesal. Mereka akan berkomentar "Kau akan menjadi tua kalau punya anak.” Atau “Apa karena kau tidak punya uang?  Berapa banyak pacarmu? Berapa banyak yang telah kalian lakukan? " Aku tidak tahu kenapa mereka mulai mengkhawatirkan hal itu.” Cerita So Ran.
“Jangan percaya pada mereka saat mereka mengatakan bahwa kau harus segera menikah.  Begitulah perasaanku saat ini. Apa aku lahir untuk menikah? Apa aku dilahirkan untuk memiliki anak? Jadi Nikmati saja hidup yang indah ini.” Pesan Nyonya Han.
“Aku ingin melakukan itu... Tapi aku tidak tahu bagaimana  cara hidup seperti itu.” Kata So Ran bingung.
“Ini adalah hidupmu  Apa kau akan menikah atau tidak. Tapi jangan sampai  terpengaruh orang lain. Jika tubuhmu sendiri bukan milikmu. Orang itu tidak mungkin bisa menjadi milikmu selamanya.” Pesan Nyonya Han. 


Ma Roo dan So So berjalan di lorong hanya bisa melonggo melihat didepan mereka ada So Ran dan Nyonya Han. Ma Roo bergumam agar bisa Bertindak wajar dan sealami mungkin, lalu dengan senyuman bertanya apakah mereka datang  untuk melihat sunrise.
“Kami... maksudku, aku minta tur pribadi untuk melihat sunrise. Dengan biaya Tur malamnya 30 euro, tapi tur sunrise biayanya 40 euro. Ini agak mahal... Ah aku lupa untuk membayarmu.” Ucap Ma Roo mengeluarkan uang dari dompetnya. So Ran hanya melihat gerak gerik keduanya yang berbeda.
“Itu bagus. Itu sangat alami.” Gumam Ma Roo tapi So So meminta agar menghentikan karena Ma Roo malah terlihat canggung.
“Yah.. Apa kalian melihat sunrise? Bukankah itu indah? Aku akan menjadi pemandu kalian juga. Ini adalah koridor lengkung. Dikelilingi oleh pilar-pilar, Karena dirancang untuk menghalangi sinar matahari. Mereka mengatakan bahwa sinar matahari meningkat secara bertahap.” Ucap So So menjadi pemandu dadakan dengan gaya berlebihan.
“Kenapa orang ini canggung sekali?” gumam Ma Roo binggung, So So pun mengajak mereka lanjutkan  ke lokasi berikutnya.


So Ran langsung bertanya pada Nyonya Han apakah melihat itu seperti yang ada dipikiranya. Nyonya Han menganguk. So Ran tahu kalau Pemandu Yoon juga memiliki sesuatu di punggungnya karena So So tadi kesana kemari untuk menjelaskan pilar.
Nyonya Han tak percaya karena tidak melihatnya. So Ran mengaku memang melihatnya dan mengajak Nyonya Han mengikuti mereka untuk melihat dengan jelas.
Keduanya berjalan di belakang Ma Roo dan So So, lalu melihat ada berkas daun dikepala Ma Roo dan baju So So. So Ran yakin klalu Itu berarti keduanya  berbaring bersama dan Ada sesuatu di antara mereka. Nyonya Han merasa cemburu karena keduanya berada pada saat paling membahagiakan dalam hidup mereka.

Ma Roo yakin Tidak ada yang tahu bahwa mereka menghabiskan malam bersama. So So seperti tak yakin. Ma Ro merasa yakin karean dirinya  sempurna. So So pikir Ma Roo yang paling canggung karena mengatakan tur sunrise pribadi?
“Kau yang jadinya lebih canggung dengan menjadi pemandu mereka.” Keluh Ma Roo. So So menyuruh agar mereka berjaga jarak. Ma Roo pun langsung menjauh dari So So
“Cara mereka berjalan juga canggung. Haruskah kita memberi tahu mereka?” pikir So Ran. Nyonya Han pikir lebih baik mengurus masalah masing-masing
“Bagaimana jika orang lain melihat? Mereka beruntung kita pandai menyimpan rahasia.” Kata So Ran mengajak Nyonya Han untuk pergi lebih dulu dan sambil berjalan memberitahu keduanya.

“Pemandu Yoon, kau punya sesuatu di punggungmu dan Ahjushi, kau juga punya  hal yang sama di punggungmu.” Ucap So Ran dan bergegas pergi.
Keduanya terlihat panik dan langsung saling membersihkan punggung dan kepala mereka karena ada  daun kering yang menempel. 
So So pikir akan mati karena hal ini melihat So Ran dan Nyonya Han menahan tawa dan terlihat berjalan didepan mereka. Ma Roo pikir tak perlu khawatir, karena tak ada yang peduli dan mereka tidak melakukan kesalahan. So So memberitahu kalau Ada aturan di industri ini.
“Selama tur, pemandu dan turis tidak lebih dari seorang pemandu dan turisnya.” Ucap So So
“Kau bilang selalu berteman setelah berpergian dengan turis.” Kata Ma Roo

“Apa itu yang dilakukan teman?” keluh So So mengingat mereka berciuman sangat dalam di pulau seberang. Ma Roo tak bisa menahan senyuman bahagia dengan kejadian semalam.
“Aku berpikir, kita tidak bisa terlihat bersama untuk saat ini. Jangan mendekatiku mulai sekarang.” Perintah So So. Ma Roo pun menganguk setuju dan So So tak perlu khawatir.
“Kita harus jaga jarak sejauh mungkin, mengerti?” kata So So berjalan pergi
“Kata "Kita"... Aku selalu senang mendengarnya.” Gumam Ma Roo merasa seperti ada yang memilki sekarang.


Ma Roo mengambil sarapan dan segelas kopi, Hyun tiba-tiba melonggo dan juga tim pria karena melihat Ma Roo yang duduk disamping So So bergabung dengan tim wanita. Ma Roo dengan santai menyapa So Soa gar menikmati sarapanya. So So gugup menyuruh Ma Roo segera pergi. Ma Roo seperti baru tersadar dan bergegas pindah tempat duduk.
“Kau bisa saja makan di sana.” Komentar Yeon Jung. Ma Roo pun duduk bersama dengan Tuan Oh dan juga Kyung Jae. 

So Ran bertanya pada So So apakah bisa beralih dari double-bed  ke twin di hotel berikutnya. Nyonya Han yang tak mengerti maksudnya pun bertanya. So Ran menjelaskan kalau meminta 2 tempat tidur dan bukan 1. Nyonya Han pikir ia juga menyukainya. So So terlihat bisa bernafas lega karena So Ran tak membahas kejadian tadi pagi.
“Ya, akan ku lakukan.” Ucap So So. So Ran kembali ingin bicara. So So panik takut kali ini So So membahas kedekatanya dengan Ma Roo.
“Kapan kita akan belanja?” tanya So Ran seperti sudah tak tahan menunggu.
“Kita berencana berbelanja sore ini dan besok siang. Dan Kita tidak akan pergi sebagai 1 kelompok, jadi kalian bisa berbelanja dengan bebas. Sebaiknya Aku akan pergi dulu agar bisa  bersiap-siap untuk berangkat.” Ucap So So merasa tak nafsu makan karena terlalu tegang.
“Kau harus makan lebih banyak, karena makan terlalu sedikit.” Ucap Nyonya Han khawatir.
“Kau harus meluangkan waktu  dan makan lebih banyak.” Saran So Ran tapi So So seperti sangat gugup memillih untuk pergi meninggalkan restoran. Ma Roo melonggo binggung melihat So So buru-buru pergi  meninggalkan restoran. 
So So menerima telp adiknya, Su Su terlihat sangat marah ingin tahu keberadaan Kakaknya sekarang.
“Dimana kau sepanjang malam? Kau kabur, kan? Aku rasa kau tidak berpikir kalau aku bisa menemukanmu. Tapi tunggu saja.” Ucap Su Su takm mendengar suara kakaknya lebih dulu, langsung menutup telp dan berlari untuk mencari kakaknya.


Mereka pun mengambil gambar diatas jembatan, Dengan So So yang mengambil gambar. Ma Roo mengajak So So untuk foto bersama mereka juga, So So menolak tapi yang lainya juga ingin mereka bisa foto bersama, Hyun pun meminjam tongsis milik Ma Roo agar mereka bisa foto bersama. 
Saat akan naik bus, Su Su datang berteriak marah dan siap memberikan tendangan dan berlari pada Ma Roo tapi Ma Roo bisa menghindar membuta Su Su terjatuh. Semua orang yang ada didalam bus pun melihatnya. Su Su langsung mengumpat pada Ma Roo dengan mencengkram bajunya. So So melihat adiknya menyuruh untuk minum lebih dulu.
“Aku juga banyak berolah raga.” Gumam Ma Roo ingin melepaskan cengkraman adik So So  saat sedang minum.

“Tapi kurasa dia yang paling olahraga.” Keluh Ma Roo yang tak bisa melepaskan cengkraman tangan Su Su.
“Lepaskan dia sekarang juga.” Kata So So. Su Su ingin bicara kalau keduanya semalam..... So So langsung berteriak marah pada adiknya. Semua pun memandang pertengkaran yang tak diketakutan dan kejadian tadi malam.
“Aku minta maaf... Sekarang silakan naik bus dulu.” Ucap So So pada semua anggota tim.
Ma Roo terlihat marah dengan sikap adik So So yang terlalu kasar. So So kali ini memperingatkan Ma Roo agar tak berkelahi danm menyuruh untuk naik bus. Ma Roo pun menurut. So So juga menyuruh adiknya untuk naik bus. Su Su bertanya mau kemana mereka sekarang.  So So menjawab kalau mereka akan pergi Rumah.



Ma Roo duduk dibagian belakang dengan Su Su yang menatap sinis padanya. So So berdiri di depan bus mengatakan perlu memperkenalkan tamu  yang tidak disukai, lalu menyuruh adiknya berdiri dan menyapa semuanya. Hyun mengingat kalau melihat Su Su di Montmartre.
“Dia adalah adik laki-lakiku,  Yoon Su Su. Dia bepergian ke Perancis, dan kami bertemu lagi kemarin. Tapi dia tidak bisa kembali,  jadi akan ikut kita sementara. Apa itu tidak masalah ?” ucap So So. Semua  menjawab dengan kalau itu tak maslah.
“Biarkan dia menyanyikan sebuah lagu.” Kata Tuan Oh. So So mengaku adiknya tuli nada. Su Su mengelak kalau tak seperti itu. So So pun menyuruh adiknya untuk duduk saja.
“Apa kalian bersenang-senang di Mont Saint-Michel?” tanya So So. Ma Roo dengan lantang menjawab “Iya”
“Apa kalian membuat kenangan indah?” tanya So So. Ma Roo dengan wajah  bahagia menjawab “Ya”
“Kita dalam perjalanan ke Saint-Malo. Setelah jalan-jalan, kita akan menuju tujuan selanjutnya di malam hari.” Ucap So So
“Tapi Eonnie, pulau apa itu disana?” tanya Hyun menunjuk pulau yang ada diseberang jalan.
“Itu adalah Pulau Tombelaine,  yang sudah aku ceritakan kemarin. Selama Perang Seratus Tahun, mereka membunuh tentara Inggris di sana. Itu menjadi habitat burung migran sekarang, jadi itu bukan tujuan wisata. Pulai itu akan terkena Pasang dimalam hari dan  surut airnya di pagi dan sore hari. “ jelas So So.
“Tapi jika kau pergi pada waktu yang salah, maka Kau bisa terjebak di sana sepanjang malam. Akibatnya, roman yang tak terhitung jumlahnya terlahir di sana. Ini juga disebut "Pulau Kekasih."” Kata So So
 “Aku tidak tahu itu "Pulau Kekasih".” Gumam Ma Roo tersenyum karena punya kenangan di pulau itu.
Flash Back
So So berbaring di pasir dengan tas miliknya, wajahnya terlihat sedih dan kesal. Ma Roo berjalan berjongkok dibelakangnya dengan tulus meminta maaf dan mengaku kesalahanya. 

“Bangsa Celtic tinggal di Saint-Malo sejak tahun 1700-an. Mereka juga dikenal sebagai Galia. Mereka adalah bajak laut yang hebat. Jika Mont Saint-Michel seperti dewi yang anggun... St. Vincent...” Jelas So So sebagai pemandu dan Ma Roo mulai bergumam mendengarnya.
“Apa suaranya selalu bagus? Jika tidak, apa itu cuma perasanku? Aku bertanya-tanya kapan itu dimulai.” Gumam Ma Roo seperti sangat jatuh cinta pada So So. 

“André Malraux, seorang menteri kebudayaan yang menulis "La Condition Humaine" Melihat Saint-Malo dan mengatakan bahwa  jika dia tinggal 1 minggu lagi disini. Dia akan menghabiskan waktu di Saint-Malo. Ini memang tidak spesial. Tapi semakin lama kau tinggal disini, semakin kau tidak ingin pergi.” Jelas So So memperlihatkan tempat yang dikunjungi terihat sangat etnik.
“Dulu ini kota bajak laut. Tapi Bukankah itu agak ironis? Di belakangku ini adalah  Katedral St. Vincent. Setelah berkeliling di sekitar katedral. Lalu Silahkan belanja dan melihat-lihat. Mari bertemu di bus pukul 12 siang.” Ucap So So. Semua pun menganguk mengerti. 

So So seperti membeli beberapa tiket, Su Su bertanya kapan mereka akan pulang. So So menjawab kalau it setelah tur-nya selesai. Adiknya memastikan kalau kakaknya tidak berbohong lagi. So So memberikan tiket agar Su Su Naik wahana yang karena sangat menyenangkan. Su Su bertanya bagaimana dengan kakaknya.
“Aku pemandunya.” Ucap So So. Su Su pikir kakaknya mencoba melarikan diri lagi.
“Aku akan meninggalkanmu, tapi aku tidak akan meninggalkan para turis.”kata So So
“Baiklah, maka berjanjilah, kalau Kau tidak akan lari.” Ucap Su Su. So So menyakinkan kalau dirinya sudah berjanji.
Su Su memberikan jari kelingking unjuk berjanji dengan menyatuhkan jempol mereka. So So mengeluh kalau itu sangat kekanak-kanakan tapi melakukan demi adiknya. Akhirnya semua naik kereta wisata untuk berjalan-jalan. Ma Roo duduk dibelakang melambaikan tangan pada So So, dan So So pun membalasnya dengan senyuman. 


So Ran melihat semua tempat belanja kalau Wow sangat bagus karena jadi style liburanya.  Ia melihat kue, baju yang cantik, bahkan punya toko sepatu. Diam-diam Kyung Jae yang duduk didepanya menatap So Ran yang terus terpana melihat semua tempat belanja yang ia suka.
“Apa Kau pernah ke Hwasan, Suwon?” tanya Tuan Oh. Kyung Jae mengatakan tidak pernah
“Pergi ke sana saja nanti. Mereka memiliki bus  antar-jemput yang sama.” Kata  Tuan Oh. Kyung Jae menganguk mengerti.
“Ngomong-ngomong, kemarin... Aku sungguh minta maaf.” Kata Kyung Jae meminta maaf pada Tuan Oh yang sebelumnya mengomel.
“Jangan khawatir. Datanglah ke restoran kami. Aku akan memberimu banyak minuman... Kalian semua diundang.” Ucap Tuan Oh terlihat tak memiliki dendam. 

So So kembali menaiki komidi putar dengan wajah sendu, seperti punya kenangan pahit. Lalu teringat dengan kata-kata Ma Roo sebelumnya.
Flash Back
“Tidak peduli berapa lama kau mengendarainya, Kau akan kembali ke tempat yang sama. Untuk waktu dan tempat yang sama seperti kau selalu ingin kembali. Bukankah itu sebabnya kau naik itu?” ucap Ma Roo
“Aku mengendarainya untuk  menghabiskan waktu.” Kata So So karena harus menunggu para turis kembali.
“Kalau begitu, jangan menangis. Kau tidak bisa memulainya  jika kau terus menangis.” Kata Ma Roo
So So yang mengingat ucapan Ma Roo pun, akhirnya tersenyum diatas kuda-kudaan yang terus berputar dan kembali ke tempat yang sama. 

Saat itu tiba-tiba kereta pun berhenti karena ada mobil yang lewat didepan mereka. Ma Roo mencari kesempatan untuk turun dari kereta dan memisahkan diri dari grup. Kereat kembali terus berjalan melalui tempat belanja, Tuan Oh pikir kalau tempatnya ini sama seperti yang ada di Itaewon. Su Su duduk dibagian depan menoleh ke belakang dan wajahnya langsung marah karena tak menemukan Ma Roo di bangku belakang.
“Kenapa kau sudah kembali?” tanya So So kaget melihat Ma Roo sudah berdiri di depan komidiputar.
“Karena aku merindukanmu!” teriak Ma Roo. So So pikir Ma Roo tak perlu  berlebihan.
“Aku ingin tur malam hari ini.” Ucap Ma Roo. So So menolak kalau tidak mengadakan tur malam ini.
“Lalu pergilah kencan denganku.” Kata Ma Roo dengan penuh keyakinan. So So berputar berada jauh dari sisi Ma Roo.
“Aku bertanya-tanya...  kapan aku mulai menunggu...Untuk mendengar suaranya.” Gumam Ma Roo
“Aku tidak mau.” Teriak So So yang sudah ada didepan Ma Roo dan akhirnya permainan pun berhenti. 

Ma Roo membantu So So untuk turun dan kembali mengajaknya untuk berkencan. So So mengaku kalau hanya akan memberikan tur malam. Ma Roo mengodanya kalau membayar 30 euro. Su Su melihat Ma Roo mendekati kakakknya sudah tahu kalau ini akan terjadi.
“Apa Kau tidur dengannya? Apa yang Kau lakukan?” teriak Su Su marah. Ma Roo mengaku kalau tak seperti it.
“Jika kami melakukannya, itu bukan urusanmu.” Balas So So tak peduli karena tak ada anggota lainya.
“Apa Itu sebabnya kau tidak mau pulang?” kata Su Su. Ma Roo ingin menjelaskan tapi Su Su yang lebih galak menyuruh untuk diam.
“Kita harus bicara dan Aku akan berbicara dengan kau nanti.” Kata Su Su menarik kakaknya dan menunjuk wajah Ma Roo. Ma Roo hanya bisa mentap So So yang ditarik pergi oleh adiknya. 

 “Baiklah, aku tidak bisa benar-benar menjelaskan apa yang terjadi semalam.” Gumam So So melihat keduanya pergi.
Flash Back
Di pulau, Ma Roo terus mencium So So dan hampir mendorongnya untuk berbaring. So So tiba-tiba berhenti dan bertanya apakah Ma Roo punya kondom. Ma Roo terlihat bingung. So So kembali mengulang pertanyaanya.  So So mengaku kalau Tidak punya.
“Kenapa kau tidak bawa?” keluh So So. Ma Roo malah balik bertanya kenapa ia harus membawanya dengan wajah binggung.  So So akhirnya sibuk mencari di dalam tasnya. Ma Roo binggung apa yang dicari So So.
“Kondom.” Ucap So So. Ma Roo kaget tak percaya kalau So So membawanya. So So pikir itu sudah pasti akan membawanya.
“Kenapa kau membawanya?” tanya Ma Roo heran mendengar wanita yang membawa kondom.
“Kau tidak punya alasan untuk membawanya. Karena Kau tidak pernah tahu  apa yang akan terjadi.” Ucap So So
“Memang apa yang akan terjadi?” tanya Ma Roo binggung. So So pikir kalau sudah terjadi sekarang ini.

Ma Roo terlihat binggung, So So tahu kalau Ma Roo berpikir dirinya itu gampangan. Ma Roo mengaku bukan seperti itu. So So merasa kalau Ma Roo berpikir dirinya yang selalu siap tidur dengan pria. Ma Roo terdiam.
“Di Perancis, anak-anak belajar menggunakan kondom di sekolah menengah. Jadi Jangan berpikir aneh karena  seorang wanita membawa kondom. Itu adalah pola pikir kuno, bukankah begitu?” tegas So So
“Apa aku menyesuaikan cara berpikir kalau aku juga benci tanpa menyadarinya?” gumam Ma Roo. So So pikir kalau mereka harus berhenti sekarang.
“Aku tidak tahu kata "kita" bisa terasa sangat dingin.” Gumam Ma Roo kembali So So mengatakan “Kita”
Ma Roo langsung meminta maaf. So So pun bertanya meminta maaf karena apa. Ma Roo mengatakan kalau itu karena tidak membawa kondom. So So tak masalah dan menyuruh Ma Roo untuk tidur saja yang nyenyak dan memilih untuk berbaring dengan alas tasnya
 “Aku minta maaf... Aku sungguh minta maaf. .. Itu salahku.” Ungkap Ma Roo berjongkok dibelakang So So
“Aku berusaha sebaik mungkin  untuk tidak mencuci otakku. Tapi mereka selalu memberi tahu kalau pria harus melakukan ini dan wanita harus melakukan itu. Itulah dunia tempat aku tinggal selama ini” ungkap Ma Roo.
“Tidak apa-apa dan Ini tidak layak diperjuangkan.” Balas So So dan kembali duduk. Ma Roo pun duduk disampingnya. 

“Tapi... apa yang akan kita lakukan? Sepertinya sudah terlambat dan aku juga sudah tidak mood.” Ungkap So So
“Aku pikir...  kita akan punya banyak waktu.” Kata Ma Roo menatap So So seperti mengodanya.
“Aku tidak membuat kesalahan meski menciummu hari ini. Mungkin saja... kemarin juga bukan kesalahan. Tapi... Aku merasa seperti akan memikirkan hal lain  yang kita lakukan sebagai sebuah kesalahan.” Ungkap So So Ma Roo pikir So So kedinginan, memintanya agar mendekat den memakai jaket kembali. So So pun bisa sudah berada dalam dekapan Ma Roo agar tak kedinginan. 


Su Su ingin tahu Siapa brengsek itu dn apa hubungan mereka.  So So mengaku kaalu Ma Roo adalah seorang pelanggan dari tempat kerjanya. Su Su pikir Kenapa pelanggan melompat dari kereta wisata dan lari kepada kakaknya.
“Apa dia lari dari kereta?” ucap So So kaget. Su Su mengejek kalau Ma Roo mungkin saja terbang. So So panik melihat Ma Roo karena takut terluka.
“Hei... Lihatlah dirimu... Jangan membuka perasaanmu untuk siapapun. Dia datang ke sini hanya untuk bersenang-senang.” Ucap Su Su marah. So So meminta adiknya tak mengatakan hal iytu.
“Apa kau tahu yang membuatku marah? Bukan karena kau mengikuti bajingan itu kesini Atau karena kau tidak  mau kembali ke rumah. Dan bukan karena bajingan itu, tapi karena aku! Kenapa aku bergabung dengan militer saat itu, dan berakhir di penjara...” ucap  Su Su terdiam karena ia kecepolasan berbicara.
“Kau Bilang Penjara? Apa yang kau bicarakan? Kenapa kau dipenjara? Apa kau mendapat masalah lagi? Heei... Kenapa kau tidak bicara?” kata So So melihat adiknya hanya diam saja.
“Kau menyuruhku untuk tidak melakukannya!” kata Su Su akhirnya ikut berteriak. So So meminta adiknya memberitahu apa yang terjadi sebenarnya.
“Aku bertunangan untuk menikah.” Ucap Su Su. So So heran adiknya malah mengatakan kalau akan menikah.
“Aku akan menikah dengan Doo Ri.” Ucap Su Su. So So tak percaya kalau  yang dimaksud Han Doo Ri. Su Su membenarkan dan mengaku kalau Orang tuanya juga kaget.

Flash Back
Su Su dan Do Ri menemui ayah dan ibu Doo Ri di sebuah restoran. Ibu Do Ri tak percaya kalau keduanya akan menikah. Su Su dan Doo Ri terlihat sangat yakin kalau mereka sudah memutuksan untuk menikah.
“Kalian memang sudah lama sejak SMA. Jangan terlalu lama berkomitmen pada seorang wanita. Ini akan sangat membosankan.” Kata Tuan Han seperti menyuruhnya tak perlu menikah.
“Anda mengatakan bahwa kalian berdua saling mencintai saat menikah.” Pikir So So. Tuan Ha pikir karena itu memberitahu lebih dulu.
“Apa kau hamil?” tanya Ibu Doo Ri,  Doo Ri mengelengkan kepala.
“Kalau begitu kencan dengan pria lain. Aku hanya memiliki ayahmu saja selama seumur hidupku. Tapi aku merasa sangat  bersalah karena itu. Kalian harus berkencan dulu sebelum menikah.” Ucap Ibu Doo Ri
“Aku akan menjadi satu-satunya.” Ucap Su Su tak ingin ada pria lain yang mendekati Doo Ri.
Tuan Han tahu Su Su adalah guru olahraga dan anaknya adalah guru musik, lalu ingin tahu Apa yang akan mereka lakukan selama liburan, karena Pasangan seharusnya tidak menghabiskan banyak waktu bersama.  Su Su menjawab kalau akan menganggapnya sebagai... Tiba-tiba Tuan Ha mengumpat marah.
“Hei.. Anda seharusnya tidak memanggil menantu laki-lakimu 'kunyuk'. Inilah kenapa Anda tidak punya teman.” Kata Su Su. Tuan Han pikir benar juga.
“Dan, Ibu... Kau seharusnya tidak pergi hiking dengan mantan rekanmu terlalu sering. Anda bisa berakhir  dengan perselingkuhan.” Ucap Su Su yang sudah mengenal dekat dengan ibu mertuanya.
“Kunyuk itu tahu terlalu banyak kelemahan kita.” Bisik Tuan Han pada istrinya.
“Seorang menantu laki-laki harus lebih mudah diurus.” Balas Nyonya Han.
Bersambung ke part 2

FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar