Minggu, 06 Agustus 2017

Sinopsis Strongest Deliveryman Episode 2 Part 1

PS : All images credit and content copyright : KBS
Kang Soo berteriak marah meminta agar mengembalikan semua mangkuknya sekarang. Tuan Baek panik karena mereka akan jatuh dan langsung mati. Kang Soo seperti sudah siap  jatuh, sampai akhirnya Tuan Baek berjanji akan memberikan.
“Sekalian piringku diambil juga.” Ucap Kang Soo. Tuan Baek akan memberikan nanti. Akhirnya Kang Soo pun bisa berdiri kembali di bagian atap gedung.
Tuan Baek memperlihatkan wajah lesu berdiri didepan restoran Holly Noodle. Min Chan memberikan kotak bekas mangkuk dan juga piring. Kang Soo memperingatkan agar Jangan main-main dengannya, dan menegaskan tidak keberatan wilayahnya diambil, tapi mangkuknya tidak boleh. Byung Soo melihat kotak piring yang dberikan pada Kang Soo
“Apa yang terjadi? Apa Kau kalah?” ucap Byung Soo mendekat setelah melihat Kang Soo yang pergi.
“Anggap saja aku memenangkan pertarungan ini. Dia punya kemauan yang lebih kuat dariku. Mulai sekarang, biarkanlah dia. Di wilayah kita, mungkin ada lagi si gila yang datang.” Ucap Tuan Baek lalu masuk ke dalam restoran. 

Tiga anak buah Tuan Baek dibuat binggung. Ho Young bertanya apa maksud dari ucapan Tuan Baek. Byung Soo pikir Tuan Baek hanya bicara omong kosong dan sudah lihat sekarang, kalau Kang Soo mungkin sudah bersabuk hitam, tapi tidak punya keterampilan khusus!
“Tapi wajah pria itu nyaris babak belur dan Gong Gi Hyungnim tidak punya luka apa pun.” Kata Young Taek
“Orang-orang yang pandai berkelahi itu tidak ada luka apa pun di tubuhnya. Mereka menyerang orang-orang yang suka disakiti.” Kata Byung Soo.
“Ya ampun! Jadi bagaimana sekarang? Kurasa kita salah orang. Haruskah kita ke sana dan minta maaf padanya?” ucap Ho Young.
“Jangan main-main kau, dasar bodoh! Kita ini lebih banyak darinya. Dan kalau masalah berkelahi, kita ahlinya. Lebih baik Tunggu saja. Aku akan buat si brengsek itu menggila.” Kata Byung Soo dengan wajah geram. 


Kang Soo datang  memberitahu kalau sudah menemukan mangkuknya. Soon Ae memuji karena sudah menemukannya, sementara Tuan Jang kaget melihat wajah Kang Soo yang babak belur.  Kang Soo mengaku kalau ada sesuatu hal tadi.
“Kerja bagus, Oppa... Aku tak menyangka kau bisa.” Komentar Dan Ah dengan nada mengodanya.
“Ugh, menyingkir dariku.” Kata Kang Soo mendorongnya. Dan Ah mengeluh sakit. Kang Soo dengan nada mengejek meminta maaf.
“Apa? Mana yang sakit? Biar aku yang akan meniupnya.” Ejek Kang Soo. Dan Ah ingin marah tapi saat itu seorang nenek masuk. Nenek Jung masuk mengetahui mereka yang belum makan. 

Tuan Jang dan Soon Ae langsung menghampirinya merasa Nenek Jung tak perlu membawakan untuk mereka. Nenek Jung membawa seolleongtang dan menyuruh mereka untuk Jangan keseringan makan yang berminyak. Tuan Jang lalu memperkenalkan Kang Soo sebagai pegawai pengantar baru dan Nenek Jung sebagai pemilik Hanyang Seolleongtang. Kang Soo pun memperkenalkan dirinya.
Mereka pun makan bersama dengan Kang Soo yang terlihat sangat lahap. Nenek Jung melihat Kang Soo yang makan dengan sangat menikmatinya. Kang Soo mengaku kalau Sup Nenek Jung memang sangat enak!
“Kenapa dengan wajahmu?Apa Kau berkelahi?” tanya Nenek Jung khawatir. Kang Soo mengelengkan kepala.
“Berapa kali Anda mengatur meja setiap makan siang?” tanya Tuan Jang. Nenek Jung pikir Tiga kali.
“Itu artinya, Anda akan jadi seorang yang kaya raya!” komentar Tuan Jang.

“Itu tidak masalah. Lagipula aku tak punya apa-apa setelah kugaji pegawaiku dan membayar uang sewa.” Kata Nenek Jung
“Ahh.. Benar... Satu-satunya orang yang menghasilkan uang  adalah si pemilik komplek perbelanjaan.” Komentar Soo Ae
“Lalu Siapa yang membeli semua kompleks perbelanjaan di wilayah kami? Kudengar mereka sudah menetralkan lokasi itu.” Ucap Nenek Jung.
Dan Ah mendengarkan pembicaraan para orang tua. Soon Ae juga ga tahu tapi menurutnya mungkin orang kaya. Saat itu Kang Soo ingin mengambil kimchi lobak tapi malah loncat dan jatuh diatas baju Dan Ah, dengan wajah panik meminta maaf mengambil tissue untuk menghapusnya, tapi malah tanganya di pelintir.

“Ow! Aku cuma mau menghapusnya untukmu!” ucap Kang Soo kesakitan.
“Tidak. Pasti dia berpikir kotor, makanya dia sengaja begitu.” Komentar Soon Ae. Kang Soo binggung karena memang ingin membersihkannya.
“Sikat dia.” Kata Soon Ae. Dan Ah pun menjatuhkanya. Soon Ae lalu dengan santai kalau ia hanya bercanda.
“Oh, nanti dia kesakitan! Apa Kau tidak apa-apa?” ucap Nenek Jung membantunya berdiri. Kang Soo mengaku baik-baik saja dan kembali duduk.


Tuan Lee sedang berkerja menerima telp dari pelayan dan kaget mengetahui kalau Ji Yoon sudah pulang. Ketika sampai dirumah, kamar Ji Yoon yang sudah berantakan. Pelayan rumah memberitahu kalau Ji Yoon sudah pergi lagi.
“Aku tadi pergi sebentar ke toko, lalu...” cerita Pelayan. Tuan Lee meminta agar segera membersihkan kamar saja dan jangan beri tahu istrinya. Pelayan menganguk mengerti.
Tuan Lee melihat ada sebuah note yang dituliskan Ji Yoon “Maaf, Ayah. Tapi, jangan khawatir.  Putri ayah jauh lebih kuat dari yang diduga.” Sementara Ji Yoon sudah duduk ditaman dengan semua barangnya, dengan bangga berkata kalau sudah "menyerang" rumah dengan baik yang membuatnya sangat mendebarkannya. 

Kang Soo masuk kamar dan dikagetkan dengan Ji Yoon sudah ada dikamar dengan barang-barngnya. Ji Yoon dengan bangga mengatakan sudah mandiri dan melakukan seperti yang Ahjussi katakan. Kang Soo langsung buru-buru menutup pintu. Ji Yoon pikis sudah melakukannya dengan baik.
“Apa Kau gila?” ucap Kang Soo. Ji Yoon pikir Tidak karena inilah saat paling waras yang pernah dialami sepanjang hidupnya bahkan juga mendapat pekerjaan.
“Aku telah menyelesaikan wawancara, dan menyelesaikan pelatihan 3 jam. Tempat kerjaku di kafe dekat sini. Ketika aku dapat gaji, maka aku akan bayar semua yang pernah kau lakukan padaku dan mencari asrama siswa atau sesuatu yang dapat kutinggali. Untuk sekarang aku boleh tinggal di sini, 'kan?” ucap Ji Yoon.
“ Cepat Keluar.. Benahi semua barangmu, dan keluarlah.” Ucap Kang Soo tak peduli. Ji Yoon tak percaya Kang Soo malah mengusirnya.
“Cepat keluar dari sini!” tegas Kang Soo. Ji Yoon pikir sudah mempercayai Kang Soo dan pergi dari rumah lagi!
“Kenapa kau memercayaiku, memangnya kapan kita saling kenal? Hah? Seusiamu itu kau sudah nekat begini, dan berani mencoba tinggal bersama seorang pria?” kata Kang Soo marah
“Bukannya kau seorang pria? Bagiku mungkin bukan. Terlepas dari kau pria atau bukan, tapi kau kelihatan seperti orang baik bagiku.” Ucap Ji Yoon yang masih polos.
“Tidak ada orang seperti itu. Tidak selamanya orang baik itu juga baik.” Tegas Kang Soo. Ji Yoon pun akhirnya memutuskan untuk pergi sambil menangis memberesakan barangnya. 


“Hei, kenapa kau menangis? Kau yang salah di sini!” kata Kang Soo hean. Ji Yoon mengaku tidak bisa menahannya.
“Lalu kau berencana ingin ke mana?” tanya Kang Soo terlihat merasa kasihan. Ji Yoon pikir itu bukan urusan Kang Soo.
“Kau.. Tolong pulang saja. Setidaknya aku akan baik padamu kalau kau lulus SMA. Tapi kau sekarang sudah kelas 2! Bagaimana kau bisa melakukan ini-itu, tanpa ijazah?” kata Kang Soo
“Apa Memang itu masalahnya? Karena aku masih kecil?” tanya Ji Yoon. Kang Soo membenarkan kalau itu masalah terbesarnya. Ji Yoon mengangguk mengerti. 

Kang Soo melihat paspor milik Ji Yoon seperti tak percaya ternyata umurnya memang 23 tahun. Ji Yon pikir dirinya berada di umur ketika tidak boleh manja pada orangtuanya, jadi harus hidup sendiri. Ia mulai menceritakan kalau Sepanjang hidupnya cuma diperlakukan seperti robot oleh ibunya.
“Hidupku dirancang untuk ibuku. Mulai dari TK berbahasa Inggris. Dan untuk kuliah, aku sangat ingin menjadi guru TK. Tapi aku harus belajar manajemen bisnis karena ibuku. Walau begitu, aku bertahan selama empat tahun. Tapi sekarang dia malah menyuruhku kuliah di luar negeri.” Cerita Ji Yoon.
“Dan ketika aku kembali, maka aku harus menikahi pria yang dia pilihkan untukku. Waktu itu aku sedang duduk di bandara, saat merasakan perasaan mencekik di dadaku. Air mata mulai turun dari mataku. Aku merasa ada yang tidak beres.” Ungkap Ji Yoon.
“Jadi, Apa kau lari dari bandara?” kata Kang Soo merasa tak percaya dengan bahasa baku. Ji Yoon heran mendengar Kang Soo yang berbicara sopan padanya.
“Maksudku, karena umurmu 23 tahun...” kata Kang Soo. Ji Yoon tak peduli meminta Kang Soo agar Bersikaplah seperti sebelumnya.
“Tapi... bolehkah aku memanggilmu "Oppa"?” kata Ji Yoon mengoda. Kang Soo langsung melarangnya karena tidak suka dan Jangan berani, seperti tak suka semenjak Dan Ah yang melakukanya.
“Bukankah kebanyakan pria, suka dipanggil begitu?” pikir Ji Yoon. Kang Soo tetap tak suka mendengarnya.
“Memang, Ahjussi adalah orang yang baik di mataku. Semuanya sudah selesai, 'kan? Kalau begitu, selamat malam. Aku juga harus tidur lebih awal, karena besok aku harus kerja.” Kata Ji Yoon akan pergi.
“Hei, dengarkan aku! Pergilah jam 7 pagi, dan jangan kembali sebelum jam 11 malam. Mengerti? Kalau tidak, kau akan tertangkap.” Tegas Kang Soo. Ji Yoon mengangguk mengerti. Kang Soo mengeluh dengan keadaanya sekarang. 



Dan Ah melepaskan helm sambil melepaskan pundaknya, berkata Satu-satu harapannya cuma ingin tidur minimal 6 jam, lalu akhirnya mencoba menegaskan kalau nanti mati pasti bisa tidur kapan saja dan mencoba semangat.
Akhirnya Dan Ah berkerja membereskan semua ruangan kelas dengan memasukan semua sampah dan juga papan tulis yang sudah kotor, ia juga mengelap kaca kamar mandi yang sudah ditulis oleh anak murid “ I Haet English”
“Kalau kau tidak suka bahasa Inggris, setidaknya jangan belajar lagi di sini! Jangan nekat menulis ini di sini! Aigoo, anak-anak jaman sekarang.” Keluh Dan Ah setelah membereskan dan duduk dalam kelas yang bersih dengan keringat.
“Ah, pasti sulit dapat kelas secara gratis.” Ungkap Dan Ah dan bisa tersenyum menatap ponselnya karena sebentar lagi tabungan akan cukup untuk pergi. 

Ponselnya berdering, ibunya menelp dengan kesal Dan Ah mengangkatnya. Dan Ah terlihat kesal karena Ibunya ungkit masalah biaya kuliah adiknya. Ibu Dan Ahn meminta maaf, Tapi sekarang mereka yang  tidak punya uang sama sekali jadi Tolong bantulah sekali ini saja, karena itu adalah adiknya.
“Tidak. Kalau tidak punya uang, setidaknya suruh dia berhenti sekolah. Bahkan menyematkan gelar sarjana pun, akan susah cari kerja sekarang ini.” Ucap Dan Ah ketus.
“Jangan seperti itu, Ibu mohon padamu. Kau punya banyak uang tabungan, 'kan?” ucap Ibu Dan Ah.
“Kubilang tidak! Memang Ibu pikir uang tabunganku itu hanya untuk disumbang? Apa Ibu tidak berpikir aku selalu menderita cuma mau mencari uang?” kata Dan Ah dengan nada tinggi.
“Baiklah! Kalau menjual organ Ibu sekalian, aga bisa bayar!” kata Ibu Dan Ah. Dan Ah pun menyuruh melakukanya. Ibu Dan Ah mengumpat anaknya yang kurang ajar. Dan Ah pun berusaha untuk tak memikirnkan. 

Pelajaran bahasa inggris pun dimulai, Dan Ah serius mendengarkan gurunya, Sementara Dan Ah disibukan dengan ibunya yang terus mengirimkan pesan “Ibu akan dioperasi sekarang.  Ibu memutuskan untuk menjual ginjalku. Ibu di mobil sekarang.” Dan Ah tetap tak peduli seperti memiliki rasa dendam.
“Astaga!  Mereka bahkan tidak memberikan anestesi, tapi perut mereka malah membeku!” Dan Ah menutup ponselnya berpura-pura tak membacanya. Sampai akhirnya keluar dari kelas ponselnya berdering dan langsung mengomel, tapi ternyata bukan ibunya yang menelp.
“Haruskah kau menerima telepon seperti ini?” ucap suara wanita di telp. Dan Ah binggung siapa yang menelpnya.
“Ini Bibi pemilik rumah.  Dasar, kau bahkan tidak menyimpan nomorku? Temui aku sebentar.” Kata Bibi pemilik. 

Dan Ah menemui si bibi tak percaya kalau akan menaikkan uang sewa lagi. Si Bibi mengaku kalau Harga properti di wilayah ini meningkat tajam. Bahkan perusahaan konstruksi baru datang ke kota ini dan karyawan berebut berkeliling mencari rumah.
“Kurasa harga 500.000 Won masih bisa disewakan. Kenapa Anda bisa menaikkannya jadi 600,000 Won saat kereta bawah tanah dekat sini cuma 20 menit jaraknya?” ucap Dan Ah menyela
“Apa maksudmu, 20 menit? Kalau aku bisa 10 menit ke sana!” kata Bibi. Dan Ah langsung mengejak si bibi itu sopir truk.
“Dasar kau ini! Kalau kau tidak suka, pindah saja dari sini. Aku tidak mau memperpanjang masalah lagi.” Kata si bibi berjalan pergi.
“Anda ini lambang dari Hell Joseon. Anda menjual moral Anda sendiri untuk membeli 10 rumah, kan?” ejek Dan Ah. Si bibi menegaskan kalau bisa mendengarnya
“Ya, aku bilang begini supaya Anda dengar! Aku selalu bekerja mati-matian demi menyerahkan sebagian penghasilanku untuk bayar uang sewa sementara Anda tidak berbuat apa pun dan hanya ambil uangku karena Anda yang punya rumah ini! Aku bilang begini karena aku kesal! Kenapa? ApaAku salah?” tegas Dan Ah. Si bibi menahan amarah lalu pergi sambil mengedumel.
“Aigoo, jika saja dia tidak handal berkelahi, aku akan... Kenapa aku menerima penyewa seperti dia?” ucap Si Bibi lalu beranjak pergi.
Dan Ah naik ke depan rumah lalu memasukan pengeluaran, 100ribu won dan harinya berkurang banyak dan lebih banyak lagi, dari D-193 menjadi 201.


Ji Yoon sudah pakai baju seragam kerja merasa kalau seperti mimpi, bahkan tidak menyangkapunya pekerjaan dan suka seragam ini karena Cocok sekali. Ia pun ingin cepat-cepat memperlihatkan pada Ahjussi.  Ia pun sudah ada didepan kasir dengan Managernya.
“Selamat Datang di Coffee World! Kuberitahu sekali lagi, tidak peduli yang terjadi, kau harus bersikap baik. Kalau kau ikut ribut dengan pelanggan karena sikap mereka kasar, kau akan dipecat. Mengerti?” kata Manager. Ji Yoon mengangguk mengerti dengan penuh semangat.  Manager pun keluar karena ada yang harus dikerjakan.
“Oh, aku tidak sabar menunggu pelanggan pertamaku!” ucap Ji Yoon penuh semangat.
Dua teman yang melihat Ji Yoon penuh semangat, seperti tahu kalau  Ini kerja paruh waktu pertamanya, Teman yang lain pun melihat Ji Yoon yang punya semangat yang tinggi.

Jin Kyu datang memesan satu kopi americano, yang hangat serta tuangkan dalam cangkir dan tidak punya kupon hadiah. Ji Yoon menghitungnya kalau totalnya 4.500 Won. Ji Kyu memberikan kartu kreditnya. Ji Yoon pun meminta pelangaan pertamanya untuk duduk.
“Bukannya kita pernah bertemu sebelumnya?” ucap Jin Kyu yang mengenali wajah Ji Yoon. Tapi Ji Yoon seperti lupa dengan wajah Jin Kyu
“Benar... itu Memang kau. Kau yang menginjak mobilku, kan?” kata Jin Kyu. Ji Yoon terkejut karena Jin Kyu bisa mengenalinya.
“Ya, kelihatannya kau sangat bersalah.” Komentar Jin Kyu. Tapi Ji Yoon berusaha mengelak kalau Jin Kyusalah orang dan baru saja datang ke wilayah ini.
“Maafkan saya. Saya tidak berniat ingin membuat Anda marah. Ini pertama kalinya saya bertemu dengan Anda.” Ucap Ji Yoon meminta maaf berkali-kali    
“Ugh, aku memang bodoh karena tidak punya bukti apa pun.” Kata Jin Kyu. Ji Yoon merasa tak enak dan kembali meminta maaf. Ji Kyu berteriak membuat semua orang menatapnya.
“Hentikanlah... Kau malah membuatku ingin muntah” ucap Ji Kyu. Ji Yoon kembali meminta maaf. Akhirnya Ji Kyu duduk dengan tatapan terus mengarah apda Ji Yoon.
Ji Kyu mengambil gelas dengan tangan gemetar dan ingin membuat kopi. Si pegawai pria bertanya pada seniornya ada apa dengan Ji Yoon. Si Senior mengaku tak tahu, tapi menurutnya Ji Yoon sopan sekali. 


Tuan Jang mengasah pisau, lalu meminta Dan Ah agar mengambilkan obeng  dari penyimpanan di lantai 2. Dan Ah pun mengambil kunci ke lantai dua, tapi tak bisa mengambil membuka pintu kamar lainya, lalu berpikir ada ada obeng di tempat lainnya.
“Wow, apa yang dia sembunyikan hingga pintunya terkunci begini?” keluh Dan Ah ingin membuka pintu Kang Soo, lalu membuka dengan kunci. Tapi saat dibuka matanya melonggo melihat banyak baju dan barang-barang wanita.  Ia membayangkan Kang Soo yang memilih baju wanita.
“Harusnya aku tidak mempekerjakannya. Aku harus memecatnya.” Ucap Dan Ah ingin bergegas keluar
“Ah... Aku tidak punya waktu untuk ini, saat aku sibuk mengurusi masalahku sendiri!” ucap Dan Ah saat keluar dari kamar Kang Soo. 

Papan nama  [Presdir Restoran Keluarga Jung Jung Hye Ran]  Nyonya Jung sedang memeriksa berkas. Sekertarisnya memberitahu kalau orang itu  memiliki kehidupan pribadi yang relatif bebas, lalu Kerjanya hanya menggandeng wanita saat minum. Dan tidak pernah menyentuh ganja atau lebih banyak obat-obatan.
“Apa hobinya?” tanya Nyonya Jung, Sekertarisnya memberitahu yaitu Balapan mobil.
“Dia suka balapan dengan sesama ahli waris dan selalu bertaruh sekitar 10 atau 20 juta won. Dia biasanya menang balapan. Dia sangat kompetitif, dan tidak suka dengan kekalahan.” Cerita Sekertaris
“Kapan dia biasanya balapan?” tanya Nyonya Jung.
“Dia biasanya berlomba di pinggiran kota Seoul, di waktu larut malam.” Kata Sekertaris. Nyonya Jung memerintahkan agar mengambil foto lagi.  Sekertarisnya mengangguk mengerti lalu keluar ruangan.
“Sepertinya dia berguna. Dia akan menjadi sangat hebat, dengan sedikit sentuhan hasil.” Kata Nyonya Jung melihat foto wajah Jin Kyu. 


Ji Kyu sibuk minum dengan terus menatap ke arah Ji Yoon, saat menghabiskan kopi dengan wajah penuh amarah memanggil pegawai. Dua pegawai menyahut, Jin Kyu menunjuk kalau ia memanggil Ji Yoon. Ji Yoon kaget dirinya kembali di panggil dan buru-buru menghampiri dengan wajah ketakutan.
“Kau Lihat? Apa ini? Memangnya ini biji kopi?” ucap Ji Kyu memperlihatkan anting yang ada didalam gelasnya. Ji Yoon kaget dan langsung meminta maaf.
“Wow, kau malah mengacaukanku. Haruskah aku minum kopi yang ada anting-antingmu?” kata Ji Kyu sinis. Ji Yoon hanya bisa meminta maaf dan akan ganti yang baru.
“Aku sudah tidak berselera.... Panggil sekalian manajermu.” Kata Jin Kyu. Ji Yoon makin panik kembali meminta maaf. 

Saat itu managernya datang dan langsung di panggil oleh Jin Kyu. Managernya bertanya ada apa. Jin Kyu pikir bisa dengar langsung darinya. Managernya pun bertanya apa yang terjadi. Ji Yoon menceritakan pelanggan ini tiba-tiba memanggilnya sambil minum kopi Dan bilang ada anting-anting di kopinya.
“Terus di mana anting-antingnya?” tanya si Managernya. Ji Yoon mengaku tidak tahu. Jin Kyu kebingungan mencari anting yang sudah hilang diatas meja dan melihat sudah ada di telinga Ji Yoon. Ia bisa membayangkan saat itu Ji Yoon yang buru-buru memasang antingnya.
“Saya tidak melihat  anting-antingnya di sini.” Ucap Manager. Ji Yoon juga mengaku binggung dengan yang sudah dilakukanya.
“Hei, Kau amat lucu hingga membuatku gila begini. Perlihatkan aku rekaman CCTV-nya.” Ucap Jin Kyu marah sambil mengebrak meja.
“Maafkan saya, tapi sekarang kami sedang upgrade ke 16 jaringan. Jadi tidak ada yang terekam sekarang.” Kata Manager. Ji Kyu berteriak kesal kalau keadaanya membuat gila.
“Katakan padanya kalau kau memasang anting-antingmu saat aku bicara tadi! Dan kau malah berbohong padaku! Cepat!” teriak Ji Kyu. Semua pelanggan menatap heran.
“Dengar , kau nanti akan mendapat balasannya. Aku bisa menghancurkan hidupmu jika aku memikirkannya! Sekarang ini aku sedang bete dan kesal!” teriak Jin Kyu meluapkan amarahnya.
“Ya, saya mengerti.Saya... menjatuhkan anting-anting saya ke kopi pelanggan ini. Dan saat dia berbalik, aku, dengan secepat kilat...dengan secepat kilat, aku... aku memasang kembali anting-antingku, dan aku berbohong juga!” ucap Jin Yoon sambil menangis. 
Jin Kyu merasa kalau yang ucapkan itu benar,  Manager menatap sinia begitu juga pelanggan yang lainya. Jin Kyu binggung dengan situasi ini padahal mereka mendengarnya, kalau Jin Yoon yang mengatakannya sendiri.
“Yah... sudah mendengarnya dengan jelas. Tolong pergilah. Pergilah!” Ucap Si manager membela Jin Yoon.

“Tidak, itu tidak benar. Hei, kau tidak mau mengakuinya? Apa Kau sungguh ingin bertarung denganku?” kata Jin Kyu makin kesal.
Jin Yoon langsung berlutut meminta maaf pada Jin Kyu sambil terus menangis. Beberapa orang langsung merekam dengan ponselnya. Ji Kyu berteriak agar mereka Jangan berlebihan Manager kembali dengan hormat meminta Jin Kyu pergi sekarang. Jin Kyu menegaskan kalau bukan salahnya dan meminta agar Jangan merekany.
“Baiklah. Itu tadi menyenangkan, 'kan? Akan kuingat kau sekarang. Aku akan menemuimu lagi.” Ucap Ji Kyu lalu pergi dengan wajah kesal.
Ji Yoon masuk ke ruang ganti menggusap wajahnya, sambil memuji dirinya yang kalau tadi aktingnya bagus sekali, menurutnya Dunia adalah hutan jadi harus bertahan. Ia pun memohon agar pelanggannya tetap tenang dan melupakan semuanya.

Jin Kyu meluapkan amarahnya dengan menendang semua barang-barang di bengkel. Semua temanya binggung karena Jin Kyu yang tiba-tiba marah. Nyonya Jung Sook, Ibu Jin Kyu binggung karena Nyonya Jung Hye Ran ingin memperkenalkanya. Nyonya Jung pikir, Ji Yoon yaitu anaknya akan sangat cocok untuk putra Jung Sook.  Ibu Jin Kyu mengaku tidak tahu tentang itu.
“Kenapa? Apa Itu mengecewakanmu? Apa karena kami tidak sebaik dirimu?” kata Nyonya Jung. Jung Sook pikir tak seperti itu.

“Aku hanya tidak ingin kehilangan teman sepertimu, CEO Jung. Dia mungkin putraku, tapi dia tak tertahankan.” Kata Jung Sook
“Sudah waktunya dia dewasa, kan? Biarkan kita perkenalkan mereka. Kalau kau bisa kenalkan dia, maka aku akan mengajarinya bagaimana menjalankan bisnis juga.” Kata Nyonya Jung menyakinkan. Jung Sook seperti sumringah mendengarnya.
“Ya, aku akan mencoba membesarkannya menjadi pengusaha yang cerdas. Kurasa putriku tidak cocok untuk jadi pengusaha dan menantuku harus mewarisi perusahaanku sendiri.” Jelas Nyonya Jung. Jung Sook pun terlihat mulai menyetujuinya.
“Oh, terima kasih karena telah bermurah hati padanya. Tapi tetap saja, kata-katamu itu lebih dari cukup. Dia tidak mau.” Pikir Jung Sook.

“Dia pasti mau. Lagipula, dia itu putra ketua, jadi  Dia ada darah sedikit dari ayahnya.” Kata Nyonya Jung. 
Jung Sook seperti terlihat gugup merasa tak mungkin. Nyonya Jung pikir temanya itu bisa mempertimbangkan lagi. Jung Sook hanya bisa diam saja dengan berusaha untuk tetap tersenyum. 


Kang Soo dan Dan Ah saling membantu menempelkan brosur. Dan Ah pikir  pelanggan mengira orang yang bekerja di restoran jjajangmyeon hanya sebagai tukang antar makanan dan bisa beristirahat jika tidak diperintahkan melakukan ini-itu. Kang Soo pikir seperti itu.
“Kita harus mengupas bawang di pagi hari, dan memasang selebaran di sore hari. Mereka tidak tahu kalau kita itu tidak pernah bisa istirahat.” Cerita Dan Ah. Kang Soo memang bisa saja. Dan Ah mengingat kejadian sebelumnya.
“Kurasa aku agak kasar padamu saat kita melakukan pekerjaan berat seperti ini... Maaf..” kata Dan Ah seperti bisa merendahkan diri. Kang Soo binggung melihat sikap Dan Ah yan baik bertanya apa sebenarnya yang terjadi. Dan Ah mengaku tak ada yang terjadi.
“Ada yang tidak beres.” Komentar Kang Soo. Dan Ah mengaku sebenarnya orang yang baik, hanya suka kelewatan sebelum mengenal rekan kerjanya.
“Yah, begitulah. Tidak ada yang begitu buruk, saat kau mengenal mereka. Mulai sekarang, kita saling akrab saja.“Komentar Dan Ah mencoba menyakinkan dengan mengajak jabat tangan. 

Kang Soo pun menjabat tangan, Dan Ah pikir harus jaga rahasia di antara mereka. Kang Soo binggung apa maksud rahasia. Dan Ah menjelaskan setiap orang punya rahasia sendiri. Kang Soo pikir Bukan dirinya. Dan Ah menyakinkan kalan kalau Kang Soo itu punya rahasia. Kang Soo memikirkan lalu mengaku kalau memang ada.
“Yah, aku...jauh lebih baik darimu.” Ucap Kang Soo bangga. Dan Ah tak bisa menahan amarahnya meminta agar Kang Soo berhenti membuatnya kesal.
“Hah? Kupikir kau sebenarnya orang baik.” Komentar Kang Soo. Dan Ah mengelengkan kepala kalau  itu hanya berlaku saat mereka saling jujur. Kan Soo meminta agar Dan Ah agar mengatakan saja daripada menahanya.
“Baiklah, aku akan mengatakannya... Ada banyak pakaian cantik di kamarmu.” Ucap Dan Ah. Kang Soo melonggo kaget sampai menjatuhkan semua brosur yang ada ditanganya.
Kang Soo ingin menjelaskan tapi, Dan Ah pikir tak masalah dan tidak perlu dijelaskan, serta akan menepati janjinya. Kang Soo seperti tak percaya. Dan Ah. Dan Ah pikir bisa mengAnggap saja drnya sebagai brankas dan Rahasia Kang di dalamnya akan aman lalu Upahnya bisa saja naik menjadi 100.000 Won. Kang Soo melongo binggung
“Bukankah itu masih sedikit, mengingat rahasiamu itu?” kata Dan Ah menepuk pundak Kang Soo lalu dengan wajah bahagia memasukan kembali uang 100ribu won dan waktu kembali seperti semula. Kang Soo hanya menatapnya.

Dan Ah akan pulang tiba-tiga Tuan Baek menghadangnya, lalu bertanya siapa. Tuan Baek meminta maaf karena mengejutkannya, lalu memperkenalkan diri yaitu Baek Gong Gi dari Holy Noodles dan mengajak agar mereka bisa jalan sambil bicara. Dan Ah hanya diam saja melihat Tuan Baek berjalan. Akhirnya Tuan Baek kembali mendatangi Dan Ah.
“Kalau begitu aku bicara saja denganmu di sini. Aku akan katakan karena ini sudah waktunya bagiku. Tapi saat kau pertama kali datang ke wilayah kami, orang-orang kadang menyematkanmu sebagai target mereka. Tapi aku menyuruh mereka berhenti! Kami cuma membiarkan wanita dan anak kecil saja.” Ucap Tuan Baek dengan mengebu-gebu.
“Apa Kau ini pembunuh?” ejek Dan Ah dengan tawanya. Tuan Baek menahan amarah. Dan Ah pun menyuruh Tuan Baek kembali bicara.

“Aku akan lanjutkan yang kukatakan. Aku selama ini telah melindungimu, Dan Ah. Tapi, aku percaya kalau kau sudah berada dalam bahaya.” ucap Tuan Baek. Dan Ah meminta agar Tuan Baek mengatakan dengan jelas supaya bisa dimengerti.
“Berhati-hatilah, Dan Ah. Pria yang selalu bersamamu itu tidak normal!” ucap Tuan Baek. Dan Ah mengaku sudah mengetahuinya.
“Ya, benar... Aku tahu dia itu gila.” Kata Dan Ah. Tuan Baek tak percaya kalau Dan Ah sudah mengetahuinya.
“Tapi, kau kelihatan begitu tenang dan Sopan sekali. “ pikir Tuan Baek heran 

 “Sudah cukup. Aku mengatakan ini karena kau bilang selalu memperhatikanku. Tapi, surat kami menghilang Apa Kebetulan kau menerimanya?” kata Dan Ah curiga.
Tuan Baek mengelengkan kepala,  Dan An pun menanyakan Bagaimana tahu namanya. Tuan Baek binggung menjelaskanya. Dan Ah pikir kalau Tuan Baek juga yang mencuri pakaian dalam yang sebelumnya, Tuan Baek memilih untuk segera pamit pergi saja.
“Hei.. Berhenti di situ! Berbalik! Sekarang Ikuti aku.” Teriak Dan Ah.
Bersambung ke part 2

FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar