Sabtu, 05 Agustus 2017

Sinopsis Strongest Deliveryman Episode 1 Part 2

PS : All images credit and content copyright : KBS

Kang Soo melewati jalan dan tiba-tiba seperti dicegat oleh 3 orang pria, lalu bertanya siapa mereka. Salah satu pria memberitahu kalau  mereka tukang antar di wilayah yang sama dengannya. Kang Soo balik bertanya memangnya kenapa, seperti tak punya masalah.
“Kalau kau masuk  ke wilayah orang lain harusnya kau bilang pada kami. Apa bahkan seorang anak baru angkuh di wilayah ini? Kalau memang sudah sadar diri, rendah dirilah sedikit. Dan jangan melototi kami.” Ucap salah satu ketua. Kang Soo pun ingin tahu apa mau mereka semua.
“Ada teman bernama Baek Gong Gi di Holy Noodle. Pergilah ke sana, dan perkenalkan dirimu. Dia akan menyuruhmu sesuatu, dan melakukan apa yang kau lakukan.” Ucap salah seorang pria.
“Lupakan saja Baek Gong Gi.(Berarti "100 mangkuk") Aku akan pergi menemui pria bernama Seribu Mangkuk jika dia pernah muncul.”kata Kakng Soo
“Apa Barusan kau membuat guyonan dengan nama orang itu? Hei, dia pasti ahli bela diri. Kalau kau terus main-main begitu kau akan lumpuh! Mereka bisa saja tidak akan baik padamu!” kata beberapa pria
“Aku akan mengurus semuanya, jadi kalian pergi saja. Aku sedang sibuk.” Kata Kang Soo
Salah satu pria ingin melawan karena Kang Soo menantang, si ketua menahanya bisa mengerti kalau Kang Soo sedang sibuk dan beranjak pergi. Kang Soo menghela nafas kalau ternyata  Seoul pasti tempat yang besar dan Di wilayah seperti ini memang masih ada rupanya.


Dan Ah membawa makanan dan salah seorang anak menunjuk ke arahnya. Si ibu memberitahu anaknya kalau Dan Ah, seorang wanita tukang antar Jjajangmyeon dan menasehat Kalau tidak belajar dengan giat, maka pasti akan seperti mereka. Dan Ah tak bisa menahan diri untuk tak berkomentar.
“Permisi... Dengan melakukan ini, kau harus pintar melakukannya. Yaitu harus tahu arah jalan dengan baik dan menghitung dengan cepat.” Tegas Dan Ah. Si wanita tak banyak berkata-kata lagi segera bergegas pergi. 

Dan Ah membaca ke sebuah ruangan, seperti Pria hidung belang. Si pria mengaku kalau mendengar ada tukang antar wanita cantik di sekitar gedung dan ternyata benar. Dan Ah pikir dirinya juga seperti wanita tukang antar kopi.
“Kau juga wanita yang sangat jenaka. Pasti susah pekerjaanmu?” kata si pria. Dan Ah mengaku tak masalah.
“Wow, kau benar-benar sesuatu... Kau memang tegas.” Kata si pria mengoda dengan menepuk bokong Dan Ah.
Dan Ah tak bisa diam saja langsung memelintir tangan si pria. Si pria langsung merintih kesakitan, meminta maaf karena tidak sadar melakukannya. Dan Ah malah makin menekannya agar membuat si pria jera.
“Pekerjaanku takkan sulit kalau orang sepertimu lenyap. Apa kau Tahu?” ucap Dan Ah. Si pria kembali meminta maaf.
“Kau takkan tahu karena kau anak baru di sini. Kalau kau sekali lagi menyentuhku, semua persendianmu akan kupatahkan.” Kata Dan Ah. Si pria meminta agar segera dilepaskan tanganya.
Dan Ah pun melepaskan dan meminta uangnya, si pria buru-buru memberikanya. Lalu Dan Ah mengatakan tidak mau naik-turun tangga, jadi tinggalkan saja mangkuknya di lantai atas. Si pria mengangguk mengerti lalu Dan Ah pikir kalau memang ingin pesan makanan lebih baik dari tempat lain karena tidak mau melihatnya lagi. Si pria pun mengangguk mengerti.


Kang Soo mengemudikan mobilnya dan berhenti, karena berpapasan dengan Dan Ahn, lalu keduanya sama-sama berteriak “Berkendara dengan benar”. Restoran pun tutup, Si wanita dan Tuan Jung berjalan pulang pamit lebih dulu pada Kang Soo serta Dan Ah.
“Haruskah aku mengantarmu pulang?” ucap Tuan Jung. Si wanita mengangguk tapi kalau memang ingin dibunuh olehnya. Tuan Jung pun berbalik arah untuk tak mengantarnya.
“Hei, hubungan mereka itu apa?” tanya Kang Soo. Dan Ah pikir Kan Soo tidak perlu tahu dan Bekerjalah saja.
“Haruskah kau bicara seperti itu? Akan kutuntut kau nanti. Aku bahkan ingin membuatmu membayar biaya hukum juga.” Ucap Kang Soo kesa
“ Sudah kubilang aku mau. Jangan bicara omong kosong dan banyak-banyaklah bertindak. Itu masalahmu. Paham?” kata Dan Ah. Kang Soo kesal mendengarnya.
“Aku sudah mengembalikan semua mangkuk dan mencuci piring. Sisanya kau yang kerja, jadi uruslah.” Kata Dan Ah menaiki mobilnya.
“Tidak perlu khawatir, karena aku lebih baik darimu.” Balas Kang Soo
“Pagi-pagi akan kuperiksa apa kerjamu benar atau tidak.” Ujar Dan Ah. Kang Soo mengejek bertanya memangnya siapa Kang Soo.  Dan Ah menegaskan kalau ia adalah Orang yang bisa memecatnya dan kembali memanggilnya “Oppa” dengan memberikan semangat. Kang Soo hanya bisa mengumpat kesal melihat Dan Ah. 


Ji Yoon duduk depan gedung merasa kelelehan sambil berkata kalau banyak yang bilang, mereka akan menderita kalau lari dari rumah lalu merasa lapar. Ia pun makin lapar ketika ada orang yang lewat membawa pizza, dan melihat ada sisa makanan dekatnya. Tapi akhirnya berusaha menyadarkan agar Jangan dilihat, tapi karena perutnya tak bisa tahan mulai makan babi goreng dan saat itu Kang Soo datang dengan motornya.
“Apa Kau belum menyelesaikan makanmu?” ucap Kang Soo pura-pura tak tahu. Ji Yoon mengelengkan kepala dengan wajah malu mengaku sudah selesai makan.
“Aku suka makanannya. Terima kasih.” Kata Ji Yoon malu dan ingin segera pergi. Kang Soo memanggilnya kalau Ji Yoon belum membawa tasnya. Ji Yoon mengambil tasnya dan ingin segera pergi.
“Hei.. Ikuti aku... Ayo kita makan makanan bersih.” Kata Kang Soo.
“Tidak, kurasa kau salah paham dari yang kau lihat.” Ucap Ji Yoon. Kang Soo pun mengambil tas Ji Yoon untuk segera mengikutinya.
Kang Soo memasakan jajangmyun di dapur restoran, Ji Yoon melihatnya seperti terpana lalu mulai makan dengan lahap. 


Ayah Ji Yoon menelp anak buahnya bertanya apakah sudah menemukannya? Anak buahnya meminta maaf kalau mereka belum menemukan karena Ji Yoon yang mematikan ponselnya dan tidak bisa berbuat apa-apa lagi.. Ayah Ji Yoon langsung menutup telp dengan wajah kesal.
“Haruskah kau memblokir kartu kredit Ji Yoon sekarang?” kata Ayah Ji Yoon pada istrinya. Nyonya Jung mengeluh suaminya terus membahasnya masalah ini.
“Apa Kau tak tahu betapa bahayanya dia kalau tidak makan dan minum di luar sana?” kata Ayah Ji Yoon.
“Dia harus kedinginan dan kelaparan untuk kembali ke rumah. Jika kau membuat mereka mengejarnya lagi, maka pasti akan mendapatkan hasilnya.” Kata Ibu Ji Yoon lalu beranjak pergi. 

Ji Yoon  mengucapkan termakasih lalu berpikir kalau Kang Soo adalah seorang koki. Kang Soo mengaku cuma belajar dari mereka yang sudah handal, lalu bertanya apakah Ji Yoon lari dari rumah. Ji Yoon membenarkan.
“Kau menghabiskan semua uangmu dan kartu kredit ibumu diblokir.” Kata Kang Soo. Ji Yoon membenarkan.
“Sepertinya kau sudah hidup seperti gelandangan selama tiga hari.” Ungkap Kang Soo. Ji Yoon seperti tak percaya Kang Soo bisa mengetahuinya.
“Apa maksudmu? Kau kelaparan sekitar tiga hari dan nekat makan sisa daging babi asam manis.”kata Kang Soo.
“Ahh.. Tolong jangan diungkit lagi.” Ungkap Ji Yoon malu. Kang Soo ingin tahu umur Ji Yoon sekarang. Ji Yoon mengaku kalau Umurnya 23 tahun.
“Jangan bohong. Kenapa usia 23 tahun lari dari rumah? Mungkin kau harus pindah. Cepat katakan padaku. Bahkan tanpa seragam dan lipstik, aku tahu, jadi umurmu berapa?” kata Kang Soo
“Seberapa tua aku kelihatannya?” ucap Ji Yoon. Kang Soo bisa menebak Ji Yoon itu anak SMA, Ji Yoon membenarkan dan balik bertanya umur Kang Soo.
“Kau ini. Harusnya kau memanggilku "Ahjussi." Aku selisih 7 tahun darimu.” Kata Kang Soo. Ji Yoon mengerti kalau artinya umur Kang Soo 25 tahun.
“Kenapa kau lari dari rumah?”tanya Kang Soo. Ji Yoon hanya menjawab kalau Karena ada masalah.Kang Soo tak mengerti maksudnya.
“Di buku tentang pembesarkan anak, mereka membahas jumlah masalah keluarga. Semua anak akan mengganggu orang tua mereka. Jumlahnya akan selalu sama. Lalu, kau tidak bisa tumbuh menjadi terlalu taat dan damai. Kemudian semua masalah itu akan tumpah ruah di kemudian hari.” Jelas Ji Yoon. 


Kang Soo mengangguk mengerti saja. Ji Yoon mengaku Sampai sekarang, belum pernah bilang tidak dan Yang paling cuma bilang, "bolehkah aku tidak melakukannya". Lalu ibunya bilang kalau harus melakukannya dengan semua alasan dan ia pun tak bisa menolak hanya bisa berkata "ya, aku mengerti" Lalu ia pun marah-marah.
“Jadi, apa yang akan kau lakukan sekarang? Apa yang akan kau lakukan kali ini?” tanya Kang Soo. Ji Yoon hanya diam saja.
Kang Soo membentangkan alas tidur di kamarnya, lalu menasehati kalau Sebelum tidur, bayangkan wajah orangtuanya seratus kali. Ji Yoon hanya diam saja. Kang Soo menyuruh Ji Yoon agar menjawabnya. Ji Yoon pun mengatakan akan melakukannya.
“Tidurlah.” Kata Kang Soo lalu keluar dari ruangan. Ji Yoon ingin menekan kunci, Tiba-tiba Kang Soo masuk lagi membuat Ji Yoon terkejut.
“Tutup jendela sebelum tidur.” Ucap Kang Soo lalu sengaja mengunci pintu dari dalam. Ji Yoon tersenyum melihat kebaikan Kang Soo.

Tuan Baek Gong Gi seperti sedang berdoa pada Buddha, anak buahnya menceritakan Kang Soo yang tidak sopan sekali bahkan mengejek nama Tuan Baek. Tuan Baek mengerti kalau Kang Soo adalah pria seperti itu. Mereka memutuskan akan mengurusnya.
“Biarkan saja dia. Jangan main-main dengan mata pencaharian seseorang.” Ucap Min Chan
“Kami tidak main-main dan kami sangat marah.” Ucap Ketua genk.
“Lakukan yang kalian mau. Tapi Ingatlah ini... Kami tidak menyakiti wanita dan anak-anak.” Kata Tuan Baek.
“Jangan khawatir. Kami tidak akan mendapatkan gadis pemarah yang terlibat dalam hal ini.” Ucap Byung Soo lalu melihat ponselnya kalau Sudah waktunya Yeon Ji pulang kerja.

Byung Soo dkk bergegas pergi memastikan kalau Yeon Ji lewat, Mereka yakin kaalu Yeon Ji itu lambat pulangnya, jadi belum pulang. Seorang wanita dari belakang, berjalan dengan sangat mengoda karena badanya yang bagus. Byung Soo dii langsung berkomentar Yeon Ji adalah mahakarya.
“Dialah sumber keberkahan di wilayah ini.” Ucap Byung Joo. Ho Young pikir kalau Yoga-lah jawabannya.
Yeo Jin menaiki tangga dan masuk kamar, Dan Ah langsung memperingatakan supaya Jangan lambat lagi pulangnya, karena Di sekitar lingkungan rumah banyak pengganggu dan pakaian dalam meraka pernah dicuri. Yeon Ji meminta maaf karena pergi minum dengan instruktur lainnya.
“Kulihat, gadis Hapkido ini mulai belajar Bahasa Inggris dengan giat.” Kata Yeon Ji. Dan Ah membenarkan.
“Hei, harusnya kau berhenti kebiasaan minummu dan belajarlah Bahasa Inggris juga. Setidaknya kau harus tahu kata kerja infinitif itu apa.” Ucap Dan Ah.

“Apa? Kau bilang Tofu dan romantis?” ejek Yeon Ji dengan otak mesumnya. Dan Ah mengumpat Yeon Ji sudah gila.
“Apa orang-orang tahu betapa bodohnya dirimu?” ejek Dan Ah. Yeon Ji mengaku tak masalah karena punya tubuh indah
“Tapi... haruskah kau pindah? Memikirkanmu pergi itu membuatku sedih.” Ucap Yeon Ji.
Dan Ah pikir memang harus pergi. Yeon Ji ingin tahu alasanya. Dan Ah pikir Yeon Ji tahu kalau Masa depan yang suram bahkan bagi mereka yang lulus kuliah dan Apa lulusan SMA sepertinya masih ada harapan, menurutnya Tidak ada harapan lagi.
“Tidak peduli kerja kerasmu bagaimana, kau hanya jadi orang yang malang. Itu hanya sistem yang hebat dari Hell Joseon.” Kata Dan Ahn. Yeon Ji pun ingin tahu kapan akan pergi.
“Bila aku menabung sampai 100 juta won.”kata Dan Ah. Yeon Ji ingin tahu itu kapan. Dan Ah memperlihatkan hitung mundur dari ponsenya. Yeon Ji merasa Dan Ah memang beruntung.
“Ah, aku hanya perlu bekerja setengah tahun lagi. Lalu aku pun bisa melarikan diri. Selamat tinggal Korea. Selamat tinggal Hell Joseon!” kata Dan Ah membaringkan tubuhnya. Yeon Ji pun meminta Dan Ah tak membahasnya karena membuatnya sedih
“Akan aku kirimkan kau surel nanti dan juga mau video call denganmu.” Kata Dan Ah. Yeon Ji malah makin merengek agar Dan Ah tak pergi.



Kang Soo berbicara dengan dua adiknya dengan video Call. Sang adik bertanya apakah Kang Soo sudah tidur, Kang Soo membenarkan. Sang adik pikir Kang Soo yang tidur lebih awal. Kang Soo pikir kalau  sangat lelah hari ini dan ingin tahu kenapa menelpnya.  Sang adik memberitahu kalau Mesin motornya terus mati.
“Kau menelepon saat mengalami kecelakaan dan bila ada yang patah. Memang aku ini asuransi?” ejek Kang Soo
“Hyung, aku merindukanmu. Sekali-kali datang berkunjung. “ ucap pria lainya yang ikut video call. Kang Soo berjanji akan mengunjunginya dalam tiga hari dan menutup telpnya. 

Kang Soo tertidur lelap di kursi sampai matahari masuk ke celah jendela. Dan Ah masuk ke dalam restoran melihat Kang Soo, langsung memanggilnya “Oppa.” Kang Soo kaget melihat Dan Ah sudah ada didepan wajahnya dan bertanya Kapan sampai di restoran. Dan Ah mengaku Baru saja.
“Kenapa kau tidur di sini? Memang ada hantu di kamar itu?” ejek Dan Ah. Kang Soo mengaku kalau hanya memikirkan sesuatu.
“Siap-siaplah bekerja.” Kata Dan Ah. Kang Soo teringat kalau semalama memberikan tumpakan pada Ji Yoon lalu bergegas naik ke lantai atas. 

Kang Soo mengetuk pintu meminta Ji Yoon bangun karena mereka ada masalah, tak terdengar suara dari dalam. Akhirnya Kang Soo membuka pintu dan tak melihat Ji Yoon dalam kamar bahkan sudah rapih, lalu melihat sebuah note “Ahjussi... Terima kasih.” Kang Soo pun heran memikirkan kemana Ji Yoon akan pergi.  Ji Yoon sudah duduk di pinggir sungai Han.
“23 tahun bukan umur untuk menjadi anak pelarian.cMelainkan 23 tahun adalah umur untuk bisa mandiri.” Ucap Ji Yoon lalu merasakan perutnya yang lapar dan memanggil Kang Soo kalau ingin sarapan.

Ji Kyu sarapan bersama dengan keluarganya. Tuan Oh Sung Hwan tiba-tiba mengeluh mereka masih berada jauh, karena melihat sepuluh perusahaan teratas, perusahaan elit  seperti sudut toko dan melihatnya lebih dekat, seperti toko pinggir jalan.
“Jangan melihat ke bawah, Selalu melihat ke atas.” Kata Tuan Oh. Kakak Ji Kyu mengangguk kalau akan mengingatnya. Tuan Oh pun menyuruh agar melanjutkan makanan.
“Lalu Apa rencanamu?” tanya Tuan Oh pada Ji Kyu yang lebih sibuk makan. Ji Kyu mengaku hanya itu saja.
“Aku tahu jawabanmu itu. Kau selalu samar-samar, selalu tidak ada tujuan. Lalu Kau tidak introspektif. Tapi, kau selalu bersenang-senang. Sementara itu, orang yang melihatmu jadi sangat kecewa.” Kata Tuan Oh menyindirnya. Ji Kyu membenarka dan ibunya mencoba bicara pada sang ayah.
“Sudahlah... Jangan seperti itu,dan uruslah juga hal lain. Seperti itulah tugasnya.” Kata Ibu Ji Kyu
“Aku selalu melihat banyak perusahaan yang gagal karena itu. Mereka membaginya jadi dua kalau dua anak dan tiga kalau tiga anak. Kau kehilangan semua daya saing yang melakukan itu. Jadi Hiduplah apa adanya. Seperti orang tolol.” Ungkap Tuan Oh dengan menyindir pada Ji Kyu. Dan Ji Kyu mengaku mengerti dan kembali makan. 

Kakaknya datang dari belakang membuat Ji Kyu kaget, lalu meminta Maaf. Ji Kyu bertanya memangnya kenapa meminta maaf. Sang kakak pikir ucapan ayahnya itu "Jangan melihat ke bawah dan Selalu melihat ke atas." Kalau ia terdengar seperti Tuan Oh.
Ia lalu memberikan sebuah kartu agar membeli mobil baru. Ji Kyu mengejek sang kakak yang terlihat ikhlas sekali memberikannya. Sang kakak menyuruh adiknya agar mengunakan untuk kesenangannya. Ji Kyu pun terlihat bahagia bisa menerima kartu kredit dari sang kakak.
Ji Kyu sudah ada didalam mobil dengan wajah bahagi mengaku kalau suka aromanya, lalu mengeluarkan tangan dengan bangga mengatakan kalau dirinya memang orang bodoh.


Tuan Jung kaget mengetahui kalau Stok mangkuk sudah habis. Kang Soo menjelaskan semua pelanggan bilang sudah meninggalkan mangkuknya dan lupa mengembalikannya, tapi tidak bisa menemukannya di mana pun. Tuan Jung menyuruh Kang Soo untuk bicaralah dengan Dan Ah. Kang Soo binggung kenapa dengan Dan Ah.
“Ya, bicaralah pada Dan Ah... Kau itu teman Dan Ah.” Ucap si wanita sambil merapihkan lipstiknya.
“Itu terasa sangat aneh, Carilah semuanya dengan baik.” Kata Dan Ah sudah siap mengantar.
“Tapi, sejujurnya aku tidak tahu siapa yang mengambilnya.” Kata Kang Soo binggung.
“Kalau kau tidak bisa cari, maka kau akan dipecat. Oppa, hwaiting.” Kata Dan Ah kembali mengejeknya. 


Kang Soo mengemudikan motornya, dan melihat Byung Soo dkk sedang berbicara kalau mangkuk hilang saat diantar maka akan menggila. Byung Soo dkk sadar kalau Kang Soo mendengarnya dan mengajak mereka kabur.
Akhirnya Kang Soo mencoba mengejar kotak piringnya, tapi malah di ajak bercanda dengan saling mengoper satu sama lain yang membuatnya kelimpungan. Kang Soo mengejar Ho Young yang terakhir kali membawa mangkuknya, Ho Young panik karena mangkuknya bukan padanya.
“Menurutmu aku bodoh? Aku cuma perlu menangkap salah satu dari kalian.” Kata Kang Soo. Ho Young menegaskan kalau tidak punya mangkuknya. Saat itu motornya sampai di jalan buntu, lalu turun dari motor. Kang Soo sempat langsung memukul kepala Ho Young.
“Tenanglah... Kita bicarakan hal ini.” Kata Ho Young. Kan Soo langsung menanyakan keberadan tempat Holy Noodle dan Baek Gong Gi. 


Kang Soo naik ke atap gedung dengan memastikan kalau Tuan Baek itu di balik semuanya, Tuan Baek pikir itu mungkin saja menurutnya Bisa dibilang ada kesempatan bagus yang dilakukan. Kang Soo pikir Tuan Baek itu sedang asik bercanda. Keduanya mulai berkelahi tapi, Kang Soo kalah jauh dari Tuan Baek.
“Kalau kau mau menyerang, lakukanlah tanpa aturan. Apa Kau paham?” ucap Tuan Baek dengan sedikit menginjak dada Kang Soo dan menyuruhnya pergi.
“Kapan-kapan kita bertemu lagi dengan cara yang sopan.” Kata Tuan Baek. Kang Soo mengejarnya, tapi Tuan Baek bisa menendangnya lalu mendorong sampai ke pinggir gedung sambil memperingatkan agar bisa berhenti karena tidak bisa mengalahkannya.
“Kembalikan mangkukku” teriak Kang Soo yang membuat Tuan Baek binggung. Kaki Kang Soo merangkul kaki Tuan Baek yang membuatnya melayang. Tuan Baek panik karena mereka akan jatuh.
“Kembalikan mangkuk itu sekarang!” teriak Kang Soo. Tuan Baek meminta Kang Soo melepaskan karena mereka berdua akan jatuh lalu mati.Kang Soo terus menarik Tuan Baek agar mau mengembalikan mangkuknya. 

[Epilog]
Kang Soo berada di pelabuhan bertanya pada ayahnya, kemana saja karena Ayah adalah pasien kanker yang melarikan diri dari RS selama sepuluh hari. Tuan Choi hanya diam saja. Kang Soo kesal dengan ayahnya, yang membuatnya cemas dan ingin tahu apa yang Tuan Choi lakukan.
“Seoul.” Ucap Tuan Choi singkat. Kang Soo makin marah mendengar karena menduga ayahnya yang pergi mencari wanita itu lagi.
“Apa Ayah ini bodoh? Kenapa Ayah ingin menemui wanita yang kabur membawa semua uangmu? Coba Lihatlah. Dongjinho dan Manseon 1 Kedua kapal itu milik Ayah. Ini tidak akan terjadi pada Ayah jika Ayah masih memilikinya. Ayah tidak akan menderita seperti ini jika bukan karena wanita itu.” Teriak Kang Soo marah

“Jangan panggil dia "wanita itu". Dia itu ibumu.” Ucap Tuan Choi
“Kenapa wanita seperti itu menjadi ibuku? Sudah Mati saja. Jangan membuatku jadi kesal begini, dan mati saja.” Kata Kang Soo penuh amarah dan akan pergi.
“Kang Soo... Kau sudah hidup baik-baik. Hanya karena kau tidak punya ibu atau ayah, jangan jadi keras dan dingin. Hiduplah menjadi orang yang baik. “pesan Tuan Choi. Kang Soo benar-benar tak percaya ayahnya masih saja sampai akhir mencari orang yang membuatnya sudah dan memilih pergi. Bayangan Tuan Choi pun menghilang. 



Kang Soo membawa abu ayahnya dan ingin menyebar di laut, ia berdiri diatas perahu sendirian sambil menebar abu berkata pada mendiang ayahnya.
 “Tapi, aku akan memastikan wanita itu. Aku akan menemukannya dan memberitahunya. Tentang bagaimana Ayah hidup setelah apa yang dia lakukan... Tentang bagaimana Ayah meninggal... Aku akan pastikan dia tahu. Aku akan memastikannya. Selamat tinggal.” Ucap Kang Soo lalu menangis histeris karena mengetahui ayahnya yang sudah hidup sudah.
Akhirnya ia pun pergi naik kereta menuju Seoul mencari orang yang selama ini sudah menyusahkan ayahnya.

Bersambung ke episode 2

FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar