Senin, 04 September 2017

Sinopsis Strongest Deliveryman Episode 10 Part 1

PS : All images credit and content copyright : KBS
Kang Soo dkk berjalan deng jas dan kacamata hitam, dua suami istir melihat mereka smeua tukang antar jjajangmyeon tapi kenapa mereka berpakaian seperti itu. Si istri pikir mereka mau pergi ke pemakaman atau apapun itu dengan pakai jas. Kang Soo dkk menemui pemilik restoran yang memecat Tuan Baek dkk.
“Kami membuat perusahaan khusus jasa kurir. Kami menerima biaya 2.000 Won per pengiriman” ucap Kang Soo. Si Pemilik terlihat binggung dengan bayaran.
“Kurasa Anda menyadari kalau harga ini memang wajar mengingat kita juga akan mengambil mangkuk tiap harinya. Itu benar, tapi ... Akan lebih mudah bagi Anda daripada memberi kami upah tiap bulannya. Itu juga akan sulit bagi Anda untuk menggaji kami saat bisnis Anda sedang ada masalah.” Jelas Kang Soo
“Sajang-nim.. Kalau Anda ingin bekerja samadengan kami, maka kami akan mengupas bawang untuk Anda dan mencuci piring Anda secara gratis!” ucap Tuan Baek. Si pemilik terlihat masih memikirkanya dan ragu.
“Kami dengar bisnis Anda tidak berjalan lancar dan tidak bisa mencari pegawai baru. Serahkan pada kami. Kami akan membalas Anda atas apa yang telah kami lakukan terhadap Anda.” Kata Kang Soo menyakinkan.
Sebuah tanda berada di depan pintu restoran   [Afiliasi Strongest Deliveryman: Restoran ini dilengkapi jasa pengiriman dari perusahaan SD] Kang Soo dan pemilik saling berjabat tangan dan Min Chan mengambil foto tanda kesepakatan. 


Tuan Kim dan temanya akan pergi mencari restoran, lalu dibuat panik saat melihat Kang Soo dkk berjalan berjejer dan bertanya-tanya, mereka itu genk dari mana. Anak buahnya mengaku tak tahu, tapi Tuan Kim merasa Mereka terlihat sangat familiar dan harus cepat menghindarinya.
Kang Soo pun kembali mendapatkan banyak restoran yang ingin berkerja sama dengan perusahaan mereka, dan mereka bergantian untuk mengambil foto bersama. Didepan toko pasti ada gambar logo [Afiliasi Strongest Deliveryman: Restoran ini dilengkapi jasa pengiriman dari perusahaan SD]
Saat itu beberapa anak kecil berjalan melewati Kang Soo Dkk, walaupun wajah sangat mereka memegang pipi si anak yang terlihat gemas, bahkan Tuan Baek memberikan ciuman di pipi. Si tiga anak kecil binggung melihat tingkah para pria.

Nenek Jung pun menerima logo  [Afiliasi Strongest Deliveryman: Restoran ini dilengkapi jasa pengiriman dari perusahaan SD] dengan Kang Soo yang menempelkanya.
“Mulai besok, kalian akan digaji setelah mengantarkan pesanannya!” kata Nenek Jung. Kang Soo seperti tak begitu berharap lalu mengajak semua untuk pergi. Nenek Jung tak habis pikir dengan mereka yang terus membantu. 


Di restoran
Dan Ah terlihat kaget. Tuan Jang memberitahu Mereka itu.telah memutuskan untuk memercayakan pengiriman kami pada perusahaan Kang Soo karena hanya menagih sekitar 1.000 Wo Dan sebagai gantinya, mebiarkan mereka memakai ruang penyimpanan lantai atas sebagai kantor mereka.
“Lalu... bagaimana denganku?” tanya Dan Ah bingung. Tuan Jang dengan sangat mengatakan kalau Dan Ah dipecat. Dan Ah mengeluh dengan sikap Tuan Jang.
“Maaf... Tapi kami ini juga pebisnis. Jadi Mana bisa kami menolaknya, ketika mereka menawarkan diskon 50 persen? Cari saja pekerjaan lain.” Ucap Soon Ae. 


Kang Soo dkk akhirnya datang,  mereka menyapa Tuan Jang dan juga Soon Ae. Dan Ah melirik sinis pada Kang Soo karena membuatnya dipecat. Kang Soo memberikan kartu nama dengan memberitahu mereka mencari karyawan baru jadi berHarap bisa berkerja sama. Dan Ah yang kesal langsung menendang kaki Kang Soo.
“Dan Ah , apa yang kau lakukan pada Presdir kami?” ucap Tuan Baek membela dan beberapa yang lainya terlihat khawatir melihat keadaan Kang Soo, bahkan layaknya pengawal Presiden meminta agar memanggil bagian Medis.
“Kalian keluar!” ucap Dan Ah mengusir. Soon Ae menyuruh Dan Ah yang keluar karena sudah dipecat.
“Kau akan mendapat gaji pokok sekitar 2.3 juta Won per bulan tapi jumlahnya bisa berubah setiap bulan tergantung keadaan tertentu. Dan perusahaan kami menawarkan asuransi kepada pegawai.” Ucap Kang Soo. Dan Ah ingin kembali memukul dan semua langsung melindunginya.  Kang Soo dengan senyuman memberikan gaya imutnya, Dan Ah pun tak bisa bersikap apa-apa. 


Di lantai atas, sudah dijadikan seperti ruangan kerja. Dengan Motto Perusahaan: Jadilah orang yang baik, Strongest Deliveryman. Min Chan akan memulai rapat perdana perusahaan publik Strongest Deliveryman. Semua pun tepuk tangan dengan wajah bahagia. Dan Ah ikut duduk dengan wajah malas.
“Baiklah, aku akan jelaskan seluk beluk perusahaan kita dulu. Perusahaan kami ini memiliki tukang antar sekitar 381 orang, termasuk Kang Soo, di mana semuanya menyumbang 100.000 won untuk membantu kami mengembangkan perusahaan ini. Itu termasuk Dan Ah juga.” Ucap Min Chan
“Apa? Siapa yang bilang?” ucap Dan Ah mengeluh kesal
“Itulah aturan di perusahaan kami. Mereka yang bekerja di perusahaan kami itu menganggap dia adalah pemiliknya. Kami mungkin mengurangi 100.000 won dari gaji pertama Anda.” Jelas Min Chan. Dan Ah mengumpat Kang Soo itu gila.
“Mohon hormatlah pada orang di depan Anda. Dia adalah Presdir perusahaan kami! Dia adalah pemimpin kita, dan... ” Kata Tuan Baek,  Dan Ah hanya melirik sinis membuat Tuan Baek sedih
“Um, terserah dari yang Anda mau, istri Presdir” kata Tuan Baek. Min Chan pun akan melanjutkan kembali.
“Presdir kami adalah Choi Kang Soo. Dan Gong Gi, adalah Direktur, lalu aku auditor keuangan. Tapi tentu saja, kami melakukan pekerjaan yang sama Dan gaji kami juga sama.” Kata Min Chan

Byung Soo ingin diberikan jabatan, Tuan Baek mengataakn Byung Soos sebagai  Wakil Kepala. Byung Soo terlihat bahagia. Ho Young tak ingin kalah, meminta jabatan juga Tuan Bae memberi jabatan Ho Young jadi Kepala Seksi. Young Taek juga ingin memilikinya, Tuan Baek memberi jabatan Deputi.
“Senioritasmu tergantung pada siapa yang lahir lebih dulu.” Kata Tuan Baek. Young Tae mengumpat karena seharusnya lahir bulan Januari.
“Kalau begitu, Aku akan jadi notulis di setiap rapat dan menyerahkan pendaftaran bisnis kami. Sekarang, sambutan dari Presdir kami.” Kata Min Chan. Kang Soo pun siap memberikan sambutan perdana. 


“Pertama, terima kasih telah mempercayaiku dan melakukan ini bersamaku. Melakukan ini telah menjadi impianku sudah lama sekali. Setiap kali aku memasukkan kotak makanan dalam kontainer dan menyalakan motorku, maka aku menunggu saatnya tiba.” Ucap Kang Soo. Dan Ah mendengar dengan tatapan seperti tak menyangka Kang Soo bisa bicara layaknya Presdir.
“Kami bukannya melakukan kejahatan atau semacamnya tapi terkadang orang-orang memandang rendah kami hanya karena kami mengantar makanan. Tapi pekerjaan kami sulit, dan kami bahkan tidak mendapatkan uang pensiun Atau biaya asuransi.” Cerita Kang Soo.
“ Itu sebabnya semua orang berpikir, "Aku akan tetap bertahan dan kemudian aku harus berhenti." Aku sangat tidak suka bagian itu. Aku percaya kalau kalian juga punya mimpi, bahkan saat kalian jadi tukang antar. Bermimpi untuk bekerja, dan bersiap untuk menikah, lalu berencana untuk memiliki rumah sendiri.” Ucap Kang Soo.
“ Tidak selalu bekerja di perusahaan bagus yang memiliki mimpi. Kami semua juga memiliki mimpi itu esok hari Dan aku ingin perlihatkan pada dunia. Itu sebabnya aku mulai membuat perusahaan ini. Jadi mari kita semua tetap berusaha! Buatlah perusahaan kami berkembang lebih besar dan mendapatkan teman-teman kami yang lain juga. Masih tersisa 374. Atau bahkan lebih dari itu. Mari kita buat mimpi mereka jadi kenyataan.” Jelas Kang Soo memberikan semangat.
Young Tae mendengar pidato Kang Soo merasa terharu dan ingin menangis, Ho Young menyuruh diam karena menurutnya itu tak sama, Byung Soo pun meminta mereka tak bertengkar. Kang Soo pun mnegajak mereka mengembalikan pakaian yang di pinjam dan mulailah bekerja. Tuan Baek mengajak mereka bersorak dan berdiri bersama tanpa Da Ah.
“Semoga sukses untuk perusahaan "Strongest Deliveryman!"” teriak Kang Soo dan mereka pun berteriak sukses. Lalu segera keluar dari ruangan untuk berganti pakaian dan mulai berkerja. 


“Kalau ada yang ingin kau katakan, katakan saja.” Ucap Kang Soo melihat Dan Ah seperti menyembunyikan sesuatu
“Memangnya kau akan dengar yang kukatakan? Bekerja keraslah.” Kata Dan Ah dengan nada sedikit sinis.
Kang Soo menganguk mengerti lalu memberitahu akan pergi menemui Ji Yoon sebentar karena Sudah lama melihatnya. Dan Ah bertanya kenapa Kang Soo mengatakan hal itu padanya, dengan sikap seolah tak peduli.  Kang Soo memberitahu kalau tidak menganggap Ji Yoon itu  wanita.
“Lalu apa dia itu laki-laki?” kata Dan Ah dengan nada cemburu. Kang Soo malah tersenyum melihatnya. Dan Ah heran Kang Soo malah tertawa melihatnya.
“Karena kau lucu dan Aku akan kembali.” Ucap Kang Soo mencubit pipi Dan Ah yang cemburu lalu berjalan pergi. Dan Ah kesal sambil memegang pipinya. 


Kang Soo menemui Ji Yoon menanyakan kabarnya. Ji Yoon pikir Kang Soo tak perlu peduli dan Kenapa tiba-tiba datang mengenakan setelan jas. Kang Soo ingin menjelaskan tapi disela oleh Ji Yoon. Ji Yoon pikir Kang Soo tak perlu mengatakan karena tidak penasaran sama sekali.
“Kenapa kau kemari?” tanya Ji Yoon. Kang Soo mengaku  hanya penasaran.
“Kudengar kau bertemu dengan Dan Ah... Maafkan aku.” Ucap Kang Soo
“Itu bukan sesuatu untuk kau maafkan.” Kata Ji Yoon Sinis
“Tetap saja aku mau melakukanya. Maaf karena telah membuatmu kesal. Kau juga orang dewasa, tapi aku malah selalu memperlakukanmu seperti anak kecil.” Kata Kang Soo. Ji Yoon heran ingin tahu apa maksudnya.
“Apa Kau... suka padanya?” tanya Ji Yoon memberanikan diri. Kang Soo membenarkanya. Ji Yoon makin kesal merasa seharusnya tidak bertanya.
Kang Soo ingin bicara, tapi Ji Yoon pikir tak perlu lagi bicara dan sudah mengerti sekarang  jadi meminta untuk pergi. Kang Soo akan perg dan menyuruh Ji Yoon kembali berkerja. Ji Yoon tiba-tiba menahan Kang Soo dan mengambil gambar dari ponselnya. Kang Soo binggung apa yang dilakukan Ji Yoon.
“Kau hanya terlihat keren. Kau keren memakai setelan jas.” Ucap Ji Yoon bangga memperlihatkan foto Kang Soo

“Hei, jangan seperti itu., Kau malah mempersulit diri.” Kata Kang Soo. Ji Yoon pikir Kang Soo tak perlu peduli karena Itu keputusannya. Kang Soo berteriak marah, Ji Yoon malah berpura-pura bertanya ada apa.
“Haruskah kau seperti ini? Aku akan marah padamu!” kata Kang Soo
“Jadi Apa lagi yang harus kulakukan? Aku terlanjur menyukaimu. Dan kau tetap kelihatan keren, meski kau suka dengan wanita lain” ucap Ji Yoon
“ Ini malah membuatku kesal!” ungkap Kang Soon. Ji Yoon pikir itu bagus karena ia pun juga marah karena Kang Soo jadi harus juga mencoba merasakannya.
“Lihat saja... Aku tidak akan menyerah padamu... Choi Kang Soo... Aku memilikimu.” Ucap Ji Yoon lalu kembali masuk ke cafe. Kang Soo pikir Ji Yoon itu memang gila.
Saat itu Dan Ah menelp. Dan Ah mengeluh Kang Soo yang belum juga datang dan lama sekali  mengobrolnya, padahal berpikir cuma mampir saja. Kang Soo mengerti akan segara datang, setelah menutup telpnya mulai mengeluh pada wanita seperti mengejar-ngejarnya membuat pusing. 

Ji Yoon menatap foto Kang Soo dengan sangat yakin  pasti akan jadi miliknya, menurutnya  Itu bukan ibarat gol yang tidak bisa dicetak karena ada kiper. Jin Kyu hanya heran merasa  tidak yakin dengan kemauan JI Yoon  sendiri dan menurutnya Cinta bertepuk sebelah tangan itu sulit, bahkan Kiper bukanlah masalahnya.
“Meski kau telah menghadangnya, maka kau tetap bisa membuat golmu sendiri.” Ucap Jin Kyu
“Apa Kau ini menyuruhku menyerah?” ucap Ji Yoon kesal. Jin Kyu mengatakan bukan seperti itu
“Aku hanya menyuruhmu untuk siap menjadi sengsara.” Kata Jin Kyu. Ji Yoon mengejek Jin Kyu yang  bicara seolah-olah sangat hebat meski belum pernah menyukai seseorang sebelumnya.
“Baiklah, akan kututup mulutku!” kata Jin Kyu kesal. Ji Yoon makin mengoda bertanya apakah Jin Kyu marah. Jin Kyu mengelak. Ji Yoon melihat Wajah kelihatannya marah.
“Itu ekspresi wajah seperti apa? Apakah Memang hidung sebelah kiriku lebih besar dari hidung sebelah kanan, atau sesuatu yang lain?!!” ucap Jin Kyu kesal. Ji Yoon pun bertanya ada apa dengan Jin Kyu yang terlihat uring-uringan. 
Jin Kyu memberikan sebotol minuman dan menyuruh Ji Yoon agar menikamati makanya. Ji Yoon tak percaya Jin Kyu membelikan minuman dan diberikan padanya. Jin Kyu mengaku kalau membelinya untuk melihat sikap buruknya dan sangat suka dengan Ji Yoon. Jin Yoon mengeluh Jin Kyu  selalu mengatakan hal seperti itu
“Kau bisa tidak Seperti Ahjussi, untuk lebih diam lagi?” kata Ji Yoon. Jin Kyu kesal Ji Yoon yang selalu membahas Kang Soo terus.
“Maaf tapi aku bukan Ahjussi-mu jadi Aku pergi dulu.”kata Jin Kyu lalu berjalan pergi.
“Kenapa bawa mobil? Apa Kau mau pergi ke suatu tempat?” kata Ji Yoon melihat tak seperti biasanya.
“Oh, untuk bertemu dengan ayahmu. Aku ingin minta restu untuk menikahimu.” Kata Jin Kyu lalu masuk mobil. Ji Yoon dibuat binggung. Jin Kyu dengan mudah mengatakan Aku mencintaimu. Ji Yoon berusaha mengejar tapi mobil Jin Kyu sudah melesat cepat. 

Jin Kyu datang menemui ayah Ji Yoon di pabrk dengan buku catatanya. Ayah Ji Yoon menjelasan Sulit menggunakan barang dalam negeri untuk semua restoran itu Itu sebabnya mereka  hanya mendapatkan daging dan sayuran dari vendor yang pernah ditangani sebelumnya dan menggunakan metode kontrak keterlibatan sebelumnya maka dengan cara itu, mereka bisa menurunkan harga barang sebanyak yang mereka bisa. Ji Yoon pun mengangguk mengerti
“Apa ada cara untuk mendapatkan barang dengan harga lebih rendah?” tanya Jin Kyu
“Tidak, pasti akan sulit.” Kata Ayah Ji Yoon. Jin Kyu pikir ternyata hanya harga segitu saja yang paling rendah.
“Tapi kau tidak harus datang jauh-jauh kemari. Aku yakin ini semua ada dalam Buku Manual Jungga.” Kata Ayah Ji Yoon
“Kurasa akan berbeda datang kemari atau hanya melihat dalam buku manual. Angka pada berkas itu nampak begitu abstrak sehingga aku tidak bisa memahaminya dengan baik.” Kata Jin Kyu
“Sepertinya kau tidak belajar giat di sekolah” ejek Ayah Ji Yoon. Jin Kyu mengaku walaupun hanya sedikit. 

Keduanya bertemu di ruangan sederhana, Ayah Ji Yoon langsung bertanya apakah hubungan Jin Kyu dengan Ji Yoon berjalan lancar. Jin Kyu terlihat gugup dan langsung mengangguk. Ayah Ji Yoon kembali bertanya  Apa sekarang Jin Kyu sudah pacaran dengannya. Jin Kyu mengaku itu juga sedang berjalan.
“Dia cukup cantik, kan? Dan sangat menyenangkan.” Ucap Ayah Ji Yoon. Jin Kyu mengaku kalau itu sudah pasti.
“Kau ingin memeluknya tiap kali kau melihatnya dan kau ingin mencubit pipinya karena sangat imut, kan?” kata Ayah Ji Yoon. Jin Kyu mengaku memang seperti itulah adanya.
“Kalau kau tidak bisa membuatnya bahagia, maka kau akan mati.” Ancam Ayah Ji Yoon. Jin Kyu terlihat ketakutan.
Ayah Ji Yoon memberikan sebuah amplop agar Jin Kyu membukanya, Jin Kyu kaget melihat semua fotonya saat bertemu dengan Ji Yoon. Ayah Ji Yoon meminta agar Jin Kyu jangan lupa kalau selalu mengawasi mereka. Jin Kyu melihat satu foto kalau itu bukan wajahnya. Ayah Ji Yoon melihat foto Ji Yoon sedang bersama Kang Soo dan meminta agar Jin Kyu berpura-pura tak melihatnya saja. Jin Kyu mengangguk mengerti.

Tuan Jang sibuk masak dengan membawakan dua pesanan yang harus diantar. Kang Soo dan Dan Ah terlihat sangat sigap memasukan ke dalam kotak. Soon Ae sibuk menerima pesanan dari telp. Tuan Baek dkk sibuk mengantar pesanan dari semua restoran yang mengunakan jasa mereka, cara kerja mereka pun cukup sigap untuk mengantar makanan.
Beberapa kurir masuk ke dalam restoran, dengan karangan bunga. Tuan Jang menunjuk ke bagian depan tapi lama kelamaan banyak yang datag membawakan bunga untuk perusahaan Kang Soo. Dengan tulisan [Kau pasti bisa, Kang Soo! Presdir Kim Deok Bong] [Semoga tetap sukses!]  [Kalian pasti bisa!] 



Kang Soo kembali ke restoran dengan dikejutkan badan karangan bunga dan juga tatapan Tuan Jang dan Soon Ae yang sinis. Tuan Jang menyindir apakah restoran ini taman bunga, dan menyuruhnya segara pindahkan ke lantai atas. Kang Soo pun bergegas memindahkan pot bunga satu persatu. “Di saat Presdir-mu bekerja, kau sedang apa?” ucap Soon Ae. Dan Ah binggung. Tuan Jang menyuruh Dan Ah agar membantu Kang Soo.
“Bukan begitu caramu bersikap saat kerja di perusahaan.” Kata Tuan Jang. Dan Ah pun mau tak mau membantu Kang Soo mengangkat bunga ke lantai atas. 

Semua tim SD beristirahat sambil menikmati sosis di pinggir sungai Han. Kang Soo mengoda Dan Ah dengan menyoleknya untuk memperlihatkan sepatu yang digunakan. Dan Ah ingin memukulnya. Saat itu Kang Soo terus mengodanya. Tuan Baek dkk melihatnya dengan menahan senyum lalu memalingkan wajah pura-pura tak melihat. Kang Soo hanya bisa tersenyum menatap Dan Ah yang memang menyukainya. 

Min Chan sedang membaca buku Panduan untuk Menulis Artikel dalam Anggaran. Byung So berbicara di telp dengan penuh semangat memberitahu sekarang bekerja di sebuah perusahaan. Sementara Young Taek menelp memberitahu sekarang jadi pekerja paruh waktu.
“Kau tidak perlu membayar asuransi lagi. Aku bisa menambahkan semuanya dalam rencana perusahaan asuransiku.” Ucap Young Taek
“Ho Young. Tentang posisiku sebagai Direktur, biasanya apa yang para wanita pikirkan tentang itu?” tanya Tuan Baek
“Oh, mereka tentu menyukainya! Apa Kau tak nonton TV? Mereka jatuh cinta pada seorang pria yang jabatannya sebagai Kepala Seksi. Tapi, kalau kau seorang Direktur, maka tidak ada yang perlu dikatakan lagi!” kata o Young
Saat itu Min Chan melihat ponsel yang berdering dan itu telp dari ayahnya, lalu meminta mereka untuk tak bersuara. Ayahnya langsung bertanya, Apa ada pengumuman tentang pekerjaan anaknya. Min Chan memilih untuk segera bergegas keluar. Byung Soo melihatnya merasa tidak enak dengan Min Chan. Young Taek tahu Min Chan lulus dari kampus terbaik, dan keluarganya pasti tidak akan menyukai pekerjanya. 
Min Chan bisa dengan ayahnya di depan rumah,  meminta maaf pada sang ayah kalau namanya tidak tertera di daftar peneriman calon pegawai. Ayahnya yakin Min Chan akan mendapat kabar baik dan Jangan berpuas diri dengan kekuranganya.
“Kau bisa menjalani kehidupan yang layak kalau kau dipekerjakan di perusahaan besar. Tidak ada harapan bagi orang yang tidak dapat meraihnya. Ingatlah itu.” Ucap Ayah Min Chan. Min Chan mengerti dan mengucapkan selamat malam pada ayahnya. 



Min Chan terlihat frustasi dan memilih untuk membeli bir di minimarket dan dikagetkan dengan Yeon Ji baru pulang ingin membeli minum. Wajah Min Chan terlihat panik, Yeon Ji mengambil minum dan menjatuhkanya., Min Chan ingin membantu tapi malah membuat keduanya saling membenturkan kepala karena saling membungkuk.,
“Oh, maaf. Aku hanya mau mengambilnya untukmu.” Ucap Min Chan.
“Kenapa kepalamu keras sekali? Ini sakit sekali!” kata Yeon Jin. Min Chan pun hanya diam saja.
Min Chan berjalan dibelakang Yeon Ji dengan sama-sama minum. Yeon Ji melihat Min Chan berpikir kalau sedang mengikutinya. Min Chan mengak hanya mau pulang ke rumah. Yeon Ji tak percaya , Min Chan pikir akan berjalan lebih dulu saja. 

“Oh, Apa sebelumnya kita pernah bertemu?” ucap Yeon Ji mengenali wajahnya. Min Chan menyangkalnya.
“Aku merasa pernah melihatmu sebelumnya.” Kata Yeon Jin, Min Chan pikir Yeon Jin suka melihat di jalan lalu lalang Karena tinggal di wilayah yang sama.
“Bukan itu.... Bukan begitu aku melihatmu.” Kata Yeon Ji. Min Chan balik bertanya apakah Memangnya itu benar-benar penting. Yeon Jin pikir Tidak juga.
“Hanya saja, aku merasa punya kesan baik saat bertemu. Hal seperti itu benar-benar cenderung menempel denganku. Kau pasti tahulah, seperti orang yang membantuku saat aku tersandung karena berlari, seperti anak kecil. Aku masih ingat pria itu.” Cerita Yeon Ji, Min Chan pun mengerti merasa kalau Itu menarik.
“Ya, aku juga demikian. Tapi, aku tidak bisa mengingat kata-kata bahasa Inggris untuk menyelamatkan hidupku. Apa Kau tidak handal dalam belajar?” ucap Yeon Ji
“Tidak, aku handal.” Kata Min Chan bangga. Yeon Jin tahu kalau Kepala Min Chan sepertinya terlalu sulit untuk menerima pelajaran!
“Benar, aku buruk dalam belajar dan Kau begitu hebat.” Ungkap Min Chan.
Yeon Jin merasa kalau Min Chan mengangapnya sebagai playgirl. Min Chan menjelaskan bukan seperti itu tapi Yeon Ji punya kepribadian yang cerah dan juga selalu senang. Yeon Jin menatap Min Chan lebih dalam merasa u pasti pernah melihat sebelumnya, lalu mengingat wajah Min Chan saat menemani di tempat karaoke bahkan merangkul tanganya.
Yeon Jin langsung buru-buru berlari kabur karena sangat malu. Min Chan berteriak kalau ia sama sekali tidak mengingatnya. 


Dan Ah mengelap piring menyuruh Kang Soo agar Lebih baik sadarkan dulu dirinya, karena  Konglomerat besar memakan semua orang yang hidup di negara ini dan Kora bukan negara yang dengan mudahnya berbisnis seperti Kang Soo kalau memang tak seperti itu maka tidak ingin pergi.
“Tapi aku sudah memulainya.” Kata Kang Soo
“Jadi sebelum terlambat, lebih baik tutup saja. Kau pikir  bisa menggaji pegawaimu, hanya dengan melakukan pengantaran makanan jjajangmyeon? Dan gaji mereka bukanlah masalahnya! Membayar semua premi asuransi kesehatan pegawaimu juga sangatlah mahal!” kata Dan Ah khawatir.
“Lagi pula, aku akan dapatkan investasi.” Kata Kang Soo yakin. Dan Ah ingin tahu ini dari siapa.
“Seseorang.” Kata Kang Soo tak ingin memberitahu. Dan Ah tetap ingin tahu siapa orangnya.
“Apa Kau pikir  bisa menggunakan uangmu sendiri untuk ini?” kata Dan Ah
“Bukan untuk apa-apa. Aku menginvestasikannya, pada pegawaiku.” Kata Kang Soo
Dan Ah merasa itu sama saja, Kang Soo tetap yakin kalau itu lain karena  Perbedaan antara investasi kelompok dan individu itu sangat jauh berbeda. Dan Ah bertanya berapa uang yang dimiliki Kang Soo, Kang Soo menjawab 115 juta Won dan bahkan tidak tahu mau digunakan untuk apa uang itu.
“Maksudku, aku makan dan tidur di sini, jadi...” ucap Kang Soo. Dan Ah kesal kalau itu jumlah yang sangat besar!
“Aku hanya menyimpannya dengan sabar, untuk hari ini.” Ungkap Kang Soo
“Siapa lagi yang mengganggu? Aku merasa kalau kau telah memberikan uang pada keluargamu.” Kata Dan Ah
“Aku tidak punya keluarga untuk diberikan uang. Mereka sudah mati.” Kata Kang Soo
Dan Ah kaget bertanya apakah dua-duanya, Kang Soo mengaku itu ayahnya. Dan Ah bertanya bagaimana dengan ibunya. Kang Soo mengaku tidak punya. Dan Ah heran merasa kalau Semua anak punya ibu. Kang Soo dengan santai kalau dirinya tak punya ibu dan teman-temanya adalah keluarganya,seperti keluarga besar


Dan Ah duduk berseberangan dengan Yeon Ji, lalu mengungkapkan  merasa tidak enak hati dan jadi berpikir lebih baik menjadi anak yatim piatu saja, Tapi saat menghadapi pria yang benar-benar sendirian di dunia, maka merasa benar-benar aneh.
“Itu membuatku penasaran, bagaimana rasanya tidak memiliki siapa pun. Dan apa yang selalu dipikirkannya setiap malam, saat dia sendirian di dunia ini. Aku merasa seolah ada kesepian yang datang darinya.” Ucap Dan Ah. Yeon Jin hanya diam saja dengan wajah melamun.
“Hei, kau dengar tidak?” ucap Dan Ah. Yeon Ji kaget bertanya apa yang dikatakan Dan Ah. Dan Ah tidak percaya kalau sedari tadi Yeon Ji tak mendengarnya.
“Maaf.. Aku berjanji akan mendengarmu besok.” Kata Yeon Ji. Dan Ah pun menyuruh Yeon Ji untuk tidur saja dulu.
Yeon Ji  mendekati Dan Ah berpikir kalau mereka pindah rumah. Dan Ah pun bertanya alasanya. Yeon Ji mengaku hany tidak suka dengan wilayah ini. Dan Ah pikir Tidak perlu, menurutnya Yeon Ji bisa pindah setelah itu pergi meninggalkan Korea dan tidak suka pindah-pindah rumah lagi.
“Hei, kenapa kau tiba-tiba begini? Kau suka mendengar para tetangga memanggilmu dewi! Aku tahu kau suka saat berjalan di sekitar sini dan para pria berpaling darimu.” Ucap Dan Ah. Yeon Ji seperti merasa tersindir dan marah
“Tidak begitu! Siapa juga aku suka kalau para pria menatapku?” ucap Yeon Ji kesal . Dan Ah binggung melihat Yeon Ji terlihat sedang sensitif sekali. Yeon Jin mengatakan iytu Karena Dan Ah mengatakan hal yang konyol dan beranjak pergi. Dan Ha benar-benar tak mengerti dengan tingkah Yeon Ji. 


Kang Soo terbangun setelah alarm berbunyi dengan posisi tertidur diatas meja, lalu dikagetkan dengan Dan Ah sudah berdiri dibelakangnya. Dan Ah pun bertanya Kenapabangun jam segini. Kang Soo mengaku baru saja bangun. Dan Ah tahu Kang Soo mencoba mengikutinya ke tempat bimbel untuk membantu bersih-bersih, Kang Soo membenarkan.
“Tidur saja... Berani sekali kau mengikutiku di saat kau hampir tidak tidur!” ucap Dan Ah mengancam.
“Tapi tetap saja, semua akan cepat selesai kalau kita berdua yang melakukannya. Dan itu juga menyenangkan.” Kata Kang Soo dengan senyumannya.
“Ini sama sekali tidak menyenangkan.” Kata Dan Ah. Kang Soo merasa mereka bilang itu menyenangkan.
 Dan Ah bertanya Siapa yang bilang, Kang Soo menunjuk bonek yang diberikanya yang mengatakannya. Dan Ah binggung. Kang Soo pikir Dan Ah tidak tahu, kalau Boneka itu mata-matanya dan menceritakan semuanya tentang Dan Ah, lalu mengajaknya segera pergi. 


Dan Ah langsung memelintir tangan Kang Soo. Kang Soo pun menjerit kesakitan, Dan Ah pun mendorong masuk ke dalam kamar dan menyuruh Kang Soo membuka sepatunya. Kang Soo binggung dengan yang dilakukan Dan Ah dan berjalan masuk kamar. Dan Ah menyuruh Kang Soo segera berlutut dan saat itu juga ia memberikan jurus untuk membuat Kang Soo jatuh pingsan.
“Berani kau main-main! Sekarang Tidurlah.” Ucap Dan Ah membaringkan Kang Soo diatas alas tidurnya.
“Apa aku memukulnya terlalu keras?” ucap Dan Ah lalu mencoba untuk mendengar bunyi detak jantung Kang Soo di dadanya,  dan merasa nyaman. Beberapa saat kemudian ia keluar kamar berbicara dengan boneka.
“Sepertinya aku tidak terlalu khawatir. Kuharap aku bisa membawanya bersamaku. Kuharap dia bisa pergi dari semua temannya dan mengikutiku. Jangan katakan itu padanya.” Ucap Dan Ah berbicara malu-malu pada boneka pemberikan Kang Soo.
Bersambung ke part 2
                                                                   
FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar