Rabu, 16 Agustus 2017

Sinopsis School 2017 Episode 10 Part 1

PS : All images credit and content copyright : KBS
Dae Hwi menyuruh Tae Woon agar enyahlah dari hidupnya. Tae Woon langsung mengumpat Dae Hwi pengecut dengan mengancam seorang gadis dan menghancurkan hidupnya tapi  bersikap sok baik di depan orang lain seolah seperti manusia  tanpa cela.
“Ini Benar-benar menghibur sekali.Identitas sebenarnya dari Ketua OSIS kita ini.” Ejek Tae Woon .
“Kubilang, enyahlah kau dari hidupku.” Kata Dae Hwi
“Lagipula aku tidak akan melibatkan diri dengan semua ini. Aku tidak akan membiarkan hal yang sama terjadi lagi. Ini artinya kalau kau bikin masalah dengan Eun Ho, habislah kau.” Ancam Tae Woon lalu berjalan pergi. Dae Hwi hanya diam saja lalu melihat Hee Chan yang menelpnya. 

Hee Chan terlihat gelisah karena Dae Hwi yang tak mengangkat telpnya. Saat itu Guru Shim menelp. Eun Ho, Hee Chan dan Guru Shim bertemu di ruangan. Guru Shim meminta pada Hee Chan agar tak bersikap seperti ini. Hee Chan sambil latihan mengerjaaan soal meminta maaf pada gurunya.
“Lagipula aku tetap akan dibela oleh pengacaraku jadi menurutku tidak ada gunanya bermediasi.” Ucap Hee Chan acuh.
“Kenapa harus pengacaramu yang bicara denganku? Apa pengacaramu yang berkelahi denganku? Bilang saja kau yang mendorongku duluan. Gampang 'kan? Yang harus kau lakukan adalah mengakui semuanya.” Kata Eun Ho kesal.
“Aku tidak mau mengaku makanya kita bisa sampai di sini.” Tegas Hee chan juga tak mau kalah.
“Hee Chan, kenapa kalian tidak keluar dan mengobrol berdua sebagai teman saja? Kau mungkin bersikap seperti ini karena sedang emosi. Kalau itu masalahnya, kau tinggal minta maaf saja.” Ucap Guru Shim berpikir kalau ini adalah masalah remaja yang tak perlu membawa pengacara.
“Pak Shim... Ini bukan sekolah SD. Minta maaf tidak akan menyelesaikan masalah. Apa gunanya ada Komite Kekerasan Sekolah?” tegas Hee Chan.
“Apa kau tetap akan begini padahal kalian teman sekelas?” ucap Guru Shim.
“Maafkan aku, Pak. Aku harus berangkat les sekarang.” Kata Hee Chan seperti ingin menghindar.
“Itu sepertinya tidak bisa. Aku sedang melakukan pemeriksaan terhadap kasus kekerasan sekolah sekarang. Pergilah setelah kita selesaidengan urusan ini. Dan menurutku, apa yang kita lakukan sekarang.. jauh lebih penting daripada lesmu.” Tegas Guru Shim. Hee Chan pun tak bisa berkata-kata lagi 


[Episode 10 - Bagaimana Cara Menanggung Beban]
Dae Hwi memberikan tanda pada Pertanyaan untuk Evaluasi Diri, lalu memberitahu Hee Chan kalau itu pertanyaan yang akan keluar. Hee Chan sedang mendengarkan musik dari earphonenya tiba-tiba mengumpat marah dan mengaku kalau sudah tahu dan kembali hanya diam saja. Dae Hwi bertanya apakah Hee Chan tak ingin memeriksanya,
“Aku percaya padamu.” Ucap Hee Chan acuh. Dae Hwi pun memilih untuk  pamit pergi saja.
“Apa yang akan kau lakukan pada Eun Ho? Lakukan sesuatu yang bisa mencegahnya bikin ulah lagi.” Ucap Hee Chan marah.
“Aku tidak bisa membujuknya.” Tegas Dae Hwi memutuskanya.
“Kenapa kau tidak bisa? Kau berhasil menghentikan Bo Ra waktu itu. Bukankah harusnya ini lebih mudah?”kata Hee Chan. 
Flash Back
Bo Ra terlihat babak belur dengan luka diwajahnya, Dae Hwi mengejeknya berusaha menyakinkan kalau tidak akan bisa menang melawan Hee Chan dan sudah tahu sifat dari pacarnya itu. Bo Ra tahu jadinya ingin melihat bagaimana semua ini akan berakhir.
“Bo Ra, kaulah yang akan terluka di sini.” Ucap Dae Hwi
“Seberapa banyak lagi aku harus terluka? Seberapa parah lagi?” ucap Dae Hwi marah
“Hee Chan memintaku memberikan ini padamu. Dia bilang  hilang akal dan dia merasa bersalah. Dia minta maaf.” Kata Dae Hwi memberikan amplop.
“Apa dia menyuruhmu berbohong? Kalau dia merasa bersalah, kenapa tidak minta maaf langsung? Kenapa tidak menunjukkan wajahnya?” kata Bo Ra marah
Saat itu Tae Woon datang berbicara di telp dengan menjelaskan kalau ini hanya pertengkaran kecil dan di rumah sakit sekarang. Saat itu melihat Bo Ra dan Dae Hwi sedang berada di lobby.  Bo Ra akhirnya berjalan mendekati Tae Woon.
“Hyun Tae Woon. Mohon berikan ini pada temanmu, Song Dae Hwi. Katakan padanya kuharap dia bahagia dengan dirinya sendiri setelah menjual jiwa dan hati nuraninya.” Ucap Bo Ra marah dan memberikan uang.
Tae Woon yang binggung mendekati Dae Hwi lalu melihat isi amplop lembaran uang 50ribu won.
“Apa soal Hee Chan? Dasar Kau menyedihkan sekali” umpat Tae Woon marah dan langsung pergi meninggalkan Dae Hwi yang mau jadi orang yang disuruh-suruh Hee Chan. 


Hee Chan memberikan sebuah kartu kalau itu adalah kartu keanggotaan untuk program belajar musim panas persiapan masuk Seoyul. Dae Hwi melihat kartu yang selama ini dibutuhkanya dan tak bisa dilakukan karena uangnya di pakai oleh ibunya.
“Mohon bujuk Eun Ho.” Ucap Hee Chan. Dae Hwi melihat kartu anggota Kelas Musim Panas Persiapan Ujian Masuk Seoyul.
“Kau akan tetap menang meski tanpa melakukan ini. Tapi masalahnya jadi semakin runyam. Kasusku dengan Bo Ra tahun lalu mungkin akan diungkit lagi. Siapa yang tahu Eun Ho akan mengoceh soal itu?” kata Hee Chan
“Eun Ho bukan orang macam itu. Pikirkan sekali lagi.” Ucap Dae Hwi. 

Ibu He Chan dan pengacaranya datang ke rumah Eun Ho, Tae Sik memberikan minuman dengan sengaja sedikit menumpahkanya, Ibu Hee Chan mengumpat keluarga Eun Ho kampungan, lalu mengatakan kalau mereka harus meminta maaf dan mengakhiri semuanya. Ibu Eun Ho membela anaknya kalau Hee Chan yang yang akan minta maaf
“Tidak, suruh Ra Eun Ho minta maaf. Maka kami akan mengakhiri semua ini.Ujian akhir Hee Chan akan segera tiba. Aku tidak mau stres. karena urusan tak penting macam ini.” Ungkap Ibu Hee Chan sinis
“Sayang, apa kau tidak dengar barusan ada anjing yang menggonggong?” ucap Ibu Eun Ho menyindir. Tuan Ra pun merasa aneh berpikirtetangga sebelah punya anjing.
“Yang barusan kau lakukan bisa dianggap penghinaan.” Ucap Pengacara Ibu Hee Chan seperti ingin menuntut.
“Orangtuaku bahkan tidak menunjuk siapapun, kenapa ini kau sebut penghinaan? Mereka hanya sedang bicara tentang anjing yang menyalak. Kau 'kan pengacara.  Bukankah itu hal sepele?” ucap Tae Sik membela
Eun Ho pulang melihat ibu Hee Chan dan Pengacara. Ibu Hee Chan langsung bertanya apakah memang ingin semua ini  jadi masalah besar, karena mereka sangat percaya diri dan bisa mengakhiri semua dengan menghukum Eun Ho.
“Apa kau sebegitu percaya diri? Aku juga percaya dirikalau aku bisa membuktikan bahwa Hee Chan-lah yang menyerangku.” Tegas Eun Ho. Ibu Hee Chan mengejek Eun Ho yang tak sopan.
“Dia hanya mengatakan apa yang harus dia katakan.” Tegas Ibu Eun Ho membela. Ibu Hee Chan tak habis pikir dengan semuanya.
“Aku tidak akan menyerah. Asal kau tahu saja Dan tolong jangan datang ke rumah kami lagi dan bersikap murahan seperti ini.” Ucap Eun Ho berani melawan ibu Hee Chan. Ibu Hee Chan benar-benar tak menyangka seperti direndahkan. 

Dae Hwi berjalan pulang melihat kartu anggota disakunya, lalu terlihat gelisah ingin menelp Eun Ho. Lalu Ia pun sudah sampai di depan rumah Eu Ho dengan membawakan es krim. Eun Ho tak percaya Dae Hwi membawakanya. Dae Hwi mengaku kalau itu karena tidak bisa menepati janji membelika es serut.
“Jadi baru sekarang kau ingat soal itu? Berhubung aku sedang kesal, aku juga jadi ingin makan es krim. Terima kasih.” Ucap Eun Ho lalu duduk dimeja luar dan Dae Hwi mengikutinya.
“Kau pasti cemas sekali.” Kata Dae Hwi. Eun Ho pikir tidak mau berbohong.
“Sejujurnya, aku amat sangat cemas dan perasaanku terluka.” Ucap Eun Ho, Dae Hwi bisa mengerti.
“Bagaimana denganmu? Apa kau baik-baik saja sekarang setelah apa yang terjadi antara kau dan Nam Joo?” tanya Eun Ho. Dae Hwi mengaku belakang merasa buruk.
“Astaga... Kita masih 18 tahun. Tapi hidup kita rasanya penuh dengan rintangan.” Ucap Eun Ho. Dae Hwi juga merasakan hal yang sama.
“Omong-omong, Eun Ho... Apa kau.. Apa kau..” ucap Dae Hwi seperti ingin bicara tapi akhirnya mengurungkan niatnya.
“Dae Hwi, menurutmu kenapa Bo Ra bersikap seperti ini? Aku tahu dia menyaksikan perkelahian aku dan Hee Chan tapi dia tidak mau mengatakan apa-apa. Menurutmu apa yang terjadi antara dia dan Hee Chan?” kata Eun Ho memikirknya. Dae Hwi terlihat gugup. 
Sementara Tae Woon dirumah berusaha menelp Eun Ho tapi ponselnya tak aktif, seperti pikiran menduga sesuatu yang akan terjadi. Eun Ho dan Dae Hwi masih mengobrol sampai akhirnya Tae Woon datang dengan wajah penuh amarah kalau Dae Hwi datang untuk membujuknya.
“Bukan urusanmu.” Ucap Dae Hwi sinis. Tae Woon sudah memperingatkan sambila mengumpat.
“Kalau kau bikin masalah dengan Eun Ho, akan kubunuh kau. Kalau kau mengulanginya lagi..” kata Tae Woon langsung disela oleh Dae Hwi
“Aku bukan sampah.” Tegas Dae Hwi. Eun Ho akhirnya memperingatakan keduanya kalau sampai  berkelahi lagi, maka tidak akan pernah bicara dengan mereka berdua lagi. Dae Hwi akhirnya memilih untuk pamit pulang saja.
“Jangan terlalu cemas... Dae Hwi.” Ucap Eun Ho lalu melambaikan tanganya.
“Lihat tatapannya... Kau merasa sedih sekali, kan? Kau pasti sangat..” ejek Tae Woon melihat Eun Ho seperti sedih Dae Hwi pergi lebih dulu

“Apa yang kau lakukan di sini, jam segini?” tanya Eun Ho. Tae Woon balik bertanya apa yang dikatakan Dae Hwi padanya.
“Aku tanya kenapa kau bisa di sini.” Tegas Eun Ho. Tae Woon mengaku datang  karena sudah menduga  akan melakukan yaitu Senyum pada pria lain.
“Jangan berani-berani kau tersenyum pada pria lain.” Tegas Tae Woon. Eun Ho malah ingin memberikan pukulan pada Tae Woon.
“Pukul aku kalau kau bisa.” Ejek Tae Woon. Eun Ho pun tak segan memberikan pukulanya. Tae Woon merasakan sakit dan kali ini Eun Ho yang panik melihatnya. Dae Hwi melihat keduanya terlihat akrab hanya bisa menatap sedih, seperti kehilangan sosok teman untuk bercanda. 

Eun Ho dan Tae Woon duduk ditaman, Eun Ho pikir harus menyerah pada persidangan ini, karena pihak Hee Chan kalau ia  minta maaf pada Hee Chan maka akan mengakhiri semuanya. Tae Woon heran apakah ia sekarang sedang bersama dengan Eun Ho yang dikenalnya selama ini.
“Kenapa kau minta maaf padahal kau tidak salah? Apa kau sudah gila? Apa kau sakit?” ucap Tae Woon heran melihat Eun Ho seperti menyerah.
“Aku takut orang lain akan kesulitan karenaku. Keluargaku kacau. Mereka bilang akan menjual rumah untuk menyewa pengacara.” Kata Eun Ho
“Itu 'kan wajar. Namanya juga keluarga.” Ucap Tae Woon. Eun Ho pikir  rasanya menyakitkan. Tae Woon benar-benar tak mengerti dengan Skap Eun Ho yang pasrah.
“Aku lelah melihat keluargaku kesusahan.” Ucap Eun Ho. Tae Woon bertanya apakah Eun Ho mau menyerah sekarang sudah berjongkok didepan Eun Ho
“Aku tidak punya pilihan. Kalau aku terus maju kami hanya akan berakhir di persidangan.
“Kau mungkin bisa menyerah,tapi aku tidak. Aku tidak mau kau menderita padahal kau tidak salah. Aku tidak akan membiarkanmu berjuang sendirian. Aku tidak akan membiarkanmu kesepian. Jadi.. percayalah padaku. Kuatlah. Ayo kita berjuang.. bersama-sama.” Ucap Tae Woon menyakinkan.
“Apa menurutmu mungkin memperjuangkan ini sampai akhir?” kata Eun Ho seperti tak percaya diri. Tae Woon benar-benar heran seperti semua kekuatan Eun Ho itu hilang.
“Ke mana perginya semangat juang sampai mati yang dimiliki Ra Eun Ho? Itulah Eun Ho yang kusuka.” Ucap Tae Woon
Eun Ho tersenyum mendengarnya. Tae Woon meminta Eun Ho aga tak tersenyum karena membuatnya berdebar seperti orang gila. Eun Ho menahan senyumanya. Tae Woon memegang pundak Eun Ho agar bisa kuat. Eun Ho bersandar di tangan Tae Woon seperti bisa membuat sedikit melupakan masalahnya. 



Eun Ho pergi menemui Bo Ra, bertanya apakah masih..tidak mau memberikan kesaksian. Bo Ra meminta Maaf, karena benar-benar tidak ingin melibatkan diri dengan semua ini lagi. Ia pun meminta agar Eun Ho. juga menyerah sajalah karena tidak akan bisa  mengalahkan Hee Chan.
“Tidak... Aku akan melakukan apapun untuk membersihkan namaku. Kalau menurutmu kau percaya pada apa yang kulakukan ini mohon berilah kesaksian.” Kata Eun Ho. Bo Ra tak peduli memilih untuk pergi. 

Guru Shim melihat dari kaca pintu ditempat Bo Ra sedang berkerja. Bo Ra keluar dari cafe bertanya kenapa Guru Shim datang ke tempat kerjanya. Guru Shim pikir sudah mengatakan tidak akan menyerah. Bo Ra hanya bisa diam saja.
“Aku masih tidak percaya, kau memulai pertengkaran yang malah membuat dirimu dihukum. Kau pasti punya alasan.” Ucap Guru Shim
“Tidak ada alasan macam itu.” Kata Bo Ra seperti pernah sekali kecewa.
“Bo Ra. Tidak bisakah kau percaya dan mengatakannya pada Bapak?” kata Guru Shim memohon.
“Pak Shim.. Aku tidak percaya pada para guru.” Ucap Bo Ra lalu memilih untuk pamit pergi

Eun Ho dan Tae Woon duduk bersama di ruangan, dengan selembar karton didepanya. Eun Ho mulai menulis  (Kim Hee Chan, dengar..) lalu merasa kalau salah menulis namanya duluan, lalu akhirnya membuang karton yang salah.
“Coba Lihat.. Kau bukan Ra Eun Ho kecuali kau berjuang sampai mati.” Kata Tae Woon mengejek. Eun Ho merasa itu seperti membuat dirinya layaknya petarung jalanan.
“Siapa yang mau bertarung sampai mati?” kata Tae Woon. Eun Ho pikir itu orang tuanya yang memberikannya keberanian sekuat baja.
“Mereka memberimu terlalu banyak keberanian.” Ejek Tae Woon. Eun Ho mengumpat Tae Woon ingin mati di tanganya.
“Bagaimana bisa aku mati? Aku harus mati karena berjuang, Matilah.” Kata Tae Woon. Eun Ho merasa Efeknya masih kurang.
Tae Woon memikirkan saja dan mulai mengambar. Eun Ho bertanya-tanya apa yang akan ditulis, lalu meihat yang dilakukan Tae Woon ternyat lumayan jago juga menggambar. Dengan bangga, Tae Woon mengaku dirinya yang ganteng dan berbakat.
“Siapapun yang jadi pacarku pasti telah menyelamatkan jagad raya di kehidupan yang sebelumnya.” Ucap Tae Woon bangga. Eun Ho tak banyak komentar memilih untuk mulai menulis diatas karton. “Untukmu, yang berjuang mati-matian.”

Guru Koo baru saja datang ke kantor melihat karton yang ditempel di jendela “Untukmu yang berjuang mati-matian. -Ra Eun Ho.-“ lalu sengaja menempel kembali dan menuliskan sesuatu di kertas. Saat itu Sa Rang berteriak dengan terburu-buru masuk kelas memberitahu kalau ini gawat. Eun Ho terlihat panik.
“Ada yang bilang kau diberkahi orang tua yang baik. Tapi.. aku tidak iri padamu. Perlakuan istimewa dan tidak tahu malu yang mengolok-olok keadilan dan kerja keras. Aku merasa bersyukur sebenarnya. Sebab berkat kau, aku bisa menyadari betapa indahnya hidupku selama ini. Aku tidak akan menyerah pada ketidakadilan. Aku bisa berjuang dengan semua teman-temanku.”
Hee Chan dkk melihatnya dan banyak note dan tanda tangan mendukung aksi Eun Ho memilih untuk pergi. Eun Ho dan Sa Rang melihatnya juga tak percaya. Guru Jung membacanya, tulisan Eun Ho seperti tak percaya. Tae Woon melihat ada sebuah tanda tangan di pojok seperti coretan. Mereka tak tahu kalau Guru Koo orang yang pertama kali mendukung.
Tae Woon melihat note “Selama ini aku menyukaimu. Bersemangatlah.” Seperti ia sangat marah dan langsung mencari tahu siapa yang menuliskan dan memeriksa tulisan tangan dikelas mereka.  Eun Ho mencoba menenangkan Tae Woon tapi Tae Woon pikir ada dikelas lain pasti yang menuliskan. 


Saat itu seorang pria memberikan sekaleng minuman pada Eun Ho. Eun Ho tak percaya kalau pria itu yang memberikan minuman. Si pria meminta Jangan terlalu dipikirkan karena hanya berharap bisa menemukan kekuatan juga. Eun Ho mengucapkan terima kasih. Tae Woon melihat Eun Ho bersama dengan pria langsung terlihat marah.
“Apa? Terima kasih buat apa? Apa kau yang bilang menyukai dia? Dan Eun Ho-ku sukanya lemonade. Kau tak tahu apa-apa.” Ucap Tae Woon marah
“Apa urusannya denganmu? Aku hanya ingin bersamanya dan menjaganya.” Ucap Si pria
“Kenapa kau mau menjaganya? Kenapa kau harus di sisinya saat dia dalam masalah? Ada banyak pria lain yang  mau melakukan itu untuknya.” Kata Tae Woon. Eun Ho dan Si pria terlihat binggung.
“Apa Dia.. punya banyak pria?” kata Si pria. Tae Woon membenarkan. Eun Ho meminta agar Tae Woon menghentikan ucapanya.
“Belum lama ini, ada seorang pria tampan yang mengatakan suka padanya. Ada banyak pria yang akan menjaganya jadi jangan urusi dia.” Kata Tae Woon. Eun Ho meminta si pria  Jangan pedulikan omongannya.
“Terima kasih karena sudah memberikan tanda tangan. Ayo bertemu lagi lain kali.” Ucap Eun Ho
“Kenapa menyuruhnya  mengabaikan ucapanku?Kenapa kau harus bertemu dengan dia lagi? Jangan!” kata Tae Woon. Eun Ho meminta Tae Woon agar menghentikanya. 


Tae Woon pun mengantar Eun Ho pulang bertanya apa yang dikatakan pria itu dan berapaa lama sudah menyukainya dan Apa yang disukai dari  Eun Ho. Eun Ho mengatakan kalau si pria mengaku suka semuanya. Dari kepala sampai ujung kaki, menurutnya Setidaknya seleranya bagus. Tae Woon mengejek Eun Ho pasti senang.
“Dia melihatmu dengan mata menggoda dan sok keren.” Keluh Tae Woon
“Hei. Dia.. dapat banyak telepon dari perusahaan hiburan. Itu Kenapa? Karena dia ganteng.” Kata Eun Ho bangga
“Apa semua orang ganteng lain sudah pada mati? Yang benar saja. Aku harus menghalangi para cowok untuk mengatakan suka padamu. Mungkin aku akan mengancam mereka satu persatu.” Kata Tae Woon kesal.
“Bagaimana bisa.. kau memikirkan sesuatu yang tidak dipikirkan orang lain? Bukankah itu yang membuatku jadi mempesona?” kata Eun Ho

“Bagaimana kalau. cowok-cowok lain juga mengambil kesempatan ini untuk mengatakan suka padamu?” ucap Tae Woon kesal. Eun Ho menegaskan kalau dirinya tidak populer.
Tae Woon pikir kenapa tidak, padahal sebelumnya mengatakan tidak bisa telat karena anak-anak bisa heboh menurutnya Keberadaannya adalah sesuatu yang bisa membuat orang jadi gila. Eun Ho mengingat kata-kata yang dikatakan saat di parkiran.
“Tunggu. Hei, kok sepertinya aku pernah dengar kata-kata itu, Kau ingat semua ternyata.” Ucap Eun Ho. Tae Woon tak ingin membahasnya menyuruh Eun Ho masuk dan akan pergi setelah Eun Ho masuk ke dalam rumah.
“Si kunyuk itu tidak mengekori kami 'kan?” ucap Tae Woon antisipasi melihat sekeliling takut pria sebelumnya mengikuti Eun Ho sampai ke rumah. 


Dae Hwi membaca pesan yang dikiriman Nam Joo untuk bicara. Keduanya bertemu di belakang sekolah. Dae Hwi bertanya apakah masih ada yang perlu mereka bicarakan. Nam Joo ingin menanyakan satu pertanyaan, alasan Dae Hwi ingin berpacaran denganya.
“Kau selalu dingin padaku dan aku selalu ingin bertanya, kenapa kau berkencan denganku, aku bahkan tidak berani memulainya.” Kata Nam Joo
“Aku berkencan denganmu karena aku menyukaimu. Tapi sampai aku mulai curiga, kau berbohong padaku, perasaanku mulai berubah.” Akui Dae Hwi
“Maaf... Kalau perasaanmu berubah, harusnya kau putus saja denganku. Kenapa kau bertahan?” kata Nam Joo
“Aku tidak ingin mempercayainya. Karena aku merasa sepertinya kau kesulitan karena harus berbohong sama sepertiku.” Ucap Dae Hwi. Nam Joo pun tak bisa berkata-kata. 

Bo Ra berjalan melihat Guru Jang yang ada berjalan didepanya, dengan wajah sinis memilih untuk mengambil jalan lain. Petugas Han melihat dari atas keduanya seperti memiliki sesuatu, Akhirnya bersama Guru Shim menemui Guru Jang di meja kerjanya. Baru saja Guru Shim memanggil nama Guru Jang, Guru Jang dengan ketus berkata “Apa lagi sekarang?”
“Apa ada sesuatu yang terjadi antara kau dan Bo Ra tahun lalu?” tanya Guru Shim. Guru Jang mengaku tidak dan ingin tahu alasan Guru Shim menanyakanya.
“Karena Bo Ra sepertinya menghindarimu.” Ucap Petugas Han karena Guru Shim yang tak bisa mengatakanya.
“Lantas? Apa kau menuduhku melakukan sesuatu yang salah?” kata Guru Jang sinis.
“Dengan insiden yang melibatkan Bit Na, sudah jelas apa yang terjadi dan dia masih saja membantah lalu malah mengakui kesalahan dengan mudahnya. Ada yang aneh di sini. Dia sepertinya merasa tak nyaman denganmu. Kukira ada semacam salah paham.” Kata Petugas Han
“Apa waktu sekolah, kau suka pada semua gurumu? Tidak ada yang namanya salah paham. Aku tidak berminat  jadi guru populer jadi berhentilah bertanya.” Tegas Guru Jang
“Tapi, Guru Jang. Kau bisa membantu Bo Ra membersihkan namanya. Kau tahu, dia bukan anak yang agresif. Kalau kau melihat semuanya, maka kau bisa..” ucap Guru Shim mencoba membujuk. Tapi Guru Jang tetap mengatakan tidak melihat apa-apa.


Petugas Han memberitahu kalau saat ditugaskan dan menjalani pelatihan,rekan kerjanya mengatakan itu. Guru Shim memastikan kalau ternyata ada dokumen yang sudah disimpan selama dua tahun. Petugas Han membenarkan.
“Tapi dokumennya dikunci, jadi kau harus membuka dan memeriksanya satu persatu. Ada banyak sekali. Aku yakin catatan tentang Bo Ra ada di sana.” Kata Petugas Han. Guru Shim menatap seperti sudah siap mencari tahu.
Keduanya melihat tumpukan file dalam ruangan, Guru Shim melihat file dalam komputer dan membuka satu persatu sampai akhirnya satu file terbuka, lalu memanggil Petugas Han karena sudah menemukanya.
 [Catatan Konseling. Guru: Jang So Ran, Seo Bo Ra menyerang Kim Hee Chan secara lisan...Seo Bo Ra melanggar aturan berprilaku di sekolah...] keduanya seperti tak percaya membacanya. 

Keduanya bertemu dengan Guru Jang dengan bukti berkas penyataan satu tahun lalu. Guru Shin benar-benar tak menyangka Guru Jang mau melakukan hal itu, menurutny Pasti Bo Ra merasa sangat kesulitan untuk jujur pada wali kelasnya. Guru  Jang dengan angkuh berpikir kalau itu  hanya dari sudut pandangnya dan Apa yang dikatakan Hee Chan berbeda.
“Jadi apa kau sudah melaksanakan pemeriksaan secara benar?” tanya Petugas Han. Guru Jang mengaku itu benar.
“Aku memeriksanya. Laporan utama dan laporan pendukung hanya berjarak satu hari. Dalam satu hari, kau bertemu dengan penyerang, korban dan saksi dan membuat kesimpulanmu sendiri. Lalu pendapatmu berubah 180 derajat.” Ucap Petugas Han.
“Apa ada hukum yang melarang aku melakukannya?Kami bukan polisi. Kalau kami mendengarkan anak-anak macam itu, tidak akan ada yang bisa diselesaikan. Apa guru itu penjahat?” kata Guru Jang membela diri.
“Guru Jang.. Kenapa kau menjadi guru? Apa Karena guru adalah pekerjaan bagus dengan karir yang stabil?” ucap Guru Shim seperti tak bisa menahan amarah. Guru Jang pun ikut marah kalau itu sudah kelewatan.
“Kalaupun itu benar, ini adalah perbuatan yang salah. Kalau kau menutupi kejadian ini dan mengatakan hal bohong sebagai kebenaran, maka aku tidak akan bisa memaafkanmu. Aku akan membongkar kebenaran di balik insiden Bit Na, dan juga insiden kekerasan yang dilakukan Hee Chan tahun lalu.” Tegas Guru Shim.
Bersambung ke part 2

 FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar