PS; yang udah baca blog / tulisan aku.. Tolong minta follow account IG aku yah dyahdeedee09 & Twitter @dyahdeedee09 jadi biar makin semangat nulisnya. Kamsahamnida.

Minggu, 07 Januari 2018

Sinopsis Black Knight Episode 5 Part 2

PS : All images credit and content copyright : KBS

Tuan Park berada didalam mobil memejamkan mata, tanpa sadar kalau Sharon sedang berdiri disamping telp umum. Sek Tuan Park bertanya pada Tuan Park Apa ada sesuatu, karena mendengarkan lagu ini setiap kali Anda merasa kesepian.
“Semua orang merasa kesepian Dan aku merasa kesepian 24 jam sehari.” Ungkap Tuan Park
 Flash Back
Tahun 1975
Disebuah cafe, di putar lagu yang sama. Sharon duduk sambil membaca buku.Tuan Park remaja datang mendatangi Sharon, Sharon mengeluh kalau Seorang siswa seperti Tuan Tak  tidak diijinkan masuk ke cafe.
“Apa yang harus aku lakukan agar kau menyukaiku? Bisakah kau menungguku sampai aku berumur 25 tahun? Aku akan melamarmu” ucap Tuan Park yang sudah jatuh cinta dengan Sharon.
“Aku sedang menunggu seseorang.” Ucap Sharon. Tuan Park ingin tahu siapa
“Jika dia ada di tentara, jangan menunggunya.”kata Tuan Park
“Kau punya mata yang cerah, pengantar surat kabar.” Puji Sharon. Tuan Park yakin Sharon tidak menyukainya karena ia muda dan miskin.
“Jadilah orang kaya, Chul Min... Untuk dirimu sendiri, Dapatkan uang sebanyak mungkin. Dunia akan segera diliputi oleh uang.” Ungkap Sharon. 
Tuan Park bertanya apakah Sharon akan menyukainya jika menjadi kaya , Sharon pikir Tuan Park itu imut bahkan tanpa uang dengan memukul topi Tuan Park mengodanya. Tuan Park merasa kalau Sharon tampak seperti seseorang yang memiliki rahasia.Sharon meminta Tuan Park agar mendekat.
“Apa Kau tahu? Aku tidak menjadi tua, dan juga tidak mati. Itulah rahasiaku.” Ungkap Sharon. Tuan Park tertawa mengejek mendengarnya.
“Dulu ada seorang wanita yang aku rela mati untukknya. Dia lebih tua dariku.”  Ungkap Tuan Park yang tak bisa lupa dengan Sharon. 


Sharon mencoba terus menelp Soo Ho sampai akhirnya memanggil nenek yang ada didekatnya agar bisa bicara dan meminta tolong. Nenek berbicara pada Soo Ho kalau Ada wanita yang terjatuh dan Sepertinya sakit.
“Ini adalah kartu nama yang kutemukan di dompetnya.” Kata Nenek. Soo Hoo binggung siapa yang dimaksud Seorang wanita
“Penjahit Sharon. Katakan padanya, Penjahit Sharon.” Bisik Sharon.
“Oh, label pada pakaiannya bilang itu dari Sharon Tailor. Dia memiliki rambut panjang, dan dia adalah wanita muda yang cantik.” Kata Nenek. Soo Hoo ingin tahu keberadaan Nenek. Si nenek meminta agar segera datang. 

Sharon segera berpura-pura pingsan. Soo Ho datang melihat Sharon menanyakan Apa yang terjadi, lalu mengendong Sharon untuk pergi ke rumah sakit. Sharon terlihat bahagia bisa di gendong oleh Soo Ho.
“Permisi, apa kau yang menghubungi?” ucap Sek Han datang datang ambulance berjalan mendekati Sharon.
“Kau siapa?” kata Sharon kaget melihat Sek Han yang datang bukan Soo Ho.
“Saya sekretaris Mr. Moon. Dia menyuruh saya datang kesini. Biarkan saya membawa Anda ke rumah sakit.” Kata Tuan Han
“Tidak perlu, Aku duduk di sini karena merasa pusing Aku kira wanita daur ulang tua itu yang menelepon. Aku baik-baik saja. .” Kata Sharon  
“Aku akan memeriksa tekanan darah anda.” Ucap petugas, Sharon menolak mengaku kalau baik-baik saja
“Aku ingin mengucapkan terima kasih pada Pak Moon.” Kata Sharon akhirnya berdiri, Tuan Han dan petugas terlihat binggung. 


Baek Hee berada dalam ruangan seperti mengadakan pertemuan dengan buku yang dituliskan. Ia menceritkan kalau seorang pria yang hanya mencintai satu wanita Meskipun tidak bisa menunjukkannya. Hae Ra duduk mendengarkanya.
“Pengantin yang membakar wajah budaknya, membawa gadis itu bersamanya sebagai pelayan. Tidak ada yang memiliki jari gesit seperti  Boon Yi, dan dia cerdas. Jadi pengantin laki-laki tinggal bersama wanita yang dicintainya dibawah satu atap.” Cerita Baek Hee. Soo Ho baru datang duduk dibangku bagian atas tanpa sadar kalau ada Hae Ra duduk dibangku depan. 

Flash Back
Myung Soo duduk sendirian dalam ruangan membaca buku. Di luar ruangan, dua orang pelayan membawakan kayu bakar agar kamar Myung Soo dingin.  Dua pegawai merasak Musim gugur ini seperti musim dingin. Salah satunya menyurh makan patjuk dan kembali saja.
“Gadis yang datang bersama Nyonya baru itu... Siapa namanya” kata Si pria, satu lagi menyebut nama Boon Yi
“Ngomong-ngomong, patjuk buatannya. rasanya menakjubkan. Tidak ada yang tidak bisa dilakukan oleh gadis itu. Dia bisa membuat baju bagus, masak dengan sangat baik, dan bisa membaca dan menulis” jelas si pria. Myung Soo mendengar dari dalam kamarnya.
“Apa menurutmu dia melakukan itu karena cemburu? Aku mendengar Nyonya baru membakar wajah gadis itu dengan setrika sebelum pernikahan.” Cerita si pria berbisik. Pria satunya menanyakan alasanya.
“Gadis itu tertangkap mencoba Gaun wanita itu.” Ungkap si pria berbisik. Myung Soo mengingat saat di malam itu melihat sosok wanita dan berpikir jadi istrinya.
“Malam itu pastilah... terakhir kalinya untuk wajah cantikmu.” Gumam Myung Soo.
“Dia seharusnya tidak dilahirkan sebagai budak. Tidak ada yang bisa kau lakukan mengenai itu. Semua orang diciptakan sama. Mengenakan pakaian bagus, Boon Yi akan terlihat jauh lebih mulia.” Ungkap pria yang menyenangi sikap Boon Yi. 

Boon Yi berpapasan dengan Myung Soo didepan pintu dan berusaha berjalan ke sisi lain. Myung Soo berusaha menghalangi dan  bertanya Apakah tidak menyakitkan. Boon Yi binggung tiba-tiba diajak bicara.  Myung Soo mengatakan kalau  itu Luka bakar di wajah Boon Yi. Boon Yi membenarkan.
“Kulihat itu terik, Pasti menyengat dan menyakitkan. Aku tahu karena pernah membakar kakiku di atas api unggun, Pergilah ke apotek di pasar. Aku akan meminta mereka menyiapkan sesuatu untukmu. Mereka memiliki obat untuk luka bakar.” Ucap Myung Soo
“Tidak, tidak apa-apa.” Kata Boon Yi menolak tapi Myung Soo menyuruh agar segeraPergilah ke apotek.


Myung Soo datang melihat istrinya yang memukul Boon Yi, lalu berteriak marah. Seo Rin meminta agar jangan Jangan pedulikan mereka. Myung Soo melihat Seo Rin yangmencambuk seseorang jadi mana mungkin tidak peduli. Seo Rin mengadu kalau Boon Yi, Gadis itu menjadi tidak sopan.
“Dia telah menyentuh barang-barangku. Aku menangkapnya sambil meletakkan riasan di wajah jelek itu. Dia mencuri bedak-ku dan memakainya di wajahnya.” Ucap Seo Rin mengaduk.
“Coba Kemarikan bedaknya.” Kata Myung Soo. Boon Yi memberikannya dan Myung Soo langsung menyuruh Boon Yi agar mengambilnya kembali.
“Ini milikmu... Aku mengatakan kepada apoteker untuk memberikan ini padanya. Kau seharusnya sudah membukanya dan memeriksa. Bagaimana kau bisa mencambuk seseorang?” ucap Myung Soo. Seo Rin terlihat marah mendengarnya.
“Apa kau memberikan obat untuknya?” kaat Seo Rin cemburu.
“Karena aku merasa kasihan pada seseorang yang tinggal di rumahku dan sedang sakit.” Kata Myung Soo. Seo Rin dengan sinis mengatakan kalau Boon Yi Dia adalah seorang budak.
“Dia adalah manusia seperti kita. Dia kedinginan dimusim dingin dan kepanasan di musim panas. Dia merasa lapar saat dia kelaparan. Dia juga manusia. Setiap manusia diciptakan sama. Bagaimana kau bisa begitu kejam?” tegas Myung Soo merasa tak ada yang perlu direndahkan.
“Apa Seorang budak sama dengan kita? Bagaimana kau bisa mengatakan hal yang tidak masuk akal seperti itu? Kau tidak tertarik untuk mempelajari budaya barat yang berbahaya, itu kan?” ucap Seo Rin curiga.
“Jangan pernah melakukan ini lagi pada Boon Yi atau orang lain.” Tegas Myung Soo. 


Akhirnya Boon Yi pergi ke tempat cuci, tanganya terlihat memerah karena terkena cambuk dan kesakitan. Ia hanya bisa menangis, lalu seorang bibi memanggil  uantuk makan jeon. Saat itu Baek Hee diam-diam melihat anak yang sengaja di tukar.
Boon Yi sudah besar makan dengan para pelayan, wajah bekas luka bakar masih terlihat. Mereka makan cemilan dan juga arak beras. Myung Soo datang dan semua orang langsung berdiri dan gugup. Tapi Myung Soo yang rendah hati menyuruh mereka untuk kembali duduk saja.

“Buchu jeon dan makgeolli... Kelihatannya lezat... Berikan aku juga.” Ucap Myung Soo
“Tuan. Aku akan membawakan makanan baru untukmu. Anda tidak bisa makan apa yang telah kami makan.” Kata pelayan yang lain.
“Tidak apa-apa. Kita semua keluarga... beri aku secangkir.” Kata Myung Soo Semua terlihat terdiam. Myung Soo meminta Boon Yi agar memberikan cangkirnya. Boon Yi tetap diam akhirnya Myung Soo mengambil sendiri.
Saat itu Myung Soo seperti kaget dan sempat tersedak merasakan minuman arak beras, lalu menyuruh mereka agar menikmati makanannya saja dan berjalan pergi. Boon Yi dan yang lainya tak bisa menahan tawa. Seo Rin melihat dari balik jemuran terlihat sangat sinis.
“Dia adalah orang yang hebat, Menjadi terlalu hebat pun bisa jadi masalah. Dia menghormati istrinya. Untuk beberapa alasan, mereka tidak bisa punya bayi selama lebih dari lima tahun” Cerita Baek Hee. 


Seo Rin tidur dengan Myung Soo terlihat seperti suami istri. Lalu Seo Rin bersandar pada Myung Soo kalau mendambakan makanan asam dan yakin sedang hamil saat ini. Myung Soo berpesan pada istrinya Mulai sekarang, pikirkan saja hal-hal baik dan berbicara tentang hal-hal yang baik.
“Sayang... Aku ingin makan berri liar.” Ucap Seo Rin. Myung Soo kaget kalau Di musim ini
“Aku merasa seperti bisa memiliki anak kembar jika aku makan buah liar” kata Seo Rin. 

Boon Yi pergi ke hutan, salah satu pelayan berteriak memanggilnya menyuruh agar menghentikan saja karena Tidak ada buah beri di musim ini. Boon Yi tetap berusaha mencarinya dan akhirnya jatuh berguling. Si pria panik menghampiri Boon Yi menanyakan keadaanya. Boon Yi mengaku baik-baik saja dan kembali mencari Berri
“Boon Yi... Larilah.. Nyonya itu tidak bodoh... Apa dia pikir ada berri liar sekarang? Jadi kau kaburlah... Aku akan memberitahunya bahwa kau jatuh dari tebing sambil mencari buah liar. Jadi larilah, Boon Yi... Larilah..” ucap si paman. Boon Yi binggung karena Paman malah menyuruh pergi.
“Dia memerintahkanku untuk membunuhmu.”kata Si Paman. Boon Yi kaget dan ingin tahu alasanya.
“Maafkan aku... Aku mengambil nasi dan 10 koin perak darinya. Jadi aku datang jauh-jauh kemari. Tapi aku tidak bermaksud membunuhmu sejak awal, Wanita itu tidak hamil. Ha Dong melihatnya diam-diam mencuci dalamannya empat hari yang lalu. Dia melakukan ini untuk mendapatkan perhatian. Dia mungkin akan menangis, dan bilang bahwa mengalami keguguran. Dia mungkin memintanya untuk hanya merawatnya.” Ungkap Si paman
“Nyonyaku yang malang.” Kata Boon Yi dengan mata berkaca-kaca.
“Kaulah yang patut dikasihani. Kita semua tahu dia melakukan itu ke wajahmu” kata Si paman.
“Dia tidak akan bisa punya bayi. Pada hari ketika dia melakukan ini padaku, Aku berdoa kepada para dewa... Aku berdoa agar dia tidak pernah memiliki bayi. Aku berdoa untuk memotong garis keluarganya. kemanapun dia pergi” ungkap Boon Yi
Si paman sempat kaget, Boon Yi mengaku kalau akan bunuh diri jadi paman bisa kembali. Si paman pikir kenapa Boon Yi haru mati karena tidak bersalah. Boon Yi mengucapkan Terima kasih telah mengatakan yang sebenarnya lalu bergegas pergi. Si paman berteriak memanggilnya tapi tak melihat Boon Yi di aliran sungai.

Si paman memberitahu Myung Soo kalau Boon Yi yang  melompat turun begitu tiba-tiba jadi tidak bisa menghentikannya, bahkan sudah mencari di mana-mana. Myung Soo memerintahkan semua pelayan menemukan Boon Yi dan harus menemukannya. Mereka pun bergegas pergi, Seo Rin mendengarkan dari dalam kamar kalau Boon Yi sudah tak ada.
Mereka mencari ke hutan berteriak memanggil Boon Yi, Myung Soo menyuruh semua orang agar mencari dimanapun. Semua pun mencari dengan obor ditangan. 

Seo Rin melihat pelayan datang membawakan minuamn lalu berpura-pura bertanya ada apa keributan di luar. Si pelayan menceritakan Boon Yi jatuh dari tebing saat mencari berri liar. Seo Rin melotot kaget mendengarnya.
“Tapi gunung itu terlalu kasar jika mencarinya disana. Mereka bilang dia mungkin sudah mati atau akan mati jika mereka tidak dapat menemukannya di malam ini.” Ucap Pelayan.
“Itu buruk... Aku sedang berpikir untuk menikahkannya dengan Gae Ddong pada bulan Maret mendatang.” Kata Seo Rin sinis
“Kau bilang Gae Ddong? Apa maksudmu orang bodoh di kota ini?” kata Si pelayan kaget.
“Apa yang harus kita lakukan? Kita hanya harus menguburnya di tempat yang cerah” ucap Seo Rin sinis. 

Mereka semua berteriak mencari Boon Yi di tebing, saat itu Boon Yi bersembunyi dibalik batu besar dan melihat Myung Soo dan pelayan mencarinya. Ia pun hanya menutup mulutnya agar tak bersuara dan melihat dari kejauhan.
“Boon Yi... Apa kau benar-benar mati? Tidak bisakah aku melihatmu lagi, Boon Yi?” ungkap Myung Soo. Boon Yi terdiam karena jarak dengan Myung So sangat dekat dan hanya bisa menangis. 

[Delapan bulan kemudian]
Terdengar bunyi ketukan pintu yang sangat keras, Si paman berlari membuka pintu dan kaget melihat Boon Yi yang datang, lalu berteriak memangil semua orang kalau Boon Yi hidup dan kembali. Seo Rin kelua dari kamar melihat sosok Boon Yi didepanya.
“Nyonya.. Aku membawakan buah berri. Beberapa penggali ginseng dermawan mengambilkannya untukku. Aku menunggu musimnya sambil bekerja di rumah mereka. Jadi Lahirkanlah bayi yang sehat setelah makan...” ucap Boon Yi memberikan tanaman dan menatap perut Seon Rin yang masih kepis.
Seo Rin masih kaget sengaja menutupi perutnya. Myung Soo pun menatap buah berri yang dibawakan oleh Boon Yi yang hilang selama 8 bulan. 

mereka berdua. Ibu Myung Soo marah karan peramal yang bisa mengatakan hal yang tidak bertanggung jawab seperti itu dan meminta aga mencari sebuah cara.
“Haruskah kita mencari ibu pengganti Atau haruskah kita membawa istri kedua?” ucap Ibu mertua
“Ini tak bisa diperkirakan, Keberuntungan keluarga mengatakan bahwa akan ada tiga putra sehat. Aku merasakan energi.” Kata Si peramal. 

Saat itu Boon Yi masuk ruangan membawakan minuman, Si peramal  menatap Boon Yi bertanya apakah lahir pada bulan keempat kalender lunar dan sekitar jam 10 pagi. Boon Yi membenarkan.
“Aku tahu itu... Ada seseorang di rumah ini... Dia akan melahirkan tiga anak laki-laki, nyonya.” Ucap Peramal. 

Seo Rin berdiri didepan kamar menatap bayangan pria dan wanita. Di dalam kamar, terlihat suasana canggung. Myung Soo mencoba melayani Boon Yi kalau menuangkan minuman untuknya. Boon Yi menolak.  Myung Soo tahu kalau Boon Yi pasti merasa tak nyaman.
“Kudengar kau bisa membaca dan menulis.” Kata Myung Soo. Boon Yi merendah kalau tidak cukup baik.
“Boon Yi.. Aku senang kau kembali dengan selamat.” Ungkap Myung Soo lalu meniupkan lilin dikamarnya.
Seo Rin melihat lampu kamar yang mati langsung menahan tangis dan bergegas pergi.

Myung Soo memegang tangan Boon Yi memberitahu kalau  tidak akan tidur dengannya malam ini Bahkan jika memiliki anak laki-laki dengan Boon Yi, tetap tidak bisa menjadi ibunya. Ia juga tahu Begitu Boon Yi menyapih bayi itu, maka akan diasingkan ke tempat lain.
“Itulah yang dilakukan ibu pengganti. Aku tidak bisa melakukan itu padamu.” Cerita Myung Soo. Boon Yi pikir tak masalah
“Kenapa kau berpikir begitu?” kata Myung Soo lalu menarik Boon Yi agar untuk mememluknya, merasa kalau Boon Yi itu sudah tahu.
“Aku telah melakukan dosa dengan hatiku sejak lama. Aku ingin memelukmu.” Kata Myung Soo
“Bisakah aku melahirkan bayi kemudian mati saja? Aku ingin bahagia selama 10 bulan. Aku tidak takut mati” ungkap Boon Yi
“Aku takut untuk menjalani hidup tanpamu.” Kata Myung Soo. 

Baek Hee  menanyakan pendapat apa yang terjadi pada mereka pada malam itu, Apakah dia punya anak laki-laki, dan apakah nyonya rumah berubah Atau apakah mereka benar-benar tidur bersama atau hanya berpegangan tangan.
“Ayolah, mereka pasti tidur bersama.” Ucap Seorang wanita malu-malu, yang lain juga berpikiran yang sama.
“Kalau dalam pikiran kalian "Mereka sudah tahu bagaimana perasaan mereka. Bagaimana mereka bisa tidur hanya berpegangan tangan? Mereka pasti tidur bersama." Jika kau setuju, angkat tanganmu.” Ucap Baek Hee. Beberapa orang mengangkat tangan
“Jika kalian berpikir "Tidak mungkin! Mereka hanya tidur bersama hanya berpegangan tangan." Maka angkat tangan” ucap Baek Hee.
Soo Ho dan Hae Ra mengangkat tangan bersamaan Hae Ra mencari sekeliling siapa yang mengangkat tangan dan kaget melihat Soo Ho. Soo Ho juga kaget melihat Hae Ra ada di tempat yang sama..
“Kalian berdua.” Kenapa kalian saling menatap? Apakah kau menyukainya?” goda Baek Hee. Beberapa wanita langsung ikut tertawa
“Mari kita cari tahu apa yang terjadi pada mereka dalam 10 menit. Ayo pergi dan minum secangkir kopi.” Ucap Baek Hee. 

Soo Ho dan Hae Ra melihat buku-buku dalam rak. Hae Ra langsung bertanya Apa yang membawanya datang. Soo Ho balik bertanya  kenapa Hae Ra terus mengikutinya.  Hae Ra mengeluh mendengarnya, lalu Soo Ho mengaku kalau Baek Hee yang mengundangnya. Hae Ra mengaku kalau juga diundang.
“Bagaimana kau mengenalnya?”tanya Soo Ho. Hae Ra mengaku hanya Kebetulan saja.
“Apakah kau ingat jus sayuran? Yang diantarkan setiap hari Sabtu.” Kata Soo Ho. Hae Ra mengaku tak ingat
“Aku tak pernah meminumnya karena rasanya mengerikan. Aku hanya minum jus berri liar.” Ucap Hae Ra.
“Ahh.. benar, mereka kadang-kadang punya jus berri liar Pada musimnya.” Jelas Soo Ho
“Kenapa kau membahasnya? Berhentilah mencoba bersikap ramah denganku dengan membicarakan masa lalu” kata Hae Ra kesal.
Saat itu Sharon datang menyapa keduanya, Hae Ra dan Soo Ho sempat kaget melihat Sharon yang datang.
Bersambung ke episode 6

PS; yang udah baca blog / tulisan aku.. Tolong minta follow account IG aku yah dyahdeedee09  & Twitter @dyahdeedee09  jadi biar makin semangat nulisnya. Kamsahamnida.

FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar