PS; yang udah baca blog / tulisan aku.. Tolong minta follow account IG aku yah dyahdeedee09 & Twitter @dyahdeedee09 jadi biar makin semangat nulisnya. Kamsahamnida.

Jumat, 29 Desember 2017

Sinopsis Black Knight Episode 8 Part 2

PS : All images credit and content copyright : KBS

Baek Hee akan bergegas pergi tapi anak buah Tuan Park menghadangnya di pintu depan. Tuan Park keluar membahas kalau dirinya yang  bertambah tua dan Baek Hee Noona juga sudah tua. Baek Hee berpura-pura Tak kenal dengan bertanya siapa Tuan Park.
“Noona Baek Hee. Ini aku, Chul Min. Anak laki-laki yang mengirim surat kabar di Incheon.” Ucap Tuan Park. Baek Hee berkomentar terlihat datar.
“Kupikir kalian berdua adalah monster yang tidak menua sama sekali.  Kurasa kau tidak. Apa kau berusaha menghindar dariku?” kata Tuan Park
“Tidak mungkin... Kau bukan orang yang kucari.” Kata Baek Hee mengelak.
“Apa yang sedang kau cari? Aku tahu banyak orang yang bisa mendapatkan barang bagus.” Kata Tuan park
“Tak perlu. Aku akan mengurusnya.” Ucap Baek Hee, Anak Tuan Park menahan Baek Hee agar tak pergi. Baek Hee bisa membalas dengan memperlihatkan jurusnya. Tuan Park meminta anak buahnya agar bisa bersikap baik.
“Aku akan memberikan kartu namaku.” Kata Tuan Park yang berkerja di Chul Min Development, Baek Hee pun mengambilnya dengan tatapan sinis.
“Aku punya banyak julukan. Salah satu favoritku adalah "Spekulan Tanah Jenius". Saat aku melewati sebuah negeri, maka harga tanah naik dan naik.” Kata Tuan Park bangga.
“Kau adalah anak laki-laki pengantar surat kabar. Matamu semakin rakus.” Sindir Baek Hee.
Tuan Park menanyakan kabar Noona Seo Rin, Baek Hee mengaku belum pernah mendengar kabar darinya selama 20 tahun. Tuan Park meminta agar menyampaikan pada Seo Rin kalau ia sudah sangat kaya sekarang. Baek Hee mengaatakan kalau menemuinya, maka akan memberitahunya itu.
“Minta maaf padanya karena mencengkeram lengannya.” Ucap Tuan park pada anak buahnya. Anak buahnya pun meminta maaf.
“Aku akan menemuimu lagi, Noona Baek Hee.” Kata Tuan Park. Baek Hee seperti tak peduli dan pergi begitu saja. 


Hae Ra sibuk dengan catatan nomor telp sambil mencoretnya kalau sudah menelp dan berbicara pada pelangganya kalau bisa melakukan pembayaran sampai jam 12 siang besok dan mencatat kalau sudah Selesai mengeluarkan tiket. Direktur datang memanggil Hae Ra.
“Cetak LCC penjualan Gimpo ke Osaka per kuartal untuk tahun ini.” Ucap Direktur. Hae Ra bertanya apakah maksudnya penjualan sepanjang tahun
“Ya, semuanya. Bedakan tiap  perusahaan juga. Sertakan juga Gimpo ke Tokyo dalam daftar.” Ucap Direktur
“Pak... Aku harus memeriksa 80 orang dan pergi keluar untuk beberapa pekerjaan. Aku mengadakan pertemuan diluar tentang pakaian.” Jelas Hae Ra
“Apa yang lebih penting? Apa kau mau bilang kalau kau tak bisa melakukan tugas hari ini karena beberapa proyek yang mungkin bahkan tidak terjadi?” kata Direktur sinis.
“Pak, aku akan mencetaknya untukmu.” Kata Jung Hee membantu. Direktur tahu Jung Hee tidak pandai dalam pekerjaannya.
“Pak, aku akan mencetaknya untukmu.” Ucap Ketua Tim. Direktur tahu Nona Choi harus memesan penerbangan untuk profesor sekolah kedokteran.
“Kita mengurus 70 persen  seminar luar negeri dari semua sekolah kedokteran. Kau harus fokus pada tugas seperti itu. Lalu Pakaian apa yang kau bicarakan?” ucap Direktur marah
“Aku akan mencetak semua penjualan LCC untukmu sekarang juga.” Kata Hae Ra. Direktur menyuruh Hae Ra agar mem Batalkan pertemuan di luar sambil mengeluh kalau mereka semua melelahkan.
“Tidak bisakah seorang ketua yang baik muncul sekarang seperti di film? Dia akan berkata, "Aku percaya padamu". Itulah yang mereka lakukan di film.” Kata Ketua tim kesal
“Itulah yang kukatakan. Dimana ketua kita yang baik itu?” kata Jung Hee.
Saat itu Ji Hoon masuk ruangan, Ketua Tim dan Jung Hee langsung terkesima dengan ketampanan Ji Hoon. Hae Ra kaget melihat Ji Hoon datang menemuinya dengan setelan jas.  Ji Hoon mengaku datang untuk membeli tiket pesawat.



Keduanya duduk di cafe, Ji Hoon mengeluh Hae Ra yang tidak membalas pesannya. Hae Ra mengaku kalau sudah memblokir nomor Ji Hoon. Ji Hon heran karena Hae ra yang baru saja pergi tadi malam dan ingin tahu apa yang diingikan Hae Ra dengan reaksinya sekarang. Hae Ra heran merasa Ji Hoon sedang mengingau.
“Aku tahu itu... Hae Ra... Apa kau melihat orang jahat?” ucap Ji Hoon. Hae Ra menjawab itu Mungkin.
“Siapa dia?” tanya Ji Hoon. Hae Ra menjawab Seorang pria yang memiliki segalanya.
“Apa kau lupa saranku?” ucap Ji Hoon. Hae Ra pikir tak mungkin bisa melupakannya
“Mengapa seseorang yang memiliki segalanya mau berkencan denganmu?” ucap Ji Hoon menganggap remeh.
“Karena dia memiliki segalanya. Dia memiliki empati, percaya diri dan kekayaan jadi dia tak perlu menghindari wanita malang. Dia mendukungku dan memujiku. Dia tidak seperti seseorang yang mencampakkanku.” Ucap Hae Ra
“Kau benar... Aku bersalah padamu. Tapi... Sudah kubilang aku sadar cintaku terlambat.” Akui Ji Hoon.
“Ya, dan kau terlambat lag jadi Pergilah.” Kata Hae Ra sudah tak peduli dengan Ji Hoon.
Ji Hoon ingin tahu siapa pria itu dan apakah memang benar-benar ada. Hae Ra malah bertanya apakah Ji Hoon ingin melihatnya. Ji Hoon kesal tak ingin membahasnya lalu memberikan tas berisi perhiasanya. Hae Ra dangena santai langsung membuang ke tempat sampah. Ji Hoon berteriak kalau hargnya mahal.
“Ji Hoon... Lihatlah dirimu yang menyesal. Kau lebih buruk dari saat aku tahu kau adalah jaksa palsu.” Ucap Hae Ra marah
“Kau benar-benar punya seseorang” ungkap Ji Hoon tak percaya.
“Jangan pernah meneleponku lagi.” Tegas Hae Ra lalu berjalan pergi.
“Seharusnya kau tidak menciumku! Kenapa kau mengunjungiku malam itu? Apa karena dia?” teriak Ji Hoon. Hae Ra sempat  binggung, tapi akhirnya membenarkan saja.
“Kau bukan dirimu... Kau melakukan hal yang aneh. Dan... kau menyakiti ku.” Kata Ji Hoon marah
“Ada apotek di sana. Pergilah periksa.” Ucap Hae Ra benar-benar tak peduli. Ji Hoon mengumpat kesal kalau Hae Ra benar-benar jahat.



Soo Ho baru kembali, Tuan Han dan pegawai lainya mengajak untuk makan siang bersama. Soo Ho menyuruh mereka duluan saja karena harus menelepon. Tuan Han tahu Soo Ho harus berkencan dengan seseorang dan mengajak mereka makan duluan saja. Hae Ra melihat nama  Ksatria hitam yang menelpnya.
“Kau tak terdengar bahagia.” Ucap Soo Ho mendengar suara Hae Ra yang mengangkat telpnya.
“Aku bekerja lembur lagi. Dia terus memberiku pekerjaan jadi aku tak bisa mengerjakan proyek ini.” Keluh He ra
“Dia takut kau bisa mengalahkannya. Aku mengalaminya saat bekerja dirumah sakit di AS. Itu terjadi di organisasi manapun. Jangan marah karenanya.” Saran Soo Ho. Hae Ra pun bertanya apa yang harus dilakukan.
“Pertama, makan.” Kata Soo Ho mengoda. Hae  Ra kesal karena ia sekarang sedang serius.
“Siapa yang paling mengganggumu?” tanya Soo Ho. Hae Ra menjawab  itu Direktur utama
“Minta dia untuk menerima pendapat istri dan putrinya. Buat mereka memilih kostumnya. Jika proyek berjalan dengan baik,beri dia bonus untuk itu.” Saran Soo Ho
“Bagaimana jika dia mengambil proyekku?” tanya Hae Ra. Soo Ho pikir tak masalah untuk memberinya satu.
“Jangan menganggapnya sebagai kerugian. Kau akan mendapatkan kesempatan lagi.” Jelas Soo Ho
Hae Ra bertanya Apa bisnis Soo Ho berjalan dengan baik. Soo Ho membenarkan karena dirinya orang yang beruntung. Hae Ra pikir Soo Ho pasti bahagia. Soo Ho pikir Jika bisnisnya berjalan dengan baik, maka  itu bagus untuk Hae Ra. Hae Ra heran kenapa seperti itu.
“Karena aku menyukaimu.” Kata Soo Ho. Hae Ra terdiam seperti jantungnya berdegup dengan kencang.
“Aku akan pergi makan siang sekarang... Hae Ra, cerialah.” Kata Soo Ho. Hae Ra masih bisa tersenyum mengingta Soo Ho yang selalu meluapkan perasaanya. 



Young Mi datang membawakan sushi untuk ayah mertuanya, lalu melihat ayahnya sedang merapihkan barang-barang antik dan bertanya apa semua itu. Tuan Park mengatakan kalau semua bernilai uang. Gon bertanya kenapa ayahnya mengeluarkan semua barang-barangnya.
“Aku akan memberikan itu semua untuk seseorang.” Ucap Tuan Park. Gon ingin tahu Kepada siapa
“Seseorang yang mengingatku sebagai orang miskin. Dan Kemana saja kau seharian ini?” kata Tuan Park
“Aku sedang bekerja. Aku akan menceritakan semuanya nanti.” Ucap Gon
“Cincin ini terasa misterius.” Ucap Young Mi melihat cincin yang terlihat kusam.
“Aku membelinya murah dari pasar. Cincin itu keluar dari benda kuning yang ditangkap penjualnya di musim dingin.” Cerita Tuan Park. Young Mi seperti percaya begitu saja.
“Itu adalah tebakan yang lucu, jadi aku membayar 30 dolar untuk itu.” Cerita Tuan Park. Young Mi mencoba memakai cincin di jarinya.
“Kau bahkan tidak memakai cincin pasangan, kenapa kau mencoba itu?” keluh Gon.
“Rasanya menyeramkan saat aku memakainya.” Kata Young Mi buru-buru melepaskan cincin dari tanganya.
“Buang saja... Foto-foto itu murah... Aku tidak berpikir mereka layak.” Kata Tuan Park ingin membuang foto-foto lama.
“Astaga... Ada pria tampan saat itu.” Kata Young Mi tertarik melihat sebuah foto lama yang dimiliki oleh ayah mertuanya. 


Baek Hee datang menemui Sharon di ruangan menjahit. Sharon terlihat kesal merobek semua barang dengan bertanya Sampai kapan harus hidup seperti ini. Baek Hee bertanya Apa ada yang terjadi. Sharon menceritakan  Punggungnya terasa seperti terbakar diatas tulisan.  Baek Hee kaget karena Sharon juga merasakan hal yang sama.
“Sebuah tato aneh tiba-tiba muncul. Rasanya sakit seperti terbakar. Mengapa ini terjadi? Apa yang akan terjadi selanjutnya?” ucap Sharon kesal.
“Kau bilang...mengambil... Cincin peraknya. Apa kau masih memilikinya?” ucap Baek Hee. Sharon mengingat saat itu memakain cincin di tanganya, lalu terlepas begitu saja saat terjun kesungai.
“Sudah kubilang aku kehilangannya... Saat aku melompat dari tebing. Kenapa kau tiba-tiba bertanya?” ucap Sharon.
“Apa kau benar-benar kehilangannya?” tanya Baek Hee curiga. Sharon merasa Baek Hee bertingkah aneh
“Apa kau melihat cincin itu?” tanya Sharon terlihat ikut curiga.
“Jika kau mengembalikannya pada pemiliknya, maka Mungkin kutukanmu akan terangkat. Atau... tato itu mungkin terhapus.” Ucap Baek Hee.
Sharon yakin Baek hee sudah menemukannya. Baek Hee pikir Jika menemukan, pasti ada ditangannya sekarang. Sharon yakin Baek Hee K menyembunyikan sesuatu. Baek Hee ingin tahu alasan Sharon yang  mencuri cincin itu
“Dulu dia mencuri suamiku.” Ucap Sharon sangat dendam dengan Boon Yi
“Itu adalah obsesi... Keinginan untuk memiliki dan menang Itu bukan cinta.” Ucap Baek Hee.
“Seperti itulah cinta... Itu membuatmu sangat menginginkannya.” Kata Sharon
“ Aku... tak ingin menyerah. Aku telah berdosa, jadi aku mohon maaf. Itulah sebabnya aku tak membiarkanmu pergi. Tapi terkadang... Aku ingin menyerah padamu.” Ungkap baek Hee.
“Tunjukkan cincinnya saat kau menemukannya Tidakkah akan lucu saat mengembalikannya dengan mengatakan itu milikmu dimasa lalu?.” Ucap Sharon tak peduli
“Kalau begitu jangan ganggu mereka dan Diam saja.” Pinta Baek hee.
“Merekalah yang mengubahku menjadi monster.” Ucap Sharon marah lalu berjalan pergi.
"Aku telah hidup selama 300 ratus tahun, Tapi aku masih belum bisa memprediksi apa yang akan terjadi.” Kata Baek Hee mengeluh.  Seung Hoo menari sendirian seperti kerasukan, Sharon duduk diam sambil meminum wine. 



Hae Ra keluar dari kantor kaget melihat Soo Ho sudah menunggun bertanya apakah yang dilakukan dalam cuaca dingin. Soo Ho mengaku  sedang dalam perjalanan pulang dan melihat kalau Perusahaan Hae Ra  benar-benar membuatnya bekerja keras.
“Ini bukan jalan pulang dan Aku mencium sesuatu yang lezat entah di mana.” Ucap Hae Ra mengejek
“Jika kau bekerja lembur, kau butuh kastanye panggang.” Kata Soo Ho mengeluarkan bungkusan makan dari saku jaketnya.
“Bagaimana kau tahu aku lapar?” ucap Hae Ra senang. Soo Ho pikir udara sangat Dingin dan mengajaknya pulang.
“Aku tak mau pulang.” Kata Hae Ra penuh arti. 

Keduanya duduk disebuah cafe yang memutar lagu-lagu lama, Hae Ra pikir Soo Ho yang menyukai tempat ini karena bisa mendengarkan lagu-lagu dari tahun 1960an yang terbaru dan pemiliknya memiliki setiap lagu. Soo Ho merasa kalau Hae Ra memperlakukanny seperti pria paruh baya padahal ia juga suka ke club.
“Aku lebih suka mendengarkan musik di tempat seperti ini.” Ucap Hae Ra
“Kau pasti lapar. Kau makan lahap sekali.” Ejek Soo Ho. Hae Ra membenarkan.
“Beratku bertambah 2kg.  Aku perlu sedikit olahraga.” Kata Hae Ra. Soo Ho pikir Tidak masalah.
“Ini kartu Natal dari kastil Slovenia dan Itu dikirim untukmu hari ini.” Ucap Soo Ho. Hae Ra melihat isi tulisan yang tak dimengerti.
“Mau kubacakan?” kata Soo Ho membaca dengan bahasa slovenia, Hae Ra mengeluh kesal karena sama saja. Akhirnya Soo Ho membaca dengan bahasa korea. 

"Halo, Hae Ra... Aku sangat bahagia akhirnya Soo Ho bertemu denganmu. Aku bersyukur padamu. Kastil ini bisa ada berkat kau."
Hae Ra terlihat binggung, Saat itu Soo Ho datang dan masuk ke dalam kastil yang terletak diatas tebing yang tinggi.
"Kami melindungi kastil untuk beberapa generasi, Tapi kami menghadapi krisis dimasa ayahku. Kami harus menjual kastil karena kegagalan bisnis. Ada orang yang ingin menghancurkan dan membangun sebuah taman hiburan."
"Suatu hari, seorang pria Asia bernama Moon Soo Ho datang dan mengancam kita untuk tidak menjual kastil. Di situlah dia berjanji untuk memenuhi cinta pertamanya. Kemudian, dia menginvestasikan sejumlah besar uang dan menjadi pemegang saham utama."
Hae Ra datang ke kastil dan sempat tertidur karena tak terkunci, Soo Ho akhirnya bisa bertemu dengan cinta pertamanya di dalam kastil.
"Terima kasih, Hae Ra, Kami bisa melindungi kastil ini.Orang yang mencintaimu adalah pria yang ceroboh dan cowok yang romantis. Kuharap kau pun akan mencintainya."
Hae Ra mendengar suara yang dibaca Soo Ho bertanya apakah sudah berakhir. Soo Ho kembali membaca surat yang dituliskan oleh pemilik kastil
"Dia kedinginan saat harus bekerja. Tapi jangan khawatir. Cintanya padamu akan menjadi pengecualian."
Hae Ra bertanya Apa Soo Ho menerjemahkannya dengan benar. Soo Ho mengejek kalau Hae Ra bisa mencoba saja terjemahkan ditempat lain. Hae Ra melihat kartu dengan gambar pohon natal lalu mendekapnya merasa kalau itu  sangat Nyaman sekali dan sebuah lagu diputar.
“Apa yang kau lakukan saat lagu ini populer?” tanya Hae Ra.
“Aku memikirkanmu.” Ucap Soo Ho mengoda. Hae Ra hanya bisa tersenyum. Di depan meja mereka ternyata Sharon duduk sambil menikmati minumanya.
“Aku juga... Aku memikirkanmu.” Ungkap Sharon dengan mata berkaca-kaca karena memikirkan Soo Ho juga. 



Di butik milik Young Mi, sebuah foto pria tampan di jaman dulu di jadikan figura oleh Young Mi. Young Mi menatap si pria yang tak dikenalnya merasak kalau Ini keren sekali. Ia lalu menelp Hae Ra memberitahu Ayah Gon dipulangkan jadi punya waktu sekarang dan bertanya Tentang apa ini. 

Baek Hee duduk diam dalam rumahnya, teringat kembali dengan cincin yang ada di kotak milik Tuan Park. Ia merasa  yakin itu cincinnya jadi Jika mengembalikan cincin ke pemiliknya dan menemukan dokumen Jeom Bok, maka semua akan kembali terurai. Sementara Sharon sibuk menjahit dalam ruanganya dan mengajak bicara Soo Ho.
“Halo, Moon Soo Ho... Tidak. Halo, Pak Moon Soo Ho... Aku tidak bisa kehilanganmu lagi dalam kehidupan ini... Aku akan mengotori diriku sendiri bila perlu.” Gumam Sharon seperti ingin membuat rencana kembali.

Soo Ho baru saja keluar dari kantor polisi, lalu datang menemui Tuan park dirumahnya dengan minta maaf karena tidak membawa hadiah apapun. Tuan Park bertanya Ada urusan apa  kerumahnya di pagi hari. Soo Ho memberitahu Polisi menangkap pengemudi motor.
“Mereka menunjukkan rekaman CCTV padanya, dan dia mengaku bahwa kau memerintahkannya untuk melakukannya.” Ucap Soo Ho menahan amarhanya.
“Tidak masalah selama kau tak terluka. Aku hanya bermaksud mengancammu.” Kata Tuan Park seperti merasa tak bersalah
“Aku bertahan bahkan dari lubang api, jadi aku tak akan terancam dengan itu.” Tegas Soo Ho
“Ini menghancurkan hatiku, Soo Ho. Kau tumbuh tanpa apapun, jadi kau penuh dengan kebencian.” Kata Tuan Park
“Ini seperti saat kau masih muda kan?” balas Soo Ho.
“Soo Ho... Pergilah bermain di tempat lain. Ada lebih banyak orang yang ingin membangun gedung baru dan mendapatkan uang di sini. Bagaimana kau akan menangani kebencian dan keluhan dimasa depan?” nasehat Tuan Park yang serakah.
“Tinggalkan kota pohon kesemek itu. Dan Juga jangan melecehkan toko buku dan pemandian. Apa Kau tak tahu seberapa menakutkan aku. Jika kau mencoba untuk menyakitiku lagi, maka kau akan terluka Jadi berHati hati.” Kata Soo Ho memperingati lalu akan pergi meninggalkan rumah.
“Apa kau tahu yang ayah Hae Ra katakan saat dia membawamu? "Matanya membuatku kesal. Hae Ra tidak belajar dan merengek sepanjang waktu. Dia akan termotivasi Jika aku menempatkannya di sisinya."” Ucap Tuan Park mencoba menghasut.
Soo Ho mengaku kalau sudah tahu jadi Itulah sebabnya belajar dengan keras. Tuan Park tahu ayah Hae Ra merawat anak temannya... karena pandangan orang lain tapi selalu mengangga Soo Ho sebagai perusak pemandangan. Soo Ho mengaku akan melakukan hal yang sama dan menurutnya Cerita Tuan Park tidak mengesankan lalu bergegas pergi. Tuan Park hanya bisa terdiam. 



Soo Ho terdiam didalam mobil dengan wajah sedih, Tuan Han melihat dari kaca spion menanyakan keadaaanya. Soo Ho mengaku baik-baik saja.Tuan Han mengingatkan kalau Soo Ho punya jadwal latihan jam 3 sore, Soo Ho seperti bisa mengingatnya. 

Di ruang kantor.
Soo Ho memeriksa salas satu pekerjanya yang terlihat pingsan.  Pegawai yang lain memberitahu pegawai itu melewatkan makan malam dan menginap semalam. Soo Ho meminta agar membawakan hot pack, salah satunya pun bergegas mencarikanya.
“Ini bukan hal serius. Jangan khawatir dan kembalilah bekerja.” Ucap Soo Ho
“Pak, haruskah aku meletakkan bantalan ini di bawah kepalanya?” kata salah pegawai yang khawatir.
“Itu terlalu tinggi. Aku punya selimut. Jadi Tolong ambilkan selimut” pinta Soo Ho. Mereka pun mengambilnya.
“Dia seperti dokter.” Bisik Ji Hoo yang sedari tadi melihat Soo Ho. Tuan Han memberitahu Soo Ho dulu sekolah di kedokteran di AS.

Soo Ho meminta maaf karena hari ini bukan yang baik untuk berolahraga. Ji Hoon pikir Soo Ho benar-benar memiliki segalanya dan juga keren dari perspektif pria. Soo Ho mengaku tersanjung dan mengaku kalau ingin karyawannya bekerja sama dengan Ji Hoon.
“Oh, bagus juga untukku. Aku bisa mengajarkan berkelompok.” Ucap Ji Hoon.
“Apa kau bilang bisa melakukan pelatihan di rumah? Ada tiga orang lagi dirumahku yang ingin berlatih.” Ucap Soo Ho
“Apa kau berolahraga bersama orang tuamu?” pikir Ji Hoon. Soo Ho mengatakan tidak
“Ada dua orang yang ingin kujadikan keluarga.” Ucap Soo Ho seperti ingin mengajak Hae Ra dan juga Bibi Lee.
“Iya! Siapa pun mereka, Aku akan menyambut mereka.” Kata Ji Hoon penuh semangat.
Soo Ho menanyakakn Bagaimana hadiah kalung dan anting-anting Ji Hoon itu. Ji Hoon mengatakan pergi untuk mengembalikan. Soo Ho pikir Sulit memilih hadiah untuk wanita. Ji Hoon menceritakana kalau khawatir dengan pacarnya karena bersama orang jahat.
“Bagaimana kau tahu dia bersama orang jahat?” tanya Soo Ho
“Kupikir dia sedih karenanya. Dia datang dan memelukku. Dia bahkan merayuku. Lalu dia melupakan begitu saja.” Cerita Ji Hoon.
“Putus saja dengan gadis seperti itu. Dia tak layak bagimu.” Kata Soo Ho
“Tidak... Aku akan mencari tau dulu siapa pria yang jahat itu. Jadi Kapan kita memulai latihan di rumah?” ucap Ji Hoon sudah tak sabar. 


Hae Ra memberikan beberapa gambar meminta agar direktur bertanya kepada istri dan anaknya untuk memilih mana yang mereka sukai karena pasti sudah banyak bepergian ke luar negeri jadi yakin tahu apa yang sedang tren.
“Aku akan menempatkan keduanya di daftar panel penasihat. Aku juga akan mengirim mereka barang-barang yang disponsori. Jika ini berhasil dengan baik, maka Aku tidak akan pernah lupa bahwa kau telah banyak mendukung.” Ucap Hae Ra. Direktur seperti terlihat senang.
“Aku akan melakukan yang terbaik.” Kata Hae Ra penuh semangat. 

“Tidak ada yang lebih baik dari moksibusi untuk energi dan sirkulasi darah. Aku akan bekerja sebanyak uang yang kuterima. Jadi jangan khawatir.” Ucap Bibi Lee membuat seperti tumpukan obat untuk Tuan park
“Aku tidak sakit. Kau tidak harus berada di sini mulai besok dan seterusnya.” Ucap Tuan Park
“Aku sudah menerima gaji selama sebulan.” Kata Bibi Lee. Tuan Park pikir  Tak masalah.
“Sekretaris atau supirku akan menganggapnya aneh. Aku baik-baik saja.” Kata Tuan Park. Bibi Lee pikir Mereka tidak akan menganggapnya aneh.
“Bisakah kau tanda tangan disinii untuk Jung Hae Ra?” kata Tuan Park memberikan sebuah amplop coklat.
Bibi Lee bertanya apa isinya,  Tuan Park mengatakan kalau itu surat kesepakatan untuk membangun sebuah apartemen studio dan menghancurkan rumah tua di Geumseong-dong. Ia juga mejelaskn kalau Hae Ra dapat memiliki dua toko di apartemen studio yang baru dibangun saat dibangun. Bibi Lee seperti kaget mendengarnya. 


Sharon sudah membuat dua buah baju untuk Hae dengan menaruhnya dalam patung dan mengirimkan pesan pada Soo Ho “Halo, Pak Moon Soo Ho. Ini adalah Sharon Tailor. Pesananmu untuk pakaian yang disesuaikan sudah siap. Silakan berkunjung saat kau punya waktu.”
Dengan wajah bahagia, Sharon mengatakan kalau akan akan menunggu Soo Ho. Seung Hoo memberitahu kalau Ada pelanggan yang datang. Sharon berseri untuk menyambut Soo Ho yang datang, tapi ternyata yang datang adalah Tuan Han yang mewakili Pak Moon.
“Biaya penjahit ada disini.” Ucap Tuan Han memberikan sebuah amplop tapi Sharon terdiam terlihat kecewa, akhirnya Seung Hoo yang menerima uangnya.
“Akan lebih baik jika dia datang sendiri. Kukatakan padanya bahwa aku akan memberinya setelan gratis.” Ucap Sharon.
“Pak Moon cukup sibuk... Haruskah aku membawa pakaian Jung Hae Ra juga?” ucap Tuan Han.
“Tidak perlu, Dia harus memakainya untuk melihat apakah itu cocok. Aku akan mengurusnya.” Kata Sharon dengan tatapan sinis. 


Sharon akhirnya pergi dengan mobilnya, melihat Hae Ra kembali ke rumah dengan membawakan makanan. Ia bergumam kalau tak peduli jika ada kalimat diwajahnya, lalu turun dengan wujud Soo Ho yang mengunakan dasi yang dicurinya.
“Kau pulang lebih awal. Apa Kau sudah makan malam? Apa kau mau makan bersama?” ucap Hae Ra saat melihat Soo Ho yang pulang.
“Tidak..” kata Sharon dengan tatapan dingin Soo Ho. Hae Ra hanya menatap binggung melihat sikap Soo Ho.
Bersambung ke episode 9

PS; yang udah baca blog / tulisan aku.. Tolong minta follow account IG aku yah dyahdeedee09  & Twitter @dyahdeedee09  jadi biar makin semangat nulisnya. Kamsahamnida.

FACEBOOK : Dyah Deedee  TWITTER @dyahdeedee09 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar